ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


Perlengkapan Persalinan

Bagi ibu hamil yang akan melahirkan, maka satu hal yang tak boleh luput dari perhatian dan harus segera untuk disiapkan adalah perlengkapan persalinan. Perlengkapan untuk persalinan ini adalah barang yang akan diperlukan bagi ibu ketika akan menghadapi masa persalinan termasuk pada saat melahirkan.

Selain hal itu, perlengkapan persalinan juga menyangkut semua barang yang akan dibutuhkan oleh bayi segera setelah ia berhasil dilahirkan oleh si ibu ke dunia. Jadi ang dimaksud dengan perlengkapan untuk persalinan ini adalah menyangkut segala hal yang akan dibutuhkan oleh ibu dan juga bayi mendekati masa persalinan.

Bagi si ibu, perlengkapan persalinan yang ia butuhkan adalah beberapa potong baju yang ia kenakan saat mengalami kontraksi ataupun saat akan melahirkan si bayi. Karena tentu pada saat ini, si ibu akan mengeluarkan darah dan juga lendir yang akan mengotori baju yang dikenakan.

Maka dari itu, baju yang disiapkan haruslah lebih dari satu, sebut saja dua potong baju. Hal lain adalah sarung, saru adalah kain yang akan menutupi bagian bawah tubuh si ibu namun akan lebih mudah untuk dibuka ketiak bidan atau dokter membantu ibu dalam proses persalinan.

Setelah anak dilahirkan maka ibu akan membutuhkan baju baru yang akan dikenakan olehnya. Kalaupun bisa baju tersebut adalah baju untuk menyusui, yaitu yang memiliki kancing di depan. Karena tentunya si ibu akan segera untuk menyusui bayinya yang baru saja dilahirkan.

Selain itu, ibu baru melahirkan juga membutuhkan untuk memakai gurita bagi orang dewasa yang akan dipakai untuk membungkus perutnya. Karena perutnya pastilah akan terasa sangat kendor setelah si bayi keluar.

Tak lupa, perlengkapan bagi si ubu adalah pembalut khusus bersalin. Pembalut ini akan memiliki ukuran yang lebih besar daripada ukuran pembalut yang biasanya dipakai wanita saat menstruasi bulanan.

Bagi bayi, perlengkapan untuk persalinan yang perlu untuk disiapkan oleh si ibu adalah satu pasang baju bayi untuk dikenakan segera setelah dilahirkan. Tak lupa ibu juga membawakan handuk untuk membungkus bayi setelah dimandikan.

Satu pasang baju bayi lengkap ini adalah baju dalaman, baju atasan, popok, sarung tangan dan kaki, dan termasuk adalah gedongan. Gedongan amat dibutuhkan bagi si bayi yang baru lahir untuk membuat bayi menyesuaikan diri dengan suhu yang ada di luar tubuh si bayi. Tak lupa bayi dapat memaai topi dan juga dibungkus dengan selimut.

Itulah beberapa perlengkapan persalinan yang diperlukan untuk disiapkan ibu beberapa hari sebelum hari perkiraan melahirkan. Biasanya semua perlengkapan ini disiapkan dan ditaruh di dalam tas besar. Sehingga kapanpun ibu merasakan akan melahirkan si bayi, maka ibu dan siapa saja yang akan mendampingi ibu melahirkan akan dengan mudah membawa tas besar ini untuk dibawa ke rumah sakit atau rumah bersalin.

Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir

Kelahiran seorang buah hati memang sangat diinginkan oleh semua pasangan suami istri. Kelahiran pada umunya disambut dengan senang hati dan suka cita. Tidak hanya oleh pasangan suami istri namun juga oleh keluarga kedua belah pihak. Kebahagiaan tersebut tentunya juga dibarengi perasaaan khawatir. Dikarenakan selama proses melahirkan tingkat kesehatan wanita menurun drastis. Entah itu disebabkan oleh pendarahan atau bahkan bayi yang susah keluar. Oleh sebab itu ada cara melahirkan yang disebut cesar. Cesar adalah operasi yang dilakukan apabila kemampuan si calon ibu untuk mendorong bayi keluar tidak memadai atau bayi tersebut memeang mengalami masalah jika dilahirkan secara normal. Jadi untuk kepentingan keselamatan si calon ibu dilakukanlah operasi cesar.

Kekhawatiran tersebut belum selesai. Karena Kesehatan Ibu dan Bayi yang Baru Lahir sangat perlu diperhatikan. Ibu yang baru melahirkan berada pada tahap yang paling lemah disebabkan oleh kehilangan banyak darah dan tenaga. Maka dari itu biasanya ibu yang baru melahirkan terlihat pucat dan lemas, meskipun proses melahirkan dilakukan seara cesar. Kesahatan si ibu sangat ditentkan oleh asupan gizi dan kegiatan yang dilakukannya. Biasanya untuk ibu yang melahirkan normal, tenaga yang dikeluarkan lebih besar daripada ibu yang melahirkan cesar. Sehingga asupan gizi sangat perlu diberikan secara cepat setelah melahirkan. Biasanyah ibu yang baru melahirkan akan diberi asupan gizi lewat pemeberian infus. Bahkan bila ibu mengeluarkan darah terlalu banyak maka akan segera dilakukan tranfusi darah untuk mengganti darah yang telah dikeluarkan.

Kesehatan ibu yang melahirkan secara cesar juga patut mendapat perhatian lebih. Cesar adalah salah satu bentuk operasi yang dimana dalam kegiatan operasi selalu ada presentase kegagalannya. Jadi sebelum dan sesudah operasi kesehatan ibu akan ditinjau berulang kali. Biasanya setelah melakukan proses melahirkan secara cesar, si ibu akan diberi tranfusi darah secukupnya. Hal ini dikarenakan luka yang disebabkan oleh operasi cesar cukup besar dan pasti mengeluarkan cukup banyak darah. Bagi ibu yang baru saja melahirkan sangat tidak dianjurkan untuk melakukan banyak kegiatan, apalagi yang menguras tenaga. Bahkan hanya untuk berjalan bagi ibu yang baru melahirkan akan terasa berat. Ibu yang baru melahirkan juga tidak diperkenankan naik atau turun tangga. Sebagai ganti dari kehilangan tenaga yang cukup banyak setelah melahirkan dapat diberikan makanan yang mengandung banyak gizi kepada si ibu.

Sedangkan untuk bayi yang baru lahir sangat membutuhkan penanganan khusus. Karena baru saja menghirup hawa dunia di luar kandungan, bayi membutuhkan proses adaptasi. Organ tubuh yang belum berfungsi secara optimal menjadi perhatian dalam menanganni dan merawat bayi yang baru lahir. Penggunaan sabun untuk memandikan bayi perlu diperhatikan. Disarankan untuk menggunakan sabun yang memiliki tingkat keasaan yang tidak dapt merusak kulit bayi. Kesehatan bayi juga dipengaruhi keadaan sekitar. Tidak disaranakan bagi orang yang sedang sakit flu untuk mendekat ke bayi karena penyakit tersebut dapat cepat menular kepada bayi.

Tumbuh Kembang Bayi

Setiap pasangan suami istri selalu mendambakan hadirnya buah hati di dalam kehidupan mereka. Anak ibarat malaikat yang datang untuk mempererat tali cinta antara suami dengan istri dan juga makin menyatukan antara keluarga kedua belah pihak. Bahkan karena keinginan yg begitu kuat untuk memiliki anak, bermacam-macam usaha dilakukan pasangan suami istri. Mulai dari yang tradisional sampai yang paling modern. Namun sering kali besarnya keinginan untuk memiliki anak tidak dibarengi dengan pengetahuan yang cukup soal perkembangan anak dan cara merawatnya. Pada kali ini kami mencoba berbagi pengetahuan tentang perkembangan anak khususnya tumbuh kembang bayi 1 tahun.

Kita mulai dengan bayi yg baru dilahirkan. Bayi yang berumur 0 sampai 120 hari sangat amat sensitif dengan perubahan disekitarnya. Mulai dari perubahan cuaca hingga perubahan suhu. Hal ini dikarenakan semua organ tubuh bayi masih terlalu rentan. Mulai dari anggota tubuh yang paling luar yaitu kulit. Begitu rentannya kulit bayi yang berumur 0 sampai 3 bulan bahkan untuk memandikannya dibutuhkan sabun khusus. hal ini dilakukan agar kulit bayi tidak terjadi iritasi atau bahkan peradanganan. Selain kulit, rambut bayi yang masih terlalu muda ini juga sangat rentan. Karena jaringan rambut bayi masih terlalu tipis sehingga mudah kotor dan rontok sehingga Kulit kepala menjadi mudah dihinggapi debu dan kotoran.

Karena bayi masih terlalu muda dan anggota tubuh bayi masih belum optimal maka asupan gizi yang dibutuhkan bayi juga sangat banyak. Hal ini dikarenakan asupan gizi tersebut dibutuhkan untuk pembentukan sel dan jaringan yang membentuk organ tubuh yang optimal. Pemilihan makanan sebagai sumber gizi juga harus diperhatikan. bayi pada umur 0 sampai 3 bulan hanya dapat mengkonsumsi makanan cair atau lebih spesifik yaitu air susu ibu. Setelah usia 3 bulan ke atas barulah bayi dapat mulai diperkenalkan pada makanan padat halus. Setelah 5bulan ke atas bayi juga sudah diperbolehkan mengenal nasi yang dihaluskan atau berkuah.

Kesehatan bayi pada umur 0 sampai 3 bulan juga sangat amat rentan. Perubahan suhu yang drastis bisa membuat bayi gampang terserang penyakit. Selain perubahan suhu, kesehatan bayi juga dipengaruhi oleh kesehatan orang-orang yang ada disekitarnya khususnya yg paling dekat adalah ibunya. Sangat disarankan bagi ibu menyusui untuk menjaga kesehatan diri sendiri demi sang buah hati. Kesehatan lingkungan sekitar bayi juga ikut andil dalam mempengaruhi kesehatan bayi. Usahakan tempat dimana bayi beristirahat steril dari debu dan kotoran. Selain pencegahan dari luar, bayi juga membutuhkan pengebalan diri dari dalam. Caranya adalah melakukan pemeriksbn kesehatan bayi secara berkala kepada dokter anak. Selain itu mengikutkan bayi pada program imunisasi secara rutin.

Kebutuhan Nutrisi pada Bayi

Seperti yang kita tahu, perkembangan bayi merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Jika seorang bayi memiliki asupan gizi yang cukup, maka tumbuh kembang bayi pun akan terlihat sempurna. Perkembangan berat badan bayi juga merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan. Jika pada usia tertentu, bayi belum memenuhi berat badan yang sudah ditentukan oleh ahli kesehatan, anda harus memberikan asupan gizi yang lebih. kebutuhan nutrisi pada bayi usia 0-6 bulan, asupan gizi bayi hanya di dapatkan dari ASI atau air susu ibu. Selain itu, ada asupan gizi tambahan selain ASI, seperti susu formula. Susu formula ini merupakan asupan gizi tambahan jika anda sebagai wanita karir tidak bisa memberikan asupan ASI selama 24 jam.

Jika seorang bayi sudah memasuki usia 6 bulan, bayi boleh mendapatkan asupan gizi tambahan. Pada usia ini, bayi bisa diberi makanan tambahan yakni berupa bubur. Bubur yang diberikan kepada bayi usia 6 bulan merupakan bubur bayi tahap awal. Jadi, bubur bayi yang dikonsumsi oleh bayi usia 6 bulan merupakan bubur bayi yang sangat halus. Tidak jarang para bayi masih merasa kesusahan untuk mencerna bubur bayi tahap pertama ini. Jadi, untuk membuat bayi ini terbiasa megonsumsi bubur bayi, maka biasanya, ibu membuat bubur seperti susu. Jadi, tekstur pertama yang dirasakan bayi tidak akan begitu berbeda dengan susu.

Kemudian, jika seorang bayi sudah berhasil untuk mengonsumsi bubur cair, maka anda bisa mulai memberikan asupan gizi lebih banyak dengan membuat buburnya lebih padat. Jika seorang bayi sudah memasuki usia 8 bulan, maka bayi anda bisa diberikan nutrisi yang lebih banyak dengan memberikan makanan bubur halus buatan sendiri. Bubur halus buatan sendiri bisa dibuat dari nasi, sayur, dan juga daging yang dihaluskan dan diambil sarinya. Kemudian, anda juga harus tahu, bahwa makanan ini lebih sehat dan lebih mengandung banyak gizi daripada bubur tim instan yang anda beli di pasaran. Sekalipun bubur ini memiliki banyak rasa, belum tentu gizi yang diberikana akan sama dengan bubur buatan sendiri.

Kemudian, jika bayi anda sudah berumur lebih dari satu tahun, ana harus tahu bahwa anda harus memberikan berbagai rasa makanan. Hal ini dilakukan agar bayi anda tidak mengalami alergi. Kemudian, anda harus tahu bahwa pembrian sari buah dan juga iskuit juga bisa menjadi asupan gizi tambahan untuk bayi anda. Selamat mencoba untuk memberikan makanan yang trbaik bagi putra putri anda tentunya yang alami dan tidak memiliki banyak pengawet. Karena seperti yang kita tahu, pengawet akan memberikan dampak yang tidak baik bagi kesehatan jangka panjang bayi anda.

Makanan Sehat Bagi Bayi Menjadi Awal Kebaikan

Secara alamiah, orang tua lazimnya berharap dapat memberikan segala yang terbaik bagi anak-anaknya sejak mereka masih di dalam kandungan, begitu juga halnya dengan pola dan cara makan sehat untuk bayi diusahakan yang terbaik. Walaupun pengetahuan dan sumber daya yang dimiliki oleh orang tua terbilang terbatas, keduanya akan berusaha seoptimal mungkin demi kesehatan dan perkembangan positif sang buah hati sehingga pada akhirnya memberikan pendorong bagi masa depan yang baik.

Bayi merupakan usia rentan di awal kehidupan manusia, salah mengonsumsi makanan bisa berkibat fatal, dan umumnya orang tua tidak menghendaki hal itu terjadi. Pola makan sehat untuk bayi tidak dapat ditawar lagi. ASI, pastinya, menjadi asupan di daftar teratas menu makanan sehat yang wajib diberikan pada bayi, terutama karena ASI terbukti menjadi amunisi otak yang cukup andal yang pengaruh positifnya terlihat jelas di usia remaja dan dewasa. Nasi tim yang dimasak dengan sayuran, selain itu juga bubur kacang hijau menjadi menu setelah ASI yang cukup diandalkan. Setelah penyapihan, bayi bisa diberikan makanan padat seperti nasi putih, kentang rebus, ubi jalar, serta jagung manis.

Makanan memang menjadi faktor penting dalam proses kehidupan manusia, terutama pada masa bayi, balita, dan remaja. Kedua orang tua tentunya menyadari dengan baik untuk memberikan makan sehat untuk bayi yang harus memenuhi gizi dan vitamin demi mendukung tumbuh kembang bayi, apalagi bila makanan dan minuman merupakan faktor penting bagi masa depan cerah si anak.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Perkembangan Emosi pada Anak

Perkembangan emosi pada anak juga sebenarnya masih erat kaitannya dengan apa yang harus kita pelajari mengenai perkembangan anak usia 2-6 tahun secara keseluruhan dan perkembangan emosi pada anak juga merupakan salah satu poin penting yang perlu kita perhatikan dengan seksama. Hal ini dikarenakan banyak orang terutama orang tua, biasanya hanya menaruh perhatian yang besar pada apa yang tampak jelas di diri anak yaitu perkembangan fisik anak sebab perkembangan fisik anak dapat diukur dan dipantau secara langsung tanpa harus mengulik lebih dalam pada diri sang anak.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dengan seksama jika Anda ingin benar-benar mempelajari tentang perkembangan emosi pada anak karena tentu saja hal ini akan sangat lebih sulit jika dibanding ketika Anda hanya perlu mengamati perkembangan fisik anak yang jelas nampak. Perkembangan emosi anak sendiri sangat terkait erat dengan perkembangan aspek-aspek penting lainnya seperti perkembangan motorik dan juga perkembangan kognitif anak. Hal pertama yang perlu Anda cermati adalah, perkembangan psikologi khususnya psikososial Erikso ada pada 2 tahap dasar yang saling bertentangan. Yang pertama adalah rasa malu dan ragu-ragu vs otonomi dan yang terakhir adalah rasa bersalah vs inisiatif. Perkembangan emosi pada anak sendiri sebenarnya merupakan perkembangan perasaan yang bersifat psikologi yang diawali dari perasaan secara fisik.

Lutein, Sinar Biru dan Kesehatan Mata Anak

Lutein adalah kelompok karotenoid yang secara alami banyak terdapat di retina sebagai pusat penglihatan dan juga sedikit terdapat di lensa mata dan kornea.

Fungsi Lutein antara lain adalah sebagai “kacamata” alami untuk membantu menyaring sinar biru dan melindungi retina mata. Juga sebaga antioksidan yang dapat menetralkan radikal bebas pada mata.

Lutein tidak dapat diproduksi oleh tubuh, karena itu kebutuhan Lutein harus dipenuhi dari asupan sayur dan buah.

Mata anak sangat peka terhadap efek sinar karena lensa matanya masih sangat bening sehingga sinar dapat dengan mudah menembus retina, terutama sinar biru yang perlahan lahan dapat merusak mata.

Sumber sinar biru terdapat di sekitar anak, bahkan kerap kali terdapat di lingkungan paling dekat dengan anak – anak, seperti matahari ataupun benda elektronik yang memancarkan cahaya seperti televisi. Jika sinar biru terus memapar, maka mata anak akan berpotensi mengalami kerusakan.

Toilet Learning, Butuh Kesiapan Si Kecil

Kesiapan apa yang dibutuhkan si kecil untuk belajar buang air yang benar? Pertama, kesiapan fisik, yaitu kemampuan anak untuk jongkok atau duduk dengan baik di kloset. Bila tidak didukung dengan kemampuan fisik dikhawatirkan anak akan mogok di jalan sebab tidak merasa nyaman dalam melaksanakan toilet learning  ini.

Kedua, kesiapan mental, yaitu kemampuan anak dalam mengontrol keinginan untuk buang air kecil atau buang air besar. Anak sudah tahu bila dirinya ingin buang air kecil atau buang air besar dan mampu menahan keinginan tersebut sampai ia masuk ke dalam kamar mandi atau toilet.

Umumnya kesiapan mental dan fisik ini terjadi saat anak memasuki usia 18 bulan. Memang, usia ini tidak dapat dipukul rata. Orangtualah yang harus tahu dengan tepat kapan anaknya siap secara fisik dan mental untuk toilet learning.

TANDA-TANDA ANAK SIAP

Kesiapan fisik:

* Mampu berjalan dan duduk dengan stabil di potty chair (tempat latihan BAK yang bentuknya menarik). Dengan demikian, si kecil bisa duduk dan bangun berdiri sendiri saat menggunakan kloset atau pispot mininya. Kemampuan motoriknya juga sudah bisa mengangkat gayung, mengambil air, dan menyiramkan ke bekas pipisnya.

* Anak sudah mampu mengendalikan keinginan buang air. Ditandai dengan tidak ngompol atau tetap kering celananya selama beberapa jam. Atau, pola BAB dan BAK-nya sudah lebih teratur. Misalnya 3-4 jam sekali. Ciri lain, wajahnya menunjukkan ekspresi meringis saat hendak pipis, atau menunjukkan gelagat hendak buang hajat. Tanda ini memudahkan orangtua mengenali anak yang mau buang air

Kesiapan mental:

* Anak sedikitnya mampu memahami satu sampai 2 kalimat perintah. Si kecil pun mengerti, memakai pospak untuk buang air sangatlah tidak menyenangkan. Dia juga sudah bisa memberi tahu bila celananya basah dan minta segera diganti. Jika tidak digubris, ia akan mengekspresikannya dengan sikap rewel.

* Anak sudah bisa mengomunikasikan bahwa ia hendak BAB dan BAK. Bisa dengan mengucapkannya secara verbal atau nonverbal seperti menarik tangan, mengambil pispot, menunjuk-nunjuk celana, pergi ke sudut ruangan, dan lain-lain.

* Tertarik pada kamar mandi. Misalnya, dia mengikuti orang dewasa ke kamar mandi, mengetahui apa saja perlengkapan kamar mandi dan fungsinya, juga tertarik mengeksplorasi pakaiannya seperti menarik dan menurunkan celana atau roknya.

* Memiliki kemampuan mengontrol atau menahan BAB dan BAK hingga ke kamar mandi.

* Dapat diajak bekerja sama atau memiliki hubungan yang harmonis dengan gurunya (dalam hal ini orangtua atau pengasuhnya).

MENERAPKAN TOILET LEARNING

* Pengondisian

Dalam tahapan ini, orangtua hanya mengenalkan pentingnya toilet learning  dan mempersiapkannya secara bertahap. Tindakan pengondisian bisa dilakukan sejak anak umur 9-18 bulan.

Berikut Caranya:

– Saat mengetahui anak hendak BAB, (anak diam dengan raut gelisah), tanyakan “Adek, mau poop  ya” lalu, “Kalau mau poop atau pipis, bilang Mama ya.”

– Tuntun anak ke toilet atau ke pispotnya, lalu katakan, “Ini kloset/pispot, kalau mau poop  harus di tempat ini ya.”

– Kenalkan bagian tubuh yang berkaitan dengan toilet learning seperti penis, dubur, dan saluran kencing dekat vagina. Juga perlengkapan toilet  learning  dan fungsinya seperti kloset, pispot, gayung, shower dan lain-lain.

– Perlihatkan cara membersihkan kotoran si kecil. Dengan cara itu, anak tahu setiap selesai buang air, kloset/pispot harus disiram dengan bersih.

* Perkenalkan pispot

Untuk awal toilet learning  disarankan menggunakan pispot (potty chair) daripada kloset. Alasannya, ukuran pispot lebih aman untuk anak-anak. Cara mengenalkannya:

– Mintalah anak duduk di pispotnya lakukan berulang-ulang sehingga ia merasa nyaman dan aman.

– Ajak anak duduk di potty chair setelah ngompol. Sampaikan bahwa pispot berguna bila ia ingin BAB atau BAK.

– Lihat pola biologis anak. Jika anak biasa pipis dan poop  setelah bangun tidur pada pukul 7 pagi, misalnya, begitu ia terbangun dari tidur langsung ajak duduk di pispotnya. Jika tidak keluar apa-apa, beri selang waktu beberapa saat, lalu minta ia kembali melakukan hal yang sama. Harapannya, anak dapat menemukan waktu-waktu tertentu untuk BAB dan BAK dan mampu menahan keinginannya sampai menemukan pispotnya.

* Beri contoh

Setelah toilet learning  di potty  chair  sukses, ajak anak untuk pipis atau poop di kloset sungguhan. Katakan padanya, sejak saat ini ia bisa mulai pipis atau poop  di kloset kamar mandi. Namun, sebaiknya gunakan alat bantu pada kloset agar tidak jatuh.

Ayah atau ibu harus memberi contoh bagaimana BAB dan BAK di kloset. Agar efektif dan tidak membuat anak bingung, ayah/kakak laki-laki sebaiknya memberi contoh kepada anak/adik laki-laki, dan ibu atau kakak perempuan memberi contoh kepada anak/adik perempuannya. Ajaklah si kecil ke kamar mandi atau toilet dan perlihatkan bagaimana cara pipis. Dari menurunkan celana, jongkok/duduk di kloset, pipis, menyiram kloset, menyemprot/membasuh kelamin dengan air, mengeringkan daerah kelamin, dan memakai celana.

Katakan semua proses tadi agar anak paham, seperti, “Sebelum pipis, kamu buka celanamu, berjongkok, lalu cebok agar kelaminmu tetap bersih….” Lakukan secara berulang-ulang. Saat terlihat si kecil hendak pipis atau poop , coba katakan, “Dek Adi, pipis yuk.” Lalu, “Cara pipisnya seperti yang Kak Joni lakukan, ya!” Selanjutnya, tanpa disuruh, anak pun bisa mengatakan dirinya ingin BAK. Hal yang sama dilakukan saat mengajari anak BAB. Perlihatkan bagaimana sang kakak duduk/berjongkok dan membersihkannya seusai BAB. Karena anak belum bisa cebok sendiri, orangtua bisa memberikan bantuan.

Bila masih gagal dalam menerapkan program ini, tak perlu kecewa. Itu pertanda si kecil belum siap. Hentikan dulu kegiatan toilet learning  selama 1 ­ 3 bulan sehingga anak tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang menakutkan. Beberapa bulan kemudian baru dicoba kembali.

YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM TOILET LERNING

1. Berikan penghargaan bila si anak berhasil menahan BAB atau BAK dan mengeluarkannya di potty chair. Dengan begitu, anak memahami tujuan dari program toilet learning yang sedang dilaksanakan bersama.

2. Jangan marah atau memberikan hujatan bila si kecil mengompol. Misalnya, “Adek payah nih enggak bisa nahan pipis.” Sebaiknya gunakan kalimat lain yang tidak menyalahkan anak. Misalnya, “Adek tadi enggak kuat nahan  pipis, ya? Lain kali coba ditahan sambil lari ke potty chair ya!”

3. Setelah berhasil beberapa kali, berikan penjelasan kepada anak bahwa ia sudah tidak butuh pospaknya. Kondisikan agar anak menyadari ini adalah sebuah peristiwa besar dalam hidupnya.

LO, KOK, TOILET LEARNING ? BUKAN TOILET TRAINING

Istilah toilet training  yang kita kenal selama ini hanya mengacu pada soal melatih anak untuk belajar pipis dan BAB di tempat yang seharusnya. Latihan ini tidak terlalu mementingkan kesiapan fisik dan mental si kecil. Tak heran beberapa orangtua menerapkan toilet training  terlalu dini pada anaknya, bahkan kala si kecil masih bayi. Padahal toilet training  yang terlalu terburu-buru (tanpa memerhatikan kesiapan mental dan fisik anak) justru tidak efektif karena anak akan merasa dipaksa saat melakukan latihan itu. Dampaknya, ia masih akan mengompol meski hanya sekali-kali. Contoh, saat di TK, tiba-tiba anak ngompol di kelas (padahal sebelumnya ia sudah tak pernah mengompol). Ini karena tanpa disadari anak kehilangan kemampuan mengontrol buang air kecilnya (karena waktu dilatih ia belum siap untuk itu). Berbeda dari toilet learning.  Istilah ini menitikberatkan pada kesiapan anak secara mental dan fisik untuk diajak buang air kecil atau besar di tempat seharusnya

 

Anak Tidur Terlalu Malam

Kebutuhan tidur malam pada batita memang sebaiknya dipenuhi sebanyak 9-10 jam. Masalahnya sekarang ini banyak anak yang sering memulai tidur pada larut malam. Entah karena nonton tv, main game di komputer, iPad, atau PS. Hal ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan tidur siang. Bila tidur siang sudah kelewat siang dan anak bangun pada sore hari , maka logikanya tidur malamnya pun akan mundur.

Kondisi anak yang seperti ini dapat dibenahi. Ini menyangkut faktor kebiasaan. Perbuatan yang dilakukan berulang kali maka akan terjadi habituasi, artinya kebiasaan. Pada diri anak juga akan terbentuk biological clock tersendiri yang akan mengatur secara otomatis waktu anak mengantuk dan kapan beraktivitas.

Perhatikanlah anak Anda di rumah. Bagaimana kebiasaannya di rumah? Apakah anak Anda sulit tidur jika kondisi rumah masih penuh aktivitas? Meski jam sudah menunjukkan pukul 12 malam?

Nah, bila hal itu terjadi, coba kondisikan rumah Anda tenang dan mendukung untuk tidur pada saat jam-jam tidur yang tidak terlalu malam. Dengan demikian anak Anda dapat memulai tidur lebih cepat. Tidur siang sebaiknya tidak terlalu lama, cukup 1-2 jam saja. Terlalu lama tidur siang, maka malam hari akan lama terjaga.

Lain dewasa, lain pula anak-anak kebutuhannya akan tidur. Berikut ini jumlah jam tidur yang dibutuhkan anak berdasarkan usianya menurut National Sleep Foundation:

  1. Bayi baru lahir, usia 0-2 bulan membutuhkan waktu tidur selama 10,5 jam sampai 18 jam.
  2. Bayi usia 3-11 bulan membutuhkan tidur 9 sampai 12 jam, ditambah dengan tidur siang selama 1-2 jam.
  3. Anak usia 1-3 tahun membutuhkan tidur 12 sampai 14 jam.
  4. Anak usia 3-5 tahun membutuhkan tidur selama 11 sampai 13 jam.
  5. Anak usia sekolah (5-12 tahun) membutuhkan tidur selama 10 sampai 11 jam.
  6. Remaja (12-17 tahun) membutuhkan tidur setidaknya selama 8,5 sampai 9,5 jam.
  7. Usia dewasa membutuhkan tidur rata-rata 7 jam.

Ini yang Dipelajari Bayi Sebelum Muncul ke Dunia

Banyak penelitian sudah membuktikan bahwa bayi sudah mulai bisa belajar semenjak dalam rahim ibu. Lantas apa saja yang bisa dipelajari bayi sebelum lahir?

Studi prenatal (sebelum kelahiran) menunjukkan bahwa pembelajaran telah dimulai bahkan sebelum bayi dilahirkan ke dunia. Sebelum lahir, janin yang ada di rahim ibu sudah bisa belajar mengenal suara, rasa dan getaran di dalam rahim yang kemudian akan dibawanya sebagai kenangan setelah lahir. Janin juga sudah bisa mengenal emosi yang berasal di ibunya.

Psikolog William Fifer dari Columbia University menemukan bahwa bayi memasuki dunia dengan preferensi khusus setidaknya dengan dua suara, yaitu detak jantung ibu dan suaranya sendiri. Inilah yang menyebabkan bayi lebih suka mendengar suara ibunya sendiri ketimbang suara wanita lain.

Studi lain juga menemukan bahwa bayi yang baru lahir akan mengenali irama dari kata-kata atau nyanyian yang disenandungkan berulang kali oleh ibunya selama bulan-bulan kehamilan. Karena itu, banyak dokter kandungan yang merekomendasikan agar ibu sering menyanyikan lagu favoritnya pada bulan-bulan kehamilan. Ibu harus terus menyanyikan lagu yang sama setelah lahir agar bayi benar-benar merasa berasa di tempat yang sudah akrab dengannya.

“Bayi juga ingat rasa makanan yang tersedia di rahim ibu. Jika ibu makan bawang putih, maka rasa itu juga akan ada dalam cairan ketuban dalam rahim. Berbagai rasa dari makanan yang dimakan ibu juga akan diintegrasikan ke dalam air susu ibu (ASI). Pengenalan awal rasa dapat membentuk dasar dari beberapa piliahn makanan ketika anak tumbuh nanti,” jelas Julie Mennella dari Monnel Chemical Senses Center, Philadelphia, seperti dilansir mindpub, Selasa (13/12/2011).

Pengenalan rasa sejak janin dalam kandungan juga akan menentukan makanan apa yang akan disukai dan tidak disukai bayi. Itulah sebabnya, saat hamil sebaiknya ibu makan makanan yang sehat dan memperbanyak sayuran dan buah, sehingga kelak sang anak tidak menolak saat diminta makan sayur.

Hal lain yang dipelajari janin adalah getaran. Pada kehamilan 26 minggu, janin akan bergerak ketika getaran diberikan pada perut ibu. Tapi setelah getaran diberikan secara berulang, janin tidak akan bergerak lagi. Namun jika tipe getaran baru yang diberikan, janin akan kembali bergerak untuk meresponsnya. Ini menunjukkan bahwa janin dalam rahim dengan pengalaman.

Sebagian besar perilaku bayi yang baru lahir dapat ditelusuri ke perilaku yang hadir selama masa kehamilan. Sebagai contoh, beberapa janin suka mengisap jempol dan mereka akan terus melakukannya setelah lahir.

Selain itu, bayi juga belajar secara emosional dalam menanggapi lingkungan sebelum lahir. Bayi memasuki dunia ini dengan kecenderungan emosional tertentu. Kecenderungan-kecenderungan emosional tidak sepenuhnya berasal dari gen yang diwariskan, karena lingkungan juga berperan dalam membentuk kecenderungan emosional anak.

Keadaan emosional pikiran dan kesehatan fisik ibu selama kehamilan merupakan lingkungan ibu untuk bayi. Itulah sebabnya mengapa stres yang berlebihan atau depresi yang dialami oleh ibu hamil dapat mempengaruhi bayi dalam rahim. Bayi mungkin akan memasuki dunia ini dengan emosional yang sama dengan keadaan ibu saat hamil.

Temuan tentang kemampuan belajar dan memori bayi selama periode kehamilan dan pengaruh lingkungan ibu pada bayi yang belum lahir, membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk keluarga.

Seorang ibu harus melakukan yang terbaik untuk meminimalkan tingkat stres dan tetap dalam suasana hati yang bahagia dan positif selama kehamilan. Seorang ayah harus melakukan yang terbaik untuk memberikan dukungan emosional yang maksimal kepada ibu hamil untuk membantu memberikan kemampuan yang luar biasa bayi ketika lahir ke dunia.
Sumber : “Merry Wahyuningsih – detikHealth”

Next Page »

13 queries