ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 

[X]

Anak - Balita - Bayi

Hindari Beri Pernafasan Buatan Lewat Mulut

VIVAnews – Saat seseorang pingsan karena serangan jantung dan membutuhkan pertolongan nafas bantuan (CPR), tidak perlu buru-buru memberi bantuan pernafasan dari mulut ke mulut. Menurut dua studi oleh sejumlah ilmuwan, tindakan itu malah menurunkan peluang bertahan hidup korban.

Menurut ilmuwan, menekan dada korban berulang kali sudah cukup membantu. “Kompresi dada saja sudah cukup bermanfaat,” kata Dr Thomas Rea, direktur program medis King County Emergency Medical Services di Washington dan salah satu peneliti CPR, seperti dikutip laman stasiun televisi CNN.

Dua studi mengenai CPR dipublikasikan Rabu, 28 Juli 2010, di New England Journal of Medicine. Dalam dua karya ilmiah tersebut, seperti dikutip dari ABC News, disebutkan bahwa kalau kita tidak terlalu memahami teknis pelaksanaan cardiopulmonary resuscitation (CPR), lebih baik lakukan kompresi pada dada penderita karena itu lebih efektif.

Penemuan ini muncul saat pemberian bantuan pernafasan mulut ke mulut mulai kurang diutamakan. Orang juga sering menganggap bentuk pertolongan seperti itu kurang memperhitungkan kebersihan.

Sekarang, para ilmuwan lebih menekankan agar orang bisa melakukan kompresi dada pada pasien atau korban dengan tepat, yakni 100 kali tekanan per menit. Frekuensi tersebut kebetulan sama dengan ritme lagu disko ‘Stayin’ Alive’ yang dipopulerkan Bee Gees tahun 1977.

“Secara keseluruhan, studi ini mendukung hipotesis bahwa kompresi dada saat CPR, yang lebih mudah dipelajari dan dilaksanakan, harus dipertimbangkan sebagai metode CPR yang bisa dilakukan pada pasien serangan jantung,” kata Leif Svensson dari Stockholm Prehospital Center di Swedia.

Sebelumnya kita mengetahui bahwa dalam CPR, dua nafas buatan harus diberikan tiap 15 kali kompresi dada. Namun rumus itu berubah pada 2005 menjadi dua kali nafas mulut ke mulut tiap 30 kali kompresi.

Penelitian yang dilakukan pada hewan menunjukkan bahwa kompresi dada sudah sangat memadai. Ini karena jantung korban akan terpompa terus dengan kompresi dada dan tidak perlu berhenti terpompa saat pelaku CPR berhenti untuk memberikan nafas dari mulut ke mulut. (umi)

• VIVAnews


Artikel Menarik Lainnya

Comments

Tinggalkan komentar Anda





61 queries