ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


“Bancassurance”, Bisa Memudahkan Nasabah Bank


KOMPAS.com – Belakangan ini perbankan banyak melakukan hubungan kerja dengan perusahaan asuransi. Bahkan, banyak perusahaan asuransi mencoba melakukan kerja sama yang cukup intens dengan perbankan.

Kita bisa lihat berita di surat kabar, ketika sebuah perusahaan asuransi melakukan penandatanganan dengan sebuah bank untuk menawarkan produknya. Bank tersebut menawarkan produk asuransi dari perusahaan asuransi. Pihak bank menyebutnya bancassurance.

Artinya, bancassurance diperoleh dari dua kata, yaitu bank dan asuransi. Bancassurance bukan menyatakan bahwa semua produk bank tersebut diasuransikan atau semua produk bank tersebut semakin terjamin. Saat ini produk perbankan secara umum dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), di mana untuk deposit maksimum Rp 2 miliar.

Bank mau menawarkan produk asuransi untuk meningkatkan fee-base bank yang bersangkutan. Oleh karena itu, bank mendirikan sebuah divisi tersendiri untuk menawarkan produk asuransi ini yang dikenal divisi bancassurance. Adanya divisi ini membuat bank tersebut menjadi sebuah usaha yang menawarkan semua produk yang diinginkan nasabahnya.

Bila nasabah merasa tidak nyaman dengan produk banknya karena investasi melebihi penjaminan, maka nasabah bisa meminta asuransi atas produk tersebut. Penawaran produk asuransi ini awalnya ditawarkan kepada nasabah spesial yang dikenal nasabah prioritas karena dana yang dimilikinya cukup besar di bank yang bersangkutan.

Namun, karena fee-base yang diterima cukup besar, maka selayaknya produk ini dibuat menjadi produk massal sehingga timbullah divisi bancassurance tersebut.

Bagi karyawan bank, penawaran produk ini membuat kepercayaan menjadi lebih meningkat karena mereka bisa menawarkan lebih banyak produk kepada nasabah. Kemampuan staf juga semakin meningkat. Pengetahuan yang bertambah akan meningkatkan karier karyawan bersangkutan. Di sisi lain, ini juga menjadi cara menahan konsumen agar tidak lari ke bank yang lain.

Kenapa perusahaan asuransi menggunakan bank untuk memasarkan produk asuransinya? Padahal, selama ini perusahaan asuransi mempunyai pemasar yang cukup andal, bahkan mereka umumnya ”bermuka tembok” untuk menawarkan produknya agar bisa diterima publik.

Perusahaan asuransi merasa lebih aman dan efisien bila melakukan pemasaran dengan menggunakan bank. Konsumen yang datang ke bank umumnya sudah melek mengenai produk investasi dan asuransi.

Perusahaan asuransi juga tidak perlu mempersiapkan kantor untuk para agen penjual asuransi yang dimiliki bank karena bank umumnya mempunyai cabang. Perusahaan asuransi menjadikan bank sebagai perpanjangan distribusi (channel distribution) untuk menawarkan produknya.

Perusahaan asuransi hanya mendidik agen-agen yang bekerja di bank tersebut untuk menjual produknya. Adanya produk asuransi di bank tersebut membuat perusahaan asuransi lebih terpercaya karena dana yang diterima langsung bisa masuk ke rekening perusahaan asuransi di bank tersebut. Penjualan produk asuransi melalui bank akan lebih tepat karena sudah menggunakan teknologi yang sesuai, berhubung bank selalu menggunakan teknologi dalam menawarkan produk.

Pertanyaan yang timbul, produk asuransi apa saja yang ditawarkan oleh bank kepada konsumennya? Produk asuransi dapat dikelompokkan menjadi produk asuransi jiwa dan produk asuransi nonjiwa. Adapun produk asuransi nonjiwa seperti asuransi kebakaran rumah, asuransi kredit rumah, asuransi kehilangan barang, terutama untuk mobil, dan sebagainya. Adapun produk asuransi jiwa seperti asuransi seumur hidup dan asuransi jiwa berjangka. Semua produk ini diminati masyarakat yang mempunyai pandangan jauh ke depan.

Konsumen akan bertanya, kenapa harus membeli produk bancassurance dari bank, dan kenapa tidak langsung kepada perusahaan asuransi tersebut? Konsumen akan mendapatkan kemudahan dan efisiensi bila membelinya dari bank. Misalkan, bila konsumen sudah punya rencana untuk membeli produk asuransi jiwa dan bertanya langsung kepada marketing atau agen di bank tersebut. Pihak bank akan membantu konsumen untuk menghitung seluruh kebutuhan dan langsung melakukan transfer di bank yang bersangkutan.

Waktu yang dibutuhkan konsumen akan lebih sedikit karena tidak perlu mondar-mandir untuk mendapatkan formulir dan mentransfer dana untuk membayar premi asuransi. Bahkan, konsumen bisa menyimpan sertifikatnya di bank yang bersangkutan pada safety box yang tersedia.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai pelaku bancassurance, peminat penawaran ini semakin meningkat.

Total penjualan premi yang dilakukan para agen asuransi dibandingkan yang dijual melalui bank sudah hampir sama. Sebelumnya, penjualan melalui agen yang dikenal dengan penjualan konvensional cukup mendominasi. Dengan demikian, telah terjadi pergeseran penjualan produk asuransi.

Konsumer tidak perlu sungkan menanyakan kepada marketer bank untuk mendapatkan bancassurance. Mudah-mudahan tindakan tersebut dapat mempermudah dan membantu konsumen.

(Adler Haymans Manurung, praktisi keuangan)

 

Editor: din

Sumber: Kompas Cetak

Konsumsi, Investasi, dan Pensiun

money

Sebagai keluarga muda yang baru saja mulai menempuh kehidupan rumah tangga, kita harus pandai mengatur keuangan agar pada saatnya nanti kita dapat pensiun dengan uang yang cukup, sehingga tidak menjadi beban anak cucu kita.

Mengapa urusan pensiun harus dipikirkan sekarang? Mungkin pertanyaan itulah yang timbul di benak kita, karena harus diakui justru pada usia muda inilah produk-produk konsumtif amat menggoda iman kita. Seperti produk fashion, telepon genggam, produk elektronik, mobil, dan banyak lagi produk konsumtif yang gencar diiklankan ‘khusus untuk kaum muda’. Hal-hal yang konsumtif inilah yang dibaca oleh lembaga pembiayaan sehingga sekarang banyak dikeluarkan paket kredit konsumtif.

Pada usia muda atau usia produktif sekarang ini adalah waktu dimana kita masih memiliki tenaga besar untuk dapat menghasilkan pendapatan yang cukup, namun usia ini juga memiliki batasan. Karena itu jika pola hidup konsumtif berlebihan dibiarkan berlarut-larut akan berakibat pada masa pensiun yang miskin dan merana secara keuangan. Hal ini bisa terlihat pada penghasilan kita yang setiap bulannya habis untuk membayar hutang konsumtif kita tanpa tersisa dana untuk investasi masa pensiun.

Agar masa pensiun kita bahagia dan sejahtera, ada baiknya kita mulai pandai-pandai memilah kebutuhan konsumtif kita, dan menempatkan skala prioritas. Usahakan setiap bulannya disiplin menyisihkan untuk masa pensiun kita.

Secara teoritis, siklus investasi adalah sebagi berikut:

  • Fase Akumulasi. Usia 25 – 35 tahun dan tengah memulai karier atau tengah perjalanan karier. Pada usia ini seseorang akan berusaha mengakumulasikan aset untuk tujuan jangka pendek, misalnya kredit rumah, biaya kelahiran atau pendidikan anak. Pada usia ini porsi hutang biasanya lebih tinggi daripada kekayaan. Namun pada usia ini penghasilan terus bertumbuh, dan usia masih muda sehingga seseorang biasanya akan melakukan investasi resiko tinggi dengan harapan memperoleh imbal hasil yang tinggi pula.
  • Fase Konsolidasi. Usia 35 – 55 tahun dan berada pada pertengahan atau akhir perjalanan karier. Biasanya sudah melunasi hampir seluruh hutangnya dan memiliki sejumlah aset untuk membiayai pendidikan anak. Pada fase ini seharusnya penghasilan sudah melebihi pengeluaran, sehingga sisanya dapat digunakan persiapan masa pensiun.
  • Fase Pembelanjaan. Fase dimana seseorang sudah memasuki usia pensiun yakni 55 tahun keatas. Biaya hidup diharapkan berasal dari investasi pada fase sebelumnya. Ini adalah masa untuk menikmati hidup, walaupun tidak menutup kemungkinan (biasanya pada orang asia) pada usia ini orang tetap berkarya baik secara formil ataupun sekedar untuk menyalurkan hobi. Karena memang tidak mudah mengubah irama aktivitas harian selama kurang lebih 35 tahun.

12 queries