Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Si Dia Suka Mendengkur?

KOMPAS.com – Para pria yang telah mencapai usia 30 tahun umumnya mendengkur saat tidur. Hal ini dikatakan Michael Thorpy, MD, Direktur Sleep-Wake Disorder Center di Montefiore Medical Center di New York City. Banyak orang menganggap kebiasaan mendengkur sebagai sesuatu yang tak berbahaya. Padahal, sebagian orang mengalami henti nafas saat mendengkur, tanpa disadari. Hal ini tentu saja berbahaya. Sebab, jika seseorang mengalami henti nafas lebih dari 10 detik, ia bisa meninggal seketika.

“Namun, bukan berarti semua masalah mendengkur harus dikhawatirkan. Mendengkur bisa dianggap normal, apabila si pendengkur mengalami henti nafas kurang dari lima kali dalam sejam. Yang dianggap berat apabila pendengkur mengalami henti nafas lebih dari 30 kali dalam sejam. Masalah ini disebut obstructive sleep apnea (OSA),” papar dr Andreas Prasadja, RPSGT, sleep scientist dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta.

Cara mengatasi dengkur:

Jaga berat badan. Coba ukur lingkar leher pasangan. Apabila lebih dari 43 cm, kemungkinan besar ia kelebihan berat badan. “Orang yang kelebihan berat badan berpeluang mengalami gangguan pernafasan saat tidur, termasuk mendengkur,” kata Charles Bae, MD, ahli saraf dan pakar tidur dari Cleveland Clinic di Ohio. Hal ini terjadi karena tekanan pada saluran nafas meningkat, sehingga laju oksigen kemudian ikut terhambat.

Ubah posisi tidur. Umumnya, orang mendengkur saat tidur terlentang. Pada sebagian orang, mengubah posisi tidur menjadi menyamping, kadang bisa membuatnya tidur tanpa mendengkur.

Periksakan diri. Perhatikan kondisi pasangan saat bangun pagi. Apabila suami sering mengaku merasa tak segar kala bangun di pagi hari, segera ajak dia memeriksakan diri ke sleep specialist. Atau, jika ia sering kedapatan tertidur saat menyetir mobil. Bisa jadi ia mengalami OSA. Hal ini yang menyebabkan tidurnya di malam hari tak berkualitas. Penderita OSA juga terkadang memiliki tekanan darah tinggi dan mengalami disfungsi ereksi.

(Alia An Nadhiva/Prevention Indonesia)

Editor: din


Tidur Lasak, Apa Penyebabnya?


KOMPAS.com“Anak kedua saya sudah berumur tujuh tahun. Kenapa dia masih lasak saat tidur? Apa yang perlu kami lakukan supaya dia bisa tidur tenang? Apakah itu artinya dia tidak tidur dengan nyenyak?” (Surat dari Intan, Bintaro)

Tidur merupakan suatu kebutuhan yang amat vital bagi tumbuh kembang anak. Menurut dr Fransisca Handy, SpA, dokter anak dan konsultan laktasi, meskipun merupakan kesempatan tubuh beristirahat, beberapa organ penting seperti otak justru mengalami peningkatan aktivitas. Beberapa hormon penting juga dihasilkan di momen itu.

Karena anak masih mengalami proses tumbuh kembang, jumlah jam tidur pada anak pun lebih banyak daripada orang dewasa. Secara umum, ada dua fase tidur: REM (rapid eye movement) dan non-REM. Fase REM ditandai gerakan bola mata yang cepat, ketidakteraturan nafas dan denyut jantung, masih adanya gerakan otot, serta adanya mimpi. Sementara fase non-REM ditandai kondisi tubuh yang lebih tenang dan biasanya tidak ada mimpi, atau disebut juga sebagai fase tidur dalam.

Fase REM pada bayi mencapai hampir 80 persen dari seluruh jam tidurnya. Seiring usia, persentase fase REM akan semakin berkurang dan fase non-REM semakin meningkat. Tidur lasak seperti yang Anda maksud umumnya terjadi pada usia 6 bulan hingga 2 tahun, yang akan menghilang seiring bertambahnya umur dan biasanya memang tidak lagi dijumpai pada usia sekolah. Namun sebelum menentukan apakah tidur si kecil masuk dalam kategori gangguan tidur atau tidak, kita harus menilai bagaimana kualitas tidurnya secara umum.

Penilaian ini dapat dilihat dari 1) Apakah ada kesulitan memulai tidur? 2) Adakah kantuk berlebih di siang hari? 3) Apakah si kecil terbangun di tengah tidur malam? 4) Bagaimana keteraturan dan lamanya tidur? 5) Apakah sering terdengar mendengkur?

Jangan lupa, kualitas tidur juga tergantung kualitas hidup, termasuk adanya berbagai stres, fisik maupun psikis. Anda dapat melihat http://sleepclinic.wordpress.com, atau www.sleepdisordersguide.com untuk mencari informasi lain.

 

Editor: din

Sumber: Majalah Sekar


Cara Praktis Mengencangkan Paha


KOMPAS.com – Usaha menurunkan berat badan, biasanya fokus pada area tertentu. Pinggul, paha, bokong umumnya menjadi target utama. Tak ada alasan lagi malas berolahraga. Karena, Anda bisa melakukan olahraga di rumah dengan cara berikut ini:

1. Gunakan bola
Cari ruangan yang cukup lega untuk melakukan olahraga dengan bola. Olahraga dengan bola ini cukup menguras tenaga. Anda dituntut untuk menjaga keseimbangan saat melakukan gerakan olahraga.

Mulai gerakan dengan meletakkan bola di depan Anda. Posisi bola ada di bawah bagian tengah tubuh. Lalu merebahlah di atas bola.  Rebahkan tubuh sesantai mungkin. Agar tubuh lebih stabil, letakkan posisi ibu jari kaki di lantai. Perlahan angkat tubuh bagian atas menjauh dari bola, dengan posisi tangan dijulurkan ke depan. Tarik nafas saat mengangkat tubuh menjauh dari bola. Dalam tiga hingga lima hitungan, tahan nafas dalam posisi tubuh terangkat.

Kembali ke posisi awal, lalu ulangi gerakan ini tiga atau empat set, dengan lima kali atau hingga delapan kali hitungan setiap set sesuai kemampuan. Latihan ini bisa mengencangkan pinggul, paha dan bokong.

2. Latihan beban
Selain menggunakan bola, Anda juga bisa latihan dengan dumble berbobot ringan. Jika tidak ada dumble, gunakan benda lain seperti buku.

Lakukan gerakan dengan berdiri tegak dan pegang dumble dengan kedua tangan. Lebarkan kaki satu langkah. Perlahan turunkan badan seperti posisi duduk di kursi. Angkat kedua tangan, dekatkan ke arah depan dada Anda. Pastikan posisi paha paralel dengan lantai. Dan usahakan punggung Anda dalam posisi tegak.

Tarik nafas saat menurunkan badan, pertahankan posisi lalu tahan nafas dalam tiga hingga lima hitungan. Buang nafas saat kembali ke posisi awal. Lakukan gerakan sebanyak dua set, dengan hitungan hingga delapan kali setiap setnya. Lakukan gerakan ini dengan tubuh yang rileks. Lalu, atur pernafasan secara konsisten selama melakukan latihan beban.                

C1-10

Editor: primus

Sumber: howtodothings


47 queries