Mencari Orisinalitas Dalam Bibit-bibit Baru Fashion Indonesia
KOMPAS.com – Mencoba terlihat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Esmod Jakarta, sekolah mode yang telah berhasil “menelurkan” bibit-bibit desainer ternama dalam negeri, mencoba menggelar upacara kelulusan murid-muridnya dengan cara yang berbeda. Jika tahun-tahun sebelumnya, mereka selalu mengadakannya di gedung atau hotel, tahun ini mereka menggelarnya di Museum Nasional (Museum Gajah).
Malam itu Esmod bermaksud mencoba sesuatu yang berbeda dengan menggelar acara dengan konsep outdoor, tak pelak kendala cuaca dan teknis sempat mengganggu acara. Namun, di balik hal-hal itu, acara kelulusan program studi 3 tahun Esmod tetap digelar. Acara ini diberi tema “Archipelago” yang menurut Patrice, “Tema ini merupakan perandaian dari ke-38 siswa/i yang memiliki pribadi berbeda-beda, beda ide, beda look, beda strongness. Di dalamnya, terbagi lagi menjadi 4 sub-tema, yakni, Culture, Origin, Architecture, dan Nature.
Fashion Festival merupakan langkah terakhir bagi para siswa/i Esmod untuk menuntaskan masa studinya, sekaligus menjadi penanda langkah awal mereka memasuki dunia fashion secara global. Pada acara Fashion Festival semacam inilah para murid mendapatkan kesempatan untuk bisa memamerkan rancangan dan pilihan gaya mereka ke dunia.
Sebelum dipentaskan di panggung pada malam kelulusan yang berlangsung kemarin, Rabu (24/6/2010), ke-38 siswa/i harus mempresentasikan rancangan mereka ke hadapan pakar fashion, seperti desainer, fashion editor, profesional di perusahaan garmen dan tekstil, juga perusahaan ritel. Sistem penilaian didasarkan pada presentasi konsep dan tema rancangan, target market dan harga jual, serta hasil produk rancangan yang diperagakan oleh model profesional. Pada malam kelulusan, masing-masing calon desainer ini memamerkan 5 busana rancangannya.
“Mereka mengembangkan koleksi yang sangat personal yang benar-benar memiliki kepribadian kuat, dan sangat berbeda. Untuk pertama kalinya kami melakukannya di luar hotel. Di tempat yang full of culture, full of origin, seperti Jakarta. Kami ingin pun ingin membuat para mahasiswa mengenali apa itu Indonesia, apa itu Jakarta, dan apa yang bisa mereka gali di sini,” jelas Patrice, Kepala Koordinator Esmod Jakarta kepada Kompas Female sebelum acara.
Pada malam itu, terdapat sekitar 210 rancangan yang dipamerkan. Terdiri dari women’s wear dan men’s wear, sedikit berbeda dari tahun lalu, tahun ini tak ada children’s wear. Masing-masing desainer memang sudah terlihat ciri-cirinya, meski beberapa rancangan masih terlihat mirip tren yang sudah lampau, namun niat mereka untuk mencoba menunjukkan kepribadian dan gaya rancang bisa dipuji. Ada satu-dua perancang yang mencoba keluar dari mainstream dengan menggunakan fabrikasi asal daerah, seperti Christine Geta Maria Pangaribuan dan Vinora Ng. Stand mereka terlihat ramai dikunjungi karena desain mereka cukup berbeda dan mencolok.
Saat ini alumni Esmod sudah mencapai 636 siswa/i yang sudah bekerja di berbagai profesi di bidang mode, bahkan sudah ada yang memiliki label sendiri. Mengenai lulusan tahun ini, Patrice mengatakan, “Masing-masing murid memiliki different level, mereka memiliki strong point in a way, strong point in other way, tetapi rata-rata mereka memiliki sesuatu yang interesting, mereka punya sesuatu yang personal yang kami coba gali bersama mereka. Jadi, saya rasa, sukses untuk mereka. Pesan saya untuk mereka, terus lakukan apa yang mereka lakukan sekarang, dan terus berjuang untuk hal itu.”
NAD
Editor: NF
Postingan yang mungkin berhubungan:








Comments
Tinggalkan komentar Anda