Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir

Bagi ibu yang baru melahirkan untuk pertama kalinya, proses persalinan merupakan sebuah proses yang amat sangat “fantastis”. Berbagai perasaan membuncah di dada. Baik dari rasa lelah, senang, khawatir, takut, bahkan ada yang sedih. Di sisi lain, bayi yang baru lahir tentu memerlukan perawatan ibunya. Oleh karenanya, penting bagi ibu untuk segera memulihkan perasaan dan kesehatannya agar kesehatan bayi pun ikut terjaga. Bagi ibu, berikut ini ada beberapa hal yang bisa ibu lakukan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Kesehatan ibu yang baru melahirkan bisa dipengaruhi oleh perubahan hormon, kelelahan secara fisik, perubahan psikologi, hingga perubahan peran. Bila tidak diatasi, ibu bisa saja mengalami baby blues syndrome. Hal ini tentu tidak baik bagi ibu dan bayi. Untuk mengatasi sindrom ini, ada baiknya ibu mengetahui terlebih dahulu gejala-gejala dan cara mencegah serta cara mengatasinya. Konsultasikan dengan suami mengenai peran baru ibu dan suami. Berikan waktu untuk ibu istirahat yang cukup agar tenaga pulih kembali. Dengan demikian, ibu dapat segera merawat dan menerima buah hati yang baru lahir.

Bagi ibu yang baru pertama melahirkan, kebingungan bisa saja terjadi mengenai apa yang harus dilakukan untuk merawat kesehatan bayi yang baru lahir. Bayi yang baru lahir memang nampak sangat rentan, namun sebenarnya yang bayi ini butuhkan hanyalah keberadaan sang ibu. Untuk langkah awal, saat bayi baru lahir, ibu bisa mengenali bayi secara mendalam. Jangan takut bila bayi menangis saat lahir, itu adalah hal yang justru sangat normal. Bila memungkinkan, lakukanlah IMD (Inisiasi menyusui Dini). Program ini sangat baik bagi kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Bayi dapat terhindar dari berbagai alergi, sedangkan ibu dapat merasa rileks dan santai dengan adanya bayi dalam pelukannya sesaat setelah ia melahirkan.

Untuk selanjutnya, yang dibutuhkan bayi adalah rasa nyaman dan kasih. Untuknya, ibu harus lebih banyak menyentuh bayi. Hal ini dapat membuat merasa bayi nyaman dan aman. Ibu juga bisa menggendong bayi dalam kadar yang secukupnya. Hal ini bisa membuat bayi merasakan kasih ibu. Bila ibu bingung cara menggendong yang benar, ibu dapat belajar dari suster atau nenek dari si bayi. Selain kenyamanan, ASI dan tidur adalah hal penting yang juga dibutuhkan oleh bayi. Untuk ASI yang menyehatkan, secara tidak langsung, ibu juga harus sehat. Sedangkan untuk tidur, ibu harus bisa memilih tempat yang nyaman dan aman untuk tidur si bayi.

Kesehatan ibu dan bayi baru lahir sangat penting, namun bukan berarti susah untuk didapatkan. Kunci utamanya adalah rasa percaya diri dari sang ibu. Bila sang ibu tidak takut dan tetap merasa positif, kelak, bayi dan ibu dapat menjalani hari-hari kebersamaan mereka dengan bahagia dan menyenangkan.

Langkah Dan Tips Persiapkan Kehamilan

Hamil…?? Dambaan setiap wanita di dunia. Di seluruh belahan dunia ini, banyak wanihta yang mengharapkan kehamilan yang sehat dan terjaga.

Tapi…kehamilan seperti juga hal lainnya, membutuhkan persiapan yang cukup. Berikut adalah tips – tips untuk anda yang sedang merencanakan, mempersiapkan dan menjalani kehamilan…J

  1. Buat Anggaran, sebelum ada anak pastinya anggaran rumah tangga hanya berkutat sekitar kita dan pasangan. Tapi ini tidak berlaku lagi jika ada anak nanti. Revisi dan teliti lagi anggaran belanja anda setiap bulan, sehingga persiapan kehamilan menjadi lebih matang. Buat persiapan anggaran sedini mungkin dengan perhitungan simulasi “seandainya sudah ada anak”, seperti misalnya belanja untuk diapers, botol susu dan lain – lain.
  2. Siapkan Rumah Anda, ada anak berarti ada pembenahan pada tempat tinggal kita. Dengan bertambahnya satu penghuni baru maka ada persiapan persiapan yang harus diperhitungkan sepserti misalnya kamar tidur, penambahan ornament, perlengkapan main bayi dan lain – lain. Rumah juga harus bersih, sebab bayi sangat sensitive. Bersih – bersihlah selagi sempat, jika memungkinkan usahakan rumah anda pun aman , singkirkan benda atau zat berbahaya, termasuk debu dan allergen lainnya.
  3. Mencari Pengasuh. Ini langkah yang dapat anda lakukan jika memang memungkinkan. Seleksilah orang-orang yang nantinya akan membantu anda mengurus bayi.
  4. Belajar Memasak, jika sempat cobalah untuk mencoba berbagai resep untuk bayi. Seperti misalnya membuat bubur bayi dan nasi tim.
  5. Perkaya Pengetahuan, langkah ini penting terutama untuk anda yang mempersiapkan kelahiran anak pertama. Berbagai media dapat digunakan untuk mencari informasi, seperti missal majalah, tabloid atau internet. Perkaya diri anda dengan informasi, agar anda tahu yang harus anda lakukan nanti apabila anak ada sudah lahir..
  6. Persiapan Mental. Langkah yang satu ini tak kalah penting agar anda terhindar dari shok pasca melahirkan seperti baby syndrome atau baby blues..

Nah…sekarang sudah siapkah anda menyambut sang buah hati…??… :-)

Ketika Ayah Terkena Baby Blues

TEMPO Interaktif, Ibu muda yang baru melahirkan rentan terkena sindrom baby blues. Sindrom ini biasanya terjadi pada pasangan muda yang memiliki anak pertama. Ini adalah depresi yang biasanya terjadi karena ketidaksiapan mental menghadapi kehadiran bayi dalam kehidupan mereka. Penelitian menunjukkan bahwa satu dari lima ibu mengalami baby blues.

Namun yang mengejutkan adalah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association, yang mengungkapkan bahwa ayah juga mengalami sindrom ini. Penelitian yang dilakukan James Paulson bersama koleganya pada 28.004 koresponden itu memaparkan, satu dari sepuluh ayah mengalami depresi baby blues. Yang lebih mengejutkan, 25 persen dari jumlah itu terus mengalami depresi hingga bayi mereka berusia enam bulan.

“Ada hubungan yang konsisten antara depresi ayah dan depresi ibu,” kata James Paulson, psikolog klinis dan kepala peneliti dari Sekolah Kesehatan Virginia Timur di Norfolk, Amerika Serikat. Depresi pada ibu dapat menyebabkan depresi pada ayah. Selama itu pula, menurut Paulson, sang ayah memiliki ciri depresi tersendiri. “Yaitu cenderung lebih sensitif, dan gampang marah karena emosi.”

Kelakuan sang ayah diperkirakan akan lebih berpengaruh negatif terhadap si jabang bayi. “Penelitian ini menunjukkan bahwa masalah tersebut selama ini kurang diperhatikan,” ujar Dr Lucy Puryear, psikiatris asal Houston yang sering menangani depresi pasca-melahirkan. Dalam 15 tahun kariernya, dia pernah menangani pasien seorang ayah yang mengalami baby blues dan memiliki “pikiran menakutkan” untuk menjatuhkan sang bayi dari tangga.
Menurut Puryear, memiliki bayi adalah transisi psikologi luar biasa yang dapat membawa kebahagiaan dan juga stres yang bila dibiarkan akan menjadi depresi. Di sisi lain, Puryear menambahkan, ayah sering merasa sendirian, kehilangan dukungan istri yang sakit pasca-melahirkan. Mereka juga mengkhawatirkan bayi mereka. Lelaki merasa seluruh beban ada di pundak mereka. “Lelaki yang memiliki istri yang <I>baby blues<I> juga akan rentan mengalami baby blues,” ujar Puryear.

Terapis asal Houston, Sherry Duson, mengatakan, ayah pada usia pertengahan 40 tahun biasanya akan lebih stres saat bekerja. “Karena mengkhawatirkan kondisi keuangan,” kata Duson, yang telah menangani kasus depresi pada ayah dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Duson, kebanyakan lelaki tidak membicarakan masalah ini. “Ada stigma sosial yang melarang lelaki untuk mencari pertolongan.” Padahal para ayah yang mengalami baby blues harus membicarakan hal ini atau mencari kelompok pendukung.

Untuk mengatasi persoalan ini, Aschinfina Handayani, psikolog Indonesia, mengatakan, pola komunikasi dua arah antara ayah dan ibu dalam mengurus bayi yang baru lahir amat diperlukan. “Baik suami maupun istri harus saling memberikan dukungan dengan belaian lembut, pelukan hangat, atau ucapan yang menyenangkan,” kata Aschinfina.

Ibu sangat membutuhkan dukungan ayah selama masa menyusui. “ASI bisa tidak keluar bila ibu stres,” tuturnya. Sementara itu, si ayah, yang sepanjang hari bekerja dan memikirkan ekonomi keluarga, tentu akan merasa terganggu oleh tangisan anak pada malam hari dan perhatian istri yang berkurang. | AMANDRA MUSTIKA M | MUSTAFA SILALAHI

Dampak buat Anak

Dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry, Dr James Paulson dan rekan-rekannya mempublikasikan penelitian tentang depresi pada orang tua 9-24 bulan setelah kelahiran.
Mereka menemukan bahwa depresi pada ayah secara signifikan berpengaruh terhadap kemampuan anak dalam memahami kosakata selama setahun pertama.

Meskipun depresi pada ibu juga berpengaruh, depresi pada ayah-lah yang mengurangi kemampuan anak berbahasa. “Ibu memiliki jumlah waktu yang cukup ketika mengurus bayi. Berbeda dengan ayah,” kata Paulson.

Association for Psychological Science Annual Convention yang diselenggarakan di San Francisco bulan ini menunjukkan bahwa depresi pada ayah muda mempengaruhi disregulasi sistem stres anak saat pertengahan masa kanak-kanak. “Sistem stres anak tampaknya lebih sensitif kepada depresi ayah ketimbang ibu.” | AMANDRA MUSTIKA M

Baby Blues

tired-mom

Pernah mendengar istilah ‘baby blues’? Ini bukan istilah untuk pakaian bayi, namun sindrom bagi ibu (terutama ibu baru) dalam menghadapi hari-hari pertama setelah melahirkan. Hal ini sebenarnya biasa terjadi pada wanita yang baru melahirkan, karena perubahan drastis yang terjadi antara sebelum bayi lahir dan setelah bayi lahir.

Hal ini terjadi pada hampir setiap wanita yang baru melahirkan. Sebenarnya baby blues ini dapat diminimalisasi dengan mencari informasi sebanyak mungkin sebelum kelahiran sang jabang bayi. Bantuan dari keluarga, terutama suami juga amat dibutuhkan untuk mengurangi efek baby blues ini. Pada saat baru melahirkan, tentunya ibu masih merasa lelah lahir batin, dan gejolak perubahan hormon juga dapat mempengaruhi emosi ibu, karena itu diharapkan suami dapat berperan banyak disini. Support suami dan keluarga dalam merawat bayi akan sangat membantu ibu yang masih kecapaian pasca persalinan, dan tentunya akan menenangkan hati ibu karena membuatnya merasa tidak sendirian dalam menghadapi persalinan dan pasca melahirkan.

Depresi pasca melahirkan ini ada yang ringan dan ada yang berat. Jika depresi yang terjadi berat, ibu harus mendapat perawatan intensif dari dokter, bahkan sampai menginap di rumah sakit. Gejala depresi yang berat antara lain malas, tidak mau merawat anak yang baru dilahirkan, dan kehilangan minat. Bahkan ada juga penderita yang sampai merasa ingin bunuh diri. Penderita yang seperti ini harus mendapatkan perawatan segera dengan menemui psikiater agar permasalahan tidak berkelanjutan.

14 queries