ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 


Pendidikan Sejak dalam Kandungan

Setiap orang tua—lazimnya—mengharapkan anak-anaknya kelak dapat meraih keberhasilan dalam hidup dengan masa depan yang begitu cemerlang, kesuksesan itu, bisa dipastikan sejak awal dengan mengoptimalkan pendidikan sejak dalam kandungan. Sesuai degan hasil penelitian ilmiah, mendidik anak dalam hal rasio dan rohanisejak masih dalam kandungan terbukti memberikan hasil yang positif bagi perkembangan anak setelah lahir kelak.

Semata demi cerahnya masa depan anak, ibu bisa memberikan pendidikan sejak dalam kandungan yang bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung yaitu melalui makanan, belajar berbagai hal pada berbagai bidang, memperdengarkan musik, dan membacakan cerita. Menyantap makanan yang kaya gizi, protein, dan vitamin, contohnya mengonsumsi ikan salmon dan kurma secara teratur. Ibu yang belajar—layaknya anak sekolah—secara mandiri atau mengikuti kursus beragam bidang juga secara tidak langsung mendidik janin, secara khusus lebih mantab bila ibu mendidik calon bayi dengan memecahkan soal-soal ilmu eksakta seperti matematika, atau mempelajari bahasa asing saat kehamilan, maupun berbagai bidang lain. Poin selanjutnya adalah memperdengarkan musik klasik seperti karya Beethoven, Mozart, Bach, dan lain-lain, serta membacakan cerita dan “membahas” cerita tersebut bersama bayi yang masih dalam kandungan, dapat memberikan efek positif bagi bayi.

Selain itu, kesehatan emosi dan jiwa sang ibu harus dijaga, terutama dengan menghindari stres dan pemicunya karena tekanan jiwa pun memengaruhi kondisi janin dan kecerdasan mental anak, sehingga disarankan agar sang ibu selalu berpikir positif. Nah, bila memiliki harapan agar anak dapat meraih keberhasilan, menerapkan hal-hal yang merupakan proses pendidikan sejak dalam kandungan tentu dapat mendukung tercapainya harapan itu.

Tips Stimulasi bagi si kecil

Stimulasi sebaiknya dilakukan sejak bayi masih di dalam kandungan. Stimulasi ini tak kalah pentingnya dengan nutrisi, karena stimulasi dapat merangsang terbentuknya sinaps yang dapat memudahkan komunikasi antar sel saraf.

Bila janin masih dalam kandungan, stimulasi dapat dilakukan oleh ibu atau ayah, misalnya dengan mengajaknya bicara, membacakan buku cerita, mendengarkan musik-musik jenis tertentu, dan membelai belai perut.

Bila bayi sudah lahir, stimulasi ini juga masih perlu dilakukan terus menerus, mengingat proses brain spurt masih terjadi hingga anak berusia 2-3 tahun. Stimulasi juga merupakan alat bantuguna membentuk rasa percaya diri anak. Stimulasi sudah dimulai pada bayi yang baru lahir, karena ia sudah dapat mengamati lingkungan barunya dan wajah. Berikutnya, tahap sensori-motor mulai berkembang yang menyangkut panca indera (penglihatan, raba, bau, penciuman, dan pendengaran) mulai berkembang.

Berikut Tips untuk menstimulasi si kecil :

1. Memperkenalkan benda dengan berbagai tekstur, dari yang halus, licin hingga kasar.

2. Kenali berbagai warna dan bentuk.

3.  Mengenali suara-suara di sekitarnya, misalnya suara binatang, klakson mobil, dll.

4. Ajak menyanyi, mendengarkan lagu, bercerita, membaca buku cerita.

5. Bermain ‘cilukba’, menyembunyikan benda-benda lalu ajak anak untuk mencarinya.

Pernikahan di Mata Pria


KOMPAS.com – Pria dan perempuan memiliki pandangan yang berbeda tentang pernikahan. Dalam bayangan kita, pernikahan adalah hari-hari penuh kebersamaan. Mulai dari sarapan pagi dan berakhir dengan makan malam romantis di sudut ruangan rumah. Mengerjakan sesuatu bersama, dan berbagai hal yang biasa dilihat di film-film dongeng ala Cinderella. Sayangnya, hal-hal seperti ini jauh dari bayangan pria tentang pernikahan. Kepala mereka lebih banyak diisi oleh bayangan-bayangan ini:

Takut Salah Memilih Pasangan
Siapa sih yang tidak takut berakhir dengan pasangan yang salah? Semua orang pasti memiliki ketakutan yang sama. Apalagi bila hubungan pacaran terhitung singkat. Persoalannya, perempuan lebih mudah mengikis kekhawatiran ini ketimbang pria. Tapi sebenarnya ketakutan pria masih dalam batas wajar. Apa yang paling ditakutkan? Dia sangat takut seseorang yang di masa pacaran dianggapnya sebagai putri yang baik hati, ternyata menjadi seorang “nenek sihir” ketika menikah. Mungkin karena itu, dia terkesan santai dan tidak buru-buru menentukan target. Bukan karena tidak berminat terhadap pernikahan, dia hanya ingin benar-benar mengenal dan menyeleksi perempuan yang akan menjadi calon istrinya.

Siap Bertanggung Jawab
Tanggung jawab, itulah yang ada di kepala pria mendengar kata pernikahan. Segala hal yang berkaitan dengan pasangan resmi menjadi tanggung jawabnya ketika dia menikah. Itu berarti dia harus menjadi nahkoda dan memberikan materi yang cukup, bahkan berlebih untuk keluarganya. Dengan alasan ini, banyak pria mengaku memilih mengejar karier lebih dulu, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan menikah.

Takut Bosan
“Menikah? Duuh, ketemunya dia lagi, dia lagi dong, bosan aah.” Ya, inilah yang terlintas di kepala pria tentang pernikahan. Membayangkan bahwa dia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang sama, seringkali membuat hatinya gentar. Tapi Anda tak perlu khawatir, tidak semua pria memiliki bayangan seperti ini. Biasanya, yang bisa mengatasi kecemasan ini adalah pria yang merasa telah menemukan belahan jiwa yang bisa dia cintai selamanya. Dia juga berharap, perempuan yang akan dinikahinya tak sekadar menjadi istri tapi juga teman yang menyenangkan. Sssst, diam-diam pria juga memiliki ketakutan pasangannya merasa jenuh dan memilih berselingkuh.

Menjadi Ayah
Status yang berubah dari lajang menjadi ayah, menjadi perhatian pria. Ada yang merasa takut membayangkan bakal ada mahluk mungil yang memanggilnya “ayah”. Namun, bagi yang merasa telah siap, bayangan tentang ini sangat menyenangkan. Sama seperti Anda, pria juga menanti kehadiran teman baru dalam hidupnya. Tak sabar untuk mengajak anak prianya bermain bola atau membelikan anak perempuannya sebuah boneka cantik. Dan dia selalu ingin menjadi ayah yang bisa dibanggakan oleh anak-anaknya.

Hidup Sehat dan Terawat
Menikah berarti ada yang merawat dan mengurus semua kebutuhannya di rumah. Ada yang menyediakan makanan, menyiapkan makanan, pakaian kerja, hingga merawatnya saat sakit. Bagi pria, bayangan ini akan terasa sempurna, ketika yang melakukannya adalah orang yang ia cintai. Hmm, enggak heran ya, kalau banyak pria yang berat badannya bertambah setelah menikah.

Dapat Teman Hidup
Bagi pria, menikah berarti memiliki teman hidup yang siap berbagi saat senang dan sedih. Pria berharap, pasangannya dapat menjadi seseorang yang bisa memberikan dukungan dalam segala kondisi. Serta bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Tenang, ia takkan menuntut Anda untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan kantor yang sangat banyak. Ia hanya membutuhkan Anda sebagai teman untuk berkeluh kesah dan berdiskusi. Perempuan seperti apa yang ia butuhkan? Yang pasti perempuan yang bisa diajak bicara, sekaligus mau mendengarkan.

(Bestari Kumala Dewi/Majalah Chic)

Editor: NF

13 queries