ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


Kebutuhan Nutrisi pada Bayi

Seperti yang kita tahu, perkembangan bayi merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Jika seorang bayi memiliki asupan gizi yang cukup, maka tumbuh kembang bayi pun akan terlihat sempurna. Perkembangan berat badan bayi juga merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan. Jika pada usia tertentu, bayi belum memenuhi berat badan yang sudah ditentukan oleh ahli kesehatan, anda harus memberikan asupan gizi yang lebih. kebutuhan nutrisi pada bayi usia 0-6 bulan, asupan gizi bayi hanya di dapatkan dari ASI atau air susu ibu. Selain itu, ada asupan gizi tambahan selain ASI, seperti susu formula. Susu formula ini merupakan asupan gizi tambahan jika anda sebagai wanita karir tidak bisa memberikan asupan ASI selama 24 jam.

Jika seorang bayi sudah memasuki usia 6 bulan, bayi boleh mendapatkan asupan gizi tambahan. Pada usia ini, bayi bisa diberi makanan tambahan yakni berupa bubur. Bubur yang diberikan kepada bayi usia 6 bulan merupakan bubur bayi tahap awal. Jadi, bubur bayi yang dikonsumsi oleh bayi usia 6 bulan merupakan bubur bayi yang sangat halus. Tidak jarang para bayi masih merasa kesusahan untuk mencerna bubur bayi tahap pertama ini. Jadi, untuk membuat bayi ini terbiasa megonsumsi bubur bayi, maka biasanya, ibu membuat bubur seperti susu. Jadi, tekstur pertama yang dirasakan bayi tidak akan begitu berbeda dengan susu.

Kemudian, jika seorang bayi sudah berhasil untuk mengonsumsi bubur cair, maka anda bisa mulai memberikan asupan gizi lebih banyak dengan membuat buburnya lebih padat. Jika seorang bayi sudah memasuki usia 8 bulan, maka bayi anda bisa diberikan nutrisi yang lebih banyak dengan memberikan makanan bubur halus buatan sendiri. Bubur halus buatan sendiri bisa dibuat dari nasi, sayur, dan juga daging yang dihaluskan dan diambil sarinya. Kemudian, anda juga harus tahu, bahwa makanan ini lebih sehat dan lebih mengandung banyak gizi daripada bubur tim instan yang anda beli di pasaran. Sekalipun bubur ini memiliki banyak rasa, belum tentu gizi yang diberikana akan sama dengan bubur buatan sendiri.

Kemudian, jika bayi anda sudah berumur lebih dari satu tahun, ana harus tahu bahwa anda harus memberikan berbagai rasa makanan. Hal ini dilakukan agar bayi anda tidak mengalami alergi. Kemudian, anda harus tahu bahwa pembrian sari buah dan juga iskuit juga bisa menjadi asupan gizi tambahan untuk bayi anda. Selamat mencoba untuk memberikan makanan yang trbaik bagi putra putri anda tentunya yang alami dan tidak memiliki banyak pengawet. Karena seperti yang kita tahu, pengawet akan memberikan dampak yang tidak baik bagi kesehatan jangka panjang bayi anda.

8 Penyebab Si Kecil Mulai Sulit Makan

Senangnya hati setiap orang tua kala melihat bayinya yang masih berusia 6-7 bulan menyantap bubur susu maupun bubur saringnya dengan lahap. Begitu juga saat si kecil sudah mulai diperkenalkan dengan nasi tim yang diblender. “Pintar anak Bunda. Makannya hebat, jagoan deh,” begitu puji si ibu setiap kali bayinya yang berusia 9-10 bulan menyantap bersih isi mangkuk berupa tim lengkap dengan lauk ayam, kacang hijau, wortel dan bayam atau kangkung.

Namun begitu menginjak usia 11-12 bulan dan seterusnya hingga usia 3 tahunan, kebahagiaan semacam itu ada yang tinggal kenangan. Si kecil yang tadinya lahap makan kini mendadak susah makan. “Wah, jangan tanya deh gimana  susahnya nyuapin  anak seumur ini. Bisa masuk lima suap saja, sudah hebat!” Nada bicara semacam ini bukan dicari-cari lo, melainkan “ungkapan tulus” mayoritas orang tua. Sesabar apa pun orang tua atau pengasuh menyuapinya, acara makan seakan menjadi ajang “pertengkaran”. Ada saja ulahnya. Dari yang selalu menolak makan dengan menutup rapat mulutnya, sampai menyembur-nyemburkan atau melepeh kembali makanan yang sudah berhasil masuk ke mulutnya.

Hal ini tentu saja membuat orang tua waswas. Terlebih sebagai akibatnya berat badan si kecil susah sekali naik. Padahal di usia ini anak justru perlu mendapat asupan gizi lebih banyak dibanding saat bayi. Pasalnya, daya jelajah anak semakin luas mengingat dia sudah bisa berjalan. Otaknya pun “lapar” untuk mendapatkan berbagai masukan mengenai hal-hal baru melalui berbagai stimulasi.

Akan tetapi, papar dr. Nuraini Irma Susanti Sp.A ., keadaan seperti ini seakan diputarbalikkan oleh aneka mitos yang banyak diyakini masyarakat. Seperti, “Kalau anak mau jalan, biasanya memang susah makan. Wajar aja  kalau badannya jadi kurus.” Atau, “Enggak usah cemas, itu tandanya anak mau pintar.”

ALASAN MENOLAK MAKANAN

Biasanya, kata dokter yang berpraktek di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan ini, anak mulai mendapat makanan tambahan dan susu pendamping ASI di usia 6-7 bulan. Semakin bertambah usianya, seperti saat memasuki usia 9 bulan, maka porsi makannya harus lebih besar dibanding ASI. Biasanya, anak mendapat tiga jenis makanan dalam satu hari, yakni makanan padat, susu tambahan pendamping ASI, maupun ASI itu sendiri. Dalam menjalani kebiasaan baru ini, bisa saja anak mengalami hal-hal yang membuatnya enggan menyantap makanan. Inilah alasannya:

1. Tak pernah benar-benar lapar

Tak heran jika makanan yang terdiri atas tiga kali makanan utama dan dua kali makanan selingan membuatnya kenyang. Jadi ketika waktu makan yang berikutnya tiba, ia belum benar-benar lapar. Ditambah lagi rutinitas makan dan minum susu yang bisa membuat anak bosan. Hal seperti ini akan terbawa terus hingga masa batita awal. Namun orang tua sering lupa dan menganggap perilaku menolak atau melepehkan makanan sebagai masalah besar.

2. Mulai punya selera terhadap rasa

Yang juga kerap terlupakan, di usia batita ini rasa ingin tahu anak sudah semakin besar. Ia sudah punya selera tersendiri terhadap makanan. Itulah kenapa makanan anak usia ini tidak boleh disamakan dengan makanan bayi yang tawar. Tidak ada salahnya memberikan rasa-rasa tertentu yang dia sukai ke dalam makanannya, seperti garam dan gula. Apa citarasa yang disukai anak, tugas orang tualah untuk menemukannya.

3. Bosan tekstur yang halus dan campur aduk

Rasa bosan bisa juga muncul dari tekstur. Bukan mustahil anak bosan atau sudah merasa mual dengan makanan lunak dan campur aduk seperti makanannya semasa bayi. Dengan demikian orang tua mesti cerdik dalam menyiasati olahan dan penyajian makanan. Variasikan sedemikian rupa agar anak tetap suka makan, misalnya dengan memisah-misahkan lauknya dan memblender berasnya saja lebih dulu sebelum diolah.

4. Munculnya sikap negativistik

Sikap negativistik yang menjadi ciri usia batita antara lain ditandai dengan sikap penolakan terhadap rutinitas yang selama ini wajib dijalani anak. Namun, lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Padahal cara ini justru harus dihindari.

Asal tahu saja, semakin dipaksa anak usia ini justru akan makin ngotot  melakukan perlawanan sebagai wujud negativistiknya. Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai dewasa emoh makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.

5. Mulai cari perhatian

Cari perhatian biasanya ditunjukkan dengan mudahnya anak melahap makanannya saat disuapi pengasuh sementara selagi disuapi orang tuanya malah jual mahal.

6. Mulai eksplorasi ke mana-mana

Ketika sudah mahir berjalan, anak akan lebih mengutamakan kegiatan eksplorasi ketimbang acara makan. Lihat saja cara bermainnya yang disertai gerakan berjalan, memanjat, atau berlari seolah tidak pernah lelah. Tak heran jika acara makan dianggapnya sebagai kegiatan buang-buang waktu, apalagi kalau diminta duduk diam.

7. Sedang sakit

Tidak mau makan yang disebabkan alasan medis biasanya disertai ciri-ciri badan lemas, sering demam, bolak-balik diare, berat badannya tak bergerak naik atau malah mengalami penurunan, dan adanya perubahan tingkah laku. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan “cerewet”, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.

Kalau anak menunjukkan gejala seperti itu, tentu harus segera diperiksakan ke dokter. Sebab dilihat dari indikasinya, besar kemungkinan problema sulit makan ini disebabkan radang tenggorok, lambung terganggu, atau malah kena vlek paru-paru, bahkan TBC.

8. Kebanyakan diberi camilan manis dan gurih

Bisa juga anak tampak lemas tapi tidak memperlihatkan gejala sakit. Yang seperti ini, menurut Nuraini, boleh jadi akibat tidak tercukupinya asupan kalori dari makanan padat. Anak yang sulit makan seperti ini biasanya punya kebiasaan makan yang salah. Semisal, belum apa-apa anak sudah dijejali susu, permen, cokelat, atau snack  yang mengandung MSG. “Sekalipun mengenyangkan, makanan seperti ini jelas-jelas tidak bisa memenuhi angka kecukupan gizi si kecil. Karena sudah merasa kenyang, jangan salahkan bila ia cenderung menolak makanan padat.”

KIAT KREATIF MENGATASINYA 

Nuraini  mengakui bahwa mengatasi batita yang susah makan memang bukan masalah gampang. “Makanya saya selalu mengingatkan orang tua pasien untuk senantiasa bersabar dan kreatif.” Mencoba bersabar memang tidak mudah karena umumnya orang tua lebih gampang kesal dan putus asa menghadapi si kecil yang tidak lagi kooperatif. Beberapa tips berikut bisa dicoba untuk diterapkan di rumah:

* Sebelum memberi makan, cicipi dulu makanan tersebut. Kalau menurut kita tidak enak, ya jangan paksa anak menikmatinya.

* Kombinasikan rasa asin dan gurih dari lauk pauk secara pas dengan rasa asam dan manis dari buah-buahan. Ini semata-mata supaya makanan tersebut enak untuk dicecap, harum ketika dicium, dan menggugah selera.

* Variasikan hidangan setiap kali makan, baik dari pilihan bahan makanannya maupun penyajiannya.

* Begitu juga pilihan peralatan makan. Manfaatkan bentuk, gambar dan warna-warna menarik kesukaan anak. Sementara penyajiannya bisa diakali dengan tampilan yang lucu dan menarik seperti hiasan dari tomat, wortel, sayur atau irisan telur di atasnya.

* Soal lauk pauknya, berikan seperti apa yang dimakan anggota keluarga lainnya. Jangan membatasi dengan hanya memberinya olahan hati ayam, wortel dan bayam. Kacang merah yang ditumbuk, sup kacang hijau atau kacang polong sah-sah saja dicampur dengan ikan, daging sapi atau ayam maupun telur. Yang harus diberikan secara terbatas dan hati-hati sebetulnya hanyalah jenis lauk pauk yang mengundang alergi seperti ikan laut, udang, dan telur.

* Bangun pula suasana makan yang menyenangkan. Bila perlu libatkan anak. Kalau anak suka makan sambil diiringi musik, why not? Kalau anak bisa lahap sambil main mobil-mobilan, ya tidak apa-apa. “Asalkan lambut laun seiring dengan bertambahnya usia, anak harus digiring untuk tahu bahwa di sini dan begini, lo, cara makan yang baik itu.”

* Yang juga sering terjadi, gara-gara tidak mau makan, orang tua lantas “menggenjot” anaknya dengan asupan susu lebih banyak. Padahal pola seperti ini justru hanya akan membunuh nafsu makannya. Bagaimana pun, makanan padat penting bagi anak. Terutama sebagai latihan dan pembelajaran mengunyah sampai menelan makanan tanpa tersedak. “Tidak mungkin sampai dewasa ia hanya mengandalkan susu sebagai makanannya.” Malahan, pemberian susu sebaiknya dikurangi secara bertahap.

* Hindari atau setidaknya kurangi pemberian makanan “alternatif” yang mengenyangkan seperti cokelat, dan sejenisnya. Kalau asupan karbohidratnya memang dianggap kurang, misalnya karena si anak tak suka nasi, berikanlah makanan alternatif yang kandungan zat gizinya setara. Bisa roti, makaroni, jagung, dan lain-lain.

* Berikan tambahan vitamin atau suplemen makanan yang dapat menutupi kekurangan zat gizi tertentu akibat ia sulit makan. Jangan lupa, konsultasikan dulu dengan dokter yang bisa menilai kebutuhan anak. Harus diingat bahwa vitamin/zat gizi yang terdapat dalam sumber nabati maupun hewani yang fresh  jauh lebih baik dari vitamin/zat gizi sejenis yang didapat dari suplemen.

PERKEMBANGAN OTAK DAN FISIK

Nuraini  menyangkal pendapat yang mengatakan perkembangan anak usia ini secara fisik memang sedang surut, sementara perkembangan otaknya meningkat pesat. “Yang benar, perkembangan otak dan fisik berjalan seiring. Untuk mendapatkan stimulasi, anak perlu eksplorasi dan agar bisa bereksplorasi ia memerlukan makanan berenerji yang bisa diandalkan untuk menghasilkan tenaga. Jadi, tipis kemungkinan anak bisa semakin pintar kalau fisiknya loyo.”

 

Mengukur Kebutuhan Suplemen

VIVAnews - Kebutuhan nutrisi bersumber pada menu makanan harian yang beragam. Diet seimbang merupakan cara ideal untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral dalam tubuh.

Namun, ada kalanya makanan harian tidak memuat kebutuhan nutrisi secara lengkap. Masalah juga bisa muncul dari sendiri ketika kita tak dapat mencerna makanan tertentu.

Permasalahan inilah yang kemudian memunculkan peran suplemen untuk menyempurnakan kebutuhan nutrisi dalam tubuh. Sebab, nutrisi penting untuk mempertahankan kinerja tubuh.

Namun, bukan berarti suplemen dibutuhkan semua orang. Berikut beberapa kondisi yang menunjukkan tingkat kebutuhan seseorang terhadap suplemen, seperti dikutip dari Eating Well.

1. Alergi terhadap jenis nutrisi tertentu seperti laktosa yang terdapat dalam susu yang kaya kalsium.

2. Tubuh memerlukan asupan gizi lebih tinggi misalnya kalsium pada remaja dan wanita post-menopause.

3. Aktif secara fisik atau memiliki pekerjaan yang menguras tenaga seperti atlet. Selain asupan makanan, beberapa vitamin dan mineral memengaruhi kinerja fisik.

Atlet membutuhkan asupan zat besi, kalsium, dan vitamin D lebih tinggi. Zat besi membantu membawa oksigen ke otot, kalsium diperlukan untuk pertumbuhan tulang dan kontraksi otot. Sedangkan vitamin D membantu menyerap kalsium, dan meningkatkan kinerja tubuh.

Setelah mengonsumsi suplemen, metabolisme tubuh meningkat dan akan meningkatkan radikal berbahaya. Sehingga, asupan suplemen makanan harus diimbangi dengan asupan buah-buahan dan sayuran yang banyak mengandung antioksidan penangkal radikal bebas.

Para dokter mengingatkan agar berhati-hati menggunakan suplemen yang meningkatkan kinerja. Sebab, suplemen makanan berfungsi sebagai makanan tambahan dan bukan obat. Dalam memilih suplemen, pertimbangkan dosis multivitamin dan mineral yang paling dibutuhkan tubuh. Dosis harian suplemen tidak boleh lebih dari 100 persen dosis harian yang dianjurkan. (umi)

• VIVAnews

23 queries