Asupan Daging Pengaruhi Masa Pubertas Anak
VIVAnews – Remaja putri yang banyak mengonsumsi daging selama masa kanak-kanak cenderung mengalami masa pubertas lebih dini ketimbang rekan sebayanya.
Peneliti Inggris dalam sebuah studi membandingkan diet lebih dari 3.000 gadis berusia 12 tahun. Mereka menemukan, konsumsi daging tinggi sejak usia tiga tahun (lebih dari delapan porsi seminggu) dan usia tujuh tahun (lebih dari 12 porsi) sangat terkait dengan terjadinya masa menstruasi lebih awal.
Bahkan, anak perempuan usia tujuh tahun dengan konsumsi daging tinggi memiliki peluang lebih tinggi 75 persen mengalami haid dibandingkan anak dengan asupan daging wajar.
Hasil temuan yang dipublikasikan dalam Public Health Nutrition, menyatakan daging mempersiapkan tubuh untuk mempercepat kehamilan. Daging merupakan sumber makanan kaya akan zat besi dan seng yang membantu terciptanya peluang kehamilan. Selain memicu pubertas lebih cepat, diet daging juga meningkatkan obesitas dan berdampak pada hormon.
Pubertas dini pada remaja putri dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Kemungkinannya, wanita memproduksi hormon estrogen lebih tinggi selama kehidupannya.
Dr Ken Ong, pediatrik endokrinologi di Medical Research Council, mengatakan telah terjadi pergeseran waktu menstruasi pada wanita selama satu abad terakhir.
“Ini (pergeseran waktu menstruasi) tidak berhubungan dengan ukuran tubuh wanita yang makin besar, melainkan disebabkan oleh efek protein dan kadar hormon tubuh.” (umi)
• VIVAnews
Perokok Pasif Dapat Menderita Gangguan Kejiwaan
TEMPO Interaktif, London – Perokok pasif dapat mengalami gangguan kejiwaan dan risiko dirawat di rumah sakit karena masalah kejiwaan. Hal ini dijelaskan dalam sebuah laporan yang dikirim secara online dan akan terbit di Archives of General Psychiatry edisi cetak Agustus 2010.
Kata penulis artikel tersebut, paparan asap buangan dari para perokok aktif punya dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan fisik. “Yang sangat lazim terjadi pada perokok pasif—di Amerika Serikat diperkirakan 60 persen orang Amerika yang tidak perokok menjadi perokok pasif.
Mark Hamer, Ph.D. dari University College London dan koleganya meneliti 5.560 orang dewasa yang tidak merokok (dengan usia rata-rata 49,8 tahun) dan 2.595 perokok (berusia rata-rata 44,8 tahun) yang tidak memiliki sejarah sakit jiwa. Mereka melakukan survei yang disebut the Scottish Health Survey pada 1998 atau 2003.
Orang-orang tersebut diteliti dengan menggunakan kuisioner mengenai gangguan kejiwaan. Peneliti juga melacak frekuensi mereka masuk rumah sakit jiwa selama lebih dari enam tahun. Perokok pasif dan orang yang tidak merokok diuji dengan menggunakan tingkat kotinin dalam air ludah. Kotinin adalah hasil utama yang terbentuk dari nikotin yang terurai dalam tubuh.
Sebanyak 14,5 persen dari orang yang diteliti itu tercatat mengalami gangguan kejiwaan. Orang yang tidak merokok namun menjadi perokok pasif (dengan tingkat kotinin antara 0,70 dan 15 mikrogram per liter) memiliki kemungkinan yang tinggi mengalami gangguan kejiwaan bila dibandingkan dengan mereka yang tidak terkena kotinin.
Dalam jangka waktu enam tahun berikutnya, sebanyak 41 orang dirawat di rumah sakit jiwa. Perokok dan orang yang tidak merokok namun menjadi perokok pasif dirawat di rumah sakit karena depresi, schizophrenia, gila, atau kondisi kejiwaan lainnya.
Data pada hewan menunjukkan bahwa tembakau mengakibatkan suasana hati yang negatif. Sedangkan penelitian pada manusia memperlihatkan hasil adanya hubungan yang erat antara merokok dan depresi. “Jika digabung, karenanya, data kami sesuai dengan bukti yang memperlihatkan adanya hubungan sebab akibat antara nikotin dan kesehatan jiwa,” kata penulis.
“Berdasarkan pengetahuan kami, ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan adanya hubungan yang memungkinkan antara perokok pasif dan kesehatan jiwa berdasarkan sampel populasi secara umum,” mereka menyimpulkan.
SCIENCE DAILY / FANNY FEBIANA
Cermat Mengelola Keuangan Saat Liburan
KOMPAS.com - Anda berencana bepergian bersama keluarga atau teman-teman di musim liburan ini? Yang perlu Anda persiapkan menjelang liburan nanti tentunya bukan hanya akomodasi dan lokasi wisata, tetapi juga keuangan. Enggak asyik kan, kalau Anda kehabisan uang saat liburan masih berjalan?
Anda bisa mengikuti tips mengatur anggaran liburan dan pengeluaran dari Visa, berdasarkan riset terhadap 7.500 pelancong di seluruh Asia Pasifik berikut ini:
1. Susun rencana dan anggaran liburan jauh sebelum keberangkatan. Untuk menghindari pengeluaran tak terduga ketika dalam perjalanan, rencanakan anggaran liburan dan lakukan identifikasi kegiatan dan pembelian yang menimbulkan alokasi dana yang besar, sehingga harga yang muncul tidak mengagetkan.
Di samping itu, pemegang kartu harus memberitahukan bank penerbit kartu masing-masing sebelum berangkat, untuk menghindari gangguan terhadap kartu Anda. Selalu ingat nomor PIN Anda, namun jangan menyimpannya di ponsel atau dompet. Untuk berjaga-jaga, buat pembayaran otomatik untuk kartu kredit, dan pastikan Anda memiliki dana cukup dalam rekening debit Anda.
Menurut hasil riset Visa travel, para pelancong memerlukan waktu rata-rata 14 minggu untuk merencanakan liburan mereka. Tiga perempat dari responden juga mengatakan bahwa mereka lebih memilih untuk merencanakan dan memesan liburan secara online. Internet merupakan sumber yang sangat bermanfaat untuk mendapatkan informasi perjalanan dan mengecek cara-cara pembayaran yang tersedia di tempat tujuan liburan.
2. Cek penawaran untuk tujuan liburan Anda. Untuk merencanakan anggaran perjalanan dengan lebih lebih rinci, para pelancong perlu mengecek promo-promo lokal di (negara) tempat tujuan mereka, mulai dari tinggal di hotel gratis sampai dengan diskon di restoran-restoran. Dengan demikian, Anda dapat menikmati akses terhadap promo tersebut namun dengan biaya yang hemat. Untuk Anda pemegang kartu Visa, dapatkan informasi mengenai biaya-biaya liburan dengan mengunjungi www.visagoexplore.com.
3. Hindari membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Semakin sedikit uang tunai yang dibawa semakin sedikit risikonya. Keamanan pribadi semakin meningkat dengan menggunakan metode-metode pembayaran elektronik Visa seperti kartu debit, kartu kredit, atau kartu pra-bayar (prepaid card).
Hampir satu dari dua orang responden (45 persen) mengatakan bahwa alasan utama memilih menggunakan kartu pembayaran elektronik daripada uang tunai atau cek perjalanan untuk transaksi di luar negeri adalah untuk memperkecil risiko. Hanya 4 persen dari para pelancong berpendapat bahwa membawa uang tunai itu aman. Jika uang tunai hilang atau dicuri, uang tersebut akan hilang untuk selamanya sedangkan kartu Visa dapat diganti dengan menelepon bank penerbit.
Pelancong yang mencari cara cermat untuk membayar akan merasa lebih nyaman mengetahui bahwa Visa diterima di jutaan lokasi merchant di dunia.
4. Gunakan ATM untuk cara aman, nyaman, dan mudah ke anggaran. Untuk menghindari membawa uang tunai dalam jumlah besar, dua per tiga (64 persen) dari responden memilih untuk mengambil uang tunai dari ATM di daerah tujuan mereka. Terdapat lebih dari 1,6 juta ATM berlogo Visa di dunia, termasuk bandara-bandara utama, menjadikan lebih mudah dan nyaman untuk mengakses anggaran. Pemegang kartu dapat mencari ATM berlogo Visa atau PLUS untuk memastikan bahwa kartu pembayaran internasional diterima.
Ellyana Fuad, Country Manager Indonesia Visa, mengatakan, “Kartu menyediakan mata uang tunggal yang diterima secara global, dan pelancong dapat mengakses uang mereka dengan mudah ketika bepergian, dan tidak perlu menarik uang tunai dalam jumlah besar sebelum melakukan perjalanan. Dalam waktu 24-jam ATM tersedia di bandara-bandara dan tujuan wisata utama. Pelancong dapat mengakses uang mereka dengan mudah dan memperoleh mata uang lokal dengan nyaman.”
5. Simpan rincian kartu yang penting dan nomor telepon darurat di tempat yang aman dan mudah dibawa. Apabila terjadi hal yang tidak diharapkan, para pelancong bisa menelepon Visa Global Customer Assistance Service (GCAS) untuk membatalkan kartu-kartu dan mengurus pergantiannya dengan cepat. Sebuah kartu pembayaran Visa juga memberikan proteksi bebas tanggung jawab (zero liability) terhadap pembelian-pembelian yang tidak sah (unauthorized). Hal ini lebih menguntungkan jika dibanding menggunakan cek perjalanan atau uang tunai.
Ketika kembali dari liburan, periksa laporan pembayaran kartu dan segera menghubungi bank penerbit jika ada biaya-biaya yang tidak benar atau mencurigakan.
Sumber: Visa
Editor: din






