Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


MENGATASI ANAK GALAK….

Perilaku anak yang galak seperti suka memukul dan menendang teman atau orang yang tidak disukainya kadang membuat kita kerepotan karena bisa jadi ia akan dijauhi oleh teman-temannya, perilaku ini membutuhkan arahan orang dewasa sehingga ia mampu mengalihkan ekspresi emosi pada prilakku yang lebih bisa diterima oleh lingkungan. Di sini peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengarahkan anak dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya, tanpa arahan yang jelas dan tegas , anak semakin sering menampilkan prilaku tersebut.

Untuk mengatasi masalah tersebut ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai orang tua yaitu :

  1. Amati prilaku orang dewasa dan anak-anak yang ada di sekitarnya, adakah yang berprilaku kasar seperti itu? jika ada maka prilaku kasar/galak akan semakin menguat karna anak mencontoh dan meniru orang-orang disekitarnya. Oleh karena itu sebisa mungkin jauhi tindak kekerasan dari anak kita.
  2. Prilaku kasar/galak bisa didasari oleh perasaan tidak nyaman atau tidak aman, sebagai orang tua kita perlu menggali perasaan anak dan mencari tau hal-hal apa saja yang membuatnya tidak senang atau yang membuatnya senang.
  3. Arahan yang tegas dan jelas, bila anak akan memukul katakan padanya “tidak boleh” dan jelaskan kalau dipukul itu sakit jadi kamu tidak boleh memukul. Biasanya pada anak usia 3 tahun keatas biasanya dia mulai mempertahankan keinginannya, oleh karena pada usia ini anak bila dilarang akan semakin terdorong utk melakukan. Daripada melarang anak lebih baik mengalihkan perhatiannya atau bersikap tegas dengan memberikan konsekuensi dengan tindakan, misalnya menghentikan aktifitasnya dan membuatnya diam sejenak di tempat yg berbeda.
  4. Tangkap perasaan anak, misalnya dengan mengatakan : “kakak kesal yaa..sini nak peluk mamah…kakak cerita yaa apa yang bikin kamu kesal?” dengarkan anak cerita dan bilang padanya “iya mamah mengeri kenapa kamu kesal…tapi kamu tetap tidak boleh memukul teman kamu karna memukul itu membuat orang jadi sakit”. cara ini bisa mengajarkan anak untuk belajar cara menyampaikan perasaannya.
  5. Ajari anak untuk berani mengeluarkan  perasaannya, kenali ia dengan kata tidak mau, tidak boleh, hentikan dan sebagainya.
  6. Semarah apapun kita tidak dibenarkan memukul atau  mencubit sebagai cara mendisiplinkan anak karena anak akan semakin menyakini klu tindakan kekerasan itu wajar untuk menyatakan ketidak nyamanan, oleh karena itu tidak perlu malu untuk meminta maaf pada anak bila tindakan kita salah.
  7. Terakhir, dalam membesarkan anak bukan hanya mengasuh dan menyediakan kebutuhannya saja tapi kehadiran dan peran serta orang tua dalam hal mendampingi, mendidik dan mengajari banyak hal adalah sangat penting utk tumbuh kembang anak.

mudah2an anak2 kita menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan menjadi penyejuk hati kita amien…

Salam Hangat

EROH

www.erobiznet.tk

 

 

Tips Memberi Pengertian Kepada Anak Balita

Masa Balita adalah masa dimana anak mulai tumbuh dan berkembang dengan segala sesuatu hal yang baru. Perkembangan pola pikir anak pada saat ini harus di arahkan kepada hal-hal yang baik, agar terus berkembang ke arah yang baik sampai anak dewasa nanti. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan agar anak lebih mudah mengerti dan ingat saat dinasehati :

  1.  Berikan nasehat  dengan membandingkan sesuatu antara yang baik dan yang tidak baik. Misalnya,  katakan kepada anak bahwa makan sambil berdiri itu tidak  baik, seperti: “coba Adek makannya sambil duduk, kelihatan lebih rapi dan sopan”.
  2.  Berilah nasehat kepada anak saat melihat sesuatu, baik dilingkungan sekitar, maupun saat nonton televisi. Bila ada yang tidak baik, langsung diberikan pengertian. Misalnya ada anak yang nangis sambil menjerit-jerit dan memukuli orang tuanya, saat itu juga langsung diberikan pengertian kepada anak.: “Adek tidak boleh  ya, seperti itu. Kan kasihan ibunya kalo dipukuli, dan menangis yang terlalu kuat seperi itu mengganggu orang lain, juga tidak enak enak dilihat orang”.
  3. Beri pelajaran yang dilakukan langsung secara bersama-sama. Kita beri contoh dan minta anak untuk melakukannya juga. Misalnya : “Adek, taroh sandalnya disini ya, ditempat sandal, biar kelihatannya rapi”. Sambil kita meletakkan sandal, ajak anak kita juga untuk melakukannya. Anak di masa Balita lebih mudah mencontoh perbuatan orang lain yang dilihatnya. Bila kita mencontohkan dengan melakukakn hal yang baik, anak akan mencontoh juga melakukan hal yang baik.
  4. Berikan penghargaan berupa pujian bila anak melakukan hal yang benar dan baik. Dengan suatu pujian, anak akan merasa bangga dan senang, selain dia juga pasti merasa diperhatikan. Misalnya dengan kata-kata :” wah Adek pintar, sudah merapikan mainanya sehabis main, Bunda sayang sama Adek”.

Disamping hal-hal di atas,  yang paling penting adalah  cara penyampaian kepada anak. Bicaralah dan katakan dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Tunjukkan bahwa orang tua bukanlah seorang diktator, tapi bisa juga menjadi seorang teman yang bisa menjadi pendengar yang baik.

 

Menghadapi Sifat Suami yang Menyebalkan

KOMPAS.com – Menghadapi sifat suami yang “sulit” memang tak mudah. Apa saja tipe suami yang bikin gemas dan bagaimana menghadapinya?

Si Workaholic
Tipe suami yang hobinya memang bekerja. Seringkali ia lebih mengutamakan pekerjaan daripada keluarga dan lingkungannya. Biasanya, ia juga egois, namun untungnya, ia pekerja keras dan melakuakn semuanya demi kepentingan keluarga.

Kuncinya hanyalah bersikap sabar dan aktif berkomunikasi. Akan lebih baik jika Anda sudah mengetahui wataknya ini sejak sebelum menikah. Jadi, sebelum memasuki gerbang pernikahan, sebaiknya buatlah kesepakatan mengenai waktu untuk keluarga.

Aktif berkomunikasi bisa dilakuakn dengan tak ragu menyampaikan keberatan mengenai sikapnya. Namun, sebaiknya pilih waktu yang tepat dan ingatkan bahwa waktu untuk keluarga sangatlah penting.

Si Sempurna
Sepertinya memang enak punya suami yang perfeksionis. Segalanya tertata, runtut, dan sempurna. Namun, bisa-bisa Anda sebagai istrinya akan kewalahan karena biasanya tipe ini banyak menuntut. Segi positifnya, semua hal di rumah maupun di lingkungannya akan terlihat “perfect“.

Jangan terburu kesal atau marah, katakan bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Mintalah ia mengerti kekurangan Anda dan anggota keluarga lain, seperti halnya Anda bisa mengerti kekurangannya.

Si Anak Mami
Wah, tipe satu ini benar-benar bisa membuat Anda geleng-geleng kepala, tak habis pikir. Semua harus sepengetahuan dan seizin sang ibu. Biasanya ia juga hobi membandingkan diri Anda dengan ibunya.

Suami tipe ini memang memimpikan seorang istri yang seperti ibunya. Bahkan, tak jarang ia memaksakan kehendaknya supaya istri bisa tampil seperti sang ibu. Segi positifnya, Anda memperoleh inspirasi dari sifat ibu mertua yang baik. Misalnya, jika ibu mertua jago mengelola keuangan eluarga, tak ada salahnya Anda meniru dia.

Untuk menghadapi suami tipe ini, Anda harus pintar-pintar berkomunikasi. Pelan-pelan, mintalah suami untuk memahami bahwa, apapun, Anda dan ibunya memiliki perbedaan dan untuk mengubah supaya serupa bukanlah hal mudah.

Si Pencemburu
Nah, tipe yang satu ini juga harus dicermati. Salah melangkah atau berkomunikasi, perang Bharatayuda bisa terjadi di dalam rumah.

Selain pencuriga, segala gerak-gerik istri ia awasi dan menjadi overprotective dan obsesif. Pokoknya, kalau bisa, istri tidak boleh berhubungan dengan lelaki lain.

Akibatnya, Anda pun menjadi terkekang dan tak leluasa beraktivitas. Segi positifnya, cemburu bisa berarti ia sangat mencintai dan tak mau kehilangan Anda. Lagi-lagi, kuncinya adalah bersabar. Sebaiknya, Anda juga sudah mengetahui sifatnya ini sejak sebelum menikah. Sehingga, ketika Anda memasuki kehidupan berumahtangga, Anda tak kaget, atau Anda bisa “bernegosiasi”.

Tak ada salahnya mengingatkan suami supaya tidak berlebihan. Yakinkan dia bahwa Anda mencintai dia dan tidak melakukan hal-hal di luar batas.

Si Pendiam
Suami tipe ini cenderung diam dan acuh pada istri. Ia hanya berbicara dan berkomunikasi seperlunya. Selebihnya, ia akan menghadapi semua persoalan dengan datar-datar saja. Tentu, yang seringkali repot adalah Anda sebagai istrinya karena tidak tahu apa yang dimaui dan dimaksud oleh si suami. Namun, segi positifnya, Anda tak direcoki oleh omelan atau pengawasan suami yang berlebihan. Diam juga belum tentu berarti tak cinta.

Kuncinya, Andalah yang harus aktif dan memulai komunikasi. Katakan bahwa Anda akan lebih nyaman seandainya ia bisa sedikit lebih terbuka. Sampaikan bahwa dengan sifat pendiamnya, bisa-bisa terjadi salah paham.

Si Pemarah
Biasanya ia memiliki temperamen yang tinggidan sumbu emosi yang pendek sehingga Anda harus waspada. Umumnya, tipe pemarah sulit mengendalikan diri. Jadi, sebaiknya Anda bersikap mengalah untuk menghindari konflik yang bisa muncul.

Selain bersabar dan berkepala dingin, apalagi jika Anda tahu dari dulu bawaannya seperti ini, Anda harus mampu meredam diri, dan tidak terbawa emosi. Biarkan ia berbicara sepuasnya. Setelah ia agak tenang, barulah Anda bisa menyampaikan keberatan. Jika Anda mampu menyampaikannya dengan baik, suami pun pasti akan mencoba mengubah sifat pemarahnya.

Si “Unromantic”
Suami yang tidak romantis bukan berarti ia tidak cinta Anda. Bisa jadi, ia tidak terbiasa atau memang tidak begitu mementingkan hal-hal seperti itu. Biasanya, ia akan lebih fokus pada hal-hal lain, misalnya bagaimana cara mengatur keuangan, bagaimana mencari uang tambahan, dan sebagainya. Itu sisi baiknya.

Satu-satunya cara menghadapi suami seperti ini adalah Anda yang harus memulai bersikap romantis. Sesekali, beri ia kejutan. Sesekali, mintalah waktu untuk berduaan saja. Tak ada salahnya melakukan perjalanan berdua setiap akhir tahun.

(Hasto Prianggoro/Tabloid Nova)

Editor: NF

Aturan ‘Perang Mulut’ dengan Pasangan

VIVAnews – Tidak salah jika banyak orang berkata sebaiknya jangan menyimpan kemarahan saat tidur. Tetapi, jika yang terjadi Anda dan pasangan bertengkar hebat sebelum tidur apa boleh buat. Rasa marah tidak akan mungkin hilang dengan cepat dan Anda harus kembali tidur karena
esok harus bangun pagi dan pergi ke kantor.

Jika Anda menemui situasi demikian tidak perlu pusing lagi menghadapinya. Karena, menurut penelitian terbaru ternyata tidak terlalu masalah jika Anda tidur meskipun sedang dalam keadaan marah. Fakta lainnya menyebutkan saat marah sebaiknya salurkan emosi Anda dengan hal
positif.

Selain itu, sebaiknya keluarkan saja emosi saat rasa marah datang. Apalagi ketika Anda sibuk membereskan rumah sementara pasangan hanya duduk manis di depan televisi. Pasti akan sangat menjengkelkan. Jika sudah begini sebaiknya jangan pendam emosi Anda pada pasangan. Katakan
saja padanya, Anda akan sangat menghargainya jika ia ikut turun tangan menyelesaikan pekerjaan rumah. Dan, katakan juga Anda tidak suka melihatnya hanya duduk diam sementara Anda sibuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Jangan hanya memendam emosi dalam hati, karena selain tidak baik untuk kesehatan mental ternyata juga bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik. Dan, faktanya menurut para ahli kesehatan, jika memendam emosi dalam jangka wakta lama bisa memunculkan penyakit serius pada tubuh Anda. Jika Anda dan pasangan sedang bertengkar dan emosi mulai tersulut cobalah untuk ingat beberapa prinsip di bawah ini.

Masalah tidak bisa selasai dengan cepat
Beberapa pertengkaran terjadi karena isu yang cukup berat. Jika hal itu yang terjadi sebaiknya jangan mencari jalan keluar ketika Anda dan pasangan dalam keadaan emosi. Hal itu hanya kan membuat pertengkaran makin hebat dan masalah tidak akan terpecahkan. Tunggu sampai emosi Anda dan pasangan mereda, baru buatlah keputusan. Keputusan yang benar-benar Anda dan pasangan sudah pertimbangkan dengan matang.

Fokus
Saat bertengkar, fokuslah pada masalah yang memicunya, jangan melebar ke masalah lain yang tidak berhubungan. Seringkali saat bertengkar Anda atau pasangan mengungkit masalah lama yang sudah selesai. Hal itu hanya akan membuat pertengkaran makin sengit dan akan sulit menemukan jalan keluar.

Akui kesalahan
Pertengkaran seringkali dipicu karena Anda atau pasangan tidak mengakui kesalahan. Cobalah untuk berjiwa besar dengan mengakui kesalahan jika Anda memang melakukannya. Jangan mencoba melindungi diri dengan melakukan kebohongan karena bisa menjadi bumerang bagi hubungan.

Tidak bertengkar di depan anak-anak
Bertengkarlah di dalam kamar dan jangan sampai anak-anak tahu. Bayangkan jika mereka melihat atau mendengar orangtua mereka saling berteriak satu sama lain. Hal itu pasti akan berpengaruh negatif pada perkembangan psikologis mereka. Jika Anda menganggap masalah yang ada sangat penting untuk dibahas segera dan bisa memicu pertengkaran, segera ajak pasangan ke dalam kamar atau ruangan lain untuk membicarakannya.

Dibawa tidur
Saat emosi Anda dan pasangan tidak bisa menganalisa masalah dengan baik. Salah satu cara untuk meredakan emosi adalah dengan beristirahat. Untuk itu, tidak masalah jika Anda tidur, saat sedang emosi. Ketika bangun, emosi mulai mereda dan Anda bisa menyelesaikan masalah dengan pasangan dengan pikiran yang jernih.

• VIVAnews

13 queries