Cita Rasa Sajian Rumah
TEMPO Interaktif, Masakan rumah selalu membangkitkan rasa rindu. Bagi warga Jakarta yang punya kesibukan dan rutinitas tinggi, sajian pembangkit selera ini tidak selalu dapat dinikmati setiap saat. Di Plaza Indonesia, warga Jakarta dapat mencicipi kembali cita rasa menu masakan rumah di Pandan Village.
Ketika Tempo datang ke soft opening-nya beberapa pekan lalu, rumah makan ini sepintas tak jauh beda dengan rumah makan lain yang menawarkan menu sejenis. Kita bisa merasakan suasana kekeluargaan dengan pelayan yang ramah, pencahayaan hangat, musik dengan volume yang pas, hingga gantungan tas di bawah meja untuk memudahkan perempuan menaruh barang bawaan.
Namun, saat memesan, ada sesuatu yang berbeda dibanding kebanyakan resto serupa lainnya. Si pelayan mencatat pesanan makanan dengan iPod Touch. “Ini untuk mengurangi kesalahan pemesanan makanan,” kata si pelayan. Setelah dicatat pada perangkat digital layar sentuh itu, pesanan langsung terkirim ke bagian dapur. “Bagian dapur akan segera memasak untuk disajikan.”
Ternyata penggunaan teknologi pada rumah makan ini berkaitan dengan profesi sebelumnya Benedictus Tang, anggota direksi PT FG Resto, pemilik restoran ini. Tang telah lama berprofesi di bidang robotik sebelum banting setir ke bidang food and beverages.
Selain pencatatan pemesanan secara digital, bumbu masakan rumah makan ini adalah racikan pabrik. “Jadi, ketika pesanan datang, bagian dapur tinggal memasukkan racikan bumbu itu,” ujar Tang. Di sini juga tersedia fasilitas hot spot gratis dan sumber listrik di setiap meja.
Pandan Village adalah rumah makan franchise. Restoran ini buka pertama kali di Galaxy Mall, Surabaya, tiga tahun lalu. Dua tahun kemudian, mereka membuka dua cabang di kota itu, yakni di Supermall dan Tunjungan Mal. Beberapa pekan lalu, Pandan Village membuka cabang di Plaza Indonesia, Jakarta.
Ketika berkunjung, Tempo memesan asam-asam iga, gurame goreng, soto banjar, dan tumis kangkung. Di daftar menu, restoran ini juga menawarkan masakan khas Nusantara, seperti lumpia goreng, pisang goreng keju, karedok, gado-gado, hingga rujak cingur. Beberapa menu menggunakan label cabai untuk menunjukkan masakan dengan rasa pedas dan label pandan untuk menunjukkan menu istimewa khas Pandan Village.
Untuk soal rasa, menu berlabel pandan harus dicoba. Rasanya berbeda. Namun, untuk menu biasa, Anda dapat dengan mudah menemukannya di rumah makan lain. Untuk minuman dan hidangan penutup, Pandan Village menawarkan sesuatu yang berbeda. Es puter ala Pandan Village, es merah delima, dan es dawet khas resto ini tak bisa Anda temukan di tempat lain.
Rumah makan lain yang menyajikan masakan rumah dengan cara pelayanan tak jauh berbeda adalah Restoran Kemiri di Pejaten Village. Pemesanan di restoran ini juga menggunakan pencatatan digital. Ketika kita masuk dan memilih makanan yang ditawarkan di sejumlah saung, pesanan langsung dicatat oleh pelayan dengan perangkat digital berlayar sentuh.
Lalu pengunjung diberikan kartu magnetik sebagai bukti pemesanan. Kartu magnetik ini menjadi semacam bon yang harus dibayar ketika keluar dari restoran tersebut. Soal pilihan makanan, tak jauh berbeda. Hanya, restoran ini tak hanya menyajikan masakan rumah, tapi juga makanan khas tempo dulu yang dipengaruhi budaya Belanda, misalnya poffertjes.
Suasana restoran dibikin sangat Indonesia. Bangku-bangku dan meja terbuat dari kayu mirip bangku bakso. Desain ruangannya sangat unik. Kita bisa melihat aksesori seperti jemuran sarung, sepeda kumbang dengan isi hasil bumi pedesaan, dan layangan tersangkut di dahan pepohonan. Loket kasir pun layaknya gerobak bakso.
Selain itu, tentu ada sejumlah nama restoran lain yang menyajikan masakan rumah dengan keunikan masing-masing. Semuanya demi membuat pengunjung merasa menikmati menu makanan di rumah, juga suasana yang membangkitkan rasa rindu. l AMANDRA MUSTIKA MEGARANI | UTAMI WIDOWATI
Postingan yang mungkin berhubungan:








Comments
Tinggalkan komentar Anda