Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


Makanan Sehat Anak Balita

Sebagai ibu Anda memerlukan  bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kreatifitas  untuk memikirkan menu makanan sehat anak balita anda setiap harinya. Menghindari produk-produk siap saji yang marak di pasaran, adalah salah satu cara agar Anda dapat lebih waspada  dan memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi anak-anak adalah yang terbaik dan menyehatkan.

Ada beberapa makanan sehat bagi anak balita yang dapat anda kombinasikan dengan bahan lain atau secara langsung dinikmati buah hati, tanpa harus meninggalkan rasa  cemas atau ragu-ragu di hati Anda. Pertama, Buah-buahan seperti labu, apel, alpukat, blueberry. Labu yang merupakan penghasil vitamin A dan C, rasanya manis dan memiliki tektur buah sangat lembut sehingga mudah dicerna balita Anda. Masukan  ke oven toaster setelah ditaburi keju atau susu atau apa saja yang mungkin disukai anak Anda selama beberapa menit, lalu sajikan di dalam mangkuk kecil sesuai porsi si kecil. Buah apel, jeruk dan alpukat dapat langsung dimakan atau dijus dengan campuran susu kental. Bisa juga dijadikan campuran pada puding, ini baik disajikan di siang hari ketika anak anda mungkin sudah mengkonsumsi makanan berat lainnya. Demikian juga dengan Bluberry yang menurut para ahli gizi sangat berguna bagi kesehatan mata, otak dan saluran kencing ini dapat diberikan dengan berbagai cara, misalnya dijadikan sup. Cukup tuangkan air secukupnya ke dalam secangkir blueberry, masukan ke dalam microwave sebentar, angkat, biarkan dingin dan tambahkan yogurt atau susu di atasnya.

Kedua, sayuran berdaun hujau. Merupakan makanan sehat bagi anak balita anda yang perlu “kerja keras” dalam meramunya, mengingat ada begitu banyak anak  tidak suka dengan menu yang satu ini. Maka biasakanlah, dimulai dengan porsi yang kecil. Bayam, lobak, kangkung, brokoli mengandung folat, serat dan kalsium (pada brokoli) yang diyakini dapat membunuh sel sel kanker, baik bagi pencernaan, kesehatan jantung  dan pertumbuhan fisik anak-anak. Saran penyajian : Tim beberapa helai sayuran hingga layu, lalu campurkan ke dalam bubur yang sudah dibubuhi garam dan suiran ayam. Ketiga, Daging. Ada banyak ibu yang menghindari daging sebagai bahan makanan bagi bayinya, padahal daging adalah sumber zinc dan zat besi. Rebuslah daging hingga matang dan sangat empuk sehingga mudah dikunyak oleh putra putri Anda,  gunakan bumbu segar untuk memasaknya, bukan bumbu jadi yang terdapat zat pengawet dan pewarna di dalamnya.

Keempat, kacang-kacangan. Kaya akan fiber dan protein, murah dan mudah didapatkan. Merebusnya  adalah cara yang paling aman, selain membuat kacang menjadi empuk juga menekan kadar kolesterol. Ini bisa dijadikan camilan  Anak anda di sore hari. Atau dijadikan sayur asam dan soup bagi teman makan siang Anda sekeluarga. Kelima, jika anda menginginkan snack yang sudah jadi di toko-toko sebagai pilihan makanan sehat bagi balita anda. Perhatikan bahan pembuatnya, apakah terdapat zat yang memang aman bagi tubuh anak-anak. Hindari yang mengandung zat pewarna makanan palsu (ditandai dengan warna sangat menyolok), zat pengawet, bertekstur keras (sulit digigit/dicerna), kenyal (sulit ditelan) dan lain-lain.

Semoga bermanfaat.

8 Penyebab Si Kecil Mulai Sulit Makan

Senangnya hati setiap orang tua kala melihat bayinya yang masih berusia 6-7 bulan menyantap bubur susu maupun bubur saringnya dengan lahap. Begitu juga saat si kecil sudah mulai diperkenalkan dengan nasi tim yang diblender. “Pintar anak Bunda. Makannya hebat, jagoan deh,” begitu puji si ibu setiap kali bayinya yang berusia 9-10 bulan menyantap bersih isi mangkuk berupa tim lengkap dengan lauk ayam, kacang hijau, wortel dan bayam atau kangkung.

Namun begitu menginjak usia 11-12 bulan dan seterusnya hingga usia 3 tahunan, kebahagiaan semacam itu ada yang tinggal kenangan. Si kecil yang tadinya lahap makan kini mendadak susah makan. “Wah, jangan tanya deh gimana  susahnya nyuapin  anak seumur ini. Bisa masuk lima suap saja, sudah hebat!” Nada bicara semacam ini bukan dicari-cari lo, melainkan “ungkapan tulus” mayoritas orang tua. Sesabar apa pun orang tua atau pengasuh menyuapinya, acara makan seakan menjadi ajang “pertengkaran”. Ada saja ulahnya. Dari yang selalu menolak makan dengan menutup rapat mulutnya, sampai menyembur-nyemburkan atau melepeh kembali makanan yang sudah berhasil masuk ke mulutnya.

Hal ini tentu saja membuat orang tua waswas. Terlebih sebagai akibatnya berat badan si kecil susah sekali naik. Padahal di usia ini anak justru perlu mendapat asupan gizi lebih banyak dibanding saat bayi. Pasalnya, daya jelajah anak semakin luas mengingat dia sudah bisa berjalan. Otaknya pun “lapar” untuk mendapatkan berbagai masukan mengenai hal-hal baru melalui berbagai stimulasi.

Akan tetapi, papar dr. Nuraini Irma Susanti Sp.A ., keadaan seperti ini seakan diputarbalikkan oleh aneka mitos yang banyak diyakini masyarakat. Seperti, “Kalau anak mau jalan, biasanya memang susah makan. Wajar aja  kalau badannya jadi kurus.” Atau, “Enggak usah cemas, itu tandanya anak mau pintar.”

ALASAN MENOLAK MAKANAN

Biasanya, kata dokter yang berpraktek di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan ini, anak mulai mendapat makanan tambahan dan susu pendamping ASI di usia 6-7 bulan. Semakin bertambah usianya, seperti saat memasuki usia 9 bulan, maka porsi makannya harus lebih besar dibanding ASI. Biasanya, anak mendapat tiga jenis makanan dalam satu hari, yakni makanan padat, susu tambahan pendamping ASI, maupun ASI itu sendiri. Dalam menjalani kebiasaan baru ini, bisa saja anak mengalami hal-hal yang membuatnya enggan menyantap makanan. Inilah alasannya:

1. Tak pernah benar-benar lapar

Tak heran jika makanan yang terdiri atas tiga kali makanan utama dan dua kali makanan selingan membuatnya kenyang. Jadi ketika waktu makan yang berikutnya tiba, ia belum benar-benar lapar. Ditambah lagi rutinitas makan dan minum susu yang bisa membuat anak bosan. Hal seperti ini akan terbawa terus hingga masa batita awal. Namun orang tua sering lupa dan menganggap perilaku menolak atau melepehkan makanan sebagai masalah besar.

2. Mulai punya selera terhadap rasa

Yang juga kerap terlupakan, di usia batita ini rasa ingin tahu anak sudah semakin besar. Ia sudah punya selera tersendiri terhadap makanan. Itulah kenapa makanan anak usia ini tidak boleh disamakan dengan makanan bayi yang tawar. Tidak ada salahnya memberikan rasa-rasa tertentu yang dia sukai ke dalam makanannya, seperti garam dan gula. Apa citarasa yang disukai anak, tugas orang tualah untuk menemukannya.

3. Bosan tekstur yang halus dan campur aduk

Rasa bosan bisa juga muncul dari tekstur. Bukan mustahil anak bosan atau sudah merasa mual dengan makanan lunak dan campur aduk seperti makanannya semasa bayi. Dengan demikian orang tua mesti cerdik dalam menyiasati olahan dan penyajian makanan. Variasikan sedemikian rupa agar anak tetap suka makan, misalnya dengan memisah-misahkan lauknya dan memblender berasnya saja lebih dulu sebelum diolah.

4. Munculnya sikap negativistik

Sikap negativistik yang menjadi ciri usia batita antara lain ditandai dengan sikap penolakan terhadap rutinitas yang selama ini wajib dijalani anak. Namun, lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Padahal cara ini justru harus dihindari.

Asal tahu saja, semakin dipaksa anak usia ini justru akan makin ngotot  melakukan perlawanan sebagai wujud negativistiknya. Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai dewasa emoh makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.

5. Mulai cari perhatian

Cari perhatian biasanya ditunjukkan dengan mudahnya anak melahap makanannya saat disuapi pengasuh sementara selagi disuapi orang tuanya malah jual mahal.

6. Mulai eksplorasi ke mana-mana

Ketika sudah mahir berjalan, anak akan lebih mengutamakan kegiatan eksplorasi ketimbang acara makan. Lihat saja cara bermainnya yang disertai gerakan berjalan, memanjat, atau berlari seolah tidak pernah lelah. Tak heran jika acara makan dianggapnya sebagai kegiatan buang-buang waktu, apalagi kalau diminta duduk diam.

7. Sedang sakit

Tidak mau makan yang disebabkan alasan medis biasanya disertai ciri-ciri badan lemas, sering demam, bolak-balik diare, berat badannya tak bergerak naik atau malah mengalami penurunan, dan adanya perubahan tingkah laku. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan “cerewet”, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.

Kalau anak menunjukkan gejala seperti itu, tentu harus segera diperiksakan ke dokter. Sebab dilihat dari indikasinya, besar kemungkinan problema sulit makan ini disebabkan radang tenggorok, lambung terganggu, atau malah kena vlek paru-paru, bahkan TBC.

8. Kebanyakan diberi camilan manis dan gurih

Bisa juga anak tampak lemas tapi tidak memperlihatkan gejala sakit. Yang seperti ini, menurut Nuraini, boleh jadi akibat tidak tercukupinya asupan kalori dari makanan padat. Anak yang sulit makan seperti ini biasanya punya kebiasaan makan yang salah. Semisal, belum apa-apa anak sudah dijejali susu, permen, cokelat, atau snack  yang mengandung MSG. “Sekalipun mengenyangkan, makanan seperti ini jelas-jelas tidak bisa memenuhi angka kecukupan gizi si kecil. Karena sudah merasa kenyang, jangan salahkan bila ia cenderung menolak makanan padat.”

KIAT KREATIF MENGATASINYA 

Nuraini  mengakui bahwa mengatasi batita yang susah makan memang bukan masalah gampang. “Makanya saya selalu mengingatkan orang tua pasien untuk senantiasa bersabar dan kreatif.” Mencoba bersabar memang tidak mudah karena umumnya orang tua lebih gampang kesal dan putus asa menghadapi si kecil yang tidak lagi kooperatif. Beberapa tips berikut bisa dicoba untuk diterapkan di rumah:

* Sebelum memberi makan, cicipi dulu makanan tersebut. Kalau menurut kita tidak enak, ya jangan paksa anak menikmatinya.

* Kombinasikan rasa asin dan gurih dari lauk pauk secara pas dengan rasa asam dan manis dari buah-buahan. Ini semata-mata supaya makanan tersebut enak untuk dicecap, harum ketika dicium, dan menggugah selera.

* Variasikan hidangan setiap kali makan, baik dari pilihan bahan makanannya maupun penyajiannya.

* Begitu juga pilihan peralatan makan. Manfaatkan bentuk, gambar dan warna-warna menarik kesukaan anak. Sementara penyajiannya bisa diakali dengan tampilan yang lucu dan menarik seperti hiasan dari tomat, wortel, sayur atau irisan telur di atasnya.

* Soal lauk pauknya, berikan seperti apa yang dimakan anggota keluarga lainnya. Jangan membatasi dengan hanya memberinya olahan hati ayam, wortel dan bayam. Kacang merah yang ditumbuk, sup kacang hijau atau kacang polong sah-sah saja dicampur dengan ikan, daging sapi atau ayam maupun telur. Yang harus diberikan secara terbatas dan hati-hati sebetulnya hanyalah jenis lauk pauk yang mengundang alergi seperti ikan laut, udang, dan telur.

* Bangun pula suasana makan yang menyenangkan. Bila perlu libatkan anak. Kalau anak suka makan sambil diiringi musik, why not? Kalau anak bisa lahap sambil main mobil-mobilan, ya tidak apa-apa. “Asalkan lambut laun seiring dengan bertambahnya usia, anak harus digiring untuk tahu bahwa di sini dan begini, lo, cara makan yang baik itu.”

* Yang juga sering terjadi, gara-gara tidak mau makan, orang tua lantas “menggenjot” anaknya dengan asupan susu lebih banyak. Padahal pola seperti ini justru hanya akan membunuh nafsu makannya. Bagaimana pun, makanan padat penting bagi anak. Terutama sebagai latihan dan pembelajaran mengunyah sampai menelan makanan tanpa tersedak. “Tidak mungkin sampai dewasa ia hanya mengandalkan susu sebagai makanannya.” Malahan, pemberian susu sebaiknya dikurangi secara bertahap.

* Hindari atau setidaknya kurangi pemberian makanan “alternatif” yang mengenyangkan seperti cokelat, dan sejenisnya. Kalau asupan karbohidratnya memang dianggap kurang, misalnya karena si anak tak suka nasi, berikanlah makanan alternatif yang kandungan zat gizinya setara. Bisa roti, makaroni, jagung, dan lain-lain.

* Berikan tambahan vitamin atau suplemen makanan yang dapat menutupi kekurangan zat gizi tertentu akibat ia sulit makan. Jangan lupa, konsultasikan dulu dengan dokter yang bisa menilai kebutuhan anak. Harus diingat bahwa vitamin/zat gizi yang terdapat dalam sumber nabati maupun hewani yang fresh  jauh lebih baik dari vitamin/zat gizi sejenis yang didapat dari suplemen.

PERKEMBANGAN OTAK DAN FISIK

Nuraini  menyangkal pendapat yang mengatakan perkembangan anak usia ini secara fisik memang sedang surut, sementara perkembangan otaknya meningkat pesat. “Yang benar, perkembangan otak dan fisik berjalan seiring. Untuk mendapatkan stimulasi, anak perlu eksplorasi dan agar bisa bereksplorasi ia memerlukan makanan berenerji yang bisa diandalkan untuk menghasilkan tenaga. Jadi, tipis kemungkinan anak bisa semakin pintar kalau fisiknya loyo.”

 

Cita Rasa Sajian Rumah  

TEMPO Interaktif, Masakan rumah selalu membangkitkan rasa rindu. Bagi warga Jakarta yang punya kesibukan dan rutinitas tinggi, sajian pembangkit selera ini tidak selalu dapat dinikmati setiap saat. Di Plaza Indonesia, warga Jakarta dapat mencicipi kembali cita rasa menu masakan rumah di Pandan Village.

Ketika Tempo datang ke soft opening-nya beberapa pekan lalu, rumah makan ini sepintas tak jauh beda dengan rumah makan lain yang menawarkan menu sejenis. Kita bisa merasakan suasana kekeluargaan dengan pelayan yang ramah, pencahayaan hangat, musik dengan volume yang pas, hingga gantungan tas di bawah meja untuk memudahkan perempuan menaruh barang bawaan.

Namun, saat memesan, ada sesuatu yang berbeda dibanding kebanyakan resto serupa lainnya. Si pelayan mencatat pesanan makanan dengan iPod Touch. “Ini untuk mengurangi kesalahan pemesanan makanan,” kata si pelayan. Setelah dicatat pada perangkat digital layar sentuh itu, pesanan langsung terkirim ke bagian dapur. “Bagian dapur akan segera memasak untuk disajikan.”

Ternyata penggunaan teknologi pada rumah makan ini berkaitan dengan profesi sebelumnya Benedictus Tang, anggota direksi PT FG Resto, pemilik restoran ini. Tang telah lama berprofesi di bidang robotik sebelum banting setir ke bidang food and beverages.

Selain pencatatan pemesanan secara digital, bumbu masakan rumah makan ini adalah racikan pabrik. “Jadi, ketika pesanan datang, bagian dapur tinggal memasukkan racikan bumbu itu,”  ujar Tang. Di sini juga tersedia fasilitas hot spot gratis dan sumber listrik di setiap meja.

Pandan Village adalah rumah makan franchise. Restoran ini buka pertama kali di Galaxy Mall, Surabaya, tiga tahun lalu. Dua tahun kemudian, mereka membuka dua cabang di kota itu, yakni di Supermall dan Tunjungan Mal. Beberapa pekan lalu, Pandan Village membuka cabang di Plaza Indonesia, Jakarta.

Ketika berkunjung, Tempo memesan asam-asam iga, gurame goreng, soto banjar, dan tumis kangkung. Di daftar menu, restoran ini juga menawarkan masakan khas Nusantara, seperti lumpia goreng, pisang goreng keju, karedok, gado-gado, hingga rujak cingur. Beberapa menu menggunakan label cabai untuk menunjukkan masakan dengan rasa pedas dan label pandan untuk menunjukkan menu istimewa khas Pandan Village.

Untuk soal rasa, menu berlabel pandan harus dicoba. Rasanya berbeda. Namun, untuk menu biasa, Anda dapat dengan mudah menemukannya di rumah makan lain. Untuk minuman dan hidangan penutup, Pandan Village menawarkan sesuatu yang berbeda. Es puter ala Pandan Village, es merah delima, dan es dawet khas resto ini tak bisa Anda temukan di tempat lain.
Rumah makan lain yang menyajikan masakan rumah dengan cara pelayanan tak jauh berbeda adalah Restoran Kemiri di Pejaten Village. Pemesanan di restoran ini juga menggunakan pencatatan digital. Ketika kita masuk dan memilih makanan yang ditawarkan di sejumlah saung, pesanan langsung dicatat oleh pelayan dengan perangkat digital berlayar sentuh.

Lalu pengunjung diberikan kartu magnetik sebagai bukti pemesanan. Kartu magnetik ini menjadi semacam bon yang harus dibayar ketika keluar dari restoran tersebut. Soal pilihan makanan, tak jauh berbeda. Hanya, restoran ini tak hanya menyajikan masakan rumah, tapi juga makanan khas tempo dulu yang dipengaruhi budaya Belanda, misalnya poffertjes.

Suasana restoran dibikin sangat Indonesia. Bangku-bangku dan meja terbuat dari kayu mirip bangku bakso. Desain ruangannya sangat unik. Kita bisa melihat aksesori seperti jemuran sarung, sepeda kumbang dengan isi hasil bumi pedesaan, dan layangan tersangkut di dahan pepohonan. Loket kasir pun layaknya gerobak bakso.

Selain itu, tentu ada sejumlah nama restoran lain yang menyajikan masakan rumah dengan keunikan masing-masing. Semuanya demi membuat pengunjung merasa menikmati menu makanan di rumah, juga suasana yang membangkitkan rasa rindu. l AMANDRA MUSTIKA MEGARANI | UTAMI WIDOWATI

Vitamin Alami Penangkal Kanker

VIVAnews – Hal paling baik untuk mencegah kanker secara alami adalah dengan gaya hidup sehat. Salah satunya, dengan mengonsumsi makanan kaya vitamin alami.

Berikut lima vitamin yang bersumber dari berbagai bahan makanan. Konsumsi secara teratur untuk mencegah timbulnya perkembangan sel kanker.

1. Betakaroten
Betakaroten adalah penanda sumber vitamin A yang tinggi. Banyak ditemukan di sayur dan buah seperti wortel, ubi jalar, bayam, dan sayuran berdaun hijau lainnya. Sumber gizi yang luar biasa ini, menurut penelitian dapat melindungi paru-paru dari racun yang bisa memicu kanker. Studi lain menemukan bahwa mantan perokok yang makan sayuran hijau dan mengandung beta karoten tinggi setiap hari, risiko kanker perut dan kanker paru-paru bisa menurun.

2. Vitamin B6
Vitamin B sangat penting untuk menjaga sistem imunitas dalam tubuh dan melindungi sistem pernafasan dari infeksi dan polusi. Penelitian juga menujukkan vitamin tersebut bisa membantu melindungi tubuh dari kanker serviks. Vitamin B6 banyak ditemukan di wortek, apel, daging, pisang, sayuran hijau, dan kentang manis.

3. Vitamin C
Menurut para ahli nutrisi vitamin C merupakan vitamin yang bisa mencegah kanker dan sangat baik untuk pencegahan dan pemulihan. Banyak dari para pasien kanker yang diberikan vitamin C dalam dosis besar untuk pemulihan.

4. Vitamin B9
Vitamin B9 juga dikenal dengan asam folat ini bisa mencegah kanker serviks. Anda bisa mendapatkannya dengan mengonsumsi buah bit, kubis, sayuran hijau, telur, buah sitrus, dan ikan laut. 

5. Vitamin E
Vitamin E adalah sumber utama antioksidan yang bisa menangkal zat radikal bebas pemicu kanker. Dengan mengonsumsinya secara teratur Anda bisa terhindar dari kanker usus. Dapatkan vitamin ini dengan mengonsumsi telur dan sayuran hijau pekat (kangkung, bayam). (adi)

• VIVAnews

34 queries