Membela Gerwani dari Fitnah Orde Baru
TEMPO Interaktif, Jakarta – Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) merupakan gerakan perempuan terbesar dan tersohor di era demokrasi terpimpin Presiden Soekarno. Namun gerakan ini mengalami beragam tuduhan, termasuk fitnah berkait dengan pembunuhan jenderal-jenderal militer pada 30 September 1965. Anggota Gerwani ditangkap, disiksa, hingga dibunuh oleh tentara maupun orang sipil yang termakan propaganda kala itu.
Propaganda militer pascapembunuhan jenderal itu menuduh bahwa anggota Gerwani terlibat dalam penyiksaan dan pembunuhan jenderal di kawasan Lubang Buaya. Cerita bagaimana anggota Gerwani memperlakukan jenderal-jenderal itu tersebar di koran-koran Jakarta kala itu. Mereka digambarkan telanjang sambil menari-nari, menyayat wajah jenderal dengan silet, bahkan memotong penis jenderal.
Semua tuduhan itu dibantah oleh Saskia Eleonora Wieringa, penulis buku ini. Saskia merupakan guru besar di Universitas Amsterdam, Belanda, yang sangat berfokus dalam wacana feminisme. Buku ini merupakan tesis dia. Dalam mengumpulkan bantahan-bantahan itu, Saskia mewawancarai anggota Gerwani yang dipenjara tanpa diadili antara 1982 dan 1985. Saskia semakin yakin setelah dia mendapatkan hasil otopsi jenazah.
Kesaksian Siti Arifah menguatkan keyakinan Saskia. Siti, yang yang diwawancarai Saskia pada 22 Februari 1983, mengatakan kedatangannya ke Lubang Buaya justru diundang militer untuk latihan Dwikora. “Saya melihat serdadu membunuh jenderal,” katanya. Setelah kejadian itu, Siti ditangkap dan diminta menari-nari sambil telanjang.
Judul: Penghancuran Gerakan Perempuan, Politik Seksual di Indonesia Pasca Kejatuhan PKI
Penulis: Saskia Eleonora Wieringa
Penerjemah: Harsutejo
Penerbit: Galangpress
Edisi: 2010
Tebal: 542 halaman
Akbar Tri Kurniawan
Artikel Menarik Lainnya








Comments
Tinggalkan komentar Anda