ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Hidup Tetap Sehat Menjelang dan Semasa Menopause

Health Today–Menapause adalah suatu fase alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita dan biasanya terjadi di atas usia 40 tahun. Ini merupakan suatu akhir biologis dari siklus menstruasi yang tidak dapat dihindarkan oleh wanita manapun.

Seorang wanita dikatakan mengalami menopause apabila siklus menstruasinya telah berhenti selama 12 bulan. Berhentinya haid tersebut akan membawa dampak kesehatan, baik fisik maupun psikis.

Adapun akibat jangka panjang yang harus diperhatikan adalah osteoporosis (tulang keropos), penyakit jantung koroner, stroke, dan pikun. Bila kondisi ini dibiarkan, tentu akan mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup seorang wanita.

Salah satu cara untuk mengatasinya  dengan cara ilmiah tanpa menimbulkan resiko kanker payudara adalah dengan menkonsumsi Fitoestrogen yang merupakan estrogen alamiah yang berasal dari tumbuh-tumbuhan serta mengandung senyawa isoflavon yang memiliki khasiat seperti halnya hormon estrogen. Tumbuhan alami sumber sumber fitoestrogen yang saat ini telah diteliti di seluruh dunia adalah kacang-kacangan, kulit bengkuang, kedelai, Red Clover dan Black Cohosh.

Data ditemukan bahwa angka kejadian patah tulang dan penyakit jantung koroner pada wanita yang sering mengkonsumsi fitoestrogen, jauh l


Beser, Jangan Dibiarkan

KOMPAS.com — Masalah sering buang air kecil atau overactive bladder (OAB) ternyata tak hanya dialami perempuan lanjut usia. Kita yang masih di usia produktif juga bisa mengalaminya. Lakukan pencegahan agar aktivitas kita tidak terhambat dan kualitas hidup tidak terganggu.

Spesialis Urologi
Dr Bahrun Sipahutar, SpU, dokter spesialis urologi di RS PGI Cikini, Jakarta

Massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih bisa karena ada gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kencing, dan dehidrasi. Bisa juga karena kerusakan saraf di sepanjang saluran kemih akibat penyakit, misalnya diabetes.

Anjuran
Sebaiknya, keinginan untuk buang air kecil jangan ditahan. Dan, biasakan untuk tidak memakai celana panjang terlalu ketat dalam waktu yang lama karena dapat menyebabkan daerah kewanitaan menjadi lembab, memicu infeksi, dan merangsang terbentuknya batu.

Spesialis Ginekologi
Dr Caroline Tirtajasa, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi di RS Omni Pulomas, Jakarta

Infeksi saluran kencing yang kronis tetapi tidak diobati bisa menyebabkan kerusakan saraf pada saluran dan kantung kencing. Tingginya risiko infeksi ini disebabkan kuman yang mudah masuk ke saluran uretra. Sebab, saluran uretra wanita lebih pendek, yaitu sekitar 2,5-4 cm.

Anjuran
Begitu merasa ada gangguan, sebaiknya jangan dibiarkan. Sebab, nantinya tak hanya mengganggu saluran kencing, tetapi juga dapat menjalar sampai ginjal. Cegah infeksi dengan rutin membasuh daerah kewanitaan dengan air bersih. Plus, perbanyak konsumsi air putih.

Spesialis Farmakologi
Dr Alyya Siddiqa, SpFK, dokter spesialis farmakologi klinik dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Gangguan saraf otonom, yang mengatur kontraksi otot di kandung kemih. Normalnya, volume urine yang memenuhi kantung kencing akan memberi sinyal pada saraf untuk mengosongkan urine. Pada kasus OAB, sinyal mudah timbul dan muncul hasrat ingin buang air kecil meski volumenya masih sedikit.

Anjuran
Amati frekuensi waktu buang air kecil. Jika terasa sangat mengganggu kenyamanan, berkonsultasilah ke dokter untuk mendapatkan terapi farmakologi. Obat yang diberikan termasuk ke dalam antikolinergik untuk memblok kerja saraf agar kontraksi otot berkurang.

(Prevention Indonesia/Intan Sari Boenarco)

Editor: din


Tai Chi dan Chikung Mendorong Sistem Kekebalan Tubuh  

TEMPO Interaktif, Arizona – Sebuah kajian mengenai efek Tai Chi dan Chikung untuk kesehatan menemukan bahwa senam asal Cina itu banyak menawarkan keuntungan kesehatan fisik dan mental, seperti bermanfaat bagi jantung, sistem kekebalan tubuh, dan kualitas hidup.

Review ini dimuat American Journal of Health Promotion, edisi Juli-Agustus 2010. Peneliti mengkaji jurnal-jurnal yang memuat studi mengenai topik ini, antara 1993 – 2007, yang melibatkan 6.410 peserta.

Penulis studi ini, Larkey Linda, Ph.D., dari Universitas Negeri Arizona, Amerika Serikat, mengatakan bahwa tinjauan ini memberikan “dasar bukti kuat” manfaat Tai chi dan Chikung terhadap kesehatan tulang, kebugaran jantung-pernapasan, fungsi fisik, keseimbangan, kualitas hidup, dan manfaat psikologis.

Chikung merupakan latihan yang akan meningkatkan aliran qi atau keseimbangan, kata Shin Lin, Ph.D., profesor di Pusat Kedokteran Integratif di Universitas California, Irvine. Chikung menggabungkan “chi” untuk energi dan “kung atau gong” untuk olahraga.

Lebih lanjut Lin mengatakan hasil kajiannya menunjukkan bahwa melakukan senam ini secara rutin, dengan gerakan yang disederhanakan pun, cukup efektif untuk meningkatkan kesehatan.

“Tai Chi dan Chikung memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan karenanya harus dianggap sebagai prioritas tinggi ketika seseorang memilih sebuah senam untuk dipraktikkan,” kata Lin.

Health Behavior News Service/Medical News Today/NgartoF


Tidur Lasak, Apa Penyebabnya?


KOMPAS.com“Anak kedua saya sudah berumur tujuh tahun. Kenapa dia masih lasak saat tidur? Apa yang perlu kami lakukan supaya dia bisa tidur tenang? Apakah itu artinya dia tidak tidur dengan nyenyak?” (Surat dari Intan, Bintaro)

Tidur merupakan suatu kebutuhan yang amat vital bagi tumbuh kembang anak. Menurut dr Fransisca Handy, SpA, dokter anak dan konsultan laktasi, meskipun merupakan kesempatan tubuh beristirahat, beberapa organ penting seperti otak justru mengalami peningkatan aktivitas. Beberapa hormon penting juga dihasilkan di momen itu.

Karena anak masih mengalami proses tumbuh kembang, jumlah jam tidur pada anak pun lebih banyak daripada orang dewasa. Secara umum, ada dua fase tidur: REM (rapid eye movement) dan non-REM. Fase REM ditandai gerakan bola mata yang cepat, ketidakteraturan nafas dan denyut jantung, masih adanya gerakan otot, serta adanya mimpi. Sementara fase non-REM ditandai kondisi tubuh yang lebih tenang dan biasanya tidak ada mimpi, atau disebut juga sebagai fase tidur dalam.

Fase REM pada bayi mencapai hampir 80 persen dari seluruh jam tidurnya. Seiring usia, persentase fase REM akan semakin berkurang dan fase non-REM semakin meningkat. Tidur lasak seperti yang Anda maksud umumnya terjadi pada usia 6 bulan hingga 2 tahun, yang akan menghilang seiring bertambahnya umur dan biasanya memang tidak lagi dijumpai pada usia sekolah. Namun sebelum menentukan apakah tidur si kecil masuk dalam kategori gangguan tidur atau tidak, kita harus menilai bagaimana kualitas tidurnya secara umum.

Penilaian ini dapat dilihat dari 1) Apakah ada kesulitan memulai tidur? 2) Adakah kantuk berlebih di siang hari? 3) Apakah si kecil terbangun di tengah tidur malam? 4) Bagaimana keteraturan dan lamanya tidur? 5) Apakah sering terdengar mendengkur?

Jangan lupa, kualitas tidur juga tergantung kualitas hidup, termasuk adanya berbagai stres, fisik maupun psikis. Anda dapat melihat http://sleepclinic.wordpress.com, atau www.sleepdisordersguide.com untuk mencari informasi lain.

 

Editor: din

Sumber: Majalah Sekar


Kontrasepsi Hormonal Bisa Menyebabkan Disfungsi Seksual Wanita  

TEMPO Interaktif, Jerman – Kontrasepsi hormonal yang digunakan oleh wanita, baik yang digunakan dengan cara diminum maupun yang bukan, memiliki risiko tertinggi terhadap disfungsi seksual wanita. Hal ini dijelaskan dalam penelitian mahasiswi kedokteran Jerman yang diterbitkan dalam The Journal of Sexual Medicine.

Menariknya, kontrasepsi nonhormonal justru memiliki risiko disfungsi seksual terkecil, juga bila dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan alat kontrasepsi.

Kontrasepsi hormonal adalah alat kontrasepsi yang bertujuan mencegah kehamilan yang terbuat dari bahan baku yang mengandung hormon estrogen dan progestin. Contoh kontrasepsi hormonal adalah pil KB, suntik KB, dan susuk KB (implant). Sedangkan contoh kontrasepsi non hormonal adalah Intra Uterine Device (IUD) dan kondom.

“Masalah seksual, tanpa melihat faktor usia, dapat memberikan dampak negatif terhadap kualitas hidup dan kesehatan emosi,” kata peneliti Dr. Lisa-Maria Wallwiener dari Universitas Heidelberg, Jerman. “Disfungsi seksual pada wanita adalah penyakit yang umum, di mana dua dari lima wanita memiliki setidaknya satu jenis disfungsi seksual, dan keluhan yang paling banyak terjadi adalah rendahnya gairah seksual.

“Penyebab disfungsi seksual pada wanita beragam dan belakangan ini banyak dibahas mengenai kemungkinan kontrasepsi hormonal sebagai salah satu penyebabnya,” kata anggota penelitian Dr. Christian dan Markus Wallwiener dari Universitas Tuebingen, Jerman. “Wanita sadar bahwa disfungsi seksual sering dipengaruhi oleh banyak faktor seperti stres dan jenis hubungan, namun penelitian kami menunjukkan bahwa disfungsi seksual bisa saja dipengaruhi oleh hormon yang disebabkan oleh faktor eksternal.”

Penelitian ini melibatkan 1.086 wanita (sekitar 2,5 persen dari jumlah seluruh mahasiswi kedokteran di Jerman), yang mengisi kuisioner yang dirancang untuk mengidentifikasi masalah yang berhubungan dengan fungsi seksual, seperti juga faktor gaya hidup antara lain keinginan memiliki anak, kehamilan, dan apakah wanita-wanita itu perokok. Sebanyak 87,4 persen menggunakan alat kontrasepsi dalam enam bulan terakhir dan 97,3 persen aktif melakukan kegiatan seksual dalam empat minggu terakhir.

Untuk menganalisis efek dari kontrasepsi terhadap fungsi seksual, wanita-wanita yang diteliti menggunakan beberapa jenis alat kontrasepsi. Sedangkan yang tidak melakukan kegiatan seksual secara aktif dalam empat minggu ini dikeluarkan dari kelompok, jumlahnya 1.046 wanita. Dari jumlah ini, 32,4 persen dianggap berisiko mengalami disfungsi seksual, 5,8 persen berisiko tinggi memiliki kelainan gairah seksual yang rendah, 1 persen mengalami kelainan rangsangan, 1,2 persen mengalami kekurangan minyak pelicin, 8,7 persen mengalami kelainan orgasme, 2,6 persen mengalami masalah kepuasan, dan 1, 1 persen mengalami kesakitan saat berhubungan.

Wanita yang diteliti kemudian dibagi menjadi empat kelompok yaitu yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal yang diminum/oral (KHO), yang menggunakan kontrasepsi hormonal yang tidak diminum/non-oral (KHNO), yang menggunakan kontrasepsi nonhormonal (KNH), dan yang tidak menggunakan alat kontrasepsi (NK).

Kelompok yang memiliki risiko disfungsi seksual terendah (artinya mendapat nilai fungsi seksual tertinggi) adalah kelompok yang mengunakan kontrasepsi nonhormonal (mendapat nilai 31), diikuti oleh wanita yang tidak menggunakan kontrasepsi (mendapat nilai 29,5) dan wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal yang diminum (mendapat nilai 28,3). Sedangkan wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal yang tidak diminum (mendapat nilai 27,4) memiliki risiko disfungsi seksual tertinggi.

Untuk masalah kelainan gairah dan rangsangan seksual, kelompok wanita yang memiliki risiko tertinggi adalah wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal, baik yang diminum maupun yang tidak.

Metode kontrasepsi dan kebiasaan merokok merupakan faktor penting untuk menghitung nilai total fungsi seksual. Perokok mencatat nilai disfungsi seksual yang lebih tinggi dibanding wanita yang tidak merokok. Faktor lain seperti usia, pengalaman pernah melahirkan, keinginan untuk memiliki anak, dan status hubungan merupakan faktor yang tidak penting dalam menghitung nilai disfungsi. Wanita yang memiliki hubungan yang tidak stabil (dengan mengesampingkan penggunaan kontrasepsi) memiliki gairah yang lebih tinggi namun mendapat nilai orgasme yang rendah.

“Untuk penelitian selanjutnya, akan lebih menarik untuk meneliti perbedaan dosis estrogen dan beragam hormon progestin sintetis yang digunakan dalam kontrasepsi hormonal untuk melihat dampak terhadap fungsi seksual wanita,” kata peneliti dari universitas yang sama, Dr. Harald Seeger.

“Kami juga akan meminta agar hasil penelitian kami diinterpretasikan dengan hati-hati. Kami juga menekankan bahwa penelitian seperti ini tidak dapat menunjukkan hubungan sebab akibat, namun lebih ke penggabungan dan mungkin saja ada banyak faktor yang memiliki pengaruh terhadap fungsi seksual wanita,” kata Harald.

“Ini adalah investigasi penelitian yang penting,” kata Dr. Irwin Goldstein, pemimpin redaksi Journal of Sexual Medicine. Ada ratusan juta wanita, khususnya wanita muda yang memulai kehidupan seksual mereka, yang secara teratur menggunakan kontrasepsi hormonal selama bertahun-tahun. Ironisnya, wanita-wanita disuguhi banyak pengobatan yang dapat menghilangkan kekhawatiran untuk hamil, namun mereka tidak diberi informasi penting mengenai efek seksual yang merugikan yang mungkin terjadi.

”Alat-alat yang mempengaruhi hormon wanita dapat memberi dampak yang merugikan terhadap kehidupan seksual mereka.”

SCIENCE DAILY, BKKBN / FANNY FEBIANA


49 queries