ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


Tips Kesehatan Wanita

Secara fisik wanita memiliki perbedaan yang jauh sekali dengan seorang pria. Oleh karena itu, maka tidak salah jika diperlukan tips kesehatan wanita yang memang khusus untuk menjaga kesehatan seorang wanita agar terhindar dari berbagai gangguan kesehatan yang hanya terjadi pada seorang wanita.

Ada berbagai ganguan kesehatan yang memang hanya menyerang seorang wanita saja dan tidak mungkin untuk menyerang seorang pria. Namun ada juga berbagai gangguan kesehatan yang memiliki persentase kemungkinan untuk lebih banyak terjadi pada seorang wanita daripada.

Dengan adanya berbagai kemungkinan yang seperti itu maka sudah sepatutnya seorang wanita wanita harus lebih berhati-hati dalam menjaga dirinya agar terhindar dari berbagai gangguan yang tidak baik tersebut. Bahkan jika dibiarkan akan bisa menyebabkan kematian pada sesorang wanita.

Secara fisik memang seorang wanita berbeda dengan seorang pria. Wanita lebih lemah jika dibandingkan dengan seorang pria. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk hidup sehat dengan mengikuti beberapa tips kesehatan wanita berikut ini.

1. Minum Air Putih
Air putih merupakan bagian terpenting bagi kehidupan manusia. Dengan meminum air putih minimal 8 gelas sehari maka kita akan turut untuk menjaga kesehatan tubuh. Di dalam pedoman gizi seimbang juga dianjurkan untuk mengkonsumsi air putih yang banyak.

Air putih memiliki banyak sekali manfaat yang bisa diberikan kepada tubuh untuk menjaga kesehatan. Beberapa manfaat dari air putih adalah sebagai berikut.
a. Untuk membantu sistem pencernaan agar kerja usus tidak terlalu berat
b  Menghindari terjadinya sembelit
c. Mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh melalui keringat, urine, dan feses
d. Membuat awet muda karena air menghindari tubuh terjadinya dehidrasi sehingga kulitpun bisa menjadi lebih muda
e. Menjaga suhu tubuh
f. Mencegah terjadinya sakit punggung
g. Mencegah terjadinya batu ginjal
h. Menurunkan berat badan dengan membersihkan lemak dan kotoran yang mengendap di dalam tubuh
i. Mengurangi risiko kanker kandung kemih

2. Olahraga Teratur
Olahraga yang teratur mampu membuat kita terhindar dari berbagai macam penyakit karena otot yang terus dilatih melalui olahraga teratur tersebut. Dengan melakukan olahraga teratur juga dapat membantu seorang wanita terhindar dari osteoporosi atau tulang keropos yang memang rawan terjadi pada seorang wanita.

3. Jaga Asupan Gizi
Dengan menjaga asupan gizi yang cukup untuk tubuh juga mampu membantu kita menjaga kesehatan. Asupan gizi yang cukup akan mampu memberikan berbagai zat gizi yang diperlukan oleh tubuh sehingga mampu membuat kerja organ tubuh bisa bekerja dengan baik.

4. Jaga Kebersihan
Meskipun terkadang asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sudah terpenuhi dengan baik namun jika kebersihan tidak terjaga dengan baik juga bisa mengakibatkan terjadinya berbagai penyakit. Misalnya saja kekuranghatian dalam menjaga kebersihan dari organ intim juga sangat rawan sekali karena bisa menyebabkan terjadinya kanker leher rahim.

Demikianlah beberapa tips kesehatan wanita yang bisa dilakukan setiap hari demi aset terpenting yakni kesehatan. Semoga membantu.

Pendidikan Sejak dalam Kandungan

Setiap orang tua—lazimnya—mengharapkan anak-anaknya kelak dapat meraih keberhasilan dalam hidup dengan masa depan yang begitu cemerlang, kesuksesan itu, bisa dipastikan sejak awal dengan mengoptimalkan pendidikan sejak dalam kandungan. Sesuai degan hasil penelitian ilmiah, mendidik anak dalam hal rasio dan rohanisejak masih dalam kandungan terbukti memberikan hasil yang positif bagi perkembangan anak setelah lahir kelak.

Semata demi cerahnya masa depan anak, ibu bisa memberikan pendidikan sejak dalam kandungan yang bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung yaitu melalui makanan, belajar berbagai hal pada berbagai bidang, memperdengarkan musik, dan membacakan cerita. Menyantap makanan yang kaya gizi, protein, dan vitamin, contohnya mengonsumsi ikan salmon dan kurma secara teratur. Ibu yang belajar—layaknya anak sekolah—secara mandiri atau mengikuti kursus beragam bidang juga secara tidak langsung mendidik janin, secara khusus lebih mantab bila ibu mendidik calon bayi dengan memecahkan soal-soal ilmu eksakta seperti matematika, atau mempelajari bahasa asing saat kehamilan, maupun berbagai bidang lain. Poin selanjutnya adalah memperdengarkan musik klasik seperti karya Beethoven, Mozart, Bach, dan lain-lain, serta membacakan cerita dan “membahas” cerita tersebut bersama bayi yang masih dalam kandungan, dapat memberikan efek positif bagi bayi.

Selain itu, kesehatan emosi dan jiwa sang ibu harus dijaga, terutama dengan menghindari stres dan pemicunya karena tekanan jiwa pun memengaruhi kondisi janin dan kecerdasan mental anak, sehingga disarankan agar sang ibu selalu berpikir positif. Nah, bila memiliki harapan agar anak dapat meraih keberhasilan, menerapkan hal-hal yang merupakan proses pendidikan sejak dalam kandungan tentu dapat mendukung tercapainya harapan itu.

Bos Kecil..:)

Seringkali kita temui ada anak kecil usia batita memerintah…

Kalau ini yang terjadi pada anak kita, bagaimana cara mengatasinya??. Pertama mari kita lihat dulu akar permasalahannya..kenapa si kecil suka memerintah, misal berteriak meminta minum atau makan, atau meminta dibelikan sesuatu dengan suara keras..:)

Anda tak perlu jengkel atau merasa malu jika si kecil berbuat demikian, karena perilaku ‘bossy’ ini bukan berarti dia menempatkan diri sebagai bos..anak usia batita tidak tahu siapa bosnya, bahkan arti kata ‘bos’ itu sendiri belum mereka pahami.

Mereka hanya tahu apa yang mereka inginkan dan mencoba memperolehnya, dan penyebab perilaku ini bukanlan karena kita lemah dalam parenting skills, tapi karena anak belum mampu memahami penolakan ortu atas permintaannya.

Lalu kenapa anak suka memerintah?? Ini dikarenakan anak mulai menjajal kemandirian mereka sebagai diri pribadi..:)

Dan apa yang mesti dilakukan jika ini terjadi??

Tetapkan batas, seringkali kita ragu untuk menolak permintaan anak maka ini adalah saatnya kita bertindak..:), tapi…lakukan dengan lembut tetapi tegas, jangan sampai menimbulkan trauma bagi si kecil. Dan upayakan ada solusi agar anak mengerti batas batas mana yang diperbolehkan saat ia memerintah atau merengek meminta sesuatu.

Imunisasi MMR, Perlu atau Tidak?

 

Sampai saat ini masih sering terjadi pro dan kontra mengenai perlu atau tidaknya imunisasi Imunisasi MMR (Measles,Mumps Rubella). Imunisasi anjuran yang diberikan kepada anak untuk meningkatkan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (measles),gondong (mumps) dan campak jerman (rubella). Sampai saat ini masih banyak terdapat pertimbangan para orangtua bahwa kasus anak menderita austime yaitu akibat reaksi setelah diberikan imunisasi MMR, atau anak yang diberikan imunisasi MMR sebelum bisa berbicara maka akan mengalami keterlambatan dalam berbicara. Informasi ini sungguh sangat membingungkan,apalagi kalau memang terbukti benar.

 

Sebenarnya penelitian mengenai keterkaitan autism dengan imunisasi MMR sudah banyak dilakukan. Di Inggris dan beberapa tempat lainnya dikatakan bahwa reaksi imunisasi MMR secara umum ringan, namun pernah dilaporkan kasus meningoensfalitis pada minggu 3-4 setelah imunisasi yaitu timbulnya reaksi klinis meliputi kekakuan leher, iritabilitas hebat, kejang, gangguan kesadaran, serangan ketakutan yang tidak beralasan dan tidak dapat dijelaskan, defisit motorik/sensorik, gangguan penglihatan, defisit visual atau bicara yang serupa dengan gejala pada anak autism.
(Andrew Wakefielddari Inggris melakukan penelitian terhadap 12 anak, ternyata terdapat gangguan Inflamantory Bowel disesase pada anak autism.)

Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autisme disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi. Sedangkan beberapa orang tua penderita autisme di Indonesiapun berkesaksian bahwa anaknya terkena autisme setelah diberi imunisasi

 

Rekomendasi Intitusi atau Badan Kesehatan Dunia

Dari hasil kajian ilmiah beberapa institusi atau badan dunia untuk bidang kesehatan yang independen, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional agar tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme.

The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health pada bulan Agustus 2000, menegaskan bahwa MMR aman, dengan memperhatikan hubungan yang tidak terbukti antara beberapa kondisi seperti inflammatory bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme adalah tidak berdasar.
WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan efikasinya.

 

SIKAP KITA SEBAIKNYA

Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka masyarakat awam bahkan beberapa klinisipun jadi bingung. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya autisme berhubungan dengan imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu. Secara umum penderita autisme sudah mempunyai kelainan genetik (bawaan) dan biologis sejak awal. Hal ini dibuktikan bahwa genetik tertentu sudah hampir dapat diidentifikasi dan penelitian terdapat kelainan otak sebelum dilakukan imunisasi. Kelainan autism ini bisa dipicu oleh bermacam hal seperti imunisasi, alergi makanan, logam berat dan sebagainya. Jadi bukan hanya imunisasi yang dapat memicu timbulnya autisme. Pada sebuah klinik tumbuh kembang anak didapatkan 40 anak dengan autism tetapi semuanya tidak pernah diberikan imunisasi. Hal ini membuktikan bahwa pemicu autisme bukan hanya imunisasi.

Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan autism hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi) autism. Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.

 

Rekomendasi IDAI     

Sejauh ini Departemen Kesehatan RI belum memasukkan MMR ke dalam immunisasi wajib, sedangkan IDAI sudah memasukkannya sebagai imunisasi yang dianjurkan bersama cacar air, hepatitis A, hib, pneumokokus, influenza, tifus, dan HPV.
IDAI merekomendasi pemberian MMR pertama pada umur 15 bulan. Jika pada umur sembilan bulan belum diimunisasi campak, MMR bisa diberikan pada umur 12 bulan. MMR ulangan diberikan pada anak umur enam tahun (Pedoman Immunisasi IDAI, edisi ketiga; 2008).

IDAI menganjurkan agar MMR disertai pembekalan mengenai Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) mengenai gejala, insiden, dampak, indikasi kontra, dan sebagainya. Imunisasi diberikan setelah orangtua anak mendapat informasi cukup dan menyetujuinya. Lebih dari itu pelaksanaan MMR tidak ada kaitannya dengan kemampuan berbicara anak.

PENTINGNYA KOMUNIKASI DENGANG ANAK REMAJA ANDA!

 

Masa Remaja adalah masa-masa dimana seorang anak banyak mengalami perubahan baik fisi maupun non fisi dalam kehidupan mereka.

Dalam masa ini pula banyak orang tua yang khawatir dengan perkembangan anak mereka. Tentu perlu pendekatan komunikasi yang intens dengan anak remaja Anda agar perkembangan fisik dan non fisik mereka terarah dengan baik.

Kebanyakan ibu bapa sering merasakan diri mereka lebih tahu segalanya sehingga menyebabkan berlaku beberapa perkara seperti:
• Lebih banyak bicara daripada mendengar
• Merasa tahu lebih banyak daripada anak
• Cenderung memberi arahan dan nasihat
• Tidak berusaha untuk mendengar dulu apa yang sebenarnya terjadi dan yang dialami oleh anak
• Tidak memberi kesempatan agar anak mengemukakan pendapat
• Tidak dapat menerima dan memahaminya masalah yang dialami oleh anak
• Cepat berputus asa dan marah kerana tidak dapat mengawal tingkah laku remaja

Kebanyakan ibu bapa merasakan mereka sudah menjalankan tanggungjawab dan memberikan perhatian yang sewajarnya tetapi bagi remaja itu masih belum cukup, Oleh itu, sebagai ibu bapa mereka perlu mengetahui cara berkomunikasi dengan remaja, berikut tips cara berkomunikasi dengan remaja, antaranya ialah :

  1. Luangkan waktu bersama  :    Pada usia seperti ini, anak remaja biasanya lebih suka menghabiskan waktu dengan teman mereka ketimbang bersama orang tua, tapi sebagai orang tua, Anda perlu meluangkan waktu dengan anak Anda, misalnya pergi nonton, makan malam bersama, kegiatan seperti ini dimaksudkan agar dengan meluangkan waktu bersama dan menjadi pendengar yang setia supaya remaja ingin menyampaikan masalah mereka kepada kita.
  2. Memahami perasaan remaja :  Masalah dalam berkomunikasi dengan remaja sering terjadi disebabkan ibu bapa kurang memahami perasaan anak. Untuk mendapat komunikasi yang lebih efektif, ibu bapa perlu meningkatkan kemampuannya dan mencoba menerima dan memahami perasaan remaja bila mereka menghadapi sesuatu situasi sama sedih, gembira, marah, sakit hati dan lain-lain.
  3. Bersabar :  Seringkali di usia seperti ini, remaja punya masalah dan bingung membuat keputusan. Pada saat anak Anda membuat satu kesalahan, jangan langsung marah. Tapi biarkan mereka memberi penjelasan kepada Anda, dan coba bantu untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian, mereka akan selalu datang pada Anda untuk meminta nasihat.
  4. Beri mereka privasi  atau keleluasaan pribadi :  Terkadang orang tua sangat gemar memata-matai anak mereka, mendengarkan percakapan anak saat menerima telepon. Remaja adalah dewasa muda yang butuh privasi. Jika anak-anak tahu orang tua memata-matai mereka, mereka akan merasa tidak dipercaya oleh orang tua namun begitu orang tua juga harus menetapkan batasan-batasan untuk mengawasi anak-anak remaja mereka.

Demikian beberapa cara berkomunikasi dengan anak remaja, semoga bermanfaat terutama bagi anda yang mempunyai anak yang telah memasuki usia remaja atau puber.

Salam Hangat

EROH

www.erobiznet.tk

 

 

Tips Agar Anak Lebih Berani

Keberanian anak untuk mencoba sesuatu yang baru dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Faktor internal salah satunya dipengaruhi temperamen si anak. Sedangkan kalau faktor eksternal lebih kepada dorongan dan dukungan kepada si anak untuk mencoba. Salah satu faktor eksternal yang memengaruhi keberanian anak untuk mencoba adalah kelekatan anak dengan orangtuanya.

Pertiwi Anggraeni, MPsi, psikolog anak dan pengajar di Universitas Tama Jagakarsa Jakarta menjelaskan kelekatan yang terjalin dengan baik dapat membentuk rasa aman dalam diri si anak. Rasa aman ini ditunjukkan oleh anak dengan memercayai orang-orang yang berada dalam lingkungan terdekatnya.

Selanjutnya, ketika anak memiliki rasa aman kepercayaan dirinya akan tumbuh. Inilah yang menjadi pendorong anak untuk berani mencoba sesuatu yang baru. Sebaliknya, pada anak yang tidak memiliki keberanian untuk mencoba, bila ditelusuri, penyebabnya adalah anak tidak memiliki rasa aman terhadap lingkungan terdekatnya.

Kelekatan antara orangtua dan anak ini tentunya tidak terbentuk secara instan. Ini telah terjalin semenjak anak masih bayi. Bayi yang mendapat respons tepat dari orangtua dan orang terdekat di lingkungannya, umumnya memiliki rasa percaya dengan orangtua atau orang terdekatnya itu, sehingga ia mampu membentuk rasa aman terhadap lingkungan terdekatnya.

Kelekatan itu dapat terbentuk bila orangtua mampu memahami dan memenuhi keinginan si bayi. Misal, ketika bayi menangis dengan nada panjang sebagai tanda haus, orangtua langsung memberikan respons dengan menyodorkan ASI. Anak merasa nyaman dan percaya karena orangtua tahu akan kebutuhannya.

Dampingi anak
Lalu, bagaimana cara menstimulasi agar anak memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru? Langkah pertama, hendaknya orangtua mampu menumbuhkan rasa aman terlebih dahulu. Caranya, dengan mendampingi anak ketika ia mau mencoba sesuatu yang baru. Berikan semangat kepada anak agar mau mencoba.

Pilihan lainnya, dengan mengajak teman-temannya bermain bersama. Minta si kecil mengamati teman-temannya yang sedang bermain. Selanjutnya, minta ia mencobanya sendiri. Bila perlu, orangtua juga terlibat dan bila memungkinkan dapat memberikan contoh langsung. Berikan penjelasan kepada si buah hati, selama mengikuti aturan dan rambu-rambu keamanan yang sudah dipersiapkan, niscaya tidak akan terjadi apa-apa. Kata-kata itu umumnya dapat memunculkan keberaniannya. Lakukan aktivitas ini berulang-ulang.

Satu hal yang patut dicermati orangtua, jangan bosan mendampingi anak untuk mencoba melakukan sesuatu yang baru. Bagi anak dengan temperamen sulit dan lambat memang membutuhkan waktu untuk memunculkan keberaniannya. Berbeda dengan anak bertemperamen mudah yang lebih cepat dan berani mencoba. Sebaiknya orangtua lebih bersabar dalam mendampingi.

Agar anak lebih termotivasi, ingatlah untuk memberikan penghargaan. Penghargaan berupa pelukan, pujian atau sesuatu yang lebih istimewa, umumnya mendorong si kecil untuk lebih berani.

Tidak memaksa
Bila berbagai cara sudah dicoba, namun anak belum berani juga, sebaiknya telusuri penyebabnya. Ajaklah si kecil berkomunikasi, mengapa ia menolak permainan itu. Masuk usia tiga tahun, anak umumnya sudah mampu menyampaikan yang dirasakan. Selanjutnya, tugas orangtua adalah memberikan pengertian kepada anak agar kekhawatiran yang dirasakan dapat terselesaikan.

Orangtua juga sebaiknya tidak memaksakan keinginan kepada anak. Ketika si kecil tidak berani mencoba permainan perosotan, alihkan dengan permainan sejenis yang memberikan manfaat sama seperti palang bertingkat, papan berjungkit dan lainnya. Anak akan senang dan manfaat untuk menstimulasi perkembangannya pun didapat. Pemaksaan terhadap anak justru menimbulkan pengalaman tidak menyenangkan bagi si kecil.

Agar Anak Cepat Bisa Baca

1. Belajar sambil bermain
Mungkin hampir semua orang tua yang sedang mengerjakan sesuatu di PC atau laptop akan diganggu oeh anak-anaknya. Jangan dimarahi apalagi diusir ajak dia bermain bersama anda. Biarkan dia memperhatikan apa yang ada lakukan pada keyboard dan apa yang muncul pada monitor.
2. Mulai dengan pengenalan abjad
Perkenalkan ke-26 abjad kepada anak dengan cara kreatif. Ubah font atau bentuk huruf agar terlihat besar dan jelas. Mulai lah bermain dengan mengetikkan huruf satu persatu sambil menyebutkan nama abjadnya. Sesekali ajaklah dia main tebak-tebakan dengan memintanya menekan tombol sesuai abjad yang kita sebutkan.
Jangan kecil hati jika si anak masih sering salah tunjuk atau keliatan ngawur. Namanya juga proses belajar, kan? Sebaliknya jika si anak mampu menunjuk huruf yang kita minta secara tepat, beri dia reward berupa pelukan atau ciuman.
3. Merangkai huruf vocal dan konsonan
Setelah pada usia 2 tahun Irsya mampu menghafal seluruh abjad dengan baik dan benar, maka yang saya lakukan selanjutnya adalah mengajarinya untuk merangkai huruf-huruf tersebut.
Mulailah dengan memperkenalkan huruf-huruf vocal a, i , u, e, o kemudian dirangkai dengan satu buah huruf konsonan. Misalnya : ba , bi, bu, be, bo, dan seterusnya.
Kalau saya mengajarnya begini “huruf be berteman dengan a bacanya ba.” Dst. Alhamdulillah dalam 2 minggu dia sudah paham dan mengerti untuk rangkaian huruf lainnya.
Jika sudah paham, ajarkan anak suku kata tertutup. Yaitu dengan menambahkan huruf konsonan pada suku kata yang sudah diajarkan tadi. Misal : “ba berteman dengan n bacanya jadi ban” dst. .
4. Sediakan buku bacaan yang menarik
Sediakan buku-buku bacaan yang bergambar agar menarik perhatian anak untuk membaca. Dampingi anak anda saat membaca. Jika bacaanya betul jangan lupa berikan pujian agar anak percaya diri.
Selamat mencoba…

Latihan Berpisah Dari Bunda Sesuai Usia si Kecil

Mungkin bunda yang memiliki anak balita sering mengalami drama saat harus meninggalkan si kecil untuk pergi bekerja setiap hari. Tiap hari bunda akan merasa tidak tega untuk meninggalkan si kecil saat mereka menangis karena tidak mau berpisah dengan bunda saat bunda harus berangkat kerja. Sebagian bunda mungkin akan memutuskan untuk pergi bekerja secara sembunyi-sembunyi, namun muncul dilema baru, apakah baik jika kita terus sembunyi-sembunyi saat akan berangkat ke kantor?

Jangan khawatir dan keburu mencap diri sendiri sebagai bunda yang buruk yaa… Ternyata, hal ini memang dihadapi oleh hampir semua bunda yang bekerja. Nah, apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi hal ini?

Ada baiknya kita mengetahui dulu tahapan perkembangan anak agar bunda dapat mengetahui mengapa si kecil berbuat demikian dan bisa mengambil langkah terbaik yang sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya:

1.       Usia 0-12 bulan

Pada saat ini, bayi belum terlalu mengenal siapa yang ada di dekatnya. Si kecil belum terlalu peduli siapa yang ada di dekatnya, kecuali saat si kecil merasa lapar, haus, ngompol, BAB, barulah si kecil menangis agar segera ditolong.

Pada usia ini, si kecil sudah mampu mengenali bau khas orang yang selalu dekat dengannya. Pada usia 4-7 bulan barulah si kecil mulai mengenali ibu, bapak, pengasuhnya atau orang yang biasanya ada di sekitarnya.

Latihan Berpisah: Berikan permainan cilukba untuk melatih anak tentang konsep tampak dan tidak tampak. Berikan barang milik bunda seperti baju. Bau khas yang menempel pada barang tersebut bisa menjadi bentuk peralihan ibu darinya.

 

2.       Usia 1-2 tahun

Anak mulai takut berpisah dan dalam hal ini akan mencapai puncaknya menjelang 2 tahun. Karena pada usia ini anak sedang dalam mengembangkan kemandiriannya juga dalam hal emosinya sementara ketergantungannya pada ibu masih kuat. Usia 18 bulan, anak sedang dalam proses pengembangan rasa percaya pada orang lain. Jadi sangat cocok pada usia tersebut anak dilatih untuk mengatasi ketakutan berpisah dan belajar beralih pada orang lain.

Latihan Berpisah: Berikan mainan atau makanan favoritnya sebagai bentuk peralihan saat berpisah dari ibunya. Biasakan anak bermain atau melakukan sesuatu tanpa ibunya sehingga ia tetap bisa merasa nyaman bersama orang lain. Berikan si kecil pengertian bahwa bunda mau pergi dan berikan pelukan dan ciuman perpisahan.

 

3.       Usia 2-3 tahun

Di usia ini, anak akan benar-benar merasa takut kehilangan sehingga anak mudah rewel. Jika orang tua akan bepergian lama, luangkanlah waktu untuk menelpon si kecil agar dia tidak merasa kehilangan dan yakinkanlah bahwa orang tua akan pulang. Yang penting pada usia ini jangan pernah melakukan penipuan pada anak ketika akan meninggalkannya. Jika anak sering dibohongi akan menimbulkan persepsi negative pada sebuah perpisahan sehingga nantinya akan sulit untuk diberikan penjelasan mengenai kepergian orang tuanya.

Latihan Berpisah: Biasakan untuk mengucapkan “selamat tinggal” pada orang-orang yang meninggalkan kita agar si kecil melihat bahwa kita juga ditinggalkan oleh orang lain tetapi kita tidak merasa sedih. Ijinkan anak untuk pergi bersama tante, kakek dan nenek, om tanpa papa dan mamanya.

4.       Usia 3-4 tahun

Anak seusia ini sudah bisa memahami penjelasan atau alasan bunda pergi meninggalkannya. Si kecil juga sudah paham tentang konsep waktu.

Latihan Berpisah: Masih seperti tahap 2-3 tahun. Ajaklah si kecil sesering mungkin ke tempat-tempat yang baru supaya ia mudah beradaptasi.

Semoga bermanfaat! (Toddie, Sept-Okt 11)

Cara Tepat Mencairkan Daging Beku

Agar awet, daging sering disimpan di dalam freezer lemari es. Daging itu baru dicairkan sesaat sebelum diolah. Selama ini banyak orang mencairkan daging beku dengan merendamnya dalam air panas. Padahal, menurut Vindex Tengker, seorang Chef Master, cara itu kurang tepat.

Cara yang benar adalah mengeluarkan daging dari freezer, tapi tetap berada di dalam lemari es. Cara lain adalah mengucurkan atau meneteskan air keran perlahan-lahan ke atas daging beku. Lakukan hingga es yang menempel pada daging mencair. Memang cara ini memakan waktu lebih lama, tapi tentunya hasilnya lebih maksimal. Daging tetap segar dan kandungan gizinya masih lengkap.

Cara Mengatasi Anak Yang Suka Merusak Barang-Barang Jika Sedang marah

1. Menyetop tingkah laku merusak anak anda, misalnya dengan cara melarang atau mengambil benda yang sedang dirusak dengan segera, dengan pendekatan yang tetap hangat dan bersahabat, namun perlu diingat jika barang berbahaya yang akan dirusak  oleh anak anda maka orang tua atau pendidik harus sigap (cekatan bertindak).

2. Mendekati anak anda dan kemudian menegurnya, memberikan pembinaan (berupa nasehat, perjanjian).

3. Orangtua meminta anaknya untuk menjelaskan alasan pengerusakannya, hal ini untuk memunculkan rasa tanggungjawab dan rasa bersalah pada anak anda, dan pola komunikasi agar anak anda merasa tenang dan nyaman. Orang tua dapat memahamkan pada anaknya jika meluapkan keinginan ada cara-cara yang lebih tepat.

4. Suruh anak anda menenangkan dirinya apabila merusak diiringi marah.

Jika anak sudah SD, tindakan orangtua atau pendidik meminta anaknya untuk menganti barang yang dirusak dengan uang sakunya sendiri atau diberi konsekuensi.

5. Pahami tingkah laku anak anda dengan cara mencari tahu penyebab tingkah lakunya, orang tua member hukuman dan hadiah dari perilaku ananda.

Next Page »

13 queries