Anak - Balita - Bayi

Menikmati Salju Terakhir di Bruson  

TEMPO Interaktif, Jakarta -Memenuhi undangan kunjungan keluarga di Swiss, saya terbang melintasi tiga benua untuk tiba di Bandara International Jenewa pada pagi yang dingin, 30 Maret lalu. Matahari bersinar malu-malu dari balik gemawan, mengkilatkan putih salju yang masih tersisa di puncak-puncak pegunungan yang memagari Jenewa. Tapi, bagi makhluk tropis seperti saya, suasana cerah dengan sekeping cahaya matahari itu tetap tidak mampu merepihkan dingin yang memagut kulit. Atas anjuran saudara yang menjemput, segera kukenakan pakaian berlapis, plus jaket dan sarung tangan.

Kami lalu meluncur ke wilayah Dardagny, sebuah desa di pinggiran Kota Jenewa yang berseberangan langsung dengan wilayah Thoiry, Prancis. Sebuah pemandangan perkebunan anggur menemani kami sepanjang perjalanan sebelum kami tiba di sebuah rumah yang hangat berpekarangan luas dengan dilatari hutan kering karena pohon-pohon belum “bangun” dari mati suri sepanjang musim dingin.

Hanya sehari kami di Dardagny. Esoknya, kami segera meluncur ke Bruson untuk mengejar sisa salju musim dingin yang belum repih sempurna. Sedianya tanggal 21 Maret adalah akhir musim dingin dan mulai memasuki musim semi, namun biasanya satu-dua minggu salju masih enggan pergi di beberapa wilayah, terutama di lereng-lereng Pegunungan Alpen, seperti Bruson. Terletak kurang-lebih 160 kilometer atau dua jam perjalanan lewat tol dari Jenewa, Bruson adalah desa yang termasuk wilayah Canton (semacam provinsi) Valais, masih dalam wilayah Swiss berbahasa Prancis atau Swiss Romain.

Kami disambut saudara ipar saya yang telah menunggu di sebuah rumah khas desa-desa pegunungan Alpen. Rumah berdinding kayu dari belahan pohon oak berwarna cokelat tua, dengan tiang kokoh sekitar satu meter (tergantung topografi lahan), berberanda kecil selebar 1 meter, dan bagian dalamnya (baik tembok maupun lantai) dilapisi kepingan-kepingan kayu bervernis, lengkap dengan pemanas listrik dan cerobong pembakaran.

Karena berangkatnya pukul 6 sore, kami tiba sekitar pukul 8, dan langsung menyiapkan santapan malam. Awalnya, saya cukup terkejut karena pukul 8 masih sangat sore, belum malam, tapi akhirnya sadar bahwa belahan waktu di negeri empat musim memang berbeda dengan negeri tropis seperti Indonesia.

Esok paginya saya terbangun dengan pemandangan serba putih di halaman. Rupanya, semalam turun hujan salju. Dari jendela saya menyaksikan atap-atap rumah tertutupi gumpalan putih tebal, sementara nun di sana pegunungan Alpen menggigil dalam selimut salju.
 
Kesempatan ini tak saya lewatkan, dengan segera saya mengambil jaket tebal dengan topi kupluk dan sarung tangan, lalu berjalan menyusuri jalan-jalan desa yang membelah ladang dan padang yang kini berubah jadi hamparan salju.

Bruson adalah sebuah desa dengan komunitas penduduk sekitar 60 rumah, berada di ketinggian 1.080 meter di atas permukaan laut. Sebagian penduduknya peternak sapi atau domba perah, yang susunya dijual ke pembuat keju. Sebagian lagi petani ladang mint, sementara hampir separuh pemilik rumah yang ada di Bruson adalah orang-orang kota di Swiss, bahkan dari luar Swiss yang sengaja membeli atau membangun rumah untuk liburan akhir pekan.

Meskipun ciri khas desa di mana pun mirip–tenang, bersahaja, segar–jangan membayangkan Bruson seperti beberapa desa di Indonesia yang kadang terisolasi (jalan rusak, transportasi sulit) dan tak tertata. Bruson sangat apik, terletak di lereng pegunungan, dibalut liukan jalan beraspal mulus yang menghubungkannya dengan desa lain maupun kota, sehingga urusan transportasi tak menjadi soal.
 
Sebuah bus setiap beberapa menit selalu mampir di halte utama, mengantar penumpang ke stasiun Le Chable yang terletak di dasar lembah. Dari stasiun kecil itu, penumpang bisa menaiki telecabine (kereta gantung) menuju kota wisata Verbier yang terletak di sisi lain lereng Alpen, atau naik kereta ke dan dari Jenewa dengan ongkos sekitar CHF 50 (franc Swiss).

Setelah puas mengelilingi desa dengan pemandangan khas negeri empat musim, saya lalu menerima ajakan saudara bermain ski di dataran yang lebih tinggi, masih dalam wilayah Bruson.

Stasiun telesiege atau chairlift (semacam kereta gantung tapi tanpa penutup) hanya beberapa ratus meter dari depan rumah, namun kami memutuskan untuk mendaki dengan mobil karena jalan-jalan sedang aman, tidak tertutupi penuh salju seperti saat musim dingin.

Untuk masuk ke area ski, pengunjung dikenai biaya 10 franc Swiss. Tapi saat itu kami bebas bermain ski gratis karena saudara telah memiliki tiket paket bulanan yang berlaku untuk seluruh wilayah Swiss selama musim salju. Hampir empat jam kami bermain di antara gumpalan-gumpalan bukit dan lembah putih salju.

Saya mencoba berlatih meluncur dengan papan luncur ski, dan ternyata sangat menyenangkan. Saya jadi tahu bahwa hal tersulit dalam skiing adalah saat pengereman. Posisi kaki di atas papan yang semula sejajar harus dibuat mengerucut membentuk huruf V terbalik dan badan ditegakkan. Salah mengerem bisa berbahaya.

Pulangnya, saya menumpang telesiege untuk menyaksikan panorama pedesaan dari udara. Luar biasa indahnya. Saya tak habis pikir, mengapa Indonesia, yang memiliki banyak panorama gunung dan pantai yang indah, tidak dikelola sebaik mungkin dengan fasilitas yang rapi, sehingga para turis pun bisa menikmati indahnya alam Indonesia senyaman di negeri empat musim ini.

Waktu telah menunjukkan pukul 19.25 ketika saya tiba di rumah, dan saatnya menikmati santap malam. Makan malam kali ini sangat istimewa karena kami diundang tetangga ke sebuah restoran desa untuk menyantap makanan khas tradisional Swiss dari keju dan anggur. Namanya fondue.

Konon, asal mula makanan khas fondue muncul ketika tentara Swiss dan Austria berperang di musim dingin. Sebelum bertarung, mereka sepakat untuk mempersembahkan bekal masing-masing: keju dari pihak Swiss dan anggur dari pihak Austria untuk diolah dan disantap bersama.

Memang aneh dan lucu peperangan diawali masak dan santap bersama, tapi itulah Swiss, negeri yang saat ini terkenal dengan jaminan keamanannya, rakyatnya yang memiliki kepedulian tinggi pada humanity (sehingga palang merah internasional pun bermarkas di negeri ini), dan kenetralannya (cinta damai, bebas dari keterlibatan perang apa pun).

Membuat fondue ternyata sangat mudah. Keju parut dimasukkan ke panci, ditambahkan anggur putih, lalu dijerang sambil diaduk hingga mengental. Dalam keadaan hangat, ia disajikan bersama potongan roti dan daging asap. Cara menyantapnya: potongan roti ditusuk garpu panjang, lalu dicelupkan ke dalam panci berisi fondue yang masih mengepul sambil diaduk, kemudian roti berbalut keju kental dan hangat tersebut disantap bersama potongan daging asap mentah atau ketimun dan bawang rebus.

Fondue harus disantap segera selagi hangat, dan jika sisa fondue dalam panci tinggal sedikit, segera diceplokkan telor ayam, kemudian diaduk lagi hingga rata. Sisa fondue dengan telur ceplok ini lebih lezat lagi rasanya, karena lebih kenyal dan mantap. Juga kerak fondue, gurih dan legit. Apalagi diselingi dengan hangatnya minuman anggur merah yang langsung “membakar” perut. Maknyuuusss!

Selain panorama pedesaan dan tempat bermain ski lengkap dengan kereta gantungnya, Bruson juga terkenal sebagai penghasil keju berkualitas. Di hari berikutnya saya menemani saudara membeli keju di Eddy Baillifard Fromagerie, sebuah rumah pembuatan keju tradisional, sekaligus mengintip proses pembuatannya.

Menurut pemiliknya, untuk membuat keju berkualitas dengan aroma dan rasa yang kaya harus dimulai dari pemilihan jenis makanan ternak yang susunya akan diperah. Di Bruson, ternak biasanya dilepas ke padang-padang rumput yang berada di puncak bukit selama 100 hari, sebelum dihalau ke kandang untuk diperah susunya. Rumputnya pun bukan sembarang rumput, tapi rumput berbunga dengan beragam jenis dan warna.

Susu hasil perahan kemudian ditampung setiap pagi, lalu disaring dengan penyaring khusus untuk menjamin higienenya. Dalam wadah besar seperti drum, susu itu kemudian diaduk dengan tekanan tinggi, lalu diberi ragi atau asam fermentasi untuk membantu pembekuan susu.

Setelah cukup kental dan menghasilkan butiran-butiran kasar, dibiarkan 30 menit, kemudian dipanaskan dalam temperatur 40 derajat Celsius. Setelah itu, disaring dan dicek kekeringan lemaknya. Bagian yang padat dimasukkan ke dalam cetakan dan dipres selama 24 jam, lalu direndam dalam air dengan kadar garam yang berbeda sesuai dengan rasa yang diinginkan. Setelah itu, disimpan di ruangan bertemperatur konstan 10–12 derajat Celsius. Setiap tiga bulan posisinya dibalik untuk menjaga rata suhu dan warna permukaannya sebelum siap dijual.

Hmmm…, beruntung rasanya mengejar sisa salju di Bruson. Soalnya, bukan hanya saljunya yang mengesankan, tapi juga hangat fondue dan pengalaman melihat langsung bagaimana keju Swiss yang kualitasnya tersohor se-Eropa itu dibuat.

Bambang Sukmawijaya, penikmat wisata, tinggal di Bandung

Artikel Menarik Lainnya

Comments

Tinggalkan komentar Anda





65 queries