Aktivitas Fisik Mengurangi Risiko Menurunnya Kognitif
TEMPO Interaktif, Maryland – Perempuan yang aktif secara fisik pada setiap tahap kehidupannya (remaja, usia 30 tahun, umur 50, usia lanjut) memiliki risiko yang lebih rendah terkena kerusakan kognitif pada masa tuanya, dibandingkan dengan yang tidak aktif. Namun aktivitas fisik saat remaja tampaknya paling penting. Ini adalah temuan kunci dari penelitian yang melibatkan lebih dari sembilan ribu perempuan.
Hasil penelitian dipublikasikan Journal of the American Geriatrics Society edisi 30 Juni 2010, sebagaimana dikutip ScienceDaily 30 Juni 2010.
Ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif secara fisik pada pertengahan dan akhir kehidupannya memiliki kesempatan yang lebih rendah dan lebih kecil terkena demensia–sebuah bentuk penurunan kognitif pada usia tua.
Para peneliti yang dipimpin oleh Laura Middleton, PhD, dari Pusat Ilmu Kesehatan Sunnybrook, Kanada, membandingkan aktivitas fisik dan kognisi pada remaja, usia 30 tahun, usia 50, dan usia lanjut dari 9.344 perempuan dari Maryland, Minnesota, Oregon dan Pennsylvania, untuk meneliti efektivitas aktivitas pada tahap kehidupan yang berbeda.
“Studi kami menunjukkan bahwa perempuan yang aktif secara fisik secara teratur pada usia berapa pun memiliki risiko yang lebih rendah terkena penurunan kognitif daripada mereka yang tidak aktif, tapi aktif secara fisik pada usia remaja yang paling penting dalam mencegah kerusakan kognitif,” kata Middleton.
Para peneliti juga menemukan bahwa wanita yang secara fisik tidak aktif pada saat remaja tetapi menjadi aktif secara fisik pada usia 30 dan usia 50 tahun secara signifikan mengurangi kemungkinan kerusakan kognitif.
Middleton menambahkan, “Sebagai hasilnya, untuk meminimalkan risiko demensia, kegiatan fisik harus didorong sejak dini.”
ScienceDaily/NgartoF
Tai Chi dan Chikung Mendorong Sistem Kekebalan Tubuh
TEMPO Interaktif, Arizona – Sebuah kajian mengenai efek Tai Chi dan Chikung untuk kesehatan menemukan bahwa senam asal Cina itu banyak menawarkan keuntungan kesehatan fisik dan mental, seperti bermanfaat bagi jantung, sistem kekebalan tubuh, dan kualitas hidup.
Review ini dimuat American Journal of Health Promotion, edisi Juli-Agustus 2010. Peneliti mengkaji jurnal-jurnal yang memuat studi mengenai topik ini, antara 1993 – 2007, yang melibatkan 6.410 peserta.
Penulis studi ini, Larkey Linda, Ph.D., dari Universitas Negeri Arizona, Amerika Serikat, mengatakan bahwa tinjauan ini memberikan “dasar bukti kuat” manfaat Tai chi dan Chikung terhadap kesehatan tulang, kebugaran jantung-pernapasan, fungsi fisik, keseimbangan, kualitas hidup, dan manfaat psikologis.
Chikung merupakan latihan yang akan meningkatkan aliran qi atau keseimbangan, kata Shin Lin, Ph.D., profesor di Pusat Kedokteran Integratif di Universitas California, Irvine. Chikung menggabungkan “chi” untuk energi dan “kung atau gong” untuk olahraga.
Lebih lanjut Lin mengatakan hasil kajiannya menunjukkan bahwa melakukan senam ini secara rutin, dengan gerakan yang disederhanakan pun, cukup efektif untuk meningkatkan kesehatan.
“Tai Chi dan Chikung memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan karenanya harus dianggap sebagai prioritas tinggi ketika seseorang memilih sebuah senam untuk dipraktikkan,” kata Lin.
Health Behavior News Service/Medical News Today/NgartoF
Bercinta Tiap Hari, Normalkah?
Tanya:
Saya dan suami baru menikah tiga bulan lamanya. Setiap hari kami berhubungan intim. Apakah hal ini akan mengganggu kesehatan kami berdua? Atau, apakah secara psikologis hal ini dapat menyebabkan kebosanan nantinya?
jmxxx@yahoo.co.id
Jawab:
Anda memang masih termasuk pengantin baru. Bercinta, memang masih merupakan hal baru bagi sepasang pengantin baru. Biasanya, pada masa ini aktivitas intim berada pada frekuensi yang sedang tinggi-tingginya.
Selama ini, belum ada penelitian yang menyebutkan, bercinta setiap hari akan mengganggu kesehatan. Karena itu, nikmatilah masa mesra ini sepuasnya. Tidak beralasan jika Anda merasa khawatir hubungan seks yang sering dilakukan ini akan menimbulkan kebosanan.
Hubungan seks yang diikat oleh rasa cinta yang mendalam bukanlah hubungan yang bersifat mekanis. Ikatan Anda berdua tidak hanya murni jasmaniah, tetapi punya ikatan yang bernilai emosional juga.
Kebosanan mungkin saja terjadi nantinya, tetapi ingatlah bahwa seks merupakan suatu dunia sendiri, yang penuh hal-hal baru dan dapat dinikmati berdua serta penuh dengan eksplorasi. Hal ini merupakan tugas Anda berdua, untuk membuat hubungan seks sebagai kegiatan yang menarik, penuh dengan hal-hal baru sehingga dapat memberikan kenikmatan, tak saja jasmani tetapi juga emosional.
Konsultan: Wira Pramudya (konsultasi seks)
Baca juga: Tantangan Bercinta 30 Hari
• VIVAnews
Swinger Sangat Berisiko Tertular Penyakit Seksual
TEMPO Interaktif, Geleen - Sebuah penelitian di Belanda menemukan bahwa swinger–orang dewasa heteroseksual yang suka tukar pasangan di klub seks – lebih berisiko terhadap penyakit seksual menular (PMS) dibandingkan dengan remaja dan gay atau pria biseksual; keduanya dianggap sebagai kelompok yang berisiko tinggi terjangkit herpes, HIV, dan klamidia.
“Di klinik kami, kami mulai mencatat bahwa ada beberapa orang yang menyebut diri mereka swinger yang tampaknya terkena PMS lebih sering daripada heteroseksual lainnya,” kata Anne-Marie Niekamprekan, salah satu peneliti dari Pusat Layanan Kesehatan Kemasyarakat Limburg Selatan di Geleen, Belanda. “Data ilmiah tentang topik ini tidak tersedia. Swinger tampaknya tidak hanya sebuah populasi tersembunyi dalam masyarakat tetapi juga dalam ilmu pengetahuan dan perawatan kesehatan.”
Penelitian ini dipublikasikan oleh jurnal Sexually Transmitted Infections edisi online 23 Juni 2010.
Para peneliti mengumpulkan data tentang hampir 9.000 pasien yang berkunjung di tiga klinik penyakit seksual antara tahun 2007 dan 2008. Sekitar satu dari sembilan pasien, atau 12 persen, dilaporkan menjadi seorang swinger. Rata-rata usia mereka adalah 43 tahun.
Sekitar 55 persen dari semua pasien yang diagnosis terkena klamidia dan gonorea (kencing nanah) telah diidentifikasi sebagai swinger, sementara 31 persen pria gay. Secara keseluruhan, satu dari 10 swinger terkena klamidia sementara sekitar satu dari 20 terbukti positif terjangkit gonorea.
Swinger usia di atas 45 tahun memiliki tingkat lebih tinggi terjangkit PMS ketimbang swinger di bawah 45 tahun, menurut penelitian ini.
Sekitar 10,4 persen swinger laki-laki usia di atas 45 tahun telah terjangkit klamidia dan atau gonorea, sementara pria heteroseksual lainnya yang terkena klamidia hanya 2,4 persen. Tingkat klamidia pada pria gay atau biseksual adalah 14,6 persen.
Adapun swinger wanita di atas 45 tahun, hampir 18 persen terkena klamidia, sedangkan perempuan heteroseksual lainnya 4 persen, pelacur kurang dari 3 persen.
Dr H. Hunter Handsfield, profesor kedokteran di Pusat AIDS dan Penyakit Seksual Menular Universitas Washington, mengatakan beralasan bahwa swinger mungkin lebih berisiko terhadap penyakit menular seksual daripada kelompok lain, dan bukan hanya karena banyaknya pasangan seks. Melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu orang, pada waktu atau berganti-ganti dengan cepat, mendorong penyebaran PMS, kata Handsfield.
Diperkirakan jutaan orang mempraktikkan swinger. Swingers Date Club, situs kencan untuk para swinger, misalnya, memperkirakan ada jutaan di seluruh dunia; sekitar 30.000 orang di Belanda telah mengirim profilnya secara online.
Sementara itu, Dr Cynthia Krause, ahli kebidanan dan ginekologi di Sekolah Kedokteran Mount Sinai di New York, mencatat bahwa tingkat klamidia dan gonorea di kalangan swinger perempuan enam kali lebih tinggi dari pelacur.
HealthDay News/Ngarto Februana
Menabung Kalsium Sebelum Pensiun
TEMPO Interaktif, Pada usia 26 tahun, Desti mulai merasakan sakit pada tulang belakangnya. Saat bangun tidur, dia butuh waktu lama untuk beranjak. “Punggung dan kaki linu,” kata karyawan sebuah swalayan ini. Bahkan Desti sudah dua kali jatuh saat berjalan. berdasarkan hasil roentgen dan pemeriksaan dokter, saraf di tulang belakang Desti tak bisa bekerja dengan baik. Tulang yang seharusnya berongga malah menyempit.
Tulang belakangnya juga mulai keropos. “Dokter juga heran, mosok usia belum kepala tiga sudah keropos,” kata dia. Desti mengaku jarang berolahraga dan tak menghiraukan zat gizi yang terkandung dalam makanannya.
Menurut dokter spesialis tulang, Dr dr Lukman Shebubakar SpOT (K), pengeroposan tulang (osteoporosis) yang terjadi pada Desti merupakan osteoporosis sekunder. “Penyebab osteoporosis ada dua, primer dan sekunder,” kata dokter dari Rumah Sakit Fatmawati itu saat media workshop “Pentingnya Asupan Kalsium pada Usia Sekolah” di Jakarta beberapa waktu yang lalu.
Osteoporosis primer terjadi karena kekurangan kalsium. Sedangkan osteoporosis sekunder disebabkan oleh faktor tertentu, misalnya penyakit atau yang lain. “Belum tentu pula apakah Desti terkena osteopenia (osteoporosis dini),” Lukman melanjutkan. Osteoponia merupakan fase sebelum osteoporosis datang.
Untuk menilai apakah seseorang terkena osteopenia, perlu dites dengan bone mineral density (BMD). Tes ini guna mengukur kepadatan tulang. Normalnya, angka hasil tes BMD di atas -1. Jika hasil tes BMD menunjukkan angka -1,0 hingga -2,5, itu menandakan osteopenia. Jika lebih dari – 2,5, artinya osteoporosis.
Lazimnya, penyakit pengeroposan tulang banyak menimpa perempuan yang mulai menopause. Sebab, saat menopause, produksi hormon estrogen–yang membantu penyerapan kalsium–berkurang. Menurut data Kementerian Kesehatan pada 2005, prevalensi osteoponia di Indonesia mencapai 41,7 persen atau dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena osteoporosis.
Bagaimana agar tak terkena osteopenia? Lagi-lagi kalsium berperan penting. Menurut Iip Syaiful, Kepala Seksi Standardisasi Konsumsi Makanan Kementerian Kesehatan, kalsium adalah zat yang dibutuhkan semua usia. Kalsium merupakan mineral yang paling banyak jumlahnya dalam tubuh, atau 1,5-2 persen dari berat badan orang dewasa.
Kalsium penting bagi pembentukan tulang, gigi, kontraksi otot, penggumpalan darah, dan transmisi saraf. Tulang berfungsi sebagai bank kalsium dan fosfat bagi tubuh. Hanya 1 persen kalsium yang beredar dalam darah. “Sisanya, 99 persen, ada di tulang,” ujar Iip dalam acara yang sama.
Masa kritis pembentukan tulang terjadi pada usia 0-10 tahun. “Sebanyak 45 persen kepadatan tulang dibentuk pada usia ini,” Lukman melanjutkan. Pembentukan tulang juga terjadi pada usia 10-18 tahun. “Empat puluh lima persen kepadatan tulang juga ditentukan pada usia ini.” Sisa pembentukan massa tulang–5 persen–terjadi usia 18 tahun ke atas.
Lukman menjelaskan, penyerapan kalsium maksimal terjadi sebelum usia menginjak 30 tahun. Pada usia tersebut, tulang mulai pensiun menyerap kalsium. Jika tak ada stok kalsium, kalsium diambil dari tulang. “Jadinya osteoporosis alias keropos,” katanya. “Maka, tabunglah kalsium sebelum usia pensiun.”
Menurut angka kecukupan gizi (AKG) sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan, AKG kalsium mencapai puncaknya pada usia 10-18 tahun sebesar 1.000 miligram. Pada usia dini, kekurangan kalsium susah diketahui. Pasalnya, jika kandungan kalsium pada tubuh dites, tubuh akan mengambil dari bank kalsium. “Sehingga tak tampak apakah seseorang kurang kalsium atau tidak,” kata Lukman.
Kekurangan kalsium, terutama pada anak, selain menyebabkan tulang rapuh dan keropos, dapat mengganggu pertumbuhan. Kekurangan kalsium bisa pula menyebabkan kejang, terutama terjadi pada ibu hamil. Begitu pula akibatnya jika ibu hamil kelebihan kalsium.
Kelebihan kalsium juga bisa menyebabkan batu ginjal, mengganggu fungsi ginjal, dan susah buang air besar. Umumnya, kelebihan itu terjadi karena mengkonsumsi kalsium dari suplemen, bukan pada sumber kalsium alami. Jadi, jangan mengkonsumsi kalsium lebih dari 2.500 miligram per hari.
Selain itu, perbanyak olahraga dan konsumsi vitamin D. “Kalsium, vitamin D, dan olahraga adalah satu kesatuan.” Lukman mengingatkan pula, “Osteoporosis secara tak langsung juga mengancam perokok dan peminum alkohol.” NUR ROCMI
Angka Kecukupan Kalsium
Anak
0-6 bulan | 200 mg/hari
7-11 bulan | 400 mg/hari
1-6 tahun | 500 mg/hari
7-9 tahun | 600 mg/hari
10-18 tahun | 1.000 mg/hari
19- … | 800 mg/hari
(Sumber: Keputusan Menkes 1593/Menkes/SK/XI/2005)
Sumber Kalsium (sajian per 100 gram)
Ikan Teri | 1.000
Ikan Wader/Bilis | 1.426
Tepung Susu | 904
Keju | 777
Bayam Merah | 520
Tempe | 517
Kacang Tanah | 456
Kacang Merah | 293
Tahu | 223
Sawi | 220
(Sumber : Persatuan Ahli Gizi Indonesia)
ASI Bisa Mengurangi Risiko Infeksi
TEMPO Interaktif, Belanda – Penelitian menunjukkan bahwa pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi bisa mengurangi risiko infeksi. Berdasarkan informasi, tersebut, sebuah studi berbasis populasi bayi di Belanda meneliti efek dari menyusui, baik eksklusif maupun parsial, selama empat bulan pertama kehidupan.
Penelitian ini akan dimuat Pediatrics edisi cetak Juli dan telah diterbitkan dalam edisi online 21 Juni 2010. Para peneliti menemukan bahwa bayi yang mendapat ASI eksklusif sampai umur 4 bulan, dan sesudahnya sebagian, memiliki risiko lebih rendah terkena infeksi saluran pernapasan dan gastrointestinal dalam enam bulan pertama kehidupannya. Namun ASI eksklusif sampai umur 6 bulan masih menghasilkan tingkat perlindungan terbesar dari penyakit menular. Penelitian ini menegaskan rekomendasi dari American Academy of Pediatrics dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk pemberian ASI eksklusif sampai umur 6 bulan.
Medical News Today/Ngarto Februana
Berita Lain tentang Manfaat ASI
Hadang Infeksi dengan ASI dan Imunisasi
Teh Meningkatkan Risiko Radang Sendi?
KOMPAS.com – Sesuatu yang dikonsumsi atau dilakukan secara berlebihan biasanya memang tidak lagi bermanfaat. Teh, yang diyakini memberikan berbagai manfaat kesehatan, jika diminum terlalu banyak ternyata malah meningkatkan risiko penyakit radang sendi.
Perempuan yang minum lebih dari empat cangkir teh sehari cenderung akan mengembangkan penyakit tersebut hingga 78 persen, demikian menurut studi dari Georgetown University Medical Centre. Menurut studi yang melibatkan lebih dari 76.000 perempuan itu, bahkan secangkir teh sehari pun sudah meningkatkan risikonya hingga 40 persen. Anehnya, minum kopi tidak disebut memberi pengaruh apa pun.
“Kami ingin menentukan apakah konsumsi teh atau kopi, atau metode yang digunakan untuk menyiapkan teh, yang dikaitkan dengan meningkatnya risiko (radang sendi),” ujar Professor Christopher Collins, dari Georgetown University Medical Centre.
Meskipun demikian, ada juga manfaat yang dihasilkan dari minum teh, termasuk mengurangi risiko mengembangkan kanker ovarium hingga 10 persen, dan secara signifikan mengurangi kemungkinan berkembangnya penyakit jantung dan beberapa penyakit mata.
Karena itu Profesor Collins juga tidak menyarankan penggemar teh untuk mengubah kebiasaan minum teh mereka hanya karena penemuan ini. “Memang jelas terlihat kaitannya, tetapi risikonya sangat kecil,” katanya.
DIN
Editor: din
Sumber: Marie Claire
Ani Yudhoyono Akan Ajar Cucu Makan Lele
VIVAnews - Ikan adalah salah satu sumber protein tertinggi yang dibutuhkan oleh manusia, khususnya otak. Dan ikan lele adalah salah satu ikan yang biasa dikonsumsi untuk memenuhi pasokan protein itu.
“Ada yang mengatakan bahwa ikan adalah makanannya otak,” kata Ani Yudhoyono, “itu juga sebabnya mengapa anak-anak Jepang memiliki kecerdasan yang tinggi, salah satunya karena di negara itu, rakyatnya diajak mengkonsumsi ikan sejak balita.” Itulah yang disampaikan ibu negara saat membuka Festival Raya Lele Nusantara di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Sabtu 19 Juni 2010.
Ani menyatakan, bila makanan yang sehat dan penuh gizi seperti ikan dikenalkan pada anak-anak sedini mungkin, lanjut Ibu Ani, saat dewasa mereka akan menyukai dan merasakan manfaatnya untuk kesehatan dan kecerdasaan. Menurut Ibu Ani, saat ini konsumsi ikan nasional tergolong kecil, khususnya di Pulau Jawa karena tidak dibiasakan sejak dini.
“Jadi kalau sekarang ini kita mau mengubah pola berpikir atau cara hidup kita bahwa ikan adalah yang terbaik, insya Allah, suatu saat nanti bukan hanya orang Jawa, atau orang yang tinggal di Jawa, tetapi seluruh rakyat Indonesia akan gemar makan ikan,” kata Ani dilansir laman Presiden.
Lebih spesifik mengenai Lele, Ibu Ani mengatakan bahwa banyak orang salah kaprah. “Banyak orang yang mengatakan itu tidak berkelas, itu hanya di kaki lima. Kemudian itu hanya mahasiswa dan anak-anak kos, yang uangnya pas-pasan bisa makan ikan lele. Tidak elit. Padahal sebetulnya tidak benar sama sekali,” Ibu Negara menegaskan.
Menurut Ani, festival raya membuktikan lele adalah makanan bergizi tinggi, sehat, murah, dan berkelas. “Adanya gerakan masyarakat makan ikan atau gemar ikan, saya lihat sebagai terobosan konkret yang patut diberikan apresiasi,” ujar Ibu Ani. Jika gerakan itu dimulai dari Parkir Timur Senayan Jakarta menuju keseluruh Indonesia, maka 5-10 tahun lagi anak-anak Indonesia akan tumbuh lebih sehat dan cerdas.
Budidaya ikan lele akan memiliki manfaat secara sosial dan ekonomi. “Siapapun dapat mengembangkan ikan lele, termasuk oleh mereka yang berada di perumahan-perumahan sempit maupun di apartemen,” ujarnya. Ibu Ani kemudian menghubungkan hal ini pada usaha propoor dan projob.
Ibu Ani berharap agar semua mendukung pengembangan ikan Lele dan komoditas ikan lainnya. “Saya punya cucu satu-satunya, insya Allah akan saya ajarkan makan lele nantinya,” kata nenek dari Almira Tunggadewi Yudhoyono itu.
• VIVAnews
Keliru Pilih Bra Bisa Buruk Bagi Kesehatan
KOMPAS.com – Bukan hanya berisiko merusak penampilan, ada pula sejumlah risiko kesehatan yang mengancam Anda hanya karena salah memilih bra. Berikut di antaranya;
* Payudara Kendur
Pemakaian size bra yang keliru membuat payudara Anda tidak disangga secara benar. Buruknya sistem penyangga ini berakibat meregangnya ligamen-ligamen yang rapuh pada payudara, sehingga mengurangi kekencangannya.
* Nyeri Punggung
Tali bra yang terlalu ketat menekan pundak bisa menghambat aliran darah di daerah tersebut. Akibatnya, otot-otot di sekitar pundak dan leher menjadi tegang, dan selanjutnya Anda bisa terserang pegal-pegal, sakit kepala, juga nyeri punggung.
* Iritasi Kulit
Keluhan ini bisa muncul apabila Anda mengenakan bra dengan ukuran terlalu kecil, tali terlalu kencang, atau memilih bra yang terbuat dari bahan sintetik yang tidak menyerap keringat.
* Kanker Payudara
Mengenakan bra yang terlalu sempit bisa memengaruhi fungsi sistem limfatik dan mengganggu proses pengeluaran zat beracun dari sel-sel tubuh. Jika dibiarkan terlalu lama, maka sel-sel normal di dalam payudara bisa berubah bentuk menjadi sel abnormal (kanker).
(Nayu Novita/Majalah Chic)
Editor: NF
Ini Dia Gejala Menopause pada Pria
TEMPO Interaktif, London – Untuk pertama kalinya, para peneliti dari sejumlah institusi di Eropa mengidentifikasi gejala “menopause pria”, suatu kondisi yang mengikuti penurunan hormon testosteron lelaki tua. Tidak seperti menopause pada perempuan, yang bisa menimpa semua wanita, menopause pada pria tergolong sangat langka, hanya mempengaruhi 2% dari laki-laki tua, dan sering dikaitkan dengan buruknya kesehatan secara umum dan obesitas. Temuan ini dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine edisi Juni 2010.
Para peneliti, dipimpin Profesor Fred Wu, dari Universitas Manchester, mengukur kadar testosteron dari 3.369 pria berusia antara 40 dan 79 tahun, dan menanyakan masalah seksual mereka, kesehatan fisik, dan psikologis.
Tim menemukan hanya sembilan dari 32 gejala yang benar-benar berhubungan dengan rendahnya kadar testosteron; yang paling penting terdapat tiga gejala seksual: penurunan frekuensi ereksi pagi hari, penurunan frekuensi dorongan seksual, dan disfungsi ereksi.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberadaan ketiga gejala seksual tersebut, bersama dengan rendahnya kadar testosteron, memerlukan diagnosis hipogonadisme. Gejala-gejala lain termasuk tiga gejala fisik yakni ketidakmampuan melakukan berbagai kegiatan, seperti berjalan atau mengangkat benda berat, ketidakmampuan untuk berjalan lebih dari 1 kilometer, dan ketidakmampuan untuk membungkuk, berlutut atau membungkuk – dan tiga gejala psikologis: kehilangan gairah, kesedihan, dan kelelahan. Namun, gejala-gejala non-seksual hanya sedikit terkait dengan testosteron rendah.
ScienceDaily/NgartoF






