Akibat Rokok, Penyakit Jantung Makin Menyerang Orang Muda
TEMPO Interaktif, Penyakit jantung koroner kini menjangkiti pada usia makin muda. Dr Taufik Pohan, SpJP, pernah menangani penderita jantung koroner berusia 26-29 tahun. “Padahal dulu usia sekitar 40 tahunan baru kena,” kata dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit Pondok Indah ini.
Dokter spesialis jantung dari RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, Dr Aulia Sani, SpJP, bahkan pernah menangani pasien jantung koroner pemuda usia 22 tahun. “Dia merokok sejak usia 9 tahun,” kata Sani. Pembuluh darah koroner pemuda itu terpaksa dipasangi cincin (stent).
Faktor utama penyakit jantung koroner, kata Aulia, memang rokok. Penyakit ini menjadi penyebab kematian nomor wahid. Data WHO menyebutkan, pada 2005 rokok diperkirakan menyebabkan 400 ribu kematian atau 23,7 persen dari 1,7 juta kematian.
Masalahnya, tidak mudah bagi perokok untuk berhenti merokok. Menurut Dr Tribowo T. Ginting, SpKJ, dari RS Persahabatan, 70 persen perokok ingin berhenti. “Tapi hanya 5-10 persen yang bisa berhenti tanpa bantuan,” ujarnya. Mereka yang bisa berhenti biasanya perokok yang belum kecanduan. Dengan susahnya berhenti merokok, jumlah perokok selalu naik.
Di Indonesia, menurut data WHO, tren jumlah konsumsi rokok dan jumlah perokok muda kian besar. Dari 1960 hingga 2004, konsumsi rokok naik 6,2 kali lipat, dari 35 miliar batang menjadi 217 miliar batang per tahun. Jumlah anak yang memulai merokok sebelum umur 19 tahun juga naik 10 persen dari 2001 hingga 2004. Pada 2001-2004, perokok usia 15 tahun ke atas jumlahnya naik 2,9 persen.
Survei Global Tembakau Pemuda-Indonesia pada 2006 menyebutkan, satu dari tiga anak (37,3 persen) pernah merokok. Mereka yang pertama kali merokok sebelum genap 10 tahun sebanyak 30,9 persen. Anak muda yang tetap merokok 12,6 persen dan 3,2 persen di antaranya dilaporkan kecanduan. Jika kecanduan, susah berhenti.
Jumlah perokok pasif juga naik. Aulia Sani memaparkan, dari rokok yang disulut, 20 persen asapnya diisap perokok. Sebanyak 5-10 persen tersangkut di filter rokok. Sisanya beredar di udara. Akibatnya, perokok pasif bisa terserang batuk dan bronkitis. “Begitu tua, perokok pasif bisa kena jantung koroner,” kata Aulia.
Perokok pasif, ujarnya, memiliki risiko terkena kanker paru dan jantung koroner hingga 20-30 persen dibanding yang tak terpapar asap rokok. Ruang khusus merokok, kata dia, tiada guna.
Ini senada dengan hasil pengukuran Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta dengan Swisscontact Foundation Indonesia. Kedua lembaga itu menemukan, nikotin yang banyak beredar di udara berukuran 2,5 mikrometer (PM 2.5) di kawasan dilarang merokok total kurun waktu Agustus-September 2009.
Di sekolah, 32 persen lokasi udaranya terkontaminasi nikotin. Di rumah sakit, ditemukan 68 persen wilayah udara tercemar nikotin. Paling parah adalah di tempat hiburan, di antaranya restoran. Di restoran ditemukan 86 persen lokasi hiburan yang udaranya tercemar nikotin. “Di restoran, kadar PM 2.5 mendekati 2.000 mikrogram/m3,” kata Kepala Bidang Penegakan Hukum BPLHD Ridwan Panjaitan.
Padahal kadar maksimal yang ditoleransi menurut WHO adalah 25 mikrogram/m3. Menurut Direktur Eksekutif Swisscontact Foundation Indonesia Dollaris Riauaty Suhadi, ukuran PM 2.5 merupakan partikel yang sangat kecil dan bisa masuk ke paru-paru. “Tak ada teknologi yang bisa menyaringnya.”
Sementara itu, menurut Aulia Sani, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengerem laju penyakit jantung koroner usia muda ini. Pertama, mencegah lahirnya perokok baru dan, kedua, menyembuhkan pecandu rokok. Pencegahan perokok dini dilakukan dengan melakukan edukasi terhadap anak yang belum pernah merokok. “Kampanye dilakukan sejak anak-anak masih kecil,” kata dia.
Untuk itu, perlu dilakukan kampanye antitembakau di sekolah-sekolah sejak taman kanak-kanak. Sedangkan bagi yang telanjur merokok dan belum kecanduan, bisa dilakukan terapi perilaku. Yang telanjur kecanduan pun masih bisa diobati, salah satunya dengan obat generik Varenicline Tartrate.
Obat itu menyuplai pengganti nikotin. “Varenicline Tartrate mengganti nikotin tapi tak membuat kecanduan,” kata dia. Menurut Sani, Varenicline Tartrate akan memancing pelepasan dopamine dan endorphin.
NUR ROCHMI
BERITA TERPOPULER LAINNYA:
Pengadilan Tolak Praperadilan Susno Duadji
Catatan Penumpang Kapal yang Ditembaki Israel
Survei Membuktikan, Warga Belanda dan Kanada Hidupnya Paling Bahagia
Forum Santri Akan Diskusikan Cincin Darah Nia Ramadhani
Bentrokan di Cengkareng, Ketua Forkabi Tewas
Megan Fox Buka-bukaan di Bandara
Lionel Messi Dituding Lupa Daratan
8 Makanan Penurun Tekanan Darah Tinggi
VIVAnews – Tekanan darah tinggi, dulu memang lebih banyak terjadi pada orang tua, tetapi saat ini banyak para wanita muda mengalaminya. Kondisi tersebut dapat menyebabkan serangan jantung, stroke dan aneurisma.
Istilah tekanan darah sendiri mengacu pada kekuatan darah ketika bergerak melalui arteri. Tekanan ini tidak selalu konstan, dan ketika tekanannya tinggi dalam jangka waktu lama, maka yang terjadi adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Agar Anda terhindar dari gangguan tekanan darah ini, konsumsilah sejumlah makanan berikut secara teratur.
1. Bayam
Bayam merupakan sumber magnesium yang sangat baik. Tidak hanya melindungi Anda dari penyakit jantung, tetapi juga dapat mengurangi tekanan darah. Selain itu, kandungan folat dalam bayam dapat melindungi tubuh dari homosistein yang membuat bahan kimia berbahaya. Penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat tinggi asam amino (homosistein) dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke.
2. Biji bunga matahari
Mungkin Anda lebih mengenalnya dengan sebutan kuaci. Kandungan magnesiumnya sangat tinggi dan biji bunga matahari mengandung pitosterol, yang dapat mengurangi kadar kolesterol dalam tubuh. Kolesterol tinggi merupakan pemicu tekanan darah tinggi, karena dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Tapi, pastikan Anda mengonsumsi kuaci segar yang tidak diberi garam.
3. Kacang-kacangan
Kacang-kacangan, seperti kacang tanah, almond, kacang merah mengandung magnesium dan potasium. Potasium dikenal cukup efektif menurunkan tekanan darah tinggi.
4. Pisang
Buah ini tidak hanya menawarkan rasa lezat tetapi juga membuat tekanan darah lebih sehat. Pisang mengandung kalium dan serat tinggi yang bermanfaat mencegah penyakit jantung. Penelitian juga menunjukkan bahwa satu pisang sehari cukup untuk membantu mencegah tekanan darah tinggi.
5. Kedelai
Banyak sekali keuntungan mengonsumsi kacang kedelai bagi kesehatan Anda. Salah satunya dalah menurunkan kolesterol jahat dan tekanan darah tinggi. Kandungan isoflavonnya memang sangat bermanfaat bagi kesehatan.
6. Kentang
Nutrisi dari kentang sering hilang karena cara memasaknya yang tidak sehat. Padahal kandungan mineral, serat dan potasium pada kentang sangat tinggi yang sangat baik untuk menstabilkan tekanan darah.
7. Cokelat pekat (dark chocolate)
Pecinta cokelat pasti akan senang, karena kandungan flavonoid dalam cokelat dapat membantu menurunkan tekanan darah dengan merangsang produksi nitrat oksida. Nitrat oksida membuat sinyal otot-otot sekitar pembuluh darah untuk lebih relaks, dan menyebabkan aliran darah meningkat.
8. Avokad
Asam oleat dalam avokad, dapat membantu mengurangi kolesterol. Selain itu, kandungan kalium dan asam folat, sangat penting untuk kesehatan jantung. (umi)
• VIVAnews
Wanita Wajib Berani Berkata Tidak Pada Rokok
VIVAnews – Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Departemen Kesehatan menggelar aksi simpatik di Bunderan Hotel Indonesia dengan tema saatnya melindungi rokok dari perempuan dan anak-anak. Tak hanya itu, wanita juga diharapkan bisa membantu memerangi rokok.
Menurut Kepala Promosi Departemen Kesehatan, Lilik Sulistyowati mengatakan jumlah perokok baru terus meningkat. Para perokok baru itu terdiri dari anak-anak bahkan balita. Hal ini tentu saja menimbulkan keprihatinan.
Untuk menyikapinya peran perempuan yang dianggap memiliki peranan penting dalam lingkungan keluarga sangat dibutuhkan untuk menjaga anak-anak jangan sampai bersentuhan dengan rokok.
“Sekarang perempuan harus berani bilang tidak pada rokok dan melarang merokok di dalam rumah,” kata Lilik saat ditemui di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu 29 Mei 2010.
Dari data yang didapat, rokok atau tembakau itu sangat berbahaya bagi kesehatan. Rokok atau tembakau mengandung lebih dari 4000 senyawa kimia yang membahayakan bagi kesehatan.
Dan 57 persen dalam rumah tangga di Indonesia itu diketahui mempunyai sedikitnya satu perokok. Tak hanya itu, hampir semua perokok itu sekitar 91, 8 persen merokok di dalam rumah.
Seseorang yang bukan perokok dan menikah dengan perokok dikhawatirkan akan mempunyai resiko menderita kanker paru-paru sebesar 20 sampai 30 persen. Selain itu, juga berresiko terkena penyakit jantung.
• VIVAnews
Cinta dengan Jantung Anda, Rajinlah Gosok Gigi
TEMPO Interaktif, London – Jangan abaikan menggosok gigi. Sebuah penelitian mengingatkan bahwa tidak sering menggosok gigi bisa menyebabkan penyakit jantung.
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa orang yang tidak pernah atau jarang sikat gigi, ternyata 70 persen lebih mungkin untuk menderita penyakit jantung dibandingkan dengan yang dua kali sehari menggosok gigi.
Sebenarnya hubungan antara sakit gigi dan masalah jantung telah dikenal. Namun para ahli sebelumnya tidak mampu mengukur pengaruh rutinitas sehari-hari kesehatan mulut.
Para ahli dari University College London menganalisa data lebih dari 11.000 orang dengan usia rata-rata 50 tahun yang ambil bagian dalam Survei Sehat Skotlandia.
Mereka tampak menyikat gigi sebagai daya hidup mereka, seperti mereka merokok atau olahraga. Orang-orang bertanya seberapa sering mereka mengunjungi dokter gigi dan seberapa sering mereka menyikat gigi.
Secara terpisah rincian sejarah medis mereka dikumpulkan, dari tekanan darah dan sejarah keluarga mereka dari penyakit jantung. Sampel darah juga diambil untuk mengukur penanda peradangan dalam darah.
Ada lebih dari enam di antara 10 yang mengunjungi dokter gigi setiap enam bulan sedangkan tujuh orang dari sepuluh menyikat gigi mereka dua kali sehari. Selama delapan tahun berlanjut, ada 555 contoh masalah jantung yang serius, yang kebanyakan disebabkan oleh penyakit jantung, termasuk serangan jantung.
ITN| NUR HARYANTO
Malas Sikat Gigi Picu Penyakit Jantung
VIVAnews - Menyikat gigi minimal dua kali sehari bukan hanya untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut, tetapi mencegah penyakit kronis. Orang yang menyikat gigi kurang dari dua kali sehari memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung.
Studi di Skotlandia terhadap lebih 11 ribu orang dewasa menemukan, orang dengan kesehatan oral buruk berisiko 70 persen lebih tinggi terkena penyakit jantung. Hal serupa diungkap dalam studi British Medical Journal, yang menunjukkan kaitan masalah gusi dan penyakit jantung.
Peradangan dalam tubuh, termasuk mulut dan gusi, berperan menyumbat arteri dan menyebabkan serangan jantung. Jika tidak menyikat gigi secara rutin, mulut dapat terinfeksi bakteri penyebab radang.
Penelitian menganalisis perilaku gaya hidup, seperti merokok, aktivitas dan rutinitas fisik serta kesehatan mulut. Mereka dengan kebersihan mulut buruk positif memiliki protein darah yang memicu peradangan.
Pimpinan studi, Profesor Richard Watt, dari University College London, seperti dikutip dari laman BBC, mengatakan, studi lanjutan yang lebih mendalam dibutuhkan untuk mengonfirmasi apakah kesehatan mulut merupakan penyebab atau hanya penanda risiko penyakit jantung. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan mulut dari rokok atau pola makan yang buruk. (jn)
• VIVAnews
Mending Diet atau Olahraga, Ya?
KOMPAS.com – Ada tiga hal utama yang perlu kita perhatikan bila kita ingin mendapatkan tubuh yang sehat, yaitu mengubah pola makan, olahraga, dan cukup istirahat. Dari ketiga hal tersebut, olahraga masih merupakan solusi yang dianggap cukup berat bagi sebagian orang. Alasannya standar, sulit mengatur waktu, atau memang malas.
Namun, untuk memperbaiki kondisi kesehatan tertentu, ternyata olahraga tidak selalu menjadi solusi terbaik. Para pakar lebih menyarankan Anda untuk berdiet, alias mengubah pola makan. Lalu, problem kesehatan apa saja lebih baik kita atasi dengan diet atau olahraga?
Menurunkan berat badan
Lebih baik: Diet
Bukankah ini bertolak belakang dengan apa yang selalu disarankan para pakar kesehatan selama ini? Memang, namun penelitian juga membuktikan, mengurangi kalori merupakan jalan paling pintas untuk menjadi langsing. “Jauh lebih mudah mengurangi 500 kalori daripada menghabiskan waktu satu jam di gym untuk membakar 500 kalori setiap hari,” kata Timothy Church, MD, PhD, direktur penelitian pengobatan untuk pencegahan di Pennington Biomedical Research Center, Louisiana State University. Meskipun demikian, kombinasi dari diet dan olahraga tetaplah penting untuk menjaga berat badan yang sehat.
Mendongkrak energi
Lebih baik: Olahraga
Latihan menyebabkan otak mencurahkan neurotransmitter yang menguatkan, seperti dopamine dan norepinephrine, demikian menurut Patrick O’Connor, PhD, psikolog bidang pelatihan di University of Georgia. Tidak kurang dari 70 studi mendukung fakta bahwa orang yang berlatih secara konsisten mengalami lonjakan energi.
Mengurangi risiko penyakit jantung
Lebih baik: Diet
Menurut William Harris, PhD, direktur pusat penelitian kesehatan kardiovaskular di University of South Dakota, kita hanya perlu berfokus pada satu jenis gizi jika berniat menurunkan risiko penyakit jantung. “Yaitu asam lemak omega-3,” katanya. Dalam berbagai studi, omega-3 dari ikan menurunkan risiko penyakit jantung hingga 64 persen. Meskipun demikian, berolahraga juga tetap akan menguatkan sistem kardiovaskular Anda.
Mencegah diabetes
Lebih baik: Latihan
Pernah mendengar bahwa hampir 10 juta perempuan Amerika mengidap diabetes? Ini tentu bukanlah fakta yang membanggakan. Memperoleh berat sehat dengan cara mengubah pola makan dan berolahraga adalah pertahanan terkuat terhadap penyakit ini, namun aktivitas fisik lebih memegang peranan. Otot-otot yang terbiasa aktif akan menyerap glukosa dari darah sebagai bahan bakar. Hal inilah yang akan membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Mencegah kanker
Lebih baik: Diet dan olahraga
Menerapkan pola makan yang lebih cenderung ke sayur-sayuran dan buah-buahan, dan latihan secara teratur, lebih efektif dalam mencegah kanker. Berbagai studi bahkan telah membuktikan, semakin konsisten Anda berolahraga, semakin tinggi proteksi diri Anda terhadap kanker.
Memperbaiki mood
Lebih baik: Olahraga
Berolahraga ternyata tak harus lama. Sesi selama 20 menit saja sudah cukup untuk memperbaiki mood Anda selama 12 jam ke depan, demikian hasil penelitian University of Vermont. Bagi sebagian orang, meditasi juga bisa menjadi cara yang cukup efektif dalam mengatasi depresi. Sedangkan olahraga mampu membuat perubahan dalam otak yang menguatkan tekad Anda untuk melawan stres.
DIN
Editor: din
Sumber: Womens Health
Makan Daging Olahan Mungkin Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Diabetes
TEMPO Interaktif, Harvard – Dalam sebuah penelitian baru, peneliti dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard (HSPH) menemukan bahwa makan sosis daging olahan berkaitan dengan meningkatnya risiko 42% lebih tinggi terkema penyakit jantung dan risiko 19% lebih tinggi terkena diabetes tipe 2. Sebaliknya, para peneliti tidak menemukan risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung atau diabetes di kalangan mereka yang mengonsumsi daging merah yang belum diproses, seperti daging sapi, babi, atau domba. Karya ini merupakan review sistematis pertama tentang kaitan antara makan daging mentah merah dan daging olahan dengan risiko penyakit jantung dan diabetes.
Menurut peneliti, daging merah yang belum diproses didefinisikan sebagai daging yang diolah dari daging sapi, domba atau babi, tidak termasuk unggas. Adapun daging olahan didefinisikan sebagai daging yang diawetkan dengan pengasapan, atau penggaraman, atau dengan penambahan bahan pengawet kimia; contoh bacon, salami, sosis, hot dog.
Studi ini muncul di jurnal Circulation, edisi online 17 Mei 2010.
Renata Micha, anggota penelitian dari jurusan epidemiologi HSPH, dan penulis utama studi tersebut, mengatakan, penelitian sebelumnya kebanyakan juga mempertimbangkan dampak kesehatan dari makan daging merah mentah versus daging olahan.
“Untuk menurunkan risiko serangan jantung dan diabetes, orang harus mempertimbangkan jenis daging yang mereka makan. Daging olahan seperti bacon, salami, sosis, hot dog, mungkin yang paling penting untuk menghindari,” kata Micha.
ScienceDaily/Ngarto Februana






