ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


Pendidikan Sejak dalam Kandungan

Setiap orang tua—lazimnya—mengharapkan anak-anaknya kelak dapat meraih keberhasilan dalam hidup dengan masa depan yang begitu cemerlang, kesuksesan itu, bisa dipastikan sejak awal dengan mengoptimalkan pendidikan sejak dalam kandungan. Sesuai degan hasil penelitian ilmiah, mendidik anak dalam hal rasio dan rohanisejak masih dalam kandungan terbukti memberikan hasil yang positif bagi perkembangan anak setelah lahir kelak.

Semata demi cerahnya masa depan anak, ibu bisa memberikan pendidikan sejak dalam kandungan yang bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung yaitu melalui makanan, belajar berbagai hal pada berbagai bidang, memperdengarkan musik, dan membacakan cerita. Menyantap makanan yang kaya gizi, protein, dan vitamin, contohnya mengonsumsi ikan salmon dan kurma secara teratur. Ibu yang belajar—layaknya anak sekolah—secara mandiri atau mengikuti kursus beragam bidang juga secara tidak langsung mendidik janin, secara khusus lebih mantab bila ibu mendidik calon bayi dengan memecahkan soal-soal ilmu eksakta seperti matematika, atau mempelajari bahasa asing saat kehamilan, maupun berbagai bidang lain. Poin selanjutnya adalah memperdengarkan musik klasik seperti karya Beethoven, Mozart, Bach, dan lain-lain, serta membacakan cerita dan “membahas” cerita tersebut bersama bayi yang masih dalam kandungan, dapat memberikan efek positif bagi bayi.

Selain itu, kesehatan emosi dan jiwa sang ibu harus dijaga, terutama dengan menghindari stres dan pemicunya karena tekanan jiwa pun memengaruhi kondisi janin dan kecerdasan mental anak, sehingga disarankan agar sang ibu selalu berpikir positif. Nah, bila memiliki harapan agar anak dapat meraih keberhasilan, menerapkan hal-hal yang merupakan proses pendidikan sejak dalam kandungan tentu dapat mendukung tercapainya harapan itu.

Jika Anak Sulit Tidur

BALITA Anda susah tidur? banyak faktor yang menjadi penyebab anak atau balita kita susah tidur. Padahal, kebutuhan manusia akan tidur seharusnya bisa tercukupi agar produktivitas tidak terganggu.

Jika orang dewasa perlu tidur sekitar 6–8 jam per hari, pada bayi dibutuhkan 16–20 jam tidur. Sementara pada balita diperlukan sekitar 12–13 jam tidur per hari, dan sekitar 10 jam tidur pada anakanak di atas lima tahun.

Bila kurang dari itu, patut diwaspadai bahwa bayi atau anak tersebut mengalami masalah sulit tidur. Namun, balita bukanlah robot yang bisa diprogram jam tidurnya. Jadi jika balita Anda sulit tidur, sering terbangun di malam hari atau bangun terlalu pagi, itu wajar. Namun, kurangnya perhatian orangtua membangun kebiasaan tidur yang cukup, menyebabkan anak-anak di wilayah perkotaan di beberapa negara mengalami gangguan tidur.

Sebuah penelitian mengungkap 23,5 persen anak usia 2–6 tahun di Beijing, China mengalami gangguan tidur. Sekitar 20 persen anak usia tiga tahun di Swiss terbangun setiap malam, sedangkan di Amerika Serikat (AS) 84 persen anak usia 1–3 tahun menderita gangguan tidur menetap. Kebanyakan anak-anak tersebut sulit tidur pada malam hari dan sering terbangun ketika tidur malam hari.

Para peneliti Universitas Rochester, New York, AS, baru-baru ini bahkan menemukan, gangguan tidur bisa terjadi pada bayi baru lahir. Padahal di masa awal kehidupannya, bayi sangat butuh kualitas tidur yang baik.

Gangguan tidur pada bayi baru lahir ditandai perilaku rewel bayi saat jam tidur. Kondisi ini terjadi karena di masa kehamilan, sang ibu mengalami stres, cemas, dan depresi. Hormon stres yang dikeluarkan sang ibu mengganggu perkembangan otak janin.

Dr Thomas O’Connor, peneliti, menegaskan bahwa bayi yang kualitas tidurnya kurang cenderung mengalami masalah perilaku di masa kanak-kanak. ”Kualitas tidur bayi bisa menjadi indikator perkembangan kesehatannya,” katanya.

Penemuan itu dikuatkan juga dari hasil penelitian University of Michigan, AS yang dipublikasikan Jurnal Medis Sleep bahwa gangguan tidur lebih mungkin terjadi pada bayi yang lahir dari para ibu yang mengalami depresi, dibandingkan ibu yang tidak mengalami depresi.

Temuan ini berasal dari studi 18 bayi normal yang diamati perilaku tidurnya dengan actigraphy, untuk memantau berapa banyak mereka berpindah, selama tujuh hari berturut-turut selama 24 bulan. Selain itu, para ibu dari bayi-bayi itu membuat catatan harian akan periode tidur dan bangun mereka. Sebelas dari bayi yang dilahirkan ibu-ibu yang depresi, sementara tujuh lainnya tidak memiliki sejarah depresi.

Menurut salah seorang peneliti, Dr Roseanne Armitage, bayi dari ibu yang tertekan memerlukan waktu lebih lama untuk tertidur daripada ibu yang tidak tertekan, (sekitar 80 menit dibandingkan 20 menit) dan lebih banyak terbangun dalam periode tidur malam (sekitar 4 versus 2). Berbagai perbedaan terus berlangsung selama periode penelitian 24 bulan. ”Walaupun terdapat banyak faktor lingkungan dan sosial yang dapat memengaruhi bayi dan perilaku bayi, kajian ini adalah langkah pertama menuju karakterisasi pengaruh depresi ibu,” ujarnya.

Beberapa gejala anak yang kurang tidur di antaranya sulit dibangunkan di pagi hari, emosional, impulsif, rewel, mudah frustrasi, penurunan tingkat kecerdasannya, kurang konsentrasi, dayaingat menjadi lemah, serta gangguan fungsi kognitif, sehingga dia lebih agresif dan hiperaktif, menjadi pembangkang dan tidak kooperatif.

Kurang tidur pada bayi juga bisa mengakibatkan berbagai masalah, dari penurunan kekebalan tubuh, gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik, hingga kurang tidur berdampak terhadap tumbuh-kembang otak bayi, terutama kemampuan berpikirnya ketika dewasa.

Hal itu karena sebagian besar kerja hormon pertumbuhan terjadi ketika dalam keadaan tidur, termasuk hormon pertumbuhan otak bayi. Bahkan, kurangnya tidur akan mengakibatkan perubahan kadar hormon yang bertugas mengatur rasa lapar. Selain itu, kurangnya tidur juga memengaruhi kemampuan tubuh untuk melakukan metabolisme gula, sehingga meningkatkan risiko terhadap diabetes.

Sebenarnya, ada berbagai penyebab balita sulit tidur. Namun, tidak ada cara pasti mengetahui penyebab sulit tidur pada balita. Mungkin saja akibat saat anak disuruh tidur malam, dia belum ingin tidur dan tengah asyik bermain atau bercengkerama dengan ayah dan ibunya yang baru pulang kantor. Atau bisa jadi karena makannya sedikit tapi sering, mereka biasanya tidak kuat untuk tidak makan dalam waktu lama (sepanjang malam). Jadi, dia rewel dan sulit tidur karena perutnya lapar. Mungkin juga terlalu lelah bermain dan bercengkerama dengan Anda.

Udara yang terlalu panas atau terlalu dingin, atau baju tidur yang tidak nyaman, juga bisa menjadi penyebab lain balita sulit tidur. Atau dia merasa ketakutan akan sesuatu. Karena penyakit, misalnya batuk, flu, asma, atau alergi, juga bisa menyebabkan anak sulit tidur. Masalah tidur balita Anda akan teratasi bila Anda menciptakan rutinitas sederhana sebelum tidur, termasuk meluangkan waktu 15–20 menit untuk cooling down setelah beraktivitas.

Pada saat istimewa ini, Anda bisa membacakan cerita, membelainya, mengelap badannya dengan handuk hangat agar anak nyaman dan mudah tidur di malam hari.
Selain itu, pastikan dia mengenakan baju tidur yang nyaman dan suhu ruang yang cukup. Suasana rumah yang tenang dan lampu temaram juga membuat balita mengenal perbedaan malam dan siang.

Pastikan juga anak kenyang di siang hari sesuai waktu makan. Perlahan, coba hilangkan kebiasaan makan sedikit tetapi sering. Jika balita Anda masih terbangun di malam hari dan minta susu, coba mengganti susu dengan air putih, sehingga dia kembali tidur.

Ritual lainnya yang bisa dicoba untuk membuat bayi tidur dengan nyaman di antaranya mandikan bayi dengan air hangat dan ajak main sebentar sebagai awal penurunan intensitas aktivitas sebelum tidur, putar lagu atau nyanyikan lagu pengantar tidur, serta beri ciuman sebelum dia tidur dan biarkan dia tidur dengan mainan favoritnya. Jika anak tidak segera tertidur, tetaplah tenang dan rileks. Baringkan anak Anda, belai dengan lembut, lalu tinggalkan kamarnya. Tunggu selama lima sampai sepuluh menit sebelum Anda kembali, karena dia memanggil. Apabila anak terbangun di malam hari, lakukan hal yang sama,dengan meminimalkan bicara, suara, dan cahaya. Baringkan saja lagi dia dengan lembut, namun tegas.

# CARA SEDERHANA ATASI ANAK YANG SULIT TIDUR #

Jika anak anda sedang mengalami sulit tidur, apa yang bisa anda lakukan?

Anak-anak harus didorong untuk bersikap seperti orang dewasa dan belajar untuk membuat dirinya kembali tidur. Dengan satu kesadaran bahwa mereka memang masih anak-anak.

Begini cara sederhananya untuk menghadapi anak yang sulit tidur,

1. Jika anak bangun jam 3 pagi, mulanya mereka menangis lembut kemudian segera menjadi tangisan yang bising. Biarkan mereka menangis 5 sampai 10 menit.

2. Pergilah ke kamar anak, Gendong, buai dan hibur mereka.

3. Sesekali anda bisa menepuknya sambil berbaring.

4. Ketika tangisan keras berubah menjadi isakan, ini adalah sinyal bagi anda untuk meletakkan mereka di tempat tidur dan pergi meninggalkannya.

5. Mereka akan terkejut ketika anda pergi. Mereka akan menangis lagi. Maka tinggalkan mereka untuk menangis 2 menit lebih lama daripada periode sebelumnya (10+2 menit, 2+2 menit, 1+2 menit).

6. Masuk, gendong, buai, ajak bicara, serta hibur. Pada saat tangisan bisa dikendalikan, tidurkan dan segera keluar. Sekali lagi tambahkanlah periode menangis sampai 2 menit. Lalu hibur, tambah periode menangisnya lagi, hibur, lalu tambah periode menangisnya lagi, dan seterusnya.

7. Bersikaplah tegas, teruskan selama diperlukan. Teknik sama sekali tidak berguna jika anda tidak siap melakukannya.

8. Setelah mereka tertidur, anda kembali tidur. Jika mereka bangun sekali lagi, maka tegaslah. Lakukan hal yang sama keesokan malamnya, malam selanjutnya, dan seterusnya.

9. Jika tidak berhasil juga, dan anda sudah sampai pada batas kesabaran, jangan menyerah. Gabungkan tekniknya dengan obat penenang dosis rendah untuk beberapa malam.

10. Setelah setengah jam teknik mengendalikan tangisan tidak berhasil, berikan obat penenang. Obat ini butuh waktu setengah jam untuk bereaksi, dan dalam periode ini terus lakukan teknik tadi dengan pasti. Dengan obat penenang, anda bisa tidur setelah satu jam dan si anak masih mendengar pesan yang sangat tegas dan konsisten sebelum akhirnya tertidur. Obat penenang harus digunakan dalam jangka pendek.

# ANAK KELEBIHAN BOBOT SULIT TIDUR NYENYAK #

Anak-anak yang memiliki perut buncit mengalami kesulitan bernafas saat tidur. Tidur tak nyenyak ini menyebabkan masalah perilaku seperti hiperaktif dan kesulitan untuk tetap terjaga di sekolah.

Penelitian yang dilakukan Penn State University Collage of Medicine memeriksa 700 anak dengan usia antara 5-12 tahun yang dipilih secara acak dari 18 sekolah dasar umum di Pennsylvania.

Setiap anak dites fisiknya dengan memonitor 9 jam tidur di laboratorium dengan menggunakan polysomnography, yang berguna untuk mengukur aktifitas otak, jantung, aliran udara, dan pernafasan oksigen selama tidur.

Para peneliti menemukan, sekitar 25% dari anak-anak mengalami kesulitan bernafas saat tidur yang rendah, dan 1,2% mengalami kesulitan bernafas saat tidur dengan tingkat sedang, dan ditetapkan lima atau lebih memiliki jeda saat tidur per jam. Lebih dari 15% mengalami masalah utama mendengkur.

Baru-baru ini, tumbuhnya adenoide tonsils yang membesar diyakini menjadi penyebab kesulitan bernafas saat tidur pada anak-anak. Tetapi menurut berita dari American Academy of Sleep Medicine (AASM) seperti dikutip detikHealth Jumat (10/7/2009) tidak ditemukan hubungan langsung ukuran amandel dan kesulitan bernafas.

“Sebaliknya, kegemukan dapat memainkan peranan yang lebih besar,” ujar Edward O. Bixler, dari Penn State University Collage of Medicine.

Faktor risiko kesulitan bernafas pada anak-anak sangat kompleks dan mencakup metabolisme, inflammatory dan faktor anatomi.

“Karena kesulitan bernafas pada anak-anak tidak hanya karena ketidaknormalan anatomi, pengobatan juga harus mempertimbangkan strategi alternatif lain, seperti
berat badan dan masalah di hidung,” kata Bixler.

Kesulitan bernafas saat tidur bisa terjadi dari yang ringan hingga yang berat. Menurut informasi dari AASM, kasus yang ringan ditandai dengan mendengkur yang terus menerus karena masalah anatomi hidung seperti sinusitis kronik, rhinitis dan saluran hidung.

Pada kasus yang parah termasuk mempersulit tidur, yang berpotensi membahayakan dengan kondisi nafas yang berhenti dan bernafas kembali sepanjang malam. Setiap jeda biasanya berlangsung 10-20 detik dan dapat terjadi 20-30 kali perjam.

Sementara anak-anak yang cenderung memiliki kesulitan bernafas saat tidur dibandingkan orang dewasa, mereka hanya kesulitan untuk tidur.

Anak-anak yang lebih tua cenderung mengalami kesulitan bernafas sedang. Sebesar 2% dari anak-anak antara usia 9-12 tahun mengalami kesulitan bernafas saat tidur dengan tingkat sedang, dibandingkan dengan anak-anak usia 5-8 tahun yang hanya 0,2%.

Kesulitan tidur biasanya terjadi ketika jaringan lunak dibagian belakang tenggorokan menyempit dan menutup saluran udara selama tidur. Pada anak-anak, mendengkur yang keras dan nafas yang terengah-engah merupakan tanda peringatan.

Redakan Demam dan Panas Dalam dengan Alang-Alang

Alang-alang tumbuh liar di hutan, ladang, lapangan rumput, dan tepi jalan pada daerah kering yang mendapat sinar matahari. Tanaman yang mudah menjadi banak ini bisa ditemukan pada ketinggian 1-2700 m di atas permukaan laut.

Akar dan batang alang-alang  mengandung manitol, glukosa, sakarosa, malic acid, citric acid, coixol, arundoin, cylindrene, cylindol A, graminone B, imperanene, stigmasterol, campesterol, beta sitosterol,  fernenol, arborinone, arborinol, isoarborinol, simiarenol, anemonin, dan tannin. Alang-alang yang mempunyai rasa manis dan bersifat sejuk ini juga berkhasiat sebagai tonik.

 

PENELITIAN PADA ALANG-ALANG

Jaya Antonius Satrya, Fakultas Farmasi UNAIR melakukan penelitian untuk mengetahui efek antipiretik (pereda demam) infus batang alang-alang pada tikus putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infus batang alang-alang konsentrasi 5%, 10%, dan 20% mempunyai efek antipiretik. Infus batang alang-alang konsentrasi 20% paling kuat efek antipiretiknya.

Lingga Jarliton, Jurusan Farmasi FMIPA USU melakukan penelitian untuk mengetahui efek antipiretik infus bunga alang-alang dibandingkan dengan parasetamol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infus bunga alang-alang dengan konsentrasi 10% dan dosis 12 ml/kgBB mempunyai efek antipiretik yang relatif sama dengan suspensi parasetamol 10% pada merpati.

Rustam Erlina, Apt, MS, dosen dari FK UNAND melakukan penelitian untuk mengetahui perbandingan efek diuretik (peluruh air seni) serta kadar natrium dan kalium darah dan urin antara pemberian ekstrak etanol akar alang-alang dan furosemid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak etanol akar alang-alang 25 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, dan 100 mg/kgBB memiliki efek diuretik yang hampir sama dengan furosemid dosis 0,72 mg/kgBB.

Manfaat lain alang-alang yaitu untuk pengobatan bengkak (karena radang ginjal akut dan infeksi saluran kencing), bengkak karena terbentur (memar), wasir (hemorrhoid), batuk, flu, tekanan darah tinggi, sakit kuning (jaundice).

 

CARA PENGOLAHAN SECARA TRADISIONAL

Rebus akar alang-alang kering sebanyak 15-30 gram  (bila menggunakan yang segar sebanyak 30-60 gram), bunga 5-10 mg dan tunas muda sebanyak 5-10 gram. Bila menggunakan akar segar maka ditumbuk dulu keudian diperas airnya. Bila menggunakan yang kering digiling dulu untuk kemudian dijadikan bubuk, sebelum diseduh.

 

TIPS MENCEGAH PANAS DALAM

  1. Hindari makan makanan yang dapat menyebabkan panas dalam, contoh: buah durian, daging kambing, makanan yang digoreng dan minuman yang mengandung alkohol.
  2. Banyak minum air putih minimal 2,5 liter per hari.
  3. Jaga stamina dan daya tahan tubuh dengan cara:
  • Olahraga secara teratur
  • Istirahat yang cukup
  • Makan makanan bergizi.
LITERATUR:
  1. Dalimartha, Setiawan. 2006. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 4. Puspa Swara. Jakarta. Hal 2.
  2. Wijayakusuma, Hembing. 1996. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia, Jilid 2. Pustaka Kartini. Jakarta. Hal 18.
  3. htpp://fk.unand.ac.id
  4. http://www.adln.lib.unair.ac.id
  5. http://www.scribd.com


Meningkatkan Nafsu Makan dengan Daun Pepaya

Pepaya merupakan tanaman berbentuk pohon, dengan tinggi 8-10 m. Daun dan bunga pepaya dikenal luas sebagai bahan ramuan penambah nafsu makan.

Kandungan zat kimia pepaya cukup banyak. Getahnya mengandung caouthouc, dammar, papain, korposit, dan payotine, sedangkan daunnya mengandung carpaine (alkaloida pahit).

 

PENELITIAN PADA DAUN PEPAYA

Yayi Wulandari Maryudhi, Fakultas Farmasi UMS melakukan penelitian untuk mengetahui peningkatan berat badan dengan pemberian infus daun pepaya. Varian kelompok infus daun pepaya yaitu 20%, 40%, 80% sebagai kontrol positif dan aquades sebagai kontrol negatif. Hasil perhitungan kenaikan konsumsi makanan dan berat badan diketahui infus daun pepaya 80% memiliki pengaruh terhadap kenaikan tersebut.

Dari hasil penelitian Mong Nuraini, Fakultas MIPA UNAIR menggunakan perasan daun pepaya terhadap cacing hati sapi yang diberikan secara in vitro (teknik percobaan dengan mengambil jaringan tubuh dan dikenakan perlakuan di luar tubuh hewan uji). Pengaruhnya tampak nyata pada pemberian dengan konsentrasi 50%, dalam waktu 0,5 jam sudah menimbulkan efek kematian pada cacing hati dan dalam waktu 2 jam semua cacing hati mati. Terbukti tanaman ini mengandung bahan aktif (papain dan korposit) yang berkhasiat sebagai obat anti cacing.

Sukardiman dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga melakukan penelitian dengan ekstrak daun pepaya yang diberikan secara in vitro pada mencit untuk mengamati efek antikanker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya  memiliki aktivitas antikanker terhadap sel kanker mieloma pada mencit.

 

CARA PENGOLAHAN DAUN PEPAYA SECARA TRADISIONAL

Daun pepaya muda ditumbuk sampai lembut lalu diperas dan air perasannya diberi gula. Air perasan ini dapat disimpan selama 12 jam. Ramuan daun pepaya muda ini dapat diberikan pada anak umur satu tahun. Pemberian biasanya dilakukan selama 5 hari.

Seiring kemajuan zaman, daun pepaya sudah banyak dibuat dalam bentuk ekstrak yang sudah dikemas dalam sediaan kapsul sehingga lebih praktis untuk dikonsumsi.

 

TIPS MENAMBAH NAFSU MAKAN

  1. Usahakan tetap makan makanan utama 3x sehari.
  2. Kurangi makan cemilan.
  3. Buatlah variasi menu makanan yang menarik.
  4. Rajin berolahraga, biasanya setelah berolahraga akan merasa lapar.
  5. Minum ramuan penambah nafsu makan.

 

LITERATUR:

  1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1985. Tanaman Obat Indonesia, Jilid 1. Jakarta. Hal 66.
  2. Lucie dkk. 1994. Penelitian Tanaman Obat di Beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia, Jilid VI. Departemen Kesehatan Indonesia. Jakarta. Hal 65.
  3. http://etd.library.ums.ac.id
  4. http://digilib.litbang.depkes.go.id
  5. http://www.kafka.web.id

 

Punya Sahabat Biar Tetap Sehat  

TEMPO Interaktif, Memiliki hubungan sosial yang baik–seperti dengan teman, pernikahan, atau anak–sama baiknya untuk menjaga kesehatan, seperti halnya dengan berhenti merokok, menurunkan berat badan, atau bahkan makan obat. Demikian hasil penelitian di Amerika Serikat dua pekan lalu.

Orang dengan hubungan sosial yang kuat akan 50 persen lebih panjang umur dibanding mereka yang tanpa dukungan hubungan ini. Inilah kesimpulan temuan tim dari Brigham Young University di Utah. “Efek buruknya hubungan sosial sama dengan menghirup 15 batang rokok per hari,” kata Julianne Holt-Lunstad, psikolog yang memimpin penelitian itu.

Tim Holt-Lunstad melakukan analisis terhadap sejumlah penelitian tentang efek hubungan sosial pada kesehatan. Mereka menganalisis 148 penelitian terhadap lebih dari 308 ribu orang yang kehidupannya diikuti selama rata-rata selama tujuh setengah tahun. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal PLos Medicine terbitan Public Library of Science.

Penelitian ini mengukur hubungan sosial dengan beberapa jalan. Seperti yang sederhana, melihat ukuran hubungan sosial yang dimiliki seseorang, misalnya apakah orang tersebut menikah atau tinggal sendirian. Penilaian juga dilihat dari persepsi seseorang, apakah mereka merasa akan ada orang lain yang akan membantunya saat mereka butuh pertolongan. Penilaian lain diambil dari seberapa kuat seseorang terlibat dalam komunitasnya. Hasil penelitian ini kemudian dicek silang dengan usia, jenis kelamin, status kesehatan, dan penyebab kematian saat orang tersebut meninggal.

Memiliki hubungan sosial yang buruk ternyata setara dengan menjadi pecandu alkohol. Ini lebih membahayakan dibanding tidak berolahraga dan dua kali lebih berbahaya dibanding obesitas atau kelebihan berat badan.

Tak memiliki hubungan sosial punya dampak yang lebih besar untuk kematian muda dibanding tidak melakukan vaksinasi untuk mencegah pneumonia atau radang paru-paru di usia muda, tidak mengkonsumsi obat tekanan darah tinggi, atau terpapar udara berpolusi.
“Saya tentu saja bukan menganggap remeh berbagai faktor risiko lain karena tentu saja ini penting untuk menjaga kesehatan,” kata Holt-Lunstad. “Tapi kita perlu menganggap masalah hubungan sosial sebagai sesuatu yang serius juga.”

Memang tak mudah untuk tiba-tiba saja menyuruh orang untuk punya sahabat atau tidak. Tapi menurut Holt-Lundstad, ada sejumlah bukti yang menyatakan bahwa menggaji orang untuk menemani seseorang sebagai pengurus tidak termasuk dalam upaya meningkatkan kesehatan. Misalnya pada kelompok usia lanjut yang mendapatkan seorang perawat, yang digaji anak-anaknya, untuk mengurusi mereka. “Alaminya, menjalin hubungan sangat berbeda dengan mendapatkan dukungan dari seseorang yang dibayar untuk tujuan itu,” kata Holt-Lunstad.

Lalu bagaimana kehidupan sosial kita bisa mempengaruhi kesehatan kita? Holt-Lunstad menjelaskan, keberadaan orang yang dekat secara emosional di sekeliling kitalah yang membuat kita mampu menghadapi stres hidup–sesuatu yang diketahui bisa menyebabkan kematian jika tak tertahankan.

“Saat kita menghadapi kejadian yang potensial menimbulkan stres dalam hidup kita, kita tahu bahwa ada orang-orang di sekeliling kita yang bisa kita andalkan. Ini menjadikan kita percaya bahwa mereka akan membuat kita mampu menghadapinya. Bisa juga keberadaan mereka mencegah berbagai efek negatif dari stres,” kata Holt-Lunstad.

Sahabat atau orang dekat juga bisa mendorong berbagai perilaku sehat–juga tak sehat–yang bisa mempengaruhi hidup. Misalnya, teman kita mungkin bisa mengingatkan untuk makan lebih baik, berolahraga, cukup tidur, atau mengunjungi dokter. Memiliki hubungan sosial juga memberi arti dalam hidup kita dan mungkin mempengaruhi kita untuk menjaga diri kita lebih baik.

| UTAMI WIDOWATI | REUTERS | LIVESCIENCE | BE

Sehat Itu Rasanya:

-Merasa puas dalam menjalani hidup.
-Punya semangat menjalani hidup dan bisa tertawa dan bersenang-senang.
-Mampu menghadapi stres dan mengatasi kesulitan hidup.
-Merasa punya arti dan tujuan dalam hidup, baik dalam tiap aktivitas atau hubungan sosial.
-Punya kelenturan untuk mempelajari hal-hal baru dan beradaptasi dengan perubahan.
-Seimbang dalam bekerja, bermain, beristirahat, dan beraktivitas lainnya.
-Mampu membangun dan mempertahankan hubungan yang saling memuaskan dengan pasangan.
-Punya kepercayaan diri yang tinggi dan citra diri yang baik.

Ayo Mencari Teman

-Sesekali berpalinglah dari televisi, layar komputer, dan layar ponsel. Jangan ganti persahabatan nyata dengan yang sifatnya virtual.
-Luangkan waktu beberapa jam dalam sehari untuk kontak bertemu wajah dengan orang-orang yang disukai. Pilih teman, tetangga, kerabat, atau anggota keluarga yang seirama dan punya pandangan yang positif pada Anda.
-Ikuti kegiatan sosial yang bersifat sukarela. Lakukan sesuatu yang bisa menolong orang lain yang membutuhkan.
-Ikuti berbagai kegiatan yang memberi peluang bertemu dengan berbagai macam manusia yang mungkin punya selera dan minat yang sama dengan Anda, orang yang berpotensi menjadi teman Anda.

| BERBAGAI SUMBER

Jimat Keberuntungan Agar Lebih Percaya Diri

VIVAnews – Anda akan memenuhi panggilan wawancara atau presentasi di depan klien? Agar bisa lebih percaya diri di depan orang banyak, mungkin Anda perlu memiliki jimat keberuntungan.

Menurut penelitian yang dilakukan tim dari University of Cologne, Jerman, benda keberuntungan seperti gelang, cincin, batu spesial atau perhiasan sentimentil sering dianggap membawa keberuntungan. Benda tersebut sering dipakai ketika seseorang akan mengalami saat penting dalam hidupnya.

Penelitian melibatkan warga Jerman yang diminta untuk menggunakan benda keberuntungan. Hasil penelitian menunjukkan saat menggunakan benda tersebut, mereka lebih baik dalam menyelesaikan permainan memori di komputer. Hal itu dibandingkan yang tidak menggunakan benda keberuntungan sama sekali.

“Benda takhayul rupanya meningkatkan kepercayaan diri seseorang,” kata salah satu peneliti, Lysann Damisch seperti dikutip dari NY Daily News.

“Dengan kata lain, jika seseorang menggunakan benda keberuntungan, maka ia akan merasa lebih percaya diri dan aman. Hal itu membuatnya berusaha lebih keras dan lebih baik dalam menyelesaikan tugas,” katanya menambahkan

Banyak atlet dunia yang selalu menggunakan benda keberuntungannnya saat bertanding. Seperti Serena Williams yang memiliki kaus kaki keberuntungan dan Michael Jordan yang menggunakan celana pendek semasa kuliahnya.

Benda keberuntungan sebenarnya hanya cukup untuk meningkatkan rasa percaya diri, ketika Anda berada dalam situasi yang menakutkan. Seperti wawancara pekerjaan, sidang kuliah atau presentasi, Anda mungkin akan lebih percaya diri dan nyaman jika memakai kalung favorit.

• VIVAnews

Aktivitas Fisik Mengurangi Risiko Menurunnya Kognitif  

TEMPO Interaktif, Maryland – Perempuan yang aktif secara fisik pada setiap tahap kehidupannya (remaja, usia 30 tahun, umur 50, usia lanjut) memiliki risiko yang lebih rendah terkena kerusakan kognitif pada masa tuanya, dibandingkan dengan yang tidak aktif. Namun aktivitas fisik saat remaja tampaknya paling penting. Ini adalah temuan kunci dari penelitian yang melibatkan lebih dari sembilan ribu perempuan.

Hasil penelitian dipublikasikan Journal of the American Geriatrics Society edisi 30 Juni 2010, sebagaimana dikutip ScienceDaily 30 Juni 2010.

Ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif secara fisik pada pertengahan dan akhir kehidupannya memiliki kesempatan yang lebih rendah dan lebih kecil terkena demensia–sebuah bentuk penurunan kognitif pada usia tua.

Para peneliti yang dipimpin oleh Laura Middleton, PhD, dari Pusat Ilmu Kesehatan Sunnybrook, Kanada, membandingkan aktivitas fisik dan kognisi pada remaja, usia 30 tahun, usia 50, dan usia lanjut dari 9.344 perempuan dari Maryland, Minnesota, Oregon dan Pennsylvania, untuk meneliti efektivitas aktivitas pada tahap kehidupan yang berbeda.

“Studi kami menunjukkan bahwa perempuan yang aktif secara fisik secara teratur pada usia berapa pun memiliki risiko yang lebih rendah terkena penurunan kognitif daripada mereka yang tidak aktif, tapi aktif secara fisik pada usia remaja yang paling penting dalam mencegah kerusakan kognitif,” kata Middleton.

Para peneliti juga menemukan bahwa wanita yang secara fisik tidak aktif pada saat remaja tetapi menjadi aktif secara fisik pada usia 30 dan usia 50 tahun secara signifikan mengurangi kemungkinan kerusakan kognitif.

Middleton menambahkan, “Sebagai hasilnya, untuk meminimalkan risiko demensia, kegiatan fisik harus didorong sejak dini.”

ScienceDaily/NgartoF

Ditemukan Mekanisme Otak yang Mendorong Keberanian  

TEMPO Interaktif, Israel  – Para ilmuwan dari Israel telah menemukan secara detail mekanisme otak yang berhubungan dengan keberanian. Temuan ini dimuat di jurnal Neuron, 24 Juni 2010.

Peneliti menggunakan MRI fungsional untuk memindai aktivitas otak para sukarelawan ketika mereka memutuskan apakah akan memindahkan sebuah beruang mainan atau ular jagung hidup lebih dekat atau lebih jauh dari mereka. Sebelum penelitian ini, para peserta telah diklasifikasikan sebagai “takut” atau “tidak takut” berdasarkan kuesioner tentang ketakutan terhadap ular.

Hasil scan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas di daerah otak yang disebut subgenual anterior cingulate cortex (sgACC) ketika peserta memilih untuk bertindak berani.

Pemimpin penelitian, Dr Yadin Dudai, dari Institut  Ilmu Pengetahuan Weizmann, mengatakan, “Hasil penelitian kami mengajukan sebuah penjelasan mengenai proses dan mekanisme otak yang mendukung aspek menarik dari perilaku manusia, kemampuan untuk melakukan tindakan sukarela yang berlawanan dengan yang didorong oleh ketakutan terus-menerus, yaitu keberanian.”

Peneliti mengatakan bahwa temuan ini menggambarkan pentingnya mempertahankan aktivitas sgACC yang tinggi untuk mengatasi rasa takut terus-menerus.

HealthDay News/NgarF

Menara Pemancar Telepon Seluler Tidak Sebabkan Kanker

TEMPO Interaktif, London-  Tinggal di dekat sebuah menara telepon seluler saat Anda sedang hamil tidak meningkatkan risiko bayi Anda terkena kanker, menurut peneliti Inggris, Paul Elliott, dan rekannya, sebagaimana dimuat dalam bmj.com 23 Juni 2010.

Pemimpin peneliti, Dr Paul Elliott, profesor epidemiologi dan obat-obatan kesehatan masyarakat di Imperial College London, mengatakan bahwa hasil penelitian ini menepis kemungkinan risiko kanker pada anak-anak muda yang tinggal di dekat menara pemancar telepon seluler (BTS/base station).

“Ada kekhawatiran dalam masyarakat tentang kemungkinan yang timbul dari emisi tiang ponsel terhadap kesehatan anak-anak,” kata Elliott. “Studi nasional ini tidak menemukan hubungan antara paparan BTS dan risiko kanker anak usia dini.”

Peneliti juga mencatat bahwa tidak ada penjelasan radiobiologi untuk masalah ini.

Dalam penelitian ini, tim Elliott mengumpulkan data 1.397 anak-anak dengan leukemia atau kanker otak, atau tumor sistem saraf pusat, berusia antara kurang dari satu tahun sampai 4 tahun.

Sebagai perbandingan, para peneliti mengidentifikasi kelompok kontrol anak-anak yang tidak menderita kanker dan dicocokkan kepada orang lain dengan jenis kelamin dan tanggal lahir. Para peneliti juga mencatat anak-anak yang tinggal dekat sebuah menara sel saat lahir dan daya keluaran menara.

Para peneliti tidak menemukan hubungan antara risiko kanker anak usia dini dan paparan BTS yang diterima sang ibu selama kehamilan.

John Bithell, rekan Elliott dalam penelitian ini, mengatakan bahwa tingkat paparan dari menara ponsel jauh lebih rendah dibandingkan dari ponsel genggam, dan percobaan telah memperlihatkan tidak ada efek biologis dari paparan frekuensi radio. Untuk saat ini, “Profesi medis harus meyakinkan para pasien untuk tidak perlu khawatir tentang kemungkinan ini,” kata Bithell.

HealthDay/NF

Benarkah Pasangan Egois Lebih ‘Hot’ Bercinta

VIVAnews – Sikap egois atau mementingkan diri dalam hubungan asmara memang dianggap negatif. Tetapi, menurut penelitian yang dilakukan tim dari Kwantlen Polytechnic University di Vancouver, Kanada,  sikap ini justru menandakan orang tersebut sangat mengagumkan saat bercinta. Bahkan, lebih baik dari seseorang yang fokus pada kebutuhan dan keinginan pasangannya.

Dari penelitian yang berjudul ‘Emerging Adulthood: An Age of Sexual Experimentation or Sexual Self-Focus?’, peneliti mengungkapkan, seseorang yang menjadikan keinginannya sebagai prioritas utama, menurut pasangannya kehidupan seksnya lebih memuaskan.

Hasil penelitian ini cukup mengejutkan, mengingat banyak yang mengira sikap egois harus ditinggalkan saat berhubungan seksual agar mendapatkan kepuasan satu sama lain. Para peneliti menyimpulkan bahwa seorang ‘pecinta egois’ membuat seks lebih menyenangkan untuk pasangannya, karena rasa keinginan yang tinggi. Fokus utama pada dirinya membuat suasana bercinta menjadi lebih menggairahkan.

“Kami menemukan, fokus diri dan rasa egois yang menurun bisa membuat kepuasaan bercinta juga menurun,” kata salah seorang peneliti seperti dikutip dari Glamour.com.

Mereka yang berhubungan seks di luar kebiasaan atau mereka yang memfokuskan hanya pada kebutuhan pasangannya tidak akan mendapat kepuasaan bercinta sama seperti yang bersifat egois. Jadi, jika seseorang hanya fokus mendapatkan apa yang mereka inginkan saat bercinta dan terlihat egois, perilaku egosentris ini justru memiliki  efek samping positif, yaitu menyenangkan dan memuaskan pasangannya. (pet)

• VIVAnews

Next Page »

12 queries