Seimbangkan Kerja dengan Hubungan Sosial
TEMPO Interaktif, Jakarta - Bagi kebanyakan kaum pekerja, Senin hingga Jumat benar-benar merupakan hari kerja. Aktivitas utama pada lima hari dalam sepekan itu adalah menyelesaikan tugas-tugas di kantor atau tempat kerja lainnya. Berangkat pada pagi hari dan pulang malam hari, bahkan menjelang tengah malam.
Hampir tak ada lagi waktu untuk melakukan aktivitas di luar urusan kerja. Yang pintar mengatur waktu mungkin bisa mencuri waktu. Misalnya berbelanja di pasar swalayan, menonton film, atau ke toko buku dalam perjalanan pulang dari tempat kerja. Tapi lebih banyak lagi yang dari kantor langsung ke rumah karena sudah merasa kecapekan.
Kalau sudah begini, jangankan bersosialisasi dengan tetangga, untuk bercengkerama dengan keluarga pun sepertinya tidak ada waktu. Memang hubungan sosial di luar urusan kerja antara satu orang dan yang lain amat sulit diwujudkan di masyarakat kota.
Seperti diakui salah satu pekerja, Tities Setyaningtyas. Dia jarang menjalin hubungan sosial dengan tetangganya. Perempuan asal Ponorogo, Jawa Timur, ini merasakan hubungan dia dengan tetangganya dilakukan sekadar basa-basi. “Memenuhi etika sosial saja,” ujar dia melalui sambungan telepon.
Tities, yang tinggal di Tanah Baru, Depok, Jawa Barat, hanya memiliki Sabtu dan Ahad untuk bersosialisasi dengan tetangga. Tapi dua hari libur itu pun kerap ia habiskan untuk acara keluarga. “Karena jarang ketemu setiap harinya,” kata Tities. Akibatnya, waktu untuk tetangga tak ada.
Perempuan yang bekerja sebagai konsultan public relations di Jakarta ini enggan berhubungan dengan tetangga saat akhir pekan. “Khawatir dianggap mengganggu,” katanya. Tities menilai, pada hari libur itu, sebagian besar tetangganya juga mengisi waktu bersama keluarga, bukan dengan tetangga.
ities mengatakan kondisi seperti itu tidak bagus dalam kehidupan sosial, tapi keadaan memaksa seperti itu. Agar tidak terlampau cuek satu sama lain, Tities menyapa tetangga jika lewat di depan rumahnya. Dia kerap berbasa-basi menggoda anak-anak kecil yang diasuh oleh orang tua atau pembantu rumah tangga. “Biar tahu kalau kita tinggal di situ,” ujarnya.
Psikolog dari lembaga konsultasi psikologi PSYCHOdiarra, Diding Supendi Saputra, mengatakan hari libur tidak hanya waktu untuk keluarga, tapi juga bagi lingkungan sekitar. “Ada hak tetangga,” ujar Diding melalui telepon. Hubungan sosial dengan tetangga merupakan kebutuhan primer setiap orang. Kebutuhan itu setara dengan mencari nafkah untuk keluarga.
Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi juga menekankan kepada pegawai di kementeriannya agar tidak bekerja pada Sabtu dan Ahad. Menurut Gamawan, setiap manusia memiliki kewajiban terhadap lingkungannya. “Ada hak anak, keluarga, tetangga, famili, dan hak diri sendiri,” katanya kepada Tempo dua pekan lalu.
Gamawan merasa perlu membuat keputusan itu lantaran dia merasakan kehilangan kesempatan mendidik anak-anak dan bersosialisasi dengan keluarga. “Tidak pernah malam-malam saya duduk-duduk mendongeng dengan anak-anak,” ujarnya.
Diding menilai bersosialisasi merupakan syarat seorang dikatakan manusia. “Tidak bisa individualistis,” ujarnya. Bermasyarakat, kata Diding, bertujuan menciptakan masyarakat yang toto titi tentrem kertaraharja, yakni ketenteraman dan kenyamanan batin di masyarakat.
ubungan sosial di antara masyarakat dikategorikan dalam tiga bentuk. Menurut Diding, ketiga bentuk itu adalah masyarakat yang hidup bersama, bekerja sama, dan kebersamaan. Mewujudkan masyarakat seperti itu sulit diwujudkan, terutama pada masyarakat yang berorientasi pada keuntungan semata. Masyarakat di kota biasanya hanya membentuk masyarakat yang hidup bersama dan bekerja sama. “Ini tingkat paling mudah,” ujarnya.
Seharusnya setiap anggota masyarakat bisa mewujudkan kebersamaan, yaitu menghasilkan sesuatu yang bisa dirasakan bersama-sama. Misalkan pemberantasan sarang nyamuk. Jika ada satu keluarga yang tidak mau membersihkan lingkungan dari jentik nyamuk, hal itu berpotensi merugikan keluarga lain. “Maka diperlukan kebersamaan,” kata Diding.
Di kantor pun sebenarnya para pekerja bisa menerapkan hubungan sosial di antara sesama pekerja. Situs web Menshealth.com menyebutkan, ada 10 cara untuk meningkatkan produktivitas di tempat kerja. Nomor satu adalah menyediakan 15 menit setiap hari untuk berbicara tentang topik sederhana dengan rekan kerja. Misalnya berbincang hasil pertandingan sepak bola, menanyakan kabar anak-anak, atau membuat rencana makan siang bersama.
ahkan maraknya hubungan sosial secara digital saat ini ternyata berdampak meningkatnya produktivitas kerja. Setidaknya begitulah kesimpulan penelitian Dr Brent Coker, profesor dari Department of Management and Marketing University of Melbourne, Australia, yang kontroversial. Menurut dia, pekerja yang memiliki akses Internet yang digunakan untuk keperluan pribadinya pada jam kerja–paling tidak sekitar 20 persen dari total waktu kerjanya–dia akan 9 persen lebih produktif ketimbang pekerja yang tidak.
AKBAR TRI KURNIAWAN
Artikel Menarik Lainnya





Comments
Tinggalkan komentar Anda