Tai Chi dan Chikung Mendorong Sistem Kekebalan Tubuh
TEMPO Interaktif, Arizona – Sebuah kajian mengenai efek Tai Chi dan Chikung untuk kesehatan menemukan bahwa senam asal Cina itu banyak menawarkan keuntungan kesehatan fisik dan mental, seperti bermanfaat bagi jantung, sistem kekebalan tubuh, dan kualitas hidup.
Review ini dimuat American Journal of Health Promotion, edisi Juli-Agustus 2010. Peneliti mengkaji jurnal-jurnal yang memuat studi mengenai topik ini, antara 1993 – 2007, yang melibatkan 6.410 peserta.
Penulis studi ini, Larkey Linda, Ph.D., dari Universitas Negeri Arizona, Amerika Serikat, mengatakan bahwa tinjauan ini memberikan “dasar bukti kuat” manfaat Tai chi dan Chikung terhadap kesehatan tulang, kebugaran jantung-pernapasan, fungsi fisik, keseimbangan, kualitas hidup, dan manfaat psikologis.
Chikung merupakan latihan yang akan meningkatkan aliran qi atau keseimbangan, kata Shin Lin, Ph.D., profesor di Pusat Kedokteran Integratif di Universitas California, Irvine. Chikung menggabungkan “chi” untuk energi dan “kung atau gong” untuk olahraga.
Lebih lanjut Lin mengatakan hasil kajiannya menunjukkan bahwa melakukan senam ini secara rutin, dengan gerakan yang disederhanakan pun, cukup efektif untuk meningkatkan kesehatan.
“Tai Chi dan Chikung memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan karenanya harus dianggap sebagai prioritas tinggi ketika seseorang memilih sebuah senam untuk dipraktikkan,” kata Lin.
Health Behavior News Service/Medical News Today/NgartoF
Awas, Susu Balita Bisa Picu Obesitas
VIVAnews - Sebuah produk susu fomula untuk balita berusia satu hingga tiga tahun ditarik dari pasaran Amerika Serikat karena dituding menyebabkan kegemukan pada anak. Susu formula tersebut ditengarai memiliki kandungan gula yang melampaui kebutuhan anak, seperti halnya permen.
Sebuah produsen susu formula anak untuk usia 12-36 bulan, mengklaim susu formula buatannya berisi lebih dari 25 zat tambahan untuk mendukung pertumbuhan otak dan tubuh anak. Namun, kandungan gula yang terlalu tinggi pada produk, dinilai menyebabkan obesitas pada bayi.
Juru bicara produsen susu yang populer ini, Chris Perille, menganjurkan agar menghentikan konsumsi susu formula cokelat karena sifatnya yang mempengaruhi emosional. “Pengaruhnya menyerupai permen dan hal yang tidak bermanfaat lainnya,” ujarnya seperti dikutip dari laman ABCnews.
Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Rabu waktu setempat, produsen susu mengakui telah terjadi kesalahpahaman yang melibatkan konsumen mengenai produk tersebut.
Meski menarik produk susu cokelatnya dari pasaran, produsen ini masih akan melanjutkan menjual susu formula rasa vanila dengan kandungan gula 16-17 gram dan tiga jenis susu formula balita dan anak lainnya dengan kandungan gula 10-11 gram.
Pakar Nutrisi dan penulis ‘What to Eat’ Marion Nestle mengatakan produsen menambahkan bahan tertentu seperti lutein, lycopene dan beta karoten pada formula hanya meningkatkan harga susu. Hal ini tidak mempengaruhi kesehatan bayi dan balita.
“Harga susu menjadi mahal, tetapi tidak bermanfaat,” katanya. Untuk itu, ia menyarankan agar anak makan menu yang bervariasi. “Tidak ada satupun makanan yang mampu memberi segalanya. Mereka harus makan berbagai jenis makanan untuk mendapat manfaat kesehatan.”
Sebuah studi terbaru Institut Kedokteran menyebutkan epidemi obesitas dan diabetes tipe 2 meningkat di kalangan anak karena standar makanan yang berubah. (adi)
• VIVAnews
Ditemukan Obat Baru untuk Kanker Payudara
TEMPO Interaktif, Chicago – Eribulin, obat baru untuk pengobatan kanker payudara, ditemukan oleh peneliti dari Universitas Leads, Inggris. Menurut peneliti, obat baru ini berasal dari bunga karang laut, yang bisa menghentikan sel terbelah, yang dapat memperpanjang usia perempuan yang menderita kanker payudara lanjut.
Temuan ini disampaikan pada pertemuan American Society of Clinical Oncology di Chicago, Amerika Serikat, Ahad lalu.
Para peneliti mengatakan pasien-pasien yang sudah diobati dengan kemoterapi, dan kemudian menerima obat Eribulin ini, usianya sekitar dua setengah bulan lebih lama daripada pasien yang hanya melakukan kemoterapi saja. Peneliti juga mengatakan ini adalah perawatan standar pertama bagi pasien kanker payudara yang telah menjalankan semua perawatan biasa, seperti radiasi. Mereka mengatakan hasil penelitian ini cukup menjanjikan.
“Sampai sekarang, belum ada pengobatan standar untuk wanita penderita kanker payudara lanjut,” kata Christopher Christopher Twelves, penulis dan kepala penelitian kanker klinis di Institut Kedokteran Molekuler Leeds, Inggris, dalam sebuah pernyataan. “Bagi mereka yang sudah mendapatkan semua terapi yang telah diakui, ini adalah hasil yang menjanjikan.”
Eisai Co, produsen obat, akan meneliti apakah obatnya dapat membantu pasien kanker prostat dan kanker paru-paru.
Pihak produsen telah mengajukan izin kepada Badan Obat dan Makanan Amerika (FDA), yang akan memutuskan apakah akan menyetujui Eribulin sampai 30 September mendatang.
VOANEWS/Bloomberg/Ngarto Februana
Tidur Terlalu Lama Bisa Meningkatkan Risiko Sindrom Metabolik
TEMPO Interaktif, San Antonio – Durasi tidur yang panjang berkaitan dengan prevalensi tinggi terjadinya sindrom metabolik pada orang dewasa, demikian menurut sebuah abstrak penelitian yang dikutip ScienceDaily 8 Juni 2010. Kesimpulan penelitian tersebut telah disajikan pada 8 Juni 2010, di San Antonio, Texas, pada pertemuan tahunan ke-24 Associated Professional Sleep Societies LLC.
Sindrom metabolik adalah sebuah kombinasi gangguan kesehatan yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler, diabetes, dan stroke. Seseorang dengan setidaknya tiga dari lima faktor risiko dianggap telah mengalami sindrom metabolik: kelebihan lemak di perut, trigliserida tinggi (lemak dalam darah), rendahnya kolesterol HDL (kolesterol “baik”), tekanan darah tinggi, dan gula darah tinggi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para peserta penelitian yang melaporkan punya kebiasaan tidur sehari-hari selama delapan jam atau lebih termasuk tidur siang memiliki kemungkinan 15 persen lebih tinggi mengalami sindrom metabolik. Hubungan ini tetap tidak berubah setelah dilakukan penyesuaian dengan faktor-faktor seperti demografi, gaya hidup, dan kebiasaan tidur.
“Aspek yang paling mengejutkan dari studi kami adalah bahwa tidur lama berkaitan dengan sindrom metabolik,” kata penulis penelitian ini, Teresa Arora, ilmuwan di Sekolah Kedokteran Universitas Birmingham, Inggris. Arora menegaskan bahwa durasi tidur yang panjang menyebabkan peningkatan risiko sindrom metabolik akan memiliki implikasi penting bagi kesehatan masyarakat.
Penelitian ini melibatkan 29.310 orang di Guangzhou, Cina, berusia 50 tahun atau lebih.
ScienceDaily/Ngarto Februana
KDRT Bisa Mengakibatkan Anak Obesitas
TEMPO Interaktif, Massachusetts – Anak dari seorang ibu yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga berisiko mengalami obesitas.
Penelitian di Massachusetts, Amerika Serikat, menemukan fakta baru bahwa semakin sering kekerasan terjadi dalam rumah tangga, maka semakin tinggi risiko anak yang belum sekolah, terutama anak perempuan, akan mengalami obesitas. Akibatnya, anak itu akan berisiko mengalami penyakit diabetes, jantung, kanker, dan penyakit lainnya di masa yang akan datang.
“Pengalaman buruk yang terjadi di masa awal hidup seseorang akan sangat berpengaruh terhadap kesehatannya dalam jangka panjang,” kata pemimpin penelitian Renee Boynton-Jarrett dari Sekolah Kedokteran Universitas Boston.
Telah banyak penelitian yang mempelajari hubungan antara pengalaman buruk di masa kanak-kanak serta masalah emosi dan masalah kesehatan yang berkepanjangan saat mereka dewasa. Namun, menurut peneliti, ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan hubungan antara ibu yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan anak yang mengalami obesitas.
Renee meneliti 1.595 anak yang lahir dalam periode 1998-2000 dan mewawancarai ibunya. Ketika anak mencapai usia lima tahun, hampir setengahnya (788 anak atau 49,4 persen) melihat kekerasan dalam keluarga dan 263 anak (16,5 persen) mengalami obesitas, yang berarti indeks massa tubuh (body mass index/BMI) lebih tinggi 95 persen dari anak seumuran lainnya.
Sebagai perbandingan, dalam populasi secara garis besar selama 2005-2006), sebanyak 11 persen anak berumur 2 hingga 5 tahun dinyatakan kelebihan berat badan, setingkat lebih rendah di bawah obesitas.
Jika dibandingkan dengan anak yang ibunya tidak disiksa, tim Renee menemukan fakta bahwa anak-anak yang ibunya disiksa oleh pasangannya memiliki kemungkinan 80 persen lebih besar mengalami obesitas saat mereka mencapai umur lima tahun. Hubungan antara kekerasan domestik dan obesitas lebih kuat terlihat pada anak perempuan dibanding anak laki-laki.
Penelitian juga telah menunjukkan bahwa berat badan anak dipengaruhi oleh banyak faktor seperti makanan, waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi, berat badan anak saat lahir, depresi yang dialami ibu, dan kebiasaan merokok sang ibu saat hamil. Penelitian ini juga memperhitungkan faktor-faktor tersebut dan menemukan bahwa ada hubungan antara obesitas dan kekerasan domestik dalam rumah tangga.
“Penemuan ini dapat diaplikasikan untuk populasi sosio-ekonomi,” kata Renee. Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, kekerasan domestik dalam rumah tangga adalah “masalah serius” di Amerika Serikat. Hampir lima juta wanita di Amerika merupakan korban kekerasan domestik setiap tahunnya. Diperkirakan setiap tahunnya ada 3 hingga 10 juta anak yang menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga ini.
REUTERS / FANNY FEBIANA
Pria Pengidap Disfungsi Ereksi Berisiko Terkena Pengapuran Arteri Koroner
TEMPO Interaktif, San Francisco – Pria pengidap disfungsi ereksi memiliki risiko yang signifikan terhadap peningkatan skor pengapuran arteri koroner yang tinggi (CACS), yang menjadi pertanda terjadinya penyakit jantung kardiovaskuler di masa depan. Demikian menurut peneliti di Sekolah Kedokteran Mount Sinai, New York, yang dipresentasikan baru-baru ini di pertemuan Asosiasi Urologi Amerika (AUA) di San Francisco, Amerika Serikat.
Penelitian ini mengevaluasi 1.119 orang yang terdaftar di Program Penyembuhan dan Pemantauan Medis World Trade Center, yang mana 327 orang mengalami disfungsi ereksi. Usia rata-rata peserta penelitian ini adalah 50 tahun. Semua pasien dievaluasi dengan CT scan jantung untuk menentukan skor pengapuran arteri koroner. Peneliti mengetahui bahwa setelah disesuaikan dengan komorbiditas (gangguan lain yang ikut serta dan muncul secara bersamaan), pria dengan disfungsi ereksi mempunyai kemungkinan 54 persen lebih besar terkena pangapuran arteri koroner dibandingkan laki-laki tanpa disfungsi ereksi.
“Data kami lebih lanjut memperkuat konsep bahwa disfungsi ereksi merupakan indikator terjadinya penyakit jantung sekarang dan mendatang,” kata Natan Bar-Chama, MD, profesor urologi di Sekolah Kedokteran Mount Sinai. “Data ini menunjukkan kaitan yang tak terbantahkan antara disfungsi ereksi dan aterosklerosis.”
ScienceDaily/Ngarto Februana
Kontrasepsi Hormonal Bisa Menyebabkan Disfungsi Seksual Wanita
TEMPO Interaktif, Jerman – Kontrasepsi hormonal yang digunakan oleh wanita, baik yang digunakan dengan cara diminum maupun yang bukan, memiliki risiko tertinggi terhadap disfungsi seksual wanita. Hal ini dijelaskan dalam penelitian mahasiswi kedokteran Jerman yang diterbitkan dalam The Journal of Sexual Medicine.
Menariknya, kontrasepsi nonhormonal justru memiliki risiko disfungsi seksual terkecil, juga bila dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan alat kontrasepsi.
Kontrasepsi hormonal adalah alat kontrasepsi yang bertujuan mencegah kehamilan yang terbuat dari bahan baku yang mengandung hormon estrogen dan progestin. Contoh kontrasepsi hormonal adalah pil KB, suntik KB, dan susuk KB (implant). Sedangkan contoh kontrasepsi non hormonal adalah Intra Uterine Device (IUD) dan kondom.
“Masalah seksual, tanpa melihat faktor usia, dapat memberikan dampak negatif terhadap kualitas hidup dan kesehatan emosi,” kata peneliti Dr. Lisa-Maria Wallwiener dari Universitas Heidelberg, Jerman. “Disfungsi seksual pada wanita adalah penyakit yang umum, di mana dua dari lima wanita memiliki setidaknya satu jenis disfungsi seksual, dan keluhan yang paling banyak terjadi adalah rendahnya gairah seksual.
“Penyebab disfungsi seksual pada wanita beragam dan belakangan ini banyak dibahas mengenai kemungkinan kontrasepsi hormonal sebagai salah satu penyebabnya,” kata anggota penelitian Dr. Christian dan Markus Wallwiener dari Universitas Tuebingen, Jerman. “Wanita sadar bahwa disfungsi seksual sering dipengaruhi oleh banyak faktor seperti stres dan jenis hubungan, namun penelitian kami menunjukkan bahwa disfungsi seksual bisa saja dipengaruhi oleh hormon yang disebabkan oleh faktor eksternal.”
Penelitian ini melibatkan 1.086 wanita (sekitar 2,5 persen dari jumlah seluruh mahasiswi kedokteran di Jerman), yang mengisi kuisioner yang dirancang untuk mengidentifikasi masalah yang berhubungan dengan fungsi seksual, seperti juga faktor gaya hidup antara lain keinginan memiliki anak, kehamilan, dan apakah wanita-wanita itu perokok. Sebanyak 87,4 persen menggunakan alat kontrasepsi dalam enam bulan terakhir dan 97,3 persen aktif melakukan kegiatan seksual dalam empat minggu terakhir.
Untuk menganalisis efek dari kontrasepsi terhadap fungsi seksual, wanita-wanita yang diteliti menggunakan beberapa jenis alat kontrasepsi. Sedangkan yang tidak melakukan kegiatan seksual secara aktif dalam empat minggu ini dikeluarkan dari kelompok, jumlahnya 1.046 wanita. Dari jumlah ini, 32,4 persen dianggap berisiko mengalami disfungsi seksual, 5,8 persen berisiko tinggi memiliki kelainan gairah seksual yang rendah, 1 persen mengalami kelainan rangsangan, 1,2 persen mengalami kekurangan minyak pelicin, 8,7 persen mengalami kelainan orgasme, 2,6 persen mengalami masalah kepuasan, dan 1, 1 persen mengalami kesakitan saat berhubungan.
Wanita yang diteliti kemudian dibagi menjadi empat kelompok yaitu yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal yang diminum/oral (KHO), yang menggunakan kontrasepsi hormonal yang tidak diminum/non-oral (KHNO), yang menggunakan kontrasepsi nonhormonal (KNH), dan yang tidak menggunakan alat kontrasepsi (NK).
Kelompok yang memiliki risiko disfungsi seksual terendah (artinya mendapat nilai fungsi seksual tertinggi) adalah kelompok yang mengunakan kontrasepsi nonhormonal (mendapat nilai 31), diikuti oleh wanita yang tidak menggunakan kontrasepsi (mendapat nilai 29,5) dan wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal yang diminum (mendapat nilai 28,3). Sedangkan wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal yang tidak diminum (mendapat nilai 27,4) memiliki risiko disfungsi seksual tertinggi.
Untuk masalah kelainan gairah dan rangsangan seksual, kelompok wanita yang memiliki risiko tertinggi adalah wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal, baik yang diminum maupun yang tidak.
Metode kontrasepsi dan kebiasaan merokok merupakan faktor penting untuk menghitung nilai total fungsi seksual. Perokok mencatat nilai disfungsi seksual yang lebih tinggi dibanding wanita yang tidak merokok. Faktor lain seperti usia, pengalaman pernah melahirkan, keinginan untuk memiliki anak, dan status hubungan merupakan faktor yang tidak penting dalam menghitung nilai disfungsi. Wanita yang memiliki hubungan yang tidak stabil (dengan mengesampingkan penggunaan kontrasepsi) memiliki gairah yang lebih tinggi namun mendapat nilai orgasme yang rendah.
“Untuk penelitian selanjutnya, akan lebih menarik untuk meneliti perbedaan dosis estrogen dan beragam hormon progestin sintetis yang digunakan dalam kontrasepsi hormonal untuk melihat dampak terhadap fungsi seksual wanita,” kata peneliti dari universitas yang sama, Dr. Harald Seeger.
“Kami juga akan meminta agar hasil penelitian kami diinterpretasikan dengan hati-hati. Kami juga menekankan bahwa penelitian seperti ini tidak dapat menunjukkan hubungan sebab akibat, namun lebih ke penggabungan dan mungkin saja ada banyak faktor yang memiliki pengaruh terhadap fungsi seksual wanita,” kata Harald.
“Ini adalah investigasi penelitian yang penting,” kata Dr. Irwin Goldstein, pemimpin redaksi Journal of Sexual Medicine. Ada ratusan juta wanita, khususnya wanita muda yang memulai kehidupan seksual mereka, yang secara teratur menggunakan kontrasepsi hormonal selama bertahun-tahun. Ironisnya, wanita-wanita disuguhi banyak pengobatan yang dapat menghilangkan kekhawatiran untuk hamil, namun mereka tidak diberi informasi penting mengenai efek seksual yang merugikan yang mungkin terjadi.
”Alat-alat yang mempengaruhi hormon wanita dapat memberi dampak yang merugikan terhadap kehidupan seksual mereka.”
SCIENCE DAILY, BKKBN / FANNY FEBIANA
Alat KB Baru ‘Pembunuh’ Sperma
VIVAnews – Membludaknya jumlah penduduk di dunia menjadi isu yang makin menakutkan. Tak heran jika banyak ilmuwan berlomba-lomba mencari teknik baru cara mengendalikan kelahiran.
Karena itu, agar lebih efektif, para ilmuwan tidak hanya menciptakan alat kontrasepsi untuk wanita, tapi juga bagi pria. Saat ini, peneliti dari Universitas North Carolina, AS, sedang menguji apakah gelombang ultrasound bisa menjadi metode kontrasepsi baru bagi pria, seperti dikutip dari laman Genius Beauty.
Penelitian ini menemukan, gelombang ultrasound di bagian testis diketahui cukup aman menghentikan produksi sperma selama enam bulan. Namun, para peneliti masih berkutat untuk mencari tahu cara mengembalikan kesuburan pria setelah melakukan metode ini. Pasalnya, ada kemungkinan pria ingin memiliki anak lagi.
Mengembalikan kesuburan menjadi isu penting, karena sekali testis berhenti memproduksi sperma dan ‘cadangan’ sperma dikosongkan, pria akan menjadi tidak subur sementara.
“Kami berpikir alat kontrasepsi ini dapat diandalkan selama 6 bulan, dengan biaya murah dan termasuk kontrasepsi non-hormonal dengan satu kali perawatan,” ujar salah seorang peneliti utama Dr James Tsuruta.
Dr Tsuruta juga menambahkan, metode ultrasound ini sudah umum digunakan sebagai instrumen terapi dalam kedokteran olahraga atau klinik terapi fisik. Maka itu, diharapkan tujuan jangka panjang penelitian ini adalah menciptakan alat KB yang sesuai untuk pria, tanpa membahayakan kesuburan. (umi)
• VIVAnews
Penyakit Khas di Musim Pancaroba
VIVAnews – Pergantian musim alias masa pancaroba memicu beberapa penyakit merebak. Kondisi cuaca bersuhu panas tetapi terkadang diselingi hujan lebat berangin ini dapat memicu beragam penyakit.
Saat pergantian musim terjadi, menurut Dr. Peter Staats, seorang profesor di Sekolah Kedokteran John Hopkins, tubuh beradaptasi ekstra keras menghadapi perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim hujan. Udara yang semula panas-kering, tiba-tiba menjadi dingin-lembab. Kondisi ini, menimbulkan ketidaknyamanan, juga membuat tubuh mudah terserang penyakit. Seperti, demam, flu, radang tenggorokan, dan penyakit diare.
Karena itu, jangan lupa menjaga kesehatan. Tak ada tindakan yang lebih patut menghadapi masalah ini, selain pencegahan yang lebih baik.
Demam dan Flu
Dua gangguan kesehatan ini paling rentan menyerang di musim pancaroba. Ini bisa jadi lantaran baru di musim pancaroba inilah Anda digempur serangan berbagai kuman (biasanya virus) secara besar-besaran. Sebaiknya jangan disepelekan, gangguan ini merupakan gejala bahwa tubuh tengah membangun pertahanan melawan infeksi. Lebih tepatnya, demam bisa merupakan gejala aneka penyakit. Mulai infeksi ringan sampai yang serius.
Cara mencegah: Menjaga asupan makanan. Nutrisi yang cukup akan meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga tidak mudah terserang penyakit.
Penyakit saluran pernafasan
Gejala awal penyakit saluran pernapasan bisa berupa batuk, yang kadang disertai sesak napas. Bisa juga berupa batuk yang disertai pilek, bersin-bersin dan peningkatan suhu tubuh. Bisa juga muncul gejala khusus, yaitu pernapasan yang tidak normal. Hanya saja pada kasus tertentu bisa muncul gejala yang serius, misalnya demam yang agak tinggi (pada radang tenggorokan) dan toksemia atau keracunan (pada difteri).
Cara mencegah: Mengonsumsi multivitamin. Bila dikonsumsi secara tepat multivitamin bisa membantu meningkatkan ketahanan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit pancaroba.
Diare
Di peralihan musim kemarau ke musim hujan, kasus penyakit ini menjadi tinggi lantaran banyaknya debu dan kotoran yang berpotensi menjadi vektor. Penyakit ini juga sangat erat kaitannya dengan pola konsumsi makanan. Sebab penyakit ini umumnya disebabkan kuman atau virus yang biasa mencemari makanan dan minuman, apakah itu makanan buatan rumah ataupun makanan jajanan.
Cara mencegah: Jaga kebersihan. Pastikan setiap makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulut adalah yang terjamin kebersihannya. Artinya, selain harus lebih higienis dalam mengolah dan menyiapkan makanan di rumah, sebaiknya jangan jajan sembarangan.
• VIVAnews
Lemak Lemahkan Paru-Paru
TEMPO Interaktif, New Lambton – Makanan sarat dengan lemak telah diketahui tidak baik bagi jantung. Kini diketahui makanan berlemak juga dapat mempengaruhi fungsi paru-paru.
Penelitian tim dari Institut Riset Kedokteran Hunter di New Lambton, Australia, menemukan makanan tinggi lemak menyebabkan radang saluran napas dan fungsi paru-paru berkurang.
“Hasil awal kami menemukan, empat jam usai makan, pada penyantap makanan tinggi lemak, saluran napasnya meradang dan respons yang merugikan atas obat asma,” kata penulis utama penelitian itu, Lisa Wood, yang juga dosen ilmu biomedis dan farmasi di Institut Riset Medis Hunter di New Lambton.
Tim menguji orang-orang dengan asma sebelum dan setelah makan tinggi lemak atau setelah makan rendah lemak. Mereka menemukan bahwa makanan berlemak tinggi meningkatkan peradangan dan fungsi paru-paru berkurang.
Mereka meneliti 30 relawan non-obesitas dengan asma dan 16 relawan obesitas. Relawan non-obesitas dipilih secara acak untuk makan makanan tinggi lemak atau rendah lemak. Adapun relawan obesitas semua diberi makan tinggi lemak.
Makan tinggi lemak terdiri dari hamburger cepat saji dan kentang goreng. Kandungan gizinya sekitar 1.000 kalori, termasuk 60 gram lemak. Ini berarti sekitar 50 persen dari kalori itu datang dari lemak. Sesuai dengan rekomendasi dari Asosiasi Jantung Amerika, normalnya 25-35 persen kalori dari lemak. Adapun makanan rendah lemak berisi yoghurt yang berisi 200 kalori mengandung 13 persen lemak. Sampel penelitian dikumpulkan sebelum dan empat jam usai makan. Selain itu, fungsi paru-paru telah diuji pada kedua waktu tersebut.
Para peneliti menemukan peradangan saluran udara meningkat pada penyantap makanan tinggi lemak. Mereka juga menemukan fungsi paru-paru terpengaruh. Mereka yang menyantap makanan tinggi lemak kemudian diberi obat asma inhaler. Namun hanya 1 persen peningkatan fungsi paru-paru. Sedangkan mereka yang menyantap makanan rendah lemak terlihat peningkatan 4,5 persen pada fungsi paru-paru mereka setelah menggunakan obat. “Perbedaan antara 3 sampai 4 persen fungsi paru mendekati tingkat yang dapat dirasakan oleh pasien,” kata Wood.
Wood menyatalan belum tahu kenapa tubuh bereaksi seperti ini. “Mungkin sistem kekebalan tubuh mengenali lemak jenuh sebagai patogen yang menyerang, yang mendorong peradangan,” kata dia.
Dia juga mengatakan belum tahu berapa lama efek ini bisa berakhir. Tapi jika seseorang mengonsumsi makanan tinggi lemak tiap hari, mereka mungkin mengalami efek itu selama beberapa jam sehari. “Jika dapat diteliti lebih lanjut, diet lemak mungkin berguna untuk mengelola asma,” kata Wood.
Healthday | Nur Rochmi







