Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak
Memiliki anak dengan tumbuh kembang optimal adalah dambaan setiap orang tua. Untuk mewujudkannya tentu saja orang tua harus selalu memperhatikannya, mengawasi dan merawat secara seksama.
Tumbuh kembang mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda,tetapi sulit untuk dipisahkan. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah pertumbuhan dalam skala besar, jumlah atau ukura. Sedangkan perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan fungsi organ atau individu.
Secara umum terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak :
- Faktor Genetik ; faktor yang menentukan sifat bawaan anak. Kemampuan anak merupakan cirri khas yang di tutunkan dari orang tuanya.
- Faktor Lingkungan: tempat dimana anak itu tumbuh, dimana lingkungan yang baik akan menunjang tumbuh kembang anak, sebaliknya lingkungan yang kurang baik akan menghambat tumbuh kembang anak.
Kebutuhan Dasar anak untuk tumbuh kembang secara umum adalah:
- Asuh ( kebutuhan fisik-biomedis): menyangkut asupan gizi anak selama dalam kandungan dan sesudahnya, kebutuhan tempat tinggal dan perawatan kesehatan dini berupa imunisasi.
- Asih ( kebutuhan emosional) : kasih sayang dari orang tua akan menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan dasar untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik maupun mental
- Asah ( kebutuhan akan stimulasi mental dini): stimulasi mental mengembangkan perkembangan kecerdasan, kemandirian, kreaktivitas, agama, kepribadian, moral etika.
Beberapa tingkat perkembangan yang harus dicapai anak pada umur tertentu:
4-6 minggu: tersenyum spontan.
12-16 minggu : menegakkan kepala, tengkurap sendiri, menoleh ke arah suara, dapat memegang benda.
20 minggu : dapat meraih benda
26 minggu : dapat meminahkan benda dari tangan satu ke tangan lainnya, duduk sendiri, makan biscuit sendiri
9-10 bulan : dapat menunjuk dengan jari, merangkak, bersuara da…da….da…
13-15 bulan : berjalan dengan bantuan, mengucapkan kata-kata tunggal, minum dengan gelas sendiri, mencoret-coret.
Pakaian Dalam Penyelamat Nyawa
VIVAnews - Sebuah teknologi terbaru berhasil menciptakan pakaian dalam pria yang tidak hanya nyaman dipakai tetapi juga dapat menyelamatkan nyawa sang pemakai. Pakaian dalam ini mampu mendeteksi kondisi kesehatan, mengurangi rasa sakit hingga memberi pengobatan secara langsung.
Pada celana dalam pria terbaru tersebut terdapat sebuah biosensor elektronik tercetak pada ukuran pinggang. Sensor elektroda akan menguji tekanan darah, denyut jantung dan tanda-tanda vital lainnya melalui kontak konstan dengan kulit.
Teknologi ini dikembangkan insinyur-nano Profesor Joseph Wang dari University of California San Diego. Menurutnya, perlakuan seperti melipat atau peregangan tidak akan mempengaruhi kinerja sensor. Dengan tekstil cerdas ini, pasien dapat dipantau meskipun berada di rumah. Metode yang diuraikan dalam The Royal Society of Journal Chemistry, awalnya diperuntukkan bagi militer AS.
Profesor Wang mengatakan, tentara dapat mengalami cedera dalam pertempuran. “Sensor ini minimal dapat mengidentifikasi jenis cedera yang terjadi,” katanya seperti dikutip dari Daily Mail. Setelah mendeteksi cedera, biosensor juga langsung melepaskan obat penghilang rasa sakit dan bahkan mengobati luka.
“Kami membayangkan nanti akan tercipta tren peralatan kesehatan pribadi untuk memantau pasien yang tinggal jauh dari pelayanan medis. Misalnya, spidol yang menilai kondisi jantung potensi stroke, diabetes dan perubahan terkait biomedis lainnya.”
• VIVAnews
Lemak Lemahkan Paru-Paru
TEMPO Interaktif, New Lambton – Makanan sarat dengan lemak telah diketahui tidak baik bagi jantung. Kini diketahui makanan berlemak juga dapat mempengaruhi fungsi paru-paru.
Penelitian tim dari Institut Riset Kedokteran Hunter di New Lambton, Australia, menemukan makanan tinggi lemak menyebabkan radang saluran napas dan fungsi paru-paru berkurang.
“Hasil awal kami menemukan, empat jam usai makan, pada penyantap makanan tinggi lemak, saluran napasnya meradang dan respons yang merugikan atas obat asma,” kata penulis utama penelitian itu, Lisa Wood, yang juga dosen ilmu biomedis dan farmasi di Institut Riset Medis Hunter di New Lambton.
Tim menguji orang-orang dengan asma sebelum dan setelah makan tinggi lemak atau setelah makan rendah lemak. Mereka menemukan bahwa makanan berlemak tinggi meningkatkan peradangan dan fungsi paru-paru berkurang.
Mereka meneliti 30 relawan non-obesitas dengan asma dan 16 relawan obesitas. Relawan non-obesitas dipilih secara acak untuk makan makanan tinggi lemak atau rendah lemak. Adapun relawan obesitas semua diberi makan tinggi lemak.
Makan tinggi lemak terdiri dari hamburger cepat saji dan kentang goreng. Kandungan gizinya sekitar 1.000 kalori, termasuk 60 gram lemak. Ini berarti sekitar 50 persen dari kalori itu datang dari lemak. Sesuai dengan rekomendasi dari Asosiasi Jantung Amerika, normalnya 25-35 persen kalori dari lemak. Adapun makanan rendah lemak berisi yoghurt yang berisi 200 kalori mengandung 13 persen lemak. Sampel penelitian dikumpulkan sebelum dan empat jam usai makan. Selain itu, fungsi paru-paru telah diuji pada kedua waktu tersebut.
Para peneliti menemukan peradangan saluran udara meningkat pada penyantap makanan tinggi lemak. Mereka juga menemukan fungsi paru-paru terpengaruh. Mereka yang menyantap makanan tinggi lemak kemudian diberi obat asma inhaler. Namun hanya 1 persen peningkatan fungsi paru-paru. Sedangkan mereka yang menyantap makanan rendah lemak terlihat peningkatan 4,5 persen pada fungsi paru-paru mereka setelah menggunakan obat. “Perbedaan antara 3 sampai 4 persen fungsi paru mendekati tingkat yang dapat dirasakan oleh pasien,” kata Wood.
Wood menyatalan belum tahu kenapa tubuh bereaksi seperti ini. “Mungkin sistem kekebalan tubuh mengenali lemak jenuh sebagai patogen yang menyerang, yang mendorong peradangan,” kata dia.
Dia juga mengatakan belum tahu berapa lama efek ini bisa berakhir. Tapi jika seseorang mengonsumsi makanan tinggi lemak tiap hari, mereka mungkin mengalami efek itu selama beberapa jam sehari. “Jika dapat diteliti lebih lanjut, diet lemak mungkin berguna untuk mengelola asma,” kata Wood.
Healthday | Nur Rochmi







