Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

Anak - Balita - Bayi

Efek Psikologis pada Anak yang Sering Ditinggal Orangtuanya, serta Solusinya

Contoh kasus ini sangat jamak terjadi di kehidupan kita, karena itu kami sepakat mengangkat pertanyaan dari seorang pengunjung setia InfoAnak.com menjadi sebuah artikel agar bisa bermanfaat bagi pembaca yang lain.

Berikut ini cuplikan dari pertanyaan seorang Ibu:

Tetangga saya mempunyai seorang anak laki-laki baru berumur 3 tahun, Ayahnya maerantau ke Jakarta. Ibunya kerja di pabrik tidak jauh dari rumah. Setiap hari, anak tersebut ditinggal oleh orangtuanya. Otomatis kurang mendapat perhatian. Kira-kira apakah efek negatif yang akan dialami anak itu baik secara psikologi maupun perkembangan kecerdasan anak tersebut?

Jawab:

Anda orang  yang peduli dan perhatian sekali dengan anak, sungguh sangat menyenangkan mempunyai tetangga yang peduli dengan sesama.

Dengan sangat terbatasnya informasi, saya akan menjawab pertanyaan Anda.
Baik dan buruknya anak tergantung bagaimana orang tua mengasuh dan mendidik anak. Saat ini, karena sudah merupakan tuntutan banyak ibu yang bekerja, bahkan sampai keduanya berpisah kota hanya untuk memenuhi nafkah keluarga, seperti yang dialami oleh tetangga Anda. Namun keadaan yang terjadi bukanlah suatu akhir yang buruk, tetapi bagaimana kita bisa menyikapi secara positif dari segala keadaan.  Nah, untuk ibu yang bekerja, belum tentu akan berkibat buruk kepada anak, tetapi bagaimana orang tua mengasuh dan mendidik anaknyalah yang akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan dari anak. Berkaitan dengan kasus tetangga anda, meskipun ayah berbeda kota dan ibu bekerja,   tetapi  jika hubungan dalam keluarga bisa saling mengisi, terutama ibu bisa berperan ganda untuk anak, maka kemampuan anak masih dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan ibu:

  1. Ketika ibu bekerja, siapakah pengganti dari ibu, karena peran pengganti figur ibu juga menentukan keoptimalan dari perkembangan anak. Untuk ibu perlu bekerja sama dengan pengasuh agar dapat  terus memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Ibu harus aktif mencari tahu segala informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak.
  2. Ibu harus meluangkan waktu untuk memenuhi waktu yang hilang bersama dengan anak. Dengan demikian kedekatan emosional masih terus terjaga dan ibu bisa terus memberikan stimulus pada anak supaya pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berkembang secara optimal.
  3. Anak yang tumbuh dengan sehat maka kemampuannya juga akan berkembang dengan baik, dengan kata lain anak yang sehat secara fisik maka kecerdasannya juga akan berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
  4. Kecuali jika ada kasus-kasus khusus pada anak, misalnya autis, hiperaktif, dll maka hal ini diperlukan penanganan khusus.

Untuk Anda yang baik hati, Anda dapat membantu tetangga Anda dengan memberikan dukungan untuk selalu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak. Banyak sekali informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak dan bagaimana kita merangsang pertumbuhan dan perkembangan agar anak dapat berkembang secara optimal. Untuk anaknya,  jika di lingkungan anda ada PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), maka akan lebih baik jika si anak diajak untuk ikut, karena disana ia akan belajar bersosialisasi dan mengembangkan keterampilannya sehingga dapat meningkatkan kecerdasan anak.

Selamat mencoba, terima kasih.

Siti Marini Wulandari, M.Psi. Psikolog

Comments

14 Responses to “Efek Psikologis pada Anak yang Sering Ditinggal Orangtuanya, serta Solusinya”

  1. nur faidah on March 1st, 2010 8:57 pm

    bagaimana cara menanggulangi gangguan konsentrasi pada anak usia 8 th, apakah ada hubunganya dg pola makan/ makanan yang di makan ?

  2. Admin on March 4th, 2010 3:16 pm

    gangguan konsentrasinya seperti apa bu? mungkin bisa ibu email ke kita di : admin[at]infoanak.com

  3. rismanto on May 9th, 2010 10:27 am

    saya seorang bapak dari 2 org puteri….usia anak pertama 9 th, dan kedua 6 th…kehidupan rumah tangga saya sangat berantakan karena isteri saya melakukan perselingkuhan di depan anak-anak saya, hal ini diketahui oleh saya beberapa bulan kemudian karena anak saya bercerita kepada saya. saya selama ini memang meninggalkan keluarga ke provinsi lain untuk menjalankan tugas. akan tetapi saya selalu mengirimkan nafkah sesuai dengan permintaan dari istri saya ut setiap bulannya.
    Karena saya mendengarkan cerita itu dari anak saya…maka kedua anak saya, maka kedua anak saya tersebut saya bawa dan saya titipkan kepada orang tua saya (neneknya) serta dengan adik saya (blm berkeluarga) yang masih serumah dgn org tua saya…kedua anak saya saat ini sudah tidak mau mengakui mamanya itu krn dia tahu bahwa sayalah papanya…dan mereka mengatakan kepada gurunya bahwa mamanya sudah pergi….artinya dia mengetahui bahwa mamanya telah menjalin dgn org lain yang bukan papanya.
    Sekarang ini saya tidak serumah dengan kedua anak krn saya masih bertugas di luar provinsi. demikian juga dengan keberadaan mamanya yang berada di luar provinsi juga dgn kedua anak saya….ut menyikapi supaya kedua anak saya merasa tdkkehilangan orang tuanya, maka saya setiap hari menelepon mereka lain halnya dengan mamanya yg sudah tidak memperdulikan lagi mereka…
    Sekarang ini bagaimana caranya saya mendidik anak dari jarak jauh…supaya anak saya tumbuh mental psikologinya dan kecerdasannya, terima kasih sebelumnya saya mohon sarannya

  4. Admin on May 19th, 2010 11:10 am

    Yth Bapak Rismanto

    Saya bisa merasakan apa yang tengah bapak alami. Tentu tidak mudah menghadapi situasi keluarga seperti yang bapak hadapi, terutama dengan tanggung jawab bapak di pekerjaan yang jauh dari keluarga. Namun, seperti yang kita semua sama-sama sadari, hidup pasti banyak gelombang yang selalu pasang surut. Dalam setiap kondisi apapun, hanya ada dua pilihan, yaitu bertahan atau menyerah, dan apapun pilihan tersebut, semuanya sama-sama membutuhkan pengorbanan.

    Saat ini, situasi keluarga bapak mungkin sudah seperti nasi menjadi bubur dan dampaknya sangat mungkin cukup besar terhadap anak-anak yang masih kecil. Meskipun sudah terlanjur terjadi, tapi bukan tidak mungkin, ada sesuatu yang masih dapat dilakukan untuk membangun masa depan keluarga yang lebih baik.

    Oleh sebab itu, karena keterbatasan informasi lebih detil seperti misalnya apakah bapak sudah berstatus cerai dengan istri bapak dan sebagainya, saya coba mengajukan beberapa alternatif pilihan beserta resiko yang mungkin akan bapak hadapi, seperti berikut ini:

    Kepada istri (atau mantan istri bila sudah resmi berstatus cerai):

    1. Bapak terlebih dulu mencoba menjalin komunikasi kepada beliau secara baik-baik (dalam arti, sesuai dengan cara yang berdasarkan win-win solution) untuk membahas proses perawatan anak selanjutnya. Bagaimanapun juga, anak-anak tetap adalah darah daging beliau.

    Dampak positif : Anak tidak kehilangan figur ibu, meskipun sudah bukan lagi sebagai istri bapak.

    Resiko : Istri (atau mantan istri) bapak benar-benar sudah sulit untuk diajak berkomunikasi, ditambah pula dengan adanya pihak ketiga dari masing-masing pihak yang dapat mempengaruhi baik bapak maupun istri bapak. Di sini tentu peran bapak untuk mampu approach istri sesuai dengan sepemahaman bapak mengenai karakter beliau selama ini, menjadi sangat penting.

    2. Bila ternyata status masih belum resmi bercerai, maka tentu option untuk mengusahakan rujuk demi kelanjutan rumah tangga masih terbuka lebar. Bila hal ini terjadi, kesatuan bapak dan istri bapak untuk sama-sama memperbaiki yang sudah terjadi, akan lebih mudah dilakukan, terutama bila baik bapak dan istri sudah sama-sama menyadari dan memahami kebutuhan masing-masing yang selama ini terabaikan.

    Dampak positif : Proses perbaikan kondisi rumah tangga kemungkinan akan lebih solid, bahkan dari sebelum terjadinya prahara. Menurut pengalaman, pada umumnya, setelah benar-benar berhasil melalui badai, manusia cenderung mudah belajar dengan cepat dari masa lalu sehingga dapat mengambil langkah-langkah preventif yang sudah dialami.

    Resiko : Mungkin butuh proses, usaha, komitmen, dan terutama, motivasi bagi kedua belah pihak untuk memperbaiki keadaan. Semua ini sekali lagi, tergantung dari bapak.

    Kepada anak-anak:

    Bapak dapat tetap mengajarkan kepada anak bahwa bagaimanapun mereka merupakan darah daging bapak beserta istri bapak sehingga apapun permasalahan yang terjadi antar suami-istri (atau ayah-ibu), itu tidak secara otomatis memutuskan ikatan ayah-anak atau ibu-anak. Dengan begitu, anak-anak-pun tidak kehilangan figur ibu yang berperan sebagai pengayom keluarga. Bila anak sudah terlanjur memiliki trauma kepada ibu sehingga memiliki cap negatif, maka berikan pengertian kepada anak, bahwa ibu sudah berusaha sebaik-baiknya membesarkan anak seorang diri, karena kewajiban bapak terhadap pekerjaan sehingga terpaksa jarang mampu mendampingi ibu. Usaha bapak untuk keep contact, sudah tepat.

    Kepada pihak ketiga (nenek dan adik bapak):

    Bapak mendiskusikan perkembangan kepribadian anak-anak setiap satu minggu sekali. Yang terutama penting difokuskan adalah suasana rumah tempat anak-anak tinggal sekarang, apakah anak-anak bisa berkomunikasi/ mencurahkan perasaannya kepada nenek dan tantenya atau tidak. Tolok ukur yang termudah adalah dari pencapaian prestasi maupun perkembangan perilaku di sekolah. Di sini, peran bapak selaku figur utama untuk terus berkoordinasi dengan pihak-pihak yang mendukung, termasuk guru di sekolah, menjadi krusial. Bila data yang diperoleh dirasa kurang memuaskan, misalnya bapak mendapatkan laporan perilaku anak yang sangat bermasalah, maka bapak lebih baik selalu crosschek ulang dengan anak bapak, tanpa menghakimi. Bisa jadi hal ini disebabkan kebutuhan emosi anak yang membutuhkan perhatian sangat besar dan hal itu tidak diperoleh di rumah. Ucapan bapak dengan tulus seperti “Ayah sayang kepada kalian”, akan menjadi salah satu kekuatan emosional terbesar kepada anak, meskipun mungkin jarak bapak dengan anak sering berjauhan. Bila hanya memenuhi kebutuhan materi, kemungkinan besar kurang cukup.

    Kepada diri Bapak sendiri:

    Usaha Bapak untuk keep contact melalui telpon, pada dasarnya sudah cukup tepat, terutama bila Bapak tidak segan mengucapkan secara langsung betapa bapak mencintai mereka dalam setiap kesempatan. Namun, bila memungkinkan atau kemungkinan itu sebenarnya terbuka lebar, maka bapak bisa mulai mencari lompatan karir baru yang memungkinkan bapak tidak berjauhan dengan anak-anak atau meminta ditugaskan di dekat anak-anak. Atau mungkin bila memungkinkan juga, anak-anak berada di dekat bapak di manapun bapak berada (namun, biasanya memang memerlukan usaha penyesuaian diri bagi anak setiap kali di lingkungan baru).

    Dampak positif : ikatan emosional merupakan faktor terpenting dalam pembentukan kepribadian anak selama pengasuhan orang tua. Oleh sebab itu, faktor kedekatan fisik akan mempermudah anak dalam meyakini bahwa dia terlindungi dan ada figur yang bisa dia jadikan sandaran. Ini nanti juga tergantung dari faktor pola asuh dan panutan orang tua. Namun setidaknya, dekat secara fisik akan mempermudah anak mengenali orang tuanya daripada berjauhan.

    Resiko : Mungkin memang tidak mudah untuk meminta penugasan di dekat anak-anak, apalagi melakukan lompatan karir di saat-saat seperti ini.

    Namun seperti juga halnya kehidupan, semua pilihan kita ada resiko dan mana yang akhirnya resiko yang kita berani hadapi, itu berarti adalah sesuatu yang lebih penting dalam hidup kita.

    Demikian saran yang dapat saya berikan dengan segala keterbatasan informasi. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan.

    Semoga sukses

    Suwito Hendraningrat Pudiono, M.Psi. Psikolog

  5. Winda D. G on June 20th, 2010 11:15 am

    Setuju… Kelekatan hubungan ibu dan anak berkurang saat anak beranjak dewasa, karena sudah saatnya anak mandiri, namun, pada fase -fase sebelumnya, anak membutuhkan bimbingan langsung dari orangtua…..

  6. retno dwi astuti on September 22nd, 2010 11:51 am

    Apapun yang anda lakukan,lakukanlah semata-mata karena Alloh shg bagaimanapun proses dan hasilnya anda akan ikhlas.

  7. siti nurjanah on January 15th, 2011 11:56 am

    Saya seorang ibu rt mempunyai 2org anak yg besar berusia 6 tahun 8bln sedang yg kecil baru 16bulan, saya mempunyai kendala dalam memberikan perhatian kpd anak2 saya karena saya bekerja yg kalau plg tidak tentu kdg bisa plg sore hari jam 16 wib kdg sampai malam sedangkan suami bekerja di jakarta yg pulangnya 1 minggu sekali itupun hanya sehari saja dirumah sedangkan pengasuhan anak yg besar saya ttp di uwanya yg dirumahnya pun cuma bersama pengasuh saja & anak2 uwanya sedangkan yg kecil di asuh oleh tetangga itupun dibawa plg kerumahnya.
    Saya sebagai ortu bingung dalam membimbing anak yang besar karena saya mendapat pemberitahuan dari gurunya kalau sedang belajar anak saya sering terlambat mengerjakan pelajaran yang diberikan dan sering banyak bengong sewaktu guru sedang menerangkan dan karena keterlambatannya mengerjakan pekerjaan jd menumpuklah tugas untuk dirumah yg apabila disuruh mengerjakan cuma sebentar saja sudah bilang cape lah males lah dll.
    Nah bagaimana saya mengatasinya apakah anak saya tergolong kepada anak yang kurang konsentrasi / konsentrasi pendek bagaimana cara mengatasinya? apakah perlu saya bawa terapi ke psikiater atau psikolog anak supaya tidak keterusan dan lambat menerima pelajaran?
    thks

  8. ummu khalid on March 11th, 2011 12:10 am

    assalamuàlaikum..
    sy ibu dr 2 org anak (3th & 1th), saat ini sy sdg bngung krn ingin mnyekolahx anak sy d preschool tp tdk tsedia d kota t4 tgal kami, sementara anak sy tmasuk hiperaktif, jd sy berencana unt mnitipkan pd kakak sy (sudh bkeluarga tp blm punya anak) d pulau lain krn dsna tdpt skolah tsb. Sblumnya swktu jln2 ke t4 kakak sy sdh pnh memasukkanx d kls pcobaan &dia menyukainya. Tp apkh tdk mempengaruhi pkembangan psikologisx bila dtitipkan shg jauh dr orgtua? Bgm seharusx sy bertindak? Mohon bantuanx, trma ksih.

  9. hartini agustin on April 26th, 2011 11:33 am

    saya mempunyai anak berumur 8 th, saya merasa dia sulit sekali untuk berkonsentrasi dalam belajar,kalau saya suruh bergegas mandi ,ganti baju ,atau makan dia ogah ogahan seperti malas jadinya saya yang marah-marah dan teriak supaya dia bergegas. kalau saya sudah meninggikan suara dan agak membentaknya dia takut barulah dia mengerjakan apa yang suruh. apalagi kalau saya suruh tidur baik tidur siang atau malam, waduh….sulit sekali dia memejamkan mata katanya tidak bisa tidur.kalau saya suruh tidur siang jam 12.30 baru bisa merem jam 13.30 trus jam 15.00 harus bangun untuk mandi lalu ngaji,lha untuk mandi itu saya harus marah agar dia segera mandi dan tidak telat ngajinya. kalau malam dia saya suruh berangkat tidur jam 9 tapi matanya baru bisa merem jam 22.30 lha saya marah lagi takutnya dia kurang istirahat, kalau kurang istirahat kan jadi gak konsentrasi belajar.yang saya tanyakan bagaimana saya harus menyikapi anak saya yang seperti ini?kalau saya marah marah terus saya sendiri capek marah maunya saya nggak pake marah aatu meninggikan suara meskipun begitu sehabis marah saya mesti menyesal kenapa saya harus marah dengan sikap anak saya .dan bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri pada anak?terima kasih saya menunggu sekali jawabannya

  10. auliya on May 30th, 2011 10:16 pm

    saya seorang wanita bekerja, anak saya berumur 20bulan, selama ini dia diasuh oleh bulik saya, bulik saya ditinggal suaminy selingkuh dan sudah bercerai, dia punya anak berumur 4th yg jg tinggal dengan saya, anak bulik saya ini nakal sekali, mgkin krn tidak ada figur ayah di hidupny maka tidak ad yg dia takuti, dia sering marah, memukuli dan berteriak” pd ibunya bila keinginanny tdk dipenuhi, maslahny adalah anak saya yg berumur 20bln itu suka meniru perilaku keponakan saya, jika minta sesuatu dan tidak dituruti dia marah, memukuli saya dan berteriak teriak, memang anak saya sedang dlm masa” meniru perilaku orang” d sekitarnya, pertanyaan saya, bagaiman cara mencegah agar anak saya tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif dr org” di sekitarny?
    Suami saya sudah menyuruh untk ganti ART saja, tp bgmn nasib bulik saya klo dia saya pecat dari pekerjaannya?

  11. echi on June 27th, 2011 1:20 pm

    Dear Admin,
    saya single mother dengan seorang putra berusia 5 tahun. 1 bulan lalu saya baru saja resmi bercerai dan anak ikut saya(karena pertimbangan faktor psikologis dan segi usia anak). Sekarang saya hidup di rumah nenek bersama 1 orang sodara yang sudah berkeluarga(adik dari ayah saya).Saya bekerja penuh waktu. Di rumah tersebut ada seorang pembantu yang mengurusi pekerjaan rumah tangga, dan sejak saya tinggal di rumah nenek, saya mempekerjakan seorang pembantu lagi yang tugas utamanya mengurusi anak saya.Hubungan saya dan mantan memang dari awal (6 tahun lalu) sudah tidak harmonis, karena adanya perbedaan keyakinan dan karakter. Mantan suami saya memang sangat menyayangi keluarganya(saya dan anak),tapi diluar itu,dia punya kepribadian yang sangat sulit untuk dimengerti,bahkan oleh saya dan ibunya sendiri.Meskipun baik dan ramah terhadap semua orang,tapi sebetulnya orang yang suka memendam perasaan,mudah tersinggung(perasaannya sangat halus dan peka..bahkan kadang perlakuan orang suka salah diterimakan olehnya) dan satu hal yang sangat tidak saya suka adalah bahwa dia suka minum minuman keras dan kasar kalo sudah marah.Bahkan terakhir kali dia melakukan KDRT terhadap saya,sampai mata kanan saya bengkak (ditonjok),wajah sebelah kanan memar, juga lengan saya.Belum lagi kepala saya juga dibentur2kan ke tembok. Dan yang membuat saya sedih adalah, semua itu terjadi di depan anak saya. Sehingga saya sama sekali tidak bisa menutupi sisi “negatif” ayahnya lagi. Selama ini kalo bapaknya marah atau mabuk, saya berusaha mengalihkan perhatian anak saya, atau hanya mengatakan bahwa bapaknya sedang “sakit kepala”. Tapi dengan kejadian kemarin, saya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
    Dan sekarang, tiap kali saya tanya mengenai bapaknya, anak saya menolak untuk menjawab.Maksud saya, kan ini masalah antara saya dan bapaknya.Tapi saya tidak mau memutuskan silatrahmi anak saya dengan bapaknya.Toh dia juga punya hak menemui anaknya? Tapi anak saya selalu menolak jika saya “memancing” pertanyaan…misalnya,”apa ga kangen sama bapak?” Dia selalu menolak. Dan parahnya, anak saya malah menginginkan bapak baru. Bapak yang baik, yang tidak jahat kepada ibu(saya,red) dan dia(anak saya,red).
    Padahal berkali2 saya sampaikan pada anak saya, bahwa bapaknya sangat sayang padanya(kenyataan bahwa bapaknya sering bersikap kasar pd saya dan anak saya ketika marah atau suntuk tetap tidak menutupi ada kenyataan juga bahwa mantan suami saya sangat menyayangi anak kami).
    Mantan suami dan keluarganya,tentunya, menuntut agar anak saya juga dipertemukan dengan bapaknya.Saya juga sepaham,dalam artian saya tidak ingin mengambil hak bapaknya untuk menemui dan menyayangi anaknya.Tapi di pihak lain, saya juga tidak mau dan tidak bisa memaksa anak saya untuk mau bertemu dengan bapaknya lagi.
    Pertanyaan saya adalah:
    1.Apa yang harus saya lakukan terhadap anak saya dan mantan suami saya berkenaan keinginan bapaknya untuk bertemu?
    2.Apa yang harus saya lakukan terhadap anak saya untuk menghindari dampak trauma berkepanjangan sebagai efek dari kejadian dia melihat langsung dan terlibat dalam kejadian KDRT tersebut?
    3.Jujur saja, saya masih tidak bisa terima diperlakukan dengan kasar waktu itu. Dan saya sebetulnya tidak ingin anak saya terlalu sering berinteraksi dengan bapaknya.Saya takut anak saya semakin terkontaminasi dengan perilaku negatif bapaknya(kasar,suka minum minuman keras meski di depan anak,dll).Tapi saya juga tidak ingin mengambil hak bapaknya terhadap anaknya. Apa yang harus saya lakukan?

    Mohon bantuannya.

  12. Lina on August 20th, 2011 9:09 am

    kami puny anak usia 4,5 thn tp klo buang air bsr ga mau jg di thn, tlong bantu kami….

  13. indonesia furniture on September 22nd, 2011 10:12 am

    saya sangat interes sama web anda.

    sangat membantu sekali.

    terima kasih .

  14. anik arhidah on March 16th, 2012 9:45 am

    terima kasih.sangat membantu

Tinggalkan komentar Anda





25 queries