Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Ketika Cinta Terpisah Image

KOMPAS.com – Bulan Juni-Juli kerap diidentikkan dengan musim berlibur. Ada yang berlibur dan melepas penat dengan berbelanja, mumpung ada ajang Jakarta Great Sale. Ada pula yang mengisi waktunya dengan berlibur di luar kota, karena berkaitan dengan masa liburan sekolah juga. Tak bisa dipungkiri, bulan Juni-Juli merupakan masa yang menyenangkan. Berencana mengisi hari dengan sesuatu yang berbeda? Coba nonton teater komedi musikal!

Mungkin terdengar masih asing di telinga untuk mencoba menghadiri sebuah acara teater. Tetapi jika Anda mencoba datang dan menyaksikan langsung, Anda bisa merasakan suatu atmosfer energi yang berbeda. Bagi Anda yang ingin “mencicipi” hiburan teater, coba tonton sajian teater komedi musikal dari EKI Dance Company yang bertajuk Jakarta Love Riot (JLR). Pertunjukkan ini merupakan produksi musikal EKI yang kesepuluh.

“JLR mengangkat tema tentang cinta dan konflik yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya Jakarta,” ungkap Aiko Senosoenoto, Presiden Direktur EKI Dance Company. Pertunjukkan yang ditujukan sebagai persembahan untuk ulang tahun Jakarta ini bercerita tentang sepasang remaja dari status sosial berbeda, yang ingin belajar tentang cinta, tetapi terhadang suatu hal. Hal yang membuat cinta mereka tak bisa bersatu adalah citra. Upaya kedua insan ini menyatukan cintanya malah menyulut kerusuhan di keluarga masing-masing.

“Cerita ini diambil dari potret kota Jakarta yang dihuni berbagai kalangan dari status sosial yang berbeda. Adanya interaksi satu sama lain membuat gesekan dan konflik. Fenomena itulah yang menginspirasi kami untuk membuat pertunjukkan ini,” jelasĀ  Alim Sudio, produser Jakarta Love Riot.

Pertunjukkan ini akan diisi oleh artis-artis yang seru, seperti Sarah Sechan, Bayu Oktara, Uli Herdinansyah, Arie Dagienkz, Ira Duaty, Yayu Unru, Takako Leen, Ari Prajanegara, dan Felicia Chitraningtyas. Akan ada tarian, nyanyian, adu akting, segalanya dikemas dalam musik yang diolah oleh komposer Oni Krisnerwinto. Disutradarai oleh Rusdy Rukmarata dan Nanang Hape, serta kostum oleh Samuel Wattimena. JLR akan dipertunjukkan pada tanggal 2-3 Juli 2010 (pukul 19.00) dan 4 Juli (pukul 13.30 dan 19.00) di Gedung Kesenian Jakarta dengan harga tiket Rp 75.000 dan Rp 100.000. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi GKJ di 380 8283 atau EKI Dance Company di 944 20257 atau 944 20357.

NAD

Editor: NF


Kerja Kreatif Bikin Stress?

TEMPO Interaktif, Toronto – Tuntutan yang terkait dengan aktivitas kerja kreatif merupakan tantangan utama bagi pekerja. Menurut penelitian baru dari Universitas Toronto, Kanada, ini stres yang terkait dengan beberapa aspek pekerjaan berdampak terhadap batas antara kerja dan kehidupan keluarga.

Peneliti mengukur sejauh mana mereka yang terlibat dalam aktivitas kerja kreatif dengan menggunakan data dari survei secara nasional terhadap lebih dari 1.200 pekerja di Amerika. Profesor sosiologi Scott Schieman dan rekannya mengajukan pertanyaan kepada responden, antara lain: “Seberapa sering Anda memiliki kesempatan untuk mempelajari hal baru?”; “Seberapa sering Anda memiliki kesempatan untuk memecahkan masalah? “;” Seberapa sering Anda melakukan pekerjaan yang memungkinkan Anda untuk mengembangkan keterampilan atau kemampuan?”

Para penulis menjelaskan tiga inti temuan:

Pertama: Orang yang memiliki skor lebih tinggi pada indeks kerja kreatif lebih mungkin mengalami tekanan pekerjaan yang berlebihan, dan mereka merasa kewalahan oleh beban kerja, serta lebih sering menerima pekerjaan yang berhubungan dengan kontak (email, teks, panggilan) di luar jam kerja normal;

Kedua: Pada gilirannya, orang-orang yang mengalami tekanan-tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan, dan lebih sering melakukan tugas ganda antara pekerjaan dan keluarga, mereka mencoba untuk menyulap pekerjaan dan tugas-tugas rumah pada waktu yang sama saat mereka berada di rumah.

Ketiga: Secara bersamaan, tuntutan pekerjaan ini dan peran ganda kerja-keluarga kerap menimbulkan konflik antara pekerjaan dan peran keluarga, yang merupakan penyebab utama timbulnya masalah peran dalam domain rumah tangga.

Menurut Schieman, unsur-unsur stres terkait kerja kreatif ini, yang oleh kebanyakan orang dilihat sebagai sisi positif dari kondisi pekerjaan kreatif, merugikan. Lebih dari itu, ini juga dapat menyebabkan stres dalam kehidupan kita.

Penelitian ini juga menemukan bahwa orang yang memiliki skor lebih tinggi pada indeks kerja kreatif lebih cenderung memikirkan pekerjaan mereka di luar jam kerja normal. Namun, ketika ini terjadi, banyak orang berkata bahwa mereka tidak merasa “tertekan” oleh pikiran-pikiran itu. Schieman menambahkan: “Ada aspek kerja kreatif yang dinikmati banyak orang karena mereka mendapat kepuasan dalam hidupnya. Hal ini sangat berbeda dengan stres pikiran yang bikin orang terjaga di malam hari, yang disebabkan oleh tenggat yang tidak dapat dikontrol, orang lain bekerja tidak kompeten yang membuat Anda harus menanganinya esok hari, atau pekerjaan rutin yang kurang menantang atau terasa seperti sebuah penindasan.”

ScienceDaily/Ngarto Februana


49 queries