Geliat Alumni Sekolah Mode
TEMPO Interaktif, Grand Ballroom Hotel Harris, Kelapa Gading, riuh dan sesak, Senin siang pekan lalu. Ratusan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyaksikan parade peragaan busana “Modecothic” karya mahasiswa semester VIII Program Studi Pendidikan Tata Busana. Setiap nama mahasiswa yang merancang disebut, kawan-kawannya bersorak memberikan dukungan.
Ada 58 mahasiswa sarjana perancang. Mereka terinspirasi oleh kain tradisional Indonesia. Tema Modecothic singkatan dari modern clothes ethnic, yang menampilkan rancangan busana ready to wear bergaya modern dengan sentuhan kain ulos Sumatera, tapis Lampung, songket Padang, lurik, batik, serta jumputan, yang bergiliran tampil di atas panggung. Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) banyak mengeksplorasi teknik cutting dalam rancangan mereka.
Jakarta Food and Fashion Festival 2010 tidak hanya diisi oleh karya perancang ternama Indonesia. Tiga sekolah mode, Universitas Negeri Jakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Esmod, turut meramaikan pergelaran ini. Sejumlah desainer top, seperti Stephanus Hamy dan Tuty Cholid, menyaksikan pergelaran karya-karya mereka.
“Mereka punya bakat,” kata Stephanus Hamy, desainer tiga lini yang ikut menonton karya perancang muda dari ITB. Kritik Hamy ada pada pemilihan warna. “Ada beberapa warna yang kurang pas,” katanya. Menurut Hamy, warna di palet bisa berbeda dengan rancangan jadi.
“Mereka hanya kurang jam terbang. Semakin banyak jam terbangnya, saya yakin mereka akan semakin baik,” kata Hamy.
Desainer lain, Tuty Cholid, mengatakan peragaan ini menarik. “Ada beberapa yang sudah matang dan memiliki konsep yang jelas. Overall, inovasi cukup baik,” kata desainer berusia 61 tahun ini.
Eksplorasi kain bertema “Smara Kriya” menjadi unggulan para mahasiswa dan alumnus ITB. Esti Siti Amanah, misalnya. Perempuan 25 tahun ini merancang rajutan untuk syal, ponco, dan jaket dari limbah benang rajutan kusut yang sudah tak terpakai. Benang kusut itu dikumpulkan helai demi helai berdasarkan jenis serta warna, lalu didaur ulang, dan dipilin menjadi benang baru. Pilinan itu membentuk tekstur benang wol baru yang sangat menarik.
“Warnanya bisa dicampur aduk sesuai dengan selera menjadi warna gradasi, berbintik-bintik, bercak-bercak, atau warna tak jelas,” kata Esti, yang memulai inovasi ini karena ingin berhemat bahan baku ketika masih kuliah. “Dalam keterbatasan, biasanya muncul inovasi,” kata Esti, yang membuka label ESA untuk rajutan uniknya.
Agnes Tandia, yang kini sedang menyelesaikan tugas akhir untuk meraih gelar sarjana, juga punya desain unik. Agnes merancang sepatu untuk anak muda dengan menggunakan sisa kain tradisional. “Mulanya saya mengumpulkan sisa kain perca, terus iseng-iseng dipadankan dalam sepatu, ternyata banyak yang suka,” kata Agnes. Kini Agnes membuka butik kecil dengan label Kuklith untuk sepatu dengan kain batik, songket, dan kain tradisional lainnya. Kahfiati, desainer lain yang juga alumnus ITB, mengeksplorasi kain hingga berwarna emas dan perak dengan menggunakan teknik foiling.
Alumni Esmod tak perlu lagi diragukan kualitas dan profesionalitasnya. Sepuluh desainer lulusan cabang sekolah mode asal Paris ini memamerkan busana ready to wear bertema “Archipelago”. Yang unik, karya alumni Esmod cukup banyak untuk kaum Adam. Seperti karya Poppy Karim. Perempuan alumnus Esmod tahun 1998 ini memamerkan karya batik ready to wear dengan aksen beledu untuk perempuan dan laki-laki.
Patch, lini milik Dian Suryani dan Christiana Erika, menampilkan busana smart dan casual look untuk kaum pria. Sementara Shidiinki, lini kolaborasi antara Intan Ayundavira, Dian Suryani, serta Shirleen Salim, tampil dengan busana lelaki yang sporty casual, ringan, dan dengan warna-warna cerah.
“Mereka semua punya semangat dan juga bakat,” kata Tuty Cholid. “Mereka memberikan something new untuk generasi mereka.” | amandra mustika megarani
Artikel Menarik Lainnya








Comments
Tinggalkan komentar Anda