Tugas Penting Calon Ayah
VIVAnews – Menjaga janin agar tumbuh kembangnya optimal selama di dalam kandungan ternyata tidak hanya butuh perhatian sang bunda, peran ayah pun sangat diperlukan saat si kecil masih berada dalam kandungan.
Seperti dilansir dari laman dailymail.co.uk, sebuah penelitian menyatakan, peran ayah yang terlibat selama kehamilan bisa membantu mengurangi risiko kematian bayi selama tahun pertama anak mereka hidup.
Menurut penelitian dari University of South Florida, bayi yang tidak mendapatkan perhatian dari sang ayah selama masa kehamilan hampir empat kali lebih mungkin meninggal di tahun pertama mereka daripada bayi dengan perhatian dua orangtua yang aktif.
Bayi tanpa perhatian sang ayah selama masa kehamilan juga lebih mungkin lahir dengan berat lahir rendah, menjadi prematur dan lahir dengan ukuran lebih kecil dari usia bayi normal.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan, ayah yang aktif dalam pendidikan anak-anak mereka secara signifikan dapat membantu membantu meningkatkan prestasi akademiknya.
Sedangkan pada penemuan baru yang diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat, menyarankan keterlibatan seorang ayah sebelum anaknya lahir bisa sama pengaruhnya.
Penulis studi Profesor Amina Alio, mengatakan, “Studi kami menunjukkan, kurangnya keterlibatan ayah selama kehamilan merupakan faktor risiko yang berpotensi dalam kematian bayi.”
Para peneliti memeriksa catatan dari semua kelahiran di Florida 1998-2005, lebih dari kelahiran hidup sebanyak 1,39 juta.
Keterlibatan ayah dalam suatu hubungan pernikahan dan hubungan antara ayah dengan sang buah hati selalu didefinisikan dengan kehadiran nama ayah di akte kelahiran bayi. Meskipun ukuran ini tidak menilai berapa banyak peran ayah selama kehamilan, penelitian lain telah menetapkan bahwa adanya nama ayah dalam akta kelahiran telah cukup membuktikan bahwa selama kehamilan sang istri, seorang suami selalu memberikan pendampingan.
Profesor Amina Alio mengatakan dukungan dari pihak ayah dapat menurunkan stres emosional ibu. Keterlibatan seorang ayah juga meningkatkan kesehatan bayi serta menurunkan risiko komplikasi yang dialami ibu hamil.
Para ibu dari bayi yatim lebih mungkin menderita kondisi seperti anemia, tekanan darah tinggi kronis dan eklampsia.
Adanya perhatian seorang ayah kepada ibu hamil juga mendorong para wanita hamil untuk menjalani gaya hidup lebih sehat. Studi ini menemukan wanita tanpa didampingi suami saat hamil cenderung melakukan gaya hidup tak sehat seperti merokok dan seringkali mendapatkan perawatan tidak memadai sebelum melahirkan.
Meningkatkan keterlibatan ayah saat wanita sedang hamil bisa mengurangi biaya perawatan medis lebih mahal serta mengurangi tingkat kematian bayi, tim menyimpulkan. Dr Alio mengatakan, “Ketika ayah terlibat, anak-anak akan tumbuh dengan baik di sekolah.” katanya. (adi)
• VIVAnews
Aktivitas Mental Bisa Melindungi Diri terhadap Masalah Memori
TEMPO Interaktif, New Jersey - Gaya hidup yang aktif secara mental dapat melindungi diri terhadap masalah memori dan belajar pada penderita multiple sclerosis (MS). Demikian hasil studi ini yang diterbitkan Neurology®, jurnal kedokteran terbitan American Academy of Neurology edisi 15 Juni 2010, sebagaimana dikutip Medical News Today 15 Juni 2010.
Multiple sclerosis adalah penyakit yang menyerang sistem saraf pusat. Saat ini, lebih dari 2.000.000 orang di dunia menderita MS. MS diakibatkan oleh kerusakan myelin – yaitu selubung pelindung yang mengelilingi serabut saraf pada sistem saraf pusat. Ketika myelin mengalami kerusakan, akan mengganggu penyampaian ‘pesan’ antara otak dan bagian-bagian tubuh lainnya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa gaya hidup yang aktif secara mental bisa mengurangi efek berbahaya dari kerusakan otak, seperti problem ingatan dan masalah belajar. Artinya, kemampuan memori dan kemampuan belajar masih cukup baik pada orang dengan gaya hidup yang kaya, bahkan jika mereka memiliki beberapa kerusakan pada otak. Sebaliknya, orang dengan gaya hidup kurang aktif secara mental lebih cenderung mengalami masalah ini, bahkan pada kerusakan otak yang lebih ringan,” kata penulis studi ini, James Sumowski, PhD, dari Pusat Penelitian Yayasan Kessler di West Orange, New Jersey.
Penelitian ini melibatkan 44 orang berusia 45 yang menderita MS rata-rata 11 tahun. Para peneliti mengukur pengayaan dengan pengetahuan kata, yang biasanya diperoleh melalui kegiatan membaca dan pendidikan.
Studi ini menemukan bahwa mereka yang memiliki gaya hidup aktif memiliki skor mental yang baik pada uji pembelajaran dan memori bahkan jika mereka memiliki jumlah kerusakan otak yang lebih tinggi.
“Hasil penelitian ini membuka wilayah baru dalam penyelidikan MS yang dapat memiliki dampak yang signifikan,” kata Peter A. Arnett, PhD, dari Universitas Negeri Penn, yang menulis editorial penelitian ini. “Ada potensi bahwa orang dapat meningkatkan cadangan kognitif mereka untuk mengurangi atau mencegah masalah kognitif di kemudian hari.”
Medical News Today/msif/NgartoF
Diet Sehat Terkait dengan Rendahnya Risiko Katarak pada Wanita
TEMPO Interaktif, Madison – Wanita yang mengonsumsi makanan kaya vitamin dan mineral mungkin memiliki risiko lebih rendah terkena katarak, menurut laporan yang dimuat jurnal Archives of Ophthalmology seperti dikutip ScienceDaily 14 Juni 2010.
Katarak merupakan penyebab kebutaan yang paling penting di dunia. Di Amerika Serikat, katarak merupakan penyebab paling umum terjadinya gangguan penglihatan. Sejauh ini, sudah ada studi terbatas yang mengevaluasi faktor risiko gizi dan gaya hidup lainnya yang dikaitkan dengan kesehatan mata.
Julie A. Mares, Ph.D., dari Universitas Wisconsin, Madison, dan rekannya mempelajari 1.808 perempuan (usia 55-86). Mares mengatakan bahwa makanan yang memberikan kontribusi bagi diet dengan skor yang lebih tinggi adalah sayuran,, susu, biji buah-buahan, daging (atau kacang-kacangan, ikan, atau telur).
Menurut penelitian ini, katarak nuklir (terjadi di dalam nukleus atau pusat lensa dan biasanya terkait dengan penuaan alami) dalam sampel ini sebanyak 29 persen, (454 wanita) melaporkan menderita penyakit mata dengan menggunakan lensa di salah satu mata. Selain itu, 282 perempuan (16 persen) telah melaporkan menderita ekstraksi katarak di kedua mata. Secara keseluruhan, 736 perempuan (41 persen) menderita katarak nuklir baik terlihat dari foto lensa maupun dilaporkan memiliki katarak yang diekstraksi. Kata Mares, “Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa diet yang sehat lebih kuat berhubungan dengan rendahnya kejadian katarak nuklir.”
“Sebagai kesimpulan, penelitian ini menambah literatur yang menyarankan bahwa diet yang sehat berhubungan dengan risiko lebih rendah terjadinya katarak,” tulis penulis.
ScienceDaily/NF
Acar Timun Mampu Mengatasi Kejang Otot
KOMPAS.com – Ternyata, acar timun tidak hanya enak dijadikan penyedap untuk beberapa jenis makanan. Sari atau air dari acara timun juga memiliki kemampuan untuk menyembuhkan kram otot.
Ada penjelasan ilmiah mengenai kemampuan yang luar biasa ini. Brigham Young University telah membuat suatu pengujian bagaimana sari acr timun ini bisa mempengaruhi kram otot yang disebabkan oleh latihan olahraga yang berat. Penelitiannya berangkat dari teori (meskipun belum dapat dikonfirmasi kebenarannya) bahwa beberapa elemen dari sari acar kemungkinan lebih mampu mengatasi kram daripada air, pisang, atau minuman yang mengandung elektrolit. Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan apa yang menyebabkan kram pada orang-orang yang aktif, dan mengapa masalah ini begitu mudah terjadi.
“Kram otot yang disebabkan oleh latihan adalah salah satu misteri fisiologi yang berlanjut,” tukas Gretchen Reynolds, seorang penulis blog di New York Times.
Para ilmuwan tampaknya tidak setuju mengenai mengapa orang yang rajin latihan mengalami kram dan bagaimana mengatasinya. Meskipun demikian, para pelatih atlet mulai mendengungkan kesuksesan yang mereka alami berkat penggunaan sari acar timun. Para trainer itu pun disurvei, untuk mengetahui seberapa sering mereka memberikannya pada klien, dan bagaimana hasilnya. Namun, studi Brigham Young ini dilaporkan baru merupakan uji laboratorium yang pertama mengenai hal tersebut.
Studi ini hanya dalam skala kecil saja. Sebanyak 10 mahasiswa yang sehat diminta melakukan latihan. Setelah berlatih hingga mengalami dehidrasi sedang, jari-jari para partisipan dirangsang secara elektrik. Hal ini menyebabkan kram, sehingga partisipan lalu diminta rileks sampai rasa tidak nyaman tersebut berangsung hilang.
Setelah itu, partisipan distimulasi lagi sehingga terjadi kejang otot yang kedua. Kali ini, mereka diminta meminum sekitar 60 ml air yang diionisasi atau sari acara timun. Dari percobaan ini terlihat bahwa partisipan yang hanya minum air rata-rata pulih setelah 2,5 menit. Namun ketika partisipan diberi sari acar timun, kram bisa sembuh 45 persen lebih cepat.
Memang sih, sulit sekali menciptakan kondisi kram akibat latihan dalam uji coba, apalagi kram tidak terjadi pada kelompok otot yang besar. Peneliti hanya menyarankan agar partisipan berlatih dengan cara yang benar dan perlahan, agar otot-otot tidak mengalami kelelahan. Cara umum lain untuk mengatasi kram adalah dengan melakukan peregangan.
DIN
Editor: din
Sumber: New York Times
Kerja Kreatif Bikin Stress?
TEMPO Interaktif, Toronto – Tuntutan yang terkait dengan aktivitas kerja kreatif merupakan tantangan utama bagi pekerja. Menurut penelitian baru dari Universitas Toronto, Kanada, ini stres yang terkait dengan beberapa aspek pekerjaan berdampak terhadap batas antara kerja dan kehidupan keluarga.
Peneliti mengukur sejauh mana mereka yang terlibat dalam aktivitas kerja kreatif dengan menggunakan data dari survei secara nasional terhadap lebih dari 1.200 pekerja di Amerika. Profesor sosiologi Scott Schieman dan rekannya mengajukan pertanyaan kepada responden, antara lain: “Seberapa sering Anda memiliki kesempatan untuk mempelajari hal baru?”; “Seberapa sering Anda memiliki kesempatan untuk memecahkan masalah? “;” Seberapa sering Anda melakukan pekerjaan yang memungkinkan Anda untuk mengembangkan keterampilan atau kemampuan?”
Para penulis menjelaskan tiga inti temuan:
Pertama: Orang yang memiliki skor lebih tinggi pada indeks kerja kreatif lebih mungkin mengalami tekanan pekerjaan yang berlebihan, dan mereka merasa kewalahan oleh beban kerja, serta lebih sering menerima pekerjaan yang berhubungan dengan kontak (email, teks, panggilan) di luar jam kerja normal;
Kedua: Pada gilirannya, orang-orang yang mengalami tekanan-tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan, dan lebih sering melakukan tugas ganda antara pekerjaan dan keluarga, mereka mencoba untuk menyulap pekerjaan dan tugas-tugas rumah pada waktu yang sama saat mereka berada di rumah.
Ketiga: Secara bersamaan, tuntutan pekerjaan ini dan peran ganda kerja-keluarga kerap menimbulkan konflik antara pekerjaan dan peran keluarga, yang merupakan penyebab utama timbulnya masalah peran dalam domain rumah tangga.
Menurut Schieman, unsur-unsur stres terkait kerja kreatif ini, yang oleh kebanyakan orang dilihat sebagai sisi positif dari kondisi pekerjaan kreatif, merugikan. Lebih dari itu, ini juga dapat menyebabkan stres dalam kehidupan kita.
Penelitian ini juga menemukan bahwa orang yang memiliki skor lebih tinggi pada indeks kerja kreatif lebih cenderung memikirkan pekerjaan mereka di luar jam kerja normal. Namun, ketika ini terjadi, banyak orang berkata bahwa mereka tidak merasa “tertekan” oleh pikiran-pikiran itu. Schieman menambahkan: “Ada aspek kerja kreatif yang dinikmati banyak orang karena mereka mendapat kepuasan dalam hidupnya. Hal ini sangat berbeda dengan stres pikiran yang bikin orang terjaga di malam hari, yang disebabkan oleh tenggat yang tidak dapat dikontrol, orang lain bekerja tidak kompeten yang membuat Anda harus menanganinya esok hari, atau pekerjaan rutin yang kurang menantang atau terasa seperti sebuah penindasan.”
ScienceDaily/Ngarto Februana
Awas, Susu Balita Bisa Picu Obesitas
VIVAnews - Sebuah produk susu fomula untuk balita berusia satu hingga tiga tahun ditarik dari pasaran Amerika Serikat karena dituding menyebabkan kegemukan pada anak. Susu formula tersebut ditengarai memiliki kandungan gula yang melampaui kebutuhan anak, seperti halnya permen.
Sebuah produsen susu formula anak untuk usia 12-36 bulan, mengklaim susu formula buatannya berisi lebih dari 25 zat tambahan untuk mendukung pertumbuhan otak dan tubuh anak. Namun, kandungan gula yang terlalu tinggi pada produk, dinilai menyebabkan obesitas pada bayi.
Juru bicara produsen susu yang populer ini, Chris Perille, menganjurkan agar menghentikan konsumsi susu formula cokelat karena sifatnya yang mempengaruhi emosional. “Pengaruhnya menyerupai permen dan hal yang tidak bermanfaat lainnya,” ujarnya seperti dikutip dari laman ABCnews.
Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Rabu waktu setempat, produsen susu mengakui telah terjadi kesalahpahaman yang melibatkan konsumen mengenai produk tersebut.
Meski menarik produk susu cokelatnya dari pasaran, produsen ini masih akan melanjutkan menjual susu formula rasa vanila dengan kandungan gula 16-17 gram dan tiga jenis susu formula balita dan anak lainnya dengan kandungan gula 10-11 gram.
Pakar Nutrisi dan penulis ‘What to Eat’ Marion Nestle mengatakan produsen menambahkan bahan tertentu seperti lutein, lycopene dan beta karoten pada formula hanya meningkatkan harga susu. Hal ini tidak mempengaruhi kesehatan bayi dan balita.
“Harga susu menjadi mahal, tetapi tidak bermanfaat,” katanya. Untuk itu, ia menyarankan agar anak makan menu yang bervariasi. “Tidak ada satupun makanan yang mampu memberi segalanya. Mereka harus makan berbagai jenis makanan untuk mendapat manfaat kesehatan.”
Sebuah studi terbaru Institut Kedokteran menyebutkan epidemi obesitas dan diabetes tipe 2 meningkat di kalangan anak karena standar makanan yang berubah. (adi)
• VIVAnews
Ditemukan Obat Baru untuk Kanker Payudara
TEMPO Interaktif, Chicago – Eribulin, obat baru untuk pengobatan kanker payudara, ditemukan oleh peneliti dari Universitas Leads, Inggris. Menurut peneliti, obat baru ini berasal dari bunga karang laut, yang bisa menghentikan sel terbelah, yang dapat memperpanjang usia perempuan yang menderita kanker payudara lanjut.
Temuan ini disampaikan pada pertemuan American Society of Clinical Oncology di Chicago, Amerika Serikat, Ahad lalu.
Para peneliti mengatakan pasien-pasien yang sudah diobati dengan kemoterapi, dan kemudian menerima obat Eribulin ini, usianya sekitar dua setengah bulan lebih lama daripada pasien yang hanya melakukan kemoterapi saja. Peneliti juga mengatakan ini adalah perawatan standar pertama bagi pasien kanker payudara yang telah menjalankan semua perawatan biasa, seperti radiasi. Mereka mengatakan hasil penelitian ini cukup menjanjikan.
“Sampai sekarang, belum ada pengobatan standar untuk wanita penderita kanker payudara lanjut,” kata Christopher Christopher Twelves, penulis dan kepala penelitian kanker klinis di Institut Kedokteran Molekuler Leeds, Inggris, dalam sebuah pernyataan. “Bagi mereka yang sudah mendapatkan semua terapi yang telah diakui, ini adalah hasil yang menjanjikan.”
Eisai Co, produsen obat, akan meneliti apakah obatnya dapat membantu pasien kanker prostat dan kanker paru-paru.
Pihak produsen telah mengajukan izin kepada Badan Obat dan Makanan Amerika (FDA), yang akan memutuskan apakah akan menyetujui Eribulin sampai 30 September mendatang.
VOANEWS/Bloomberg/Ngarto Februana
Tidur Terlalu Lama Bisa Meningkatkan Risiko Sindrom Metabolik
TEMPO Interaktif, San Antonio – Durasi tidur yang panjang berkaitan dengan prevalensi tinggi terjadinya sindrom metabolik pada orang dewasa, demikian menurut sebuah abstrak penelitian yang dikutip ScienceDaily 8 Juni 2010. Kesimpulan penelitian tersebut telah disajikan pada 8 Juni 2010, di San Antonio, Texas, pada pertemuan tahunan ke-24 Associated Professional Sleep Societies LLC.
Sindrom metabolik adalah sebuah kombinasi gangguan kesehatan yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler, diabetes, dan stroke. Seseorang dengan setidaknya tiga dari lima faktor risiko dianggap telah mengalami sindrom metabolik: kelebihan lemak di perut, trigliserida tinggi (lemak dalam darah), rendahnya kolesterol HDL (kolesterol “baik”), tekanan darah tinggi, dan gula darah tinggi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para peserta penelitian yang melaporkan punya kebiasaan tidur sehari-hari selama delapan jam atau lebih termasuk tidur siang memiliki kemungkinan 15 persen lebih tinggi mengalami sindrom metabolik. Hubungan ini tetap tidak berubah setelah dilakukan penyesuaian dengan faktor-faktor seperti demografi, gaya hidup, dan kebiasaan tidur.
“Aspek yang paling mengejutkan dari studi kami adalah bahwa tidur lama berkaitan dengan sindrom metabolik,” kata penulis penelitian ini, Teresa Arora, ilmuwan di Sekolah Kedokteran Universitas Birmingham, Inggris. Arora menegaskan bahwa durasi tidur yang panjang menyebabkan peningkatan risiko sindrom metabolik akan memiliki implikasi penting bagi kesehatan masyarakat.
Penelitian ini melibatkan 29.310 orang di Guangzhou, Cina, berusia 50 tahun atau lebih.
ScienceDaily/Ngarto Februana
Kursus Bikin Film dalam Dua Hari Saja?
KOMPAS.com – Bakat dan kreativitas anak muda perlu dikembangkan. Bahkan jika perlu dipancing agar ide segar lebih tersalurkan. Termasuk bakat sebagai penulis naskah, sutradara, produser, dan aktor dalam dunia perfilman.
Penggiat film, Shankar RS, BSc, mengungkapkan perfilman Indonesia membutuhkan ide gila dari anak muda. Persoalannya, anak muda Indonesia yang dikenal cukup kreatif, ternyata tidak selalu memiliki jalan untuk menyalurkannya.
Karena itu Shankar mendatangkan Dov Simens, guru film Hollywood nomor satu di negerinya. Program “2 Day Film School” rancangan Dov akan dibawa ke Jakarta 24 – 25 Juli 2010 nanti.
“Dov memang dikenal sebagai guru express, dengan metode pengajaran tersendiri. Motivasi yang diberikan membakar semangat anak muda untuk berkreasi yang berbeda membuat film,” kata Shankar kepada Kompas Female, usai konferensi pers workshop film di Jakarta, Selasa (8/6/2010) lalu.
Dengan biaya Rp 2,9 juta, peserta mendapatkan pengetahuan seputar penulisan, penyutradaraan, memproduseri film, dan akting (sebagai aktor atau aktris). Dua sertifikat diploma dari Hollywood Film Institute akan didapatkan peserta setelahnya.
Kursus film singkat ini diyakini Shankar bisa memberikan pembelajaran serta pengalaman komprehensif seputar pembuatan film. Mulai dari bagaimana mencipta ide film, membuat jadwal dan anggaran, storyboard, musik pendukung, hingga bagaimana memasarkan film yang sudah dibuat.
“Bikin film itu gampang, yang perlu dilawan adalah rasa ketakutannya saat memulai,” papar Shankar. Ia pun menegaskan jika ada cara yang instan namun terpercaya dari produser film berpengalaman, jalan bagi filmmaker muda akan terbuka.
Anda memiliki ketertarikan dalam dunia film? Sebaiknya segera mendaftar kegiatan ini, karena dari target 300 peserta, 30 persennya sudah terisi.
Informasi:
www.bikinfilm.com
0817807508 (Alida)
C1-10
Editor: din
Merasa Lebih Hidup, Luangkan Waktu Bersama Alam
TEMPO Interaktif, Jakarta – Rochester – Berada di alam terbuka membuat orang merasa lebih hidup, demikian temuan penelitian yang diterbitkan Journal of Environmental Psychology.edisi Juni 2010. Studi ini juga menunjukkan bahwa perasaan meningkatnya vitalitas melebihi efek energi dari aktivitas fisik dan interaksi sosial.
“Alam adalah bahan bakar bagi jiwa,” ujar Richard Ryan, penulis utama penelitian ini. “Sering ketika kita merasa lesu, kita meraih secangkir kopi, tetapi penelitian menunjukkan cara yang lebih baik untuk mendapatkan energi adalah berhubungan dengan alam,” kata profesor psikologi di Universitas Rochester Amerika Serikat ini.
Temuan ini, kata Ryan, sangat penting untuk kesehatan, baik mental maupun fisik. “Penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki perasaan vitalitas yang lebih besar tidak hanya memiliki lebih banyak energi untuk hal-hal yang ingin mereka lakukan, mereka juga lebih tahan terhadap penyakit fisik,” kata Ryan. Menurut dia, salah satu cara adalah bisa dengan menghabiskan lebih banyak waktu bersama alam.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penelitian psikologi eksperimental telah menghubungkan eksposur ke alam dengan peningkatan energi, yang hasilnya memperlihatkan mereka meluangkan waktu untuk menjelajahi alam meningkat perasaan bahagia dan merasa lebih hidup. Studi-studi lain menyarankan bahwa kebersamaan dengan alam sangat membantu untuk menangkis perasaan kelelahan dan bahwa 90 persen orang melaporkan adanya peningkatan energi ketika berkegiatan di luar ruangan.
Dalam studi ini, para peneliti melakukan lima eksperimen terpisah, melibatkan 537 mahasiswa. Dalam satu eksperimen, peserta digiring selama 15 menit berjalan kaki melalui lorong-lorong dalam ruangan atau di sepanjang jalur sungai di antara pohon-pohon. Percobaan lain, peserta melihat panorama gedung-gedung atau pemandangan alam. Dan, percobaan ketiga, peserta membayangkan diri mereka berada dalam berbagai situasi.
Pada dua percobaan terakhir, dilacak suasana hati peserta dan tingkat energi sepanjang hari. Di seluruh metodologi, individu secara konsisten merasa lebih energik ketika mereka menghabiskan waktu berlatarkan alam atau membayangkan diri mereka dalam situasi seperti itu. Ryan mencatat: berada di alam luar hanya 20 menit dalam sehari sudah cukup untuk meningkatkan vitalitas secara signifikan.
Dengan adanya penelitian semacam ini, Ryan menggarisbawahi pentingnya bangunan taman dalam ruangan atau bangunan yang memiliki akses ke taman-taman dan lingkungan alam, yang bisa disaksikan lewat jendela.
University of Rochester/Medical News Today/Ngarto Februana






