Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Jadwal Tidur Berubah-ubah Bisa Meningkatkan Risiko Bunuh Diri

TEMPO Interaktif, San Antonio – Piala Dunia membuat banyak orang mengubah jadwal tidurnya karena tak ingin ketinggalan menyaksikan sepak bola. Jangan remahkan perubahan jadwal tidur Anda karena bisa mengganggu kesehatan. Menurut penelitian, jadwal tidur yang sangat berubah-ubah diperkirakan meningkatkan risiko bunuh diri karena depresi pada orang muda. Abstrak penelitian ini–seperti dikutip ScienceDaily–yang dipresentasikan Selasa pekan lalu, di San Antonio, Texas, pada pertemuan tahunan ke-24  Associated Professional Sleep Societies LLC.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebuah sampel mahasiswa, yang melakukan upaya bunuh diri, menunda waktu tidur mereka pada pukul 02.08, total waktu tidur terbatas 6,3 jam, dan memiliki jadwal tidur yang sangat tidak teratur. Ketidakteraturan tidur ini hanya yang berhubungan dengan ketidakseimbangan suasana hati yang pada gilirannya diperkirakan meningkatkan gejala bunuh diri.

“Ini merupakan penelitian pertama yang mengevaluasi hubungan yang unik antara tidur dan risiko bunuh diri, dengan menggunakan penilaian obyektif mengenai tidur dan desain penelitian prospektif,” kata Rebecca Bernert, PhD, dari Jurusan Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Universitas Stanford.

“Kami menemukan bahwa ketidakteraturan tidur yang sangat tinggi diperkirakan meningkatkan gejala bunuh diri,” ujarnya.

Bernert dan rekannya mempelajari 49 mahasiswa yang melakukan percobaan bunuh diri, berusia antara 19 dan 23 tahun, yang 71 persen adalah perempuan.

Menurut Bernert, mengidentifikasi ketidakteraturan tidur sebagai faktor risiko yang berdiri sendiri bagi ideation (mengkonsepkan gagasan atau menciptakan ide baru) bunuh diri bisa memiliki dampak klinis yang penting.

ScienceDaily/Ngarto Februana

Artikel Lain tentang Gangguan Tidur:

1. Tidur Terlalu Lama Bisa Meningkatkan Risiko Sindrom Metabolik
Durasi tidur yang panjang berkaitan dengan prevalensi tinggi terjadinya sindrom metabolik pada orang dewasa…

2. Kurang Tidur Bikin Sakit

3. Tidur Nyenyak Bikin Pria Perkasa
Menurut peneliti Universitas Montreal ini, kualitas tidur pria mulai berkurang saat usia 40 tahun….

4. Tidur Teratur Bisa Bikin Anak Terampil Membaca, Berbahasa, dan Matematika
Hasil penelitian menunjukkan, anak-anak yang orangtuanya memiliki aturan tentang jam berapa anak harus tidur, memiliki skor yang tinggi untuk untuk bahasa reseptif dan ekspresif, kesadaran fonologi, literasi, serta kemampuan awal matematika.

5. Gangguan Seks Saat Tidur
Sexsomnia (gangguan tidur yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan seksual saat mereka tidur) lebih sering terjadi pada pria daripada wanita, dan dilaporkan oleh hampir delapan persen pasien di sebuah klinik gangguan tidur…

6. Satu Malam Saja Kurang Tidur Bisa Memicu Resistensi Insulin
Temuan ini menunjukkan tidur malam yang singkat memiliki efek besar pada pengaturan metabolik…..


Mengapa Wanita Lebih Mudah Stres

VIVAnews - Wanita cenderung lebih mudah stres saat menghadapi masalah dibandingkan pria. Kondisi itupun seolah telah mendapat pemakluman secara umum. Tapi, apa yang sebenarnya membuat wanita lebih sulit mengendalikan emosi?

Studi di Amerika Serikat, seperti dikutip dari Daily Mail, mengungkapkan, wanita lebih sensitif terhadap kemunculan hormon stres, meski dalam kadar minimal. Sedangkan pria cenderung imun terhadap hormon stres, meski dalam kadar tinggi.

Kondisi itulah yang membuat wanita rentan terjerumus dalam krisis emosi di kehidupannya. Wanita lebih rentan mengalami depresi, trauma, dan masalah psikologis lainnya. Meski demikian, peneliti belum dapat mengungkap alasan biologisnya secara detail.

Studi dilakukan dengan fokus analisa hormon stres yaitu, corticotropinreleasing factor (CRF), senyawa yang memegang kontrol reaksi tubuh terhadap permasalahan hidup. CRF memegang kendali atas kondisi psikologis seseorang.

Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Molecular Psychiatry dilakukan dengan percobaan menggunakan sampel tikus. Peneliti menganalisa sel-sel otak tikus betina dengan kadar CRF rendah. Meski memunculkan kondisi gembira, namun hormon stres terlihat mengikat kuat protein sel otak. Hal inilah yang membuat sensitivitasnya terhadap stres tinggi.

Sementara percobaan sama pada tikus jantan menunjukkan kemampuannya menurunkan kadar protein yang otomatis melepaskan hormon yang terikat. Inilah yang kemudian dijadikan dasar kesimpulan mengapa sensitivitas pria tak setinggi wanita.

Pimpinan studi, Dr Rita Valentino dari Rumah Sakit Anak di Philadelphia mengatakan, “Kesimpulan yang kami hasilkan berdasar studi yang kami lakukan terhadap sampel tikus, kami masih perlu studi lanjutan untuk memastikan efek yang sama pada manusia.” (umi)

• VIVAnews


Putus Cinta Lebih Berpengaruh pada Pria Muda dibanding Wanita  

TEMPO Interaktif, Toronto – Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa kualitas hubungan lebih berpengaruh pada laki-laki muda dibanding pada pasangannya.

Toronto Sun melaporkan bahwa profesor sosiologi di Universitas Wake Forest, Robin Simon, telah melakukan studi terhadap seribu laki-laki dan perempuan yang belum menikah dengan rentang usia 18 hingga 23 tahun.

Hasil studinya menunjukkan bahwa efek dari suatu hubungan dirasakan lebih tinggi oleh seorang laki-laki muda dibandingkan oleh wanita. Hal ini berbeda dengan stereotype gender selama ini.

Laki-laki, menurut studi itu, mengalami manfaat emosional yang lebih besar ketika mereka bahagia dalam hubungannya dan memiliki tingkat stres yang lebih besar ketika mereka tidak bahagia. Robin menduga rasa menghargai dirinya sendiri akan terluka ketika hubungannya dengan pasangan menjadi buruk.

Alasan yang masuk akal dari kesimpulan ini adalah bahwa pasangan dari laki-laki menganggap pasangannya sebagai sumber keintiman yang utama. Sedangkan wanita, menurut Robin, masih lebih mungkin memiliki hubungan dengan keluarga dan teman-temannya di samping dengan pasangannya.

Robin juga berpendapat bahwa laki-laki dan wanita memiliki cara yang berbeda dalam menangani stres. “Wanita mengekspresikan kesusahan emosionalnya melalui cara depresi. Sedangkan laki-laki mengekspresikan emosinya dengan masalah yang hakikat,” kata Robin.

Hasil studi ini, yang menurut Robin mengejutkan, adalah salah satu bagian dari studi jangka panjang mengenai kesehatan mental dan transisi menuju masa dewasa. Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Health and Social Behavior bulan ini.

FOX NEWS / FANNY FEBIANA


Efek Buruk Terlalu Banyak Tidur

VIVAnews – Anda pasti sudah mengetahui bahwa kurang tidur bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik dan psikologis. Ternyata, terlalu banyak tidur juga bisa menimbulkan dampak yang sama.

Penelitian menunjukkan tidur lebih dari 6 hingga 8 jam dapat menurunkan harapan hidup orang dewasa sebesar 17 persen. Lalu, menurut ahli medis asal India, Dr. Prakash Lulla tidur terlalu banyak bisa menyebabkan diabetes, hipertensi, migrain, dan meningkatnya risiko penyakit jantung.

“Jika seseorang tiba-tiba tidur terlalu lama, itu juga bisa menjadi tanda adalah masalah pada sistem tiroid, kelainan pusat saraf atau kelainan metabolisme,” Dr. Prakash Lulla, ahli medis asal India, seperti dikutip dari Idiva.

Hal yang menjadi masalah bukan tidur itu sendiri, tetapi penyebab terlalu banyak tidur. Menurut dr. Dube sebanyak 15 persen pasien depresi tidur terlalu lama. Trauma dan syok juga bisa membuat seseorang tidur lebih lama.  

“Salah satu efek yang paling sering terjadi dari terlalu banyak tidur adalah obesitas. Kelelahan dan rasa nyeri juga efek yang sering muncul,” kata psikolog, Dr. Sunita Dube, seperti dikutip dari Idiva.com.

Kurang olahraga juga bisa mengurangi kualitas tidur dan kompensasinya adalah seseorang tidur lebih lama dari seharusnya. Untuk mengatasinya cobalah lakukan olahraga sederhana, seperti berjalan atau berlari di pagi hari sebelum memulai aktivitas.

Pola makan Anda juga sangat berpengaruh. Sebaiknya hindari atau kurangi konsumsi makanan-makan cepat saji. Pilihlah makanan yang dibuat dari bahan segar dan alami. Dengan begitu kualitas tidur menjadi lebih baik dan tubuh akan terasa fit. (mt)

• VIVAnews


Saat Putus Cinta, Pria Lebih Merana


KOMPAS.com - Pria juga manusia; karena itu mereka pun bisa menangis saat putus cinta. Tetapi siapa mengira, putus cinta ternyata lebih “memukul” pria daripada wanita?

Anda mungkin tidak percaya (karena si dia tampaknya terlihat cuek setelah putus hubungan dengan Anda), tetapi fakta tersebut merupakan hasil penelitian dari Wake Forest University di North Carolina. Dalam penelitian yang  melibatkan 1.000 orang dewasa (tidak menikah) berusia 18-23 tahun, terlihat bahwa hubungan yang tidak bahagia lebih mempengaruhi pria daripada wanita. Hanya saja, pria mengekspresikan kesedihannya dengan cara yang berbeda.

“Perempuan mengekspresikan kesedihannya dengan depresi, sementaranya pria mengekspresikannya dengan masalah-masalah substansi,” ujar Simon.

Robin Simon, profesor bidang sosiologi dari universitas tersebut, juga mendapati bahwa pria mendapat keuntungan emosional yang lebih besar dari aspek-aspek positif hubungan cinta yang sedang berlangsung. Kurang lebih begini penjelasannya: bagi pria muda, pasangan mereka sering menjadi sumber utama curahan kasih sayang. Berbeda dengan perempuan, yang cenderung punya kedekatan dengan keluarga dan teman-temannya.

Ketegangan dalam suatu hubungan sendiri sering dihubungkan dengan kesehatan emosional yang rendah, karena hal itu mengancam identitas dan penghargaan diri pria.

Kemudian, jika pria secara emosional lebih dipengaruhi oleh kualitas hubungannya saat ini, perempuan lebih dipengaruhi oleh kenyataan apakah mereka memiliki hubungan cinta atau tidak. Tidak heran, perempuan lebih cenderung mengalami depresi ketika hubungan itu berakhir, dan sebaliknya mendapat manfaat lebih hanya dengan berada dalam suatu relationship.

Survei ini awalnya dilakukan untuk studi jangka panjang mengenai kesehatan mental dan transisi ke kedewasaan. Karena itu menurut Simon, masih banyak yang perlu dipelajari mengenai hubungan antara pria dan wanita pada usia dewasa muda. Studi ini sendiri dipublikasikan di
Journal of Health and Social Behavior edisi Juni. 

DIN

Editor: din

Sumber: The Daily Mail


6 Tipe Pria yang Harus Dijauhi

VIVAnews - Jika Anda masih mencari-cari calon pasangan hidup sebaiknya kenali benar-benar kepribadiannya. Jangan sampai Anda terjebak dalam hubungan yang malah membuat Anda tersiksa.

Ada beberapa tipe pria yang harus dihindari jika ingin hubungan  berjalan dengan baik. Pria-pria ini bukan tipe yang cocok dijadikan suami. Jika Anda berhubungan dengan salah satu dari 6 tipe ini, langsung hindari, karena hanya akan membuang-buang waktu.

Temperamental
Pria ini sangat mudah terpancing emosi. Jika ada sesuatu yang tidak berkenan ia bisa langsung meledak-ledak. Emosinya sangat tidak stabil, dan hal itu akan sangat berbahaya. Bukan tidak mungkin ia bisa melukai Anda. Kemungkinan pria ini untuk melakukan kekerasan baik fisik maupun psikis cukup besar.

Jika terlihat gelagat temperamental pada pria yang saat ini mendekati Anda, langsung tinggalkan saja. Kalau hubungan tetap diteruskan bisa-bisa Anda menjadi depresi.

Posesif
Awalnya pria ini akan membuat Anda sangat tersanjung. Hal itu karena ia selalu mengkhawatirkan keadaan Anda. Tetapi lama kelamaan ia akan membuat hidup Anda seperti dalam penjara. Anda harus meminta izin darinya kemanapun akan pergi.

Ia akan sangat marah apabila Anda pergi tanpa sepengetahuannya. Ruang gerak Anda pun akan sangat dibatasi. Untuk keluar bersama teman-teman Anda pun, membutuhkan waktu panjang untuk membujuknya agar ia setuju. Pergaulan Anda akan semakin sempit.

Bertangan ‘ramah’
Pria dengan tangan ‘ramah’ alias ‘rajin menjamah’ sangat menyebalkan. Ia selalu berusaha untuk memegang atau meraba Anda seolah-olah ingin memberikan simpati atau semangat. Anda pasti bisa membedakan mana yang menunjukkan simpati atau tidak.

Pria tipe ini akan selalu memanfaatkan kesempatan untuk bisa menjalankan ‘misinya’. Jika bertemu dengan pria seperti ini langsung saja tampik tangannya dan jangan terlalu dekat dengannya. Karena, Anda hanya dijadikan jadi objek saja.

Matrealistis
Tipe pria ini akan selalu mengandalkan pasangannya untuk membiayai kencan. Ia akan sulit sekali mengeluarkan isi dompetnya. Ia biasanya memiliki beragam alasan mulai dari kehilangan dompet atau butuh pengobatan untuk orang tuanya yang sakit agar bisa mendapatkan uang Anda.

Meminjam barang-barang terbaru Anda dalam waktu, juga tidak akan malu akan dilakukannya. Bayangkan jika tetap berhubungan bisa-bisa semua biaya hidupnya Anda yang menanggung dan tabungan akan terkuras habis.

Pecandu narkoba
Tipe pria satu ini  biasanya senang menghabiskan uang untuk memenuhi rasa ketagihannya. Hati-hati dengan tipe pria ini. Kalau ia sedang tak punya uang untuk membeli ‘kesenangan’ itu, ia bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Termasuk meminta atau bahkan menguras dompet Anda secara paksa. Kalaupun si pecandu sudah tidak lagi memakai dan ingin menikahi Anda, pastikan ia benar-benar berhenti dan tak mengidap penyakit apa pun buah dari kecanduannya.

Perfeksionis akut
Pria ini selalu ingin membuat segala hal menjadi sempurna. Bahkan ia bisa mendikte penampilan Anda, mulai dari rambut hingga warna cat kuku. Ketika berada disampingnya Anda akan merasa lelah karena kemauannya yang begitu banyak dan ingin membuat segala sesuatunya sempurna. Biasanya pria ini mengomentari berbagai macam hal yang tidak sesuai dengan hatinya.

(umi)

 

• VIVAnews


Merokok dan Malas Berolahraga Berdampak pada Fungsi Kemih dan Seksual  

TEMPO Interaktif, Carolina – Pilihan gaya hidup sehat, seperti berolahraga secara teratur dan tidak merokok, secara signifikan dapat berdampak pada fungsi seksual dan fungsi kemih, demikian menurut data baru yang disampaikan pada Pertemuan Tahunan ke-105 dari Asosiasi Urologi Amerika (AUA). Dua studi baru yang mengkaitkan efek buruk dari merokok dan gaya hidup ini disampaikan kepada wartawan saat konferensi pers pada Senin lalu.

Tim peneliti internasional mensurvei sampel berdasarkan populasi lebih dari 2.000 wanita Finlandia, berusia 18 hingga 79, tentang kebiasaan merokok dan fungsi kemih mereka. Setelah mempertimbangkan faktor-faktor seperti sosiodemografi, gaya hidup, faktor reproduksi, komorbiditas, dan penggunaan obat-obatan, para peneliti menemukan bahwa pada perokok aktif dan mantan perokok terjadi peningkatan pada urgensi dan frekuensi kemihnya dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok. Dari perempuan yang disurvei, 52,7 persen tidak pernah merokok, 24,1 persen mantan perokok, dan 23,2 persen saat ini merokok.

Dalam studi terpisah tentang hubungan antara olahraga dan fungsi seksual, peneliti dari Carolina Utara mempelajari 178 pria sehat di Durham VA Medical Center dengan menggunakan hasil survei oleh Universitas California di Los Angeles, yang meliputi enam pertanyaan tentang fungsi seksual, dan sebuah survei terpisah mengenai kebiasaan berolahgara. Fungsi seksual dihitung dengan mengkonversi jawaban ke skor numerik dan latihan dihitung dengan mengkonversi respons ke tugas setara metabolik (MET) jam per minggu.

Para peneliti menemukan bahwa pria yang lebih sering berolahraga secara signifikan memiliki skor lebih tinggi pada fungsi seksualnya, bahkan setelah disesuaikan dengan usia, ras, indeks massa tubuh (BMI), penyakit jantung, diabetes, dan depresi.

“Data ini memberi kita satu lagi alasan untuk berhenti merokok dan mulai berolahraga,” kata Anthony Y. Smith, juru bicara AUA.

Medical News Today/Ngarto Februana


Ketika Ayah Terkena Baby Blues

TEMPO Interaktif, Ibu muda yang baru melahirkan rentan terkena sindrom baby blues. Sindrom ini biasanya terjadi pada pasangan muda yang memiliki anak pertama. Ini adalah depresi yang biasanya terjadi karena ketidaksiapan mental menghadapi kehadiran bayi dalam kehidupan mereka. Penelitian menunjukkan bahwa satu dari lima ibu mengalami baby blues.

Namun yang mengejutkan adalah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association, yang mengungkapkan bahwa ayah juga mengalami sindrom ini. Penelitian yang dilakukan James Paulson bersama koleganya pada 28.004 koresponden itu memaparkan, satu dari sepuluh ayah mengalami depresi baby blues. Yang lebih mengejutkan, 25 persen dari jumlah itu terus mengalami depresi hingga bayi mereka berusia enam bulan.

“Ada hubungan yang konsisten antara depresi ayah dan depresi ibu,” kata James Paulson, psikolog klinis dan kepala peneliti dari Sekolah Kesehatan Virginia Timur di Norfolk, Amerika Serikat. Depresi pada ibu dapat menyebabkan depresi pada ayah. Selama itu pula, menurut Paulson, sang ayah memiliki ciri depresi tersendiri. “Yaitu cenderung lebih sensitif, dan gampang marah karena emosi.”

Kelakuan sang ayah diperkirakan akan lebih berpengaruh negatif terhadap si jabang bayi. “Penelitian ini menunjukkan bahwa masalah tersebut selama ini kurang diperhatikan,” ujar Dr Lucy Puryear, psikiatris asal Houston yang sering menangani depresi pasca-melahirkan. Dalam 15 tahun kariernya, dia pernah menangani pasien seorang ayah yang mengalami baby blues dan memiliki “pikiran menakutkan” untuk menjatuhkan sang bayi dari tangga.
Menurut Puryear, memiliki bayi adalah transisi psikologi luar biasa yang dapat membawa kebahagiaan dan juga stres yang bila dibiarkan akan menjadi depresi. Di sisi lain, Puryear menambahkan, ayah sering merasa sendirian, kehilangan dukungan istri yang sakit pasca-melahirkan. Mereka juga mengkhawatirkan bayi mereka. Lelaki merasa seluruh beban ada di pundak mereka. “Lelaki yang memiliki istri yang <I>baby blues<I> juga akan rentan mengalami baby blues,” ujar Puryear.

Terapis asal Houston, Sherry Duson, mengatakan, ayah pada usia pertengahan 40 tahun biasanya akan lebih stres saat bekerja. “Karena mengkhawatirkan kondisi keuangan,” kata Duson, yang telah menangani kasus depresi pada ayah dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Duson, kebanyakan lelaki tidak membicarakan masalah ini. “Ada stigma sosial yang melarang lelaki untuk mencari pertolongan.” Padahal para ayah yang mengalami baby blues harus membicarakan hal ini atau mencari kelompok pendukung.

Untuk mengatasi persoalan ini, Aschinfina Handayani, psikolog Indonesia, mengatakan, pola komunikasi dua arah antara ayah dan ibu dalam mengurus bayi yang baru lahir amat diperlukan. “Baik suami maupun istri harus saling memberikan dukungan dengan belaian lembut, pelukan hangat, atau ucapan yang menyenangkan,” kata Aschinfina.

Ibu sangat membutuhkan dukungan ayah selama masa menyusui. “ASI bisa tidak keluar bila ibu stres,” tuturnya. Sementara itu, si ayah, yang sepanjang hari bekerja dan memikirkan ekonomi keluarga, tentu akan merasa terganggu oleh tangisan anak pada malam hari dan perhatian istri yang berkurang. | AMANDRA MUSTIKA M | MUSTAFA SILALAHI

Dampak buat Anak

Dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry, Dr James Paulson dan rekan-rekannya mempublikasikan penelitian tentang depresi pada orang tua 9-24 bulan setelah kelahiran.
Mereka menemukan bahwa depresi pada ayah secara signifikan berpengaruh terhadap kemampuan anak dalam memahami kosakata selama setahun pertama.

Meskipun depresi pada ibu juga berpengaruh, depresi pada ayah-lah yang mengurangi kemampuan anak berbahasa. “Ibu memiliki jumlah waktu yang cukup ketika mengurus bayi. Berbeda dengan ayah,” kata Paulson.

Association for Psychological Science Annual Convention yang diselenggarakan di San Francisco bulan ini menunjukkan bahwa depresi pada ayah muda mempengaruhi disregulasi sistem stres anak saat pertengahan masa kanak-kanak. “Sistem stres anak tampaknya lebih sensitif kepada depresi ayah ketimbang ibu.” | AMANDRA MUSTIKA M


Penyakit Mengintai di Balik Rambut Rontok

VIVAnews – Kerontokan rambut merupakan salah satu masalah penampilan yang bisa mempengaruhi kepercayaan diri, memicu stres dan depresi. Kerontokan rambut banyak diakibatkan dari hasil mewarnai dan menata rambut selama bertahun-tahun.

Namun, selain diakibatkan perawatan rambut yang salah dan penuaan secara alami, keadaan rambut juga memperlihatkan kondisi kesehatan tubuh. Penyakit seringkali menyebabkan rambut menjadi kusam, rusak dan rontok.

Ada beberapa penyakit yang kemudian mempengaruhi ketebalan rambut seperti dimuat dalam Daily Mail. Untuk mengetahuinya lebih jelas, segera konsultasikan kepada dokter.

1. Anemia
Tubuh membutuhkan besi untuk memproduksi sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi menyebabkan anemia, sehingga semakin sedikit oksigen dibawa ke kulit kepala. Akibatnya, folikel rambut kekurangan oksigen, dan secara bertahap mengakibatkan kerontokan. Rambut yang tumbuh pada penderita anemia biasanya lebih tipis sehingga memperlihatkan kulit kepala.

Gejala lain anemia antara lain kulit pucat, lesu dan kelelahan. Suplemen zat besi dapat membantu. Kekurangan Vitamin C, konsumsi kafein dan alkohol juga dapat menghambat penyerapan zat besi. Agar rambut tumbuh lebat secara alami, dianjurkan minum segelas jus jeruk setiap hari serta mengurangi konsumsi kafein dan alkohol.

2. Gangguan pola Makan
Gangguan makan mempengaruhi siklus pertumbuhan rambut akibat asupan makanan berkurang, sehingga membuat aliran darah  ke kulit kepala melambat. Akibatnya, rambut kusam dan menipis. Penurunan berat badan secara drastis atau membatasi asupan kalori  agar berat badan rendah memungkinkan rambut menjadi tipis dan kusam.

Untuk meningkatkan kesehatan rambut dan mencegah rambut rontok, sebaiknya makan diet seimbang dengan asupan banyak protein. Rambut terbuat dari protein dan sangat dianjurkan untuk makan protein saat sarapan. Karena pada waktu ini, protein pada rambut menncapai tingkat terendah. Selain itu, pastikan diet kaya vitamin terutama kompleks B, seng dan asam lemak esensial.

3. Sindroma ovarium polikistik
Sindrom ovarium polikistik (PCOS) pada wanita disebabkan kelebihan hormon pria yang memicu penipisan rambut di bagian depan dan atas kepala. Hal ini berlaku pada penderita PCOS dengan kebotakan genetik di keluarga.

Kondisi yang sama menyebabkan peningkatan pertumbuhan rambut pada wajah dan tubuh. Obat untuk mengurangi hormon pria akan membantu pertumbuhan rambut. Pijatan di kepala untuk meningkatkan aliran darah membantu mempertebal rambut.

4. Amandel
Tanda pertama dari gangguan tiroid bisa berupa kerontokan rambut. Hormon tiroid yang terlalu banyak atau terlalu sedikit dalam tubuh mempengaruhi metabolisme dan siklus pertumbuhan rambut. Obat-obatan dan pijat dapat membantu mengurangi kerontokan rambut.

5. Stres
Stres menyebabkan rambut beruban lebih cepat. Hormon yang dilepaskan tubuh selama stres mempengaruhi penyerapan vitamin B yang dibutuhkan untuk pigmentasi. Stres juga menyebabkan alopesia yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Alopesia akan merontokkan segumpal rambut di kepala sehingga menimbulkan kebotakan kecil.

Selain menangani penyebab stres, mengasup suplemen B-kompleks membantu mengatasi masalah uban prematur.  Adapun alopesia dapat diobati dengan berbagai cara, termasuk steroid atau terapi sinar UV. Namun pada beberapa kasus, rambut akan tumbuh secara alami. (umi)

• VIVAnews


Stres Picu Jerawat

VIVAnews - Jerawat sangat mengganggu penampilan dan kecantikan kulit wajah. Banyak faktor penyebabnya. Mulai dari perawatan kulit yang salah, hingga stres berkepanjangan.

Seperti dikutip dari laman Genius Beauty, sejumlah pakar asal Norwegia meneliti wanita usia 18 hingga 19 tahun yang memiliki gangguan jerawat. Mereka menemukan bahwa mayoritas mengalami masalah psikologis. Cemas dan depresi dapat memperburuk kondisi kulit.

Penelitian mengungkap, rasa frustrasi menyebabkan kelenjar sebaceous memproduksi lebih banyak minyak yang bisa menyumbat pori-pori. Diane Berson, MD, anggota American Women’s Dermatologic Society pun menjelaskan, faktor-faktor yang bisa mempengaruhi timbulnya jerawat :

Hormon
Efek yang sama yaitu produksi minyak penymbat pori-pori juga dihasilkan saat terjadi perubahan hormon. Itulah sebabnya mengapa banyak gadis mengatakan rambut mereka terasa berminyak menjelang periode menstruasi. Bisa juga, jerawat timbul karena periode menstruasi yang tidak teratur.

Kosmetika
Produk kosmetika yang banyak digunakan remaja secara serampangan juga bisa memicu timbulnya jerawat. Make-up yang salah seperti pemakaian alas bedak bisa menyumbat pori-pori pemicu jerawat.

Diet sehat
Sangat disarankan untuk memperbanyak konsumsi sayur dan buah secara teratur untuk mencegah jerawat. Melakukan diet golongan darah juga cukup efektif membantu menjauhkan diri dari radang kulit itu. (adi)

Baca juga: Empat Makanan Penangkal Jerawat & Hentikan Meracuni Wajah Anda

• VIVAnews


47 queries