Makan Bersama Keluarga – Apa Masih Jamannya?
Seberapa penting sih makan bersama keluarga itu? Di jaman yang serba sibuk ini, memang susah sekali untuk meluangkan waktu untuk duduk dan makan bersama anggota keluarga. Dengan kesibukan masing-masing dan waktu pulang yang tidak bersamaan, pasti sulit sekali untuk mengatur waktu.
Ternyata, baru-baru ini ada penelitian yang dilakukan oleh University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika, yang menemukan hubungan yang erat antara makan malam keluarga dengan obesitas. Fakta yang ditemukan oleh tim ini setelah menganalisa 17 studi kasus mengenai obesitas, gangguan makan dan makan bersama keluarga adalah anak-anak yang orang tuanya terbiasa untuk makan malam bersama memiliki resiko lebih rendah untuk mengalami gangguan makan dan obesitas.
Hasil yang lebih terperinci dari penelitian ini adalah anak yang duduk makan bersama keluarga paling kurang dua atau tiga kali seminggu memiliki kemungkinan 12 persen lebih rendah untuk angka mengalami overweight. Juga kemungkinan 20 persen lebih rendah untuk angka anak mengalami gangguan makan. Kebiasaan untuk duduk makan malam bersama keluarga juga akan mengurangi kemungkinan anak makan junk food sebanyak 20 persen dan 24 persen peningkatan dalam jumlah anak yang mengkonsumsi makanan sehat.
Bukan hanya itu, kebiasaan makan bersama juga membantu kesehatan mental anak-anak remaja. Kebiasaan ini membantu meningkatkan kualitas komunikasi antara remaja dan orang tua menjadi lebih baik, yang mana sangat sulit untuk didapatkan saat ini. Makan bersama juga akan membantu anak-anak dalam pertumbuhan untuk mengembangkan kebiasaan makan yang lebih sehat sehingga anak-anak kita akan terhindar dari penyakit.
Jadi, setelah tahu manfaatnya, sekarang saatnya kita mempraktekkannya.
Menyikat Gigi Anak Balita
Pernahkah anda merasa kewalahan ketika akan menyikat gigi anak anda?
Rutinitas harian ini bisa selalu berlangsung ricuh dimana anak sedang berusaha menunjukkan eksistensi dirinya dengan menolak dan menentukan kehendaknya sendiri. Mungkin memang tidak bisa dilakukan paksaan disini, para ibu harus pintar-pintar membujuk, tidak bijaksana jika menyerah karena gigi bayi pun perlu dilindungi dari lubang. Maka diperlukan sedikit kompromi yang kreatif :
- Carikan Teman. Pasti anda sudah paham jika pada diri anak kita suara orang ketiga selalu lebih berpengaruh dari pada suara orang tuanya. Jadi mintalah bantuan dokter untuk menjelaskan pentingnya menyikat gigi, atau bisa juga meminta bantuan anggota keluarga lain (yang biasanya anak idolakan) untuk membujuknya agar mau menyikat gigi.
- Sikat Gigi yang Menarik. Sediakan 2 atau 3 sikat gigi anak yang menarik, lucu dan berwarna-warna (perhatikan bulu sikatnya harus bermutu baik dan tidak terlalu keras). Biarkan anak memilih sendiri sikat yang ingin dia gunakan, ini akan menghilangkan masalah siapa yang mengendalikan situasi.
- Biarkan Anak Melakukannya Sendiri. Jangan khawatirkan cara anak menyikat giginya karena jika ia telah merasa selesai pujilah dia dan lanjutkan penyikatan dengan bantuan anda dan sikat gigi berbeda.
- Memeriksa. Mintalah ia untuk memeriksa hasil pekerjaan anda berdua dan mintalah juga ia memberi penilaian sehingga ia tetap merasa berperan dalam proses menyikat gigi tersebut.
8 Tanda Pria Punya Masa Depan Cerah
KOMPAS.com — Apa yang Anda lihat ketika memilih pasangan? Pria yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang? Jika tujuan hubungan Anda hanya saat ini, mungkin itu cukup. Namun, bila yang Anda cari adalah hubungan yang serius hingga ke pernikahan, ada kriteria lain yang sebaiknya Anda lihat, yaitu potensi kesuksesan dia.
1. Punya tujuan hidup
Ketika Anda bertanya apa tujuan hidupnya, ia akan menjelaskan secara rinci kepada Anda rencana jangka pendek dan menengahnya, apa yang ingin ia lakukan setahun mendatang, lima tahun, dan seterusnya.
Bahkan, ia menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi kegagalan. Tidak hanya menjawab, “Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air mengalir.”
2. Mandiri
Ia tidak bergantung pada orang lain dan mengandalkan kemampuan sendiri dalam hal apa pun. Misalnya, sejak awal mula bekerja, ia menanggung sendiri biaya hidupnya tanpa bantuan orangtuanya. Pria seperti ini menunjukkan bahwa ia bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup orang yang ia sayangi. Si dia juga tak pernah mengeluh mengenai pekerjaannya. Karena ia sadar, untuk mencapai kesuksesan, tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras.
3. Hobi menolong
Anda tentu pernah mendengar ungkapan semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima. Percaya atau tidak, ungkapan ini memang ada benarnya. Jadi, bila pasangan termasuk pria yang ringan tangan membantu orang lain, Anda perlu berbangga hati mendukungnya. Sebab, ini akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju kesuksesannya di masa depan. Siapa tahu seseorang yang ia bantu saat ini berperan penting dalam kariernya di kemudian hari.
4. Bersahabat dan berwawasan
Sikapnya yang bersahabat ditambah dengan wawasan luasnya biasanya akan mudah mengambil hati banyak orang, termasuk saat melobi orang-orang penting yang berkaitan dengan kariernya. Pengetahuannya tentang berbagai hal termasuk berita-berita terkini akan membuat orang lain merasa nyaman berdiskusi dengannya. Semakin banyak orang tertarik padanya, semakin luas juga networking-nya. Kalau sudah begini, Anda tak perlu khawatir dengan kualitas diri yang dimiliki si dia, kesuksesan pun akan segera menghampiri.
5. “Family man“
Pria yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya biasanya adalah pria yang juga memerhatikan perkembangan kariernya. Ia akan selalu termotivasi meningkatkan karier lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, pria tipe ini cenderung setia pada pasangannya sehingga ia bisa menyeimbangkan waktu dan pikirannya untuk Anda dan pekerjaannya.
6. Memiliki investasi
Saat ini gaji si dia tak bisa dibilang besar? Tak perlu khawatir selama ia bisa mengatur pendapatannya dan tak selalu kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi bila ia termasuk orang yang jeli melihat peluang bisnis. Tak perlu terlalu besar, berangkat dari bisnis kecil-kecilan pun bisa mengantarkannya menjadi pengusaha sukses. Dukung sepenuhnya ketika dia memiliki keinginan untuk mencicil rumah atau berinvestasi dalam bentuk lain, seperti saham atau reksa dana. Karena ini menunjukkan si dia sangat memikirkan masa depan.
7. Realistis dan lurus
Meskipun si dia bersemangat meraih mimpinya, tetap amati bagaimana usahanya meraih impian, jangan sampai si dia menghalalkan berbagai cara yang justru bisa menghancurkan masa depannya. Ingatkan untuk tetap realistis dengan kemampuan yang dimilikinya. Bila si dia ahli dalam bidang teknologi informatika, ia tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seorang public relations karena tertarik melihat temannya yang sukses di bidang tersebut. Masing-masing orang kan memiliki kelebihan yang berbeda-beda.
8. Optimistis dan positif
Ia sangat tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya sehingga ia selalu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberikan tanggung jawab baru. Ia hampir tak pernah berkata “tidak bisa” atau “malas deh melakukannya”. Ia selalu berpikir positif dan optimistis bahwa setiap tantangan yang datang pasti ada solusinya. Selain itu, ia juga terbiasa fokus dalam melakukan sesuatu sehingga tak cepat menyerah saat mengalami kegagalan.
(Majalah Chic/Bestari Kumala Dewi)
Editor: NF
Langsing Seksi ala Feng Shui
VIVAnews - Feng Shui memiliki pengaruh kuat terhadap alam bawah sadar. Itulah sebabnya banyak orang memanfaatkannya memperlancar program diet.
Diet feng shui tidak membuat Anda pusing dengan perhitungan kalori. Pembatasan menu dilakukan melalui bentuk, warna, dan bahan makanan yang Anda konsumsi sehari-hari.
Jika penasaran, coba buktikan mengikuti beberapa tips diet feng shui untuk menciptakan tubuh ideal seksi dan sehat, seperti yang dipaparkan di laman Times of India berikut ini.
Makan di piring persegi
Piring hidangan berbentuk persegi lebih baik daripada piring bundar ketika Anda mencoba untuk menurunkan berat badan. Bentuk kotak dipercaya memancarkan kepuasan, sementara bentuk bundar mengundang rasa ingin tahu.
Ruang makan kalem
Warna-warna kalem dipercaya bisa meredam nafsu makan. Sedangkan warna-warna cerah dianggap merangsang nafsu makan. Jika Anda serius ingin menjalani diet ketat, ciptakan dapur atau ruang makan dengan warna-warna natural seperti coklat atau krem. Tapi jika Anda ingin meningkatkan nafsu makan, cobalah menghias dapur dan meja makan dengan dekorasi warna cerah.
Cermin di ruang makan
Cermin bisa membantu Anda tetap fokus. Menggantung cermin di sekitar ruang makan yang bisa terlihat jelas dari tempat duduk akan membuat Anda menyadari apa dan berapa banyak makanan yang akan Anda konsumsi.
Jam di meja makan
Pasang jam berdetik di area ruang makan. Ini akan mengingatkan Anda untuk memperlambat aktivitas makan dan membuat Anda lebih menikmati makanan, bukan sekedar nafsu terhadap makanan.
Piring lebih kecil
Untuk mengurangi ukuran makanan tanpa merasa kekurangan, gunakan piring yang lebih kecil.
Masak makanan sendiri
Ketika Anda meracik makanan sendiri, Anda bisa mengetahui ukuran yang pas untuk keluarga Anda. Praktisi feng shui bahkan percaya bahwa memasak mempromosikan kemakmuran keuangan.
Makanan penuh warna
Seperti apa makanan dengan nutrisi seimbang? Semakin banyak variasi warna makanan di piring Anda, semakin bergizi. Itu adalah kunci makanan seimbang. (pet)
• VIVAnews
‘+
‘‘+
‘‘+
”+
‘Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.‘+
‘
‘+
”+
‘
‘+
”
);
clicked++;
$(“[id^=replyButton_]*”).click(function(){
var captchaCode = $(“[id^=captcha_code_]*”).val();
var textReply = $(“[id^=comment_2_]*”).val();
$.ajax({
type: “POST”,
url: “/comment/insertReply/”,
data: “captcha_code=” + captchaCode + “&comment_reply=” + textReply + “&parent_id=” + divId +
“&article_id=” + articleId,
success: function(msg){
$(‘#replyBox_’ + divId).remove();
$(‘#replyAlert_’ + divId).html(msg);
}
});
});
if(clicked==1){
$(“[id^=replyLink_]*”).click(function(){
$(‘#replyBox_’ + divId).hide();
});
}
});
});
$(“[id^=moreLink_]*”).click(function(){
var currentId = $(this).attr(‘id’);
var divIds = currentId.split(“_”, 3);
var divId = divIds[1];
var clicked = 0;
$(‘#moreBox_’ + divId).show(function(){
clicked++;
$.ajax({
type: “POST”,
url: “/comment/moreComment/”,
data: “parent_id=” + divId + “&article_id=” + articleId,
success: function(msg){
//$(‘#moreBox_’ + divId).html(msg);
$(‘#replyContent_’ + divId).html(msg);
//alert(msg + ‘-’ +articleId + ‘a’);
}
});
});
if(clicked==1){
$(“[id^=moreLink_]*”).click(function(){
//$(‘#moreBox_’ + divId).hide();
$(‘#replyContent_’ + divId).hide();
});
}
});
});
Dilema Ayah Modern, Pekerjaan atau Anak
VIVAnews - Berbeda dengan beberapa dekade sebelumnya, pria masa kini lebih memprioritaskan pekerjaan daripada menjalani perannya sebagai ayah. Pria generasi sekarang menghabiskan waktu di tempat kerja lebih banyak daripada bersama istri dan anaknya.
Jajak pendapat terhadap 2.500 pria mengenai peran mereka menemukan, tiga perempat pria memilih pekerjaan sebagai prioritas utama. Sisanya memberikan prioritas terhadap peran lain, termasuk sebagai suami dan ayah di keluarganya.
Meski mayoritas memprioritaskan perannya sebagai pencari nafkah, bukan berarti para ayah melupakan keluarganya. Survei yang digelar situs online Savoo.co.uk juga menemukan tujuh dari sepuluh pria ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak-anak mereka.
“Sayangnya, banyak pria masa kini melihat peran mereka di keluarga secara berbeda. Kehadiran mereka hanya untuk bersama saat makan malam, bukan sebagai figur ayah sepenuhnya,” kata jurubicara situs seperti dikutip dari laman Idiva.
Para ayah masa kini cenderung merasa tertekan untuk memberikan standar hidup yang layak bagi keluarga mereka. Tetapi, hal ini juga berpotensi merusak hubungan mereka dengan anak-anak. “Akibatnya, semua pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak diserahkan kepada para ibu atau istri.”
• VIVAnews
Kini, Mereka Percaya Diri…
BREBES, KOMPAS.com – Itulah yang dikatakan Daryati, ibu 3 anak, yang sehari-harinya bekerja sebagai petani bawang di Desa Larangan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Daryati seorang ibu rumah tangga yang kini harus membanting tulang demi kelangsungan hidup dan pendidikan ketiga anaknya. Sejak tahun 2008 lalu, suami Daryati pergi begitu saja tanpa pesan. Statusnya “cerai gantung”. Namun, Daryati tak memusingkannya lagi. Kini ia dan ratusan rekannya sesama janda yang menjadi perempuan kepala keluarga, mulai percaya diri. Mereka mengikuti berbagai pelatihan yang dilakukan oleh lembaga donor maupun bantuan dari perusahaan-perusahaan yang berorientasi pada pengembangan pengetahuan para perempuan di wilayah pinggiran. Ibu-ibu ini di bawah asuhan Sekretariat Nasional (Seknas) Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Daryati yang tak lulus SD ini mengikuti program kejar paket A.
“Sekarang saya sudah bisa membaca, sudah bisa menghitung. Dulu saya bodoh, dibohongin suami saya. Enggak bisa ngitung dibohongin tetangga. Sekarang sudah tahu bikin usaha,” kata Daryati, seusai mengikuti pelatihan manajemen usaha melalui program “Dove Sisterhood” di Aula Kecamatan Larangan, Brebes, Jumat (18/6/2010) lalu.
Dove Sisterhood merupakan program Dove yang mengimplementasikannya dengan memberikan pelatihan dan bantuan modal usaha bagi para perempuan kepala keluarga, salah satunya di Brebes. Dalam pelatihan ini, ratusan ibu distimulasi untuk merencanakan usaha apa yang akan dibangun dalam tim. Total, terdapat 10 tim yang akan menjalankan usaha secara bersama. Jenis usahanya, pembibitan bawang dan penjualan bawang.
Daryati, yang awalnya buta huruf, kini berani tampil sebagai salah satu ketua tim. Bersama timnya, Daryati akan mengelola modal yang didapat. Sistem yang diterapkan adalah bagi hasil. Sekitar 20 persen akan dikembalikan ke Lembaga Keuangan Mikro yang menampung segala bantuan modal yang didapat untuk diputar kembali. Sisanya, yang 80 persen, akan dibagi oleh anggota kelompok.
Kepercayaan diri pun tak hanya dirasakan Daryati. Maryani (56) juga merasakan hal yang sama. Ibu empat anak, yang suaminya sudah berpulang ini, harus bangkit. Tujuh tahun sudah ia menjadi petani bawang, tak lagi buruh. Sebelumnya, saat sang suami masih hidup, Maryani lebih banyak menggantungkan kebutuhan keluarga pada suaminya yang bekerja di Kantor Kecamatan Larangan. Ia sendiri bekerja sebagai buruh tani yang menggarap lahan pemilik modal. Penghasilannya, bagi hasil dengan orang yang memberinya modal menanam bawang. Hasil yang didapat tak sebesar jika sendiri menjadi petani yang memiliki modal sendiri.
“Setelah suami meninggal, saya harus berpikir bagaimana bisa dapat penghasilan lebih. Salah satunya, jadi petani, enggak buruh lagi. Akhirnya, saya ikut pelatihan PEKKA dan pelatihan-pelatihan lain, jadi percaya diri. Awalnya kurang pede, kurang pengalaman, kurang berani. Sekarang tambah teman, modal juga nambah,” katanya sambil tertawa.
Di wilayah Brebes, angka perempuan kepala keluarga memang cukup tinggi. Sebagian besar menjadi janda karena perceraian. Dari 1,9 juta jiwa, sebanyak 250 ribu jiwa berada dalam garis kemiskinan. Pemerintah pun melakukan upaya pemberdayaan, salah satunya dengan menggandeng berbagai pihak. Selain pelatihan mengenai kewirausahaan dan pendidikan, para perempuan kepala keluarga juga ditumbuhkan kesadaran hukumnya. Koordinator Usaha PEKKA, Romlawati mengungkapkan, pihaknya melatih sejumlah perempuan untuk menjadi penyuluh di wilayahnya masing-masing. Menurut Romla, meski tak ada jumlah pasti, dalam dampingan PEKKA sendiri terdapat lebih dari 100 perempuan kepala keluarga.
“Di sini, cerai mati banyak, cerai hidup juga banyak. Ada yang tidak dicerai, tapi cerai gantung. Maka kita dorong bagaimana mereka punya status resmi, bukan mendorong cerai ya. Tetapi, pada kenyataannya banyak yang sudah dicerai tapi tidak punya status legal seperti surat cerai. Banyak yang ditinggal begitu saja. Untuk mengurusnya mahal, wong untuk makan saja susah,” kata Romla.
Maka, salah satu advokasi yang diberikan adalah melalui prosedur prodeo sehingga pengurusan akte cerai lebih mudah. “Hakimnya sidang keliling, jadi ibu-ibu ini biayanya tidak terlalu mahal. Selama ini mereka itu nrimo karena tidak tahu informasi, maka diperlakukan begitu oleh para suaminya tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.
Status secara legal ini dinilai penting, sebab dari sisi sosial, stereotip sangat kuat terhadap janda yang selalu dicurigai sebagai orang yang tidak baik. Hal ini menjadi salah satu faktor penghambat bagi mereka untuk memulai usaha.
ING
Editor: din
Dove Sisterhood Donasi Perempuan Brebes
BREBES, KOMPAS.com – Dove melalui programnya, Dove Sisterhood, mendonasikan bantuan sebesar Rp100.000.000 melalui Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) untuk empat wilayah di Indonesia yaitu Brebes, Kubu Raya, Lombok Barat, dan Flores Timur. Implementasi bantuan tersebut diwujudkan dalam pelatihan yang berlangsung selama beberapa hari dan puncaknya pada hari Jumat (18/6/2010) lalu, di Desa Larangan, Kecamatan Larangan, Brebes, Jawa Tengah. Turut hadir Wakil Bupati Brebes, Agung Widyantoro . Pelatihan itu berupa pelatihan teknis kewirausahaan dan modal usaha bagi perempuan kepala keluarga. Alasan menjatuhkan pilihan pada Brebes dan tiga wilayah lainnya karena para perempuan kepala keluarga dianggap memiliki potensi untuk mengembangkan usaha namun sangat minim bantuan dan bimbingan untuk menjadi mandiri.
“Bantuan dalam bentuk seperti ini dinilai akan lebih membantu mereka untuk meningkatkan taraf hidup diri sendiri dan keluarga, mampu berpikir kritis terhadap kesetaraan peran, posisi, dan status mereka serta mampu mengambil keputusan sendiri,” kata Brand Manager Dove, Lody Lukmanto.
Pelatihan manajemen usaha ini diikuti hampir 200 perempuan kepala keluarga di bawah asuhan PEKKA di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Para perempuan kepala keluarga dilatih untuk memilih usaha bersama, menganalisa kelayakan usaha, merencanakan dan mengontrol usaha, serta mengelola sumber daya manusia dan membagi tugas. Donasi Dove Sisterhood juga dimanfaatkan sebagai bantuan modal usaha bagi 10 kelompok perempuan kepala keluarga yang tersebar di lima desa di Brebes, sebagai modal pengolahan bawang sebagai usaha bersama.
Wakil Bupati Agung Widyantoro mengatakan, bantuan modal usaha ini dinilai sangat berarti bagi para perempuan kepala keluarga yang ada di wilayahnya. Ia menjelaskan, sebagian besar perempuan kepala keluarga itu menjadi “single parent” akibat perceraian, baik cerai hidup maupun cerai mati. “Agar ibu-ibu ini tidak hanya berpangku tangan dan meratapi nasibnya. Sebab, setelah diitinggal suaminya, mereka menjadi penopang kebutuhan rumah tangga,” ujar Agung.
Agung berharap, program yang dilakukan Dove melalui Dove Sisterhood dilakukan secara berkesinambungan dan menjangkau lebih banyak perempuan kepala keluarga. Brebes merupakan kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah, setelah Cilacap. Dengan penduduk sekitar 1,9 juta jiwa, lebih dari setengahnya merupakan perempuan. Tercatat, 250 ribu jiwa berada dalam garis kemiskinan. Mayoritas perempuan kepala keluarga di wilayahnya yang masuk dalam garis kemiskinan, memang menggantungkan hidup pada lahan pertanian. Maka, bawang yang menjadi produk pertanian andalan Kabupaten Brebes, dinilai tepat untuk dikembangkan.
Koordinator Usaha Sekretariat Nasional PEKKA, Romlawati menjelaskan, selama ini, banyak hal yang menyebabkan para perempuan kepala keluarga di Brebes mengalami hambatan dalam meningkatkan kualitas hidupnya dan keluarga. Lebih dari 50 persen perempuan kepala keluarga di Brebes bekerja di sektor pertanian dengan sebagian besar dari mereka bekerja sebagai buruh pertanian bawang merah. “Tingginya tingkat buta huruf menjadi salah satu hambatan bagi para perempuan kepala keluarga di Brebes untuk hidup mandiri,” kata Romlawati.
Maka, dalam pelatihan ini, para perempuan kepala keluarga distimulasi untuk merencanakan sendiri usaha yang akan dijalankan bersama. Akhirnya, dengan pertimbangan ketersediaan bahan baku, kemampuan dan pemasaran, ditetapkan dua usaha yang akan dikelola yaitu pembibitan bawang (bibit dijual) dan menjual bawang hasil panen. Seluruh modal berasal dari donasi Dove Sisterhood.
Lody menambahkan, hakikat dari program Dove Sisterhood memang ditujukan untuk menumbuhkan rasa saling berbagi antarperempuan Indonesia. Ke depannya, program ini tidak hanya akan membantu pemberdayaan perempuan kepala keluarga dan bisa menyasar lebih banyak perempuan dengan berbagai kondisinya. “Bantuan ini tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan dari sesama perempuan Indonesia yang telah tergabung dalam Dove Sisterhood. Semoga langkah kecil ini dapat membantu pemberdayaan seluruh perempuan untuk menjadi lebih mandiri,” ujar Lody.
ING
Editor: din
Stres pada Perempuan Lebih Tinggi
KOMPAS.com – Perempuan menghadapi stres lebih tinggi, baik secara biologis, psikologis, dan emosi. Penyebabnya perempuan lebih memiliki kontrol eksternal dalam dirinya dengan lebih banyak menggunakan emosi daripada logika. Kebahagiaan perempuan pun cenderung ditentukan oleh orang lain, bukan oleh dirinya, terutama dalam hubungan berpasangan.
Sementara problem perempuan jauh lebih kompleks. Misalnya, perempuan harus menyesuaikan diri ketika menghadapi pubertas, menstruasi, kehamilan, dan melahirkan. Dengan masalah yang kompleks, perempuan lebih stres karena kecenderungannya otak perempuan lebih banyak mengandalkan kerja emosi daripada logika.
Psikolog klinis Zoya Amirin, MPsi, menjelaskan bahwa setiap individu berusia dewasa, secara psikologis harus memenuhi tugas perkembangan diri. Jika tugas ini tidak terpenuhi, akan muncul stres karena tekanan dalam diri maupun dari lingkungan.
Zoya menerangkan tugas itu antara lain berkaitan dengan hubungan berpasangan yang lebih serius, jenjang pernikahan, masa pacaran, membangun keluarga muda, menjadi orangtua muda, menanggung kehidupan orangtua, dan mengejar karier. Belum lagi pilihan antara melanjutkan pendidikan dengan mengurus anak dan keluarga.
“Sukses secara usia adalah dengan bertumbuh sebagai manusia dewasa secara normal, dengan pemenuhan semua tugas tersebut. Jadi wajar jika ada perempuan yang merasa tertekan ketika saat usia dewasa belum juga menikah, misalnya. Perasaan ini normal, karena memang menjadi tugas perkembangan yang perlu dipenuhi dan tidak bisa dihindari,” papar Zoya, usai bincang-bincang bertema “How to Manage Our Stress” bersama majalah Intisari di Jakarta, Jumat (11/6/2010) lalu.
Alhasil, masalah perempuan yang kompleks ini membuat stres pada perempuan lebih tinggi. Ditambah lagi perempuan cenderung diposisikan secara sosial (peran gender), lebih subordinan, sehingga perempuan cenderung sulit mengontrol dirinya dan selalu mengandalkan orang lain.
“Perempuan cenderung melihat dirinya seperti seakan mengatakan bahwa I don’t deserve to be happy. Perempuan lebih melihat apa yang membahagiakan orang lain,” kata Zoya.
Penting dimengerti bagi perempuan, bahwa dia harus memiliki kontrol atas hidupnya. Mengontrol segala sesuatu yang bisa dikontrol, setidaknya dengan mengatakan bahwa ia juga berhak bahagia dengan pilihan-pilihannya.
“Kesadaran ini harus dibangun, dan jika sudah sadar harus bisa keluar dari keadaan. Berapa banyak perempuan yang menyadari ini namun tak berani keluar karena khawatir tidak ada lagi yang mau menyayanginya. Akhirnya bertahan dalam hubungan yang tidak sehat, seperti kekerasan dalam rumah tangga misalnya, atau dating violence, yang kemudian tetap saja berujung pada pernikahan,” tandas Zoya.
Anda pun bisa mengatasi stres dengan mengambil alih kontrol diri. Berani mencoba?
C1-10
Editor: din
Putus Cinta Lebih Berpengaruh pada Pria Muda dibanding Wanita
TEMPO Interaktif, Toronto – Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa kualitas hubungan lebih berpengaruh pada laki-laki muda dibanding pada pasangannya.
Toronto Sun melaporkan bahwa profesor sosiologi di Universitas Wake Forest, Robin Simon, telah melakukan studi terhadap seribu laki-laki dan perempuan yang belum menikah dengan rentang usia 18 hingga 23 tahun.
Hasil studinya menunjukkan bahwa efek dari suatu hubungan dirasakan lebih tinggi oleh seorang laki-laki muda dibandingkan oleh wanita. Hal ini berbeda dengan stereotype gender selama ini.
Laki-laki, menurut studi itu, mengalami manfaat emosional yang lebih besar ketika mereka bahagia dalam hubungannya dan memiliki tingkat stres yang lebih besar ketika mereka tidak bahagia. Robin menduga rasa menghargai dirinya sendiri akan terluka ketika hubungannya dengan pasangan menjadi buruk.
Alasan yang masuk akal dari kesimpulan ini adalah bahwa pasangan dari laki-laki menganggap pasangannya sebagai sumber keintiman yang utama. Sedangkan wanita, menurut Robin, masih lebih mungkin memiliki hubungan dengan keluarga dan teman-temannya di samping dengan pasangannya.
Robin juga berpendapat bahwa laki-laki dan wanita memiliki cara yang berbeda dalam menangani stres. “Wanita mengekspresikan kesusahan emosionalnya melalui cara depresi. Sedangkan laki-laki mengekspresikan emosinya dengan masalah yang hakikat,” kata Robin.
Hasil studi ini, yang menurut Robin mengejutkan, adalah salah satu bagian dari studi jangka panjang mengenai kesehatan mental dan transisi menuju masa dewasa. Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Health and Social Behavior bulan ini.
FOX NEWS / FANNY FEBIANA
Berlibur Bebas Rewel
KOMPAS.com – Libur sekolah telah tiba! Sejak jauh-jauh hari, Anda mungkin sudah merencanakan liburan bersama keluarga. Agar liburan Anda bebas masalah, sebaiknya siapkan pula segala keperluan si kecil. Berikut hal-hal yang perlu disiapkan agar acara liburan tetap asyik dan bebas dari kerewelan si kecil:
Rancang sejak awal. Rencanakan bersama pasangan kira-kira kapan, kemana, dan berapa lama liburan kali ini. Sesuaikan rencana berlibur dengan dana yang ada. Rencanakan pula akomodasinya, dimana tempat menginap, sarana transportasi yang digunakan, umum atau pribadi, dan lain sebagainya.
Pilih tempat berlibur. Sebaiknya lokasi liburan tidak terlalu jauh karena perjalanan jauh atau lama bisa menyebabkan si kecil bosan dan rewel. Selain itu, pilihlah tempat berlibur yang dapat dinikmati semua anggota keluarga. Untuk memberikan gambaran awal tentang lokasi tempat liburan kepada anak, orangtua dapat menunjukkan gambar-gambar tempat wisata tersebut, lalu ceritakan secara singkat apa saja yang akan ditemui di sana, kegiatan apa yang dapat dilakukan, dan sebagainya.
Periksa kesehatan si kecil. Sebaiknya 1-2 minggu sebelum berangkat, cek jadwal imunisasi si kecil. Lalu, persiapkan obat-obatan yang kemungkinan diperlukan selama liburan.
Siapkan perlengkapan. Di antaranya:
* Tas perlengkapan bayi. Tas khusus ini digunakan untuk menyimpan segala kebutuhan si kecil. Kebutuhan si kecil sebaiknya terkonsentrasi pada satu tas, dan tidak bercampur dengan perlengkapan pakaian orangtua atau saudaranya.
* Popok dan pakaian. Pada saat berlibur atau beraktivitas di luar, sebaiknya si kecil menggunakan popok celana sekali pakai karena lebih praktis, sehingga si kecil nyaman bergerak dan bebas rewel. Pilihlah popok celana sekali pakai yang memiliki perlindungan menyeluruh agar kulit bayi tetap kering dan memiliki bahan ekstra lembut untuk kulit sehat si kecil. Sediakan popok serta pakaian yang cukup. Jangan sampai si kecil kekurangan popok atau pakaian, sebab dapat membuatnya tak nyaman.
* Tisu basah. Berguna untuk membersihkan bagian kelamin dan bokong setelah pipis di perjalanan, membersihkan tangan setelah makan-minum, membersihkan wajah dari keringat, dan lain-lain. Pilih tisu yang tak mengandung alkohol sehingga tidak membuat kulitnya kering dan aman buat si kecil.
* Mainan. Si kecil biasanya rewel kala merasa bosan. Dengan membawa mainan kesukaannya, setidaknya ada aktivitas yang bisa dilakukan selama perjalanan untuk mengusir kejenuhan.
* Makanan bayi. Persiapkan makanan ringan dan makanan berat untuk si kecil di perjalanan. Jangan sampai ia kelaparan dan rewel. Bawa serta perlengkapan makan dan minumnya.
(Hilman/Tabloid Nakita)
Editor: din







