Makan Bersama Keluarga – Apa Masih Jamannya?
Seberapa penting sih makan bersama keluarga itu? Di jaman yang serba sibuk ini, memang susah sekali untuk meluangkan waktu untuk duduk dan makan bersama anggota keluarga. Dengan kesibukan masing-masing dan waktu pulang yang tidak bersamaan, pasti sulit sekali untuk mengatur waktu.
Ternyata, baru-baru ini ada penelitian yang dilakukan oleh University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika, yang menemukan hubungan yang erat antara makan malam keluarga dengan obesitas. Fakta yang ditemukan oleh tim ini setelah menganalisa 17 studi kasus mengenai obesitas, gangguan makan dan makan bersama keluarga adalah anak-anak yang orang tuanya terbiasa untuk makan malam bersama memiliki resiko lebih rendah untuk mengalami gangguan makan dan obesitas.
Hasil yang lebih terperinci dari penelitian ini adalah anak yang duduk makan bersama keluarga paling kurang dua atau tiga kali seminggu memiliki kemungkinan 12 persen lebih rendah untuk angka mengalami overweight. Juga kemungkinan 20 persen lebih rendah untuk angka anak mengalami gangguan makan. Kebiasaan untuk duduk makan malam bersama keluarga juga akan mengurangi kemungkinan anak makan junk food sebanyak 20 persen dan 24 persen peningkatan dalam jumlah anak yang mengkonsumsi makanan sehat.
Bukan hanya itu, kebiasaan makan bersama juga membantu kesehatan mental anak-anak remaja. Kebiasaan ini membantu meningkatkan kualitas komunikasi antara remaja dan orang tua menjadi lebih baik, yang mana sangat sulit untuk didapatkan saat ini. Makan bersama juga akan membantu anak-anak dalam pertumbuhan untuk mengembangkan kebiasaan makan yang lebih sehat sehingga anak-anak kita akan terhindar dari penyakit.
Jadi, setelah tahu manfaatnya, sekarang saatnya kita mempraktekkannya.
MENYUSUI ANAK YANG BAIK DAN BENAR
Kemampuan menyusui, secara naluriah telah ada pada diri setiap wanita,,sementara kemampuan menghisap puting ibu untuk menyusu juga telah dimiliki secara alamiah oleh setiap anak. Namun terkadang kegiatan ini tidak selalu berjalan mulus, adakalanya puting sang ibu menjadi lecet sehingga proses memberikan ASI ekslusif ini menjadi terganggu, akibatnya mungkin produksi ASI berkurang dan bayi menjadi malas menyusu. Hal tersbut bisa terjadi karena posisi menyusui yang tidak benar.Agar terhindar dari masalah tersebut, cobalah beberapa kiat sederhana berikut ini :
1. Cuci Tangan
Kebersihan dalam proses menyusui sangatlah penting. Cucilah tangan anda sebelum memberikan ASI kepada si bayi, karena jika tangan yang kotor meyentuh puting atau air susu yang dihisap si anak, maka penularan penyakit dan kuman kepada anak bisa berpotensi tinggi.
2. Melembabkan Puting Susu
Perahlah sedikit ASI (dengan 2 jari ibu yang telah bersih) kemudian oleskan ke puting dan aerola sekitarnya. Hal ini bermanfaat sebagai disinfektan (dapat mematikan kuman penyakit) serta untuk menjaga kelembaban puting susu.
3. Rileks
Usahakan ibu duduk dengan posisi santai. Hindari posisi duduk dengan kaki menggantung.
4. Posisikan bayi dengan benar
- Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi diletakkan dekat lengkungan siku ibu, bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu.
- Perut bayi menempel ke tubuh ibu.
- Mulut bayi berada di depan puting ibu.
- Lengan bayi yang di bawah merangkul tubuh ibu, jangan berada diantara tubuh ibu dan bayi. Tangan yng di atas boleh dipegang ibu atau diletakkan di atas dada ibu.
- Telinga dan lengan yang di atas berada dalam satu garis lurus.
5. Rangsang bibir bayi
Bibir bayi dirangsang dengan puting ibu dan akan membuka lebar, kemudian dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan putting serta aerola dimasukkan ke dalam mulut bayi.
6. Periksa apakah perlekatan sudah benar
- Dagu menempel ke payudara ibu
- Mulut terbuka lebar
- Sebagian besar aerola terutama yang berada di bawah, masuk ke dalam mulut bayi
- Bibir bayi terlipat keluar
- Pipi bayi tidak boleh kempot (karena tidak menghisap, tetapi memerah ASI).
- Tidak boleh terdengar bunyi decak,hanya boleh terdengar bunyi menelan.
- Ibu tidak kesakitan.
- Bayi tenang.
Apabila posisi dan perlekatan sudah benar, maka diharapkan kendala-kendala tersebut dapat dihindari.
Merawat gigi bayi usia 0 – 24 bulan
Umumnya penyakit dan kelainan gigi pada anak merupakan salah satu gangguan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Sejak gigi susu mulai tumbuh, orangtua harus bertanggungjawab membersihkan gigi bayi mereka. Walaupun gigi anak hanya merupakan gigi susu yang keberadaannya hanya sementara, namun kesehatan gigi susu berpengaruh terhadap kesehatan gigi anak di kemudian hari. Karena itu, sebagai orangtua perlu mengetahui bagaimana merawat gigi anak sejak bayi dengan cara yang benar, agar kesehatan gigi dan mulut anak teratasi.
Cara merawat mulut bayi pada saat usia 0 – 6 bulan:
1. Bersihkan gusi bayi anda dengan kain lembab, setidaknya dua kali sehari
2. Jangan biarkan bayi anda tidur sambil minum susu dengan menggunakan botol susunya.
3. Selesai menyusui, ingatlah untuk membersihkan mulut bayi dengan kain lembab
4. Jangan menambah rasa manis pada botol susu dengan madu atau sesuatu yang manis.
Cara merawat mulut dan gigi bayi pada usia 7-12 bulan:
1. Tanyakan dokter anak atau dokter gigi anda apakah bayi anda mendapat cukup fluor
2. Ingatlah untuk membersihkan mulut bayi anda dengan kain lembab ( tidak basah sekali), sehabis menyusui.
3. Jangan biarkan bayi tidur dengan botol susunya (sambil minum susu dari botol) kecuali air putih.
4. Berikan air putih bila bayi anda ingin minum diluar jadwal minum susu
5. Saat gigi mulai tumbuh, mulailah membersihkannya dengan menggunakan kain lembab. Bersihkan setiap permukaan gigi dan batas antara gigi dengan gusi secara seksama, karena makanan seringkali tertinggal di permukaan itu.
6. Saat gigi geraham bayi mulai tumbuh, mulai gunakan sikat gigi yang kecil dengan permukaan lembut dan dari bahan nilon.
7. Jangan gunakan pasta gigi dan ingat untuk selalu membasahi sikat gigi dengan air.
8. Periksakan gigi anak anda ke dokter gigi, setelah 6 bulan sejak gigi pertama tumbuh, atau saat usia anak setahun.
Cara merawat mulut dan gigi bayi pada usia 13-24 bulan:
1. Mulailah perkenalkan pasta gigi berfluoride
2. Jangan biarkan anak tidur dengan botol susu (sambil minum susu dari botol), kecuali air putih.
3. Pergunakan pasta gigi seukuran sebutir kacang hijau.
4. Sikat gigi anak setidaknya dua kali sehari (sehabis sarapan dan sebelum tidur di malam hari)
5. Gunakan sikat gigi yang lembut dari bahan nilon.
6. Ganti sikat gigi tiap tiga bulan atau bila bulu-bulu sikat sudah rusak.
7. Jadilah teladan dengan mempraktekkan kebiasaan menjaga kesehatan mulut dan lakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.
8. Biasakan anak untuk memakan makanan ringan yang sehat, seperti buah segar dan sayuran segar.
9. Hindari makanan ringan yang mengandung gula.
dikutip dari pemaparan Drg.Yerika & Drg. Marshinta
Pentingnya Memeriksakan Darah
VIVAnews - Melalui pemeriksaan darah, penyakit atau gangguan yang Anda alami dapat terdeteksi lebih cepat. Untuk itu, melakukan pemeriksaan darah secara rutin sangat dianjurkan. Lalu seberapa rutin seharusnya pemeriksaan darah dilakukan ?
Seperti dikutip dari Method Self Healing.com, bagi Anda yang tidak memiliki riwayat penyakit berat, pemeriksaan darah sebaiknya dilakukan sekali dalam setahun. Hal ini harus dilakukan pada waktu yang sama tiap tahunnya. Sebelum melakukannya Anda memang harus berkonsultasi dulu dengan dokter, akan sangat baik jika Anda melakukannya bersamaan dengan medical check-up tahunan.
Lalu, bagi yang memiliki riwayat penyakit, pemeriksaan darah harus dilakukan lebih sering. Untuk frekuensinya, tergantung dengan kondisi kesehatan Anda. Jika seseorang mengonsumsi obat dalam jangka waktu panjang, tes darah bisa dilakukan setiap enam atau tujuh minggu. Ini untuk melihat bagaimana efek pengobatan terhadap tubuh Anda.
Dokter mungkin dapat meminta tes darah khusus berdasarkan gejala-gejala yang Anda miliki, dalam kondisi fisik tahunan. Untuk pemeriksaan, kemungkinan besar terkait gula darah, masalah tiroid, elektrolit darah, dan tentu saja jumlah sel-sel darah merah dan putih.
Kadar kolesterol darah juga harus diperiksa. Tergantung pada usia, dokter mungkin akan melakukan tes tambahan yang dapat dilakukan dengan sampel darah.
• VIVAnews
Benarkah Ponsel Anda Lebih Kotor dari Toilet
VIVAnews- Telepon seluler sudah menjadi sahabat paling dekat sejak kemunculannya. Tetapi, Anda mungkin tak lagi menjadi ‘penggemar berat’ ponsel Anda begitu menyimak temuan terbaru para ilmuwan Inggris.
Sebuah studi terbaru menemukan, rata-rata ponsel menyimpan kuman 18 kali lebih banyak daripada pegangan alat penyiram (flush) toilet.
Peneliti Inggris mengungkap seperempat ponsel sangat kotor dan mengandung 10 kali lipat jumlah bakteri yang dapat diterima. Tingginya tingkat bakteri dalam ponsel menunjukkan miskinnya kebersihan pemicu kuman penyakit.
Satu dari empat ponsel terbukti mengandung jumlah bakteri yang sangat tinggi, mencapai 170 kali dari batas normal hingga bisa menyebabkan gangguan perut serius bagi pemiliknya. Bakteri membahayakan yang ada dalam ponsel diantaranya Salmonella, bakteri feses E.coli, bakteri keracunan makanan dan Stafilokokus aureus.
Temuan berdasarkan 30 sampel ponsel yang menunjukkan 14,7 juta dari 63 juta pengguna ponsel di Inggris. “Tingkat bakteri yang berpotensi sangat membahayakan ada pada satu dari empat ponsel. Ponsel perlu disterilkan,” ungkap peneliti utama Jim Francis seperti dikutip Daily Mail.
“Sebagian besar bakteri dari ponsel tidak berbahaya. Tapi, bakteri berkembang biak dan ditransfer bolak-balik dari tangan ke ponsel hingga menyebabkan penyakit,” katanya.
Melihat aplikasi ponsel berulang-ulang seperti foto secara bergantian dengan orang adalah salah satu penyebaran kuman. Temuan sebelumnya mengungkap komputer desktop juga menyimpan kuman lebih tinggi daripada toilet. Untuk membersihkan ponsel dan menghilangkan kuman, seka ponsel menggunakan lap halus yang dibasahi alkohol secara teratur.
Baca juga: Pria Bernasib Naas Itu Punya Wajah Baru
• VIVAnews
Lakukan Lima Hal Ini Agar Panjang Umur
VIVAnews – Awet muda dan berumur panjang adalah sesuatu yang diinginkan banyak orang. Untuk bisa berumur panjang tentunya Anda harus memiliki gaya hidup yang sehat.
Jika ingin menunda munculnya keriput atau menangkal penyakit, coba lakukan lima kebiasaan ini di tengah kesibukan Anda, seperti dikutip dari Times of India.
Perawatan kulit alami
Ketika usia bertambah, tanda pertama yang paling jelas adalah munculnya keriput. Jika perawatan kulit yang dijalani kurang tepat, kulit akan terlihat kusam, kering dan kasar. Akibatnya, keriput akan muncul lebih cepat.
Untuk menunda proses penuaan kulit, ikuti tiga langkah rutin ini. Yaitu, membersihkan, melembabkan dan mengoleskan tabir suya tiap kali ke luar rumah di pagi dan siang hari. Jika Anda ingin menjaga kecantikan kulit dari dalam tubuh, saat mengolah makanan, ganti minyak goreng dengan minyak zaitun.
Jaga berat badan ideal
Untuk melawan timbulnya efek dari proses penuaan salah satunya dengan menjaga berat badan ideal. Para ahli mengatakan minimal 30 menit aktivitas olahraga per hari bisa mengurangi dan mempertahankan berat badan ideal. Kondisi ini bisa bisa berefek pada kesehatan kulit.
Olahraga atau latihan yang bisa dilakukan, antara lain yoga, aerobik, berenang, atau pilates. Leena Mogre, ahli kebugaran, mengatakan, “Saat memasuki usia 30, olahraga merupakan hal penting. Terutama, saat Anda mulai merasa kulit mulai banyak yang kendur. Hal itu mungkin karena Anda tidak pernah melakukan gerakan angkat beban atau olahraga lainnya.”
Kunci untuk memetik manfaat aktivitas fisik yang dilakukan adalah dengan memilih olahraga yang Anda senangi. Dan, jangan lupa latihan wajah untuk mengencangkan otot-otot wajah Anda.
Rencana diet berbasis sayuran
Pola diet sebaiknya memiliki campuran baik dari sayuran hijau, buah-buahan, biji-bijian dan kacang-kacangan. “Anda harus mencoba untuk memilih makanan yang mewakili warna pelangi, seperti bayam, jagung, tomat, paprika, stroberi, blueberry dan anggur.
Piring makanan Anda sebaiknya memiliki 75 persen pangan berbasis sayuran, buah, dan kacang-kacangan dan sisanya makanan lebih rendah lemak, mengandung sumber protein seperti telur, ikan atau daging. Diet ini akan membantu Anda melawan penyakit akibat penuaan, seperti osteoporosis, diabetes dan penyakit jantung, “kata ahli gizi Aishwarya Rajan.
Asupan kalsium yang cukup
Mendapatkan cukup kalsium dan vitamin D, membantu mencegah tulang keropos atau osteoporosis. penyakit ini merupakan penyebab utama patah tulang pada wanita. Terutama jika Anda sudah melewati usia 50, dosis harian 1200 mg kalsium diperlukan. Sumber kalsium terbaik antara lain, produk susu rendah lemak, susu kedelai, jus jeruk, dan ikan.
Cukup tidur
Tidur sangat penting agar tubuh bisa befungsi dengan baik. Jumlah rata-rata tidur yang dibutuhkan adalah 7-8 jam per malam. Namun, jika tidur malam hari Anda terganggu, cobalah meluangkan waktu untuk tidur siang. Kekuatan tidur siang singkat 10-15 menit juga akan membuat Anda merasa beristirahat.
• VIVAnews
Pergi Ke Hutan Dapat menyehatkan Tubuh
TEMPO Interaktif, Finlandia – “Banyak orang merasa rileks dan enak ketika mereka pergi ke luar dan menyatu dengan alam,” kata Dr. Eeva Karjalainen dari Lembaga Riset Hutan Finlandia. “Namun tidak banyak yang tahu bahwa penelitian ilmiah membuktikan adanya efek penyembuhan dari alam.”
Hutan, dan juga tempat alami hijau lainnya, dapat mengurangi stress, meningkatkan mood, mengurangi rasa marah dan agresivitas, dan meningkatkan kegembiraan. Berwisata ke hutan juga dapat memperkuat sistem imun kita dengan meningkatkan aktivitas dan merusak sejumlah sel kanker
Banyak penelitian menunjukkan tingkat stress-tergantung situasi- dapat disembuhkan lebih cepat di lingkungan alam terbuka dibanding di kota. Tekanan darah, detak jantung, tekanan otot, dan hormon stres akan menurun lebih cepat di alam terbuka. Depresi, kemarahan, dan agresivitas akan berkurang di lingkungan hijau.
“Memelihara area hijau dan pohon di kota sangat penting untuk menolong orang sembuh dari stres, memelihara kesehatan, dan menyembuhkan penyakit. Ada juga nilai ekonomis dalam mempekerjakan orang dan mengurangi biaya perawatan kesehatan,” kata Eeva.
Fanny Febiana/Science Daily
Berita Lain tentang Kaitan antara Taman Hijau dan Kesehatan:
Bermain 5 Menit di Taman Hijau, Sehatkan Mental
Obat buat Jet Lag
TEMPO Interaktif, Jakarta – Jika Anda mengalami jet lag, kini sudah ada obatnya. Obat itu ditemukan para peneliti dari Institut Max Planc for Biophysical Chemistry, Jerman. Menurut mereka, jet lag terjadi karena timer alami dalam tubuh yang tak sesuai dengan lingkungan. Dr Gregor Eichele, pemimpin penelitian, menyatakan penanggulangan jet lag dilakukan dengan menyesuaikan tingkat hormon penyebabnya.
Dalam penelitian mereka, uji coba pada tikus di laboratorium menemukan bahwa hormon kortisol berperan penting menjaga ritme alami tubuh yang disebut ritme sirkadian. Hormon ini berada di puncaknya pada pukul 8 pagi dan secara bertahap diturunkan menjadi tingkat terendah pada pukul 00.00-04.00. Jadi obat ini bekerja dengan menggeser puncak kortisol ke awal atau akhir waktu.
Obat yang akan dikembangkan berbentuk pil tersebut bisa mengembalikan keseimbangan alami tubuh dan pikiran dengan menyesuaikan tingkat tertinggi dan terendah hormon kortisol. Mary Harrington dari Smith College, Northampton, menyatakan obat ini punya implikasi tak hanya bagi yang mengalami jet lag, tapi juga bagi mereka yang melakukan rotasi shift kerja, yang berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan serius, termasuk kanker payudara, stroke, dan penyakit kardiovaskuler.
Jet lag, juga disebut desynchronosis, adalah gangguan sementara yang menyebabkan kelelahan, insomnia, dan gejala lain sebagai akibat dari perjalanan udara melintasi zona waktu. Jet lag juga ditandai kegelisahan, sembelit, diare, kebingungan, dehidrasi, sakit kepala, lekas marah, mual, berkeringat, masalah koordinasi, dan bahkan kehilangan memori. Beberapa orang melaporkan gejala tambahan, seperti masalah detak jantung dan lebih rentan terhadap penyakit.
Jet lag disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk segera menyesuaikan diri dengan waktu di zona berbeda. Misalnya ketika penumpang dari Jakarta tiba di Johannesburg, Afrika Selatan, pada tengah malam waktu setempat, tubuhnya terus beroperasi sesuai dengan waktu Jakarta.
Tubuh harus berjuang untuk mengatasi zona waktu baru. Yang terjadi adalah insomnia sementara, kelelahan, lekas marah, dan susah berkonsentrasi. Jam makan dan jam ke kamar mandi berubah, sehingga dapat menyebabkan sembelit atau diare. Otak dapat menjadi bingung karena mencoba mengubah jadwal. Bagaimana ini terjadi?
Sebuah bagian kecil dari otak yang disebut hipotalamus bertindak seperti jam alarm untuk mengaktifkan berbagai fungsi tubuh, seperti lapar, haus, tidur, mengatur suhu tubuh, tekanan darah, serta tingkat hormon dan glukosa dalam aliran darah. Hipotalamus bekerja membantu tubuh memberi tahu waktu, dengan melepaskan melatonin, yang mempromosikan tidur. Melatonin melawan tingkat kortisol tinggi dan membantu mendorong tidur dalam jumlah biasa.
Melatonin dilepas jika saraf optik mata mengirim cahaya alias saat mata memandang gelap. Sebaliknya, ketika mata melihat sinar matahari, mereka memberi tahu hipotalamus agar menahan produksi melatonin. Jadi, ketika mata memandang fajar atau senja selama berjam-jam lebih awal atau lebih lambat dari biasanya, hipotalamus dapat memicu aktivitas pada bagian tubuh yang tidak siap, dan jet lag terjadi.
Selama ini, untuk mengurangi efek jet lag biasa digunakan suplemen melatonin sintetis. Namun, dalam dosis tinggi, suplemen ini ditengarai punya efek samping membahayakan, seperti kantuk, kelesuan, kebingungan, tidur sambil berjalan, mimpi buruk, hingga penurunan ketajaman mental. Jadi, hasil studi Massachusetts Institute of Technology menyarankan agar dosisnya cukup 0,3 miligram pada hari pertama di tempat tujuan.
NUR ROCHMI | berbagai sumber
Menjawab Perdebatan Seputar Imunisasi
VIVAnews - Setiap orangtua pasti ingin anak-anaknya tumbuh sehat, tidak sakit dan cacat. Memberikan imunisasi saat usia bayi dan balita menjadi penting untuk memberi perlindungan anak dari kuman dan virus penyebab penyakit.
Namun, mitos yang berkembang seputar imunisasi seringkali menjadi penghambat.
“Ada banyak anggapan, memberikan ASI pada bayi setelah imunisasi tidak boleh. Masih banyak lagi anggapan yang kemudian membuat para ibu takut memberikan imunisasi pada anak,” kata Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr Soedjatmiko, SpA(K), Msi dalam Journalist Class Pfizer “Hak Anak Untuk Sehat dan Cerdas”, di Wisma GKBI, Sudirman, Jakarta, Rabu, 30 Juni 2010.
Agar tak salah memahami tentang bagaimana sebaiknya imunisasi diberikan pada bayi dan balita, berikut hal penting yang harus dipahami sebelum imunisasi:
1. Untuk bayi prematur, imunisasi atau vaksin harus diberikan sesuai jadwal, mulai usia dua bulan.
2. Saat bayi sedang batuk atau pilek, bolehkah diimunisasi? Boleh, asal bayi tidak demam dan tidak rewel. Jika bayi sangat rewel, lebih baik tunda imunisasi 1-2 minggu.
3. Bolehkah imunisasi dibarengi dengan mengonsumsi obat penurun panas atau pengurang nyeri? Boleh, bahkan setelah imunisasi bayi juga boleh mengonsumsi obat penurun panas atau penghilang nyeri.
4. Sedang minum obat antibiotik, bolehkah diberikan imunisasi? Boleh.
5. Minum prednison dosis tinggi? Lebih baik tunda imunisasi 2-12 minggu.
6. Sering inhalasi steroid (anak asma)? Boleh.
“Jangan takut memberikan vaksin dan imunisasi pada anak karena program ini sudah dirancang oleh sekelompok ahli melalui penelitian 10-15 tahun dan telah diuji, diawasi oleh WHO serta telah melalui ijin resmi dari BPOM,” kata Soedjatmiko yang juga berprofesi sebagai dokter spesialis anak.
• VIVAnews
Normalkah Anak Punya Teman Imajiner
VIVAnews - Apakah buah hati Anda sering berbicara sendiri atau seolah seperti memiliki teman khayalan saat sedang beraktivitas? Jangan terburu-buru berprasangka mistik atau menganggapnya memiliki indera keenam.
Berdasar tahapan tumbuh kembang anak, kondisi itu wajar dialami anak saat memasuki usia 3-4 tahun. Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika kondisi ini berlanjut hingga usia lebih dari itu. Ada kemungkinan anak Anda menderita autis.
“Ini bisa menjadi gejala awal autis,” kata Pemerhati dan juga Psikiater Anak, Dr Kresno Mulyadi dalam acara Journalist Class Pfizer, di Wisma GKBI, Jakarta, 30 Juni 2010.
Kresno menambahkan, meski masa-masa bergaul dengan teman imajiner termasuk normal hingga usia empat tahun, namun sebaiknya orangtua tak membiarkan si kecil menikmatinya. Cobalah mengajaknya melakukan aktivitas positif lainnya sehingga konsentrasinya pada teman imajiner beralih. Misalnya, segera ajak ngobrol saat anak sedang asyik dengan teman imajinernya.
Mengalihkan perhatiannya adalah cara yang pas untuk mencegah kondisi itu berlanjut. “Jangan biarkan anak terus menikmati kesendiriannya. Patut diwaspadai jika kondisi berlanjut dan segera lakukan konsultasi kepada psikiater untuk segera mendiagnosisnya,” katanya.
Menurutnya, rata-rata anak autis memiliki daya imajinasi yang tinggi, termasuk berbicara sendiri dengan teman imajiner. Melakukan terapi dini untuk mencegah autis dari gejala awal seperti ini adalah langkah yang tepat. Kresno pun meyakini dengan terapi sedini mungkin bisa menyembuhkannya dari gangguan seperti ini.
Autis bukan hanya penyakit yang terjadi akibat gen, namun bisa juga terjadi akibat makanan yang terkontaminasi. “Jadi perlu waspada jika gejala seperti cuek dan sibuk dengan dunianya sendiri, jangan dibiarkan berlangsung lama. Jangan sampai kebiasaan itu masih melekat di usianya yang semakin dewasa, karena penangannya akan semakin sulit,” katanya. (umi)
• VIVAnews







