Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


Manfaat Yoga Untuk Bayi

Pernah dengar tentang Yoga untuk bayi? Walaupun terdengar aneh atau mungkin malah asing di telinga bunda, tetapi ternyata banyak sekali manfaat yoga untuk bayi. Dengan latihan yoga secara rutin diyakini mampu membuat si kecil tidur nyenyak, menambah nafsu makan, serta melancarkan pencernaan bayi. Yoga juga bisa memperkecil resiko obesitas pada anak dan membangun kedekatan emosi antara ibu dan anak.

Pada dasarnya yoga merupakan olah tubuh yang banyak melibatkan anggota badan. Oleh karena itu banyak organ tubuh yang ikut-ikutan memetik manfaatnya seperti organ pencernaan dapat meningkatkan fungsi dan kerja sistem pencernaan sehingga si kecil akan terhindar dari kembung, kolik, atau sembelit.

Masih banyak lagi manfaat yoga, antara lain:

  • Melancarkan peredaran darah
  • Membantu perkembangan otot-otot tubuh bayi sehingga menjadi kuat dan lentur
  • Membantu perkembangan syaraf serta koordinasi gerak bayi
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga si kecil tidak mudah sakit
  • Membantu menyiapkan tubuh bayi agar mampu menguasai berbagai ketrampilan mulai dari berguling, merangkak, duduk, hingga berdiri dan berlari
  • Merilekskan tubuh bayi sehingga bayi mudah tidur dan tidak rewel
  • Lebih mendekatkan hubungan emosi antara orang tua dan bayi
  • Membantu pembentukan kepribadian bayi sehingga bayi tidak hanya sehat tapi juga lebih percaya diri dan bahagia

Jika bunda ingin melakukan yoga dengan si kecil, pastikan bunda memilih tempat yoga yang memang berspesialisasi pada yoga untuk bayi untuk menghindari cedera pada si kecil. (Toddie, Sept-Okt 11)

MERANGSANG PENGALAMAN INTELEKTUAL BAYI DAN ANAK

Kecerdasan memang benar berasal dari faktor gen, tetapi selain itu keadaan lingkungan juga sangat membantu dalam mengembangkan kecerdasan anak. Lingkungan yang mendukung, menstimulasi, dan membiasakan anak untuk belajar akan membantu meningkatkan kecerdasan anak nantinya.

Banyak orang tua betanya-tanya “kapan pembelajaran untuk anak-anak mereka dimulai? apakah jika saya mengajarkan terlalu banyak hal kepada bayi saya, dia bisa menjadi bosan di sekolah nantinya?”…

Ayah…Bunda… abaikan segala pertanyaan itu, dan berikan sebanyak mungkin pengalaman belajar, dari masa bayi hingga seterusnya. Tapi ingat,,,memberikan pengalaman belajar kepada seorang bayi bukan berarti memaksanya untuk menghafalkan angka-angka atau warna-warna. Memberikan pengalaman belajar kepada seorang balita bukan berarti memaksanya untuk duduk manis di dalam kelas layaknya anak-anak usia sekolah.

Pengalaman belajar untuk bayi dan balita adalah dengan mengajaknya bermain, berkomunikasi dan berinteraksi sebanyak mungkin. Jika kita memotivasi anak sedini mungkin untuk melihat, mendengar, berfikir dan menemukan. Kita akan meningkatkan rasa ingin tahunya dan keinginannya untuk belajar lebih banyak lagi.

SEDIAKAN WAKTU 10-15 MENIT, DUA KALI SEHARI, UNTUK WAKTU BERMAIN YANG BERKUALITAS BERSAMA ANAK

  • Mainkan Cilukba di balik selimut atau bersembunyi di belakang kursi dan muncul kembali
  • Gerak-gerakkan sebuah boneka dan nyanyikan sebuah lagu hingga anak tertawa
  • Goyang-goyanglah mainan yang dapat mengeluarkan bunyi atau tamborin, pukulah sebuah drum dan liahatlah reaksinya.
  • Tiuplah gelembung sabun tinggi-tinggi ke udara untuk menstimulasi penglihatan, genggaman, dan koordinasi mata. (Mulai pada usia 5-6 bulan). Kegiatan ini juga menyenangkan dilakukan saat ia mandi.
  • Bangunlah dan runtuhkan balok-balok. Tumpuklah balok-balok itu lagi (mulai dengan tiga balok saat anak berusia 6-9 bulan) dan ajaklah anak anda untuk melakukan hal yang sama. Buatlah menara yang lebih tinggi untuk balita anda.
  • Bukalah dan tutuplah pintu di boks mainan; kemudian biarkanlah anak yang lebih besar atau balita anda untuk bereksplorasi sendiri.
  • Perkenalkan beragam jenis buku, begitu bayi anda dapat melihat dan berfokus, membalik halaman buku, menekan tombol pada buku musik, dan tak lama kemudian anak anda akan ”membaca” sendiri.

Asyiknya Bermain dan Belajar di Jendela Alam  

TEMPO Interaktif, BANDUNG -  Naura Zihni mengendap-endap. Ada guratan ragu di wajah balita tiga tahun itu saat memasuki kandang kelinci di area Jendela Alam, sebuah lahan rekreasi, bertani, sekaligus edukasi. “Ayo Naura, masuk, yuk. Kelincinya nggak galak,” kata Wahyudi, ayahnya, memberi dorongan putri keduanya ini agar berani masuk ke dalam kandang tempat kelinci berbagai jenis, fuzzy lop, American rex, dwarf, English, dan New Zealand white, berderet.

Kolam angsa dan bebek baginya lebih menarik. Picingan matanya yang tak sengaja melihat para angsa dan bebek berenang, mengurungkan langkah adik Azhar Faika ini masuk ke kandang kelinci. Alhasil, baru sampai pintu rumah kelinci, ia lekas menuju ke kolam angsa dan bebek.

Sambil memegang pagar pinggiran kolam, Naura anteng mengamati perilaku unggas-unggas tersebut berenang dan mengepak-ngepakkan sayap. Akhir pekan lalu, ia sekeluarga menyempatkan waktu bermain-main di Jalan Sersan Bajuri KM 4,5, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dari Kalibata, Jakarta.

Sekitar lima menit Naura asyik di kolam angsa, saya ajak ia ke kandang kuda poni. Tak sulit untuk menggugah minat dia meneruskan keingintahuan ke salah satu kandang di titik ujung Jendela Alam ini. Seperti saat di kolam, Naura melendot pada pinggiran pagar kayu area kuda poni. Di sini, ia lebih lama asyik memperhatikan gerak-gerik sang mamalia berkaki empat berambut kelabu itu bolak-balik bergerak dari sisi kanan dan kiri kandang.

Hampir 15 menit Naura melihat kuda. Kemudian ayahnya mengalihkan perhatian. Di dekat kandang kuda, ada green house tomat ceri. Naura tertarik. Ia pun beranjak masuk. Ia pegang untaian tomat-tomat kecil itu yang belum matang di pohonnya. Sesekali menunduk mengamati detail batang-batang pohon tomat yang berbulu.

Dari rumah tomat ceri, Naura kembali sebentar ke kolam angsa. Azhar, 8 tahun, kakak perempuannya datang, lantas keduanya bergegas ke kandang ayam Arab. Di sana ayam sedang diberi makan. Keluar kandang, adik kakak ini masuk ke dalam green house tomat besar.

“Di sini pengunjung umum bisa rekreasi seperti di kebun dan peternakan,” ujar Wawan Ichwanudin, manajer pemasaran Jendela Alam, Sabtu, 24 Juli 2010. Konsep tempat wisata ini memadukan rekreasi dengan teknik bertani, beternak, sekaligus pendidikan di alam pegunungan. “Dari rekreasi ini, terutama anak-anak, diperkenalkan keberagaman alam,” lanjut Wawan. Maksudnya agar kepedulian dan cinta terhadap lingkungan itu terbentuk.

Dengan tiket masuk Rp 6.000 per orang, pengunjung bisa menikmati fasilitas-fasilitas seperti Jendela Tumbuhan dan Jendela Hewan. Apa saja tanaman buah-buahan, tanaman obat, anggrek, sayuran – baik dengan teknologi hidroponik, NFT (Nutrient Film Technic, maupun konvensional, sampai green house stroberi dan tomat bisa orang tua kenalkan kepada anak-anaknya lewat Jendela Tumbuhan. Hewan ternak, bahkan liar pun bisa ditengok lewat Jendela Hewan. Sebut saja macam-macam ayam, burung, dan kelinci, kucing, landak, kambing, sapi, kuda, angsa, bebek, aneka reptil – ular, kadal, dan iguana – serta rusa ada di sana.

Sementara untuk fasilitas Jendela Petualang, di salah satu sudut area bermain seluas 1,6 hektare ini disediakan sarana permainan keterampilan seperti flying fox, halang rintang, jembatan gantung, dan area berkemah. Fasilitas bersepeda, play ground, trampolin, dan bak pasir bisa dinikmati lewat Jendela Bermain. Lokasi ini menyediakan pula fasilitas Jendela Air bagi pengunjung yang ingin berekreasi water ball, kolam renang, water boom, penjernihan air, dan lobster. Bahkan, ada danau segala.

Fasilitas berenang dan water boom atau naik kuda, dikenai tiket tambahan Rp 10.000, sedangkan untuk penyewaan sepeda per 30 menitnya ditarif Rp 6.000. Yang penasaran dengan Jendela Petualangan, tiket juga dipatok Rp 10.000.

Tempat wisata edukasi milik seorang dokter anak, Dr. Kelly Munazar Surya Chandra, ini juga memfasilitasi paket dinamika kelompok bagi setiap segmen yang memesannya mulai kelompok bermain (play group) dan TK (Taman Kanak-Kanak), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), serta instansi (corporate/dewasa). Formatnya kegiatannya macam-macam. Semakin tua segmen yang mengikuti paket, maka semakin tingkat kesulitan permainannya. Rata-rata syaratnya, minimal peserta yang mengikuti 20 orang. Untuk usia play group, Jendela Alam membatasinya sampai sepuluh anak karena anak usia ini membutuhkan perhatian lebih khusus dari pemandunya (supervisor).

Melalui aktivitas outing, pemesan paket dapat memesan paket Tarzan Sakit, Smart Farmer, Personal Achievement Program (PAP), Integrated Learning Camp (ILC), Integrated Learning Farm (ILF). Setiap level segmen peserta memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Misal, untuk permainan Tarzan Sakit usia TK, peserta hanya sampai memainkan peran sebatas mencocok-cocokkan nama tanaman dengan aslinya untuk mengobati si Tarzan. Sementara untuk usia SD, mereka disuruh mencari tanaman obat yang ada di sekitar bukit atau sedikit ke luar area Jendela Alam, kemudian meramu obat-obatan. Bisa juga peserta-peserta itu menggantikan peran si Tarzan mengurus binatang-binatang.

Paket Smart Farmer, intinya mengajarkan para peserta yang dipecah ke dalam beberapa kelompok menjalani hidup sebagai petani seperti mengurusi ladang sampai memelihara ternak. Secara teknis, mirip dengan permainan Harvest Moon Play Station. Aktivitas ini berlangsung mulai sekitar pukul 08.00-16.00 WIB.

Untuk PAP, ILC, dan ILF, paket yang diterapkan cenderung mengarahkan peserta agar memahami proses. Lewat ILC, contohnya, peserta akan menjalani camp menginap. “Program yang dijalankan tergantung tujuan. Paket-paket ini biasanya untuk anak-anak hiper. Mereka dibuat capek, saat kondisi mereka benar-benar letih, ini saat tepat untuk memberikan pelajaran atau evaluasi diri,” ungkap Wawan.

Makanya, kata dia, usai menjalani paket lalu merefleksi, ada saja peserta yang menangis karena sadar dan mengakui kesalahan atau keburukan yang pernah dilakukan. Setiap peserta akan diberikan laporan dari segi psikologi yang diamati.

Ada pula paket pendidikan lingkungan hidup. Kalau ini sifatnya cenderung seperti workshop. Waktu aktivitasnya pun hanya 3-4 jam. Kegiatan-kegiatan yang dipilih di antaranya workshop penjernihan air, biopori, komposting, pengolahan sampah keluarga, dan Akuifere Buatan Simpanan Air Hujan (ABSAH).

Hhhmmm, studi tur di Jendela Alam juga bisa. Pengunjung usia kelompok bermain dan TK bisa mendapat pendidikan berwawasan lingkungan. Selain itu, belajar budidaya anggrek, praktikum biologi, memperbanyak tanaman, dan mengamati perilaku ular. Ayo bermain, belajar, sekalian berkenalan dengan alam!

GILANG MUSTIKA RAMDANI

18 queries