ANAK ANDA SUSAH MAKAN? Klik Disini untuk Solusinya!
Powered by MaxBlogPress 

[X]


Melatih Kecakapan Sosial Melalui Silaturahmi

Sebagian besar anak memiliki pengalaman sosial yang terbatas. Padahal, interaksi sosial merupakan salah satu kunci kecakapan sosial yakni keterampilan yang digunakan sehari-hari sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, misalnya hubungan dengan teman sebaya, orang yang lebih muda, dan orangtua.

Berikut Tips Membangun Kecakapan Sosial :

1. Tidak ada batasan usia. Sejak dini hingga dewasa dapat terus diajarkan.Semakin dini hasilnya akan semakin baik

2. Orang tua harus konsisten

3. Orangtua jangan hanya mengajak anak berkunjung tapi berikan ia pengertian dan pengetahuan tentang nilai moral yang terkandung di dalamnya, sehingga setiap momen, misalnya hari raya, tidak lewat begitu saja dan tidak hanya sebatas ritual atau tradisi tanpa pernah dimengerti anak.

Supaya Berhasil dalam Latihan Kecakapan Sosial

1. Orangtua harus menjadi model dengan menunjukkan perilaku yang pantas

2. Sering berlatih dengan anak

3. Selalu mengingatkan anak

4. Puji dan besarkan hati anak

5. Lingkungan sangat mempengaruhi keberhasilan latihan kecakapan sosial. Karena itu peran teman sebaya dan orang yang lebih tua sangat penting.

 


Kini, Mereka Percaya Diri…

BREBES, KOMPAS.com – Itulah yang dikatakan Daryati, ibu 3 anak, yang sehari-harinya bekerja sebagai petani bawang di Desa Larangan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Daryati seorang ibu rumah tangga yang kini harus membanting tulang demi kelangsungan hidup dan pendidikan ketiga anaknya. Sejak tahun 2008 lalu, suami Daryati pergi begitu saja tanpa pesan. Statusnya “cerai gantung”. Namun, Daryati tak memusingkannya lagi. Kini ia dan ratusan rekannya sesama janda yang menjadi perempuan kepala keluarga, mulai percaya diri. Mereka mengikuti berbagai pelatihan yang dilakukan oleh lembaga donor maupun bantuan dari perusahaan-perusahaan yang berorientasi pada pengembangan pengetahuan para perempuan di wilayah pinggiran. Ibu-ibu ini di bawah asuhan Sekretariat Nasional (Seknas) Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Daryati yang tak lulus SD ini mengikuti program kejar paket A.

 

“Sekarang saya sudah bisa membaca, sudah bisa menghitung. Dulu saya bodoh, dibohongin suami saya. Enggak bisa ngitung dibohongin tetangga. Sekarang sudah tahu bikin usaha,” kata Daryati, seusai mengikuti pelatihan manajemen usaha melalui program “Dove Sisterhood” di Aula Kecamatan Larangan, Brebes, Jumat (18/6/2010) lalu.

 

Dove Sisterhood merupakan program Dove yang mengimplementasikannya dengan memberikan pelatihan dan bantuan modal usaha bagi para perempuan kepala keluarga, salah satunya di Brebes. Dalam pelatihan ini, ratusan ibu distimulasi untuk merencanakan usaha apa yang akan dibangun dalam tim. Total, terdapat 10 tim yang akan menjalankan usaha secara bersama. Jenis usahanya, pembibitan bawang dan penjualan bawang.

Daryati, yang awalnya buta huruf, kini berani tampil sebagai salah satu ketua tim. Bersama timnya, Daryati akan mengelola modal yang didapat. Sistem yang diterapkan adalah bagi hasil. Sekitar 20 persen akan dikembalikan ke Lembaga Keuangan Mikro yang menampung segala bantuan modal yang didapat untuk diputar kembali. Sisanya, yang 80 persen, akan dibagi oleh anggota kelompok.

 

Kepercayaan diri pun tak hanya dirasakan Daryati. Maryani (56) juga merasakan hal yang sama. Ibu empat anak, yang suaminya sudah berpulang ini, harus bangkit. Tujuh tahun sudah ia menjadi petani bawang, tak lagi buruh. Sebelumnya, saat sang suami masih hidup, Maryani lebih banyak menggantungkan kebutuhan keluarga pada suaminya yang bekerja di Kantor Kecamatan Larangan. Ia sendiri bekerja sebagai buruh tani yang menggarap lahan pemilik modal. Penghasilannya, bagi hasil dengan orang yang memberinya modal menanam bawang. Hasil yang didapat tak sebesar jika sendiri menjadi petani yang memiliki modal sendiri.

 

“Setelah suami meninggal, saya harus berpikir bagaimana bisa dapat penghasilan lebih. Salah satunya, jadi petani, enggak buruh lagi. Akhirnya, saya ikut pelatihan PEKKA dan pelatihan-pelatihan lain, jadi percaya diri. Awalnya kurang pede, kurang pengalaman, kurang berani. Sekarang tambah teman, modal juga nambah,” katanya sambil tertawa.

 

Di wilayah Brebes, angka perempuan kepala keluarga memang cukup tinggi. Sebagian besar menjadi janda karena perceraian. Dari 1,9 juta jiwa, sebanyak 250 ribu jiwa berada dalam garis kemiskinan. Pemerintah pun melakukan upaya pemberdayaan, salah satunya dengan menggandeng berbagai pihak. Selain pelatihan mengenai kewirausahaan dan pendidikan, para perempuan kepala keluarga juga ditumbuhkan kesadaran hukumnya. Koordinator Usaha PEKKA, Romlawati mengungkapkan, pihaknya melatih sejumlah perempuan untuk menjadi penyuluh di wilayahnya masing-masing. Menurut Romla, meski tak ada jumlah pasti, dalam dampingan PEKKA sendiri terdapat lebih dari 100 perempuan kepala keluarga.

 

“Di sini, cerai mati banyak, cerai hidup juga banyak. Ada yang tidak dicerai, tapi cerai gantung. Maka kita dorong bagaimana mereka punya status resmi, bukan mendorong cerai ya. Tetapi, pada kenyataannya banyak yang sudah dicerai tapi tidak punya status legal seperti surat cerai. Banyak yang ditinggal begitu saja. Untuk mengurusnya mahal, wong untuk makan saja susah,” kata Romla.

 

Maka, salah satu advokasi yang diberikan adalah melalui prosedur prodeo sehingga pengurusan akte cerai lebih mudah. “Hakimnya sidang keliling, jadi ibu-ibu ini biayanya tidak terlalu mahal. Selama ini mereka itu nrimo karena tidak tahu informasi, maka diperlakukan begitu oleh para suaminya tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

 

Status secara legal ini dinilai penting, sebab dari sisi sosial, stereotip sangat kuat terhadap janda yang selalu dicurigai sebagai orang yang tidak baik. Hal ini menjadi salah satu faktor penghambat bagi mereka untuk memulai usaha.

 

ING

Editor: din


Mengolah Ikan Tanpa Mengurangi Nutrisinya

KOMPAS.com – Kandungan protein dalam ikan segar seperti salmon dibutuhkan tubuh, terutama untuk anak agar tumbuh berkembang lebih optimal. Asupan protein dibutuhkan 15-20 persen per harinya, dan komposisi ini juga berlaku untuk orang dewasa.

Mengenali sumber makanan, manfaat dan variasinya, bagi juru masak dan pakar kuliner sehat Chef Edwin Lau bahkan ada di urutan pertama dalam hal masak-memasak. Setelahnya, lakukan teknik memasak yang sehat tanpa tanpa digoreng dan dibakar. Lalu kreativitas akan membuat variasi makanan makin kaya.

Sayangnya, pengolahan sumber makanan dengan cara tertentu bisa menghilangkan kandungan gizinya. Untuk itu Edwin berbagi resep bagaimana mengolah ikan, agar kandungan gizi di dalamnya tidak hilang karena keliru memasaknya.

1. Makan mentah
Memakan ikan segar mentah lebih bernutrisi daripada dimasak, apalagi digoreng kering. Namun jangan sembarangan memilih ikan segar. Sebaiknya lengkapi pengetahuan memasak dengan berbagai informasi seputar bahan makanan. Termasuk cara beternaknya, dalam hal ini ikan misalnya. Lebih baik pilih ikan yang diternak secara organik.

2. Baiknya dipepes daripada digoreng

Menggoreng ikan dalam suhu tinggi atau membakar/memanggangnya di atas arang membuat nilai gizi pada ikan berkurang, bahkan hilang. Asap pada ikan bakar misalnya, berpengaruh terhadap penyerapan gizi atau nutrisi ikan itu sendiri. Sebaiknya pepes ikan agar kandungan protein terserap tubuh lebih optimal.

3. Daripada digoreng kering, lebih baik ditumis  

Menggoreng kering akan menghilangkan nutrisi pada ikan. Selain itu, menggoreng dengan minyak dengan suhu tinggi akan mengubah lemak PUFA (yang juga terkandung dalam ikan) menjadi lemak SAFA (lemak jenuh) yang berbahaya bagi tubuh dan sumber berbagai penyakit. Sebaiknya memasak ikan sebagai tumisan dengan api kecil dan tidak direndam minyak.

4. Jangan langsung bersentuhan dengan alat masak

Jikapun ingin menggoreng ikan, lapisi ikan dengan tepung roti untuk menyerap minyak. Dengan demikian ikan tidak langsung bersentuhan dengan alat masak ataupun minyak goreng.

C1-10

Editor: din


Mewaspadai Pertumbuhan Si Buah Hati  

TEMPO Interaktif, Hingga umur 3 tahun, Adit tak juga bisa bicara. Anak itu jarang bersuara. Jika bersuara, dia masih mengeluarkan suara seperti bayi berusia 6 bulan. Ayahnya, Kisman, 45 tahun, curiga ada yang salah pada putra keduanya itu. “Padahal anak seusianya sudah lancar berbicara,” kata dia.

Warga Yogyakarta itu lalu memeriksakan anaknya ke dokter. Karena tak mendapat jawaban memuaskan, dia beberapa kali ganti dokter spesialis. Ternyata ada infeksi yang mengganggu pita suara dan saluran ke otaknya. “Ketika tahu, kami sudah terlambat,” ujarnya menyesal. Kini Adit berumur 11 tahun. Dia hanya bisa mengucapkan beberapa kosakata.

Memang, menurut dokter spesialis anak, Ahmad Suryawan, Sp A (K), tak ada panduan tumbuh kembang anak yang bisa jadi patokan apakah ia normal atau tidak. “Biasanya orang tua hanya membandingkan anaknya dengan anak yang seusia,” kata staf Divisi Tumbuh Kembang Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr Soetomo, Surabaya, ini.
Sayangnya, anak yang dijadikan perbandingan belum tentu normal pula sehingga orang tua sering telat mengetahui tumbuh kembang anaknya. “Ada kesenjangan antara keadaan anak dan pengetahuan orang tua,” ujarnya.

Menurut Ahmad, otak bayi mulai tumbuh sejak usia kandungan tiga pekan. Saat lahir, berat otak seperempat otak orang dewasa, dan sudah memiliki 100 miliar sel otak (neuron). Antarsel itu saling terhubung oleh jaringan (sinaps). Jumlahnya ada 50 triliun sinaps. Pada umur 1 bulan, jaringan sinaps tumbuh mencapai 1.000 triliun.

Kecepatan berpikir otak bergantung pada jumlah sinaps ini. Sinaps baru akan terbentuk dan menguat jika anak mendapat rangsangan (stimulasi), seperti mendengar, melihat, serta meniru, dan itu dilakukan berulang-ulang. Jadi stimulasi bisa dengan suara, gerakan, musik, bicara, membaca, dan lainnya. Jika tak digunakan, sinaps akan mati atau berkurang jumlahnya dan membuat kecepatan berpikir ikut berkurang.

Stimulasi harus dilakukan sedini mungkin. Pasalnya, perkembangan otak optimal cuma sampai usia 6 tahun. “Sembilan puluh lima persen perkembangan otak manusia terjadi sebelum umur 6 tahun,” tutur Ahmad. Maka periode ini disebut periode kritis atau genting. Jika ada gangguan pada periode ini, akan berakibat kelainan permanen dan sulit disembuhkan.

Kasus Adit, misalnya. Walau diketahui pada usia balita, hal itu sudah telat, dan akhirnya menjadi kelainan permanen.

Ahmad menjelaskan, puncak perkembangan otak bayi terjadi di awal hidupnya. Pada umur 3-6 bulan, fungsi melihat dan mendengar mengalami puncak. Hasil pendengaran dan penglihatannya atas lingkungan sekitar akan digunakan untuk kemampuan bicara. Pada umur 8 bulan, giliran fungsi bicara dan bahasa mencapai puncak. “Keempat fungsi ini terhenti perkembangannya pada umur 6 tahun.”

Adapun fungsi kognitif dan inteligensia mencapai puncaknya pada usia 3 tahun. “Fungsinya mulai menurun hingga umur 15 tahun,” Ahmad melanjutkan. Selain membutuhkan stimulasi, perkembangan otak perlu didukung nutrisi. “Nutrisi dan stimulasi satu kesatuan.”
Nutrisi yang membantu dalam tumbuh kembang anak, menurut Dokter Iwan Surjadi Handoko, adalah Kolin, DHA-AA (docosahexaenoic acid- arachidonic acid), Alfa-laktalbumin, dan asam lemak esensial (Omega 3 dan Omega 6). Kolin adalah nutrisi esensial, salah satu anggota vitamin B yang larut dalam air. Gunanya untuk pertumbuhan otak dan sumsum tulang belakang. “ASI adalah sumber kolin yang baik,” kata Business Development Manager Kalbe Nutritionals ini.

DHA-AA berfungsi untuk perkembangan otak dan penglihatan. Adapun Alfa-laktalbumin adalah protein yang dominan terdapat dalam ASI–mencapai 30 persen dari total protein, sedangkan susu sapi hanya 5 persen. “Dengan paduan antara stimulasi dan nutrisi cukup, diharapkan anak-anak akan tumbuh kembang dengan baik, sehat, dan normal.”

NUR ROCHMI

Fase Tumbuh Kembang

Tumbuh kembang adalah fase hidup yang dilalui anak. Tumbuh adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.

Kembang adalah bertambahnya struktur dan kemampuan tubuh yang lebih kompleks meliputi kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara, bahasa, sosialisasi, dan kemandirian. Berikut ini ciri tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya.

0-3 bulan : Terkejut mendengar suara, mengikuti obyek dengan mata.

3-6 bulan : Berbalik telungkup ke telentang dan tertawa/menjerit kala diajak bermain.

7-9 bulan : Duduk, bermain tepuk tangan/cilukba.

9-12 bulan : Merangkak, berjalan dengan dituntun, menyentuh benda dan memasukkannya ke mulut.

12-18 bulan : Memanggil orang tuanya, berjalan-berlari, belajar makan/minum sendiri.

18-24 bulan : Bisa berdiri sambil memegang benda, menyebut beberapa kata yang memiliki arti.

2-3 tahun : Bisa membedakan mainan, bisa menendang bola sambil lari

3-4 tahun : Bisa berdiri dengan satu kaki, belajar memakai pakaian, dan bermain dengan anak lain.

4-5 tahun : Menari, senang bertanya, menggambar lingkaran atau tanda silang.

5-6 tahun : Bisa berjalan lurus. Mengenal warna, lawan kata, dan angka.

Nur Rochmi | berbagai sumber


Aktivitas Mental Bisa Melindungi Diri terhadap Masalah Memori  

TEMPO Interaktif, New Jersey -  Gaya hidup yang aktif secara mental dapat melindungi diri terhadap masalah memori dan belajar pada penderita multiple sclerosis (MS). Demikian hasil studi ini yang diterbitkan Neurology®, jurnal kedokteran terbitan American Academy of Neurology edisi 15 Juni 2010, sebagaimana dikutip Medical News Today 15 Juni 2010.

Multiple sclerosis adalah penyakit yang menyerang sistem saraf pusat. Saat ini, lebih dari 2.000.000 orang di dunia menderita MS. MS diakibatkan oleh kerusakan myelin – yaitu selubung pelindung yang mengelilingi serabut saraf pada sistem saraf pusat. Ketika myelin mengalami kerusakan, akan mengganggu penyampaian ‘pesan’ antara otak dan bagian-bagian tubuh lainnya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa gaya hidup yang aktif secara mental bisa mengurangi efek berbahaya dari kerusakan otak, seperti problem ingatan dan masalah belajar. Artinya, kemampuan memori dan kemampuan belajar masih cukup baik pada orang dengan gaya hidup yang kaya, bahkan jika mereka memiliki beberapa kerusakan pada otak. Sebaliknya, orang dengan gaya hidup kurang aktif secara mental lebih cenderung mengalami masalah ini, bahkan pada kerusakan otak yang lebih ringan,” kata penulis studi ini, James Sumowski, PhD, dari Pusat Penelitian Yayasan Kessler di West Orange, New Jersey.

Penelitian ini melibatkan 44 orang berusia 45 yang menderita MS rata-rata 11 tahun. Para peneliti mengukur pengayaan dengan pengetahuan kata, yang biasanya diperoleh melalui kegiatan membaca dan pendidikan.

Studi ini menemukan bahwa mereka yang memiliki gaya hidup aktif memiliki skor mental yang baik pada uji pembelajaran dan memori bahkan jika mereka memiliki jumlah kerusakan otak yang lebih tinggi.

“Hasil penelitian ini membuka wilayah baru dalam penyelidikan MS yang dapat memiliki dampak yang signifikan,” kata Peter A. Arnett, PhD, dari Universitas Negeri Penn, yang menulis editorial penelitian ini. “Ada potensi bahwa orang dapat meningkatkan cadangan kognitif mereka untuk mengurangi atau mencegah masalah kognitif di kemudian hari.”

Medical News Today/msif/NgartoF


“Bancassurance”, Bisa Memudahkan Nasabah Bank


KOMPAS.com - Belakangan ini perbankan banyak melakukan hubungan kerja dengan perusahaan asuransi. Bahkan, banyak perusahaan asuransi mencoba melakukan kerja sama yang cukup intens dengan perbankan.

Kita bisa lihat berita di surat kabar, ketika sebuah perusahaan asuransi melakukan penandatanganan dengan sebuah bank untuk menawarkan produknya. Bank tersebut menawarkan produk asuransi dari perusahaan asuransi. Pihak bank menyebutnya bancassurance.

Artinya, bancassurance diperoleh dari dua kata, yaitu bank dan asuransi. Bancassurance bukan menyatakan bahwa semua produk bank tersebut diasuransikan atau semua produk bank tersebut semakin terjamin. Saat ini produk perbankan secara umum dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), di mana untuk deposit maksimum Rp 2 miliar.

Bank mau menawarkan produk asuransi untuk meningkatkan fee-base bank yang bersangkutan. Oleh karena itu, bank mendirikan sebuah divisi tersendiri untuk menawarkan produk asuransi ini yang dikenal divisi bancassurance. Adanya divisi ini membuat bank tersebut menjadi sebuah usaha yang menawarkan semua produk yang diinginkan nasabahnya.

Bila nasabah merasa tidak nyaman dengan produk banknya karena investasi melebihi penjaminan, maka nasabah bisa meminta asuransi atas produk tersebut. Penawaran produk asuransi ini awalnya ditawarkan kepada nasabah spesial yang dikenal nasabah prioritas karena dana yang dimilikinya cukup besar di bank yang bersangkutan.

Namun, karena fee-base yang diterima cukup besar, maka selayaknya produk ini dibuat menjadi produk massal sehingga timbullah divisi bancassurance tersebut.

Bagi karyawan bank, penawaran produk ini membuat kepercayaan menjadi lebih meningkat karena mereka bisa menawarkan lebih banyak produk kepada nasabah. Kemampuan staf juga semakin meningkat. Pengetahuan yang bertambah akan meningkatkan karier karyawan bersangkutan. Di sisi lain, ini juga menjadi cara menahan konsumen agar tidak lari ke bank yang lain.

Kenapa perusahaan asuransi menggunakan bank untuk memasarkan produk asuransinya? Padahal, selama ini perusahaan asuransi mempunyai pemasar yang cukup andal, bahkan mereka umumnya ”bermuka tembok” untuk menawarkan produknya agar bisa diterima publik.

Perusahaan asuransi merasa lebih aman dan efisien bila melakukan pemasaran dengan menggunakan bank. Konsumen yang datang ke bank umumnya sudah melek mengenai produk investasi dan asuransi.

Perusahaan asuransi juga tidak perlu mempersiapkan kantor untuk para agen penjual asuransi yang dimiliki bank karena bank umumnya mempunyai cabang. Perusahaan asuransi menjadikan bank sebagai perpanjangan distribusi (channel distribution) untuk menawarkan produknya.

Perusahaan asuransi hanya mendidik agen-agen yang bekerja di bank tersebut untuk menjual produknya. Adanya produk asuransi di bank tersebut membuat perusahaan asuransi lebih terpercaya karena dana yang diterima langsung bisa masuk ke rekening perusahaan asuransi di bank tersebut. Penjualan produk asuransi melalui bank akan lebih tepat karena sudah menggunakan teknologi yang sesuai, berhubung bank selalu menggunakan teknologi dalam menawarkan produk.

Pertanyaan yang timbul, produk asuransi apa saja yang ditawarkan oleh bank kepada konsumennya? Produk asuransi dapat dikelompokkan menjadi produk asuransi jiwa dan produk asuransi nonjiwa. Adapun produk asuransi nonjiwa seperti asuransi kebakaran rumah, asuransi kredit rumah, asuransi kehilangan barang, terutama untuk mobil, dan sebagainya. Adapun produk asuransi jiwa seperti asuransi seumur hidup dan asuransi jiwa berjangka. Semua produk ini diminati masyarakat yang mempunyai pandangan jauh ke depan.

Konsumen akan bertanya, kenapa harus membeli produk bancassurance dari bank, dan kenapa tidak langsung kepada perusahaan asuransi tersebut? Konsumen akan mendapatkan kemudahan dan efisiensi bila membelinya dari bank. Misalkan, bila konsumen sudah punya rencana untuk membeli produk asuransi jiwa dan bertanya langsung kepada marketing atau agen di bank tersebut. Pihak bank akan membantu konsumen untuk menghitung seluruh kebutuhan dan langsung melakukan transfer di bank yang bersangkutan.

Waktu yang dibutuhkan konsumen akan lebih sedikit karena tidak perlu mondar-mandir untuk mendapatkan formulir dan mentransfer dana untuk membayar premi asuransi. Bahkan, konsumen bisa menyimpan sertifikatnya di bank yang bersangkutan pada safety box yang tersedia.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai pelaku bancassurance, peminat penawaran ini semakin meningkat.

Total penjualan premi yang dilakukan para agen asuransi dibandingkan yang dijual melalui bank sudah hampir sama. Sebelumnya, penjualan melalui agen yang dikenal dengan penjualan konvensional cukup mendominasi. Dengan demikian, telah terjadi pergeseran penjualan produk asuransi.

Konsumer tidak perlu sungkan menanyakan kepada marketer bank untuk mendapatkan bancassurance. Mudah-mudahan tindakan tersebut dapat mempermudah dan membantu konsumen.

(Adler Haymans Manurung, praktisi keuangan)

 

Editor: din

Sumber: Kompas Cetak


51 queries