ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


Bayi Prematur Lima Kali Berpeluang Derita Autisme

Bayi yang lahir lebih cepat dari waktu yang ditentukan dan bertubuh kecil memiliki peluang untuk menderita autisme lima kali lebih besar daripada bayi normal, demikian sebuah penelitian Amerika Serikat selama dua dasawarsa ini.

Bayi-bayi prematur telah lama dikenal memiliki sejumlah risiko masalah kesehatan dan penundaan kognitif, tetapi penelitian dalam jurnal Pediatrics itu adalah yang pertama kali mengaitkan hubungan antara berat badan di bayi di saat dilahirkan dengan autisme.

Peneliti AS mengamati 862 anak sejak lahir sampai usia dewasa muda. Mereka yang ada dalam penelitian itu lahir antara 1984 dan 1987 di tiga kawasan di New Jersey. Bayi-bayi itu memiliki berat antara 500 dan 2.000 gram (1,1-4,4 pon) pada saat lahir. Seiring waktu, lima persen dari bayi yang lahir dengan berat badan rendah didiagnosis menderita autisme, dibandingkan dengan prevalensi satu persen pada populasi umum.

“Pada saat kemampuan bertahan bayi-bayi dengan berat badan rendah membaik, gangguan terhadap mereka yang selamat memberikan tantangan baru di bidang kesehatan masyarakat,” kata penulis utama Jennifer Pinto-Martin, direktur Pusat Autisme, Cacat Tubuh dan Epidemiologi di Sekolah Ilmu Keperawatan University of Pennsylvania.

“Masalah kognitif pada anak-anak autisme boleh jadi menutupi penyakit autisme,” katanya. Ia mendesak orang tua untuk membawa anak mereka ke rumah sakit guna mendapatkan tes autisme apabila dicurigai mengalami gangguan spektrum autisme. “Intervensi dini meningkatkan hasil jangka panjang dan dapat membantu anak-anak baik di sekolah maupun di rumah.”

Autisme adalah istilah untuk berbagai kondisi mulai dari miskinnya interaksi sosial hingga ke perilaku repetitif dan sikap diam yang berlebihan. Kondisi itu langka, terutama menjangkiti anak-anak laki-laki, dan penyebabnya masih sengit diperdebatkan.

Sumber : http://www.republika.co.id

Menara Pemancar Telepon Seluler Tidak Sebabkan Kanker

TEMPO Interaktif, London-  Tinggal di dekat sebuah menara telepon seluler saat Anda sedang hamil tidak meningkatkan risiko bayi Anda terkena kanker, menurut peneliti Inggris, Paul Elliott, dan rekannya, sebagaimana dimuat dalam bmj.com 23 Juni 2010.

Pemimpin peneliti, Dr Paul Elliott, profesor epidemiologi dan obat-obatan kesehatan masyarakat di Imperial College London, mengatakan bahwa hasil penelitian ini menepis kemungkinan risiko kanker pada anak-anak muda yang tinggal di dekat menara pemancar telepon seluler (BTS/base station).

“Ada kekhawatiran dalam masyarakat tentang kemungkinan yang timbul dari emisi tiang ponsel terhadap kesehatan anak-anak,” kata Elliott. “Studi nasional ini tidak menemukan hubungan antara paparan BTS dan risiko kanker anak usia dini.”

Peneliti juga mencatat bahwa tidak ada penjelasan radiobiologi untuk masalah ini.

Dalam penelitian ini, tim Elliott mengumpulkan data 1.397 anak-anak dengan leukemia atau kanker otak, atau tumor sistem saraf pusat, berusia antara kurang dari satu tahun sampai 4 tahun.

Sebagai perbandingan, para peneliti mengidentifikasi kelompok kontrol anak-anak yang tidak menderita kanker dan dicocokkan kepada orang lain dengan jenis kelamin dan tanggal lahir. Para peneliti juga mencatat anak-anak yang tinggal dekat sebuah menara sel saat lahir dan daya keluaran menara.

Para peneliti tidak menemukan hubungan antara risiko kanker anak usia dini dan paparan BTS yang diterima sang ibu selama kehamilan.

John Bithell, rekan Elliott dalam penelitian ini, mengatakan bahwa tingkat paparan dari menara ponsel jauh lebih rendah dibandingkan dari ponsel genggam, dan percobaan telah memperlihatkan tidak ada efek biologis dari paparan frekuensi radio. Untuk saat ini, “Profesi medis harus meyakinkan para pasien untuk tidak perlu khawatir tentang kemungkinan ini,” kata Bithell.

HealthDay/NF

Tugas Penting Calon Ayah

VIVAnews – Menjaga janin agar tumbuh kembangnya optimal selama di dalam kandungan ternyata tidak hanya butuh perhatian sang bunda, peran ayah pun sangat diperlukan saat si kecil masih berada dalam kandungan.

Seperti dilansir dari laman dailymail.co.uk, sebuah penelitian menyatakan, peran ayah yang terlibat selama kehamilan bisa membantu mengurangi risiko kematian bayi selama tahun pertama anak mereka hidup.

Menurut penelitian dari University of South Florida, bayi yang tidak mendapatkan perhatian dari sang ayah selama masa kehamilan hampir empat kali lebih mungkin meninggal di tahun pertama mereka daripada bayi dengan perhatian dua orangtua yang aktif.

Bayi tanpa perhatian sang ayah selama masa kehamilan juga lebih mungkin lahir dengan berat lahir rendah, menjadi prematur dan lahir dengan ukuran lebih kecil dari usia bayi normal.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan, ayah yang aktif dalam pendidikan anak-anak mereka secara signifikan dapat membantu membantu meningkatkan prestasi akademiknya.

Sedangkan pada penemuan baru yang diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat, menyarankan keterlibatan seorang ayah sebelum anaknya lahir bisa sama pengaruhnya.

Penulis studi Profesor Amina Alio, mengatakan, “Studi kami menunjukkan, kurangnya keterlibatan ayah selama kehamilan merupakan faktor risiko yang  berpotensi dalam kematian bayi.”

Para peneliti memeriksa catatan dari semua kelahiran di Florida 1998-2005, lebih dari kelahiran hidup sebanyak 1,39 juta.

Keterlibatan ayah dalam suatu hubungan pernikahan dan hubungan antara ayah dengan sang buah hati selalu didefinisikan dengan kehadiran nama ayah di akte kelahiran bayi. Meskipun ukuran ini tidak menilai berapa banyak peran ayah selama kehamilan, penelitian lain telah menetapkan bahwa adanya nama ayah dalam akta kelahiran telah cukup membuktikan bahwa selama kehamilan sang istri, seorang suami selalu memberikan pendampingan.

Profesor Amina Alio mengatakan dukungan dari pihak ayah dapat menurunkan stres emosional ibu. Keterlibatan seorang ayah juga meningkatkan kesehatan bayi serta menurunkan risiko komplikasi yang dialami ibu hamil.

Para ibu dari bayi yatim lebih mungkin menderita kondisi seperti anemia, tekanan darah tinggi kronis dan eklampsia. 

Adanya perhatian seorang ayah kepada ibu hamil juga mendorong para wanita hamil untuk menjalani gaya hidup lebih sehat. Studi ini menemukan wanita tanpa didampingi suami saat hamil cenderung melakukan gaya hidup tak sehat seperti merokok dan seringkali mendapatkan perawatan tidak memadai sebelum melahirkan.
 
Meningkatkan keterlibatan ayah saat wanita sedang hamil bisa mengurangi biaya perawatan medis lebih mahal serta mengurangi tingkat kematian bayi, tim menyimpulkan. Dr Alio mengatakan, “Ketika ayah terlibat, anak-anak akan tumbuh dengan baik di sekolah.” katanya. (adi)

• VIVAnews

Tidur Terlalu Lama Bisa Meningkatkan Risiko Sindrom Metabolik  

TEMPO Interaktif, San Antonio – Durasi tidur yang panjang berkaitan dengan prevalensi tinggi terjadinya sindrom metabolik pada orang dewasa, demikian menurut sebuah abstrak penelitian yang dikutip ScienceDaily 8 Juni 2010. Kesimpulan penelitian tersebut telah  disajikan pada 8 Juni 2010, di San Antonio, Texas, pada pertemuan tahunan ke-24 Associated Professional Sleep Societies LLC.

Sindrom metabolik adalah sebuah kombinasi gangguan kesehatan yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler, diabetes, dan stroke. Seseorang dengan setidaknya tiga dari lima faktor risiko dianggap telah mengalami sindrom metabolik: kelebihan lemak di perut, trigliserida tinggi (lemak dalam darah), rendahnya kolesterol HDL (kolesterol “baik”), tekanan darah tinggi, dan gula darah tinggi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para peserta penelitian yang melaporkan punya kebiasaan tidur sehari-hari selama delapan jam atau lebih termasuk tidur siang memiliki kemungkinan 15 persen lebih tinggi mengalami sindrom metabolik. Hubungan ini tetap tidak berubah setelah dilakukan penyesuaian dengan faktor-faktor seperti demografi, gaya hidup, dan kebiasaan tidur.

“Aspek yang paling mengejutkan dari studi kami adalah bahwa tidur lama berkaitan dengan sindrom metabolik,” kata penulis penelitian ini, Teresa Arora, ilmuwan di Sekolah Kedokteran Universitas Birmingham, Inggris. Arora menegaskan bahwa durasi tidur yang panjang menyebabkan peningkatan risiko sindrom metabolik akan memiliki implikasi penting bagi kesehatan masyarakat.

Penelitian ini melibatkan 29.310 orang di Guangzhou, Cina, berusia 50 tahun atau lebih.

ScienceDaily/Ngarto Februana

Makan Daging Olahan Mungkin Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Diabetes  

TEMPO Interaktif, Harvard – Dalam sebuah penelitian baru, peneliti dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard (HSPH) menemukan bahwa makan sosis daging olahan berkaitan dengan meningkatnya risiko 42% lebih tinggi terkema penyakit jantung dan risiko 19% lebih tinggi terkena diabetes tipe 2. Sebaliknya, para peneliti tidak menemukan risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung atau diabetes di kalangan mereka yang mengonsumsi daging merah yang belum diproses, seperti daging sapi, babi, atau domba. Karya ini merupakan review sistematis pertama tentang kaitan antara makan daging mentah merah dan daging olahan dengan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Menurut peneliti, daging merah yang belum diproses didefinisikan sebagai daging yang diolah dari daging sapi, domba atau babi, tidak termasuk unggas. Adapun  daging olahan didefinisikan sebagai daging yang diawetkan dengan pengasapan, atau penggaraman, atau dengan penambahan bahan pengawet kimia; contoh bacon, salami, sosis, hot dog.

Studi ini muncul di jurnal Circulation, edisi online 17 Mei 2010.

Renata Micha, anggota penelitian dari jurusan epidemiologi HSPH, dan penulis utama studi tersebut, mengatakan, penelitian sebelumnya kebanyakan juga mempertimbangkan dampak kesehatan dari makan daging merah mentah versus daging olahan.

“Untuk menurunkan risiko serangan jantung dan diabetes, orang harus mempertimbangkan jenis daging yang mereka makan. Daging olahan seperti bacon, salami, sosis, hot dog, mungkin yang paling penting untuk menghindari,” kata Micha.

ScienceDaily/Ngarto Februana

18 queries