MENYUSUI ANAK YANG BAIK DAN BENAR
Kemampuan menyusui, secara naluriah telah ada pada diri setiap wanita,,sementara kemampuan menghisap puting ibu untuk menyusu juga telah dimiliki secara alamiah oleh setiap anak. Namun terkadang kegiatan ini tidak selalu berjalan mulus, adakalanya puting sang ibu menjadi lecet sehingga proses memberikan ASI ekslusif ini menjadi terganggu, akibatnya mungkin produksi ASI berkurang dan bayi menjadi malas menyusu. Hal tersbut bisa terjadi karena posisi menyusui yang tidak benar.Agar terhindar dari masalah tersebut, cobalah beberapa kiat sederhana berikut ini :
1. Cuci Tangan
Kebersihan dalam proses menyusui sangatlah penting. Cucilah tangan anda sebelum memberikan ASI kepada si bayi, karena jika tangan yang kotor meyentuh puting atau air susu yang dihisap si anak, maka penularan penyakit dan kuman kepada anak bisa berpotensi tinggi.
2. Melembabkan Puting Susu
Perahlah sedikit ASI (dengan 2 jari ibu yang telah bersih) kemudian oleskan ke puting dan aerola sekitarnya. Hal ini bermanfaat sebagai disinfektan (dapat mematikan kuman penyakit) serta untuk menjaga kelembaban puting susu.
3. Rileks
Usahakan ibu duduk dengan posisi santai. Hindari posisi duduk dengan kaki menggantung.
4. Posisikan bayi dengan benar
- Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi diletakkan dekat lengkungan siku ibu, bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu.
- Perut bayi menempel ke tubuh ibu.
- Mulut bayi berada di depan puting ibu.
- Lengan bayi yang di bawah merangkul tubuh ibu, jangan berada diantara tubuh ibu dan bayi. Tangan yng di atas boleh dipegang ibu atau diletakkan di atas dada ibu.
- Telinga dan lengan yang di atas berada dalam satu garis lurus.
5. Rangsang bibir bayi
Bibir bayi dirangsang dengan puting ibu dan akan membuka lebar, kemudian dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan putting serta aerola dimasukkan ke dalam mulut bayi.
6. Periksa apakah perlekatan sudah benar
- Dagu menempel ke payudara ibu
- Mulut terbuka lebar
- Sebagian besar aerola terutama yang berada di bawah, masuk ke dalam mulut bayi
- Bibir bayi terlipat keluar
- Pipi bayi tidak boleh kempot (karena tidak menghisap, tetapi memerah ASI).
- Tidak boleh terdengar bunyi decak,hanya boleh terdengar bunyi menelan.
- Ibu tidak kesakitan.
- Bayi tenang.
Apabila posisi dan perlekatan sudah benar, maka diharapkan kendala-kendala tersebut dapat dihindari.
Beser, Jangan Dibiarkan
KOMPAS.com — Masalah sering buang air kecil atau overactive bladder (OAB) ternyata tak hanya dialami perempuan lanjut usia. Kita yang masih di usia produktif juga bisa mengalaminya. Lakukan pencegahan agar aktivitas kita tidak terhambat dan kualitas hidup tidak terganggu.
Spesialis Urologi
Dr Bahrun Sipahutar, SpU, dokter spesialis urologi di RS PGI Cikini, Jakarta
Massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih bisa karena ada gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kencing, dan dehidrasi. Bisa juga karena kerusakan saraf di sepanjang saluran kemih akibat penyakit, misalnya diabetes.
Anjuran
Sebaiknya, keinginan untuk buang air kecil jangan ditahan. Dan, biasakan untuk tidak memakai celana panjang terlalu ketat dalam waktu yang lama karena dapat menyebabkan daerah kewanitaan menjadi lembab, memicu infeksi, dan merangsang terbentuknya batu.
Spesialis Ginekologi
Dr Caroline Tirtajasa, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi di RS Omni Pulomas, Jakarta
Infeksi saluran kencing yang kronis tetapi tidak diobati bisa menyebabkan kerusakan saraf pada saluran dan kantung kencing. Tingginya risiko infeksi ini disebabkan kuman yang mudah masuk ke saluran uretra. Sebab, saluran uretra wanita lebih pendek, yaitu sekitar 2,5-4 cm.
Anjuran
Begitu merasa ada gangguan, sebaiknya jangan dibiarkan. Sebab, nantinya tak hanya mengganggu saluran kencing, tetapi juga dapat menjalar sampai ginjal. Cegah infeksi dengan rutin membasuh daerah kewanitaan dengan air bersih. Plus, perbanyak konsumsi air putih.
Spesialis Farmakologi
Dr Alyya Siddiqa, SpFK, dokter spesialis farmakologi klinik dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Gangguan saraf otonom, yang mengatur kontraksi otot di kandung kemih. Normalnya, volume urine yang memenuhi kantung kencing akan memberi sinyal pada saraf untuk mengosongkan urine. Pada kasus OAB, sinyal mudah timbul dan muncul hasrat ingin buang air kecil meski volumenya masih sedikit.
Anjuran
Amati frekuensi waktu buang air kecil. Jika terasa sangat mengganggu kenyamanan, berkonsultasilah ke dokter untuk mendapatkan terapi farmakologi. Obat yang diberikan termasuk ke dalam antikolinergik untuk memblok kerja saraf agar kontraksi otot berkurang.
(Prevention Indonesia/Intan Sari Boenarco)
Editor: din
Menjawab Perdebatan Seputar Imunisasi
VIVAnews - Setiap orangtua pasti ingin anak-anaknya tumbuh sehat, tidak sakit dan cacat. Memberikan imunisasi saat usia bayi dan balita menjadi penting untuk memberi perlindungan anak dari kuman dan virus penyebab penyakit.
Namun, mitos yang berkembang seputar imunisasi seringkali menjadi penghambat.
“Ada banyak anggapan, memberikan ASI pada bayi setelah imunisasi tidak boleh. Masih banyak lagi anggapan yang kemudian membuat para ibu takut memberikan imunisasi pada anak,” kata Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr Soedjatmiko, SpA(K), Msi dalam Journalist Class Pfizer “Hak Anak Untuk Sehat dan Cerdas”, di Wisma GKBI, Sudirman, Jakarta, Rabu, 30 Juni 2010.
Agar tak salah memahami tentang bagaimana sebaiknya imunisasi diberikan pada bayi dan balita, berikut hal penting yang harus dipahami sebelum imunisasi:
1. Untuk bayi prematur, imunisasi atau vaksin harus diberikan sesuai jadwal, mulai usia dua bulan.
2. Saat bayi sedang batuk atau pilek, bolehkah diimunisasi? Boleh, asal bayi tidak demam dan tidak rewel. Jika bayi sangat rewel, lebih baik tunda imunisasi 1-2 minggu.
3. Bolehkah imunisasi dibarengi dengan mengonsumsi obat penurun panas atau pengurang nyeri? Boleh, bahkan setelah imunisasi bayi juga boleh mengonsumsi obat penurun panas atau penghilang nyeri.
4. Sedang minum obat antibiotik, bolehkah diberikan imunisasi? Boleh.
5. Minum prednison dosis tinggi? Lebih baik tunda imunisasi 2-12 minggu.
6. Sering inhalasi steroid (anak asma)? Boleh.
“Jangan takut memberikan vaksin dan imunisasi pada anak karena program ini sudah dirancang oleh sekelompok ahli melalui penelitian 10-15 tahun dan telah diuji, diawasi oleh WHO serta telah melalui ijin resmi dari BPOM,” kata Soedjatmiko yang juga berprofesi sebagai dokter spesialis anak.
• VIVAnews
Sekali Bersin Ancam 150 Orang
VIVAnews – Para pekerja yang menggunakan angkutan umum untuk menjangkau tempat kerja sebaiknya lebih waspada. Penyebaran penyakit lewat angkutan umum tergolong sangat cepat.
Pekerja yang menggunakan transportasi umum berisiko dua kali lebih mungkin terkena penyakit dibanding yang bekerja di rumah. Ilmuwan menemukan, seorang penumpang yang bersin satu kali dalam angkutan umum seperti bus atau kereta api, menyebarkan virus influenza kepada 150 penumpang lainnya dalam lima menit.
Tanpa menggunakan sapu tangan atau tisu, sekali bersin akan menyebarkan 100 ribu kuman yang memenuhi udara. Setelah itu, kuman akan menyebar ke seluruh penjuru, mulai dari kursi, lantai, langit-langit hingga ban atau rel kereta.
Seperti dikutip dari laman Telegraph, studi menemukan 98 persen orang yang bepergian dengan bus dan 96 persen penumpang kereta api tertular virus flu selama musim dingin dan pancaroba.
Namun, orang yang bekerja di rumah dan mengalami flu hanya mencapai 58 persen. Juru bicara produsen obat, Lemsip, Hanna Nowak, mengatakan kuman flu tidak dapat dihindari sepenuhnya namun dapat menghentikan penyebarannya.
Sebuah survei lain menemukan, 25 persen wanita mengaku kehilangan simpati mereka terhadap pasangan atau suami yang mengeluh flu. Sebaliknya, 70 persen pria mengaku bersimpati terhadap pasangan yang mengidap flu. Sementara 60 persen pria bahkan menawarkan bantuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga pasangan yang sedang sakit. (hs)
• VIVAnews
Awas, Mesin Cuci Sebarkan Bakteri dan Kuman
VIVAnews - Mesin cuci sudah jadi perlengkapan yang dimiliki hampir setiap rumah tangga di kota besar. Mesin sangat praktis dan membantu pekerjaan tanpa harus repot mencuci secara konvensional. Namun, jangan menganggap pakaian dengan bau segar dari mesin cuci bebas kotoran dan kuman penyakit.
Sebuah penelitian menemukan, 25 persen mesin cuci di rumah terkontaminasi bakteri fecal yang terbawa pakaian kotor dan menyebarkannya. Bakteri fecal termasuk salmonella, hepatitis A, rotavirus dan adenovirus.
Menurut Dr Charles Gerba, peneliti dari Universitas Arizona di Tucson, dua pakaian kotor membawa sepersepuluh bakteri setara kotoran sebesar seperempat biji kacang tanah. Meski deterjen dan air bisa menghilangkan kuman dan bakteri selama mencuci, sebagian bakteri masih tertinggal dan menyebar di dalam mesin cuci.
Ia menjelaskan alasan mesin cuci yang ada sekarang cenderung masih menyisakan kotoran. Siklus mesin cuci sekarang jauh lebih pendek rata-rata 20 dan 28 menit daripada mesin cuci yang terdahulu. Kini, orang tidak lagi menggunakan air panas untuk mencuci pakaian dan pemutih lebih jarang digunakan.
Mesin cuci yang kelebihan beban juga menyebabkan pakaian tetap kotor karena memperlambat aliran air dan deterjen untuk membersihkan. Akibatnya, mikroba bisa menyebar dari mesin ke pencucian berikutnya. Seringkali, kita membiarkan pakaian yang telah dicuci dalam mesin cuci selama berjam-jam yang menyebabkan tumbuh kembangnya bakteri.
Agar pakaian Anda bersih selama mencuci, sebaiknya tambahkan pemutih. Jika tidak menggunakan pemutih pada pakaian, jalankan mesin cuci dengan air dan pemutih sebelum mencuci pakaian atau setelah selesai. Gunakan deterjen dengan kandungan pembersih dan segera mengambil pakaian setelah dicuci. (umi)
• VIVAnews







