Belajar Cara Murder
Sobat, sering nggak sudah belajar sampai bete tapi kok nggak ada yang masuk ya? Nah, bisa jadi kamu belajar secara efektif dan efisien. Coba deh sistem belajar MURDER. Eh, bukan belajar membunuh lho, tapi MURDER adalah sistem yang dibuat oleh Bob Neson dalam bukunya The Complete Problem Solver.
MURDER singkatan dari : Mood – Understand – Recall – Digest – Expand – Review.
Perincian sistem belajar MURDER sebagai berikut:
Mood – Suasana Hati :
Ciptakan selalu mood yang positif untuk belajar. Ini bisa dilakukan dengan menentukan waktu, lingkungan dan sikap belajar yang sesuai dengan pribadimu.
Understand – Pemahaman :
Tandai informasi bahan pelajaran yang TIDAK kamu mengerti dalam satu unit. Fokuskan pada unit tersebut atau melakukan beberapa kelompok latihan untuk unit itu.
Recall – Ulang :
Setelah belajar satu unit, berhentilah dan ulang bahan tersebut dengan kata-kata yang kamu buat SENDIRI.
Digest – Telaah :
Kembalilah pada unit yang tidak kamu mengerti dan PELAJARI KEMBALI keterangan yang ada. Lihatlah informasi yang terkait pada artikel, buku teks atau sumber lainnya atau diskusikan dengan teman atau guru/dosen.
Expand – Kembangkan :
Pada langkah ini, tanyakan tiga persoalan berikut terhadap materi yang telah kamu pelajari :
1. Andaikan saya bertemu dengan penulis materi tersebut, pertanyaan atau kritik apa yang hendak saya ajukan?
2. Bagaimana saya bisa mengaplikasikan materi tersebut ke dalam hal yang saya sukai?
3. Bagaimana saya bisa membuat informasi ini menjadi menarik dan mudah dipahami oleh siswa/mahasiswa lainnya?
Review – Pelajari Kembali :
Pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari. Ingatlah strategi yang telah membantu kamu mengerti dan/atau mengingat informasi. Jadi, terapkan strategi tersebut untuk cara belajarmu berikutnya.
Sumber: Majalah Annida
Aktivitas Fisik Mengurangi Risiko Menurunnya Kognitif
TEMPO Interaktif, Maryland – Perempuan yang aktif secara fisik pada setiap tahap kehidupannya (remaja, usia 30 tahun, umur 50, usia lanjut) memiliki risiko yang lebih rendah terkena kerusakan kognitif pada masa tuanya, dibandingkan dengan yang tidak aktif. Namun aktivitas fisik saat remaja tampaknya paling penting. Ini adalah temuan kunci dari penelitian yang melibatkan lebih dari sembilan ribu perempuan.
Hasil penelitian dipublikasikan Journal of the American Geriatrics Society edisi 30 Juni 2010, sebagaimana dikutip ScienceDaily 30 Juni 2010.
Ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif secara fisik pada pertengahan dan akhir kehidupannya memiliki kesempatan yang lebih rendah dan lebih kecil terkena demensia–sebuah bentuk penurunan kognitif pada usia tua.
Para peneliti yang dipimpin oleh Laura Middleton, PhD, dari Pusat Ilmu Kesehatan Sunnybrook, Kanada, membandingkan aktivitas fisik dan kognisi pada remaja, usia 30 tahun, usia 50, dan usia lanjut dari 9.344 perempuan dari Maryland, Minnesota, Oregon dan Pennsylvania, untuk meneliti efektivitas aktivitas pada tahap kehidupan yang berbeda.
“Studi kami menunjukkan bahwa perempuan yang aktif secara fisik secara teratur pada usia berapa pun memiliki risiko yang lebih rendah terkena penurunan kognitif daripada mereka yang tidak aktif, tapi aktif secara fisik pada usia remaja yang paling penting dalam mencegah kerusakan kognitif,” kata Middleton.
Para peneliti juga menemukan bahwa wanita yang secara fisik tidak aktif pada saat remaja tetapi menjadi aktif secara fisik pada usia 30 dan usia 50 tahun secara signifikan mengurangi kemungkinan kerusakan kognitif.
Middleton menambahkan, “Sebagai hasilnya, untuk meminimalkan risiko demensia, kegiatan fisik harus didorong sejak dini.”
ScienceDaily/NgartoF
10 Alasan SMS Lebih Baik daripada Telepon
KOMPAS.com – Meskipun operator ponsel berlomba-lomba memberikan tarif murah saat ini, tampaknya orang cenderung menggunakan SMS atau instant messaging untuk saling berkomunikasi. Dari segi waktu, mengirim pesan teks sebenarnya lebih lama dan tidak praktis. Meskipun demikian, SMS juga mempunyai banyak kelebihan, di antaranya:
1. Anda tidak perlu menghabiskan waktu dengan mengatakan, “Ehm… mm…” ketika kehilangan kata-kata.
2. Anda bisa tetap berkomunikasi sambil mengunyah keripik atau nasi uduk tanpa ditegur lawan bicara.
3. Anda tidak perlu melepaskan earphone yang sedang memperdengarkan lagu-lagu favorit Anda.
4. Tidak ada momen “dropped call” setiap beberapa menit, yang membuat Anda kesal karena dua menit terakhir ternyata Anda berbicara seorang diri.
5. Ketika lawan bicara melontarkan pertanyaan yang sulit atau membuat Anda jengkel, Anda bisa mengabaikannya beberapa saat. Kemudian, Anda baru menyusun kata-kata yang tepat.
6. Anda tidak perlu mendengar lawan bicara Anda menjawab, “Enggak apa-apa, kok. Aku masih belum tidur (dengan suara baru bangun tidur)”.
7. Anda tidak perlu mendengarkan nada sambung dengan lagu-lagu yang tidak Anda sukai, ketika Anda menjadi pihak yang melakukan sambungan telepon.
8. SMS masih tersimpan di inbox selama beberapa lama, sehingga Anda masih bisa menyimpan informasi yang Anda anggap penting.
9. Anda tidak perlu terburu-buru membuka pesan saat terdengar ringtone-nya seperti ketika ada telepon masuk, dan panggilan keburu ditutup sebelum Anda sempat memencet tombol “OK”.
10. SMS selalu dikirim hanya untuk Anda, sehingga Anda tidak perlu memanggil-manggil orang lain atau mencarinya ke sana-kemari karena telepon yang masuk ditujukan untuknya.
DIN
Editor: din
Sumber: MORE
Seperti Apa Tahapan Kemampuan Bicara Anak?
KOMPAS.com – Orangtua sebaiknya mengetahui tahapan perkembangan kemampuan bicara anak. Jadi, ketika terlihat ada yang tidak sesuai dengan tahap usia, mereka bisa segera mencari solusinya. Tahap perkembangan bicara anak secara garis besar adalah sebagai berikut:
* Sebelum 12 bulan
Perhatikan apakah si kecil mulai menggunakan suara mereka untuk “berkomunikasi” dengan lingkungan mereka. Tahap awal perkembangan bicara adalah mengoceh (babbling).
Seiring pertambahan usia (di usia sekitar 9 bulan), anak-anak mulai menggabungkan suara dan mengucapkan kata seperti “mama” dan “dada” (tanpa tahu maknanya). Dan, sebelum usia 12 bulan, anak mulai lebih tertarik begitu mendengar suara.
Anak-anak yang kelihatannya memandang sesuatu tapi tanpa bereaksi harus diwaspadai sebagai tanda kehilangan pendengaran (hearing loss).
* Usia 12-15 bulan
Di usia ini anak-anak mulai menguasai satu atau dua kata bermakna (di luar kata “mama” atau “dada”). Biasanya kata-kata awal yang mereka kuasai adalah kata benda. Mereka juga mulai mengerti dan mampu mengikuti perintah sederhana, seperti, “Mama minta bolanya, ya?”
* Usia 18-24 bulan
Anak memiliki sekitar 20 kosakata di usia 18 bulan, dan berkembang menjadi 50 atau lebih kosakata ketika berusia 2 tahun. Di usia 2 tahun, anak juga mulai belajar menggabungkan 2 kata sederhana. Mereka mulai bisa mengikuti 2 perintah sekaligus, misalnya, “Ambil bolanya dan toling berikan kotaknya, ya.”
* Usia 2-3 tahun
Orangtua seringkali menyaksikan “ledakan” kemampuan berbahasa anak di tahap usia ini. Kosakata mereka meningkat tajam. Secara rutin, mereka juga mulai menggabungan 3 atau lebih kata menjadi 1 kalimat. Misalnya, “Letakkan di meja, ya?” Mereka juga mulai bisa mengenal warna dan konsep perbandingan (besar-kecil).
(Hasto Prianggoro/Tabloid Nova)
Editor: NF
Seks Bagus Buat Penderita Sakit Jantung
VIVAnews – Selama ini banyak pasien serangan jantung menghindari berhubungan seksual. Padahal tim peneliti dari University of Chicago, Amerika Serikat sangat menganjurkan berhubungan seksual untuk para pasien pasca serangan jantung. Hal itu karena hubungan seks justru membantu pemulihan kondisi jantung.
“Kecenderungan kematian selama berhubungan seksual, sangat kecil pada pasien yang memiliki riwayat serangan jantung,” kata kepala peneliti, Dr. Stacy Lindau dari University of Chicago, seperti dikutip dari Idiva.com, Selasa 1 Juni 2010.
Menurut ahli dari “American Heart Association’s Forum on Quality of Care and Outcomes Research in Cardiovascular Disease and Stroke,” banyak dari pasien serangan jantung menghindari berhubungan seksual setelah mengetahui dirinya terkena serangan jantung. Tetapi pada kenyataannya, sebagian besar ahli jantung malah menganggap seks cukup aman bagi pasien dan termasuk latihan fisik ringan.
“Aktivitas seksual adalah aktivitas fisik yang moderat dan aman bagi pasien serangan jantung,” kata peneliti senior, Dr John Spertus dari University of Missouri di Kansas, Amerika Serikat.
Orang umumnya enggan memeriksakan diri ke dokter, jika mengalami masalah dalam seks. Sehingga, kehidupan seks mereka cenderung kurang baik dan tidak ada penyelesaiannya. Dalam penelitian pada 1.760 pasien berpenyakit jantung akut, kurang dari setengahnya mengaku tidak mendapatkan informasi tentang seks aman pasca serangan jantung.
Hal ini terutama terjadi pada wanita, dan membuat hubungan menjadi kurang berkualitas. Wanita 1,3 kali dan pria 1,4 kali, lebih mungkin melaporkan penurunan kehidupan seks pada dokter.
“Seks bisa membuat orang lebih sehat. Tidak hanya mengurangi risiko serangan jantung berikutnya tetapi juga meningkatkan kulitas hidup baik secara fisik maupun psikologis,” kata Dr. Spertus. (pet)
• VIVAnews
Muncul Lagi, Korban Permainan Pukul Biji
TEMPO Interaktif, Minnesota – Masa depan David Gibbons, 14 tahun, mungkin agak berubah. Testikel sebelah kanannya terpaksa diamputasi akibat dipukul oleh teman sekelasnya.
Saat ini anak laki-laki Amerika Serikat sedang menggandrungi permainan pukul biji, atau dalam bahasa mereka disebut “sack tapping.” Yaitu permainan berseloroh dengan memukul selangkangan teman secara mendadak dengan tangan. Permainan semacam ini sudah memakan banyak korban di Amerika sana.
Orang tua David belum menyebut akan melakukan tuntutan atas kasus yang menimpa anaknya ini. Tapi ia mengakus edih atas penderitaan yang dioalami anaknya itu. “Dia membangunkan kami di tengah malam sambil menjerit menahan sakit yang luar biasa,” kata Chridty Gibbons, ibu David.
Permainan pukul biji ini memang meresahkan orang tua di Amerika Serikat. “Ini sudah di luar kendali, dan permainan ini bukanlah candaan yang lucu lagi,” kata Dr. Scott Wheeler, seorang dokter urinologi dari Meinnesota. Tahun ini Wheeler sudah mengoperasi empat bocah pria akibat permainan ini.
FoxNews | MUSTAFA SILALAHI







