Alkohol Membahayakan Sperma Anak
TEMPO Interaktif, Roma – Ibu yang minum alkohol selama hamil dapat merusak kesuburan anak lelakinya di kemudian hari, kata sebuah studi oleh ilmuwan Denmark, sebagaimana dikutip Sexual Health News 29 Juni 2010.
Para peneliti menemukan bahwa jika saat hamil si ibu minum minuman beralkohol sebanyak 4,5 atau lebih per minggu, konsentrasi sperma anak-anak mereka – sekitar 20 tahun kemudian – sepertiga lebih rendah ketimbang laki-laki yang tidak terkena alkohol semasa dalam kandungan.
Takaran minum diukur sebagai 12 gram alkohol, setara dengan 330 ml satu kaleng bir, satu gelas kecil anggur (120 ml).
Penelitian oleh ilmuwan di Universitas Aarhus di Denmark ini telah disampaikan pada konferensi Masyarakat Eropa Reproduksi Manusia dan Embriologi di Roma.
“Studi kami menunjukkan bahwa ada hubungan antara minum alkohol dalam jumlah sedang selama kehamilan dan konsentrasi sperma lebih rendah pada anak,” kata Cecilia, yang memimpin penelitian ini.
Tapi ia mencatat bahwa karena penelitiannya bersifat observasional, para ilmuwan tidak dapat mengatakan dengan pasti apakah konsumsi alkohol adalah penyebab rendahnya konsentrasi sperma.
“Ada kemungkinan bahwa minum alkohol selama hamil memiliki efek berbahaya pada jaringan janin yang memproduksi air mani dalam testis – dan dengan demikian berdampak pada kualitas sperma di kemudian hari,” ujar Cecilia dalam laporannya. Menurut Cecilia, mengingat penelitian tentang kaitan alkohol dan sperma ini yang pertama kali, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan hubungan sebab akibat dan batas aman minum yang disarankan.
Namun, jika temuan ini direplikasi oleh studi lain di kemudian hari, dapat membantu menjelaskan mengapa kualitas air mani telah menurun dalam beberapa dekade terakhir, dan mengapa di beberapa negara lebih baik dari negara yang lain.
Tim peneliti Denmark mempelajari 347 anak yang lahir dari 11.980 perempuan, yang ambil bagian dalam studi antara 1984 dan 1987. Sekitar 36 minggu usia kehamilan, para ibu itu menjawab pertanyaan tentang gaya hidup dan kesehatan. Setelah anak-anak mereka berusia 18 dan 21 tahun, antara 2005 dan 2006, anak-anak tersebut diambil sampel sperma dan darahnya untuk dianalisis.
Data menunjukkan bahwa anak-anak dari ibu yang minum 4,5 atau lebih minuman beralkohol seminggu memiliki konsentrasi sperma rata-rata 25 juta per mililiter, sementara anak yang paling sedikit terkena alkohol memiliki konsentrasi sperma 40 juta per mililiter.
Sexual Health News/Ngarto Februana
Terlalu Banyak Nonton Televisi Meningkatkan Risiko Kematian
TEMPO Interaktif, Cambridge – Selama hampir satu dasawarsa, peneliti dari Bagian Epidemiologi Medical Research Council (MRC), Inggris, mempelajari 13.197 pria dan wanita setengah baya sehat. Mereka menemukan bahwa menonton televisi satu jam sehari meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung. Bahkan setelah disesuaikan dengan faktor risiko lain seperti kurang olahraga, merokok, obesitas, dan pola makan yang buruk.
Peserta studi dengan riwayat penyakit terkait seperti stroke dan serangan jantung dikeluarkan dari sampel riset ini. Para peneliti mengukur waktu menonton televisi dari kuesioner yang diisi oleh peserta.
Riset ini menyebutkan 373 dari 13.197 peserta (1 dari 35) meninggal karena penyakit jantung. Dengan memperhitungkan semua variabel, jumlah waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi adalah penanda signifikan kemungkinan mereka mati akibat penyakit jantung.
Berkaitan dengan tayangan Piala Dunia di televisi, yang menguasai ruang keluarga, penulis studi ini, Dr Katrien Wijndaele dari MRC, memperingatkan: “Tubuh kita tidak dirancang untuk duduk dalam waktu yang lama dan kita harus menyadari bahwa, seperti yang kita lakukan saat berjam-jam menonton Piala Dunia di TV, risiko penyakit jantung mungkin meningkat. Hal ini mungkin tampak jelas bahwa menonton TV terkait dengan penyakit jantung.
“Kita membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah kegiatan duduk lainnya, seperti duduk di belakang komputer atau di mobil, membuahkan hasil yang sama,” kata Katrien.
Dr Ulf Ekelund, rekan Katrien dari Medical Research Council, memberikan ilustrasi hitungan sebagai berikut. Jika seseorang memiliki risiko normal mati akibat penyakit jantung sebesar 10 persen (dengan mempertimbangkan variabel lain seperti gaya hidup, jenis kelamin, dan usia), lalu menonton TV satu jam per hari, maka risiko ini meningkat menjadi 10,7 persen. Memang kecil tapi signifikan. Kalau menonton televisi empat jam per hari, risiko ini akan meningkat menjadi 13 persen.
Menurut peneliti, risiko itu bisa dikurangi dengan cara melakukan aktivitas fisik, seperti olahraga, sedikitnya 30 menit per hari.
Temuan ini diterbitkan International Journal of Epidemiology 24 Juni 2010
Medical News Today/Ngarto Februana
Rakyat Inggris Pilih Bolos Kerja Demi Piala Dunia
TEMPO Interaktif, London - Demam Piala Dunia bak penyakit menular bagi perusahaan-perusahaan di Inggris. Apalagi tim nasional Inggris ikut berlaga di turnamen empat tahun sekali itu. Manajemen perusahaan menemui banyak bangku kosong karena ditinggal karyawan menonton sepak bola. “Ini adalah penyakit empat tahun sekali, menyebar seperti api di sekitar tempat kerja,” kata Managing director Wiltshire yang berbasis sumber daya manusia pada J Mann Associates, Jacqui Mann. Keadaan ini jika tidak diantisipasi akan berdampak pada kelangsungan perusahaan.
Sebuah survei kepada 400 orang penggemar bola menyebutkan 32 persen memilih bolos bekerja pada saat musim panen tahun ini. Angka tersebut meningkat menjadi 68 persen menjelang piala dunia. Angka ini diprediksi akan terus meningkat jika timnas Inggris mampu menembus final piala dunia.
Mann mengatakan para bos harus melakukan pendekatan proaktif terhadap karyawan yang berpotensi membolos karena sepak bola. “Perusahaan perlu berpikir tentang hal ini, jika tidak mereka (bos) akan kerap mendapatkan anak buahnya tidak hadir,” katanya. Meski sebagian besar pertandingan timnas Inggris tidak berlangsung pada jam normal (09.00-17.00), tapi hal itu tetap menjadi kendala karena banyak juga orang Inggris yang bekerja bukan pada jam normal.
Di kantor pusat Grup Phoenix di Birmingham, perusahaan yang mengelola dana pensiun, manajemen menyiapkan tenda besar untuk nonton bereng piala dunia. Tenda itu disiapan untuk menyaksikan pertandingan Inggris melawan Slovenia pada 23 Juni mendatang pukul 3 sore waktu setempat. Manajemen memilih pertandingan itu karena memprediksi bakal menentukan nasib timnas Inggris apakah lolos atau tidak dari penyisihan group. “Lebih dari 250 karyawan akan menonton bersama,” ujar Chief Executive Phoenix,” Mike Merrick.
Program ini merupakan respon Merrick kepada karyawan yang sebagian besar penggila bola. Jika antusiasme mereka kepada sepak bola terhalang, lanjut Merrick, akan berpengaruh pada jalannya perusahaan. “Di Phoenix, olahraga dan kegiatan sosial memainkan peran penting dalam etos perusahaan,” katanya.
Lebih gila lagi yang diterapkan Supermarket Asda. Manajemen memberikan izin kepada karyawan yang ingin menyaksikan pertandingan langsung ke Afrika Selatan. “Karyawan diizinkan ke Afrika Selatan untuk pertandingan pilihan atau mengambil cuti tanpa dibayar,” ujar salah satu manajemen. Bagi karyawan yang tidak pergi ke Afrika, manajemen membuat jadwal kerja yang mempertimbangkan pertandingan sepak bola.
Tapi jajak pendapat lebih dari 1.000 perusahaan yang dilakukan oleh Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD) mengungkapkan 9 dari 10 perusahaan tidak mengelola waktu kerja karyawan selama piala dunia. Penasihat Cipd, John McGurk, mengatakan pihaknya telah mengeluarkan saran bagi pengusaha tentang bagaimana mempertahankan lingkungan kerja yang harmonis selama piala dunia.
Saran itu berupa tawaran kerja bergilir atau jam kerja yang fleksibel. McGurk juga menyarankan agar karyawan mengambil cuti tahunan ketimbang harus bolos. “Perusahaan dan karyawan harus berkomunikasi dengan baik, dan panduan (tentang masuk kerja) harus jelas,” katanya. BBC| AKBAR TRI KURNIAWAN
Ditemukan Obat Baru untuk Kanker Payudara
TEMPO Interaktif, Chicago – Eribulin, obat baru untuk pengobatan kanker payudara, ditemukan oleh peneliti dari Universitas Leads, Inggris. Menurut peneliti, obat baru ini berasal dari bunga karang laut, yang bisa menghentikan sel terbelah, yang dapat memperpanjang usia perempuan yang menderita kanker payudara lanjut.
Temuan ini disampaikan pada pertemuan American Society of Clinical Oncology di Chicago, Amerika Serikat, Ahad lalu.
Para peneliti mengatakan pasien-pasien yang sudah diobati dengan kemoterapi, dan kemudian menerima obat Eribulin ini, usianya sekitar dua setengah bulan lebih lama daripada pasien yang hanya melakukan kemoterapi saja. Peneliti juga mengatakan ini adalah perawatan standar pertama bagi pasien kanker payudara yang telah menjalankan semua perawatan biasa, seperti radiasi. Mereka mengatakan hasil penelitian ini cukup menjanjikan.
“Sampai sekarang, belum ada pengobatan standar untuk wanita penderita kanker payudara lanjut,” kata Christopher Christopher Twelves, penulis dan kepala penelitian kanker klinis di Institut Kedokteran Molekuler Leeds, Inggris, dalam sebuah pernyataan. “Bagi mereka yang sudah mendapatkan semua terapi yang telah diakui, ini adalah hasil yang menjanjikan.”
Eisai Co, produsen obat, akan meneliti apakah obatnya dapat membantu pasien kanker prostat dan kanker paru-paru.
Pihak produsen telah mengajukan izin kepada Badan Obat dan Makanan Amerika (FDA), yang akan memutuskan apakah akan menyetujui Eribulin sampai 30 September mendatang.
VOANEWS/Bloomberg/Ngarto Februana
Pria Pengidap Disfungsi Ereksi Berisiko Terkena Pengapuran Arteri Koroner
TEMPO Interaktif, San Francisco – Pria pengidap disfungsi ereksi memiliki risiko yang signifikan terhadap peningkatan skor pengapuran arteri koroner yang tinggi (CACS), yang menjadi pertanda terjadinya penyakit jantung kardiovaskuler di masa depan. Demikian menurut peneliti di Sekolah Kedokteran Mount Sinai, New York, yang dipresentasikan baru-baru ini di pertemuan Asosiasi Urologi Amerika (AUA) di San Francisco, Amerika Serikat.
Penelitian ini mengevaluasi 1.119 orang yang terdaftar di Program Penyembuhan dan Pemantauan Medis World Trade Center, yang mana 327 orang mengalami disfungsi ereksi. Usia rata-rata peserta penelitian ini adalah 50 tahun. Semua pasien dievaluasi dengan CT scan jantung untuk menentukan skor pengapuran arteri koroner. Peneliti mengetahui bahwa setelah disesuaikan dengan komorbiditas (gangguan lain yang ikut serta dan muncul secara bersamaan), pria dengan disfungsi ereksi mempunyai kemungkinan 54 persen lebih besar terkena pangapuran arteri koroner dibandingkan laki-laki tanpa disfungsi ereksi.
“Data kami lebih lanjut memperkuat konsep bahwa disfungsi ereksi merupakan indikator terjadinya penyakit jantung sekarang dan mendatang,” kata Natan Bar-Chama, MD, profesor urologi di Sekolah Kedokteran Mount Sinai. “Data ini menunjukkan kaitan yang tak terbantahkan antara disfungsi ereksi dan aterosklerosis.”
ScienceDaily/Ngarto Februana
Olahraga Obat yang Ampuh untuk Mencegah dan Mengurangi Perasaan Marah
TEMPO Interaktif, Baltimore – Banyak penelitian telah menguji efek positif dari olahraga yang dapat memperbaiki suasana hati. Namun, baru sedikit penelitian yang menyelidiki efek olahraga terhadap perasaan marah. Penelitian terakhir yang dikemukakan dalam Pertemuan Tahunan American College of Sports Medicine ke-57 di Baltimore, Amerika Serikat, telah menemukan bahwa olahraga mungkin dapat memberikan efek yang menguntungkan terhadap rasa marah.
Tim peneliti itu menguji emosi dan rasa marah dari 16 orang di perguruan tinggi yang ada dalam keadaan “memiliki pembawaan pemarah” yang tinggi. Orang yang diteliti itu memperlihatkan pengaruh kemarahan sebelum dan sesudah olahraga sepeda selama 30 menit, yang dapat meningkatkan kadar oksigen maksimal menjadi 65 persen. Peneliti mengukur aktivitas gerakan otak, kemungkinan positif yang berhubungan dengan kejadian, dan catatan sendiri tentang kemarahan selama gambar diambil.
“Penemuan terbaru dari studi ini adalah bahwa olahraga dapat melawan rasa marah, hampir sama seperti fungsi aspirin untuk mencegah serangan jantung,” kata psikolog stres, Nathaniel Thom, yang memimpin penelitian ini. “Dengan kata lain, olahraga benar-benar merupakan obat. Namun, olahraga tidak mengubah respons EEG dalam munculnya emosi marah dalam penelitian kami.”
Dengan penelitian awal ini, Thom dan anggota timnya menyarankan adanya penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki mekanisme yang mendasari efek olahraga dalam mengurangi rasa marah dan mempertimbangkan adanya metode induksi rasa marah alternatif.
Peneliti ini juga mengusulkan adanya pengujian efek dari olahraga untuk jangka panjang terhadap rasa marah. Olahraga yang telah menjadi gaya hidup mungkin akan dapat memberikan hasil yang berbeda.
American College of Sports Medicine/Medical News Today/Fanny Febiana
Minum Teh Bisa Mengurangi Risiko Kanker Indung Telur
TEMPO Interaktif, Queensland - Para peneliti dari Institut Riset Medis Queensland (QIMR) telah menemukan bahwa minum teh dapat menurunkan risiko terkena kanker ovarium (indung telur).
Peneliti utama, Dr Christina Nagle, dari Bagian Kanker Ginekologi QIMR, mengatakan, “Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa minum teh hitam, teh hijau, atau teh herbal lebih dari empat cangkir sehari, dapat mengurangi risiko kanker ovarium hampir 30%.”
Dr Nagle mengatakan bahwa meskipun penelitian sebelumnya pada hewan menunjukkan teh dapat menghambat pertumbuhan sel kanker ovarium, hasil penelitian terhadap manusia tidak konsisten. “Namun, temuan kami mendukung gagasan bahwa antioksidan dalam teh mungkin bermanfaat melawan kanker pada manusia.”
Studi ini meneliti sekitar 2.700 perempuan Australia (separuhnya mengidap kanker ovarium, dan setengah tidak). Setiap wanita ditanya tentang makanan dan gaya hidup, termasuk kebiasaan minum teh.
“Teh hijau dianggap jenis teh yang paling menyehatkan. Meskipun hasil penelitian kami tidak menunjukkan efek yang lebih kuat dari minum teh hijau, gabungan dari semua bukti di seluruh dunia menunjukkan bahwa minum satu cangkir atau lebih teh hijau per hari dapat mengurangi risiko terjangkit kanker ovarium sebesar 40%. Namun ini perlu dikonfirmasi melalui penelitian lebih lanjut. “
Hampir 1.200 wanita Australia yang didiagnosis dengan kanker indung telur setiap tahun.
Medical News Today/Ngarto Februana
Cegah Alzheimer dengan Bir
VIVAnews - Para peneliti mengklaim bahwa mengasup minuman beralkohol dalam porsi wajar dapat menjauhkan penyakit Alzheimer, terutama pada wanita nonperokok.
Seperti dikutip dari laman Telegraph, Dr Ana Garcia dari Universitas Valencia, mengatakan, “Hasil penelitian menunjukkan efek perlindungan dari konsumsi alkohol pada nonperokok untuk mencegah Alzheimer.”
Tim peneliti asal Spanyol membandingkan kesehatan pribadi dan latar belakang 176 pasien Alzheimer dengan 246 orang sehat pada usia yang sama. Penelitian menunjukkan, alkohol dan rokok mempengaruhi kinerja saraf otak.
Meski demikian, paparan rokok tidak menunjukkan pengaruh langsung yang dapat meningkatkan risiko Alzheimer. Sedangkan konsumsi alkohol dalam porsi wajar berpengaruh signifikan untuk meningkatkan kerja otak.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Alzheimer’s Disease itu menjelaskan, hanya sedikit faktor lingkungan yang memengaruhi terjadinya penyakit ini.
Rebecca Wood, Chief Executive dari Alzheimer’s Research Trust, mengungkap, meski ada peluang bahwa mengonsumsi alkohol mampu melindungi dari penyakit pikun atau demensia dan Alzheimer, perlu penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Menurutnya, gaya hidup sehat yang paling memengaruhi risiko Alzheimer.
“Yang paling terbukti mengurangi risiko demensia adalah dengan makan makanan sehat, berolahraga, menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol terutama pada usia setengah baya.” Lebih dari 800ribu orang di Inggris mengidap Alzheimer dan demensia. (jn)
Baca juga:
Minum Bir Perkuat Tulang & Minum Wine Bikin Langsing
• VIVAnews







