ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


Normalkah Anak Punya Teman Imajiner

VIVAnews - Apakah buah hati Anda sering berbicara sendiri atau seolah seperti memiliki teman khayalan saat sedang beraktivitas? Jangan terburu-buru berprasangka mistik atau menganggapnya memiliki indera keenam.

Berdasar tahapan tumbuh kembang anak, kondisi itu wajar dialami anak saat memasuki usia 3-4 tahun. Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika kondisi ini berlanjut hingga usia lebih dari itu. Ada kemungkinan anak Anda menderita autis.

“Ini bisa menjadi gejala awal autis,” kata Pemerhati dan juga Psikiater Anak, Dr Kresno Mulyadi dalam acara Journalist Class Pfizer, di Wisma GKBI, Jakarta, 30 Juni 2010.

Kresno menambahkan, meski masa-masa bergaul dengan teman imajiner termasuk normal hingga usia empat tahun, namun sebaiknya orangtua tak membiarkan si kecil menikmatinya. Cobalah mengajaknya melakukan aktivitas positif lainnya sehingga konsentrasinya pada teman imajiner beralih. Misalnya, segera ajak ngobrol saat anak sedang asyik dengan teman imajinernya.

Mengalihkan perhatiannya adalah cara yang pas untuk mencegah kondisi itu berlanjut. “Jangan biarkan anak terus menikmati kesendiriannya. Patut diwaspadai jika kondisi berlanjut dan segera lakukan konsultasi kepada psikiater untuk segera mendiagnosisnya,” katanya.

Menurutnya, rata-rata anak autis memiliki daya imajinasi yang tinggi, termasuk berbicara sendiri dengan teman imajiner. Melakukan terapi dini untuk mencegah autis dari gejala awal seperti ini adalah langkah yang tepat. Kresno pun meyakini dengan terapi sedini mungkin bisa menyembuhkannya dari gangguan seperti ini.

Autis bukan hanya penyakit yang terjadi akibat gen, namun bisa juga terjadi akibat makanan yang terkontaminasi. “Jadi perlu waspada jika gejala seperti cuek dan sibuk dengan dunianya sendiri, jangan dibiarkan berlangsung lama. Jangan sampai kebiasaan itu masih melekat di usianya yang semakin dewasa, karena penangannya akan semakin sulit,” katanya. (umi)

• VIVAnews


Banyak Jalan Menuju Langsing

VIVAnews - Senam dan olahraga di pusat kebugaran dapat membakar kalori dan melangsingkan tubuh. Demikian halnya dengan aktivitas yang meningkatkan metabolisme tubuh seperti bekerja dan melakukan hubungan seks dengan pasangan. Tetapi adakah cara lain menurunkan berat badan?

Tenang, masih banyak cara menuju langsing. Anda bisa melakukan lima hal mudah berikut untuk memiliki tubuh idaman.

1. Minum kopi
Minum kopi panas atau dingin mempercepat laju pembakaran kalori.

2. Sarapan rutin
Sarapan lebih sehat dibandingkan dengan makan malam. Selain makanan kaya serat, dianjurkan untuk makan sarapan hangat. Pasalnya, sarapan hangat membantu membakar lemak lebih banyak. Karena sinyal yang masuk ke otak menyatakan pada pagi hari tubuh tidak terlalu lapar sehingga tidak menyimpan kelebihan lemak.

3. Tertawa
Tertawa selama 10-15 menit tiap hari akan membakar sekitar 50 kalori. Jika Anda ingin merasa efek tertawa seperti olahraga, bersenang-senang dan tertawalah lebih banyak.

4. Marah
Seperti tertawa, marah memberi pengaruh sama halnya saat berada di pusat kebugaran atau jogging. Studi menunjukkan marah dapat meningkatkan metabolisme dan aktivitas fisik.

5. Berjalan kaki
Walaupun sangat sederhana, berjalan sangat membantu membentuk tubuh ideal. Bersejalan kaki beberap blok dari kantor tanpa hak tinggi cukup untuk membakar kalori berlebihan. Dan, jangan malas menggunakan tangga.

Baja juga: 15 Diet Terunik Sepanjang Sejarah & Diet Unik Selebriti Hollywood

• VIVAnews


Ciuman Ibu Lindungi Bayi dari Infeksi

VIVAnews - Ciuman ibu kepada bayi baru lahir memberi perlindungan terhadap infeksi telinga dan sakit tenggorokan selama hidup bayi.

Studi Universitas Otago Selandia Baru menemukan ciuman ibu mentransfer bakteri baik kepada bayi. Salah seorang peneliti, John Tagg mengatakan, studi menguji berapa banyak wanita memiliki bakteri baik streptokokus K12 salivarius. Bakteri ditemukan secara acak pada lima persen populasi.

“Ketika mencium bayi yang baru lahir, ibu memberi ciuman perlindungan kepada bayinya dengan mewariskan bakteri baik,” katanya seperti dikutip dari Times of India.

Ilmuwan menyarankan agar di bulan akhir masa kehamilan ibu mengonsumsi makanan dan permen probiotik untuk mencegah infeksi bakteri tenggorokan. (adi)

• VIVAnews


Mengapa Pria Kaya Cenderung Berperut Buncit

VIVAnews - Uang memang bukan segalanya. Tapi, kekayaan melimpah membuat seseorang lebih mudah mewujudkan keinginannya. Mulai dari kebutuhan primer hingga tersier.

Bagi mereka yang kaya, pemenuhan kebutuhan pangan seringkali bukan sekedar menghilangkan lapar, tapi juga meningkatkan gaya hidup. Tak jarang makanan mewah, yang identik dengan kalori tinggi, menjadi santapan harian.

Studi terbaru Departemen Sosiologi Universitas Montreal Kanada mengungkap bahwa pria kaya cenderung berperut buncit. Pria cenderung tak peduli menyantap makanan berkalori tinggi setiap hari. Sedangkan wanita masih memiliki kontrol untuk menyantap makanan berkalori tinggi. 

Studi yang dipimpin Nathalie Dumas itu menganalisa data dari Canadian Community Health Survey (CCHS) tahun 2004. Data ini berisi informasi milik 7.000 orang usia 25-65 tahun. Hasil analisa menyimpulkan bahwa status sosial ekonomi berpengaruh kuat terhadap ukuran tubuh.

“Sejak tahun 1980-an, terjadi peningkatan penderita obesitas yang cukup mencolok di kalangan pria kaya di Kanada dan Korea,” kata Dumas. “Orang Kanada sangat suka makan di restoran. Dan, mayoritas dari mereka tidak peduli dengan apa yang mereka makan, yang penting enak. Mereka tak sadar makan banyak kalori dan alkohol.” (umi)

• VIVAnews


Diet Sehat Terkait dengan Rendahnya Risiko Katarak pada Wanita  

TEMPO Interaktif, Madison – Wanita yang mengonsumsi makanan kaya vitamin dan mineral mungkin memiliki risiko lebih rendah terkena katarak, menurut laporan yang dimuat jurnal Archives of Ophthalmology seperti dikutip ScienceDaily 14 Juni 2010.

Katarak merupakan penyebab kebutaan yang paling penting di dunia. Di Amerika Serikat, katarak merupakan penyebab paling umum terjadinya gangguan penglihatan. Sejauh ini, sudah ada studi terbatas yang mengevaluasi faktor risiko gizi dan gaya hidup lainnya yang dikaitkan dengan kesehatan mata.

Julie A. Mares, Ph.D., dari Universitas Wisconsin, Madison, dan rekannya mempelajari 1.808 perempuan (usia 55-86). Mares mengatakan bahwa makanan yang memberikan kontribusi bagi diet dengan skor yang lebih tinggi adalah sayuran,, susu, biji buah-buahan, daging (atau kacang-kacangan, ikan, atau telur).

Menurut penelitian ini, katarak nuklir (terjadi di dalam nukleus atau pusat lensa dan biasanya terkait dengan penuaan alami) dalam sampel ini sebanyak 29 persen, (454 wanita) melaporkan menderita penyakit mata dengan menggunakan lensa di salah satu mata. Selain itu, 282 perempuan (16 persen) telah melaporkan menderita ekstraksi katarak di kedua mata. Secara keseluruhan, 736 perempuan (41 persen) menderita katarak nuklir baik terlihat dari foto lensa maupun dilaporkan memiliki katarak yang diekstraksi. Kata Mares, “Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa diet yang sehat lebih kuat berhubungan dengan rendahnya kejadian katarak nuklir.”

“Sebagai kesimpulan, penelitian ini menambah literatur yang menyarankan bahwa diet yang sehat berhubungan dengan risiko lebih rendah terjadinya katarak,” tulis penulis.

ScienceDaily/NF


Stres Bisa Bikin Usus Kejang

KOMPAS.com – Pernah mengalami rasa sakit pada perut, tapi bukan di lambung? Biasanya di sekitar wilayah usus. Entah mengapa, tak ada alasan, sering terasa keram atau kejang di wilayah tersebut, dan tubuh pun terasa letih dan lesu. Setelah pergi ke dokter, tak ada diagnosis yang jelas. Yang ada, diagnosisnya membuat Anda sempat merasa takut dan rasanya sih bukan seperti yang “divonis” oleh dokter tersebut. Jangan panik dulu, mungkin itu karena rasa panik dan…stres.

Gangguan usus ini sering terjadi pada hampir seperempat anggota masyarakat. Sebagian besar penderita berusia antara 20 hingga 40 tahun, dan 2 dari 3 penderita terdiri dari wanita.

Gangguan ini, menurut Anita Naik, dalam buku Lazy Girl’s Guide to Healthy Living menyebutkan, disebabkan oleh gangguan pada saluran usus. Dalam keadaan biasa, saluran usus mendorong ampas makanan dengan gerakan kontraksi secara bertahap menuju lubang pelepasan. Tetapi kalau kontraksi usus tidak teratur, akan timbul kejang yang menyakitkan, kembung, gas, sembelit, dan diare.

Dokter tak tahu sebab tepat yang mencetus rasa sakit ini. Meski diduga, stres adalah salah satu penyebabnya. Demikian pula jika usus lebih peka, yang menyebabkan otot perut kejang dengan sendirinya. Kita dapat menolong diri sendiri dengan cara:

- Belajar mengendalikan tingkat stres. Hubungan antara gangguan usus dan stres cukup jelas, oleh sebab itu tindakan ini harus dijadikan langkah pertama. PAra ahli berpendapat bahwa istirahat sendirian selama 20 menit setiap hari, berolahraga secara teratur (20 menit, tiga kali seminggu), dan belajar mengenali batas kemampuan diri sendiri dapat membantu menciptakan hidup yang lebih terbebas dari stres.

- Menyusun catatan makanan setiap hari. Tidak tahan terhadap makanan tertentu dapat juga mengakibatkan gangguan usus, seperti gandum dan produk susu yang paling sering menjadi penyebab gangguan ini. Sebabnya, karenat perut kita tak dapat memecah makanan yang tidak dapat diterimanya, yang menyebabkan kembung, kejang, dan terlalu banyak gas.

Seandainya kita menduga munculnya masalah seperti ini, cobalah berhenti makan makanan jenis ini selama 2 minggu, sambil memeriksa reaksi tubuh dan mulai memasukkan jenis makanan ini secara bertahap ke dalam susunan makanan sehari-hari.

Cara terbaik untuk melakukan hal ini adalah dengan membuat catatan harian berisi makanan kita, dan mencatat makanan apa saja yang nampaknya paling sering menyebabkan gangguan perut, dan kapan terjadinya. Dengan catatan ini, kita dapat berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter, yang akan membantu kita melakukan perubahan yang diperlukan.

- Minta resep dokter. Meskipun gangguan usus tidak dapat hilang dengan obat saja, dokter dapat memberikan resep untuk obat antikejang, yakni alevrine atau mebeverine, yang menenangkan usus dan meredakan kejang; kapsul pepermin dapat membantu mencegah kembung dan gas dalam perut; tablet antidiare untuk mengatasi buang air encer.

- Menyantap makanan dalam porsi lebih kecil dan lebih sering. Dengan cara ini kita dapat mencegah lambung menjadi terlalu penuh. Usahakan makan makanan yang rendah lemak dan rendah tepung, tetapi yang berkarbohidrat tinggi.

- Berolahraga secara teratur. Dengan meningkatkan jumlah latihan olahraga, kita dapat membantu usus bergerak lebih teratur dan mengatasi perut kembung.

NAD

Editor: NF


Efek Buruk Terlalu Banyak Tidur

VIVAnews – Anda pasti sudah mengetahui bahwa kurang tidur bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik dan psikologis. Ternyata, terlalu banyak tidur juga bisa menimbulkan dampak yang sama.

Penelitian menunjukkan tidur lebih dari 6 hingga 8 jam dapat menurunkan harapan hidup orang dewasa sebesar 17 persen. Lalu, menurut ahli medis asal India, Dr. Prakash Lulla tidur terlalu banyak bisa menyebabkan diabetes, hipertensi, migrain, dan meningkatnya risiko penyakit jantung.

“Jika seseorang tiba-tiba tidur terlalu lama, itu juga bisa menjadi tanda adalah masalah pada sistem tiroid, kelainan pusat saraf atau kelainan metabolisme,” Dr. Prakash Lulla, ahli medis asal India, seperti dikutip dari Idiva.

Hal yang menjadi masalah bukan tidur itu sendiri, tetapi penyebab terlalu banyak tidur. Menurut dr. Dube sebanyak 15 persen pasien depresi tidur terlalu lama. Trauma dan syok juga bisa membuat seseorang tidur lebih lama.  

“Salah satu efek yang paling sering terjadi dari terlalu banyak tidur adalah obesitas. Kelelahan dan rasa nyeri juga efek yang sering muncul,” kata psikolog, Dr. Sunita Dube, seperti dikutip dari Idiva.com.

Kurang olahraga juga bisa mengurangi kualitas tidur dan kompensasinya adalah seseorang tidur lebih lama dari seharusnya. Untuk mengatasinya cobalah lakukan olahraga sederhana, seperti berjalan atau berlari di pagi hari sebelum memulai aktivitas.

Pola makan Anda juga sangat berpengaruh. Sebaiknya hindari atau kurangi konsumsi makanan-makan cepat saji. Pilihlah makanan yang dibuat dari bahan segar dan alami. Dengan begitu kualitas tidur menjadi lebih baik dan tubuh akan terasa fit. (mt)

• VIVAnews


Burger Bisa Meningkatkan Risiko Asma pada Anak-Anak  

TEMPO Interaktif, Jakarta – Makan burger tiga atau lebih dalam seminggu dapat meningkatkan risiko anak terkena asma dan mengi (wheeze atau gejala asma berupa bunyi tinggi yang keluar dari hidung saat bernapas) — setidaknya di negara maju. Demikian kesimpulan sebuah studi internasional yang diterbitkan Thorax baru-baru ini. Sebaliknya, menurut penelitian ini, diet ala Mediterania (gaya makan orang Eropa bagian selatan), yang kaya buah, sayur, dan ikan tampaknya bisa mencegah risiko tersebut.

Tim peneliti mendasarkan temuan mereka pada data yang dikumpulkan antara 1995 dan 2005 meliputi 50.000 anak antara usia 8 dan 12 tahun dari 20 negara kaya dan miskin di seluruh dunia. Orangtua mereka ditanyai menu normal anak-anak mereka dan apakah anak-anak mereka pernah didiagnosis terkena asma dan/atau mengi.

Kurang dari 30 ribu anak diperiksa reaksi alerginya, untuk melihat apakah diet juga mempengaruhi peluang mereka terkena alergi. Diet tampaknya tidak berkaitan dengan kepekaan terhadap alergen umum. Tapi hal itu tampaknya mempengaruhi prevalensi asma dan mengi.

Asupan tinggi buah berkaitan dengan tingkat mengi yang rendah di kalangan anak-anak dari negara-negara kaya dan miskin.

Demikian pula, diet tinggi ikan melindungi anak-anak di negara-negara kaya, sementara diet makanan yang kaya sayuran hijau yang dimasak melindungi anak-anak terhadap mengi di negara-negara miskin.

Secara keseluruhan, diet ala Mediterania berkaitan dengan prevalensi asma dan mengi yang rendah. Sebaliknya, makan tiga atau lebih burger seminggu berkaitan dengan prevalensi asma dan mengi yang tinggi, khususnya di kalangan anak-anak yang tidak alergi di negara-negara kaya.

ScienceDaily/Mayoclinic/Ngarto Februana


Manfaat Minyak Zaitun untuk Menurunkan Berat Badan  

TEMPO Interaktif, Jakarta – Rhode Island – Para peneliti dari Rumah Sakit Miriam, Rhode Island, Amerika Serikat, menemukan bahwa minyak zaitun dapat bermanfaat untuk menurunkan berat badan yang lebih besar pada penderita kanker payudara dibandingkan dengan diet rendah lemak yang konvensional.

Temuan ini barangkali penting bagi wanita penderita kanker payudara, karena kelebihan berat badan pada saat diagnosis, atau bahkan kenaikan berat badan selama pengobatan kanker moderat, terkait dengan peningkatan risiko kekambuhan kanker, terutama pada wanita pasca-menopause.

Dalam studi ini, perempuan mengikuti dua diet 1.500 kalori: diet rendah lemak konvensional yang direkomendasikan oleh National Cancer Institute (NCI) dan diet nabati minyak zaitun yang mirip dengan diet Meditarian. Setelah delapan minggu pada setiap diet, peserta memilih satu diet untuk mengikuti pengaturan berat lanjutan selama enam bulan.

Menurut temuan ini, yang diterbitkan Journal of Women’s Health edisi Juni, 80 persen wanita yang memulai dengan diet minyak nabati zaitun mengalami penurunan lebih dari 5 persen dari berat awal, dibandingkan dengan 31 persen yang melakukan diet berdasarkan rekomendasi NCI. Namun para peneliti terkejut ketika menemukan bahwa setelah mencoba kedua diet, kebanyakan wanita memilih untuk tetap dengan diet konvensional, dengan pertimbangan selera, mudah diakses, dan terjangkau.

Mary Flynn, PhD, penulis utama penelitian ini dan ahli diet di Rumah Sakit Miriam, mengatakan banyak penderita kanker payudara tidak menyadari ada hubungan antara berat badan dan kambuhnya kanker.

“Itulah mengapa sangat penting bagi kami untuk membandingkan kedua diet dan menentukan yang mana perempuan tidak hanya mengikuti selera, tetapi juga yang menghasilkan penurunan berat badan terbaik,” kata Flynn. Dalam kasus ini, Flyn menyarankan diet makanan yang diperkaya dengan minyak zaitun ekstra, yang merupakan sumber lemak sehat, dan termasuk makanan yang terkait dengan peningkatan kesehatan seseorang, seperti sayuran, kacang-kacangan dan produk tanaman lainnya.”

Minyak zaitun ekstra telah dikaitkan dengan penurunan risiko kanker payudara di Yunani, Spanyol dan Italia, yang dikonsumsi dalam jumlah besar. Banyak penelitian juga menunjukkan sifat protektif terhadap kanker karotenoid, phytonutrisi yang ditemukan di dalam sayuran dan pigmen buah-buahan merah, kuning oranye.

Flynn mengembangkan diet minyak zaitun yang digunakan dalam penelitian ini, minimal tiga sendok makan minyak zaitun per hari, dengan kacang saat sarapan. Selain itu, saran Flynn, perempuan juga makan tiga porsi buah dan sayuran, serta biji-bijian.

Dalam studi ini, Flynn yang juga asisten profesor kedokteran di Sekolah Kedokteran The Warren Alpert Universitas Brown, menemukan bahwa wanita yang menikmati diet minyak zaitun tidak hanya berkurang berat badannya tapi juga mereka tidak lapar.

Seperti yang diharapkan peneliti, diet nabati minyak zaitun juga menghasilkan trigliserida lebih rendah (sejenis lemak yang ditemukan dalam darah) dan kolesterol tinggi high density lipoprotein (HDL, atau kolesterol “baik”). Trigliserida tinggi dan rendahnya tingkat HDL berkaitan dengan peningkatan risiko kanker.

Lifespan/Medical News Today/Ngarto Februana


Olah Fisik buat Si Upik  

TEMPO Interaktif, Stella berlari dengan lincah dan tak canggung. Walau tampil di panggung bersama orang dewasa dan ditonton massa, anak balita berumur empat tahun itu percaya diri. Bahkan dia dengan aksen cadelnya menyanyikan lagu Alfabet. Menurut ayahnya, Andreas Thamrin, anaknya menjadi pede setelah mengikuti kegiatan olah fisik.

Menurut dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Sri Sudaryati Nasar, SpA(K), anak balita harus diajak olahraga sejak dini. Pada umur 1-3 tahun, anak mengalami masa emas pertumbuhan (golden period).

Selama masa itu, anak mengalami perkembangan pada otak dan fisiknya. Dengan melakukan aktivitas fisik, sirkulasi darah semakin lancar ketimbang cuma berdiam diri. Dengan sirkulasi darah yang lancar, makanan akan terserap dengan sempurna dan golden periode akan semakin optimal. “Olah fisik lebih baik daripada aktivitas duduk,” kata Sri.

Dokter spesialis olahraga, dr Michael Triangto, SpKO, menyatakan, olahraga lebih baik dikenalkan sedini mungkin. “Supaya anak punya kemampuan dan ketahanan fisik yang baik,” kata dia. Perkenalan ini bisa dilakukan dengan latihan, seperti lari, lempar, dan lompat. Tiga latihan ini umumnya dikenalkan pada anak usia 1-3 tahun. “Tiga latihan ini digabungkan dalam permainan,” kata dia. Anak usia setahun sebenarnya bisa dikenalkan dengan olahraga renang. “Namun sebatas perkenalan, karena anak biasanya suka bermain air,” dia melanjutkan.

Menurut instruktur gymnastic, Eva Butarbutar, anak kecil di bawah umur tiga setengah tahun bisa diajari pre-gymnastic. “Latihan ini dilakukan dengan melatih aktivitas rabaan,” ujar instruktur dan direktur program gymnastics di tempat permainan anak “I Like Gym” ini. Anak berumur lebih dari tiga setengah tahun bisa mulai dengan gymnastic, yakni memakai alat-alat. “Ini bisa melatih saraf motoriknya,” kata pemenang tiga kali medali emas gymnastic SEA Games ini.

Senada dengan Eva, dr Michael menyatakan, jika latihan lari, lempar, dan lompat sudah bagus, bisa ditambah dengan latihan keseimbangan serta kelincahan. “Biasanya dengan sepeda,” kata dia. Ini biasanya terjadi pada anak umur 4-6 tahun. “(Anak) umur enam tahun biasanya saraf koordinasinya sudah bisa jalan,” kata dia. Tapi jangan diajak berolahraga berat. “Karena otot anak masih kecil, belum kuat seperti orang dewasa, ” kata Michael.
Sri menyatakan, jenis olah fisik bisa disesuaikan dengan usia dan kemampuannya. “Dan intensitasnya jangan intensif,” kata dia. Selain olah fisik, kata Sri, anak perlu tambahan asupan gizi. Asupan ini disesuaikan dengan berat badan dan tinggi badan si anak. “Kalau kurus, harus ditambah,” kata Sri.

Olah fisik, kata Sri, juga berguna agar waktu si anak tak dihabiskan di depan televisi atau main game. Saat ini jamak ditemukan anak kecil sudah akrab dengan permainan PlayStation, telepon seluler, televisi, dan Internet. Keberadaan teknologi ini membawa dampak negatif. “Gerakan kurang, tapi banyak ngemil,” kata dia. Untuk menjaga anak dari efek negatif teknologi, orang tua harus bijak. Waktu aktivitas anak dengan permainan teknologi harus dibatasi. “Jangan lama-lama nonton TV, maksimal 1-2 jam,” kata dia. | nur rochmi

Agar Cedera Tak Mendera

Setiap melakukan kegiatan olah fisik, kecelakaan yang berakibat cedera mungkin saja terjadi. Untuk itu, diperlukan sejumlah langkah agar anak tak didera cedera saat melakukan olah fisik. Berikut ini tip dari dr Michael Triangto, SpKO.
- Batasi latihan sesuai dengan kemampuan anak.
Anak memang suka bermain, tapi harus dilihat kemampuannya. Jika olah fisik yang dikemas dalam permainan melampaui batas kemampuan anak, hal itu perlu dibatasi.
- Gunakan alat pengaman.
Jika olah fisik dilakukan di area yang keras, gunakan alat pengaman (helm dan pengaman siku/lutut) pada anak.
- Ketahui prinsip RICE (rest, ice, compression, dan elevating) penanganan pada cedera. Jika anak cedera, segera istirahatkan (rest), dikompres dingin (ice), ditekan (compress) supaya tak tambah bengkak, dan lokasi bengkak ditinggikan (elevating), agar rasa sakit tak bertambah.

| nur rochmi


« Previous PageNext Page »

50 queries