Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]

Anak - Balita - Bayi

Peragaan Busana Muslim Serumpun  

TEMPO Interaktif, Jakarta -TEMPO Interaktif-Jakarta, Indonesia dan Malaysia mempunyai kedekatan yang tidak bisa terpisahkan. Sebagai negara serumpun Melayu, keduanya banyak memiliki persamaan selain keragaman dan keunikan dari kedua negara tersebut. “Saya ingin menyajikan Islamic Fashion Festival (IFF) 2010 ini sebagai satu pergelaran serumpun yang menguatkan hubungan Indonesia-Malaysia,” kata Raja Rezza Shah Raja Zurin, pendiri dan Ketua IFF yang sudah empat kali menyelenggarakan ajang mode bergengsi ini, di Jakarta.

Pria yang biasa disapa Dato’ Raja Rezza Shah ini sangat antusias menyelenggarakan IFF 2010 yang berlangsung di Hotel Dharmawangsa, Kebayoran, Jakarta, selama dua hari 29-30 Juni lalu. “Ada misi idealisme yang ingin saya hadirkan kembali dalam pergelaran kesembilan ini di Jakarta,” ujarnya ramah bersahaja. Pada ajang mode kali ini dia menyebutkan mengusung tema besar Cita Nusantara Showcase.

“Adapun tema kali ini mengandung tiga konsep yakni Dari Minimalis ke Maksimalis,
Sebuah Kolaborasi, dan Cinta Cita Nusantara. Kami menyajikan busana muslim
kolaborasi perancang dari dua negara yang memakai bahan kain dan kerajinan
Nusantara Indonesia-Malaysia. Saya inginkan peragaan busana muslim serumpun ini menjadi tonggak penting harmonisasi hubungan kedua negara yang belakangan
terganggu dengan adanya  masalah klaim batik,” ungkapnya.

Diakui Dato’ Raja Rezza Shah, IFF merupakan upaya yang diprakarsainya. Dan
melalui ajang ini pihaknya selalu menyampaikan sebuah upaya untuk mengantarkan tren busana muslim ke belahan dunia lain. Baginya, tren mode bisa diterapkan pada jenis busana apa pun, termasuk busana muslim. “Saya melihat serta meyakini busana muslim tidak lagi dianggap monoton, melainkan bisa mengikuti perkembangan mode dunia bahkan diharapkan menjadi kiblat tren mode dunia,” ujarnya optimistis.

Tahun  ini, ia sempat mengusung IFF dan memperkenalkani ke Abu Dhabi, New York dan Jakarta. Pada Agustus hingga September nanti, dia berencana akan membawa ke Monte Carlo, Qatar, dan Singapura. “Saya sangat berharap IFF menjadi simbol penting sebagai kiblat perhelatan akbar dunia. Dan saya sungguh berterima kasih selalu rutin bekerja sama dengan para perancang Indonesia yang siap dengan tangan terbuka menyajikan peragaan ini.”

IFF 2010 di Jakarta kali ini menampilkan karya para perancang Indonesia seperti Ghea Panggabean, Samuel Wattimena, MILO, Merry Pramono, Jeny Tjahyawati, Hannie Hananto, Iva Lativah, Nuniek Mawardi, Zainal Songket, Ian Adrian, Safitri, Anne Rufaidah, Alphiana Chandrayani, Erni Kosasih, dan Ida Royani. Sementara Malaysia menampilkan perancang Melinda Looi, Tom Abang Saufi, Khadani, Mona Din Hajaba, Noraini Jarumas dan koleksi dari Kraftangan Malaysia.

Melaui tema Cita Nusantara semua para perancang Indonesia Malaysia memakai,
menggunakan atau menciptakan pakaian yang berasaskan Tekstil Kraf Nusantara
seperti batik Malaysia, batik Jogja, batik Madura, batik Cirebon , lurik Jawa, songket Palembang, tenun Pontianak, tenun Kalimantan Timur, tenun Nusa Tenggara Timur, tenun Maluku  dan tenun Pahang. Menurut dia, IFF selain aktif dan rutin menyelenggarakan show case atau peragaan busana, juga ikut berbagi memberikan dukungan dan bantuan sosial. Dia menegaskan pada malam penyelenggaraan IFF yang berlangsung November 2009 di Kuala Lumpur, hasil show casenya disumbangkan kepada Pundi Amal SCTV sebesar US$ 10.000. “Prinsip hidup saya harus ada keseimbangan. Menyelenggarakan peragaan oke, namun kegiatan sosial pun harus tetap kita dukung, tak boleh ditinggalkan.”

Malam itu, perancang Melindai Looi yang tengah hamil menyajikan karya bertema
Batique melalui keindahan elemen batik yang penuh dengan warna grey, honey

dan salmon yang sangat cocok dikenakan sebagai busana pesta. Sementara Milo,
perancang asal Bali menyajikan baju muslim khas Timur Tengah dengan rancangan
menyemburatkan aura kemewahan melalui motif garis dan zebra.

“Saya ingin penduduk dunia punya minat tinggi terhadap busana muslim rancangan
saya yang menyerupai gaun malam sangat tepat dikenakan oleh lintas agama, tak
hanya mereka yang muslim,” ujar Milo.

HADRIANI P / Credit Foto: Dok. Panitia IFF


Postingan yang mungkin berhubungan:

Comments

Tinggalkan komentar Anda





59 queries