Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 


Cara Mendidik Anak Mandiri

Setiap orang tua pasti ingin anaknya kelak dapat berguna dan memiliki masa depan yang baik. Masa depan yang baik akan bisa tercapai jika anak diberikan pembelajaran tata krama dan juga kemandirian yang tepat. Anak adalah karunia yang sangat luar biasa sehingga harus selalu dijaga dan dirawat dengan baik. Orang tua memang menjadi penjaga utama bagi anak – anaknya. Saat anak sudah mulai berusia balita, saat itulah anak akan mencoba mencari tahu tentang berbagai macam hal yang ada disekitarnya.

Di masa inilah, saat yang tepat untuk para orang tua mulai mengajarkan tentang kemandirian dan sikap – sikap yang baik kepada anaknya. Orang tua akan sangat senang jika melihat anaknya menunjukkan sikap kemandirian sejak dini. Walaupun mandiri, namun hubungan yang hangat harus tetap terjalin diantara orang tua dan anak. Ada banyak cara mendidik anak mandiri yang bisa anda terapkan untuk membuat anak anda lebih mandiri.

Mengajarkan rasa kemandirian kepada anak sejak dini membutuhkan cara – cara yang khusus. Untuk mengajarkan kemandirian, tidak perlu dengan memberi tahu tentang apa arti kemadirian atau sejenisnya. Cukup dengan upaya – upaya tertentu yang bisa membuat anak merasa mampu untuk melakukan kegiatannya sendiri bisa menjadi cara yang tepat. Membiarkan anak memilih hal – hal yang disukainya adalah salah satu cara untuk menanamkan kemandirian. Orang tua hanya perlu memberikan pilihan – pilihan yang mungkin disukai anak dan membiarkan anak memilih mana yang paling diinginkannya. Perlakuan ini akan membuat anak mampu untuk mengambil keputusan sendiri sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Anak di usia balita sudah memiliki rasa ingin berkegiatan dan memberikan hasil usaha yang terbaik untuk orang tuanya. Saat anak memberikan atau melakukan suatu perbuatan baik, anda sebagai orang tua wajib menghargai usahanya, walaupun yang dikerjakan belum sempurna. Anak juga dapat dibiarkan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dengan jalan apapun yang mereka ketahui.

Selain anak yang harus belajar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, para orang tua juga harus memperhatikan beberapa hal. Ingin mendapatkan perhatian anak adalah hal yang biasanya diinginkan orang tua. Kadang kala banyak orang tua yang terlalu banyak ingin tahu dengan mengajukan berbagai pertanyaan kepada anaknya. Sikap sering bertanya ini dapat menimbulkan kesan cerewet dan sok ingin tahu yang tidak disukai oleh anak. Akan lebih baik jika anda sebagai orang tua tidak terlalu banyak mengajukan pertanyaan yang terkesan menyudutkan dan mengintimidasi anak. Biasakanlah menyapa anak saat selesai berkegiatan dengan santai dan ramah. Dengan sapaan yang hangat, anak akan bisa dengan sendirinya menceritakan apa saja yang dia alami saat berkegiatan. Cara – cara tersebut diatas dapat menjadi solusi dan contoh hal – hal yang bisa membantu anak untuk bersikap mandiri.

Perkembangan Anak Usia 0-3 Tahun

Anak adalah harapan, bukan hanya harapan ayah ibu dan keluarga namun juga harapan bangsa negara bahkan dunia. Anak adalah pemegang kekuasaan pada saat kita menua. Anak adalah pemutar roda dunia saat kita sudah merenta. Sangat wajar dan tidak berlebihan jika pendidikan anak sanagt diperhatikan. Pemberian pendidikan tersebut juga tidak terlepas dari proses tumbuh kembang anak. Dimana pemberian pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan anak.

Banyak yang berpendapat bahwa anak memiliki masa keemasan pada otaknya. Dimana pada saat itu ilmu yang diajarkan dapat cepat terserap sempurna oleh otak dan langsung diaplikasikan.  Masa keemasan otak tersebutlah yang kadang tidak diketahui oleh para orang tua yang notabene bertindak sebagai pendidik paling awal dan paling dekat dengan anak. Oleh karena itu disini akan diuraikan sedikit tentang masa keemasan otak yang terjadi pada usia 0-3 tahun. Masa keemasan otak terjadi saat perkembangan anak usia 0-3 tahun. Pada masa ini kemampuan otak untuk menyerap hal hal baru lebih cepat dari usia setelah 3 tahun. Kita dapat melihat dari  perkembangannya yang terjadi sangat pesat pada usia 0-3 tahun.

Kita mulai dari gerakan motorik. Pada awal dilahirkan bayi sangat terbatas dalam melakukan banyak kegatan motorik. Bahkan hanya untuk secara reflek mengedipkan matapun tidak bisa. Yang bisa dilakukan hanya sesekali menggerakkan kepala, menendang dan menggerakkan kedua tangan. Keterbatasan melakukan kegiatan yang bersifat motorik ini berlangsung selama 3 bulan. Setelah 3 bulan bayi mulai mampu menggerakkan banyak dari anggota tubuhnya. Mulai dari memiringkan badan hingga tengkurap. Biasannyah juga bayi mulai mengangkat kakinya ke arah muka. Pada fase ini bayi sudah dapat melakukan kegiatan motorik yang cukup rumit. Setelah menginjak 7 bulan biasanyah bayi mulai merangkak. Hal ini tentu dapat dikuasai apabila bayi sudah mampu tengkurap dalam jangka waktu yang cukup lama dan mampu mengangkat kepala pada saat posisi tengkurap. Setelah melewati tahapan merangkak maka dengan cepat si bayi akan belajar berdiri sendiri dengan cara berpegangan pada tembok atau dengan dilatih oleh orang tua. Setelah merasa mampu berdiri dengan baik maka dengan sendirinya si bayi belajar berjalan. Begitu cepat proses perkembangan motorik anak dari usia 0-3 tahun sehingga biasanyah menginjak usia 3 tahun si anak sudah dapat bermain dn berlari-larian dengan temannya.

Selain perkembangan motorik, si anak juga mengalami perkembangan kelima panca indranya. Dimulai dari bayi yang baru lahir dan belum dapat menggunakan indranya dengan baik hingga menginjak usia 3 bulan. Setelah itu kelima indra anak seolah dihidupkan secara otomatis dan mulai mengenal sensasi di tiap indranya. Mulai dari itu dikumpulkan data-data mengenai sensasi tiap-tiap indra dan menyimpannya sebagai memori. Jadi pada saat bertemu kembali dengan sensasi yang sama, si anak akan bisa memilih apakah ditolak atau dilanjutkan.

Puting Payudara Rata buat anak susah Menyusui

Memberikan ASI eksklusif pada bayi adalah keputusan terbaik yang dapat diberikan seorang ibu kepada bayinya. Tetapi bila puting payudara Anda rata atau terbalik ke dalam (inverted nipples), apakah Anda juga bisa menyusui dengan normal?

Yup, semua perempuan bisa menyusui meskipun puting payudaranya rata atau terbalik, demikian menurut Dr William Sears, Associate Clinical Professor of Pediatrics di School of Medicine, University of California, Irvine. Sebab, bayi menyusu pada areola, bukan pada puting payudara. Ketika bayi mulai menempelkan mulutnya pada areola dan mulai menghisap, hal itu akan menarik puting Anda keluar. Bahkan, ia bisa membuat puting “mekar” dalam ukuran yang tepat sehingga mampu menghisap lebih banyak.

Bayi yang baru lahir yang mampu menempel dan menghisap ASI dengan baik akan menjadi solusi terbaik bagi puting payudara yang terbalik. Paling mudah jika bayi belajar menyusu pada hari pertama atau keduanya setelah lahir, sebelum ASI Anda keluar. Pembengkakan cenderung membuat puting yang rata makin rata, yang membuat bayi lebih sulit belajar menghisap. Kalau sudah begini, luangkan waktu lebih banyak bersama bayi sejak awal, agar Anda punya banyak waktu untuk berlatih menyusui.

Namun jika Anda masih mengalami kesulitan menyusui bayi karena kondisi puting payudara Anda, silakan mencoba trik-trik berikut:

1. Perhatikan bagaimana bayi memperlakukan payudara. Bayi seharusnya menggenggam payudara dengan mulut yang terbuka lebar.

2. “Buat” puting untuk membuat lebih banyak jaringan payudara yang masuk ke dalam mulut bayi. Pegang payudara pada areola, dengan jari-jari pada bagian bawah dan ibu jari pada bagian atas. Tekan dengan ibu jari dan jari-jari, dan pada saat yang sama mendorongnya kembali ke arah dada. Hal ini akan memanjangkan dan menyempitkan areola, sehingga membuat bayi lebih mudah menyusu.

3. Gunakan pompa ASI untuk menarik keluar puting payudara sebelum menyusui. Pompa ASI elektrik berkualitas baik bisa Anda dapatkan di rumah sakit, dan akan menarik keluar puting Anda tanpa merusaknya.

4. Coba kenakan breast shells, semacam mangkuk plastik transparan yang didesain untuk puting yang rata atau terbalik di sela-sela menyusui atau 30 menit sebelum menyusui. Breast shells memiliki dua bagian: bagian belakang dengan lubang yang memungkinkan puting untuk menonjol keluar, dan kubah bundar yang akan dipasang di bagian dalam bra. Tekanan pada shell dari bra akan melawan areola, yang secara bertahap meregangkan perlekatan dan membuat puting menonjol.

5. Jika bayi masih terus kesulitan untuk menyusu, coba gunakan nipple shield, atau pelindung puting yang dikenakan di sekeliling areola dan puting saat menyusui. Berkonsultasilah dengan konsultan laktasi sebelum menggunakan alat ini, agar ia dapat memberikan petunjuk penggunaannya tanpa memengaruhi produksi ASI. Bila Anda tidak tahu cara penggunaannya, nipple shield memang bisa mengurangi produksi ASI.

Tips Agar Anak Lebih Berani

Keberanian anak untuk mencoba sesuatu yang baru dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Faktor internal salah satunya dipengaruhi temperamen si anak. Sedangkan kalau faktor eksternal lebih kepada dorongan dan dukungan kepada si anak untuk mencoba. Salah satu faktor eksternal yang memengaruhi keberanian anak untuk mencoba adalah kelekatan anak dengan orangtuanya.

Pertiwi Anggraeni, MPsi, psikolog anak dan pengajar di Universitas Tama Jagakarsa Jakarta menjelaskan kelekatan yang terjalin dengan baik dapat membentuk rasa aman dalam diri si anak. Rasa aman ini ditunjukkan oleh anak dengan memercayai orang-orang yang berada dalam lingkungan terdekatnya.

Selanjutnya, ketika anak memiliki rasa aman kepercayaan dirinya akan tumbuh. Inilah yang menjadi pendorong anak untuk berani mencoba sesuatu yang baru. Sebaliknya, pada anak yang tidak memiliki keberanian untuk mencoba, bila ditelusuri, penyebabnya adalah anak tidak memiliki rasa aman terhadap lingkungan terdekatnya.

Kelekatan antara orangtua dan anak ini tentunya tidak terbentuk secara instan. Ini telah terjalin semenjak anak masih bayi. Bayi yang mendapat respons tepat dari orangtua dan orang terdekat di lingkungannya, umumnya memiliki rasa percaya dengan orangtua atau orang terdekatnya itu, sehingga ia mampu membentuk rasa aman terhadap lingkungan terdekatnya.

Kelekatan itu dapat terbentuk bila orangtua mampu memahami dan memenuhi keinginan si bayi. Misal, ketika bayi menangis dengan nada panjang sebagai tanda haus, orangtua langsung memberikan respons dengan menyodorkan ASI. Anak merasa nyaman dan percaya karena orangtua tahu akan kebutuhannya.

Dampingi anak
Lalu, bagaimana cara menstimulasi agar anak memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru? Langkah pertama, hendaknya orangtua mampu menumbuhkan rasa aman terlebih dahulu. Caranya, dengan mendampingi anak ketika ia mau mencoba sesuatu yang baru. Berikan semangat kepada anak agar mau mencoba.

Pilihan lainnya, dengan mengajak teman-temannya bermain bersama. Minta si kecil mengamati teman-temannya yang sedang bermain. Selanjutnya, minta ia mencobanya sendiri. Bila perlu, orangtua juga terlibat dan bila memungkinkan dapat memberikan contoh langsung. Berikan penjelasan kepada si buah hati, selama mengikuti aturan dan rambu-rambu keamanan yang sudah dipersiapkan, niscaya tidak akan terjadi apa-apa. Kata-kata itu umumnya dapat memunculkan keberaniannya. Lakukan aktivitas ini berulang-ulang.

Satu hal yang patut dicermati orangtua, jangan bosan mendampingi anak untuk mencoba melakukan sesuatu yang baru. Bagi anak dengan temperamen sulit dan lambat memang membutuhkan waktu untuk memunculkan keberaniannya. Berbeda dengan anak bertemperamen mudah yang lebih cepat dan berani mencoba. Sebaiknya orangtua lebih bersabar dalam mendampingi.

Agar anak lebih termotivasi, ingatlah untuk memberikan penghargaan. Penghargaan berupa pelukan, pujian atau sesuatu yang lebih istimewa, umumnya mendorong si kecil untuk lebih berani.

Tidak memaksa
Bila berbagai cara sudah dicoba, namun anak belum berani juga, sebaiknya telusuri penyebabnya. Ajaklah si kecil berkomunikasi, mengapa ia menolak permainan itu. Masuk usia tiga tahun, anak umumnya sudah mampu menyampaikan yang dirasakan. Selanjutnya, tugas orangtua adalah memberikan pengertian kepada anak agar kekhawatiran yang dirasakan dapat terselesaikan.

Orangtua juga sebaiknya tidak memaksakan keinginan kepada anak. Ketika si kecil tidak berani mencoba permainan perosotan, alihkan dengan permainan sejenis yang memberikan manfaat sama seperti palang bertingkat, papan berjungkit dan lainnya. Anak akan senang dan manfaat untuk menstimulasi perkembangannya pun didapat. Pemaksaan terhadap anak justru menimbulkan pengalaman tidak menyenangkan bagi si kecil.

Manfaat Yoga Untuk Bayi

Pernah dengar tentang Yoga untuk bayi? Walaupun terdengar aneh atau mungkin malah asing di telinga bunda, tetapi ternyata banyak sekali manfaat yoga untuk bayi. Dengan latihan yoga secara rutin diyakini mampu membuat si kecil tidur nyenyak, menambah nafsu makan, serta melancarkan pencernaan bayi. Yoga juga bisa memperkecil resiko obesitas pada anak dan membangun kedekatan emosi antara ibu dan anak.

Pada dasarnya yoga merupakan olah tubuh yang banyak melibatkan anggota badan. Oleh karena itu banyak organ tubuh yang ikut-ikutan memetik manfaatnya seperti organ pencernaan dapat meningkatkan fungsi dan kerja sistem pencernaan sehingga si kecil akan terhindar dari kembung, kolik, atau sembelit.

Masih banyak lagi manfaat yoga, antara lain:

  • Melancarkan peredaran darah
  • Membantu perkembangan otot-otot tubuh bayi sehingga menjadi kuat dan lentur
  • Membantu perkembangan syaraf serta koordinasi gerak bayi
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga si kecil tidak mudah sakit
  • Membantu menyiapkan tubuh bayi agar mampu menguasai berbagai ketrampilan mulai dari berguling, merangkak, duduk, hingga berdiri dan berlari
  • Merilekskan tubuh bayi sehingga bayi mudah tidur dan tidak rewel
  • Lebih mendekatkan hubungan emosi antara orang tua dan bayi
  • Membantu pembentukan kepribadian bayi sehingga bayi tidak hanya sehat tapi juga lebih percaya diri dan bahagia

Jika bunda ingin melakukan yoga dengan si kecil, pastikan bunda memilih tempat yoga yang memang berspesialisasi pada yoga untuk bayi untuk menghindari cedera pada si kecil. (Toddie, Sept-Okt 11)

Membaca Itu Asyik

Kebiasaan membaca yang baik yang Anda lakukan selama ini, adalah contoh nyata yang dapat dilihat anak. Anak akan melihat dan meniru.

Itu sebagian dari sederet manfaat yang dapat diperoleh anak dari kebiasaan membaca buku. Pengetahuan yang didapat dari buku yang dibacanya, akan        membuat anak mampu mengekspresikan diri dengan lebih baik. Anak juga akan lebih siap dalam menghadapi kehidupan nyata, serta dapat belajar untuk menyikapi situasi maupun lingkungan baru yang asing bagi mereka. Agar didapat berbagai manfaat dari kebiasaan membaca, anak harus diperkenalkan dulu pada kebiasaan membaca yang baik.

1. Bacakan Buku untuk Anak

Anak-anak senang mendengarkan cerita, apalagi dibacakan dengan suara keras, karena setiap kata yang diucapkan terdengar jelas. Dengan intonasi dan peragaan, semakin mudah bagi si kecil untuk memahami dan menghayati cerita. Misalnya, saat Anda menirukan suara aneka jenis binatang yang menjadi tokoh di dalam buku cerita fable, atau meragakan gerakan para tokoh cerita. Dr. Stanislas Dahaena ahli perkembangan otak anak dari Prancis membuktikan lewat risetnya, anak-anak yang pintar di sekolah serta pembaca yang rajin membacakan buku kepada mereka. Tanamkan kebiasaan baca buku melalui kegiatan mendongeng atau membacakan buku cerita sebelum tidur.

2.       Sediakan ruaang baca

Buat sebuah sudut baca di rumah anda atau buatkan perpustakaan mini, isi dengan rak-rak buku untuk menyimpan koleksi buku anda dan keluarga. Aturlah agar tempat baca ini terasa nyaman dan menyenangkan sehingga anak senang mengisi waktunya dengan membaca. Atur buku anak-anak di rak bagian bawah agar buku mudah diambil dan dikembalikan lagi oleh anak tanpa minta bantuan. Alasi lantai dengan karpet dari bahan karet agar tidak memerangkap debu, tapi anak tetap dapat membaca buku dilantai dengan nyaman. Atau, taruh sofa mini ukuran anak dan pasang lampu baca yang cukup terang.

3.       Bebas meletakan buku

Buku dapat dibaca dimana saja dalam setiap kesempatan. Bebaskan anak meletakan bukunya ditempat-tempat yang mudah dijangkau, misalnya diatas meja kecil di samping tempat tidur, diruang tamu, di dapur atau di rak dinding toilet.

4.       Jadi anggota perpustakaan

Anda tidak harus selalu membeli buku, manfaatkan taman bacaan di dekat rumah, ajak anak untuk pinjam buku di taman anggota taman bacaan atau perpustakaan. Sikecil pasti akan senang punya kartu perpustakaan. Ini member kesempatan pada si kecil untuk meminjam buku atas namanya sendiri, dan mendapat kesempatan untuk memilih buku-buku yang ingin dipinjam dan baca.

5.       Ajak rutin ke perpustakaan

Terapkan jadwal rutin ke perpustakaan, misalnya dua kali dalam sebulan. Selama di perpustakaan biarkan anak mempelajari suasana diperpustakaan sambil duduk membaca buku di meja dan kursi yang tersedia. Ini juga akan membuka peluang kepada si kecil untuk bersosialisasi dengan anak-anak lain.

6.       Jangan paksa anak membaca

Bebaskan si kecil membaca kapan pun dia inginkan. Anda tak perlu memaksakannya untuk membaca. Berikan contoh saja, misalnya ambil buku yang ingin anda baca. Ketika anak tergerak untuk duduk disamping Anda, barulah ajak dia berbagai cerita atau ceritakan isi buku yang sedang And abaca. Sebutkan hal-hal menarik di dalam buku tersebut yang mengundang rasa ingin tahu anak untuk mengetahui lebih lanjut. Atau biarkan dia menentukan halaman mana yang ingin dibacanya.

7.       Lakukan kegiatan sesuai tema

Kaitkan buku bacaan dengan kegiatan sehari-hari, Misalnya saja anak balita laki-laki anda sangat menyukai buku tentang mobil, kapan-kapan ajak dia membantu,  mencuci mobil, ke bengkel, atau mengisi bensin. Jelaskan pada anak mengapa mobil harus dicuci, diganti oli, dan di isi bensin.

8.       Manfaat album foto dan film

Minat si kecil terhadap tema yang dibacanya didalam buku yang dapat anda dukung dengan foto yang anda koleksi di dalam foto biasa, di dalam ipad atau notebook, serta aneka film dengan tema yang berkaitan. Misalnya, si kecil senang membaca tentang burung penguin, carikan foto-foto tersebut lalu bantu si kecil mengoleksinya didalam sebuah album foto. Atau anda bisa juga membelikan beberapafilm tentang kehidupan burung penguin, seperti “happy feet” dan “march of the penguins”.

9.       Ajak anak membuat buku cerita

Anak-anak senang bercerita, kadang-kadang kenyataan dibumbui khayalan. Tuliskan dikertas, cerita yang dibuat si kecil. Kemudian pindahkan dia atas kertas yang lebih bagus. Kumpulkan cerita-cerita itu menjadi satu buku. Lubangi kertas, kemudian ikat dengan tali atau benang warna-warni. Hiasi dengan gambar, anak yang mewarnai gambar itu. Buku cerita buatan si kecil bisa juga berupa “komik” yang dibuat dari lembaran kertas berisi coretan gambar-gambar buatannya. Kegiatan ini selain membangun minat baca yang baik juga menggali bakat mengarang dan menulis si kecil.

10.  Beri contoh yang baik

Kebiasaan membaca yang baik yang anda lakukan selama ini, adalah contoh nyata yang dapat dilihat anak. Anak akan melihat dan meniru. Tunjukan kepada si kecil kebiasaan membaca apa saja. Majalah, buku, komik, buklet, atau sekedar melihat foto=foto di dalam album. Di mata anak, semua itu akan dilihat sebagai aktivitas membaca. Berikan pula contoh membaca dengan posisi tubuh yang benar, tidak sampai tiduran misalnya, perhatikan juga penerangan saat membaca serta jarak baca yang sehat untuk mata, yakni sekitar 30cm dari mata.

Agar Anak Cepat Bisa Baca

1. Belajar sambil bermain
Mungkin hampir semua orang tua yang sedang mengerjakan sesuatu di PC atau laptop akan diganggu oeh anak-anaknya. Jangan dimarahi apalagi diusir ajak dia bermain bersama anda. Biarkan dia memperhatikan apa yang ada lakukan pada keyboard dan apa yang muncul pada monitor.
2. Mulai dengan pengenalan abjad
Perkenalkan ke-26 abjad kepada anak dengan cara kreatif. Ubah font atau bentuk huruf agar terlihat besar dan jelas. Mulai lah bermain dengan mengetikkan huruf satu persatu sambil menyebutkan nama abjadnya. Sesekali ajaklah dia main tebak-tebakan dengan memintanya menekan tombol sesuai abjad yang kita sebutkan.
Jangan kecil hati jika si anak masih sering salah tunjuk atau keliatan ngawur. Namanya juga proses belajar, kan? Sebaliknya jika si anak mampu menunjuk huruf yang kita minta secara tepat, beri dia reward berupa pelukan atau ciuman.
3. Merangkai huruf vocal dan konsonan
Setelah pada usia 2 tahun Irsya mampu menghafal seluruh abjad dengan baik dan benar, maka yang saya lakukan selanjutnya adalah mengajarinya untuk merangkai huruf-huruf tersebut.
Mulailah dengan memperkenalkan huruf-huruf vocal a, i , u, e, o kemudian dirangkai dengan satu buah huruf konsonan. Misalnya : ba , bi, bu, be, bo, dan seterusnya.
Kalau saya mengajarnya begini “huruf be berteman dengan a bacanya ba.” Dst. Alhamdulillah dalam 2 minggu dia sudah paham dan mengerti untuk rangkaian huruf lainnya.
Jika sudah paham, ajarkan anak suku kata tertutup. Yaitu dengan menambahkan huruf konsonan pada suku kata yang sudah diajarkan tadi. Misal : “ba berteman dengan n bacanya jadi ban” dst. .
4. Sediakan buku bacaan yang menarik
Sediakan buku-buku bacaan yang bergambar agar menarik perhatian anak untuk membaca. Dampingi anak anda saat membaca. Jika bacaanya betul jangan lupa berikan pujian agar anak percaya diri.
Selamat mencoba…

Toilet Learning, Butuh Kesiapan Si Kecil

Kesiapan apa yang dibutuhkan si kecil untuk belajar buang air yang benar? Pertama, kesiapan fisik, yaitu kemampuan anak untuk jongkok atau duduk dengan baik di kloset. Bila tidak didukung dengan kemampuan fisik dikhawatirkan anak akan mogok di jalan sebab tidak merasa nyaman dalam melaksanakan toilet learning  ini.

Kedua, kesiapan mental, yaitu kemampuan anak dalam mengontrol keinginan untuk buang air kecil atau buang air besar. Anak sudah tahu bila dirinya ingin buang air kecil atau buang air besar dan mampu menahan keinginan tersebut sampai ia masuk ke dalam kamar mandi atau toilet.

Umumnya kesiapan mental dan fisik ini terjadi saat anak memasuki usia 18 bulan. Memang, usia ini tidak dapat dipukul rata. Orangtualah yang harus tahu dengan tepat kapan anaknya siap secara fisik dan mental untuk toilet learning.

TANDA-TANDA ANAK SIAP

Kesiapan fisik:

* Mampu berjalan dan duduk dengan stabil di potty chair (tempat latihan BAK yang bentuknya menarik). Dengan demikian, si kecil bisa duduk dan bangun berdiri sendiri saat menggunakan kloset atau pispot mininya. Kemampuan motoriknya juga sudah bisa mengangkat gayung, mengambil air, dan menyiramkan ke bekas pipisnya.

* Anak sudah mampu mengendalikan keinginan buang air. Ditandai dengan tidak ngompol atau tetap kering celananya selama beberapa jam. Atau, pola BAB dan BAK-nya sudah lebih teratur. Misalnya 3-4 jam sekali. Ciri lain, wajahnya menunjukkan ekspresi meringis saat hendak pipis, atau menunjukkan gelagat hendak buang hajat. Tanda ini memudahkan orangtua mengenali anak yang mau buang air

Kesiapan mental:

* Anak sedikitnya mampu memahami satu sampai 2 kalimat perintah. Si kecil pun mengerti, memakai pospak untuk buang air sangatlah tidak menyenangkan. Dia juga sudah bisa memberi tahu bila celananya basah dan minta segera diganti. Jika tidak digubris, ia akan mengekspresikannya dengan sikap rewel.

* Anak sudah bisa mengomunikasikan bahwa ia hendak BAB dan BAK. Bisa dengan mengucapkannya secara verbal atau nonverbal seperti menarik tangan, mengambil pispot, menunjuk-nunjuk celana, pergi ke sudut ruangan, dan lain-lain.

* Tertarik pada kamar mandi. Misalnya, dia mengikuti orang dewasa ke kamar mandi, mengetahui apa saja perlengkapan kamar mandi dan fungsinya, juga tertarik mengeksplorasi pakaiannya seperti menarik dan menurunkan celana atau roknya.

* Memiliki kemampuan mengontrol atau menahan BAB dan BAK hingga ke kamar mandi.

* Dapat diajak bekerja sama atau memiliki hubungan yang harmonis dengan gurunya (dalam hal ini orangtua atau pengasuhnya).

MENERAPKAN TOILET LEARNING

* Pengondisian

Dalam tahapan ini, orangtua hanya mengenalkan pentingnya toilet learning  dan mempersiapkannya secara bertahap. Tindakan pengondisian bisa dilakukan sejak anak umur 9-18 bulan.

Berikut Caranya:

– Saat mengetahui anak hendak BAB, (anak diam dengan raut gelisah), tanyakan “Adek, mau poop  ya” lalu, “Kalau mau poop atau pipis, bilang Mama ya.”

– Tuntun anak ke toilet atau ke pispotnya, lalu katakan, “Ini kloset/pispot, kalau mau poop  harus di tempat ini ya.”

– Kenalkan bagian tubuh yang berkaitan dengan toilet learning seperti penis, dubur, dan saluran kencing dekat vagina. Juga perlengkapan toilet  learning  dan fungsinya seperti kloset, pispot, gayung, shower dan lain-lain.

– Perlihatkan cara membersihkan kotoran si kecil. Dengan cara itu, anak tahu setiap selesai buang air, kloset/pispot harus disiram dengan bersih.

* Perkenalkan pispot

Untuk awal toilet learning  disarankan menggunakan pispot (potty chair) daripada kloset. Alasannya, ukuran pispot lebih aman untuk anak-anak. Cara mengenalkannya:

– Mintalah anak duduk di pispotnya lakukan berulang-ulang sehingga ia merasa nyaman dan aman.

– Ajak anak duduk di potty chair setelah ngompol. Sampaikan bahwa pispot berguna bila ia ingin BAB atau BAK.

– Lihat pola biologis anak. Jika anak biasa pipis dan poop  setelah bangun tidur pada pukul 7 pagi, misalnya, begitu ia terbangun dari tidur langsung ajak duduk di pispotnya. Jika tidak keluar apa-apa, beri selang waktu beberapa saat, lalu minta ia kembali melakukan hal yang sama. Harapannya, anak dapat menemukan waktu-waktu tertentu untuk BAB dan BAK dan mampu menahan keinginannya sampai menemukan pispotnya.

* Beri contoh

Setelah toilet learning  di potty  chair  sukses, ajak anak untuk pipis atau poop di kloset sungguhan. Katakan padanya, sejak saat ini ia bisa mulai pipis atau poop  di kloset kamar mandi. Namun, sebaiknya gunakan alat bantu pada kloset agar tidak jatuh.

Ayah atau ibu harus memberi contoh bagaimana BAB dan BAK di kloset. Agar efektif dan tidak membuat anak bingung, ayah/kakak laki-laki sebaiknya memberi contoh kepada anak/adik laki-laki, dan ibu atau kakak perempuan memberi contoh kepada anak/adik perempuannya. Ajaklah si kecil ke kamar mandi atau toilet dan perlihatkan bagaimana cara pipis. Dari menurunkan celana, jongkok/duduk di kloset, pipis, menyiram kloset, menyemprot/membasuh kelamin dengan air, mengeringkan daerah kelamin, dan memakai celana.

Katakan semua proses tadi agar anak paham, seperti, “Sebelum pipis, kamu buka celanamu, berjongkok, lalu cebok agar kelaminmu tetap bersih….” Lakukan secara berulang-ulang. Saat terlihat si kecil hendak pipis atau poop , coba katakan, “Dek Adi, pipis yuk.” Lalu, “Cara pipisnya seperti yang Kak Joni lakukan, ya!” Selanjutnya, tanpa disuruh, anak pun bisa mengatakan dirinya ingin BAK. Hal yang sama dilakukan saat mengajari anak BAB. Perlihatkan bagaimana sang kakak duduk/berjongkok dan membersihkannya seusai BAB. Karena anak belum bisa cebok sendiri, orangtua bisa memberikan bantuan.

Bila masih gagal dalam menerapkan program ini, tak perlu kecewa. Itu pertanda si kecil belum siap. Hentikan dulu kegiatan toilet learning  selama 1 ­ 3 bulan sehingga anak tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang menakutkan. Beberapa bulan kemudian baru dicoba kembali.

YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM TOILET LERNING

1. Berikan penghargaan bila si anak berhasil menahan BAB atau BAK dan mengeluarkannya di potty chair. Dengan begitu, anak memahami tujuan dari program toilet learning yang sedang dilaksanakan bersama.

2. Jangan marah atau memberikan hujatan bila si kecil mengompol. Misalnya, “Adek payah nih enggak bisa nahan pipis.” Sebaiknya gunakan kalimat lain yang tidak menyalahkan anak. Misalnya, “Adek tadi enggak kuat nahan  pipis, ya? Lain kali coba ditahan sambil lari ke potty chair ya!”

3. Setelah berhasil beberapa kali, berikan penjelasan kepada anak bahwa ia sudah tidak butuh pospaknya. Kondisikan agar anak menyadari ini adalah sebuah peristiwa besar dalam hidupnya.

LO, KOK, TOILET LEARNING ? BUKAN TOILET TRAINING

Istilah toilet training  yang kita kenal selama ini hanya mengacu pada soal melatih anak untuk belajar pipis dan BAB di tempat yang seharusnya. Latihan ini tidak terlalu mementingkan kesiapan fisik dan mental si kecil. Tak heran beberapa orangtua menerapkan toilet training  terlalu dini pada anaknya, bahkan kala si kecil masih bayi. Padahal toilet training  yang terlalu terburu-buru (tanpa memerhatikan kesiapan mental dan fisik anak) justru tidak efektif karena anak akan merasa dipaksa saat melakukan latihan itu. Dampaknya, ia masih akan mengompol meski hanya sekali-kali. Contoh, saat di TK, tiba-tiba anak ngompol di kelas (padahal sebelumnya ia sudah tak pernah mengompol). Ini karena tanpa disadari anak kehilangan kemampuan mengontrol buang air kecilnya (karena waktu dilatih ia belum siap untuk itu). Berbeda dari toilet learning.  Istilah ini menitikberatkan pada kesiapan anak secara mental dan fisik untuk diajak buang air kecil atau besar di tempat seharusnya

 

8 Jenis Kecerdasan Anak (Multiple Intelligence)

Anak anda mendapat nilai jelek di pelajaran matematika! atau dia lebih senang mendengar musik daripada belajar! apakah berarti anak anda bodoh???

Stop bunda..jangan terburu menjudge anak bodoh ketika mengetahui kemampuan matematisnya rendah. Howard Gardner, seorang ahli riset dari Amerika menyatakan:

Tidak ada anak yang bodoh atau pintar, yang ada adalah anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan.

Howard juga menyatakan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, ia adalah kumpulan kemampuan atau keterampilan yang dapat ditumbuhkan dan dikembangkan. Menurut nya dalam setiap diri manusia ada 8 macam kecerdasan.

1. Kecerdasan Linguistik
Merupakan kemampuan berbahasa,  biasanya anak-anak dengan kecerdasan ini lebih suka belajar dengan mendengar. Mereka sering lebih menonjol dalam pelajaran bahasa, membuat puisi, lebih cepat menyerap kosa kata baru atau asing, jadi lebih mampu berbahasa asing dengan baik.

2. Kecerdasan Logika Matematika
Merupakan kemampuan yang lebih piawai menggunakan angka-angka, pemecahan masalah secara logis dan matematis. Jenis kecerdasan yang sering menjadi tolak ukur orang tua.

3. Kecerdasan Intrapersonal
Merupakan kemampuan mengenal emosi diri sendiri dan orang lain, biasanya anak yang punya kecerdasan ini sering menyalurkan pikirannya dengan menulis buku harian, bisa memotivasi diri sendiri, menyukai pemikiran tentang filosofi hidup dan dapat mengembangkan konsep diri dengan baik.

4. Kecerdasan Interpersonal
Merupakan kecerdasan dalam berhubungan dengan orang lain. Biasanya anak dengan kecerdasan ini lebih supel dalam bergaul, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, suka berempati dan mampu memandang dari sudut pandang orang lain.

5. Kecerdasan Musikal
Anak selalu tertarik mendengarkan musik dan memainkan alat musik, peka terhadap suara-suara dan mampu mengerti nuansa dan emosi yang terkandung dalam sebuah lagu.

6. Kecerdasan Visual dan Spasial
Biasanya menyukai seni, lukisan dan patung. Memiliki kemampuan membaca arah dengan baik, menikmati permainan puzzle. Biasanya suka menulis catatan atau menjelaskan pikiran nya dengan menggunakan gambar.

7. Kecerdasan Kinestetik Jasmani
Kemampuan menggunakan tubuh secara terampil, punya kontrol, ketangkasan dan keseimbangan gerak. Menyukai pengalaman belajar yang nyata seperti fieldtrip. Ingatannya lebih kuat terhadap apa yang pernah dilihat atau dialami.

8. Kecerdasan Naturalis
Menyukai ilmu-ilmu alam, senang memelihara tanaman atau hewan. Tertarik pada masalah sosial, biasanya mampu membaca cuaca dan peduli terhadap lingkungan.

Nah bunda,,mulai dari sekarang cobalah kenali jenis kecerdasan mana yang lebih menonjol pada anak anda. Asahlah lebih dalam disana dengan tetap membantu meningkatkan kecerdasannya yang lain. Tapi jangan memaksanya untuk menonjol pada kemampuan yang bukan bakatnya, akibatnya bisa berakibat trauma pada anak dan kita para orang tua bisa jadi salah langkah menentukan arah masa depannya kelak.

TIPS MENYAPIH ANAK

Proses menyapih anak umumnya merupakan salah satu  fase yang harus dilalui oleh seorang ibu dengan sangat berat hati, dimana umumnya para ibu tidak tega ketika melihat anaknya harus menangis sambil merengek-rengek meminta menyusu kepadanya. Namun dilain pihak hal itu harus dilakukan oleh seorang ibu, demi kebaikan keduanya (ibu dan anak).  Oleh karena itu menjadi penting bagi seorang ibu untuk mengetahui bagaimana cara atau tips bagi seorang ibu agar sukes menyapih anaknya, sembari mampu menimimalisir reaksi yang berlebihan yang diekspresikan oleh seorang anak.

Metode penyapihan dibagi menjadi 2, yaitu natural weaning/penyapihan alami (tidak memaksa dan mengikuti tahapan perkembangan anak) serta mother led weaning (ibu yang menentukan kapan saat menyapih anaknya). Nah, penyapihan alami inilah yang paling dianjurkan. Mengapa? Karena secara psikologis, dampaknya paling ringan. Umumnya, pada awal proses penyapihan, reaksi anak yang disapih biasanya rewel dan gelisah. Nah, dengan penyapihan alami, semua itu bisa dihindari mengingat saat memasuki usia batita sebetulnya ketergantungan anak pada ASI sudah semakin berkurang. Sementara dalam “Mother Led Weaning” yang dibutuhkan adalah kesiapan mental Bunda juga dukungan dari lingkungan, terutama Ayah (suami) sebagai sosok yang dapat memberikan kenyamanan. Bila sudah mantap untuk menyapih, lakukanlah penyapihan dengan sabar dan tidak terburu-buru karena sikap ibu dalam menyapih berpengaruh pada kesiapan si balita. Berikut ini Tips dalam proses penyapihan bertahap yang diperoleh dari beberapa sumber:

1. Sapihlah anak dalam keadaan sehat. Hindari saat anak sedang sakit, marah arau sedih, karena akan membuat anak semakin tertekan dan tidak bahagia.

2. Komunikasikan keinginan menyapih dengan pasangan. Penyapihan dapat berjalan lancar bila ada dukungan positif dari suami. Selain itu, berbicaralah pada anak ketika ingin menyapihnya walaupun mungkin kemampuan komunikasinya berlum berkembang baik, misalnya, “Adek, minum susunya siang ini diganti ya, dengan jus jeruk. Sama enaknya lo dengan susu.”

3. Berikan penjelasan yang logis. Jelaskan pada anak secara logis mengapa ia harus berhenti menyusu pada ibunya. Umpamanya, karena anak sudah berusia 2 tahun,sudah besar, maka ia sudah pintar makan nasi, buah, sayur dan sebagainya.

4. Bersikap lembut tetapi tegas dan konsisten. Jangan merasa bersalah karena waktu selama 2 tahun sudah lebih dari cukup.

5. Lakukan aktivitas menyenangkan antara ibu dan anak supaya ia tahu bahwa tak mendapat ASI bukan berarti anak tidak dicintai.

6. Jangan menawarkan ASI, atau memberikan ASI sebagai jurus ampuh saat anak rewel, terjatuh, atau menangis. Ini yang terkadang Bunda tidak sampai hati untuk segera memberikan ASI pada buah hati. Kuatkan hati anda, peluk dan segera tenangkan anak anda.

7. Berikan contoh melalui lingkungan sosial anak ataupun buku-buku bacaan yang menggambarkan tentang kemandirian tokoh yang tak lagi menyusu pada ibunya.

8. Jangan mengoleskan obat merah/memberi plester pada puting susu. Hal ini dapat menyebabkan keracunan pada anak. Selain itu, dampaknya, anak akan merasa ditolak oleh ibu dan merasa tidak dicintai apalagi jika ibu melakukannya dengan tiba-tiba. Efek panjangnya, anak mengalami kesulitan untuk menjalin interaksi sosial dengan orang lain.

9. Hindari secara tiba-tiba menitipkan anak di rumah neneknya selama berminggu-minggu, atau ke tampat pengasuhan anak setiap hari, karena proses adaptasi anak tidak cepat. Ia butuh waktu untuk merasa nyaman dengan lingkungan barunya, sebab proses penyapihan dengan cara menitipkan ke tempat lain membuat anak merasa tertekan. Ia harus beradaptasi dengan 2 hal sekaligus: kehilangan ASI dan berada pada tempat baru.

10. Jangan menyapih anak dengan mengalihkannya ke benda lain seperti empeng atau botol susu. Meski tidak ada larangan khusus, empeng atau dot berpeluang besar membuat anak jadi “malas makan”. Empeng juga berisiko membuat anak memiliki ikatan emosional yang kuat pada benda tersebut, sehingga kelak akan sulit mengubah kebiasaan mengempengnya.

11. Hindari pemaksaan. Jika anak belum siap, ibu perlu mencari tahu penyebabnya. Mungkin ia sedang sakit atau apakah sikap ibu kurang sabar? Anak yang menolak disapih akan menunjukan reaksi kesal atau marah dengan menangis, rewel, gelisah atau lebih banyak diam.

 

Next Page »

12 queries