Waspadai Hepatitis A
Hepatitis A merupakan infeksi yang endemis di masyarakat kita. Infeksi biasanya menyebar melalui makanan jajanan. Hal ini pastinya membuat orang tua ketar-ketir akan keamanan jajanan anak-anak di sekolah.
Hepatitis A adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A. Infeksi ini ditularkan melalui makanan dan minuman atau juga melalui kontak langsung. Hubungan seksual, khususnya secara anal dan oral, juga bisa menjadi penyebab penularan hepatitis A. Virus ini juga terdapat pada feses poasien yang terinfeksi. Virus ini tidak mudah untuk ditularkan hanya dengan bertemu di sekolah.
Pasien dengan hepatitis A biasanya mengalami mata kulit kuning dan urine yang berwarna kuning gelap. Gejala awalnya malah seperti flu, dengan sakit badan, mual, dan kadang disertai muntah, nafsu makan menurun, dan lemas. Pasien juga merasakan nyeri perut kanan atas. Ini tidak mengherankan sebab hati pasien hepatitis A memang akan meradang.
Adapun cara pencegahan Hepatitis A adalah sebagai berikut:
- Gunakan air bersih dan bahan makanan yang baik. Pilih bahan makanan segar. Proses memasak harus benar, cuci buah dan sayur dengan baik, serta tidak menggunakan bahan makanan yang mudah kedaluwarsa. Proses memasak harus benar.
- Biasakan menjaga kebersihan dengan cuci tangan sebelum masak. Alat-alat memasak dan alat makan harus dicuci bersih sebelum digunakan. Jangan lupa pula cuci tangan sebelum makan atau setelah keluar toilet.
- Pisahkan bahan makanan matang dan mentah menggunakan alat dapur dan alat makan yang berbeda serta simpan di tempat berbeda.
- Masak makanan hingga matang, terutama daging, ayam telur, dan seafood. Untuk daging dan ayam, pastikan sudah tidak berwarna pink, serta panaskan makanan yang sudah matang dengan benar.
- Simpan makanan di suhu aman. Jangan simpan makanan matang di suhu ruangan terlalu lama. Masukkan makanan ke dalam lemari es bila ingin disimpan. Sebelum dihidangkan, panaskan sampai lebih dari 60 derajat celsius. Makanan jangan terlalu lama disimpan di lemari es.
Tips Merawat Tali Pusat Bayi
Merawat Tali Pusat merupakan bagiang yang paling “mengerikan” dari serangkaian ritual membersihkan bayi. Nah, untuk melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar, ikuti petunjuk berikut ini:
- Selalu cuci tangan sampai bersih sebelum mulai melakukan perawatan tali pusat.
- Turunkan sedikit bagian atas popok agar tidak bersentuhan dengan tali pusat.
- Kemudian, bersihkan tali pusat, terutama bagian yang dekat dengan dinding perut atau lipatan di bagian dasarnya, dengan air bersih dan sabun, lalu keringkan.
- Sebaiknya tali pusat tidak perlu dikasih apa-apa. Penggunaan cairan antiseptik yang memiliki kandungan yodium pun tidak lagi dianjurkan. Tali pusat bisa ditutup dengan kain kasa steril.
- Kain kasa harus diganti, setiap kali bayi usai mandi, berkeringat, terkena kotoran dan basah.
- Jangan pernah sengaja menarik-narik atau mencopotnya, karena tali pusat ini akan lepas dengan sendirinya.
- Hindari hal-hal yang aneh dan berbau mistis. Menaruh koin di atas tali pusat, diberi kopi dan sebagainya. Karena hal ini akan menjadikan tali pusat sarang kuman atau menyebabkan tali pusat tetanus.
- Segera dibawa ke dokter jika mencium bau tidak sedap dari tali pusat bayi yang belum lepas, karena bisa jadi itu adalah tanda-tanda tetanus.
- Setelah puput, tidak perlu ada perlakuan istimewa, tetapi jangan lupa untuk selalu membersihkan bagian pusar. Mandikan seperti biasa dan biarkan tali pusat dalam keadaan terbuka, tidak perlu dibungkus lagi.
Semoga bermanfaat.
Beser, Jangan Dibiarkan
KOMPAS.com — Masalah sering buang air kecil atau overactive bladder (OAB) ternyata tak hanya dialami perempuan lanjut usia. Kita yang masih di usia produktif juga bisa mengalaminya. Lakukan pencegahan agar aktivitas kita tidak terhambat dan kualitas hidup tidak terganggu.
Spesialis Urologi
Dr Bahrun Sipahutar, SpU, dokter spesialis urologi di RS PGI Cikini, Jakarta
Massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih bisa karena ada gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kencing, dan dehidrasi. Bisa juga karena kerusakan saraf di sepanjang saluran kemih akibat penyakit, misalnya diabetes.
Anjuran
Sebaiknya, keinginan untuk buang air kecil jangan ditahan. Dan, biasakan untuk tidak memakai celana panjang terlalu ketat dalam waktu yang lama karena dapat menyebabkan daerah kewanitaan menjadi lembab, memicu infeksi, dan merangsang terbentuknya batu.
Spesialis Ginekologi
Dr Caroline Tirtajasa, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi di RS Omni Pulomas, Jakarta
Infeksi saluran kencing yang kronis tetapi tidak diobati bisa menyebabkan kerusakan saraf pada saluran dan kantung kencing. Tingginya risiko infeksi ini disebabkan kuman yang mudah masuk ke saluran uretra. Sebab, saluran uretra wanita lebih pendek, yaitu sekitar 2,5-4 cm.
Anjuran
Begitu merasa ada gangguan, sebaiknya jangan dibiarkan. Sebab, nantinya tak hanya mengganggu saluran kencing, tetapi juga dapat menjalar sampai ginjal. Cegah infeksi dengan rutin membasuh daerah kewanitaan dengan air bersih. Plus, perbanyak konsumsi air putih.
Spesialis Farmakologi
Dr Alyya Siddiqa, SpFK, dokter spesialis farmakologi klinik dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Gangguan saraf otonom, yang mengatur kontraksi otot di kandung kemih. Normalnya, volume urine yang memenuhi kantung kencing akan memberi sinyal pada saraf untuk mengosongkan urine. Pada kasus OAB, sinyal mudah timbul dan muncul hasrat ingin buang air kecil meski volumenya masih sedikit.
Anjuran
Amati frekuensi waktu buang air kecil. Jika terasa sangat mengganggu kenyamanan, berkonsultasilah ke dokter untuk mendapatkan terapi farmakologi. Obat yang diberikan termasuk ke dalam antikolinergik untuk memblok kerja saraf agar kontraksi otot berkurang.
(Prevention Indonesia/Intan Sari Boenarco)
Editor: din







