Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


“Stay Home Dad” Makin Populer

KOMPAS.com — Menggantikan peran istri menjaga sang buah hati sembari bekerja di rumah, kenapa tidak? Meski kadang menimbulkan dilema dengan pandangan umum, banyak keuntungan diraih dengan menjadi “ayah rumah tangga”.

Mungkin tak pernah terbayang sebelumnya, sebagai seorang kepala keluarga, suami harus tinggal di rumah untuk menggantikan peranan Anda sebagai ibu. Menjaga anak, melakukan pekerjaan rumah, dan menjalani karier sekaligus, sementara umumnya para suami pergi mencari nafkah di luar.

Namun, sebenarnya menjadi seorang “ayah rumah tangga” bukanlah pilihan yang buruk untuk dilakukan. Maksimalisasi waktu yang dimiliki dan kualitas kenyamanan yang didapat sudah barang tentu memengaruhi hasil dari pekerjaan yang dilakukan. Belum lagi kualitas hubungan ayah-anak yang didapat akan lebih baik dari sebelumnya.

Sayangnya, tidak semua orang menghargai pilihan ini. Pandangan negatif akan suami yang lebih banyak di rumah sering kali membuat seorang ayah rumahan menjadi tidak percaya diri menjalani peran barunya. Pandangan ini juga kerap membuat para ayah pekerja rumahan menjadi frustrasi dan lebih sensitif.

Hal ini tidak perlu terjadi asal dipersiapkan dengan matang. Caranya? Ikuti trik berikut ini.

Inventarisasi pekerjaan rumahan
Bukan mustahil seseorang menghasilkan uang tanpa harus pergi dari rumah. Namun, dibutuhkan keahlian khusus untuk menjalani sebuah karier ayah rumahan. Oleh karena itu, sebelum memutuskan menjadi ayah rumahan, ada baiknya persiapkan diri dengan menginventarisasi pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah.

Pekerjaan seperti mengelola e-bisnis, copywriter, hubungan masyarakat, ahli pembukuan, penulis, dan desainer website adalah beberapa pilihan pekerjaan yang bisa dilakukan sembari menjadi ayah rumahan. Tentu saja, pekerjaan-pekerjaan tersebut butuh keahlian, seperti menulis serta menguasai teknologi dan informasi. Di samping itu, dibutuhkan juga modal untuk menjaga semua tetap berjalan lancar.

Peroleh keahlian khusus dengan menjalani pelatihan dan kursus, juga persiapkan modal yang cukup sebelum memutuskan menjalani karier rumahan. Apabila perlu, jalin relasi dengan komunitas yang akan memberikan keuntungan bagi karier rumahan Anda.

Belajar dari pasangan
Sebelum benar-benar final untuk menjalani peran sebagai ayah rumahan, ada baiknya pelajari dahulu hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas rumahan.

Mulai dari cara berkomunikasi dengan anak, apa saja tugas rumah tangga yang harus dilakukan, berapa jam efektif yang dapat dimiliki, hingga bagaimana menggunakan peralatan rumah tangga. Hal ini penting untuk mempersiapkan mental menghadapi perubahan drastis dalam kehidupan sehari-hari.

Melakukan simulasi pada akhir minggu dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah ataupun mengajak anak bercengkerama dapat saja diupayakan untuk memulainya.

Apabila perlu, tanyakan kepada pasangan apa pun yang perlu diketahui mengenai situasi rumah. Mintalah trik-trik yang biasa dilakukan pasangan untuk membuat situasi rumah terkendali.

Yakinkan diri
Bagi pria, bekerja bukan hanya memiliki arti sebagai sarana untuk menghasilkan uang. Lebih dari itu, kebanyakan pria meletakkan nilai harga diri dan bukti eksistensinya pada sebuah pekerjaan.

Tak heran, ketika orang bertanya mengenai pekerjaannya, pria lebih suka menyebutkan perusahaan besar tempatnya bekerja saat ini. Lantas bagaimana jika harus bekerja di rumah saja? Kebanyakan orang tidak paham, bekerja di rumah bukan berarti lebih buruk daripada bekerja pada sebuah perusahaan.

Menanamkan dalam diri sendiri mengenai pentingnya pencapaian dan maksimalisasi hasil ketimbang terikat dengan brand perusahaan tertentu sebaiknya dimiliki para ayah sebelum memutuskan untuk bekerja di rumah. Bukan hanya para ayah rumahan, pasangan pun sebaiknya memiliki pandangan yang sepaham dengannya.

Hal ini sangat penting dimiliki pasangan untuk menjaga keharmonisan hubungan suami-istri. Setidaknya ketika orang memandang sebelah mata kepada ayah rumahan, pasangan adalah tempat mendapatkan dukungan moril yang akan membuat pria tetap nyaman dengan pilihannya.

Atau paling tidak, pasangan suami-istri tidak terjebak saling menuntut ketika salah satu merasa kaget dengan peran-peran yang belum dikuasainya.

Memang, akan banyak orang yang mengkritisi atau bahkan nyinyir berbicara soal bekerja di rumah bagi seorang pria.

Jangan menyerah dengan semua perlakuan itu! Memang, sekali waktu para pria yang memutuskan bekerja di rumah akan mengalami hari-hari yang buruk, bahkan terkadang merasa tidak dihargai.

Namun, yang terpenting ketika hal buruk itu datang, ingatlah jika pilihan ini adalah pilihan rasional dan paling tepat untuk dilakukan demi diri sendiri dan keluarga.

Tak ada salahnya mencatat atau mengingat-ingat kembali alasan-alasan untuk menjadi ayah rumahan. Pada intinya, yang harus Anda beri kesan adalah keluarga dan diri sendiri, bukan orang lain.

(Tabloid NOVA/Laili Damayanti)

Editor: din

Gaya Wanita yang Jadi Favorit Pria

VIVAnews - Pria memiliki pendapat sendiri soal penampilan wanita. Bisa jadi, saat wanita merasa sudah tampil maksimal, pria justru menganggapnya biasa saja.

Situs fashion asal Inggris, My Celebrity Style melakukan poling pada 1.125 pria. Untuk mengetahui apa pendapat pria soal penampilan wanita dan yang menjadi favoritnya. Berikut jawabannya :

1. Gaya terseksi
Penampilan paling seksi wanita menurut para pria adalah ketika menggunakan pakaian olahraga. Sebanyak 67 persen pria mengatakan tidak ada yang lebih seksi daripada gaya atletis dan riasan yang minim.

2. Gaya kantoran
Setelah gaya atletis yang paling disukai pria adalah gaya wanita karier. Gaya ini identik dengan rok pendek, blazer dan kemeja tak lupa sepatu tumit tinggi. Riasan pun tidak mencolok. 

3. Terbuka tidak selalu baik
Tidak semua pria menyukai wanita dengan pakaian terbuka. Bahkan, hampir setengahnya berpikir wanita terlalu berlebihan dalam hal berpakaian.

4. Pria suka dengan wajah tanpa riasan
Sepertiga pria yang disurvei mengatakan bahwa mereka lebih suka wanita yang tanpa riasan sama sekali. Hal itu menjelaskan bahwa pria tidak suka riasan yang berlebihan karena terkesan palsu. Dua pertiga orang tidak keberatan dengan maskara tebal, tetapi tidak untuk riasan yang berat.

5. Pria ‘alergi’ pada wanita yang tergila-gila fashion
Pria tidak menyukai wanita yang terlalu memuja fashion. Pasalnya, bagi sebagian besar pria, fashion bukanlah sesuatu hal yang penting. Hanya 15 persen pria mengatakan, mereka berusaha untuk tampil trendi dan hampir dua pertiga mengatakan, mereka tidak melakukannya. Alasan yang mereka berikan adalah karena itu membuatnya tampak bodoh.

Baca juga: Hal Paling Diinginkan Pria dalam Pernikahan

 

• VIVAnews

Scan Otak Bisa Membantu Memilih Karir  

TEMPO Interaktif, California – Tes bakat, baik umum maupun khusus, dan tes kemampuan mental merupakan alat penting memandu memilih bidang kejuruan. Kini para peneliti dari Universitas California, Amerika Serikat, mempertanyakan apakah kinerja dalam tes tersebut didasarkan pada perbedaan struktur otak, dan jika demikian, scan otak bisa sangat membantu dalam memilih karier?

Seperti yang ditulis di jurnal BMC Research Notes, peneliti menyelidiki seberapa baik delapan tes yang digunakan dalam memandu memilih kejuruan berkorelasi dengan daerah abu-abu di otak.

Penelitian yang dipimpin Richard Haier, dari Universitas California, menyelidiki dasar neurologis untuk kinerja tiap-tiap tes. Dia mengatakan, “Perbedaan individual dalam kemampuan kognitif memberikan informasi yang berharga untuk bimbingan kejuruan.”

Ia juga mengakui memang ada beberapa perdebatan, seperti apakah hasil tes kemampuan khusus perseorangan lebih membantu daripada hasil tes dengan faktor yang lebih luas, seperti kecerdasan umum. “Kami membandingkan jaringan otak yang diidentifikasi dengan menggunakan skor tes kemampuan kognitif yang luas dengan mereka yang yang diidentifikasi dengan menggunakan tes kognitif spesifik,” ujarnya. Perbandingan ini untuk menentukan apakah pendekatan yang relatif luas dan sempit ini memberikan hasil yang sama.

Dengan menggunakan MRI, peneliti mencari korelasi daerah abu-abu di otak dengan faktor-faktor kemampuan independen (kecerdasan umum, kecepatan penalaran, numerik, spasial, memori) dan dengan skor tes yang didapat dari tes kognitif yang diselesaikan oleh 40 individu dalam mencari panduan memilih kejuruan.

Berbicara tentang hasil ini, Haier mengatakan, “Pola kekuatan dan kelemahan kognitif seseorang terkait dengan struktur otak mereka. Dengan demikian, ada kemungkinan scan otak dapat memberikan informasi unik yang akan membantu untuk memilih kejuruan.”

ScienceDaily/NF

Ciri Lingkungan Kerja Tidak Sehat

VIVAnews – Bagaimana lingkungan kerja saat ini? Setiap orang tentu ingin memiliki lingkungan kerja yang sehat dan menyenangkan, sehingga karier tumbuh dan berkembang dengan baik.

Namun, tak jarang keinginan tinggal keinginan, sementara jika ingin pindah kerja, belum ada perusahaan bisa menerima dalam waktu dekat. Akibatnya, Anda jadi stres.

Sebelum Anda mengalami ‘mimpi buruk’ seperti ini, berikut merupakan ciri-ciri lingkungan kerja yang tidak sehat. Jika apa yang dipaparkan di bawah ini ada dalam lingkungan kerja Anda, Anda dapat mengantisipasinya sejak dini.

1. Dilarang multitasking
Biasanya perusahaan sehat sangat senang jika karyawannya produktif dan mau berbuat lebih dari sekadar yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Perusahaan tidak sehat sebaliknya, tak suka pada karyawan ‘serba bisa’. Biasanya hal ini terjadi, karena khawatir karyawan itu mengetahui hal-hal yang tidak seharusnya diketahui. Jadi, perusahaan memberikan tugas-tugas bersifat khusus dan terpisah-pisah bagi karyawannya agar mudah dikontrol.

2. Rapat tidak efektif
Rapat semestinya merupakan ajang untuk saling berbagi ide, data, dan tujuan yang jelas untuk kemajuan perusahaan. Namun, dalam lingkungan kerja tidak sehat, rapat hanya menjadi ajang untuk saling menyalahkan, memojokkan, dengan disertai hitungan-hitungan matematika memusingkan, dan metafora-metafora klise.

3. Beban kerja tak menentu
Di lingkungan kerja sehat, antara beban kerja dan hasil yang didapat biasanya seimbang. Namun, di lingkungan kerja tidak sehat, ada karyawan yang dibebani pekerjaan yang menumpuk, tapi ada juga yang dibiarkan lebih banyak ongkang-ongkang kaki.

Namun, bisa juga pada suatu ketika pekerjaan begitu melimpah sehingga tidak tertangani, tapi di saat lain justru tak ada sama sekali, sehingga karyawan mengalami disfungsional. Ini mungkin terjadi karena atasan tidak mampu mengelola manajemen dengan baik, tidak tahu tugas dan fungsi Anda, atau mereka memang tidak peduli.

4. Kebijakan overlaping
Penanganan pekerjaan yang baik adalah jika antara tugas dengan instruksi yang diberikan paralel dan dapat diselesaikan satu per satu. Namun, di lingkungan kerja tidak sehat, seringkali terjadi ketika satu pekerjaan belum selesai, sudah ada instruksi baru, memo baru, kebijakan baru, yang ada kalanya saling bertentangan. Namun, Anda dilarang bertanya atau mengeluh.

5. Target tidak realistis
Penetapan target yang baik adalah yang sesuai dengan kapasitas dan kondisi terkini, namun di lingkungan kerja yang tidak sehat, target dibuat bertentangan dengan prinsip tersebut sehingga terkesan terlalu di awang-awang dan tidak realistis.

Selamat mencoba, karena hasil akhir yang berkualitas dimulai dengan implementasi yang berkualitas (Quality Implementation /QI).

Diasuh oleh:

Kevin WuKevin Wu, Managing Director CoreAction Result Consulting, telah membantu beberapa perusahaan di tanah air melipatgandakan hasil hanya dalam waktu yang relatif singkat dengan metode management yang simple dan aplikatif. Tidak berlebihan jika banyak pihak yang menyebutnya sebagai “Result Consultant”.
Info lebih lengkap silahkan klik www.thecoreaction.com, www.qi-leadership.com atau email info@thecoreaction.com

 

Baca juga: Profesi Teraneh di Dunia

 

• VIVAnews

Jangan ‘Menabung’ Stres

VIVAnews – Setiap orang pasti memiliki tekanan dalam kehidupannya. Banyaknya tekanan dalam hidup terkadang bisa menimbulkan stres.

Emosi meningkat, kehilangan nafsu makan, atau bahkan nafsu makan bertambah, bisa menjadi tanda Anda sedang mengalami stres. Jangan biarkan keadaan ini terus merusak hari-hari Anda. Segera konsultasikan kepada psikolog atau tenangkan diri dengan berlibur ke tempat favorit.

Agar tak terjebak dalam stres, Anda perlu tahu, beberapa sinyal bahwa Anda sedang mengalami tekanan hebat. Seperti dikutip dari laman Modernmom.com, berikut tanda-tanda stres:
     
Berjalan dengan pandangan kosong
Saat seseorang merasa tertekan, seringkali terlihat sedang berjalan tanpa pandangan alias dengan pikiran kosong. Gejala seperti ini bisa menunjukkan sinyal stres.

Stres bisa terjadi akibat mengurus anak, tuntutan karier, tekanan keuangan, atau bahkan karena terjebak macet dan terlambat datang rapat. Tapi, kunci dari semua ini, adalah bagaimana Anda menghadapinya. Untuk meredamnya, cobalah berolahraga teratur dan menjalani pola makan sehat.

Mengingat kenangan buruk
Pernah merasa terpuruk dan merasa takut keterpurukan kembali pada Anda juga bisa menandakan Anda sedang dikepung tekanan hebat. Jika Anda pernah bangkrut dalam bisnis, dan saat berhasil membangun kesuksesan, ada perasaan takut bangkrut, bisa jadi Anda sedang stres. Cobalah selalu berpikir positif dan optimis bisa membawa Anda pergi jauh dari keterpurukan.

Jatuh Sakit
Terlalu banyaknya pikiran, juga bisa membuat kondisi kesehatan drop. Akibat stres, banyak penyakit yang mungkin timbul. Hati-hati, jika Anda terlalu banyak berpikir keras, tubuh akan rentan penyakit.

Sakit kepala di akhir pekan
Ketika Anda tiba-tiba berusaha menurunkan tingkat stres saat Jumat malam, hal ini justru bisa menimbulkan migrain. Jadi, jika Anda masih mengalami di akhir pekan, di saat Anda libur, ini bisa menjadi pertanda, dalam satu pekan beban berat menempel pada pikiran Anda. Jangan sepelekan, kondisi ini melemahkan kondisi fisik. Usahakan untuk melupakan pekerjaan selama akhir pekan.

Kram
Tahukah Anda, jika stres, Anda akan berisiko dua kali lebih mungkin menderita kram. Apalagi saat Anda tengah menjalani masa haid, kram bisa datang lebih menyakitkan dari biasanya.

Sering Terbangun Tengah malam
Bila stres, Anda mungkin akan lebih sering terbangun di malam hari. Tidur menjadi gelisah bahkan seringkali mengalami mimpi buruk. Ini juga merupakan salah satu tanda Anda sedang stres.

Sakit Gigi
Hormon stres, kortisol dapat merusak sistem kekebalan tubuh sehingga memungkinkan bakteri menyerang gusi Anda.

Jerawatan
Stres menyebabkan peradangan yang mengarah pada jerawat. Nah, jika Anda sudah berbagai cara untuk mengatasi jerawat tapi tak berhasil, cobalah redam stres Anda. Siapa tahu, stres hilang, jerawat pun hilang.

Kulit gatal
Stres mengaktifkan serabut saraf menyebabkan sensasi gatal. Jadi jika Anda sudah memiliki kondisi kulit yang mendasari seperti dermatitis, psoriasis atau eksim, stres dapat memperburuk itu. kulit gatal adalah petunjuk tingkat stres seseorang. Bahkan stres juga bisa memicu alergi, karena hormon stres dapat merangsang produksi IgE, protein darah yang menyebabkan reaksi alergi.

Nyeri perut
Kecemasan dan stres pasti dapat menyebabkan sakit perut secara bersamaan. Tak hanya itu saat stres secara bersamaan Anda juga bisa diserang sakit punggung, sakit kepala dan insomnia. Satu studi menemukan bahwa pria dan wanita mengalami tingkat stres yang tinggi lebih dari tiga kali lebih besar untuk menderita sakit perut.

• VIVAnews

Stres pada Perempuan Lebih Tinggi

KOMPAS.com – Perempuan menghadapi stres lebih tinggi, baik secara biologis, psikologis, dan emosi. Penyebabnya perempuan lebih memiliki kontrol eksternal dalam dirinya dengan lebih banyak menggunakan emosi daripada logika. Kebahagiaan perempuan pun cenderung ditentukan oleh orang lain, bukan oleh dirinya, terutama dalam hubungan berpasangan.

Sementara problem perempuan jauh lebih kompleks. Misalnya, perempuan harus menyesuaikan diri ketika menghadapi pubertas, menstruasi, kehamilan, dan melahirkan. Dengan masalah yang kompleks, perempuan lebih stres karena kecenderungannya otak perempuan lebih banyak mengandalkan kerja emosi daripada logika.

Psikolog klinis Zoya Amirin, MPsi, menjelaskan bahwa setiap individu berusia dewasa, secara psikologis harus memenuhi tugas perkembangan diri. Jika tugas ini tidak terpenuhi, akan muncul stres karena tekanan dalam diri maupun dari lingkungan.

Zoya menerangkan tugas itu antara lain berkaitan dengan hubungan berpasangan yang lebih serius, jenjang pernikahan, masa pacaran, membangun keluarga muda, menjadi orangtua muda, menanggung kehidupan orangtua, dan mengejar karier. Belum lagi pilihan antara melanjutkan pendidikan dengan mengurus anak dan keluarga.

“Sukses secara usia adalah dengan bertumbuh sebagai manusia dewasa secara normal, dengan pemenuhan semua tugas tersebut. Jadi wajar jika ada perempuan yang merasa tertekan ketika saat usia dewasa belum juga menikah, misalnya. Perasaan ini normal, karena memang menjadi tugas perkembangan yang perlu dipenuhi dan tidak bisa dihindari,” papar Zoya, usai bincang-bincang bertema “How to Manage Our Stress” bersama majalah Intisari di Jakarta, Jumat (11/6/2010) lalu.

Alhasil, masalah perempuan yang kompleks ini membuat stres pada perempuan lebih tinggi. Ditambah lagi perempuan cenderung diposisikan secara sosial (peran gender), lebih subordinan, sehingga perempuan cenderung sulit mengontrol dirinya dan selalu mengandalkan orang lain.

“Perempuan cenderung melihat dirinya seperti seakan mengatakan bahwa I don’t deserve to be happy. Perempuan lebih melihat apa yang membahagiakan orang lain,” kata Zoya.

Penting dimengerti bagi perempuan, bahwa dia harus memiliki kontrol atas hidupnya. Mengontrol segala sesuatu yang bisa dikontrol, setidaknya dengan mengatakan bahwa ia juga berhak bahagia dengan pilihan-pilihannya.

“Kesadaran ini harus dibangun, dan jika sudah sadar harus bisa keluar dari keadaan. Berapa banyak perempuan yang menyadari ini namun tak berani keluar karena khawatir tidak ada lagi yang mau menyayanginya. Akhirnya bertahan dalam hubungan yang tidak sehat, seperti kekerasan dalam rumah tangga misalnya, atau dating violence, yang kemudian tetap saja berujung pada pernikahan,” tandas Zoya.

Anda pun bisa mengatasi stres dengan mengambil alih kontrol diri. Berani mencoba?

C1-10

Editor: din

“Bancassurance”, Bisa Memudahkan Nasabah Bank


KOMPAS.com - Belakangan ini perbankan banyak melakukan hubungan kerja dengan perusahaan asuransi. Bahkan, banyak perusahaan asuransi mencoba melakukan kerja sama yang cukup intens dengan perbankan.

Kita bisa lihat berita di surat kabar, ketika sebuah perusahaan asuransi melakukan penandatanganan dengan sebuah bank untuk menawarkan produknya. Bank tersebut menawarkan produk asuransi dari perusahaan asuransi. Pihak bank menyebutnya bancassurance.

Artinya, bancassurance diperoleh dari dua kata, yaitu bank dan asuransi. Bancassurance bukan menyatakan bahwa semua produk bank tersebut diasuransikan atau semua produk bank tersebut semakin terjamin. Saat ini produk perbankan secara umum dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), di mana untuk deposit maksimum Rp 2 miliar.

Bank mau menawarkan produk asuransi untuk meningkatkan fee-base bank yang bersangkutan. Oleh karena itu, bank mendirikan sebuah divisi tersendiri untuk menawarkan produk asuransi ini yang dikenal divisi bancassurance. Adanya divisi ini membuat bank tersebut menjadi sebuah usaha yang menawarkan semua produk yang diinginkan nasabahnya.

Bila nasabah merasa tidak nyaman dengan produk banknya karena investasi melebihi penjaminan, maka nasabah bisa meminta asuransi atas produk tersebut. Penawaran produk asuransi ini awalnya ditawarkan kepada nasabah spesial yang dikenal nasabah prioritas karena dana yang dimilikinya cukup besar di bank yang bersangkutan.

Namun, karena fee-base yang diterima cukup besar, maka selayaknya produk ini dibuat menjadi produk massal sehingga timbullah divisi bancassurance tersebut.

Bagi karyawan bank, penawaran produk ini membuat kepercayaan menjadi lebih meningkat karena mereka bisa menawarkan lebih banyak produk kepada nasabah. Kemampuan staf juga semakin meningkat. Pengetahuan yang bertambah akan meningkatkan karier karyawan bersangkutan. Di sisi lain, ini juga menjadi cara menahan konsumen agar tidak lari ke bank yang lain.

Kenapa perusahaan asuransi menggunakan bank untuk memasarkan produk asuransinya? Padahal, selama ini perusahaan asuransi mempunyai pemasar yang cukup andal, bahkan mereka umumnya ”bermuka tembok” untuk menawarkan produknya agar bisa diterima publik.

Perusahaan asuransi merasa lebih aman dan efisien bila melakukan pemasaran dengan menggunakan bank. Konsumen yang datang ke bank umumnya sudah melek mengenai produk investasi dan asuransi.

Perusahaan asuransi juga tidak perlu mempersiapkan kantor untuk para agen penjual asuransi yang dimiliki bank karena bank umumnya mempunyai cabang. Perusahaan asuransi menjadikan bank sebagai perpanjangan distribusi (channel distribution) untuk menawarkan produknya.

Perusahaan asuransi hanya mendidik agen-agen yang bekerja di bank tersebut untuk menjual produknya. Adanya produk asuransi di bank tersebut membuat perusahaan asuransi lebih terpercaya karena dana yang diterima langsung bisa masuk ke rekening perusahaan asuransi di bank tersebut. Penjualan produk asuransi melalui bank akan lebih tepat karena sudah menggunakan teknologi yang sesuai, berhubung bank selalu menggunakan teknologi dalam menawarkan produk.

Pertanyaan yang timbul, produk asuransi apa saja yang ditawarkan oleh bank kepada konsumennya? Produk asuransi dapat dikelompokkan menjadi produk asuransi jiwa dan produk asuransi nonjiwa. Adapun produk asuransi nonjiwa seperti asuransi kebakaran rumah, asuransi kredit rumah, asuransi kehilangan barang, terutama untuk mobil, dan sebagainya. Adapun produk asuransi jiwa seperti asuransi seumur hidup dan asuransi jiwa berjangka. Semua produk ini diminati masyarakat yang mempunyai pandangan jauh ke depan.

Konsumen akan bertanya, kenapa harus membeli produk bancassurance dari bank, dan kenapa tidak langsung kepada perusahaan asuransi tersebut? Konsumen akan mendapatkan kemudahan dan efisiensi bila membelinya dari bank. Misalkan, bila konsumen sudah punya rencana untuk membeli produk asuransi jiwa dan bertanya langsung kepada marketing atau agen di bank tersebut. Pihak bank akan membantu konsumen untuk menghitung seluruh kebutuhan dan langsung melakukan transfer di bank yang bersangkutan.

Waktu yang dibutuhkan konsumen akan lebih sedikit karena tidak perlu mondar-mandir untuk mendapatkan formulir dan mentransfer dana untuk membayar premi asuransi. Bahkan, konsumen bisa menyimpan sertifikatnya di bank yang bersangkutan pada safety box yang tersedia.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai pelaku bancassurance, peminat penawaran ini semakin meningkat.

Total penjualan premi yang dilakukan para agen asuransi dibandingkan yang dijual melalui bank sudah hampir sama. Sebelumnya, penjualan melalui agen yang dikenal dengan penjualan konvensional cukup mendominasi. Dengan demikian, telah terjadi pergeseran penjualan produk asuransi.

Konsumer tidak perlu sungkan menanyakan kepada marketer bank untuk mendapatkan bancassurance. Mudah-mudahan tindakan tersebut dapat mempermudah dan membantu konsumen.

(Adler Haymans Manurung, praktisi keuangan)

 

Editor: din

Sumber: Kompas Cetak

Pernikahan di Mata Pria


KOMPAS.com – Pria dan perempuan memiliki pandangan yang berbeda tentang pernikahan. Dalam bayangan kita, pernikahan adalah hari-hari penuh kebersamaan. Mulai dari sarapan pagi dan berakhir dengan makan malam romantis di sudut ruangan rumah. Mengerjakan sesuatu bersama, dan berbagai hal yang biasa dilihat di film-film dongeng ala Cinderella. Sayangnya, hal-hal seperti ini jauh dari bayangan pria tentang pernikahan. Kepala mereka lebih banyak diisi oleh bayangan-bayangan ini:

Takut Salah Memilih Pasangan
Siapa sih yang tidak takut berakhir dengan pasangan yang salah? Semua orang pasti memiliki ketakutan yang sama. Apalagi bila hubungan pacaran terhitung singkat. Persoalannya, perempuan lebih mudah mengikis kekhawatiran ini ketimbang pria. Tapi sebenarnya ketakutan pria masih dalam batas wajar. Apa yang paling ditakutkan? Dia sangat takut seseorang yang di masa pacaran dianggapnya sebagai putri yang baik hati, ternyata menjadi seorang “nenek sihir” ketika menikah. Mungkin karena itu, dia terkesan santai dan tidak buru-buru menentukan target. Bukan karena tidak berminat terhadap pernikahan, dia hanya ingin benar-benar mengenal dan menyeleksi perempuan yang akan menjadi calon istrinya.

Siap Bertanggung Jawab
Tanggung jawab, itulah yang ada di kepala pria mendengar kata pernikahan. Segala hal yang berkaitan dengan pasangan resmi menjadi tanggung jawabnya ketika dia menikah. Itu berarti dia harus menjadi nahkoda dan memberikan materi yang cukup, bahkan berlebih untuk keluarganya. Dengan alasan ini, banyak pria mengaku memilih mengejar karier lebih dulu, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan menikah.

Takut Bosan
“Menikah? Duuh, ketemunya dia lagi, dia lagi dong, bosan aah.” Ya, inilah yang terlintas di kepala pria tentang pernikahan. Membayangkan bahwa dia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang sama, seringkali membuat hatinya gentar. Tapi Anda tak perlu khawatir, tidak semua pria memiliki bayangan seperti ini. Biasanya, yang bisa mengatasi kecemasan ini adalah pria yang merasa telah menemukan belahan jiwa yang bisa dia cintai selamanya. Dia juga berharap, perempuan yang akan dinikahinya tak sekadar menjadi istri tapi juga teman yang menyenangkan. Sssst, diam-diam pria juga memiliki ketakutan pasangannya merasa jenuh dan memilih berselingkuh.

Menjadi Ayah
Status yang berubah dari lajang menjadi ayah, menjadi perhatian pria. Ada yang merasa takut membayangkan bakal ada mahluk mungil yang memanggilnya “ayah”. Namun, bagi yang merasa telah siap, bayangan tentang ini sangat menyenangkan. Sama seperti Anda, pria juga menanti kehadiran teman baru dalam hidupnya. Tak sabar untuk mengajak anak prianya bermain bola atau membelikan anak perempuannya sebuah boneka cantik. Dan dia selalu ingin menjadi ayah yang bisa dibanggakan oleh anak-anaknya.

Hidup Sehat dan Terawat
Menikah berarti ada yang merawat dan mengurus semua kebutuhannya di rumah. Ada yang menyediakan makanan, menyiapkan makanan, pakaian kerja, hingga merawatnya saat sakit. Bagi pria, bayangan ini akan terasa sempurna, ketika yang melakukannya adalah orang yang ia cintai. Hmm, enggak heran ya, kalau banyak pria yang berat badannya bertambah setelah menikah.

Dapat Teman Hidup
Bagi pria, menikah berarti memiliki teman hidup yang siap berbagi saat senang dan sedih. Pria berharap, pasangannya dapat menjadi seseorang yang bisa memberikan dukungan dalam segala kondisi. Serta bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Tenang, ia takkan menuntut Anda untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan kantor yang sangat banyak. Ia hanya membutuhkan Anda sebagai teman untuk berkeluh kesah dan berdiskusi. Perempuan seperti apa yang ia butuhkan? Yang pasti perempuan yang bisa diajak bicara, sekaligus mau mendengarkan.

(Bestari Kumala Dewi/Majalah Chic)

Editor: NF

Agar Eksis di Dunia Fashion

TEMPO Interaktif, Memasuki industri fashion tak hanya cukup berbekal kemampuan merancang busana. Tapi juga diperlukan manajemen agar mampu menjaga kesinambungan karier di bidang ini. Selain itu, menunjukkan karya tak cukup dalam satu-dua kali pergelaran, melainkan terus-menerus. Mereka yang punya cita-cita menjadi perancang besar harus memahami hal itu.

Musa Widyatmojo dan Deden Siswanto pun berbagi pengalaman tentang suka-duka menjadi perancang. Musa, yang telah 20 tahun memilih karier di bidang ini, mengatakan, dibutuhkan keberanian untuk terjun ke dunia fashion. Ia sendiri memulai kariernya sebagai penjahit dengan menggunakan kamar tidurnya, lalu pindah ke garasi, hingga punya perusahaan di bidang fashion.

Laki-laki kelahiran Jakarta, 13 November, 45 tahun lalu, itu mengaku sudah punya minat sejak kecil. Namun saat itu ia hanya bisa mengagumi pakaian yang menurut dia indah dilihat. Kemudian ia mulai membayangkan memodifikasi pakaian-pakaian yang ia lihat itu. “Saya cuma bisa berimajinasi, karena tidak bisa menggambar,” kata Musa dalam seminar “How to Enter Fashion Industry” dalam Jakarta Fashion and Food Festival di Jakarta, Rabu dua pekan lalu.

Bagi Musa, tak mudah mengawali karier. Selain harus punya keberanian, harus mau belajar dan terus memperbaiki, memiliki komitmen, serta berpikir di luar jalur. “Tidak perlu banyak teori, mulai saja,” ia melanjutkan. Menurut dia, umumnya mereka yang memiliki minat dalam bidang fashion sering terkungkung ketakutan, sehingga tidak pernah bisa memulai.
Takut karena tak punya modal besar, takut tidak bisa mendapatkan pasar, dan masih banyak ketakutan lain.

Musa mengaku mengawali kariernya dari tidak punya apa-apa. Namun berkat kerja keras, kariernya bisa berkembang. Kini ia sudah menuai hasil. Sebagai contoh, dari hasil membuat konsep saja, ia mendapat bayaran Rp 150 juta. Ia telah dipercaya oleh berbagai perusahaan besar untuk merancang seragam.

Selain itu, kemampuan manajemen sangat penting. Sebab, bagaimanapun karya-karyanya itu perlu dijual. Perancang juga perlu tetap menjaga komitmennya agar mampu bertahan di industri fashion. Para perancang muda sering kali terbawa “nafsu” membuat pergelaran perdana secara mewah di hotel-hotel berbintang, tapi setelah itu tenggelam.

Perancang Deden Siswanto, yang telah berkarier selama 11 tahun, juga berbagi ilmu tentang bagaimana menjadi perancang yang eksis. Menurut dia, tidak ada patokan apakah ilmu harus didapat dari sekolah formal atau otodidak. Pada awal kariernya, Deden pun hanya bermodal nekat dengan kemampuan di bidang fashion hasil kursus di sana-sini.
Awalnya, ia bekerja sebagai tukang jahit yang tidak tahu bagaimana menghadapi pelanggan. Deden, yang sudah memiliki label sendiri, juga mengaku sempat bingung bagaimana memulai menjadi perancang. Namun ia mampu belajar hingga kemudian bisa menghitung harga karya-karyanya untuk dijual.

Yang pasti, ia berpesan, perancang harus berfokus sejak awal, dari menentukan jenis pakaian, apakah yang siap pakai atau couture. Kemudian memilih pasar, agar jelas segmennya, serta selalu mengikuti perkembangan tren terbaru. “Setiap perancang pasti pernah menghadapi masa-masa sulit.”

Ia memberikan apresiasi kepada para perancang muda yang bermunculan saat ini. Menurut dia, karya-karya mereka sangat kreatif. Namun ada yang lebih penting dari itu, yakni apakah mereka mampu bertahan atau tidak terimbas dari industri fashion. Ini hal tersulit yang dihadapi para perancang dalam memulai kariernya. | AQIDA SWAMURTI

Lily Allen “Diputuskan” Chanel


KOMPAS.com – Tahun lalu, rumah mode Chanel mendapuk Lily Allen sebagai model untuk produk tas tangannya, Chanel Coco Cocoon. Ternyata hal itu dinilai sebagai suatu kesalahan oleh Karl Lagerfeld, kepala kreatif Chanel. Kabarnya, kontrak Lily tak diperpanjang diketahui publik gara-gara Karl membuat pegawainya agar tidak tidak mengundang Lily ke pesta Chanel.

Beberapa waktu terakhir ini, memang kebanyakan merek-merek kenamaan mulai menyasar ke pembeli yang berusia muda. Jika dilihat dari karier dan kiprah Lily Allen yang menanjak beberapa tahun terakhir ini, memang bisa dimaklumi mengapa Chanel mencoba menggunakan imej si pelantun “Smile” ini. Namun, belum kelar persis setahun kontrak kerjasama Lily dengan Chanel, Karl memutuskan tali kerjasama mereka secara sepihak lantaran hobi Lily yang gemar berpesta.

Kurang dari setahun sejak kontrak kerjasama Lily dan Chanel dimulai, Karl Lagerfeld meminta pacar Johnny Depp, Vanessa Paradis untuk menjadi imej Coco Cocoon musim Spring/Summer 2010 ini. Hal ini mulai tercium publik ketika ada acara pesta Chanel yang diadakan Karl, namun Karl memastikan orang-orangnya tidak mengundang Lily ke acara tersebut. Konon, ini merupakan cara Karl untuk mengabarkan bahwa Lily tak lagi merupakan bagian dari keluarga Chanel. Gambar Vanessa Paradis sudah mulai disebarkan lewat online. Ternyata, meski bergelimangan harta dan menjadi figur publik tak selalu menyenangkan.

NAD

Editor: NF

Sumber: SassyBella

18 queries