Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


‘Lama Hubungan Seks yang Paling Diidamkan 7-13 Menit’  

TEMPO Interaktif, London – Sebuah survei yang dilakukan di Amerika Serikat menyimpulkan lama waktu bersetubuh yang paling diimpikan adalah tujuh sampai 13 menit.

Survei tersebut menyatakan waktu bersetubuh satu sampai dua menit ‘terlalu pendek’ dan tiga sampai tujuh menit dianggap ‘cukup’. Dan berlawanan dengan fantasi seks yang berkembang selama ini, bersetubuh selama 10 sampai 30 menit dianggap ‘terlalu lama’.

Para peneliti mensurvei 50 anggota Society for Sex Therapy and Research (Masyarakat untuk Terapi Seks dan Penelitian). Mereka terdiri dari para psikologis, pekerja sosial, sampai perawat.

Penulis hasil survei tersebut, Eric Corty dan Jenay Guardiani dari Penn State University, mengatakan, “Penafsiran seorang pria atau wanita terhadap fungsi seksnya maupun pasangannyaa tergantung pada kepercayaan pribadi yang muncul karena pesan-pesan di masyarakat baik formal maupun informal.”

“Sayangnya, budaya populer saat ini menekankan berbagai stereotipe soal aktivitas seksual,” lanjut mereka seperti dikutip Daily Mail, Kamis (24/6). “Mayoritas pria dan wanita percaya fantasi mengenai penis besar dan bersetubuh semalam penuh.”

Penelitian mereka sebelumnya menemukan kebanyakan pria dan wanita ingin seks berlangsung 30 menit atau lebih lama lagi. Namun, Corty mengatakan, “Situasi tersebut mungkin memicu kekecewaan dan ketidakpuasan.”

“Dengan survei ini, kami berharap bisa memupuskan fantasi-fantasi seperti di atas dan memberikan para pria dan wanita data realistik yang ada mengenai seks. Sehingga, itu bisa mencegah kekecewaan seks dan disfungsi seks.”

Hasil survei tersebut juga memiliki implikasi untuk pengobatan bagi orang-orang yang mengalami masalah seks.

“Jika seorang pasien khawatir mengenai berapa lama seksnya akan bertahan, data ini bisa membantu pasien menepis kekhawatiran mengenai masalah fisik dan itu bisa diobati hanya dengan penyuluhan, tanpa obat,” lanjut Corty.

DAILYMAIL| KODRAT SETIAWAN


Tokoh Kartun Pengaruhi Pilihan Makan Anak  

TEMPO Interaktif, New Haven -  Tokoh kartun yang populer mempengaruhi preferensi selera makan anak-anak tidak dengan cara yang positif, kata sebuah studi, seperti dilaporkan  Pediatrics edisi online 21 Juni 2010.

Para peneliti menemukan bahwa merek produk makanan kemasan Amerika dengan tokoh kartun seperti Dora the Explorer mendorong anak prasekolah untuk memilih makanan tinggi-kalori, makanan yang kurang sehat, ketimbang pilihan yang lebih bergizi.

Penulis studi, Christina Roberto, dari Universitas Yale di New Haven, Amerika Serikat, mengatakan bahwa ketika anak-anak disajikan dengan pilihan biskuit, camilan buah, atau wortel, dan satu paket makanan yang memiliki cap tokoh kartun; mereka benar-benar berpikir bahwa makanan dengan tokoh tersebut memiliki rasa yang lebih baik.

Temuan ini mencerminkan preferensi makanan untuk anak laki-laki dan perempuan umur 4 sampai 6 tahun yang menemukan makanan lezat dengan kemasan seperti tokoh di televisi.

Para penulis mengamati 40 anak-anak prasekolah, di empat pusat penitipan anak di New Haven. Selama dua kunjungan, tim menyajikan anak-anak dengan sampel tiga jenis makanan yang berbeda. Semua makanan yang dikemas dengan warna, bentuk, dan desain sama, yang satu tanpa merek dan satu sampel bermerek yang memuat gambar tokoh kartun Scooby Doo baik, Dora, atau Shrek.

Semua anak memiliki sampel tiap jenis makanan, baik dengan merek maupun tanpa merek tokoh kartun.

Para peneliti menemukan, anak-anak menganggap makanan yang memiliki merek tokoh kartun lebih enak daripada yang tidak.

Berkaitan dengan temuan ini, Roberto dan rekan-rekannya berpandangan bahwa diperlukan pembatasan dalam menggunakan lisensi tokoh kartun pada makanan tidak sehat tertentu.

Rahil D. Briggs, direktur sebuah Pusat Layanan Kesehatan di New York, setuju bahwa penggabungan tokoh-tokoh rekaan yang populer dengan makanan tidak sehat diperkirakan berkontribusi terhadap mewabahnya obesitas.

HealthDay News/Ngarto Februana

Berita Terkait:

Atasi Obesitas, Iklan Makanan Cepat Saji Dilarang


Coca-Cola Kenalkan “Teman Imut”

VIVAnews - Sebagai brand minuman berkarbonasi yang sudah ada sejak abad ke-19, Coca Cola terus berinovasi, baik itu dari segi rasa maupun bentuk botolnya yang unik.

Perubahan botol serta kaleng produk ini kerap dilakukan setiap periode dan musim, menyambut beberapa aktivitas global seperti Olimpiade atau Piala Dunia.

Keunikan kontur botol mimuman ringan ini nyatanya sudah menggugah ribuan kolektor untuk mengoleksi dan memburunya. Tercatat di beberapa negara seperti Taiwan, Jepang, Kanada, serta Amerika Serikat, benda-benda yang berhubungan dengan Coca Cola dari masa ke masa telah masuk ke dalam museum bernama World of Coca Cola. Setiap tahunnya jutaan orang berkunjung ke museum ini.

Coca-Cola mulai diperkenalkan ke pasar Indonesia sejak tahun 1927 dan diproduksi secara lokal sejak 1932. Saat ini produk minuman ini sudah diproduksi di 10 pabrik pembotolan di seluruh Indonesia dan dipasarkan secara langsung maupun tidak langsung ke lebih dari 1 juta pelanggan.

Salah satu inovasi terbaru dari produk minuman ini di Indonesia adalah diluncurkannya kemasan botol plastik PET (Polyethylene Terephtalate) berukuran 250 ml yang mudah digenggam dan praktis dibawa ke mana pun. Rupanya peluncuran botol plastik baru ini merupakan jawaban atas meningkatnya aktivitas luar rumah yang sering dilakukan remaja perkotaan.

Dipasarkan dengan nama lokal yaitu “Teman Imut”, wajah baru minuman sepanjang masa ini memakai bahan plastik yang terbuat dari produk ramah lingkungan. Itu bagian dari upaya mendukung kampanye hijau yang kerap didengungkan.

Secara global tercatat Coca Cola dan anak perusahaannya merupakan produsen minuman berkarbonasi siap minum nomor satu di dunia. Melalui sistem distribusi minuman terbesar di dunia, konsumen minuman ini ada di lebih dari 200 negara dengan jumlah konsumsi mencapai 1,6 milyar per hari.

• VIVAnews


Bahan Kimia Bisphenol Bisa Merusak Testis  

TEMPO Interaktif, San Diego – Bayi yang terpapar bahan kimia bisphenol A (BPA) bisa mengalami kerusakan fungsi testis, menurut penelitian yang dilakukan pada hewan. Hasil studi ini disajikan pada Pertemuan Tahunan ke-92 The Endokrin Society, 21 Juni 2010, di San Diego, Amerika Serikat.

“Kami melihat perubahan pada fungsi testis tikus setelah terpapar BPA dengan kadar yang lebih rendah dari kadar yang dipertimbangkan aman oleh Badan Obad dan Makanan,” kata Benson Akingbemi, PhD, penulis utama studi ini, yang merupakan profesor di Universitas Auburn. “Ini memprihatinkan karena sebagian besar dari penduduk, termasuk ibu hamil dan menyusui, terkena bahan kimia ini.”

BPA terkandung dalam botol plastik keras dan kaleng makanan. BPA bertindak mirip dengan hormon seks wanita, estrogen, dan BPA bisa menyebabkan kemandulan pada wanita. Bahan kimia ini bisa terdapat dalam plasenta dan mampu lolos dari ibu ke ASI.

Penelitian terhadap laki-laki, Akingbemi dan koleganya melihat efek berbahaya dari BPA pada tingkat sel, khususnya sel-sel Leydig. Sel-sel ini di testis mensekresikan testosteron, yang merupakan hormon seks utama pria yang berperan penting dalam kesuburan pria. Akingbemi menjelaskan, setelah bayi lahir, sel-sel Leydig secara bertahap mendapatkan kemampuan untuk mensekresi testosteron.

Proses sekresi testosteron menurun pada tikus jantan yang lahir dari tikus betina yang terpapar BPA semasa hamil dan saat menyusui. Para induk tikus itu diberi makan BPA dalam minyak zaitun pada dosis 2,5 atau 25 mikrogram BPA per kilogram berat badan. Akingbemi mengatakan hal ini di bawah batas atas harian eksposur yang aman bagi manusia, yakni 50 mikrogram per kilogram berat badan. Satu kelompok kontrol terdiri dari tikus-tikus hamil menerima minyak zaitun tanpa BPA.

Menggunakan kombinasi metode analitis, para peneliti mempelajari perkembangan sel Leydig pada tikus jantan keturunan tikus yang terpapar BPA. Kemampuan untuk sekresi testosteron dinilai pada umur 21, 35, dan 90 hari. Jumlah testosteron yang disekresikan per sel Leydig ditemukan jauh lebih rendah pada tikus jantan keturunan tikus yang terpapar BPA, dibandingkan tikus yang tidak terpapar BPA.

Peneliti mengatakan bahwa meskipun paparan BPA berhenti di usia 21 hari, efek BPA pada sel Leydig akan tetap terlihat pada usia 35 hari, 90 hari, ketika tikus dewasa. “Oleh karena itu, periode awal kehidupan adalah masa-masa sensitif terhadap risiko terpapar BPA yang bisa mempengaruhi fungsi testis ketika dewasa,” kata Akingbemi.

ScienceDaily/Ngarto Februana

Berita Lain tentang Bahaya Bisphenol:

Berbahaya, Bisphenol di Botol Plastik

Akhir Kontroversi Bisphenol A
Amerika Serikat melarang penggunaan BPA karena diduga keras bisa membahayakan kesehatan.


Obama Anggarkan Rp 11 Triliun untuk Fasilitas Pesepeda

TEMPO Interaktif, London – Pemerintahan Presiden Barack Obama menganggarkan untuk proyek fasilitas bagi pesepeda dan pejalan kaki sampai US$ 1,2 miliar (Rp 11 triliun) tahun lalu. Proyek tersebut diharapkan membuat warga Amerika Serikat berpindah menggunakan sepeda atau berjalan kaki ketimbang mobil.

Menurut Badan Federal Jalan Raya, anggaran untuk proyek fasilitas pesepeda dan pejalan kaki tersebut meningkat dua kali lipat dari US$ 600 juta (5,5 triliun) pada 2008. Sedangkan 20 tahun lalu pemerintah federal hanya menganggarkan US$ 6 juta (Rp 55 miliar) untuk proyek seperti itu.

Pengeluaran untuk proyek fasilitas pesepeda dan pejalan kaki memang dianggarkan meningkat tahun lalu. Namun, jumlahnya naik di luar perkiraan awal karena pemerintah Amerika Serikat mendapat tambahan US$ 400 juta (Rp 3,6 triliun) dari dana yang termasuk dalam program pemulihan ekonomi.

Fokus terhadap pesepeda dan pejalan kaki mencerminkan peralihan fokus dari pemerintahan sebelumnya yang dipimpin George Walker Bush. Menteri Transportasi Amerika Serikat di era Bush, Mary Peters, menampik proyek-proyek fasilitas untuk pejalan kaki dan pesepada karena dianggap “bukan transportasi”. Peter juga menilai proyek tersebut tidak masuk dalam kebijakan transportasi pemerintah federal.

Para Maret, Menteri Transportasi Ray LaHood mengumumkan perubahan besar dalam kebijakan transportasi. Perubahan tersebut berupa proyek-proyek fasilitas untuk pesepeda dan pejalan kaki yang sama pentingnya dengan proyek untuk kendaraan bermotor.

Kebijakan baru tersebut merupakan penerapan dari inisiatif mencari moda transportasi alternatif guna mengatasi masalah transportasi di Amerika Serikat.

Menurut laporan tahunan di Amerika Serikat, jumlah pesepeda dan pejalan kaki terus meningkat. Jumlah pejalan kaki meningkat drastis dari 18 miliar pada 1990 menjadi 42,5 miliar pada 2009. Sementara jumlah pesepeda meningkat dari 1,7 miliar menjadi 4 miliar pada periode yang sama.

Jumlah pesepeda dan pejalan kaki tersebut mencapai 11,9 persen dari total para warga yang menggunakan bermacam transportasi.

“Dengan mempermudah akses pesepeda dan pejalan kaki, kami memberikan pilihan lebih banyak kepada warga Amerika dan menciptakan komunitas yang lebih aktif dan hidup,” ujar LaHood.

TELEGERAPH| KODRAT SETIAWAN


Berharap Menemukan Kacang Rendah Alergi  

TEMPO Interaktif, London – Ilmuwan Amerika berharap bisa memproduksi kacang yang secara signifikan mengurangi risiko reaksi alergi. Sejauh ini mereka telah berhasil mengembangbiakkan varietas yang tidak memiliki senyawa penyebab reaksi alergi. Kini mereka merencanakan penelitian lebih lanjut untuk menghasilkan kacang yang sedikit menyebabkan reaksi alergi mulai dari ruam kulit sampai syok anafilaktik parah.

Hal tersebut disampaikan dalam  European Academy of Allergy and Clinical Immunology di London pekan lalu oleh profesor Soheila Maleki dari Agricultural Research Service (ARS), Departemen Pertanian Amerika Serikat di New Orleans.

Menurut Dewan Kacang Amerika, kacang tanah adalah salah satu makanan paling populer yang dikonsumsi orang Amerika. Mereka menyebutkan sekitar antara 1 sampai 2 persen orang memiliki beberapa bentuk reaksi alergi terhadap kacang, produk olahan yang dibuat dari kacang atau minyaknya; di antara mereka, anak-anak merupakan kelompok yang rentan. Anak-anak, yang orang tuanya alergi, dua sampai empat kali lebih besar terkena alergi kacang tanah dibanding anak-anak yang orangtuanya tidak alergi.

Reaksi alergi yang dialami seperti ruam, masalah pencernaan, dan syok anafilaktik parah yang dapat menyebabkan pingsan.

Maleki dan rekannya mempelajari 900 varietas kacang tanah dan mereka menemukan beberapa mutasi genetik menunjukkan tingkat yang lebih rendah dari alergen utama (protein yang memicu reaksi alergi).

“Kami ingin mencari tahu apakah mungkin untuk mengembangbiakkan varietas ini tanpa menyebabkan alergi,” katanya kepada media.

Penelitian sebelumnya, yang dilakukan Joan Sabate, sebagaimana dimuat dalam dalam jurnal Archives of Internal Medicine, menyebutkan bahwa makan kacang merupakan salah satu cara mudah dan lezat untuk menurunkan kadar kolesterol. Kacang kaya dengan lemak dan kalori. Jenis lemak dan kalori yang ada di dalam kacang adalah jenis yang baik bagi kesehatan jantung.

“Kacang kaya akan lemak tak jenuh, protein nabati, serat, dan fito-kimia, salah satunya adalah fitosterol,” kata Sabate. Semua bahan bergizi tersebut, menurut Sabate, telah teruji sangat bermanfaat bagi penderita kolesterol.

Peneliti pada Universitas Loma Linda di California telah mempelajari manfaat kacang-kacangan selama dua dasawarsa. Begitu juga peneliti lain di seluruh dunia.

Sabate mengatakan bahwa makan satu atau dua porsi kacang-kacangan sehari bisa menurunkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat, hingga 8-10 persen.

Ini berarti Anda dapat menurunkan risiko terkena penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung, sebanyak 20 persen.

Manfaat ini berlaku untuk setiap kacang yang diuji, dari kacang kenari, almond, macadamia, hingga pistachio. Bahkan tumbuhan polong-polongan, seperti kacang polong dan buncis, mengandung bahan yang bisa menurunkan kolesterol.

Medical News Today/voanews/Ngarto Februana


Apakah Anda Salah Menerapkan Tabir Surya?  

TEMPO Interaktif, Jakarta – Melindungi kulit dari sengatan sinar matahari itu penting, karenanya sebagian orang, pada umumnya kaum wanita, krem menggunakan tabir surya. Menurut dermatolog Quenby Erickson dari Universitas Saint Louis, Amerika Serikat, ada sejumlah kesalahan dalam penggunaan tabir surya. “Jika Anda membeli dan memakai tabir surya, pastikan tabir surya tersebut bekerja ketika Anda pakai,” ujarnya seperti dikutip Medical News Today. Sudahkah Anda menerapkan tabir surya secara benar, berikut tips Quenby Erickson:

Terlalu Sedikit: Orang dewasa memerlukan tabir surya yang setara dengan satu gelas penuh untuk menutupi seluruh tubuh mereka. Dan pastikan untuk menutupi semua kulit yang terkena sinar matahari. Jangan lupa telinga Anda, belakang leher, bagian atas kaki, dan, jika Anda botak, ubun-ubun kepala Anda.

Terlalu Telat: Waktu itu penting. Oleskan tabir surya 30 menit sebelum keluar rumah, dan oleskan kembali setiap dua jam dan setelah berenang.

Terlalu Jauh: Jika Anda menyemprotkan tabir surya pada lengan anak, Anda mungkin tidak memberikan perlindungan sepenuhnya dari sinar matahari. Arahkan botol semprot 2-3 inci dari badan. Untuk perlindungan penuh, penting juga menggosokkan tabir surya semprot ke permukaan kulit.

Terlalu Lama: Tabir surya memiliki tanggal kedaluarsa, dan dapat menjadi kurang efektif jika sudah kedaluwarsa. Jika Anda menggunakan jumlah tabir surya yang disarankan, jangan biarkan berada di lemari terlalu lama, sehingga kedaluarsa.

Medical News Today/NF


Nonton Video Mesum Bisa Mengakibatkan Penyimpangan Seks?  

TEMPO Interaktif, Jakarta – Beredarnya video mesum yang diduga dilakukan artis mirip Ariel Peterpan, Luna Maya, dan Cut Tari menimbulkan keprihatinan banyak kalangan. Sejumlah pemerintah daerah mengimbau agar dilakukan blokade terhadap peredaran video mesum tersebut. Bahkan beberapa sekolah merazia telepon seluler siswanya. Para orangtua pun tak kalah cemas.

Kecemasan itu terkait dengan dampak negatif video porno (dan bahan pornografi lain), yang diperkirakan bisa mengakibatkan perilaku seksual menyimpang atau kekerasan seksual. Topik efek negatif bahan-bahan pornografi (termasuk di film, buku, video, internet) telah menjadi bahan kajian pada sejumlah studi. Berikut beberapa contoh:

* Sebuah studi di pada 1987 menemukan bahwa wanita yang teraniaya, atau menjadi subyek pelecehan seksual, memiliki pasangan yang kerap melihat pornografi.

* Penelitian dengan metode meta-analisis pada 1995 menemukan bahwa pornografi diperkirakan memperkuat perilaku agresif dan sikap negatif terhadap perempuan.

* Sebuah studi di Amerika Serikat menyebutkan bahwa remaja yang mengonsumsi pornografi: dua pertiga dari laki-laki dan 40 persen perempuan ingin mencoba beberapa perilaku yang mereka saksikan. Dan, 31 persen dari laki-laki dan 18 persen dari perempuan mengaku melakukan beberapa adegan seksual yang mereka lihat di bahan-bahan pornografi dalam beberapa hari setelah melihat.

* Sebuah studi pada 1993 menemukan: eksposur terhadap bahan seksual yang merangsang dapat menyebabkan perilaku agresif pada remaja. Bahan-bahan yang berisi kekerasan seksual menyebabkan perilaku agresif yang lebih besar dan berdampak negatif pada sikap pria terhadap perempuan.

* Evaluasi pada 1984 menyebutkan meningkatnya jumlah kasus pemerkosaan di berbagai negara sangat berkolerasi dengan liberalisasi pembatasan pornografi.

Canadian Institute for Education on the Family, pada 2004, melakukan penelitian mengenai hal ini. Dalam ringkasan penelitian, Peter Stock, penulis studi ini mengatakan bahwa masyarakat Kanada telah menjadi masyarakat yang semakin pornografi dalam beberapa dekade terakhir yang berimplikasi mengganggu anak-anak yang dibesarkan di dalamnya. Sejumlah studi ilmiah telah menunjukkan korelasi kuat antara paparan pornografi dan perilaku seksual yang menyimpang oleh anak-anak.

Ada pula penelitian yang menyatakan bahwa pornografi merugikan anak-anak. Alasannya perkembangan seksual seorang anak terjadi secara bertahap dari masa kanak-kanak. Paparan terhadap pornografi membentuk perspektif seksual anak dengan menyediakan informasi mengenai aktivitas seksual. Namun, jenis informasi yang diberikan oleh pornografi tidak dengan perspektif seksual yang normal.

Mengutip studi pada 2004 yang dilakukan Institut Kesehatan Anak Nasional Amerika Serikat, menyatakan bahwa menonton seks di TV diperkirakan bisa mempercepat inisiasi seksual remaja.

Kaitannya dengan ledakan pertumbuhan internet, peneliti mengatakan pornografi bebas yang tersedia di internet merupakan ancaman bagi keselamatan anak-anak. Mengutip sebuah penelitian lain, Peter Stock mengatakan bahwa satu dari lima anak, berusia antara 10 dan 17, menerima ajakan seksual melalui Internet pada tahun 1999. Beberapa peneltian juga telah menyimpulkan bahwa banyak industri pornografi, dengan miliaran dolar, memfokuskan sasaran anak laki-lagi usia 12-17 tahun, dengan tujuan menciptakan kecanduan– seperti halnya strategi pemasaran yang diduga biasa dilakukan industri rokok.

Tampaknya, di kalangan peneliti, topik ini masih menimbulkan perdebatan. Penelitian lain pada akhir 2009, seperti yang dimuat di ScienceDaily, 1 Desember 2009, mengungkapkan hal yang berbeda. Simon Louis Lajeunesse, kandidat doktor dan dosen di School of Social Work Université de Montréal, Kanada, melakukan penelitian mengenai pengaruh pornografi pada pria usia 20-an tahun.

“Kami mulai penelitian dengan mencari pria usia dua puluhan yang tidak pernah mengkonsumsi pornografi. Kami tidak dapat menemukan apa pun,” ujar Lajeunesse.

Lebih jauh, kemudian ia mewawancarai 20 mahasiswa laki-laki heteroseksual yang mengkonsumsi pornografi.

“Mereka berbagi sejarah seksual mereka, dimulai dengan kontak pertama mereka dengan pornografi, pada masa awal remaja mereka. Tidak satu pun subyek memiliki patologi seksualitas.Bahkan, semua praktek-praktek seksual mereka sangat konvensional,” kata Lajeunesse.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa 90 persen pornografi dikonsumsi di Internet, sedangkan 10 persen berasal dari toko video. Rata-rata, pria lajang menonton pornografi tiga kali seminggu selama 40 menit. Lajeunesse menemukan kebanyakan anak laki-laki mencari materi pornografi pada usia 10 tahun. Namun, mereka segera membuang apa yang tidak mereka sukai.

Lajeunesse menyangkal pengaruh buruk yang sering dikaitkan dengan pornografi sementara banyak penelitian lain mengatakan pornografi bisa berdampak buruk termasuk terhadap perilaku seksual.

CIEF/ScienceDaily/Ngarto Februana


Awas, Susu Balita Bisa Picu Obesitas

VIVAnews - Sebuah produk susu fomula untuk balita berusia satu hingga tiga tahun ditarik dari pasaran Amerika Serikat karena dituding menyebabkan kegemukan pada anak. Susu formula tersebut ditengarai memiliki kandungan gula yang melampaui kebutuhan anak, seperti halnya permen.

Sebuah produsen susu formula anak untuk usia 12-36 bulan, mengklaim susu formula buatannya berisi lebih dari 25 zat tambahan untuk mendukung pertumbuhan otak dan tubuh anak. Namun, kandungan gula yang terlalu tinggi pada produk, dinilai menyebabkan obesitas pada bayi.

Juru bicara produsen susu yang populer ini, Chris Perille, menganjurkan agar menghentikan konsumsi susu formula cokelat karena sifatnya yang mempengaruhi emosional. “Pengaruhnya menyerupai permen dan hal yang tidak bermanfaat lainnya,” ujarnya seperti dikutip dari laman ABCnews.

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Rabu waktu setempat, produsen susu mengakui telah terjadi kesalahpahaman yang melibatkan konsumen mengenai produk tersebut.

Meski menarik produk susu cokelatnya dari pasaran, produsen ini masih akan melanjutkan menjual susu formula rasa vanila dengan kandungan gula 16-17 gram dan tiga jenis susu formula balita dan anak lainnya dengan kandungan gula 10-11 gram.

Pakar Nutrisi dan penulis ‘What to Eat’ Marion Nestle mengatakan produsen menambahkan bahan tertentu seperti lutein, lycopene dan beta karoten pada formula hanya meningkatkan harga susu. Hal ini tidak mempengaruhi kesehatan bayi dan balita.

“Harga susu menjadi mahal, tetapi tidak bermanfaat,” katanya. Untuk itu, ia menyarankan agar anak makan menu yang bervariasi. “Tidak ada satupun makanan yang mampu memberi segalanya. Mereka harus makan berbagai jenis makanan untuk mendapat manfaat kesehatan.”

Sebuah studi terbaru Institut Kedokteran menyebutkan epidemi obesitas dan diabetes tipe 2 meningkat di kalangan anak karena standar makanan yang berubah. (adi)

• VIVAnews


Aksesori Cantik dari Bulu Tikus

VIVAnews – Bulu-bulu hewan seperti rubah, kelinci, atau domba sangat lazim digunakan untuk membuat busana atau aksesori penunjang penampilan. Tapi, kini ada hewan baru yang masuk dalam daftar ‘bahan’ aksesori, yaitu tikus. Bulu tikus ternyata bisa diolah menjadi scarf bulu yang cantik. 

Jenis tikus yang dijadikan bahan aksesori bukan tikus sembarangan. Tikus tersebut adalah tikus yang tinggal di daerah air payau yang disebut nutria. Panjangnya sekitar 60 cm dan beratnya kg. Scarf bulu tikus nutria ini ditampilkan dalam koleksi Autumn/Winter 2010, karya perancang asal Alabama, Amerika Serikat, Billy Reid.

Reid menggunakan bulu tikus untuk kerah, topi dan mantel malam hari. Rumah mode J Mendel juga mengeluarkan koleksi mantel tambal sulam dengan bulu ini, dan terlihat sangat mewah. Lalu, Oscar De La Renta membuat potongan pada tepi mantel bulu tikus dan dipadukan dengan permata. 

Tren aksesori bulu tikus ini dipelopori oleh Cree McCree, seorang seniman asal New Orleans, Amerika Serikat. Ia berinisiatif untuk menjadikan bulu nutria, menjadi bahan aksesori secara etis.

“Aku ingin menunjukkan bagaimana nutria dapat digunakan dengan luar biasan dan menyoroti betapa pentingnya adalah untuk melindungi lahan basah yang ada,” kata Mcree, seperti dikutip dari Times of India.

Ia juga menjual gigi nutria sebagai anting dengan harga US$ 30 (sekitar Rp 270 ribu) dan kalung dengan harga US$ 60-75 (sekitar Rp 540 ribu). (adi)

• VIVAnews


« Previous PageNext Page »

50 queries