ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Ini yang Dipelajari Bayi Sebelum Muncul ke Dunia

Banyak penelitian sudah membuktikan bahwa bayi sudah mulai bisa belajar semenjak dalam rahim ibu. Lantas apa saja yang bisa dipelajari bayi sebelum lahir?

Studi prenatal (sebelum kelahiran) menunjukkan bahwa pembelajaran telah dimulai bahkan sebelum bayi dilahirkan ke dunia. Sebelum lahir, janin yang ada di rahim ibu sudah bisa belajar mengenal suara, rasa dan getaran di dalam rahim yang kemudian akan dibawanya sebagai kenangan setelah lahir. Janin juga sudah bisa mengenal emosi yang berasal di ibunya.

Psikolog William Fifer dari Columbia University menemukan bahwa bayi memasuki dunia dengan preferensi khusus setidaknya dengan dua suara, yaitu detak jantung ibu dan suaranya sendiri. Inilah yang menyebabkan bayi lebih suka mendengar suara ibunya sendiri ketimbang suara wanita lain.

Studi lain juga menemukan bahwa bayi yang baru lahir akan mengenali irama dari kata-kata atau nyanyian yang disenandungkan berulang kali oleh ibunya selama bulan-bulan kehamilan. Karena itu, banyak dokter kandungan yang merekomendasikan agar ibu sering menyanyikan lagu favoritnya pada bulan-bulan kehamilan. Ibu harus terus menyanyikan lagu yang sama setelah lahir agar bayi benar-benar merasa berasa di tempat yang sudah akrab dengannya.

“Bayi juga ingat rasa makanan yang tersedia di rahim ibu. Jika ibu makan bawang putih, maka rasa itu juga akan ada dalam cairan ketuban dalam rahim. Berbagai rasa dari makanan yang dimakan ibu juga akan diintegrasikan ke dalam air susu ibu (ASI). Pengenalan awal rasa dapat membentuk dasar dari beberapa piliahn makanan ketika anak tumbuh nanti,” jelas Julie Mennella dari Monnel Chemical Senses Center, Philadelphia, seperti dilansir mindpub, Selasa (13/12/2011).

Pengenalan rasa sejak janin dalam kandungan juga akan menentukan makanan apa yang akan disukai dan tidak disukai bayi. Itulah sebabnya, saat hamil sebaiknya ibu makan makanan yang sehat dan memperbanyak sayuran dan buah, sehingga kelak sang anak tidak menolak saat diminta makan sayur.

Hal lain yang dipelajari janin adalah getaran. Pada kehamilan 26 minggu, janin akan bergerak ketika getaran diberikan pada perut ibu. Tapi setelah getaran diberikan secara berulang, janin tidak akan bergerak lagi. Namun jika tipe getaran baru yang diberikan, janin akan kembali bergerak untuk meresponsnya. Ini menunjukkan bahwa janin dalam rahim dengan pengalaman.

Sebagian besar perilaku bayi yang baru lahir dapat ditelusuri ke perilaku yang hadir selama masa kehamilan. Sebagai contoh, beberapa janin suka mengisap jempol dan mereka akan terus melakukannya setelah lahir.

Selain itu, bayi juga belajar secara emosional dalam menanggapi lingkungan sebelum lahir. Bayi memasuki dunia ini dengan kecenderungan emosional tertentu. Kecenderungan-kecenderungan emosional tidak sepenuhnya berasal dari gen yang diwariskan, karena lingkungan juga berperan dalam membentuk kecenderungan emosional anak.

Keadaan emosional pikiran dan kesehatan fisik ibu selama kehamilan merupakan lingkungan ibu untuk bayi. Itulah sebabnya mengapa stres yang berlebihan atau depresi yang dialami oleh ibu hamil dapat mempengaruhi bayi dalam rahim. Bayi mungkin akan memasuki dunia ini dengan emosional yang sama dengan keadaan ibu saat hamil.

Temuan tentang kemampuan belajar dan memori bayi selama periode kehamilan dan pengaruh lingkungan ibu pada bayi yang belum lahir, membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk keluarga.

Seorang ibu harus melakukan yang terbaik untuk meminimalkan tingkat stres dan tetap dalam suasana hati yang bahagia dan positif selama kehamilan. Seorang ayah harus melakukan yang terbaik untuk memberikan dukungan emosional yang maksimal kepada ibu hamil untuk membantu memberikan kemampuan yang luar biasa bayi ketika lahir ke dunia.
Sumber : “Merry Wahyuningsih – detikHealth”


Makan Bersama Keluarga – Apa Masih Jamannya?

Seberapa penting sih makan bersama keluarga itu? Di jaman yang serba sibuk ini, memang susah sekali untuk meluangkan waktu untuk duduk dan makan bersama anggota keluarga. Dengan kesibukan masing-masing dan waktu pulang yang tidak bersamaan, pasti sulit sekali untuk mengatur waktu.

Ternyata, baru-baru ini ada penelitian yang dilakukan oleh University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika, yang menemukan hubungan yang erat antara makan malam keluarga dengan obesitas. Fakta yang ditemukan oleh tim ini setelah menganalisa 17 studi kasus mengenai obesitas, gangguan makan dan makan bersama keluarga adalah anak-anak yang orang tuanya terbiasa untuk makan malam bersama memiliki resiko lebih rendah untuk mengalami gangguan makan dan obesitas.

Hasil yang lebih terperinci dari penelitian ini adalah anak yang duduk makan bersama keluarga paling kurang dua atau tiga kali seminggu memiliki kemungkinan 12 persen lebih rendah untuk angka mengalami overweight. Juga kemungkinan 20 persen lebih rendah untuk angka anak mengalami gangguan makan. Kebiasaan untuk duduk makan malam bersama keluarga juga akan mengurangi kemungkinan anak makan junk food sebanyak 20 persen dan 24 persen peningkatan dalam jumlah anak yang mengkonsumsi makanan sehat.

Bukan hanya itu, kebiasaan makan bersama juga membantu kesehatan mental anak-anak remaja. Kebiasaan ini membantu meningkatkan kualitas komunikasi antara remaja dan orang tua menjadi lebih baik, yang mana sangat sulit untuk didapatkan saat ini. Makan bersama juga akan membantu anak-anak dalam pertumbuhan untuk mengembangkan kebiasaan makan yang lebih sehat sehingga anak-anak kita akan terhindar dari penyakit.

Jadi, setelah tahu manfaatnya, sekarang saatnya kita mempraktekkannya.


KB Suntik Bikin Bau Badan?

KOMPAS.com – Entahlah apakah Anda merasa mengalaminya, namun sebuah studi baru mengungkapkan bahwa perempuan yang menggunakan alat kontrasepsi membuat penampilannya kurang menarik. Dikhawatirkan, hal ini bikin pasangan jadi kurang hangat. Payah deh.

Metode kontrasepsi yang diperkirakan memberikan efek semacam ini adalah KB suntik, yang dapat mempengaruhi aroma tubuh perempuan. Penemuan ini diperoleh setelah dilakukan pengujian terhadap 12 lemur betina (binatang dari rumpun primata yang ekornya belang-belang) di Madagaskar.

Setiap bulan, hewan-hewan ini diberi injeksi dengan satu dari suntikan KB paling laris, yang biasa disebut Depo-Provera. Selama pengujian tersebut, hasilnya menunjukkan bahwa lemur mengeluarkan molekul bau-bauan yang berbeda, dan sesudahnya “ditolak” oleh lemur jantan dalam kelompoknya.

Tentang hal ini, penulis studi Prof Christine Drea kini sedang mempertimbangkan apakah pria pun bisa dipengaruhi oleh aroma tubuh pasangannya, dengan cara yang sama dengan penelitian terhadap lemur tadi. Peluangnya sih ada, karena kelompok kampanye kesehatan Inggris yang bernama Wellbeing of Women ternyata setuju bahwa aroma tubuh memainkan peran penting dalam interaksi manusia.

“Pengaruh pheromone (hormon pengikat pria) pada manusia tidak bisa diremehkan,” begitu menurut juru bicara Wellbeing of Women.

Meskipun demikian, menurut sang juru bicara, berhubung penelitian ini baru dilakukan terhadap binatang, untuk menguji hipotesa tersebut jelas perlu dilakukan penelitian lanjutan terhadap manusia.

Para pakar Inggris pun segera meminta agar penelitian lanjutan segera dilaksanakan. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, mereka juga menyarankan perempuan untuk memperhatikan perawatan diri saat menggunakan alat kontrasepsi hormonal. Pihak Wellbeing of Women sendiri juga mendesak perempuan untuk mendiskusikan risiko, manfaat, dan pilihan-pilihan alat KB-nya dengan dokter.

DIN

Editor: din

Sumber: Marie Claire


Banyak Teman, Kunci Menuju Sehat  

TEMPO Interaktif, Washington – Memiliki hubungan sosial yang baik – dengan teman, dalam pernikahan, atau dengan anak – sama pentingnya untuk kesehatan seperti berhenti merokok, mengurangi berat badan, serta melakukan pengobatan.

Penelitian di Brigham Young University di Utah, Amerika Serikat menyimpulkan bahwa orang yang memiliki hubungan sosial yang kuat akan 50 persen terhindar dari kematian dini dibandingkan orang yang tidak mendapat dukungan dalam lingkungan sosialnya.

Para peneliti itu menyarankan para pembuat kebijakan untuk mencari cara untuk membantu orang memelihara hubungan sosial sebagai cara untuk tetap sehat. “Kurangnya hubungan sosial setara dengan merokok lebih dari 15 batang sehari,” kata psikolog Julianne Holt-Lunstad yang memimpin penelitian.

Tim Julianne melakukan analisis meta yang menguji hubungan sosial dan efeknya terhadap kesehatan. Mereka meneliti 148 kasus yang meliputi 308.000 orang untuk dianalisis.

Penelitian itu juga menghasilkan kesimpulan bahwa memiliki tingkat hubungan sosial yang rendah juga setara dengan menjadi alkoholik, lebih berbahaya daripada tidak berolahraga, dan dua kali lebih berbahaya daripada obesitas.

Hubungan sosial memiliki dampak yang lebih besar pada kematian dini dibandingkan dengan mendapatkan vaksin dewasa untuk penyakit paru-paru. Memiliki hubungan sosial yang baik juga lebih menyehatkan dibandingkan meminum obat untuk menjaga tekanan darah dan jauh lebih penting dibandingkan menghindari polusi udara.

Fanny Febiana | MSNBC


Scan Otak Bisa Membantu Memilih Karir  

TEMPO Interaktif, California – Tes bakat, baik umum maupun khusus, dan tes kemampuan mental merupakan alat penting memandu memilih bidang kejuruan. Kini para peneliti dari Universitas California, Amerika Serikat, mempertanyakan apakah kinerja dalam tes tersebut didasarkan pada perbedaan struktur otak, dan jika demikian, scan otak bisa sangat membantu dalam memilih karier?

Seperti yang ditulis di jurnal BMC Research Notes, peneliti menyelidiki seberapa baik delapan tes yang digunakan dalam memandu memilih kejuruan berkorelasi dengan daerah abu-abu di otak.

Penelitian yang dipimpin Richard Haier, dari Universitas California, menyelidiki dasar neurologis untuk kinerja tiap-tiap tes. Dia mengatakan, “Perbedaan individual dalam kemampuan kognitif memberikan informasi yang berharga untuk bimbingan kejuruan.”

Ia juga mengakui memang ada beberapa perdebatan, seperti apakah hasil tes kemampuan khusus perseorangan lebih membantu daripada hasil tes dengan faktor yang lebih luas, seperti kecerdasan umum. “Kami membandingkan jaringan otak yang diidentifikasi dengan menggunakan skor tes kemampuan kognitif yang luas dengan mereka yang yang diidentifikasi dengan menggunakan tes kognitif spesifik,” ujarnya. Perbandingan ini untuk menentukan apakah pendekatan yang relatif luas dan sempit ini memberikan hasil yang sama.

Dengan menggunakan MRI, peneliti mencari korelasi daerah abu-abu di otak dengan faktor-faktor kemampuan independen (kecerdasan umum, kecepatan penalaran, numerik, spasial, memori) dan dengan skor tes yang didapat dari tes kognitif yang diselesaikan oleh 40 individu dalam mencari panduan memilih kejuruan.

Berbicara tentang hasil ini, Haier mengatakan, “Pola kekuatan dan kelemahan kognitif seseorang terkait dengan struktur otak mereka. Dengan demikian, ada kemungkinan scan otak dapat memberikan informasi unik yang akan membantu untuk memilih kejuruan.”

ScienceDaily/NF


Waspadai Bunyi Telinga Akibat Ponsel

TEMPO Interaktif, Sudah berapa lama Anda menggunakan telepon seluler? Berapa lama Anda menelepon dengan menggunakan ponsel tiap hari? Semakin lama menggunakan ponsel dan makin sering, makin tinggi pula Anda berisiko terkena tinnitus–muncul bunyi tertentu dari dalam telinga Anda.

Tinnitus dalam bahasa Latin berarti berdering. Gangguan itu bisa datang dan pergi atau hadir sepanjang waktu. Pada beberapa pengidap tinnitus, ada yang mendengar suara bernada tinggi, dengungan, desis, siulan, detik, klik, dan menderu seperti angin atau gelombang. Suara-suara itu dalam telinga tentu sangat menyiksa.

Menurut penelitian Hans-Peter Hutter, MD, dan timnya dari The Medical University of Vienna di Austria, pengguna ponsel yang lebih dari empat tahun ada kemungkinan lebih besar terserang tinnitus ketimbang orang yang menggunakan ponsel kurang dari empat tahun.

Dalam penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal Occupational and Environmental Medicine itu, tim peneliti merekrut 100 orang dengan tinnitus dan 100 orang tanpa tinnitus. Keduanya lalu diperbandingkan dalam hal penggunaan ponsel.

Hasilnya, risiko terserang tinnitus 70 persen lebih besar daripada mereka yang menggunakan ponsel sehari-hari rata-rata 10 menit. “Maka kami merekomendasikan agar berhati-hati dalam menggunakan ponsel,” kata Hutter seperti dikutip laman www.msn.com.

Selain itu, mereka menemukan bahwa menggunakan telepon secara kumulatif mencapai lebih dari 160 jam bisa meningkatkan risiko terkena tinnitus hingga 60 persen.

Hutter mengatakan ada mekanisme biologis di mana ponsel dapat menimbulkan masalah telinga. Di dalam telinga ada organ bernama koklea, berbentuk spiral, yang berfungsi menerjemahkan suara menjadi impuls listrik agar dapat dipahami otak. Nah, ketika memakai ponsel, impuls listrik yang dipancarkan justru diserap ponsel.

Selain itu, kata Hutter, menelepon dengan menggunakan ponsel sambil berjalan bisa mempengaruhi aliran darah di sisi kepala.

Namun penelitian ini dinilai belum tuntas dan mengulang. Menurut Veronica Kennedy, konsultan dan penasihat British Tinnitus Association, temuan hubungan antara tinnitus dan medan elektromagnetik itu ide lawas.

“Faktor penyebab tinnitus kompleks, tapi belum dibahas dalam penelitian ini,” kata dia. “Hubungan antara penggunaan ponsel dan tinnitus tetap belum terbukti. Penelitian ini masih harus dilanjutkan,” ujar dia.

Tinnitus terbagi menjadi dua jenis, yakni tinnitus obyektif dan tinnitus subyektif. Pada tinnitus obyektif, dokter yang memeriksa Anda juga bisa mendengar suara yang sama. Tinnitus jenis ini jarang terjadi. Biasanya tinnitus jenis ini disebabkan oleh infeksi telinga bagian dalam. Pada tinnitus subyektif, hanya pengidap yang mendengar suara. Ini jenis tinnitus yang umum terjadi.

Tinnitus bukanlah penyakit, melainkan gejala yang dihasilkan dari berbagai penyebab yang mendasari. Penyebab umum tinnitus meliputi infeksi telinga, masuknya benda asing atau lilin di telinga, alergi hidung yang mendorong cairan lilin telinga, dan cedera.

Tinnitus juga disebabkan oleh efek samping beberapa obat oral, seperti aspirin, dan mungkin juga hasil dari aktivitas hormon serotonin. Pengobatan biasanya dilakukan dengan menjalani terapi medan elektromagnetik, terapi suara, atau terapi tradisional. | nur rochmi | berbagai sumber

Menggunakan Ponsel Secara Sehat

- Batasilah intensitas menelepon. Jika menelepon, lebih baik durasinya pendek. Menelepon selama 2 menit ditemukan untuk mengubah aktivitas elektrik alami otak untuk sampai 1 jam kemudian. Untuk anak-anak, gunakan telepon seluler dalam kondisi darurat saja. Radiasi dapat menembus jauh lebih dalam karena tengkorak mereka masih berkembang.
- Pakailah headset airtube. Headset kabel biasa justru menarik medan magnet di sekitarnya. Jika menggunakan ponsel tanpa headset, tunggu panggilan tersambung sebelum meletakkan ponsel di telinga.
- Jangan menaruh ponsel di saku baju atau ikat pinggang. Tubuh bagian bawah memiliki konduktivitas yang baik dan menyerap radiasi lebih cepat daripada kepala.
- Jangan gunakan ponsel di ruang tertutup penuh logam, seperti mobil atau lift, ketika perangkat mungkin menggunakan daya lebih untuk memancarkan radiasi.
- Jangan membuat panggilan ketika kekuatan sinyal cuma satu bar atau kurang, yang berarti ponsel harus bekerja lebih keras untuk membuat sambungan.
- Pakailah ponsel dengan level specific absorption rate (SAR) rendah. Level SAR adalah cara untuk mengukur jumlah frekuensi radio (RF) energi yang diserap oleh tubuh. Makin rendah level SAR, makin baik. Kebanyakan telepon memiliki tingkat SAR yang tercantum dalam buku manualnya.
- Konsumsilah suplemen gizi, khususnya antioksidan yang mengandung melatonin, zinc, ginkobiloba, atau ekstrak bilberry. Sebab, radiasi adalah bagian dari oksidasi.

| nur rochmi | berbagai sumber


Menyelami Beragam Budaya Meningkatkan Kreativitas  

TEMPO Interaktif, Northwestern – Kreativitas dapat ditingkatkan dengan mengalami budaya yang berbeda selain budaya sendiri, menurut sebuah studi yang dimuat di Personality and Social Psychology Bulletin, seperti dikutip ScienceDaily 29 Juni 2010.

Tiga penelitian menguji aspek-aspek kreativitas yang berbeda pada siswa yang tinggal di luar negeri dan yang tidak. Dibandingkan dengan kelompok kontrol, yang tidak mengalami budaya yang berbeda, peserta dalam kelompok budaya yang berbeda memberikan bukti lebih kreatif dalam berbagai standar tes sifat tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pembelajaran multikultural adalah komponen penting dalam proses adaptasi, bertindak sebagai katalis kreativitas.

Para peneliti, William W. Maddux, Hajo Adam, dan Adam D. Galinsky, dari Universitas Northwestern, Amerika Serikat, percaya bahwa kunci untuk meningkatkan kreativitas berkaitan dengan pendekatan siswa untuk berpikiran terbuka dalam menyesuaikan diri dengan budaya baru. Dalam dunia global, di mana lebih banyak orang dapat memperoleh pengalaman multikultural dibandingkan sebelumnya, penelitian ini menunjukkan bahwa tinggal di luar negeri dapat lebih bermanfaat dari yang diduga sebelumnya.

ScienceDaily/NF


Obesitas Dorong Risiko Kematian di Asia-Pasifik

TEMPO Interaktif, OSLO -  Risiko kematian akibat kegemukan dan kanker di kawasan Asia-Pasifik meningkat secara signifikan. Menurut sebuah studi baru dari Universitas Oslo di Norwegia, kematian karena kanker pada orang kelebihan berat badan lebih besar dibanding mereka yang memiliki berat badan normal.

Para peneliti menganalisis data dari lebih dari 424.500 orang dewasa di Asia, Australia dan Selandia Baru. Secara keseluruhan, mereka yang kelebihan berat badan, 21 persen meninggal karena kanker dibanding orang dengan berat badan normal. ”Angka itu belum termasuk penyebab penyakit kematian paru-paru dan saluran pencernaan atas,” tulis Christine Parr, dari Universitas Oslo di Norwegia.

Penelitian ini juga menemukan, dibandingkan orang dengan berat badan normal, orang obesitas lebih mungkin mati karena masalah usus besar, rektum, ovarium, serviks dan kanker prostat dan leukemia. Wanita obesitas berusia lebih dari 60 tahun juga lebih mungkin mati karena kanker payudara dibandingkan wanita dengan berat badan normal.

Meski berbeda gaya hidup dan pola makan dibandingkan negara negara Barat, penelitian ini tak menemukan risiko yang lebih tinggi untuk kematian kanker pada indeks massa tubuh yang sama, sebagaimana telah disarankan untuk diabetes dan penyakit kardiovaskuler.

Christine menyerukan untuk mencegah peningkatan proporsi orang yang kelebihan berat badan dan obesitas dalam populasi Asia untuk mengurangi beban kanker yang dikhawatirkan berkembang jika epidemi obesitas terus.

nur rochmi | healthday

Berita tentang Obesitas Lainnya:

Atasi Obesitas, Iklan Makanan Cepat Saji Dilarang

Obesitas Membatasi Kemampuan Melawan Flu
Obesitas membatasi kemampuan tubuh untuk mengembangkan kekebalan terhadap virus influenza, khususnya infeksi sekunder, dengan menghambat kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk ‘mengingat’ bagaimana ia berjuang dari serangan penyakit serupa sebelumnya….[SELENGKAPNYA]

Obesitas Faktor Paling Berpengaruh pada Kasus Kematian di Inggris

Insulin Mengurangi Peradangan Akibat Obesitas


Makanan Terbaik buat Kulit  

TEMPO Interaktif, Jakarta -Penelitian tentang makanan yang terbaik untuk kulit sehat masih terbatas. Namun, makanan kaya antioksidan tampaknya memiliki efek perlindungan bagi kulit. Makanan kaya antioksidan biasanya terdapat pada buah dan sayuran.

Menurut Lawrence E. Gibson, M.D., dermatolog dari MayoClinic, beberapa sayuran dan buah baik untuk kesehatan kulit, di antaranya eortel, aprikot, jeruk, blueberry, bayam dan sayuran berdaun hijau lainnya, tomat, kacang, kacang polong, dan kacang-kacangan lainnya, serta ikan, terutama ikan salmon.

Di sisi lain, ada makanan yang tampaknya terkait dengan kerusakan kulit. Sebagai contoh, beberapa penelitian menunjukkan makanan tinggi lemak dan karbohidrat mendorong penuaan kulit.

Banyak makanan yang baik untuk kulit juga baik bagi kesehatan secara keseluruhan. Misal, banyak minum air putih, perbanyak buah-buahan dan sayuran, ikan daging merah, susu rendah lemak atau bebas lemak. Sertakan kacang-kacangan, biji-bijian, kacang-kacangan, roti gandum dan pasta, serta kurangi permen.

Mayoclinic | Nur Rochmi


Obat buat Jet Lag  

TEMPO Interaktif, Jakarta – Jika Anda mengalami jet lag, kini sudah ada obatnya. Obat itu ditemukan para peneliti dari Institut Max Planc for Biophysical Chemistry, Jerman. Menurut mereka, jet lag terjadi karena timer alami dalam tubuh yang tak sesuai dengan lingkungan. Dr Gregor Eichele, pemimpin penelitian, menyatakan penanggulangan jet lag dilakukan dengan menyesuaikan tingkat hormon penyebabnya.

Dalam penelitian mereka, uji coba pada tikus di laboratorium menemukan bahwa hormon kortisol berperan penting menjaga ritme alami tubuh yang disebut ritme sirkadian. Hormon ini berada di puncaknya pada pukul 8 pagi dan secara bertahap diturunkan menjadi tingkat terendah pada pukul 00.00-04.00. Jadi obat ini bekerja dengan menggeser puncak kortisol ke awal atau akhir waktu.

Obat yang akan dikembangkan berbentuk pil tersebut bisa mengembalikan keseimbangan alami tubuh dan pikiran dengan menyesuaikan tingkat tertinggi dan terendah hormon kortisol. Mary Harrington dari Smith College, Northampton, menyatakan obat ini punya implikasi tak hanya bagi yang mengalami jet lag, tapi juga bagi mereka yang melakukan rotasi shift kerja, yang berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan serius, termasuk kanker payudara, stroke, dan penyakit kardiovaskuler.

Jet lag, juga disebut desynchronosis, adalah gangguan sementara yang menyebabkan kelelahan, insomnia, dan gejala lain sebagai akibat dari perjalanan udara melintasi zona waktu. Jet lag juga ditandai kegelisahan, sembelit, diare, kebingungan, dehidrasi, sakit kepala, lekas marah, mual, berkeringat, masalah koordinasi, dan bahkan kehilangan memori. Beberapa orang melaporkan gejala tambahan, seperti masalah detak jantung dan lebih rentan terhadap penyakit.

Jet lag disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk segera menyesuaikan diri dengan waktu di zona berbeda. Misalnya ketika penumpang dari Jakarta tiba di Johannesburg, Afrika Selatan, pada tengah malam waktu setempat, tubuhnya terus beroperasi sesuai dengan waktu Jakarta.

Tubuh harus berjuang untuk mengatasi zona waktu baru. Yang terjadi adalah insomnia sementara, kelelahan, lekas marah, dan susah berkonsentrasi. Jam makan dan jam ke kamar mandi berubah, sehingga dapat menyebabkan sembelit atau diare. Otak dapat menjadi bingung karena mencoba mengubah jadwal. Bagaimana ini terjadi?

Sebuah bagian kecil dari otak yang disebut hipotalamus bertindak seperti jam alarm untuk mengaktifkan berbagai fungsi tubuh, seperti lapar, haus, tidur, mengatur suhu tubuh, tekanan darah, serta tingkat hormon dan glukosa dalam aliran darah. Hipotalamus bekerja membantu tubuh memberi tahu waktu, dengan melepaskan melatonin, yang mempromosikan tidur. Melatonin melawan tingkat kortisol tinggi dan membantu mendorong tidur dalam jumlah biasa.

Melatonin dilepas jika saraf optik mata mengirim cahaya alias saat mata memandang gelap. Sebaliknya, ketika mata melihat sinar matahari, mereka memberi tahu hipotalamus agar menahan produksi melatonin. Jadi, ketika mata memandang fajar atau senja selama berjam-jam lebih awal atau lebih lambat dari biasanya, hipotalamus dapat memicu aktivitas pada bagian tubuh yang tidak siap, dan jet lag terjadi.

Selama ini, untuk mengurangi efek jet lag biasa digunakan suplemen melatonin sintetis. Namun, dalam dosis tinggi, suplemen ini ditengarai punya efek samping membahayakan, seperti kantuk, kelesuan, kebingungan, tidur sambil berjalan, mimpi buruk, hingga penurunan ketajaman mental. Jadi, hasil studi Massachusetts Institute of Technology menyarankan agar dosisnya cukup 0,3 miligram pada hari pertama di tempat tujuan.

NUR ROCHMI | berbagai sumber


Next Page »

51 queries