Panduan Menu Makanan Bayi s/d Balita
Powered by MaxBlogPress 

[X]


KB Suntik Bikin Bau Badan?

KOMPAS.com – Entahlah apakah Anda merasa mengalaminya, namun sebuah studi baru mengungkapkan bahwa perempuan yang menggunakan alat kontrasepsi membuat penampilannya kurang menarik. Dikhawatirkan, hal ini bikin pasangan jadi kurang hangat. Payah deh.

Metode kontrasepsi yang diperkirakan memberikan efek semacam ini adalah KB suntik, yang dapat mempengaruhi aroma tubuh perempuan. Penemuan ini diperoleh setelah dilakukan pengujian terhadap 12 lemur betina (binatang dari rumpun primata yang ekornya belang-belang) di Madagaskar.

Setiap bulan, hewan-hewan ini diberi injeksi dengan satu dari suntikan KB paling laris, yang biasa disebut Depo-Provera. Selama pengujian tersebut, hasilnya menunjukkan bahwa lemur mengeluarkan molekul bau-bauan yang berbeda, dan sesudahnya “ditolak” oleh lemur jantan dalam kelompoknya.

Tentang hal ini, penulis studi Prof Christine Drea kini sedang mempertimbangkan apakah pria pun bisa dipengaruhi oleh aroma tubuh pasangannya, dengan cara yang sama dengan penelitian terhadap lemur tadi. Peluangnya sih ada, karena kelompok kampanye kesehatan Inggris yang bernama Wellbeing of Women ternyata setuju bahwa aroma tubuh memainkan peran penting dalam interaksi manusia.

“Pengaruh pheromone (hormon pengikat pria) pada manusia tidak bisa diremehkan,” begitu menurut juru bicara Wellbeing of Women.

Meskipun demikian, menurut sang juru bicara, berhubung penelitian ini baru dilakukan terhadap binatang, untuk menguji hipotesa tersebut jelas perlu dilakukan penelitian lanjutan terhadap manusia.

Para pakar Inggris pun segera meminta agar penelitian lanjutan segera dilaksanakan. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, mereka juga menyarankan perempuan untuk memperhatikan perawatan diri saat menggunakan alat kontrasepsi hormonal. Pihak Wellbeing of Women sendiri juga mendesak perempuan untuk mendiskusikan risiko, manfaat, dan pilihan-pilihan alat KB-nya dengan dokter.

DIN

Editor: din

Sumber: Marie Claire


Agar Pernikahan dan Pekerjaan Bertahan Bersama  

TEMPO Interaktif, Jakarta – Dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta, seorang konsultan karir dan keuangan, yang menjadi narasumber, mengatakan: “Jangan jadikan gaji dari kantor sebagai satu-satunya sumber penghasilan.” Kalau kantor atau perusahaan tempat dia bekerja tutup, ia akan mengalami kesulitan keuangan. Apalagi jika istrinya tidak bekerja, atau sebagai ibu rumah tangga.

Ketika seorang karyawan terkena pemutuhan hubungan kerja (PHK), satu sumber penghasilan itu pun berhenti. Masih mendingan jika istrinya membuka usaha sendiri. Ia bisa bergabung dengan istri untuk menjalankan bisnisnya bersama-sama. Bagaimana agar pernikahan dan pekerjaan yang dilakukan bersama-sama itu bisa bertahan bersama-sama pula?

Kolumnis The Wall Street Journal, Sue Shellenbarger, menemukan sejumlah pasangan suami-istri yang mengelola bisnis bersama-sama setelah si suami atau istri terkena PHK. Suami bergabung dengan bisnis istrinya, atau istri turut menjalankan bisnis suami, setelah terkena PHK. Shellenbarger menekankan: “Hal ini perlu dipikirkan cara untuk menjaga agar pernikahan tetap sehat.”

Seorang suami, yang ditemui Shellenbarger, menceritakan bahwa ia harus memberi istrinya sebuah review kinerja. Dan hal itu dirasa sebagai percakapan yang sangat sulit. “Saya sudah siap muntah,” tutur si suami itu.

Pasangan lain yang ditemukan, setelah membuka toko yoghurt bersama, gaya manajemen mereka bentrok. Si suami lebih suka memainkan peran seorang manajer, sementara istrinya mengambil pendekatan untuk menangani sendiri pekerjaan, seperti mengepel lantai, bukannya memerintahkan orang lain untuk melakukannya.

Ketika perbedaan-perbedaan mereka menyebabkan ketegangan, mereka menyelesaikan masalah dengan memisahkan hari kerja; suami bekerja siang dan istri bekerja malam hari. Pasangan ini mengatakan bekerja sama telah membawa mereka lebih dekat.

Semua pasangan setuju bahwa batas-batas perusahaan sangat penting untuk menjaga perkawinan sehat ketika Anda bekerja bersama-sama. Pertama, mereka membagi tanggung jawab di tempat kerja, membuat deskripsi pekerjaan yang terpisah dan mencoba untuk menghindari gangguan dengan pekerjaan masing-masing. Dan di rumah, mereka setuju satu sama lain dilarang bicara bisnis di kamar tidur. Yang lain membuat suci meja makan, hanya untuk percakapan keluarga. Merencanakan sebulan sekali piknik luar kota, dengan sedikit mungkin bicara bisnis.

NF/The Wall Street Journal


Kenapa Orang Dewasa Bisa Bertingkah Kekanakan

VIVAnews - Usia fisik belum tentu mencerminkan usia emosional seseorang. Itulah mengapa kita sering mendengar ada orang dewasa yang bersifat kekanakan, atau justru terkesan seperti orang tua melampaui usianya.

Kedewasaan dapat diukur dari pandangan dan perilaku saat di tempat kerja, pergaulan sehari-hari, hingga hubungan bersama pasangan. Saat memiliki kekasih, banyak orang merasa kembali seperti remaja, namun berubah menjadi ‘tua’ saat menasehati teman-teman yang sedang mengalami masalah.

“Pelacakan berapa umur kedewasaan seseorang dapat menjadi motivasi untuk membuat perubahan dalam hidup,” kata Michele Tugade, PhD, asisten profesor psikologi di Vassar College Poughkeepsie, New York seperti dikutip dari laman Self.

Dalam hal cinta, meski secara fisik berusia 20-an, secara emosional seseorang bisa mencapai usia 40-an yang ditandai dengan kebijaksanaan, lebih banyak berkompromi dengan pasangan, saling mempercayai dan bersikap jujur satu sama lain.

Namun, tak menutup potensi berubah menjadi seorang bocah ketika berurusan dengan keuangan. Usia kekanakan biasanya tercermin dari ketidakmampuannya mengontrol pengeluaran, tidak dapat membedakan kebutuhan penting, tidak mampu berinvestasi dan menabung, serta selalu berkeinginan bersenang-senang tanpa perencanaan untuk masa depan.

Menurut Tugade, lakukan identifikasi tujuan hidup yang ingin diraih dalam rentang waktu tertentu, seperti memiliki rumah atau berinvestasi. Tujuannya, agar lebih dewasa dalam menjalani hidup.

“Sehingga, saat ada keinginan bertindak seperti usia kanak-kanak, diri sendiri akan mengingatkan tujuan jangka panjang,” kata Tugade. Anda pun akan termotivasi membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab. (pet)

Baca juga: Organ Tubuh Ternyata Tak Setua Umur

• VIVAnews


Bahaya Film Komedi Romantis

VIVAnews - Film komedi romantis adalah genre film yang banyak disukai kaum hawa. Ceritanya yang lucu dan romantis memang sangat menghibur. Tetapi, hiburan selama 90-120 menit tersebut ternyata bisa berdampak negatif pada hubungan cinta Anda dan pasangan. Hal itu menurut survei yang dilakukan pada 1.000 warga Australia.

Dari hasil survei diketahui hampir setengah partisipan mengungkap akhir cerita bahagia dari film komedi romantis telah merusak pandangan mereka tentang hubungan yang ideal. Satu dari empat responden mengatakan sekarang mereka ‘dipaksa’ untuk mengetahui apa yang dipikirkan pasangan.

Sedangkan, satu dari lima responden wanita mengharapkan bisa menerima hadiah atau bunga dari pasangan tanpa alasan istimewa.

“Percintaan dalam film komedi romantis menjadi isu universal bisa membuat wanita ‘kecanduan’ terhadap pemikiran ‘hidup bahagia selamanya’. Masalahnya, hal itu dapat memberikan dampak buruk yang mempengaruhi pandangan seseorang tentang hubungan sebenarnya dalam kehidupan nyata,” kata Gabrielle Morrissey, konselor hubungan asal Australia seperti dikutip dari NY Daily News.

“Hubungan cinta yang sebenarnya membutuhkan usaha dan kompromi. Hal itu lebih dibutuhkan daripada sebuket bunga atau hadiah sebagai tanda cinta,” katanya menambahkan.

Survei tersebut dilakukan oleh  Warner Home Video sebagai peluncuran film “Valentine’s Day” dalam kemasan DVD.

Baca juga: 10 Hal yang Bikin Pria Makin Cinta

 

 

 

 

• VIVAnews


6 Alasan Terjadi Perceraian

KOMPAS.com – Ada begitu banyak alasan bercerati, tetapi banyak pula jalan untuk menghindari alasan-alasan ini. Mungkin saja alasan-alasan perceraian yang dikemukakan di sini sedang terjadi dalam pernikahan Anda.

Untuk mencegah terjadinya mimpi buruk dalam setiap kehidupan rumah tangga, mari pahami apa saja penyebab dalam perceraian.

1. Macetnya Komunikasi
Tak ada hubungan harmonis tanpa komunikasi yang baik. Misalnya karena secara intelektual tak seimbang, pribadi terbuka yang berhadapan dengan pribadi tertutup, dan lain-lain.

2. Kurang Komitmen
Jangan berpikir kendurnya komitmen hanya terjadi pada mereka yang menikah tanpa cinta. Yang sebelumnya berpacaran bertahun-tahun pun bisa mengalami hal ini.

Biasanya ini terjadi karena salah satu pasangan atau bahkan keduanya tidak siap dengan kenyataan yang diperoleh ketika sudah menikah. Dari mulai kebiasaan, sifat asli, hingga tanggung jawab yang membesar. Jika salah satu tak dewasa, bukan tak mungkin perselingkuhan terjadi.

3. Uang yang Timpang
Uang memang masalah sensitif tapi tak membicarakannya hanya memperburuk keadaan. Jika suami tak memberi nafkah atau istri hidup tak imbang dengan penghasilan, sering juga memicur perceraian. Akibatnya, keduanya merasa tak nyaman dan tak adil membagi kewajiban, juga hak.

4. Kekerasan
Apa pun itu, kekerasan secara fisik, seksual, atau mental tidak bisa ditoleransi meski dilakukan oleh orang yang katanya mencintai kita. Jika benar cinta, mustahil ia mau menyakiti pasangannya.

5. Hasrat Seksual Tak Imbang
Hubungan intim tak sekadar perkara kewajiban dalam rumah tangga, melainkan perekat pernikahan. Pasangan yang memiliki libido seks tinggi, sementara istri atau suaminya tak bisa memenuhi keinginannya, cenderung tidak puas dan bahagia dengan pernikahannya. Ketidaksetiaan pun muncul dari sini, dan tak jarang bercerai adalah keputusan yang diambil.

6. Intervensi Orang Dekat
Pernikahan sudah ramai dengan dua orang, apalagi jika keluarga besar hingga teman ikut mencampuri. Seringnya masalah ini memicu perceraian karena salah satu pasangan tak merasa nyaamn dan tak mandiri dalam hubungannya.

Masalah-masalah ini memang hanya gambaran tapi patut diwaspadai untuk mencegah perceraian terjadi. Apalagi jika 6 masalah ini sedang terjadi pada rumah tangga Anda.

Ingat, pernikahan tak hanya butuh cinta, ia butuh kerja keras berkali-kali lipat dan kompromi luar biasa.

(Astrid Isnawati/Tabloid Nova)

Editor: NF


Pria Tak Setia Saat Pasangannya Sakit?

VIVAnews – Kesetiaan pasangan Anda ternyata bisa di tes. Apalagi saat salah satu dari Anda sedang diuji dengan salah satu penyakit. Dari sini kesetiaan pasangan bisa diketahui.

Seperti dikutip dari laman shineyahoo.com, sebuah survei mengungkap bahwa hampir 25 persen dari suami meninggalkan istri mereka setelah mengetahui pasangnnya didiagnosis dengan penyakit mematikan seperti kanker. Dari statistik ini juga diketahui, biasanya mereka yang mengalami cobaan berat dalam hidup seperti ini, akan mengalami gonjang ganjing kesetiaan.

Namun, dari survei juga diketahui dibanding dengan pria, wanita sebagai istri diketahui lebih setia, hanya 3 persen wanita meninggalkan suami mereka dalam keadaan sakit.

Kebanyakan pria pun diketahui tidak telaten saat memberikan perawatan pada pasangannya yang dalam keadaan sakit. Bukan saja kepada pasangan, termasuk pada anak dan orangtuanya sendiri.

Dari penelitian ini pun terungkap bahwa kebanyakan pria tidak dibesarkan untuk menjadi perawat. Rata-rata pria lebih mengutamakan kepentingan seksnya.

Sebagai tambahan mereka mungkin takut mengakui kematian mereka dan Anda, dan mereka mungkin takut bagaimana suatu penyakit mematikan seperti kanker akan mempengaruhi kehidupan seksnya. Maka tak heran jika banyak pria yang memutuskan untuk menikah lagi setelah ditinggal sang istri.

Seperti diketahui, banyak anak laki-laki yang ingin selalu bercita-cita menjadi pahlawan. Dan disaat menghadapi cobaan sang istri tengah berjuang melawan penyakit, sesungguhnya disitulah perannya sangat dibutuhkan sekaligus untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pahlawan keluarga.

Adanya cobaan dan ujian pernikahan dari suatu penyakit bisa bisa menguji kesetiaan cinta manusia. Dan tak jarang dari mereka yang mengalaminya mengalami krisis cinta yang butuh banyak dukungan dan pikiran optimis.

Suami yang paling baik akan menunjukkan dan mengatakan istri mereka betapa istimewanya , betapa mereka dihargai dan dicintai. Merawatnya dengan baik dikala sakit adalah kesempatan untuk menunjukkan cintanya pada Anda, bahkan bisa menjadi obat mujarab bagi si penderita penyakit untuk tetap semangat dan sembuh dari penyakit.

“Tidak ada yang mengatakan ini akan mudah, tetapi suatu kekuatan akan timbul dari semangat yang diberikan seseorang dengan tulus.” kata penulis Brenda yang juga sebagai survivor penderita kanker.

• VIVAnews


Mengukur Sehatnya Hubungan dari Obrolan

KOMPAS.com – Merasa hubungan kita dengan kekasih hati tak berjalan ke mana-mana? Penasaran apa yang mengganjal, padahal segala upaya untuk meningkatkan kualitas hubungan sudah dilakukan? Coba telisik dengan topik apa saja yang kita pilih sebagai bahan pembicaraan, karena ternyata ini bisa mendeskripsikan ke mana hubungan kita akan berjalan.

Sebuah penelitian yang dipublikasi di Psychological Science mengungkapkan, sebenarnya sebagian besar dari kita justru merasa nyaman ketika berbicara mengenai topik-topik ringan. Ini disimpulkan setelah mengamati 79 orang perempuan yang berusia 20-25 tahun. Mereka diamati ketika berkumpul bersama pasangannya, kemudian dilihat apa saja yang dibicarakan selama pertemuan berlangsung.

Hasilnya 10 persen dari mereka merasa menikmati perbincangan ketika isu yang dibahas adalah hal-hal ringan. Ketika mulai membicarakan isu-isu yang berat, yang merasa tidak puas mencapai 28,3 persen. Alhasil, mereka tidak menemukan chemistry yang pas untuk membina hubungan.

Semakin ingin tahu perbincangan apa saja yang bisa membuat kita nyaman menghabiskan waktu bersama pasangan? Coba telisik trik mudah berikut ini:

1. Cerita kejadian memalukan. Setiap orang pasti pernah mengalami hal yang tak ingin dialami dua kali, tapi jika kita mengingatnya selalu saja meninggalkan senyum di wajah. Penelitian yang melibatkan 79 orang ini juga menyimpulkan, ketika kita berani berbagi cerita tak terlupakan pada pasangan, maka kita telah membuka diri. Ini adalah sinyal bagi pasangan untuk menerima keberadaan kita. Jangan takut, biasanya trik ini akan membuat pasangan bercerita mengenai hal yang sama. Dan bisa jadi lebih menggelikan dari yang kita alami.

2. Cerita masa kecil. Coba pancing pasangan kita untuk bercerita permainan apa yang disukainya saat itu. Apakah dia termasuk anak yang suka dipanggil kepala sekolah, atau justru anak yang jauh dari masalah? Biasanya ini akan membuat dia bercerita banyak, plus mungkin kita ikut terpancing. Karena, akui saja, sebenarnya kebanyakan dari kita suka kembali ke memori menggemaskan ini.

3. Cerita film atau acara televisi kesukaanEntertainment akan selalu menarik untuk dibahas. Mulai dari jalan cerita film, pemeran utamanya, hingga adegan atau episode mana yang mengesankan. Selain isunya yang ringan, trik ini juga akan membantu kita melihat bagaimana pasangan memberikan penilaian terhadap satu hal. Inilah cara menyenangkan untuk menyingkap salah satu karakter pasangan.

4. Cerita mengenai keluarga. Ketika kita membebaskan pasangan bercerita mengenai keluarganya, kita bisa mengetahui apa yang menjadi kebiasaan dari keluarganya. Ini akan membuat kita mengerti bagaimana proses pembentukan karakter yang dilaluinya.

Jika perbincangan-perbincangan ringan ini menarik perhatian dan membuatnya membuka diri terhadap kita, itu tandanya kita bisa mengajak pasangan untuk naik ke level selanjutnya dari sebuah hubungan. Selamat mencoba.

(Siagian Priska/Prevention Indonesia)

Editor: din


Banyak Jalan Menuju Langsing

VIVAnews - Senam dan olahraga di pusat kebugaran dapat membakar kalori dan melangsingkan tubuh. Demikian halnya dengan aktivitas yang meningkatkan metabolisme tubuh seperti bekerja dan melakukan hubungan seks dengan pasangan. Tetapi adakah cara lain menurunkan berat badan?

Tenang, masih banyak cara menuju langsing. Anda bisa melakukan lima hal mudah berikut untuk memiliki tubuh idaman.

1. Minum kopi
Minum kopi panas atau dingin mempercepat laju pembakaran kalori.

2. Sarapan rutin
Sarapan lebih sehat dibandingkan dengan makan malam. Selain makanan kaya serat, dianjurkan untuk makan sarapan hangat. Pasalnya, sarapan hangat membantu membakar lemak lebih banyak. Karena sinyal yang masuk ke otak menyatakan pada pagi hari tubuh tidak terlalu lapar sehingga tidak menyimpan kelebihan lemak.

3. Tertawa
Tertawa selama 10-15 menit tiap hari akan membakar sekitar 50 kalori. Jika Anda ingin merasa efek tertawa seperti olahraga, bersenang-senang dan tertawalah lebih banyak.

4. Marah
Seperti tertawa, marah memberi pengaruh sama halnya saat berada di pusat kebugaran atau jogging. Studi menunjukkan marah dapat meningkatkan metabolisme dan aktivitas fisik.

5. Berjalan kaki
Walaupun sangat sederhana, berjalan sangat membantu membentuk tubuh ideal. Bersejalan kaki beberap blok dari kantor tanpa hak tinggi cukup untuk membakar kalori berlebihan. Dan, jangan malas menggunakan tangga.

Baja juga: 15 Diet Terunik Sepanjang Sejarah & Diet Unik Selebriti Hollywood

• VIVAnews


Gairah Tetap Menggebu Bagi Pasangan Sibuk

VIVAnews – Setelah seharian aktif bekerja di kantor seringkali membuat kita merasa sudah tak lagi punya daya maupun kemauan untuk berhubungan intim dengan pasangan. Akibatnya, suami atau istri tercinta bisa merasa tersinggung.

Bisa jadi tidur bersama tak lagi hangat oleh pelukan mesra, melainkan saling beradu punggung atau bahkan bisa berakhir dengan pisah ranjang.

Tak mau kan merasakan situasi demikian? Kuncinya adalah mengatur jadwal bercinta. Menurut pakar seks dan penulis buku “Sex in Marriage: Better Sex in Marriage.”, Christopher J. Gearon, membuat jadwal hubungan intim dengan suami atau istri merupakan elemen penting bagi kelanggengan perkawinan.

Praktekkan resep bercinta berikut ini agar hasrat bercinta Anda dan pasangan terus menyala, seperti dikutip About.com.

- Jangan sungkan-sungkan ungkapkan perasaan dan ide-ide Anda mengenai hubungan seks secara mesra, termasuk mengusulkan variasi jam untuk memulai bercinta. Tentu harus disesuaikan dengan jam pulang kerja agar kondisi fisik bisa siap.

- Jangan terjebak ke dalam perangkap pemikiran bahwa membuat jadwal hubungan intim lama-lama bisa bikin bosan.   

- Jangan egois! Hargai juga jadwal kerja atau keseharian pasangan. Namun, pastikan jadwal beraksi ‘nakal’ bisa pas satu sama lain sedikitnya dua kali sepekan.
 
- Kalau sudah punya anak, lihat juga jadwal kegiatan Anda dan atau pasangan dengan si buah hati.

- Jangan sengaja buat jadwal yang Anda atau pasangan tahu bakal tidak bisa dipenuhi karena ada kegiatan penting.

- Kalau bisa, cobalah sebulan sekali berduaan di rumah atau di tempat lain tanpa anak-anak. Metode ‘one-night stand‘ ini baik bagi kelangsungan perkawinan Anda dengan pasangan.

• VIVAnews


Jutaan Wanita ‘Menjanda’ Selama Piala Dunia

VIVAnews - Lebih dari 11 juta perempuan diperkirakan menjadi ‘janda’ selama perhelatan Piala Dunia 2010. Pasalnya, pria lebih banyak menghabiskan waktu untuk menonton sepakbola daripada untuk pasangannya.

Sebanyak 47 persen dari 4.000 wanita berpasangan berusia 16-65 tahun yang mengikuti jajak pendapat mengaku menyiapkan kesabaran mulai pembukaan hingga final pesta sepakbola dunia yang berlangsung empat tahun sekali itu.

Satu dari setiap lima wanita yang menjadi responden mengatakan tidak tertarik menonton pertandingan bersama pasangan. Sementara seperempat lainnya mengharapkan pasangan mengurangi aktivitas menonton bola hingga 50 persen.

Setengah responden yang tinggal serumah mengatakan harus mengorbankan acara televisi favorit demi memberi kesempatan suami menyaksikan perebutan trofi Piala Dunia. Dan, sebanyak 45 persen responden memutuskan tidak tertarik membicarakan sepakbola bersama pasangan.

Satu dari setiap enam wanita menyatakan  akan menerima ciuman dan pelukan lebih sedikit. Satu dari setiap 12 wanita juga khawatir, hajatan yang berlangsung selama sebulan di Afrika Selatan itu akan menurunkan frekuensi hubungan seksual.

Juru bicara Indesit, yang mengadakan survei, mengatakan, bagi sebagian wanita, ajang Piala Dunia menciptakan masa sulit bagi kehidupan mereka. “Banyak wanita yang tidak gemar sepakbola merasa tertekan dengan 64 pertandingan yang berlangsung selama empat minggu. Inilah waktu kesabaran mereka diuji,” katanya seperti dikutip dari Female First.

Sebagian besar wanita dan para istri akan dibebani melakukan pekerjaan rumah tangga, memasak, mengurus anak-anak, dan mengatur keuangan seorang diri. Sedangkan sang suami larut dalam piala dunia dan menganggap pasangan mampu melakukan semuanya. “Jadi, bisa dimengerti para istri dan pasangan yang bukan penggemar bola menginginkan Piala Dunia segera berakhir agar kehidupan mereka kembali normal.”

• VIVAnews


Next Page »

49 queries