Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


Bos Kecil..:)

Seringkali kita temui ada anak kecil usia batita memerintah…

Kalau ini yang terjadi pada anak kita, bagaimana cara mengatasinya??. Pertama mari kita lihat dulu akar permasalahannya..kenapa si kecil suka memerintah, misal berteriak meminta minum atau makan, atau meminta dibelikan sesuatu dengan suara keras..:)

Anda tak perlu jengkel atau merasa malu jika si kecil berbuat demikian, karena perilaku ‘bossy’ ini bukan berarti dia menempatkan diri sebagai bos..anak usia batita tidak tahu siapa bosnya, bahkan arti kata ‘bos’ itu sendiri belum mereka pahami.

Mereka hanya tahu apa yang mereka inginkan dan mencoba memperolehnya, dan penyebab perilaku ini bukanlan karena kita lemah dalam parenting skills, tapi karena anak belum mampu memahami penolakan ortu atas permintaannya.

Lalu kenapa anak suka memerintah?? Ini dikarenakan anak mulai menjajal kemandirian mereka sebagai diri pribadi..:)

Dan apa yang mesti dilakukan jika ini terjadi??

Tetapkan batas, seringkali kita ragu untuk menolak permintaan anak maka ini adalah saatnya kita bertindak..:), tapi…lakukan dengan lembut tetapi tegas, jangan sampai menimbulkan trauma bagi si kecil. Dan upayakan ada solusi agar anak mengerti batas batas mana yang diperbolehkan saat ia memerintah atau merengek meminta sesuatu.

Merawat gigi bayi usia 0 – 24 bulan

Umumnya penyakit dan kelainan gigi pada anak merupakan salah satu gangguan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Sejak gigi susu mulai tumbuh, orangtua harus bertanggungjawab membersihkan gigi bayi mereka. Walaupun gigi anak hanya merupakan gigi susu yang keberadaannya hanya sementara, namun kesehatan gigi susu berpengaruh terhadap kesehatan gigi anak di kemudian hari. Karena itu, sebagai orangtua perlu mengetahui bagaimana merawat gigi anak sejak bayi dengan cara yang benar, agar kesehatan gigi dan mulut anak teratasi.

Cara merawat mulut bayi pada saat usia 0 – 6 bulan:

1. Bersihkan gusi bayi anda dengan kain lembab, setidaknya dua kali sehari

2. Jangan biarkan bayi anda tidur sambil minum susu dengan menggunakan botol susunya.

3. Selesai menyusui, ingatlah untuk membersihkan mulut bayi dengan kain lembab

4. Jangan menambah rasa manis pada botol susu dengan madu atau sesuatu yang manis.

Cara merawat mulut dan gigi bayi pada usia 7-12 bulan:

1. Tanyakan dokter anak atau dokter gigi anda apakah bayi anda mendapat cukup fluor

2. Ingatlah untuk membersihkan mulut bayi anda dengan kain lembab ( tidak basah sekali), sehabis menyusui.

3. Jangan biarkan bayi tidur dengan botol susunya (sambil minum susu dari botol) kecuali air putih.

4. Berikan air putih bila bayi anda ingin minum diluar jadwal minum susu

5. Saat gigi mulai tumbuh, mulailah membersihkannya dengan menggunakan kain lembab. Bersihkan setiap permukaan gigi dan batas antara gigi dengan gusi secara seksama, karena makanan seringkali tertinggal di permukaan itu.

6. Saat gigi geraham bayi mulai tumbuh, mulai gunakan sikat gigi yang kecil dengan permukaan lembut dan dari bahan nilon.

7. Jangan gunakan pasta gigi dan ingat untuk selalu membasahi sikat gigi dengan air.

8. Periksakan gigi anak anda ke dokter gigi, setelah 6 bulan sejak gigi pertama tumbuh, atau saat usia anak setahun.

Cara merawat mulut dan gigi bayi pada usia 13-24 bulan:

1. Mulailah perkenalkan pasta gigi berfluoride

2. Jangan biarkan anak tidur dengan botol susu (sambil minum susu dari botol), kecuali air putih.

3. Pergunakan pasta gigi seukuran sebutir kacang hijau.

4. Sikat gigi anak setidaknya dua kali sehari (sehabis sarapan dan sebelum tidur di malam hari)

5. Gunakan sikat gigi yang lembut dari bahan nilon.

6. Ganti sikat gigi tiap tiga bulan atau bila bulu-bulu sikat sudah rusak.

7. Jadilah teladan dengan mempraktekkan kebiasaan menjaga kesehatan mulut dan lakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.

8. Biasakan anak untuk memakan makanan ringan yang sehat, seperti buah segar dan sayuran segar.

9. Hindari makanan ringan yang mengandung gula.

dikutip dari pemaparan Drg.Yerika & Drg. Marshinta

Alkohol Membahayakan Sperma Anak  

TEMPO Interaktif, Roma – Ibu yang minum alkohol selama hamil dapat merusak kesuburan anak lelakinya di kemudian hari, kata sebuah studi oleh ilmuwan Denmark, sebagaimana dikutip Sexual Health News 29 Juni 2010.

Para peneliti menemukan bahwa jika saat hamil si ibu minum minuman beralkohol sebanyak 4,5 atau lebih per minggu, konsentrasi sperma anak-anak mereka – sekitar 20 tahun kemudian – sepertiga lebih rendah ketimbang laki-laki yang tidak terkena alkohol semasa dalam kandungan.

Takaran minum diukur sebagai 12 gram alkohol, setara dengan 330 ml satu kaleng bir, satu gelas kecil anggur (120 ml).

Penelitian oleh ilmuwan di Universitas Aarhus di Denmark ini telah disampaikan pada konferensi Masyarakat Eropa Reproduksi Manusia dan Embriologi di Roma.

“Studi kami menunjukkan bahwa ada hubungan antara minum alkohol dalam jumlah sedang selama kehamilan dan konsentrasi sperma lebih rendah pada anak,” kata Cecilia, yang memimpin penelitian ini.

Tapi ia mencatat bahwa karena penelitiannya bersifat observasional, para ilmuwan tidak dapat mengatakan dengan pasti apakah konsumsi alkohol adalah penyebab rendahnya konsentrasi sperma.

“Ada kemungkinan bahwa minum alkohol selama hamil memiliki efek berbahaya pada jaringan janin yang memproduksi air mani dalam testis – dan dengan demikian berdampak pada kualitas sperma di kemudian hari,” ujar Cecilia dalam laporannya. Menurut Cecilia, mengingat penelitian tentang kaitan alkohol dan sperma ini yang pertama kali, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan hubungan sebab akibat dan batas aman minum yang disarankan.

Namun, jika temuan ini direplikasi oleh studi lain di kemudian hari, dapat membantu menjelaskan mengapa kualitas air mani telah menurun dalam beberapa dekade terakhir, dan mengapa di beberapa negara lebih baik dari negara yang lain.

Tim peneliti Denmark mempelajari 347 anak yang lahir dari 11.980 perempuan, yang ambil bagian dalam studi antara 1984 dan 1987. Sekitar 36 minggu usia kehamilan, para ibu itu menjawab pertanyaan tentang gaya hidup dan kesehatan. Setelah anak-anak mereka berusia 18 dan 21 tahun, antara 2005 dan 2006, anak-anak tersebut diambil sampel sperma dan darahnya untuk dianalisis.

Data menunjukkan bahwa anak-anak dari ibu yang minum 4,5 atau lebih minuman beralkohol seminggu memiliki konsentrasi sperma rata-rata 25 juta per mililiter, sementara anak yang paling sedikit terkena alkohol memiliki konsentrasi sperma 40 juta per mililiter.

Sexual Health News/Ngarto Februana

Bolehkah Pekerjakan PRT di Bawah 17 Tahun?

KOMPAS.com – Sehabis Lebaran tahun lalu, pembantu rumah rumah tangga (PRT) keluarga saya membawa keponakannya. Dia seorang gadis yang baru berusia 15 tahun. Gadis itu meminta dicarikan tempat untuk bisa bekerja sebagai PRT. Kebetulan banyak saudara dan teman yang memang sedang mencari PRT karena PRT yang lama tidak kembali lagi sehabis Lebaran. Tetapi saya bingung dengan usia si gadis yang masih di bawah 17 tahun. Apakah mengabulkan permintaannya untuk bekerja bisa membuat saya dianggap mempekerjakan anak di bawah umur? Tapi demi Tuhan, boleh percaya atau tidak, ini keinginannya sendiri. Bukan saya atau PRT saya yang memaksa dia untuk bekerja. Sebenarnya berapakah batas usia seseorang sudah mulai bisa bekerja? Saya lihat banyak kok rumah lain yang pembantunya masih kecil-kecil. Mohon penjelasannya, Bu. Terima kasih banyak sebelumnya. – Hermy, Pondok Gede.

Hingga kini, Indonesia belum memiliki Undang-undang yang khusus mengatur pembantu rumah tangga (PRT), misalnya mengenai batas umur, upah minimum, jumlah jam kerja per hari, dan sebagainya. Namun, batasan usia minimum anak diperbolehkan bekerja diatur dalam Konvensi International Labour Organization (ILO) no. 138 dan rekomendai no. 146 yang telah disahkan oleh pemerintah Indonesia dengan Undang-undang no. 20 Tahun 1999.

Undang-undang tersebut menjelaskan bahwa batas minimum usia anak bekerja di Indonesia adalah 15 tahun. Dengan demikian, Ibu tidak dapat dipersalahkan atau dituduh mempekerjakan anak di bawah umur, sebab telah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku (anak itu sudah berusia 15 tahun).

Karena belum ada Undang-undang yang khusus mengatur tentang PRT, jika terjadi kasus-kasus tertentu seperti kekerasan, peraturan yang dapat mengatur kasus tersebut adalah undang-undang umum seperti KUHP, Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dan sebagainya.

(Prof. Dr. Zulfa Djoko Basuki SH.MH, Ahli Hukum dan Guru Besar FHUI/Majalah Sekar)

Editor: NF

Sumber: Majalah Sekar

Stres Bisa Bikin Usus Kejang

KOMPAS.com – Pernah mengalami rasa sakit pada perut, tapi bukan di lambung? Biasanya di sekitar wilayah usus. Entah mengapa, tak ada alasan, sering terasa keram atau kejang di wilayah tersebut, dan tubuh pun terasa letih dan lesu. Setelah pergi ke dokter, tak ada diagnosis yang jelas. Yang ada, diagnosisnya membuat Anda sempat merasa takut dan rasanya sih bukan seperti yang “divonis” oleh dokter tersebut. Jangan panik dulu, mungkin itu karena rasa panik dan…stres.

Gangguan usus ini sering terjadi pada hampir seperempat anggota masyarakat. Sebagian besar penderita berusia antara 20 hingga 40 tahun, dan 2 dari 3 penderita terdiri dari wanita.

Gangguan ini, menurut Anita Naik, dalam buku Lazy Girl’s Guide to Healthy Living menyebutkan, disebabkan oleh gangguan pada saluran usus. Dalam keadaan biasa, saluran usus mendorong ampas makanan dengan gerakan kontraksi secara bertahap menuju lubang pelepasan. Tetapi kalau kontraksi usus tidak teratur, akan timbul kejang yang menyakitkan, kembung, gas, sembelit, dan diare.

Dokter tak tahu sebab tepat yang mencetus rasa sakit ini. Meski diduga, stres adalah salah satu penyebabnya. Demikian pula jika usus lebih peka, yang menyebabkan otot perut kejang dengan sendirinya. Kita dapat menolong diri sendiri dengan cara:

- Belajar mengendalikan tingkat stres. Hubungan antara gangguan usus dan stres cukup jelas, oleh sebab itu tindakan ini harus dijadikan langkah pertama. PAra ahli berpendapat bahwa istirahat sendirian selama 20 menit setiap hari, berolahraga secara teratur (20 menit, tiga kali seminggu), dan belajar mengenali batas kemampuan diri sendiri dapat membantu menciptakan hidup yang lebih terbebas dari stres.

- Menyusun catatan makanan setiap hari. Tidak tahan terhadap makanan tertentu dapat juga mengakibatkan gangguan usus, seperti gandum dan produk susu yang paling sering menjadi penyebab gangguan ini. Sebabnya, karenat perut kita tak dapat memecah makanan yang tidak dapat diterimanya, yang menyebabkan kembung, kejang, dan terlalu banyak gas.

Seandainya kita menduga munculnya masalah seperti ini, cobalah berhenti makan makanan jenis ini selama 2 minggu, sambil memeriksa reaksi tubuh dan mulai memasukkan jenis makanan ini secara bertahap ke dalam susunan makanan sehari-hari.

Cara terbaik untuk melakukan hal ini adalah dengan membuat catatan harian berisi makanan kita, dan mencatat makanan apa saja yang nampaknya paling sering menyebabkan gangguan perut, dan kapan terjadinya. Dengan catatan ini, kita dapat berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter, yang akan membantu kita melakukan perubahan yang diperlukan.

- Minta resep dokter. Meskipun gangguan usus tidak dapat hilang dengan obat saja, dokter dapat memberikan resep untuk obat antikejang, yakni alevrine atau mebeverine, yang menenangkan usus dan meredakan kejang; kapsul pepermin dapat membantu mencegah kembung dan gas dalam perut; tablet antidiare untuk mengatasi buang air encer.

- Menyantap makanan dalam porsi lebih kecil dan lebih sering. Dengan cara ini kita dapat mencegah lambung menjadi terlalu penuh. Usahakan makan makanan yang rendah lemak dan rendah tepung, tetapi yang berkarbohidrat tinggi.

- Berolahraga secara teratur. Dengan meningkatkan jumlah latihan olahraga, kita dapat membantu usus bergerak lebih teratur dan mengatasi perut kembung.

NAD

Editor: NF

Kerja Kreatif Bikin Stress?

TEMPO Interaktif, Toronto – Tuntutan yang terkait dengan aktivitas kerja kreatif merupakan tantangan utama bagi pekerja. Menurut penelitian baru dari Universitas Toronto, Kanada, ini stres yang terkait dengan beberapa aspek pekerjaan berdampak terhadap batas antara kerja dan kehidupan keluarga.

Peneliti mengukur sejauh mana mereka yang terlibat dalam aktivitas kerja kreatif dengan menggunakan data dari survei secara nasional terhadap lebih dari 1.200 pekerja di Amerika. Profesor sosiologi Scott Schieman dan rekannya mengajukan pertanyaan kepada responden, antara lain: “Seberapa sering Anda memiliki kesempatan untuk mempelajari hal baru?”; “Seberapa sering Anda memiliki kesempatan untuk memecahkan masalah? “;” Seberapa sering Anda melakukan pekerjaan yang memungkinkan Anda untuk mengembangkan keterampilan atau kemampuan?”

Para penulis menjelaskan tiga inti temuan:

Pertama: Orang yang memiliki skor lebih tinggi pada indeks kerja kreatif lebih mungkin mengalami tekanan pekerjaan yang berlebihan, dan mereka merasa kewalahan oleh beban kerja, serta lebih sering menerima pekerjaan yang berhubungan dengan kontak (email, teks, panggilan) di luar jam kerja normal;

Kedua: Pada gilirannya, orang-orang yang mengalami tekanan-tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan, dan lebih sering melakukan tugas ganda antara pekerjaan dan keluarga, mereka mencoba untuk menyulap pekerjaan dan tugas-tugas rumah pada waktu yang sama saat mereka berada di rumah.

Ketiga: Secara bersamaan, tuntutan pekerjaan ini dan peran ganda kerja-keluarga kerap menimbulkan konflik antara pekerjaan dan peran keluarga, yang merupakan penyebab utama timbulnya masalah peran dalam domain rumah tangga.

Menurut Schieman, unsur-unsur stres terkait kerja kreatif ini, yang oleh kebanyakan orang dilihat sebagai sisi positif dari kondisi pekerjaan kreatif, merugikan. Lebih dari itu, ini juga dapat menyebabkan stres dalam kehidupan kita.

Penelitian ini juga menemukan bahwa orang yang memiliki skor lebih tinggi pada indeks kerja kreatif lebih cenderung memikirkan pekerjaan mereka di luar jam kerja normal. Namun, ketika ini terjadi, banyak orang berkata bahwa mereka tidak merasa “tertekan” oleh pikiran-pikiran itu. Schieman menambahkan: “Ada aspek kerja kreatif yang dinikmati banyak orang karena mereka mendapat kepuasan dalam hidupnya. Hal ini sangat berbeda dengan stres pikiran yang bikin orang terjaga di malam hari, yang disebabkan oleh tenggat yang tidak dapat dikontrol, orang lain bekerja tidak kompeten yang membuat Anda harus menanganinya esok hari, atau pekerjaan rutin yang kurang menantang atau terasa seperti sebuah penindasan.”

ScienceDaily/Ngarto Februana

Pernikahan di Mata Pria


KOMPAS.com – Pria dan perempuan memiliki pandangan yang berbeda tentang pernikahan. Dalam bayangan kita, pernikahan adalah hari-hari penuh kebersamaan. Mulai dari sarapan pagi dan berakhir dengan makan malam romantis di sudut ruangan rumah. Mengerjakan sesuatu bersama, dan berbagai hal yang biasa dilihat di film-film dongeng ala Cinderella. Sayangnya, hal-hal seperti ini jauh dari bayangan pria tentang pernikahan. Kepala mereka lebih banyak diisi oleh bayangan-bayangan ini:

Takut Salah Memilih Pasangan
Siapa sih yang tidak takut berakhir dengan pasangan yang salah? Semua orang pasti memiliki ketakutan yang sama. Apalagi bila hubungan pacaran terhitung singkat. Persoalannya, perempuan lebih mudah mengikis kekhawatiran ini ketimbang pria. Tapi sebenarnya ketakutan pria masih dalam batas wajar. Apa yang paling ditakutkan? Dia sangat takut seseorang yang di masa pacaran dianggapnya sebagai putri yang baik hati, ternyata menjadi seorang “nenek sihir” ketika menikah. Mungkin karena itu, dia terkesan santai dan tidak buru-buru menentukan target. Bukan karena tidak berminat terhadap pernikahan, dia hanya ingin benar-benar mengenal dan menyeleksi perempuan yang akan menjadi calon istrinya.

Siap Bertanggung Jawab
Tanggung jawab, itulah yang ada di kepala pria mendengar kata pernikahan. Segala hal yang berkaitan dengan pasangan resmi menjadi tanggung jawabnya ketika dia menikah. Itu berarti dia harus menjadi nahkoda dan memberikan materi yang cukup, bahkan berlebih untuk keluarganya. Dengan alasan ini, banyak pria mengaku memilih mengejar karier lebih dulu, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan menikah.

Takut Bosan
“Menikah? Duuh, ketemunya dia lagi, dia lagi dong, bosan aah.” Ya, inilah yang terlintas di kepala pria tentang pernikahan. Membayangkan bahwa dia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang sama, seringkali membuat hatinya gentar. Tapi Anda tak perlu khawatir, tidak semua pria memiliki bayangan seperti ini. Biasanya, yang bisa mengatasi kecemasan ini adalah pria yang merasa telah menemukan belahan jiwa yang bisa dia cintai selamanya. Dia juga berharap, perempuan yang akan dinikahinya tak sekadar menjadi istri tapi juga teman yang menyenangkan. Sssst, diam-diam pria juga memiliki ketakutan pasangannya merasa jenuh dan memilih berselingkuh.

Menjadi Ayah
Status yang berubah dari lajang menjadi ayah, menjadi perhatian pria. Ada yang merasa takut membayangkan bakal ada mahluk mungil yang memanggilnya “ayah”. Namun, bagi yang merasa telah siap, bayangan tentang ini sangat menyenangkan. Sama seperti Anda, pria juga menanti kehadiran teman baru dalam hidupnya. Tak sabar untuk mengajak anak prianya bermain bola atau membelikan anak perempuannya sebuah boneka cantik. Dan dia selalu ingin menjadi ayah yang bisa dibanggakan oleh anak-anaknya.

Hidup Sehat dan Terawat
Menikah berarti ada yang merawat dan mengurus semua kebutuhannya di rumah. Ada yang menyediakan makanan, menyiapkan makanan, pakaian kerja, hingga merawatnya saat sakit. Bagi pria, bayangan ini akan terasa sempurna, ketika yang melakukannya adalah orang yang ia cintai. Hmm, enggak heran ya, kalau banyak pria yang berat badannya bertambah setelah menikah.

Dapat Teman Hidup
Bagi pria, menikah berarti memiliki teman hidup yang siap berbagi saat senang dan sedih. Pria berharap, pasangannya dapat menjadi seseorang yang bisa memberikan dukungan dalam segala kondisi. Serta bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Tenang, ia takkan menuntut Anda untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan kantor yang sangat banyak. Ia hanya membutuhkan Anda sebagai teman untuk berkeluh kesah dan berdiskusi. Perempuan seperti apa yang ia butuhkan? Yang pasti perempuan yang bisa diajak bicara, sekaligus mau mendengarkan.

(Bestari Kumala Dewi/Majalah Chic)

Editor: NF

Tips Mengurangi Konsumsi Garam  

TEMPO Interaktif, Jakarta – Konsumsi garam berlebih menyebabkan hipertensi, kerusakan ginjal dan pembuluh darah. Tiap satu sendok teh garam mengandung 2.325 miligram natrium/sodium. Jika Anda dewasa yang sehat, batas aman konsumsi garam 2.300 mg per hari. Jangan melebihi 1.500 mg per hari jika Anda mengalami hipertensi, menderita penyakit ginjal atau diabetes. Berikut tips mengurangi konsumsi garam.

- Konsumsilah lebih banyak makanan segar dibanding makanan olahan. Makanan olahan mengadung lebih banyak natrium.
- Pilih produk rendah natrium. Jika membeli makanan olahan, cermati label makanan.
- Jika memungkinkan, hapus garam dari resep.

- Batasi konsumsi bumbu sarat natrium. Kecap, saus salad, saus, dan mustard mengandung natrium.

- Gunakan bumbu alami atau rempah-rempah untuk masakan.

- Gunakan garam pengganti dengan sesuai.

Mayoclinic |  Nur Rochmi

18 queries