Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Kenapa Orang Dewasa Bisa Bertingkah Kekanakan

VIVAnews - Usia fisik belum tentu mencerminkan usia emosional seseorang. Itulah mengapa kita sering mendengar ada orang dewasa yang bersifat kekanakan, atau justru terkesan seperti orang tua melampaui usianya.

Kedewasaan dapat diukur dari pandangan dan perilaku saat di tempat kerja, pergaulan sehari-hari, hingga hubungan bersama pasangan. Saat memiliki kekasih, banyak orang merasa kembali seperti remaja, namun berubah menjadi ‘tua’ saat menasehati teman-teman yang sedang mengalami masalah.

“Pelacakan berapa umur kedewasaan seseorang dapat menjadi motivasi untuk membuat perubahan dalam hidup,” kata Michele Tugade, PhD, asisten profesor psikologi di Vassar College Poughkeepsie, New York seperti dikutip dari laman Self.

Dalam hal cinta, meski secara fisik berusia 20-an, secara emosional seseorang bisa mencapai usia 40-an yang ditandai dengan kebijaksanaan, lebih banyak berkompromi dengan pasangan, saling mempercayai dan bersikap jujur satu sama lain.

Namun, tak menutup potensi berubah menjadi seorang bocah ketika berurusan dengan keuangan. Usia kekanakan biasanya tercermin dari ketidakmampuannya mengontrol pengeluaran, tidak dapat membedakan kebutuhan penting, tidak mampu berinvestasi dan menabung, serta selalu berkeinginan bersenang-senang tanpa perencanaan untuk masa depan.

Menurut Tugade, lakukan identifikasi tujuan hidup yang ingin diraih dalam rentang waktu tertentu, seperti memiliki rumah atau berinvestasi. Tujuannya, agar lebih dewasa dalam menjalani hidup.

“Sehingga, saat ada keinginan bertindak seperti usia kanak-kanak, diri sendiri akan mengingatkan tujuan jangka panjang,” kata Tugade. Anda pun akan termotivasi membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab. (pet)

Baca juga: Organ Tubuh Ternyata Tak Setua Umur

• VIVAnews


Sepatu CooGee: Mirip Sepatu Mama dan Papa

KOMPAS.com – Jika Anda memperhatikan, gaya seseorang berpakaian pasti akan menyesuaikan lokasi tujuan, karakter, mood, dan tentunya, profesi. Bila yang punya profesi di bidang perbankan, biasanya sepatu akan berupa sepatu kulit formal tertutup. Sementara untuk yang pekerjaannya di bidang musik, seperti penyanyi rock, misalnya, lebih sering menggunakan sepatu yang non-formal dan gaya. Salah satu produsen sepatu anak dari Australia, CooGee, menciptakan sepatu-sepatu untuk anak yang diberi kategori sesuai profesi orang dewasa. Sepatu yang dipakai si kecil jadi mirip sepatu mama-papanya, deh.

CooGee yang mulai menjajaki pasar sepatu anak di Indonesia sejak tahun 2009 lalu memegang prinsip bahwa perkembangan terpenting pada anak terjadi sejak anak masih bayi hingga usia balita. Hal ini termasuk pula dalam masa perkembangan kaki si anak. Karena, menurut banyak literatur, ukuran kaki anak akan terus berkembang hingga ia berusia 18 tahun. Penting untuk menjaga kesehatan dan bentuk kaki sejak dini. Jika anak salah menggunakan alas kaki saat pertumbuhannya, maka bisa saja ia akan merasakan ketidaknyamanan di masa dewasa.

Dikatakan lewat siaran pers, sepatu CooGee dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan kesehatan kaki anak menggunakan teknologi terkini, material berkualitas, dan didesain untuk memenuhi kenyamanan kaki anak saat dikenakan tanpa menyakiti maupun menahan perkembangan bentuk kaki.

Selain itu, desain dari sepatu yang menargetkan anak usia 2-6 tahun ini diberikan klasifikasi per kategori profesi. Contohnya, senator, firefighter, balerina, jeweller, lawyer, doctor, chef, dan lainnya. Hal ini dilakukan CooGee untuk memberikan kesempatan kepada anak berimajinasi dan berkreasi dengan profesi, setidaknya dalam hal mendandani dirinya. Atau, kesempatan bagi si anak berdandan mirip ayah dan ibunya. Menariknya, menurut Romy Mustharom, Marketing Communication CooGee, sepatu-sepatu yang ditawarkan tidak memiliki warna-warni berlebihan atau pun gambar-gambar kartun yang kadang terlalu meriah.

Pada hari ini, Sabtu, 26 Juni 2010 ini CooGee meresmikan gerai pertamanya di Indonesia yang bertempat di area Miniapolis, Plaza Indonesia. Sepatu-sepatu CooGee ditawarkan dengan kisaran harga Rp 200.000 – Rp 500.000. Gerai sepatu yang memiliki tagline “Will Take You Places” ini berencana akan membuka gerai berikutnya di Pondok Indah Mall, Mal Puri Indah, dan di Surabaya.

NAD

Editor: NF


Swinger Sangat Berisiko Tertular Penyakit Seksual  

TEMPO Interaktif, Geleen -  Sebuah penelitian di Belanda menemukan bahwa swinger–orang dewasa heteroseksual yang suka tukar pasangan di klub seks – lebih berisiko terhadap penyakit seksual menular (PMS) dibandingkan dengan remaja dan gay atau pria biseksual; keduanya dianggap sebagai kelompok yang berisiko tinggi terjangkit herpes, HIV, dan klamidia.

“Di klinik kami, kami mulai mencatat bahwa ada beberapa orang yang menyebut diri mereka swinger yang tampaknya terkena PMS lebih sering daripada heteroseksual lainnya,” kata Anne-Marie Niekamprekan, salah satu peneliti dari Pusat Layanan Kesehatan Kemasyarakat Limburg Selatan di Geleen, Belanda. “Data ilmiah tentang topik ini tidak tersedia. Swinger tampaknya tidak hanya sebuah populasi tersembunyi dalam masyarakat tetapi juga dalam ilmu pengetahuan dan perawatan kesehatan.”

Penelitian ini dipublikasikan oleh jurnal Sexually Transmitted Infections edisi online 23 Juni 2010.

Para peneliti mengumpulkan data tentang hampir 9.000 pasien yang berkunjung di tiga klinik penyakit seksual antara tahun 2007 dan 2008. Sekitar satu dari sembilan pasien, atau 12 persen, dilaporkan menjadi seorang swinger. Rata-rata usia mereka adalah 43 tahun.

Sekitar 55 persen dari semua pasien yang diagnosis terkena klamidia dan gonorea (kencing nanah) telah diidentifikasi sebagai swinger, sementara 31 persen pria gay. Secara keseluruhan, satu dari 10 swinger terkena klamidia sementara sekitar satu dari 20 terbukti positif terjangkit gonorea.

Swinger usia di atas 45 tahun memiliki tingkat lebih tinggi terjangkit PMS ketimbang swinger di bawah 45 tahun, menurut penelitian ini.

Sekitar 10,4 persen swinger laki-laki usia di atas 45 tahun telah terjangkit klamidia dan atau gonorea, sementara pria heteroseksual lainnya yang terkena klamidia hanya 2,4 persen. Tingkat klamidia pada pria gay atau biseksual adalah 14,6 persen.

Adapun swinger wanita di atas 45 tahun, hampir 18 persen terkena klamidia, sedangkan perempuan heteroseksual lainnya 4 persen, pelacur kurang dari 3 persen.

Dr H. Hunter Handsfield, profesor kedokteran di Pusat AIDS dan Penyakit Seksual Menular Universitas Washington, mengatakan beralasan bahwa swinger mungkin lebih berisiko terhadap penyakit menular seksual daripada kelompok lain, dan bukan hanya karena banyaknya pasangan seks. Melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu orang, pada waktu atau berganti-ganti dengan cepat, mendorong penyebaran PMS, kata Handsfield.

Diperkirakan jutaan orang mempraktikkan swinger. Swingers Date Club, situs kencan untuk para swinger, misalnya, memperkirakan ada jutaan di seluruh dunia; sekitar 30.000 orang di Belanda telah mengirim profilnya secara online.

Sementara itu, Dr Cynthia Krause, ahli kebidanan dan ginekologi di Sekolah Kedokteran Mount Sinai di New York, mencatat bahwa tingkat klamidia dan gonorea di kalangan swinger perempuan enam kali lebih tinggi dari pelacur.

HealthDay News/Ngarto Februana


Media Massa, Teknologi, dan Perkembangan Mental Anak

Hari-hari terakhir ini, kita hampir tidak dapat dilepaskan dari hingar bingar berita skandal video porno mirip artis yang sudah tersebar bebas di internet. Lepas dari segala kecaman maupun berita yang disorotkan ke artis yang terlibat, kita memang perlu prihatin bahwa tersebarnya rekaman tersebut, sudah terjangkau hingga ke berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Bahkan jauh sebelum kehebohan video ini muncul, kita tentu masih ingat tersebarnya pula rekaman video seks mantan pejabat, mahasiswa, ganti baju artis, dan masih banyak lagi.

Semuanya merupakan aktivitas yang cenderung ditabukan dalam kultur masyarakat kita, terutama bagi anak-anak. Dan tidak dapat dipungkiri, kasus yang melibatkan artis-artis terkenal ini menjadi perhatian public maupun pemerintah yang cukup besar karena mereka adalah figur public, sehingga membuat lebih banyak kalangan yang cenderung ingin tahu, apa yang sedang diberitakan media massa.

Harus kita akui, di jaman yang serba modern ini, penyebaran informasi apapun, baik yang positif maupun negative, relative sulit dihindari, termasuk juga informasi-informasi yang seharusnya diperuntukkan untuk orang dewasa yang sudah siap lahir dan batin menerima informasi tersebut. Apalagi, perkembangan internet dan perangkatnya yang semakin murah dan semakin kita butuhkan untuk aktivitas sehari-hari sehingga memungkinkan akses yang semakin mudah.

Tentu tidak akan efektif bila kita sebagai orang tua, hanya sekedar melarang anak kita dan memarahinya bila kita mendapatinya sedang mengkonsumsi informasi yang tergolong dewasa, baik melalui internet, handphone, televisi ataupun alat teknologi lain, karena hal itu akan memunculkan rasa penasaran yang besar pada anak, dan ujung-ujungnya, akan mudah tergoda untuk mencari tahu dalam bentuk praktek nyata, seperti yang kebanyakan diberitakan selama ini di berbagai media massa.

Oleh sebab itu, kunci utama untuk melindungi buah hati kita dari dampak negative kemajuan teknologi, dengan tetap kita mampu memaksimalkan segi positif dari teknologi tersebut, adalah KOMUNIKASI. Seperti layaknya setiap hubungan apapun itu, termasuk hubungan antar suami-istri, KOMUNIKASI merupakan sarana yang paling efektif untuk saling memberikan masukan, saling memahami, saling memberikan pengertian, dan saling belajar satu sama lain dalam mencapai win-win solution di setiap masalah apapun.

Marah, memaksa, melarang, menghukum, maupun tindakan emosional lainnya, cenderung meningkatkan perasaan tertekan dan keinginan memberontak pada anak, yang ujung-ujungnya, akan menyulitkan orang tua dalam penanaman nilai secara tepat.

Komunikasi antar orang tua-anak yang terjalin dengan baik (artinya, anak merasa nyaman setiap kali berkomunikasi dengan orang tuanya, bukan malah tertekan atau takut), akan jauh lebih efektif untuk menanamkan nilai-nilai dibandingkan factor luar. Hanya pada saat anak tidak merasa nyaman ketika ia di rumah, itulah saatnya factor luar (teman, media massa, dll) memberikan pengaruh yang signifikan.

Lantas, bagaimana caranya ber-KOMUNIKASI yang efektif agar anak mudah memahami pengertian yang dimaksud orang tua?

Di sini, dibutuhkan KESESUAIAN antara inti informasi yang dikomunikasikan orang tua dengan perkembangan mental anak, yang umumnya mengikuti perkembangan usianya.

Tidak dapat dipungkiri, perkembangan intelektual dapat semakin cepat dan semakin dini berkat pengaruh gizi, lingkungan, maupun pola asuh. Namun sebaliknya, perkembangan mental perlu proses sinergi terus menerus antara orang tua-anak-lingkungan hingga anak mulai mampu mengambil tanggung jawab secara mandiri di masa dewasa.

Oleh sebab itu, kami sajikan beberapa tips berikut ini yang dapat dicoba orang tua dalam menanamkan nilai-nilai normative (khususnya terkait perilaku seks bebas):

1. Memanfaatkan Perumpamaan/ Metafora CINTA dan RESMI

Hal ini terutama saat anak berusia di bawah sekurang-kurangnya 7 tahun (sekitar SD kelas 2), bertanya dari mana ia dilahirkan.

  • Lebih baik orang tua menghindari jawaban yang sulit diterima akal sehat karena kelak di masa depan, anak akan sulit percaya kepada orang tua bila ternyata kenyataannya tidak seperti yang disampaikan orang tua.
  • Lebih baik orang tua memberikan jawaban dari Cinta, seperti cerita cinta dongeng Cinderella dan dari Cinta itulah, anak dilahirkan. Maka, konsep terlahir dari “Cinta”, menjadi norma yang terekam di informasi anak.
  • Di atas usia 7 th – awal masa akil balik, orang tua bisa menambahkan konsep “Cinta” tersebut dengan konsep “Resmi”, di mata agama dan hukum, seperti anak yang terlahir dari Cinta yang telah dipersatukan secara resmi oleh agama dan hukum dalam bentuk pernikahan yang sah.
  • Maka ketika anak sudah memasuki masa akil balik (remaja ke atas), nilai-nilai “Cinta” dan “Resmi” sudah terekam di kepribadian anak, sehingga selanjutnya, tugas orang tua relative lebih ringan dengan membimbing anak untuk beradaptasi dengan perubahan fungsi organ tubuh yang sudah mulai matang. Baru pada saat itulah, anak baru dapat belajar mengenai awal mula “Proses Biologis” terbentuknya kelahiran anak dengan nilai-nilai “Cinta” dan “Resmi” yang tertanam.

2. Menunjukkan kebahagiaan yang terpancar dari foto-foto perkawinan orang tua

3. Menunjukkan kebahagiaan yang terpancar dari dokumen kelahiran anak, hasil dari Cinta kasih yang diwujudkan dalam bentuk pernikahan Resmi.

4. Menekankankan dan selalu mengulang kata “Ayah dan Ibu PERCAYA sama Adik (atau nama panggilan anak), dan bahwa Adik akan selalu menggunakan kepercayaan Ayah dan Ibu dengan baik”

5. Menjelaskan bahwa perilaku seks bebas seperti yang ditunjukkan oleh artis maupun orang lain seperti yang diberitakan di berbagai media massa maupun internet, itu bukanlah “Cinta” karena tidak dipertanggungjawabkan secara “Resmi” di hadapan agama dan hukum. Maka dari itu, perilaku semacam itu, tidak akan menghasilkan kebahagiaan bagi diri sendiri.

  • Hal ini-pun berlaku ketika anak sudah menginjak remaja dan mulai menjalin hubungan pacaran, sehingga dengan nilai/ kata kunci “Cinta”, “Resmi”, maupun “Orang tua Percaya” yang telah tertanam dalam prinsip hidup anak, kondisi mental anak akan relative sudah siap untuk menjaga diri sendiri dari godaan untuk melakukan hubungan seksual sebelum waktunya, walaupun dengan pacar sendiri.

6. Yang terakhir dan tak kalah pentingnya, adalah PANUTAN dari orang tua. Tanpa “PANUTAN” yang sesuai dengan kenyataan yang dilihat anak, maka langkah 1 s/d 5 akan menjadi kurang efektif, atau lebih tepatnya, sia-sia.

Seperti sebuah pepatah mengatakan, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Demikian juga dengan perkembangan mental pada generasi muda masa datang, khususnya anak-anak kita.

Kita tidak dapat memperbaiki masa lalu, kita tidak dapat menutup diri dari perkembangan jaman, kita juga tidak dapat menghindari kemajuan teknologi yang sangat cepat, tapi kita dapat belajar dari kesalahan dan memperbaikinya demi masa depan yang lebih baik. Dan, itu semua tergantung dari diri kita masing-masing saat ini.

Selamat menjadi orang tua yang berbahagia!  ^_^

Penulis :
Siti Marini Wulandari, M.Psi., Psikolog, dan
Suwito Hendraningrat Pudiono, M.Psi., Psikolog


Mengolah Ikan Tanpa Mengurangi Nutrisinya

KOMPAS.com – Kandungan protein dalam ikan segar seperti salmon dibutuhkan tubuh, terutama untuk anak agar tumbuh berkembang lebih optimal. Asupan protein dibutuhkan 15-20 persen per harinya, dan komposisi ini juga berlaku untuk orang dewasa.

Mengenali sumber makanan, manfaat dan variasinya, bagi juru masak dan pakar kuliner sehat Chef Edwin Lau bahkan ada di urutan pertama dalam hal masak-memasak. Setelahnya, lakukan teknik memasak yang sehat tanpa tanpa digoreng dan dibakar. Lalu kreativitas akan membuat variasi makanan makin kaya.

Sayangnya, pengolahan sumber makanan dengan cara tertentu bisa menghilangkan kandungan gizinya. Untuk itu Edwin berbagi resep bagaimana mengolah ikan, agar kandungan gizi di dalamnya tidak hilang karena keliru memasaknya.

1. Makan mentah
Memakan ikan segar mentah lebih bernutrisi daripada dimasak, apalagi digoreng kering. Namun jangan sembarangan memilih ikan segar. Sebaiknya lengkapi pengetahuan memasak dengan berbagai informasi seputar bahan makanan. Termasuk cara beternaknya, dalam hal ini ikan misalnya. Lebih baik pilih ikan yang diternak secara organik.

2. Baiknya dipepes daripada digoreng

Menggoreng ikan dalam suhu tinggi atau membakar/memanggangnya di atas arang membuat nilai gizi pada ikan berkurang, bahkan hilang. Asap pada ikan bakar misalnya, berpengaruh terhadap penyerapan gizi atau nutrisi ikan itu sendiri. Sebaiknya pepes ikan agar kandungan protein terserap tubuh lebih optimal.

3. Daripada digoreng kering, lebih baik ditumis  

Menggoreng kering akan menghilangkan nutrisi pada ikan. Selain itu, menggoreng dengan minyak dengan suhu tinggi akan mengubah lemak PUFA (yang juga terkandung dalam ikan) menjadi lemak SAFA (lemak jenuh) yang berbahaya bagi tubuh dan sumber berbagai penyakit. Sebaiknya memasak ikan sebagai tumisan dengan api kecil dan tidak direndam minyak.

4. Jangan langsung bersentuhan dengan alat masak

Jikapun ingin menggoreng ikan, lapisi ikan dengan tepung roti untuk menyerap minyak. Dengan demikian ikan tidak langsung bersentuhan dengan alat masak ataupun minyak goreng.

C1-10

Editor: din


Mewaspadai Pertumbuhan Si Buah Hati  

TEMPO Interaktif, Hingga umur 3 tahun, Adit tak juga bisa bicara. Anak itu jarang bersuara. Jika bersuara, dia masih mengeluarkan suara seperti bayi berusia 6 bulan. Ayahnya, Kisman, 45 tahun, curiga ada yang salah pada putra keduanya itu. “Padahal anak seusianya sudah lancar berbicara,” kata dia.

Warga Yogyakarta itu lalu memeriksakan anaknya ke dokter. Karena tak mendapat jawaban memuaskan, dia beberapa kali ganti dokter spesialis. Ternyata ada infeksi yang mengganggu pita suara dan saluran ke otaknya. “Ketika tahu, kami sudah terlambat,” ujarnya menyesal. Kini Adit berumur 11 tahun. Dia hanya bisa mengucapkan beberapa kosakata.

Memang, menurut dokter spesialis anak, Ahmad Suryawan, Sp A (K), tak ada panduan tumbuh kembang anak yang bisa jadi patokan apakah ia normal atau tidak. “Biasanya orang tua hanya membandingkan anaknya dengan anak yang seusia,” kata staf Divisi Tumbuh Kembang Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr Soetomo, Surabaya, ini.
Sayangnya, anak yang dijadikan perbandingan belum tentu normal pula sehingga orang tua sering telat mengetahui tumbuh kembang anaknya. “Ada kesenjangan antara keadaan anak dan pengetahuan orang tua,” ujarnya.

Menurut Ahmad, otak bayi mulai tumbuh sejak usia kandungan tiga pekan. Saat lahir, berat otak seperempat otak orang dewasa, dan sudah memiliki 100 miliar sel otak (neuron). Antarsel itu saling terhubung oleh jaringan (sinaps). Jumlahnya ada 50 triliun sinaps. Pada umur 1 bulan, jaringan sinaps tumbuh mencapai 1.000 triliun.

Kecepatan berpikir otak bergantung pada jumlah sinaps ini. Sinaps baru akan terbentuk dan menguat jika anak mendapat rangsangan (stimulasi), seperti mendengar, melihat, serta meniru, dan itu dilakukan berulang-ulang. Jadi stimulasi bisa dengan suara, gerakan, musik, bicara, membaca, dan lainnya. Jika tak digunakan, sinaps akan mati atau berkurang jumlahnya dan membuat kecepatan berpikir ikut berkurang.

Stimulasi harus dilakukan sedini mungkin. Pasalnya, perkembangan otak optimal cuma sampai usia 6 tahun. “Sembilan puluh lima persen perkembangan otak manusia terjadi sebelum umur 6 tahun,” tutur Ahmad. Maka periode ini disebut periode kritis atau genting. Jika ada gangguan pada periode ini, akan berakibat kelainan permanen dan sulit disembuhkan.

Kasus Adit, misalnya. Walau diketahui pada usia balita, hal itu sudah telat, dan akhirnya menjadi kelainan permanen.

Ahmad menjelaskan, puncak perkembangan otak bayi terjadi di awal hidupnya. Pada umur 3-6 bulan, fungsi melihat dan mendengar mengalami puncak. Hasil pendengaran dan penglihatannya atas lingkungan sekitar akan digunakan untuk kemampuan bicara. Pada umur 8 bulan, giliran fungsi bicara dan bahasa mencapai puncak. “Keempat fungsi ini terhenti perkembangannya pada umur 6 tahun.”

Adapun fungsi kognitif dan inteligensia mencapai puncaknya pada usia 3 tahun. “Fungsinya mulai menurun hingga umur 15 tahun,” Ahmad melanjutkan. Selain membutuhkan stimulasi, perkembangan otak perlu didukung nutrisi. “Nutrisi dan stimulasi satu kesatuan.”
Nutrisi yang membantu dalam tumbuh kembang anak, menurut Dokter Iwan Surjadi Handoko, adalah Kolin, DHA-AA (docosahexaenoic acid- arachidonic acid), Alfa-laktalbumin, dan asam lemak esensial (Omega 3 dan Omega 6). Kolin adalah nutrisi esensial, salah satu anggota vitamin B yang larut dalam air. Gunanya untuk pertumbuhan otak dan sumsum tulang belakang. “ASI adalah sumber kolin yang baik,” kata Business Development Manager Kalbe Nutritionals ini.

DHA-AA berfungsi untuk perkembangan otak dan penglihatan. Adapun Alfa-laktalbumin adalah protein yang dominan terdapat dalam ASI–mencapai 30 persen dari total protein, sedangkan susu sapi hanya 5 persen. “Dengan paduan antara stimulasi dan nutrisi cukup, diharapkan anak-anak akan tumbuh kembang dengan baik, sehat, dan normal.”

NUR ROCHMI

Fase Tumbuh Kembang

Tumbuh kembang adalah fase hidup yang dilalui anak. Tumbuh adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.

Kembang adalah bertambahnya struktur dan kemampuan tubuh yang lebih kompleks meliputi kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara, bahasa, sosialisasi, dan kemandirian. Berikut ini ciri tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya.

0-3 bulan : Terkejut mendengar suara, mengikuti obyek dengan mata.

3-6 bulan : Berbalik telungkup ke telentang dan tertawa/menjerit kala diajak bermain.

7-9 bulan : Duduk, bermain tepuk tangan/cilukba.

9-12 bulan : Merangkak, berjalan dengan dituntun, menyentuh benda dan memasukkannya ke mulut.

12-18 bulan : Memanggil orang tuanya, berjalan-berlari, belajar makan/minum sendiri.

18-24 bulan : Bisa berdiri sambil memegang benda, menyebut beberapa kata yang memiliki arti.

2-3 tahun : Bisa membedakan mainan, bisa menendang bola sambil lari

3-4 tahun : Bisa berdiri dengan satu kaki, belajar memakai pakaian, dan bermain dengan anak lain.

4-5 tahun : Menari, senang bertanya, menggambar lingkaran atau tanda silang.

5-6 tahun : Bisa berjalan lurus. Mengenal warna, lawan kata, dan angka.

Nur Rochmi | berbagai sumber


Apakah Anda Salah Menerapkan Tabir Surya?  

TEMPO Interaktif, Jakarta – Melindungi kulit dari sengatan sinar matahari itu penting, karenanya sebagian orang, pada umumnya kaum wanita, krem menggunakan tabir surya. Menurut dermatolog Quenby Erickson dari Universitas Saint Louis, Amerika Serikat, ada sejumlah kesalahan dalam penggunaan tabir surya. “Jika Anda membeli dan memakai tabir surya, pastikan tabir surya tersebut bekerja ketika Anda pakai,” ujarnya seperti dikutip Medical News Today. Sudahkah Anda menerapkan tabir surya secara benar, berikut tips Quenby Erickson:

Terlalu Sedikit: Orang dewasa memerlukan tabir surya yang setara dengan satu gelas penuh untuk menutupi seluruh tubuh mereka. Dan pastikan untuk menutupi semua kulit yang terkena sinar matahari. Jangan lupa telinga Anda, belakang leher, bagian atas kaki, dan, jika Anda botak, ubun-ubun kepala Anda.

Terlalu Telat: Waktu itu penting. Oleskan tabir surya 30 menit sebelum keluar rumah, dan oleskan kembali setiap dua jam dan setelah berenang.

Terlalu Jauh: Jika Anda menyemprotkan tabir surya pada lengan anak, Anda mungkin tidak memberikan perlindungan sepenuhnya dari sinar matahari. Arahkan botol semprot 2-3 inci dari badan. Untuk perlindungan penuh, penting juga menggosokkan tabir surya semprot ke permukaan kulit.

Terlalu Lama: Tabir surya memiliki tanggal kedaluarsa, dan dapat menjadi kurang efektif jika sudah kedaluwarsa. Jika Anda menggunakan jumlah tabir surya yang disarankan, jangan biarkan berada di lemari terlalu lama, sehingga kedaluarsa.

Medical News Today/NF


Olah Fisik buat Si Upik  

TEMPO Interaktif, Stella berlari dengan lincah dan tak canggung. Walau tampil di panggung bersama orang dewasa dan ditonton massa, anak balita berumur empat tahun itu percaya diri. Bahkan dia dengan aksen cadelnya menyanyikan lagu Alfabet. Menurut ayahnya, Andreas Thamrin, anaknya menjadi pede setelah mengikuti kegiatan olah fisik.

Menurut dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Sri Sudaryati Nasar, SpA(K), anak balita harus diajak olahraga sejak dini. Pada umur 1-3 tahun, anak mengalami masa emas pertumbuhan (golden period).

Selama masa itu, anak mengalami perkembangan pada otak dan fisiknya. Dengan melakukan aktivitas fisik, sirkulasi darah semakin lancar ketimbang cuma berdiam diri. Dengan sirkulasi darah yang lancar, makanan akan terserap dengan sempurna dan golden periode akan semakin optimal. “Olah fisik lebih baik daripada aktivitas duduk,” kata Sri.

Dokter spesialis olahraga, dr Michael Triangto, SpKO, menyatakan, olahraga lebih baik dikenalkan sedini mungkin. “Supaya anak punya kemampuan dan ketahanan fisik yang baik,” kata dia. Perkenalan ini bisa dilakukan dengan latihan, seperti lari, lempar, dan lompat. Tiga latihan ini umumnya dikenalkan pada anak usia 1-3 tahun. “Tiga latihan ini digabungkan dalam permainan,” kata dia. Anak usia setahun sebenarnya bisa dikenalkan dengan olahraga renang. “Namun sebatas perkenalan, karena anak biasanya suka bermain air,” dia melanjutkan.

Menurut instruktur gymnastic, Eva Butarbutar, anak kecil di bawah umur tiga setengah tahun bisa diajari pre-gymnastic. “Latihan ini dilakukan dengan melatih aktivitas rabaan,” ujar instruktur dan direktur program gymnastics di tempat permainan anak “I Like Gym” ini. Anak berumur lebih dari tiga setengah tahun bisa mulai dengan gymnastic, yakni memakai alat-alat. “Ini bisa melatih saraf motoriknya,” kata pemenang tiga kali medali emas gymnastic SEA Games ini.

Senada dengan Eva, dr Michael menyatakan, jika latihan lari, lempar, dan lompat sudah bagus, bisa ditambah dengan latihan keseimbangan serta kelincahan. “Biasanya dengan sepeda,” kata dia. Ini biasanya terjadi pada anak umur 4-6 tahun. “(Anak) umur enam tahun biasanya saraf koordinasinya sudah bisa jalan,” kata dia. Tapi jangan diajak berolahraga berat. “Karena otot anak masih kecil, belum kuat seperti orang dewasa, ” kata Michael.
Sri menyatakan, jenis olah fisik bisa disesuaikan dengan usia dan kemampuannya. “Dan intensitasnya jangan intensif,” kata dia. Selain olah fisik, kata Sri, anak perlu tambahan asupan gizi. Asupan ini disesuaikan dengan berat badan dan tinggi badan si anak. “Kalau kurus, harus ditambah,” kata Sri.

Olah fisik, kata Sri, juga berguna agar waktu si anak tak dihabiskan di depan televisi atau main game. Saat ini jamak ditemukan anak kecil sudah akrab dengan permainan PlayStation, telepon seluler, televisi, dan Internet. Keberadaan teknologi ini membawa dampak negatif. “Gerakan kurang, tapi banyak ngemil,” kata dia. Untuk menjaga anak dari efek negatif teknologi, orang tua harus bijak. Waktu aktivitas anak dengan permainan teknologi harus dibatasi. “Jangan lama-lama nonton TV, maksimal 1-2 jam,” kata dia. | nur rochmi

Agar Cedera Tak Mendera

Setiap melakukan kegiatan olah fisik, kecelakaan yang berakibat cedera mungkin saja terjadi. Untuk itu, diperlukan sejumlah langkah agar anak tak didera cedera saat melakukan olah fisik. Berikut ini tip dari dr Michael Triangto, SpKO.
- Batasi latihan sesuai dengan kemampuan anak.
Anak memang suka bermain, tapi harus dilihat kemampuannya. Jika olah fisik yang dikemas dalam permainan melampaui batas kemampuan anak, hal itu perlu dibatasi.
- Gunakan alat pengaman.
Jika olah fisik dilakukan di area yang keras, gunakan alat pengaman (helm dan pengaman siku/lutut) pada anak.
- Ketahui prinsip RICE (rest, ice, compression, dan elevating) penanganan pada cedera. Jika anak cedera, segera istirahatkan (rest), dikompres dingin (ice), ditekan (compress) supaya tak tambah bengkak, dan lokasi bengkak ditinggikan (elevating), agar rasa sakit tak bertambah.

| nur rochmi


Gelang ‘Ajaib’ Sarah Jessica Parker

VIVAnews - Ingin bergaya dengan gelang ikonik sekaligus memiliki aroma segar seperti Sarah Jessica Parker? Anda mungkin tertarik menggunakan gelang kinclong warna emas pemeran Carrie Bradshaw di ‘Sex and the City’ ini. 

Tak seperti gelang kebanyakan, aktris yang akrab disapa SJP ini mengeluarkan aroma parfum terbaru berbentuk parfum padat dalam wadah gelang trendi. Parfum sekaligus gelang yang dinamakan ‘SJP NYC’ memiliki aroma stroberi liar berpadu dengan wewangian bunga.

Aroma sensual parfum SJP NYC mengingatkan pada aroma lipgloss remaja dengan wangi yang diperlembut. Aroma parfum multifungsi memuat aroma lebih lembut yang bisa dipakai orang dewasa.

Menurut produsennya, SJP NYC merupakan jenis parfum musim panas yang sempurna digunakan untuk acara siang maupun malam. Ditambah lagi, bentuk gelang mempermudah mengoleskan parfum seharga US$ 35 (sekitar Rp 300 ribu) tersebut.  (umi)

• VIVAnews


Stres di Kantor Picu Asma

VIVAnews - Memiliki pekerjaan yang kompleks dengan setumpuk tugas rentan memicu stres. Tanpa sadar, mereka yang sulit meninggalkan beban pekerjaan di kantor semakin berisiko mengidap asma.

Seperti dikutip laman Dailymail, studi menunjukkan bahwa tekanan pekerjaan dapat memicu pengembangan asma di usia dewasa. Meskipun kebanyakan berkembang pada anak usia pertumbuhan, namun jumlah yang signifikan terdiagnosis pada orang dewasa.

Penelitian dari Universitas Heidelberg di Jerman menunjukkan, stres di tempat kerja menjadi salah satu jawabannya. Penelitian dilakukan terhadap 5.000 pria dan wanita usia antara 40 dan 65 tahun selama delapan tahun.

Seluruh responden bebas dari penyakit asma pada awal penelitian. Namun, setelah delapan tahun penelitian, sebanyak 40 persen responden dengan beban kerja yang berat mengalami asma. Responden yang terdeteksi asma umumnya memiliki jam kerja yang panjang, tertekan dengan pekerjaan, kondisi kerja yang tidak nyaman, dan tidak memiliki kemampuan santai selepas pulang kerja pada malam hari.

“Studi kami menunjukkan stres kerja dan ketidakmampuan untuk bersantai bekerja setelah berhubungan dengan peningkatan risiko asma.” Demikian kesimpulan penelitian yang termuat dalam Jurnal Alergi.

Penelitian sebelumnya menunjukkan, stres menyebabkan pelepasan bahan kimia yang mendorong alergi dan mengganggu cara tubuh menghentikan radang pada saluran udara. (umi)

• VIVAnews


51 queries