Sepatu CooGee: Mirip Sepatu Mama dan Papa
KOMPAS.com – Jika Anda memperhatikan, gaya seseorang berpakaian pasti akan menyesuaikan lokasi tujuan, karakter, mood, dan tentunya, profesi. Bila yang punya profesi di bidang perbankan, biasanya sepatu akan berupa sepatu kulit formal tertutup. Sementara untuk yang pekerjaannya di bidang musik, seperti penyanyi rock, misalnya, lebih sering menggunakan sepatu yang non-formal dan gaya. Salah satu produsen sepatu anak dari Australia, CooGee, menciptakan sepatu-sepatu untuk anak yang diberi kategori sesuai profesi orang dewasa. Sepatu yang dipakai si kecil jadi mirip sepatu mama-papanya, deh.
CooGee yang mulai menjajaki pasar sepatu anak di Indonesia sejak tahun 2009 lalu memegang prinsip bahwa perkembangan terpenting pada anak terjadi sejak anak masih bayi hingga usia balita. Hal ini termasuk pula dalam masa perkembangan kaki si anak. Karena, menurut banyak literatur, ukuran kaki anak akan terus berkembang hingga ia berusia 18 tahun. Penting untuk menjaga kesehatan dan bentuk kaki sejak dini. Jika anak salah menggunakan alas kaki saat pertumbuhannya, maka bisa saja ia akan merasakan ketidaknyamanan di masa dewasa.
Dikatakan lewat siaran pers, sepatu CooGee dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan kesehatan kaki anak menggunakan teknologi terkini, material berkualitas, dan didesain untuk memenuhi kenyamanan kaki anak saat dikenakan tanpa menyakiti maupun menahan perkembangan bentuk kaki.
Selain itu, desain dari sepatu yang menargetkan anak usia 2-6 tahun ini diberikan klasifikasi per kategori profesi. Contohnya, senator, firefighter, balerina, jeweller, lawyer, doctor, chef, dan lainnya. Hal ini dilakukan CooGee untuk memberikan kesempatan kepada anak berimajinasi dan berkreasi dengan profesi, setidaknya dalam hal mendandani dirinya. Atau, kesempatan bagi si anak berdandan mirip ayah dan ibunya. Menariknya, menurut Romy Mustharom, Marketing Communication CooGee, sepatu-sepatu yang ditawarkan tidak memiliki warna-warni berlebihan atau pun gambar-gambar kartun yang kadang terlalu meriah.
Pada hari ini, Sabtu, 26 Juni 2010 ini CooGee meresmikan gerai pertamanya di Indonesia yang bertempat di area Miniapolis, Plaza Indonesia. Sepatu-sepatu CooGee ditawarkan dengan kisaran harga Rp 200.000 – Rp 500.000. Gerai sepatu yang memiliki tagline “Will Take You Places” ini berencana akan membuka gerai berikutnya di Pondok Indah Mall, Mal Puri Indah, dan di Surabaya.
NAD
Editor: NF
Swinger Sangat Berisiko Tertular Penyakit Seksual
TEMPO Interaktif, Geleen - Sebuah penelitian di Belanda menemukan bahwa swinger–orang dewasa heteroseksual yang suka tukar pasangan di klub seks – lebih berisiko terhadap penyakit seksual menular (PMS) dibandingkan dengan remaja dan gay atau pria biseksual; keduanya dianggap sebagai kelompok yang berisiko tinggi terjangkit herpes, HIV, dan klamidia.
“Di klinik kami, kami mulai mencatat bahwa ada beberapa orang yang menyebut diri mereka swinger yang tampaknya terkena PMS lebih sering daripada heteroseksual lainnya,” kata Anne-Marie Niekamprekan, salah satu peneliti dari Pusat Layanan Kesehatan Kemasyarakat Limburg Selatan di Geleen, Belanda. “Data ilmiah tentang topik ini tidak tersedia. Swinger tampaknya tidak hanya sebuah populasi tersembunyi dalam masyarakat tetapi juga dalam ilmu pengetahuan dan perawatan kesehatan.”
Penelitian ini dipublikasikan oleh jurnal Sexually Transmitted Infections edisi online 23 Juni 2010.
Para peneliti mengumpulkan data tentang hampir 9.000 pasien yang berkunjung di tiga klinik penyakit seksual antara tahun 2007 dan 2008. Sekitar satu dari sembilan pasien, atau 12 persen, dilaporkan menjadi seorang swinger. Rata-rata usia mereka adalah 43 tahun.
Sekitar 55 persen dari semua pasien yang diagnosis terkena klamidia dan gonorea (kencing nanah) telah diidentifikasi sebagai swinger, sementara 31 persen pria gay. Secara keseluruhan, satu dari 10 swinger terkena klamidia sementara sekitar satu dari 20 terbukti positif terjangkit gonorea.
Swinger usia di atas 45 tahun memiliki tingkat lebih tinggi terjangkit PMS ketimbang swinger di bawah 45 tahun, menurut penelitian ini.
Sekitar 10,4 persen swinger laki-laki usia di atas 45 tahun telah terjangkit klamidia dan atau gonorea, sementara pria heteroseksual lainnya yang terkena klamidia hanya 2,4 persen. Tingkat klamidia pada pria gay atau biseksual adalah 14,6 persen.
Adapun swinger wanita di atas 45 tahun, hampir 18 persen terkena klamidia, sedangkan perempuan heteroseksual lainnya 4 persen, pelacur kurang dari 3 persen.
Dr H. Hunter Handsfield, profesor kedokteran di Pusat AIDS dan Penyakit Seksual Menular Universitas Washington, mengatakan beralasan bahwa swinger mungkin lebih berisiko terhadap penyakit menular seksual daripada kelompok lain, dan bukan hanya karena banyaknya pasangan seks. Melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu orang, pada waktu atau berganti-ganti dengan cepat, mendorong penyebaran PMS, kata Handsfield.
Diperkirakan jutaan orang mempraktikkan swinger. Swingers Date Club, situs kencan untuk para swinger, misalnya, memperkirakan ada jutaan di seluruh dunia; sekitar 30.000 orang di Belanda telah mengirim profilnya secara online.
Sementara itu, Dr Cynthia Krause, ahli kebidanan dan ginekologi di Sekolah Kedokteran Mount Sinai di New York, mencatat bahwa tingkat klamidia dan gonorea di kalangan swinger perempuan enam kali lebih tinggi dari pelacur.
HealthDay News/Ngarto Februana
Mewaspadai Pertumbuhan Si Buah Hati
TEMPO Interaktif, Hingga umur 3 tahun, Adit tak juga bisa bicara. Anak itu jarang bersuara. Jika bersuara, dia masih mengeluarkan suara seperti bayi berusia 6 bulan. Ayahnya, Kisman, 45 tahun, curiga ada yang salah pada putra keduanya itu. “Padahal anak seusianya sudah lancar berbicara,” kata dia.
Warga Yogyakarta itu lalu memeriksakan anaknya ke dokter. Karena tak mendapat jawaban memuaskan, dia beberapa kali ganti dokter spesialis. Ternyata ada infeksi yang mengganggu pita suara dan saluran ke otaknya. “Ketika tahu, kami sudah terlambat,” ujarnya menyesal. Kini Adit berumur 11 tahun. Dia hanya bisa mengucapkan beberapa kosakata.
Memang, menurut dokter spesialis anak, Ahmad Suryawan, Sp A (K), tak ada panduan tumbuh kembang anak yang bisa jadi patokan apakah ia normal atau tidak. “Biasanya orang tua hanya membandingkan anaknya dengan anak yang seusia,” kata staf Divisi Tumbuh Kembang Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr Soetomo, Surabaya, ini.
Sayangnya, anak yang dijadikan perbandingan belum tentu normal pula sehingga orang tua sering telat mengetahui tumbuh kembang anaknya. “Ada kesenjangan antara keadaan anak dan pengetahuan orang tua,” ujarnya.
Menurut Ahmad, otak bayi mulai tumbuh sejak usia kandungan tiga pekan. Saat lahir, berat otak seperempat otak orang dewasa, dan sudah memiliki 100 miliar sel otak (neuron). Antarsel itu saling terhubung oleh jaringan (sinaps). Jumlahnya ada 50 triliun sinaps. Pada umur 1 bulan, jaringan sinaps tumbuh mencapai 1.000 triliun.
Kecepatan berpikir otak bergantung pada jumlah sinaps ini. Sinaps baru akan terbentuk dan menguat jika anak mendapat rangsangan (stimulasi), seperti mendengar, melihat, serta meniru, dan itu dilakukan berulang-ulang. Jadi stimulasi bisa dengan suara, gerakan, musik, bicara, membaca, dan lainnya. Jika tak digunakan, sinaps akan mati atau berkurang jumlahnya dan membuat kecepatan berpikir ikut berkurang.
Stimulasi harus dilakukan sedini mungkin. Pasalnya, perkembangan otak optimal cuma sampai usia 6 tahun. “Sembilan puluh lima persen perkembangan otak manusia terjadi sebelum umur 6 tahun,” tutur Ahmad. Maka periode ini disebut periode kritis atau genting. Jika ada gangguan pada periode ini, akan berakibat kelainan permanen dan sulit disembuhkan.
Kasus Adit, misalnya. Walau diketahui pada usia balita, hal itu sudah telat, dan akhirnya menjadi kelainan permanen.
Ahmad menjelaskan, puncak perkembangan otak bayi terjadi di awal hidupnya. Pada umur 3-6 bulan, fungsi melihat dan mendengar mengalami puncak. Hasil pendengaran dan penglihatannya atas lingkungan sekitar akan digunakan untuk kemampuan bicara. Pada umur 8 bulan, giliran fungsi bicara dan bahasa mencapai puncak. “Keempat fungsi ini terhenti perkembangannya pada umur 6 tahun.”
Adapun fungsi kognitif dan inteligensia mencapai puncaknya pada usia 3 tahun. “Fungsinya mulai menurun hingga umur 15 tahun,” Ahmad melanjutkan. Selain membutuhkan stimulasi, perkembangan otak perlu didukung nutrisi. “Nutrisi dan stimulasi satu kesatuan.”
Nutrisi yang membantu dalam tumbuh kembang anak, menurut Dokter Iwan Surjadi Handoko, adalah Kolin, DHA-AA (docosahexaenoic acid- arachidonic acid), Alfa-laktalbumin, dan asam lemak esensial (Omega 3 dan Omega 6). Kolin adalah nutrisi esensial, salah satu anggota vitamin B yang larut dalam air. Gunanya untuk pertumbuhan otak dan sumsum tulang belakang. “ASI adalah sumber kolin yang baik,” kata Business Development Manager Kalbe Nutritionals ini.
DHA-AA berfungsi untuk perkembangan otak dan penglihatan. Adapun Alfa-laktalbumin adalah protein yang dominan terdapat dalam ASI–mencapai 30 persen dari total protein, sedangkan susu sapi hanya 5 persen. “Dengan paduan antara stimulasi dan nutrisi cukup, diharapkan anak-anak akan tumbuh kembang dengan baik, sehat, dan normal.”
NUR ROCHMI
Fase Tumbuh Kembang
Tumbuh kembang adalah fase hidup yang dilalui anak. Tumbuh adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
Kembang adalah bertambahnya struktur dan kemampuan tubuh yang lebih kompleks meliputi kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara, bahasa, sosialisasi, dan kemandirian. Berikut ini ciri tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya.
0-3 bulan : Terkejut mendengar suara, mengikuti obyek dengan mata.
3-6 bulan : Berbalik telungkup ke telentang dan tertawa/menjerit kala diajak bermain.
7-9 bulan : Duduk, bermain tepuk tangan/cilukba.
9-12 bulan : Merangkak, berjalan dengan dituntun, menyentuh benda dan memasukkannya ke mulut.
12-18 bulan : Memanggil orang tuanya, berjalan-berlari, belajar makan/minum sendiri.
18-24 bulan : Bisa berdiri sambil memegang benda, menyebut beberapa kata yang memiliki arti.
2-3 tahun : Bisa membedakan mainan, bisa menendang bola sambil lari
3-4 tahun : Bisa berdiri dengan satu kaki, belajar memakai pakaian, dan bermain dengan anak lain.
4-5 tahun : Menari, senang bertanya, menggambar lingkaran atau tanda silang.
5-6 tahun : Bisa berjalan lurus. Mengenal warna, lawan kata, dan angka.
Nur Rochmi | berbagai sumber
Mengapa Ibu Hamil Dilarang Pakai High Heels
VIVAnews - Hati-hati mengenakan alas kaki saat sedang berbadan dua. Jajak pendapat dikelola Britain’s Society of Chiropodists and Podiatrists di Inggris menemukan, tujuh dari 10 ibu hamil menderita penyakit kaki setelah mengenakan sepatu bergaya.
Seperti dikutip dari laman Daily Mail, dari 1.000 wanita hamil yang disurvei, 45 persen mengalami kaki bengkak, 37 persen bengkak di pergelangan kaki, dan 16 persen menderita nyeri tumit selama masa kehamilan.
Sebanyak 32 persen dari responden ternyata tak biasa melepas kebiasaan mengenakan sepatu hak tinggi (high heels) saat hamil. “Tumit tinggi mengubah postur Anda, memperpendek otot betis, dan meningkatkan tekanan pada punggung dan lutut,” kata ahli penyakit kaki Lorraine Jones.
Lorraine mengatakan, wanita hamil rentan mengalami tegang di bagian pergelangan kaki dan ligamen. “Kaki yang tidak bisa menopang tubuh dengan baik juga berisiko menyebabkan jatuh,” katanya.
Tidak hanya sepatu bertumit tinggi yang tidak baik untuk wanita hamil. Sebab, dari jajak pendapat 66 persen responden terbiasa memakai sandal jepit selama hamil, 53 persen memakai sepatu flat balet, dan 30 persen mengenakan alas kaki bergaya lainnya.
Jadi, apakah wanita hamil benar-benar tidak boleh mengenakan alas kaki? Lorraine mengatakan, alas kaki paling ideal untuk ibu hamil adalah yang nyaman dengan ciri ukuran lebar pas.
Wanita hamil juga boleh mengenakan alas kaki berhak tinggi, namun tidak untuk waktu yang lama. Jika sudah terasa pegal dan tubuh seolah tak bisa menopang, lebih baik tanggalkan alas kaki berhak Anda.
“Banyak selebriti hamil terlihat memakai sepatu hak tinggi di majalah saat menghadiri acara. Jangan ditiru, cobalah untuk mengatur penggunaan hak tinggi Anda. Jangan digunakan untuk kegiatan harian Anda,” kata Lorraine.
• VIVAnews
Empat Fakta Unik Tentang Jantung
VIVAnews – Jantung bisa dibilang organ tubuh yang paling bekerja keras. Jantung terus-menerus memompa darah untuk kebutuhan seluruh organ tubuh yang lain.
Selain fakta tersebut ada fakta unik lainnya tentang jantung, yang sangat menarik untuk Anda ketahui, seperti dikutip dari Live Science.
1. Daya tarik seksual
Bercinta adalah cara mudah untuk membuat jantung Anda lebih sehat. Sebuah penelitian pada 2.500 pria berusia antara 49-54 menemukan, orgasme tiga kali dalam seminggu dapat mengurangi risiko penyakit jantung hingga 50 persen.
Hal itu diperkirakan karena gairah seksual dapat meningkatkan denyut jantung dan membakar sekitar 200 kalori, setara dengan berjalan cepat selama 15 menit.
2. Berhati besar
Ungkapan berhati besar sering diberikan pada orang pemaaf. Tetapi, dalam dunia kedokteran berhati besar artinya sebuah sinyal penyakit jantung. Jenis yang paling umum, dinamakan cardiomyopathy dilated, terjadi ketika bilik jantung melebar dan membesar. Jika tidak diobati hati yang besar, dapat menyebabkan gagal jantung.
3. Tertawa bikin jantung sehat
Tertawalah terbahak-bahak hingga air mata menetes agar jantung lebih sehat. Penelitian menunjukkan tertawa terbahak-bahak dapat menyebabkan dinding pembuluh darah yang disebut endotelium lebih rileks, dan meningkatkan aliran darah sampai 45 menit setelah tertawa.
4. Hati-hati, patah hati
Patah hati saat putus cinta bukan hanya berdampak buruk pada kondisi psikologis Anda, tetapi juga menimbulkan masalah pada jantung. Menurut penelitian, orang yang patah hati berisiko tinggi terkena serangan jantung.
Trauma semacam itu ternyata dapat memicu pelepasan hormon stres dalam aliran darah yang secara temporer ‘menyetrum’ jantung. Hal ini dtandai dengan gejala sakit dada dan sesak napas, tetapi bisa sembuh dengan sendirinya selama beberapa hari.
• VIVAnews
Awas, Susu Balita Bisa Picu Obesitas
VIVAnews - Sebuah produk susu fomula untuk balita berusia satu hingga tiga tahun ditarik dari pasaran Amerika Serikat karena dituding menyebabkan kegemukan pada anak. Susu formula tersebut ditengarai memiliki kandungan gula yang melampaui kebutuhan anak, seperti halnya permen.
Sebuah produsen susu formula anak untuk usia 12-36 bulan, mengklaim susu formula buatannya berisi lebih dari 25 zat tambahan untuk mendukung pertumbuhan otak dan tubuh anak. Namun, kandungan gula yang terlalu tinggi pada produk, dinilai menyebabkan obesitas pada bayi.
Juru bicara produsen susu yang populer ini, Chris Perille, menganjurkan agar menghentikan konsumsi susu formula cokelat karena sifatnya yang mempengaruhi emosional. “Pengaruhnya menyerupai permen dan hal yang tidak bermanfaat lainnya,” ujarnya seperti dikutip dari laman ABCnews.
Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Rabu waktu setempat, produsen susu mengakui telah terjadi kesalahpahaman yang melibatkan konsumen mengenai produk tersebut.
Meski menarik produk susu cokelatnya dari pasaran, produsen ini masih akan melanjutkan menjual susu formula rasa vanila dengan kandungan gula 16-17 gram dan tiga jenis susu formula balita dan anak lainnya dengan kandungan gula 10-11 gram.
Pakar Nutrisi dan penulis ‘What to Eat’ Marion Nestle mengatakan produsen menambahkan bahan tertentu seperti lutein, lycopene dan beta karoten pada formula hanya meningkatkan harga susu. Hal ini tidak mempengaruhi kesehatan bayi dan balita.
“Harga susu menjadi mahal, tetapi tidak bermanfaat,” katanya. Untuk itu, ia menyarankan agar anak makan menu yang bervariasi. “Tidak ada satupun makanan yang mampu memberi segalanya. Mereka harus makan berbagai jenis makanan untuk mendapat manfaat kesehatan.”
Sebuah studi terbaru Institut Kedokteran menyebutkan epidemi obesitas dan diabetes tipe 2 meningkat di kalangan anak karena standar makanan yang berubah. (adi)
• VIVAnews
Pakaian Dalam Penyelamat Nyawa
VIVAnews - Sebuah teknologi terbaru berhasil menciptakan pakaian dalam pria yang tidak hanya nyaman dipakai tetapi juga dapat menyelamatkan nyawa sang pemakai. Pakaian dalam ini mampu mendeteksi kondisi kesehatan, mengurangi rasa sakit hingga memberi pengobatan secara langsung.
Pada celana dalam pria terbaru tersebut terdapat sebuah biosensor elektronik tercetak pada ukuran pinggang. Sensor elektroda akan menguji tekanan darah, denyut jantung dan tanda-tanda vital lainnya melalui kontak konstan dengan kulit.
Teknologi ini dikembangkan insinyur-nano Profesor Joseph Wang dari University of California San Diego. Menurutnya, perlakuan seperti melipat atau peregangan tidak akan mempengaruhi kinerja sensor. Dengan tekstil cerdas ini, pasien dapat dipantau meskipun berada di rumah. Metode yang diuraikan dalam The Royal Society of Journal Chemistry, awalnya diperuntukkan bagi militer AS.
Profesor Wang mengatakan, tentara dapat mengalami cedera dalam pertempuran. “Sensor ini minimal dapat mengidentifikasi jenis cedera yang terjadi,” katanya seperti dikutip dari Daily Mail. Setelah mendeteksi cedera, biosensor juga langsung melepaskan obat penghilang rasa sakit dan bahkan mengobati luka.
“Kami membayangkan nanti akan tercipta tren peralatan kesehatan pribadi untuk memantau pasien yang tinggal jauh dari pelayanan medis. Misalnya, spidol yang menilai kondisi jantung potensi stroke, diabetes dan perubahan terkait biomedis lainnya.”
• VIVAnews
KDRT Bisa Mengakibatkan Anak Obesitas
TEMPO Interaktif, Massachusetts – Anak dari seorang ibu yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga berisiko mengalami obesitas.
Penelitian di Massachusetts, Amerika Serikat, menemukan fakta baru bahwa semakin sering kekerasan terjadi dalam rumah tangga, maka semakin tinggi risiko anak yang belum sekolah, terutama anak perempuan, akan mengalami obesitas. Akibatnya, anak itu akan berisiko mengalami penyakit diabetes, jantung, kanker, dan penyakit lainnya di masa yang akan datang.
“Pengalaman buruk yang terjadi di masa awal hidup seseorang akan sangat berpengaruh terhadap kesehatannya dalam jangka panjang,” kata pemimpin penelitian Renee Boynton-Jarrett dari Sekolah Kedokteran Universitas Boston.
Telah banyak penelitian yang mempelajari hubungan antara pengalaman buruk di masa kanak-kanak serta masalah emosi dan masalah kesehatan yang berkepanjangan saat mereka dewasa. Namun, menurut peneliti, ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan hubungan antara ibu yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan anak yang mengalami obesitas.
Renee meneliti 1.595 anak yang lahir dalam periode 1998-2000 dan mewawancarai ibunya. Ketika anak mencapai usia lima tahun, hampir setengahnya (788 anak atau 49,4 persen) melihat kekerasan dalam keluarga dan 263 anak (16,5 persen) mengalami obesitas, yang berarti indeks massa tubuh (body mass index/BMI) lebih tinggi 95 persen dari anak seumuran lainnya.
Sebagai perbandingan, dalam populasi secara garis besar selama 2005-2006), sebanyak 11 persen anak berumur 2 hingga 5 tahun dinyatakan kelebihan berat badan, setingkat lebih rendah di bawah obesitas.
Jika dibandingkan dengan anak yang ibunya tidak disiksa, tim Renee menemukan fakta bahwa anak-anak yang ibunya disiksa oleh pasangannya memiliki kemungkinan 80 persen lebih besar mengalami obesitas saat mereka mencapai umur lima tahun. Hubungan antara kekerasan domestik dan obesitas lebih kuat terlihat pada anak perempuan dibanding anak laki-laki.
Penelitian juga telah menunjukkan bahwa berat badan anak dipengaruhi oleh banyak faktor seperti makanan, waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi, berat badan anak saat lahir, depresi yang dialami ibu, dan kebiasaan merokok sang ibu saat hamil. Penelitian ini juga memperhitungkan faktor-faktor tersebut dan menemukan bahwa ada hubungan antara obesitas dan kekerasan domestik dalam rumah tangga.
“Penemuan ini dapat diaplikasikan untuk populasi sosio-ekonomi,” kata Renee. Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, kekerasan domestik dalam rumah tangga adalah “masalah serius” di Amerika Serikat. Hampir lima juta wanita di Amerika merupakan korban kekerasan domestik setiap tahunnya. Diperkirakan setiap tahunnya ada 3 hingga 10 juta anak yang menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga ini.
REUTERS / FANNY FEBIANA
Aturan ‘Perang Mulut’ dengan Pasangan
VIVAnews - Tidak salah jika banyak orang berkata sebaiknya jangan menyimpan kemarahan saat tidur. Tetapi, jika yang terjadi Anda dan pasangan bertengkar hebat sebelum tidur apa boleh buat. Rasa marah tidak akan mungkin hilang dengan cepat dan Anda harus kembali tidur karena
esok harus bangun pagi dan pergi ke kantor.
Jika Anda menemui situasi demikian tidak perlu pusing lagi menghadapinya. Karena, menurut penelitian terbaru ternyata tidak terlalu masalah jika Anda tidur meskipun sedang dalam keadaan marah. Fakta lainnya menyebutkan saat marah sebaiknya salurkan emosi Anda dengan hal
positif.
Selain itu, sebaiknya keluarkan saja emosi saat rasa marah datang. Apalagi ketika Anda sibuk membereskan rumah sementara pasangan hanya duduk manis di depan televisi. Pasti akan sangat menjengkelkan. Jika sudah begini sebaiknya jangan pendam emosi Anda pada pasangan. Katakan
saja padanya, Anda akan sangat menghargainya jika ia ikut turun tangan menyelesaikan pekerjaan rumah. Dan, katakan juga Anda tidak suka melihatnya hanya duduk diam sementara Anda sibuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Jangan hanya memendam emosi dalam hati, karena selain tidak baik untuk kesehatan mental ternyata juga bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik. Dan, faktanya menurut para ahli kesehatan, jika memendam emosi dalam jangka wakta lama bisa memunculkan penyakit serius pada tubuh Anda. Jika Anda dan pasangan sedang bertengkar dan emosi mulai tersulut cobalah untuk ingat beberapa prinsip di bawah ini.
Masalah tidak bisa selasai dengan cepat
Beberapa pertengkaran terjadi karena isu yang cukup berat. Jika hal itu yang terjadi sebaiknya jangan mencari jalan keluar ketika Anda dan pasangan dalam keadaan emosi. Hal itu hanya kan membuat pertengkaran makin hebat dan masalah tidak akan terpecahkan. Tunggu sampai emosi Anda dan pasangan mereda, baru buatlah keputusan. Keputusan yang benar-benar Anda dan pasangan sudah pertimbangkan dengan matang.
Fokus
Saat bertengkar, fokuslah pada masalah yang memicunya, jangan melebar ke masalah lain yang tidak berhubungan. Seringkali saat bertengkar Anda atau pasangan mengungkit masalah lama yang sudah selesai. Hal itu hanya akan membuat pertengkaran makin sengit dan akan sulit menemukan jalan keluar.
Akui kesalahan
Pertengkaran seringkali dipicu karena Anda atau pasangan tidak mengakui kesalahan. Cobalah untuk berjiwa besar dengan mengakui kesalahan jika Anda memang melakukannya. Jangan mencoba melindungi diri dengan melakukan kebohongan karena bisa menjadi bumerang bagi hubungan.
Tidak bertengkar di depan anak-anak
Bertengkarlah di dalam kamar dan jangan sampai anak-anak tahu. Bayangkan jika mereka melihat atau mendengar orangtua mereka saling berteriak satu sama lain. Hal itu pasti akan berpengaruh negatif pada perkembangan psikologis mereka. Jika Anda menganggap masalah yang ada sangat penting untuk dibahas segera dan bisa memicu pertengkaran, segera ajak pasangan ke dalam kamar atau ruangan lain untuk membicarakannya.
Dibawa tidur
Saat emosi Anda dan pasangan tidak bisa menganalisa masalah dengan baik. Salah satu cara untuk meredakan emosi adalah dengan beristirahat. Untuk itu, tidak masalah jika Anda tidur, saat sedang emosi. Ketika bangun, emosi mulai mereda dan Anda bisa menyelesaikan masalah dengan pasangan dengan pikiran yang jernih.
• VIVAnews
Pendukung Amerika Terbanyak Selama Piala Dunia
TEMPO Interaktif, Johannesburg - Suporter Amerika Serikat diperkirakan sebagai suporter terbanyak yang bakal datang ke Afrika Selatan, tuan rumah Piala Dunia 2010. Kedatangan warga Amerika Serikat diperkirakan naik 440 persen menuju Afrika Selatan. Antusiasme warga Abang Sam ini merupakan fenomena menarik karena bola sepak bola bukan olahraga paling populer di sana.
Data ini disampaikan oleh situs penerbangan Skyscanner yang memperoleh data penerbangan menuju Afrika Selatan. Dari 10 negara yang warganya banyak berdatangan ke Afrika Selatan, 7 negara dari Benua Eropa, 2 negara dari Benua Amerika, dan 1 negara dari Australia.
Di belakang Amerika Serikat, warga Spanyol paling banyak datang ke Afrika Selatan dibanding 6 negara Eropa lainnya. Skyscanner memperkirakan kenaikan penumpang dari Spanyol sebesar 409%. Suporter Brasil yang menempati posisi ketiga, jumlah penumpang dari negeri Samba itu mengalami kenaikan 399%.
Berikut daftar lonjakan penumpang terbesar ke Afrika Selatan.
Amerika Serikat : 440%
Spanyol : 409%
Brasil : 399%
France : 331%
Australia : 308%
Portugal : 272%
Jerman : 250%
Belanda : 226%
Inggris : 206%
Italia : 134%
Lonjakan penumpang pesawat ke Afrika Selatan menempatkan Kota Johannesburg Afrika Selatan sebagai 50 besar tujuan penerbangan versi Skyscanner pada Mei lalu. Kota itu bertengger pada nomor 50 dan termasuk pendatang baru dalam catatan Skyscanner.
TRAVEL DAILY NEWS| AKBAR TRI KURNIAWAN






