ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


Alasan Kurangi Kerja Berat Saat Hamil

VIVAnews - Selama masa kehamilan, para ibu rumah tangga perlu berhati-hati melakukan pekerjaan rumah tangga. Alasannya, rutinitas pekerjaan rumah tangga yang terlalu berat dan monoton bisa berdampak buruk pada bayi dalam kandungan dan juga si calon ibu.

Sebuah studi membuktikan kegiatan rumah tangga adalah aktivitas pengulangan yang cenderung membosankan. Karenanya, para calon ibu rentan terkena stres yang bisa memicu kelahiran prematur. Berbeda dengan olahraga, yang bisa membantu para calon ibu dan bayi agar tetap sehat.

Dari 12 ribu ibu yang baru saja melahirkan, peneliti menganalisa data mengenai pekerjaan ibu, berat bayi dan apakah bayi mereka lahir prematur.

Dari situ ditemukan, para calon ibu yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga -kemungkinan melahirkan 3 minggu lebih cepat- meningkat hingga 25 persen. Bisa jadi penyebabnya karena tugas yang membosankan menjadi pemicu meningkatnya hormon stres.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Epidemiologi Perinatal juga membeberkan beberapa hasil menarik lainnya. Wanita yang bekerja pada malam hari memiliki berat bayi lebih rendah. Para ibu yang memiliki gaya hidup berpindah-pindah, cenderung akan melahirkan bayi yang kurus.

“Kehamilan bukanlah suatu penyakit. Bahkan, mayoritas wanita hamil yang sehat akan melahirkan bayi yang sehat,” terang Hajo Wildschut, Peneliti Erasmus University Rotterdam seperti dimuat dalam Daily Mail.
 
Ia menyatakan wanita hamil tanpa komplikasi tidak harus membatasi kegiatan untuk mencapai kehamilan lebih baik. “Kegiatan fisik harian seperti jogging, squash dan latihan beban bisa dilakukan bahkan sampai akhir kehamilan,” ujarnya. Namun calon ibu disarankan menghindari olahraga kontak seperti bersepeda, ice-skating dan berkuda.

Patrick O’Brien, seorang dokter kandungan konsultan mengatakan, olah raga selama masa hamil akan membuat tubuh si calon ibu tetap fit, berat badannya terjaga dan mengurangi kesulitan saat melahirkan. (adi)

• VIVAnews


Penyakit Mengintai di Balik Rambut Rontok

VIVAnews – Kerontokan rambut merupakan salah satu masalah penampilan yang bisa mempengaruhi kepercayaan diri, memicu stres dan depresi. Kerontokan rambut banyak diakibatkan dari hasil mewarnai dan menata rambut selama bertahun-tahun.

Namun, selain diakibatkan perawatan rambut yang salah dan penuaan secara alami, keadaan rambut juga memperlihatkan kondisi kesehatan tubuh. Penyakit seringkali menyebabkan rambut menjadi kusam, rusak dan rontok.

Ada beberapa penyakit yang kemudian mempengaruhi ketebalan rambut seperti dimuat dalam Daily Mail. Untuk mengetahuinya lebih jelas, segera konsultasikan kepada dokter.

1. Anemia
Tubuh membutuhkan besi untuk memproduksi sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi menyebabkan anemia, sehingga semakin sedikit oksigen dibawa ke kulit kepala. Akibatnya, folikel rambut kekurangan oksigen, dan secara bertahap mengakibatkan kerontokan. Rambut yang tumbuh pada penderita anemia biasanya lebih tipis sehingga memperlihatkan kulit kepala.

Gejala lain anemia antara lain kulit pucat, lesu dan kelelahan. Suplemen zat besi dapat membantu. Kekurangan Vitamin C, konsumsi kafein dan alkohol juga dapat menghambat penyerapan zat besi. Agar rambut tumbuh lebat secara alami, dianjurkan minum segelas jus jeruk setiap hari serta mengurangi konsumsi kafein dan alkohol.

2. Gangguan pola Makan
Gangguan makan mempengaruhi siklus pertumbuhan rambut akibat asupan makanan berkurang, sehingga membuat aliran darah  ke kulit kepala melambat. Akibatnya, rambut kusam dan menipis. Penurunan berat badan secara drastis atau membatasi asupan kalori  agar berat badan rendah memungkinkan rambut menjadi tipis dan kusam.

Untuk meningkatkan kesehatan rambut dan mencegah rambut rontok, sebaiknya makan diet seimbang dengan asupan banyak protein. Rambut terbuat dari protein dan sangat dianjurkan untuk makan protein saat sarapan. Karena pada waktu ini, protein pada rambut menncapai tingkat terendah. Selain itu, pastikan diet kaya vitamin terutama kompleks B, seng dan asam lemak esensial.

3. Sindroma ovarium polikistik
Sindrom ovarium polikistik (PCOS) pada wanita disebabkan kelebihan hormon pria yang memicu penipisan rambut di bagian depan dan atas kepala. Hal ini berlaku pada penderita PCOS dengan kebotakan genetik di keluarga.

Kondisi yang sama menyebabkan peningkatan pertumbuhan rambut pada wajah dan tubuh. Obat untuk mengurangi hormon pria akan membantu pertumbuhan rambut. Pijatan di kepala untuk meningkatkan aliran darah membantu mempertebal rambut.

4. Amandel
Tanda pertama dari gangguan tiroid bisa berupa kerontokan rambut. Hormon tiroid yang terlalu banyak atau terlalu sedikit dalam tubuh mempengaruhi metabolisme dan siklus pertumbuhan rambut. Obat-obatan dan pijat dapat membantu mengurangi kerontokan rambut.

5. Stres
Stres menyebabkan rambut beruban lebih cepat. Hormon yang dilepaskan tubuh selama stres mempengaruhi penyerapan vitamin B yang dibutuhkan untuk pigmentasi. Stres juga menyebabkan alopesia yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Alopesia akan merontokkan segumpal rambut di kepala sehingga menimbulkan kebotakan kecil.

Selain menangani penyebab stres, mengasup suplemen B-kompleks membantu mengatasi masalah uban prematur.  Adapun alopesia dapat diobati dengan berbagai cara, termasuk steroid atau terapi sinar UV. Namun pada beberapa kasus, rambut akan tumbuh secara alami. (umi)

• VIVAnews


Kebohongan yang Sering Diungkapkan Teman

VIVAnews – Hati-hati jika meminta pendapat teman saat memilih pakaian. Ia bisa memilihkan pakaian yang tidak cocok untuk Anda, agar penampilannya tidak tersaingi. Menurut survei yang dilakukan oleh MyCelebrityFashion.co.uk, satu dari empat wanita akan berbohong pada temannya soal berpakaian untuk membuat dirinya tampak lebih baik.

Beberapa bahkan mengungkap sengaja mennyiram minuman pada pakaian teman yang dianggap menyaingi penampilannya. Para ahli mengatakan temuan ini menunjukkan wanita jauh lebih kompetitif dan itu sifat alami wanita.

“Dalam terminologi biologi, hal ini memang sangat benar. Ini adalah tentang bertahan hidup dan menarik pasangan terbaik untuk diri sendiri. Tentunya wanita tidak ingin merusak peluang sendiri,” kata Phillip Hodson, dari ‘British Association for Counselling and Psychotherapy’, seperti dikutip dari Daily Mail.

“Wanita sering tidak rasional dan lebih emosional. Terkadang ada keinginan untuk membuat orang lain terlihat bodoh atau konyol,” tambahnya.

Penelitian ini melibatkan 1.629 wanita dan sebanyak 38 persen wanita mengatakan kebohongan soal penampilan temannya saat memberikan pendapat, untuk meningkatkan kepercayaan diri.

Dari jumlah tersebut, dua pertiga mengatakan pada temannya, ia tampak bagus menggunakan pakaian tertentu padahal tidak. Sisanya mengatakan pakaian yang dikenakan temannya terlihat buruk padahal sebenarnya bagus. Dan, hal itu hampir selalu dilakukan karena ingin tampil lebih baik dibandingkan yang lain. 

Satu dari sepuluh wanita merasa ‘terintimidasi’, karena pakaian bagus yang dikenakan temannya. Lalu, satu dari lima wanita mengaku tidak memberitahu temannya saat mengalami kesalahan pada penampilan, seperti rok terselip atau kertas toilet yang menempel di sepatu. Alasannya, karena mereka pikir itu lucu. Untungnya, banyak juga wanita yang memberikan pendapat jujur kepada teman soal pakaian sebesar 36 persen.

“Hasil penelitian menunjukkan bagaimana pakaian bisa memicu rasa cemburu. Ini tren yang mengkhawatirkan karena bisa berpengaruh negatif pada hubungan pertemanan,” kata Andy Barr dari MyCelebrityFashion.co.uk. (umi)

• VIVAnews


« Previous Page

50 queries