ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Perkembangan Emosi pada Anak

Perkembangan emosi pada anak juga sebenarnya masih erat kaitannya dengan apa yang harus kita pelajari mengenai perkembangan anak usia 2-6 tahun secara keseluruhan dan perkembangan emosi pada anak juga merupakan salah satu poin penting yang perlu kita perhatikan dengan seksama. Hal ini dikarenakan banyak orang terutama orang tua, biasanya hanya menaruh perhatian yang besar pada apa yang tampak jelas di diri anak yaitu perkembangan fisik anak sebab perkembangan fisik anak dapat diukur dan dipantau secara langsung tanpa harus mengulik lebih dalam pada diri sang anak.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dengan seksama jika Anda ingin benar-benar mempelajari tentang perkembangan emosi pada anak karena tentu saja hal ini akan sangat lebih sulit jika dibanding ketika Anda hanya perlu mengamati perkembangan fisik anak yang jelas nampak. Perkembangan emosi anak sendiri sangat terkait erat dengan perkembangan aspek-aspek penting lainnya seperti perkembangan motorik dan juga perkembangan kognitif anak. Hal pertama yang perlu Anda cermati adalah, perkembangan psikologi khususnya psikososial Erikso ada pada 2 tahap dasar yang saling bertentangan. Yang pertama adalah rasa malu dan ragu-ragu vs otonomi dan yang terakhir adalah rasa bersalah vs inisiatif. Perkembangan emosi pada anak sendiri sebenarnya merupakan perkembangan perasaan yang bersifat psikologi yang diawali dari perasaan secara fisik.

Makan Bersama Keluarga – Apa Masih Jamannya?

Seberapa penting sih makan bersama keluarga itu? Di jaman yang serba sibuk ini, memang susah sekali untuk meluangkan waktu untuk duduk dan makan bersama anggota keluarga. Dengan kesibukan masing-masing dan waktu pulang yang tidak bersamaan, pasti sulit sekali untuk mengatur waktu.

Ternyata, baru-baru ini ada penelitian yang dilakukan oleh University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika, yang menemukan hubungan yang erat antara makan malam keluarga dengan obesitas. Fakta yang ditemukan oleh tim ini setelah menganalisa 17 studi kasus mengenai obesitas, gangguan makan dan makan bersama keluarga adalah anak-anak yang orang tuanya terbiasa untuk makan malam bersama memiliki resiko lebih rendah untuk mengalami gangguan makan dan obesitas.

Hasil yang lebih terperinci dari penelitian ini adalah anak yang duduk makan bersama keluarga paling kurang dua atau tiga kali seminggu memiliki kemungkinan 12 persen lebih rendah untuk angka mengalami overweight. Juga kemungkinan 20 persen lebih rendah untuk angka anak mengalami gangguan makan. Kebiasaan untuk duduk makan malam bersama keluarga juga akan mengurangi kemungkinan anak makan junk food sebanyak 20 persen dan 24 persen peningkatan dalam jumlah anak yang mengkonsumsi makanan sehat.

Bukan hanya itu, kebiasaan makan bersama juga membantu kesehatan mental anak-anak remaja. Kebiasaan ini membantu meningkatkan kualitas komunikasi antara remaja dan orang tua menjadi lebih baik, yang mana sangat sulit untuk didapatkan saat ini. Makan bersama juga akan membantu anak-anak dalam pertumbuhan untuk mengembangkan kebiasaan makan yang lebih sehat sehingga anak-anak kita akan terhindar dari penyakit.

Jadi, setelah tahu manfaatnya, sekarang saatnya kita mempraktekkannya.

Apakah Uang Membuat Hidup Anda Bahagia?

VIVAnews – Uang memang menawarkan berbagai kemudahan dan keamanan bagi pemiliknya. Tetapi, uang tak mampu membeli kebahagiaan dan kegembiraan seseorang.
 
Jajak pendapat terhadap 100 ribu orang dari seluruh dunia membuktikan, ada hubungan antara rasa aman dengan jumlah pendapatan. Namun, jumlah uang yang dimiliki tidak berpengaruh terhadap kebahagiaan seseorang.

Dari survei diketahui, 96 persen orang mengakui bahwa kepuasan hidup bertambah seiring meningkatnya pendapatan pribadi maupun negara bersangkutan. Meski begitu, ketimbang uang, perasaan bahagia lebih banyak dipengaruhi faktor lain seperti merasa dihormati, kemandirian, keberadaan teman serta memiliki pekerjaan yang memuaskan.

Seperti dikutip dari Telegraph, Profesor Ed Diener, psikolog di Universitas Illinois menyatakan kebahagiaan tergantung bagaimana mendefinisikannya. “Jika Anda melihat kebahagiaan hidup dan menilai hidup secara keseluruhan, hubungan antara pendapatan dan kebahagiaan sangat kecil.”

Studi yang dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology melibatkan responden dari 132 negara dari tahun 2005 hingga 2006. Para peneliti menyusun daftar yang membahagiakan, termasuk pendapatan dan standar hidup, kemudahan serta kebutuhan psikologis.

Ini merupakan studi “pertama” di dunia dengan sampel penduduk dunia yang membedakan antara kepuasan hidup, keyakinan filosofis bahwa hidup berjalan dengan baik serta pengalaman dari perasaan positif atau negatif di keseharian.

“Meskipun benar semakin kaya seseorang akan menjadikan orang tersebut  makin puas dengan kehidupannya, tapi tidak berkaitan erat seberapa bahagianya orang tersebut menikmati hidup.” (umi)

• VIVAnews

Perokok Pasif Dapat Menderita Gangguan Kejiwaan  

TEMPO Interaktif, London – Perokok pasif dapat mengalami gangguan kejiwaan dan risiko dirawat di rumah sakit karena masalah kejiwaan. Hal ini dijelaskan dalam sebuah laporan yang dikirim secara online dan akan terbit di Archives of General Psychiatry edisi cetak Agustus 2010.

Kata penulis artikel tersebut, paparan asap buangan dari para perokok aktif punya dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan fisik. “Yang sangat lazim terjadi pada perokok pasif—di Amerika Serikat diperkirakan 60 persen orang Amerika yang tidak perokok menjadi perokok pasif.

Mark Hamer, Ph.D. dari University College London dan koleganya meneliti 5.560 orang dewasa yang tidak merokok (dengan usia rata-rata 49,8 tahun) dan 2.595 perokok (berusia rata-rata 44,8 tahun) yang tidak memiliki sejarah sakit jiwa. Mereka melakukan survei yang disebut the Scottish Health Survey pada 1998 atau 2003.

Orang-orang tersebut diteliti dengan menggunakan kuisioner mengenai gangguan kejiwaan. Peneliti juga melacak frekuensi mereka masuk rumah sakit jiwa selama lebih dari enam tahun. Perokok pasif dan orang yang tidak merokok diuji dengan menggunakan tingkat kotinin dalam air ludah. Kotinin adalah hasil utama yang terbentuk dari nikotin yang terurai dalam tubuh.

Sebanyak 14,5 persen dari orang yang diteliti itu tercatat mengalami gangguan kejiwaan. Orang yang tidak merokok namun menjadi perokok pasif (dengan tingkat kotinin antara 0,70 dan 15 mikrogram per liter) memiliki kemungkinan yang tinggi mengalami gangguan kejiwaan bila dibandingkan dengan mereka yang tidak terkena kotinin.

Dalam jangka waktu enam tahun berikutnya, sebanyak 41 orang dirawat di rumah sakit jiwa. Perokok dan orang yang tidak merokok namun menjadi perokok pasif dirawat di rumah sakit karena depresi, schizophrenia, gila, atau kondisi kejiwaan lainnya.

Data pada hewan menunjukkan bahwa tembakau mengakibatkan suasana hati yang negatif. Sedangkan penelitian pada manusia memperlihatkan hasil adanya hubungan yang erat antara merokok dan depresi. “Jika digabung, karenanya, data kami sesuai dengan bukti yang memperlihatkan adanya hubungan sebab akibat antara nikotin dan kesehatan jiwa,” kata penulis.

“Berdasarkan pengetahuan kami, ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan adanya hubungan yang memungkinkan antara perokok pasif dan kesehatan jiwa berdasarkan sampel populasi secara umum,” mereka menyimpulkan.

SCIENCE DAILY / FANNY FEBIANA

26 queries