Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


Menyelami Beragam Budaya Meningkatkan Kreativitas  

TEMPO Interaktif, Northwestern – Kreativitas dapat ditingkatkan dengan mengalami budaya yang berbeda selain budaya sendiri, menurut sebuah studi yang dimuat di Personality and Social Psychology Bulletin, seperti dikutip ScienceDaily 29 Juni 2010.

Tiga penelitian menguji aspek-aspek kreativitas yang berbeda pada siswa yang tinggal di luar negeri dan yang tidak. Dibandingkan dengan kelompok kontrol, yang tidak mengalami budaya yang berbeda, peserta dalam kelompok budaya yang berbeda memberikan bukti lebih kreatif dalam berbagai standar tes sifat tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pembelajaran multikultural adalah komponen penting dalam proses adaptasi, bertindak sebagai katalis kreativitas.

Para peneliti, William W. Maddux, Hajo Adam, dan Adam D. Galinsky, dari Universitas Northwestern, Amerika Serikat, percaya bahwa kunci untuk meningkatkan kreativitas berkaitan dengan pendekatan siswa untuk berpikiran terbuka dalam menyesuaikan diri dengan budaya baru. Dalam dunia global, di mana lebih banyak orang dapat memperoleh pengalaman multikultural dibandingkan sebelumnya, penelitian ini menunjukkan bahwa tinggal di luar negeri dapat lebih bermanfaat dari yang diduga sebelumnya.

ScienceDaily/NF

Menyambut Produk-produk Kreatif Indonesia di PPKI

KOMPAS.com – “Tahukah Anda, bahwa Indonesia itu kaya? Tapi jangan salah menilai. Kekayaan itu tak hanya dinilai dari segi nominal atau dari segi sumber daya alam saja. Kita punya kekayaan lain yang belum tergali, yakni, kreativitas,” tutur Panji Pragiwaksana saat memulai acara temu dengan Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Mari Elka Pangestu, Rabu (23/6/2010), di sela-sela hari pertama pelaksanaan Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2010 di Jakarta Convention Center, Senayan.

Ungkap Panji tersebut bukan tanpa maksud. Ia mengatakan hal tersebut menyangkut tema dari penyelenggaraan PPKI yang menggaungkan, “Eksplorasi Budaya Nusantara Melalui Keanekaragaman Kreativitas Pemuda untuk Mendukung Kebangkitan Ekonomi Kreatif Indonesia”. Konvensi ini didukung oleh Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Koperasi dan UKM, serta Kementerian Pendidikan Nasional.

Di dalam konvensi yang sudah digelar untuk kesekian kalinya ini, pemerintah mengundang ke-14 sub-sektor dari industri kreatif, di antaranya; fesyen, kesenian antik, games interaktif, film dan video grafis, musik, desain, iklan, televisi dan radio, pertunjukan seni, penelitian, komputer dan software, publikasi dan percetakan serta arsitektur. Ditambah lagi, industri kuliner, yang dinilai oleh Ibu Mari Elka Pangestu sebagai suatu bidang kreatif yang patut diperhitungkan.

Konvensi yang akan berlangsung dari hari ini hingga tanggal 27 ini mengagendakan 17 kegiatan, antara lain; seminar, lokakarya, kontes rencana bisnis, klinik konsultasi, panggung Indonesia kreatif yang menargetkan 5.000 peserta yang terdiri dari pelaku industri kreatif, budayawan, pelaku usaha, akademisi, pemerintah daerah, kementerian, lembaga pemerintah terkait, asosiasi, lembaga pembiayaan, lembaga promosi dagang asing, media dan komunitas ekonomi kreatif.
    
Konvensi ini diharapkan dapat memberi informasi, menginspirasi, serta mendorong kepercayaan diri, serta optimisme pemuda-pemudi bangsa untuk mau mencoba dan berusaha menggali dan mengangkat tradisi kebudayaan Indonesia, tak terkecuali untuk dijadikan produk yang layak jual. Untuk informasi lainnya, kunjungi portal Indonesia kreatif di www.indonesiakreatif.net, yang juga baru diluncurkan hari ini.

NAD

Editor: NF

Mengolah Ikan Tanpa Mengurangi Nutrisinya

KOMPAS.com – Kandungan protein dalam ikan segar seperti salmon dibutuhkan tubuh, terutama untuk anak agar tumbuh berkembang lebih optimal. Asupan protein dibutuhkan 15-20 persen per harinya, dan komposisi ini juga berlaku untuk orang dewasa.

Mengenali sumber makanan, manfaat dan variasinya, bagi juru masak dan pakar kuliner sehat Chef Edwin Lau bahkan ada di urutan pertama dalam hal masak-memasak. Setelahnya, lakukan teknik memasak yang sehat tanpa tanpa digoreng dan dibakar. Lalu kreativitas akan membuat variasi makanan makin kaya.

Sayangnya, pengolahan sumber makanan dengan cara tertentu bisa menghilangkan kandungan gizinya. Untuk itu Edwin berbagi resep bagaimana mengolah ikan, agar kandungan gizi di dalamnya tidak hilang karena keliru memasaknya.

1. Makan mentah
Memakan ikan segar mentah lebih bernutrisi daripada dimasak, apalagi digoreng kering. Namun jangan sembarangan memilih ikan segar. Sebaiknya lengkapi pengetahuan memasak dengan berbagai informasi seputar bahan makanan. Termasuk cara beternaknya, dalam hal ini ikan misalnya. Lebih baik pilih ikan yang diternak secara organik.

2. Baiknya dipepes daripada digoreng

Menggoreng ikan dalam suhu tinggi atau membakar/memanggangnya di atas arang membuat nilai gizi pada ikan berkurang, bahkan hilang. Asap pada ikan bakar misalnya, berpengaruh terhadap penyerapan gizi atau nutrisi ikan itu sendiri. Sebaiknya pepes ikan agar kandungan protein terserap tubuh lebih optimal.

3. Daripada digoreng kering, lebih baik ditumis  

Menggoreng kering akan menghilangkan nutrisi pada ikan. Selain itu, menggoreng dengan minyak dengan suhu tinggi akan mengubah lemak PUFA (yang juga terkandung dalam ikan) menjadi lemak SAFA (lemak jenuh) yang berbahaya bagi tubuh dan sumber berbagai penyakit. Sebaiknya memasak ikan sebagai tumisan dengan api kecil dan tidak direndam minyak.

4. Jangan langsung bersentuhan dengan alat masak

Jikapun ingin menggoreng ikan, lapisi ikan dengan tepung roti untuk menyerap minyak. Dengan demikian ikan tidak langsung bersentuhan dengan alat masak ataupun minyak goreng.

C1-10

Editor: din

Inovasi Tas Daur Ulang Menembus Ekspor


KOMPAS.com - Pasar ekspor sudah menjadi fokus utama dari awal kemunculan produk tas wanita dari Yogyakarta ini. Dengan label CS Bag ini, Clara Seiffi Emmy Pratiwi mengirim tas berbahan dasar alami seperti anyaman pandan berjumlah puluhan ribu item hingga ke Amerika. Kini, usahanya terus berkembang dengan tas daur ulang. Pasar lokal pun menjadi pangsa pasar yang ingin diraih CS Bag berikutnya. 

Sistem kemitraan sengaja dipilih pengusaha yang akrab disapa Emmy ini. Untuk bisnis ekspor yang harus melayani permintaan dari segi jumlah dan waktu pengerjaan, kemitraan lebih tepat untuk menjalankan bisnisnya. Karena pembayaran hanya dilakukan saat pengrajin mendapatkan pekerjaan atau sistem borongan.

Emmy memang cukup berpengalaman mengalami pasang-surut dalam bisnisnya. Namun kecintaannya pada produk fashion yang kerap masuk kategori handycraft ini membuatnya bertahan. Misalnya saja, bisnis tas ekspor ini semula dirintis pada tahun 1998 bersama tiga temannya. Namun sejak 2003, karena satu dan lain alasan, Emmy melanjutkan bisnisnya sendiri.

CS Bag kemudian berkembang dengan berbagai kreasi dan inovasi baru buatannya, termasuk tas daur ulang dari kertas koran, bungkus snack, dan kemasan pasta gigi. Sekitar 1200 pengrajin dari Yogyakarta, Pekalongan, Bali, dan Madura, terlibat dalam produksi tas CS Bag.

“Eksplorasi material recycle ini sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu, dengan dukungan workshop dari USAID. Workshop ini menggali pewarnaan, penggunaan bahan kimia yang ramah lingkungan, dan mencari material yang tepat,” papar Emmy kepada Kompas Female di sela Seminar Wanita Wirausaha BNI & Femina, di Four Seasons Hotel, Jakarta, Minggu (9/5/2010) lalu.

Kepekaan melihat pasar dan keberanian inovasi membekali Emmy mengembangkan bisnis tasnya. Kampanye eco friendly yang marak muncul sebagai bentuk keprihatinan atas lingkungan, memacu kreativitas Emmy untuk mempopulerkan varian terbarunya, tas daur ulang CS Bag.

Emmy meyakini varian baru ini mampu menarik minat pasar. Meski diakuinya, masih banyak konsumen yang menganggap remeh produk recycle karena materinya. Padahal menurutnya, teknik pengolahan mengedepankan kualitas. Hanya saja menurutnya tren dan rasa penghargaan atas produk ramah lingkungan belum populer.

Passion disertai kesabaran dan keyakinan menjadi modal Emmy untuk melanggengkan bisnisnya. Diakuinya, masa resesi ekonomi global sempat membuatnya merugi hingga Rp 3 milyar. Namun dukungan dari perbankan yang menjadi mitra bisnisnya, dirasakan sangat membantu. Tak sekadar saat bisnis sedang naik, namun juga saat mulai menurun karena pengaruh krisis. Tentu saja track record yang baik dalam berbisnis membangun kepercayaan bank atas CS Bag.

“Sejak 1998 menjalani bisnis ekspor, pengalaman penundaan pembayaran hingga satu tahun baru dialami sejak 2008 karena hantaman krisis ekonomi global. Penundaan pengiriman barang juga menyebabkan cancellation order,” papar Emmy.

Padahal menurutnya, usaha tas ekspor miliknya minim sekali menerima klaim. Kualitas dan ketepatan waktu pengiriman menjadi kunci keberhasilan bisnisnya lebih dari 10 tahun ini.

Minimal 10.000 item

Meskipun bisnisnya sempat merosot pada krisis 2008, namun sejak 2010 ini perempuan yang juga mengelola bisnis restoran ini mulai melihat kenaikan permintaan, terutama ekspor produk daur ulang. Sedangkan pasar lokal level menengah atas masih mengandalkan penjualan tas kulit.

“Harus ada pengorbanan, terutama subsidi keuangan dari personal dalam menyiasati krisis,” papar Emmy, meyakini bisnisnya mampu mencapai omzet hingga Rp 12 milyar dengan profit 30 persen seperti yang pernah dialaminya pada masa jaya tahun 1998 hingga 2002 silam.

Emmy memahami betul karakter pembeli dari produknya. Pembeli dengan partai besar atau grosir, dengan pemesanan setiap produk jumlah minimalnya 10.000 item. Sedangkan untuk pembeli ritel, CS Bag bekerjasama dengan brand dari Italia dan 25-30 butik. Pemesanan ritel untuk satu jenis produk maksumal 1.000 item. 

Untuk pasar lokal, Emmy menjalin kerjasama dengan outlet di sejumlah resor atau hotel bintang lima di Bali dan Yogyakarta. Bali tak hanya menjadi lokasi pemasaran yang menarik bagi Emmy. Saat kehabisan ide, terutama dalam desain produk, Bali menjadi tempat favoritnya. Selain mencari ide, tentu saja Bali merupakan tempat bertemunya berbagai kalangan dari berbagai negara, yang membuka kesempatan terbukanya peluang pasar lebih besar.

Di samping karakter pembeli, Emmy juga paham masa peak season penjualan produknya, yakni setiap September hingga Januari. Pemahaman pangsa pasar inilah yang membuat Emmy yakin mampu menembus pasar lokal dan internasional, untuk setiap inovasi produknya. Tentunya karena memang quality control atas setiap produk terjaga baik, sebaik hubungan yang dibina bersama para pengrajin Indonesia. 

C1-10

Editor: din

27 queries