ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


AGAR ANAK BERANI TAMPIL DI DEPAN AUDIENS

Gugup di depan audiens?? keringan mengucur, tubuh gemetar, tangan dingin dan berbagai gejala lainnya yang biasa dialami baik oleh orang dewasa maupun anak-anak yang “terpaksa” tampil didepan orang/umum untuk pidato sambutan, kompetisi menyanyi ataupun berpuisi di depan umum, kata-kata yang udah dihafalkan hilang begitu saja saat berhadapan dengan audiens (di depan orang banyak).

Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi jika saja kita mengenali sumber rasa takut dan gugup dan tau langkah-langkah utk mengatasinya, urusan tampil di depan umum erat kaitannya dengan kepercayaan diri. Sejak dini anak-anak bisa diasah kepercayaan dirinya agar berani tampil di depan umum, antara lain sebagai berikut :

  1. Buatlah persiapan materi tentang apa yang akan ditampilkan, banyaklah berlatih didepan cermin agar tau gaya dan penampilan kita bila tampil nanti, bila perlu ajak teman2 utk melihat latihan kita.
  2. Jangan sering disalahkan atau dihakimi karena ini akan membuat anak takut pada penilaian-penilaian terhadap dirinya.
  3. Kritik dibolehkan asala disertai solusi dan petunjuk tentang yang benar dan yang salah.
  4. Hargai anak dan hindari penilaian yang aneh dan buruk bagi anak.
  5. Latih anak untuk berani bersuara dan bicara.
  6. Libatkan dalam kegiatan-kegiatan bersama atau sosial karena dengan begitu ia terbiasa berinteraksi dengan banyak orang.
  7. Bila ingin tampil di depan umum biasakan selalu datang lebih awal agar anak bisa bersosialisasi dahulu dengan audiens atau teman-temannya, dengan mengenal audiens dan bersosialisasi dahulu itu akan mengurangi tingkat ketakutan anak, karena bila datang terlambat itu akan membuat anak jadi gugup dan tambah takut.

Semoga tips diatas bisa membangkitka rasa percaya diri pada anak kita, selamat mencoba…..

 

www.erobiznet.tk

 

Langsing Seksi ala Feng Shui

VIVAnews – Feng Shui memiliki pengaruh kuat terhadap alam bawah sadar. Itulah sebabnya banyak orang memanfaatkannya memperlancar program diet.

Diet feng shui tidak membuat Anda pusing dengan perhitungan kalori. Pembatasan menu dilakukan melalui bentuk, warna, dan bahan makanan yang Anda konsumsi sehari-hari.

Jika penasaran, coba buktikan mengikuti beberapa tips diet feng shui untuk menciptakan tubuh ideal seksi dan sehat, seperti yang dipaparkan di laman Times of India berikut ini.

Makan di piring persegi
Piring hidangan berbentuk persegi lebih baik daripada piring bundar ketika Anda mencoba untuk menurunkan berat badan. Bentuk kotak dipercaya memancarkan kepuasan, sementara bentuk bundar mengundang rasa ingin tahu.

Ruang makan kalem
Warna-warna kalem dipercaya bisa meredam nafsu makan. Sedangkan warna-warna cerah dianggap merangsang nafsu makan. Jika Anda serius ingin menjalani diet ketat, ciptakan dapur atau ruang makan dengan warna-warna natural seperti coklat atau krem. Tapi jika Anda ingin meningkatkan nafsu makan, cobalah menghias dapur dan meja makan dengan dekorasi warna cerah.

Cermin di ruang makan
Cermin bisa membantu Anda tetap fokus. Menggantung cermin di sekitar ruang makan yang bisa terlihat jelas dari tempat duduk akan membuat Anda menyadari apa dan berapa banyak makanan yang akan Anda konsumsi.

Jam di meja makan
Pasang jam berdetik di area ruang makan. Ini akan mengingatkan Anda untuk memperlambat aktivitas makan dan membuat Anda lebih menikmati makanan, bukan sekedar nafsu terhadap makanan.

Piring lebih kecil
Untuk mengurangi ukuran makanan tanpa merasa kekurangan, gunakan piring yang lebih kecil.

Masak makanan sendiri
Ketika Anda meracik makanan sendiri, Anda bisa mengetahui ukuran yang pas untuk keluarga Anda. Praktisi feng shui bahkan percaya bahwa memasak mempromosikan kemakmuran keuangan.

Makanan penuh warna
Seperti apa makanan dengan nutrisi seimbang? Semakin banyak variasi warna makanan di piring Anda, semakin bergizi. Itu adalah kunci makanan seimbang. (pet)

• VIVAnews

‘+
‘+
‘+
”+
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.‘+
‘+
”+
‘+

);
clicked++;
$(“[id^=replyButton_]*”).click(function(){
var captchaCode = $(“[id^=captcha_code_]*”).val();
var textReply = $(“[id^=comment_2_]*”).val();
$.ajax({
type: “POST”,
url: “/comment/insertReply/”,
data: “captcha_code=” + captchaCode + “&comment_reply=” + textReply + “&parent_id=” + divId +
“&article_id=” + articleId,
success: function(msg){
$(‘#replyBox_’ + divId).remove();
$(‘#replyAlert_’ + divId).html(msg);
}
});

});
if(clicked==1){
$(“[id^=replyLink_]*”).click(function(){
$(‘#replyBox_’ + divId).hide();
});
}
});
});

$(“[id^=moreLink_]*”).click(function(){
var currentId = $(this).attr(‘id’);
var divIds = currentId.split(“_”, 3);
var divId = divIds[1];
var clicked = 0;
$(‘#moreBox_’ + divId).show(function(){
clicked++;
$.ajax({
type: “POST”,
url: “/comment/moreComment/”,
data: “parent_id=” + divId + “&article_id=” + articleId,
success: function(msg){
//$(‘#moreBox_’ + divId).html(msg);
$(‘#replyContent_’ + divId).html(msg);
//alert(msg + ‘-‘ +articleId + ‘a’);
}
});
});
if(clicked==1){
$(“[id^=moreLink_]*”).click(function(){
//$(‘#moreBox_’ + divId).hide();
$(‘#replyContent_’ + divId).hide();
});
}

});
});

35 queries